Halo, semua! Bertemu lagi dengan saya di chapter ke 2 ini!
Nah, untuk menyingkat waktu, saya mau membalas review dulu. Biasanya saya balas lewat pm, berhubung ada review yang tidak menggunakan akun, saya balas reviewnya di sini saja.

Lenka Aine : Terimakasih untuk pujian dan reviewnya. Maaf kalau ada beberapa typo. Terlewat saat pengecekan,sih. Nah, penasaran? Makanya, baca terus cerita abal saya, XD
KarinHyuuga : Terimakasih untuk reviewnya. Maafkan soal typonya, ya. Saya kurang teliti,sih.
Apa alurnya terlalu rumit? Yang chapter 1 emang saya fokuskan buat flashback. Baca terus cerita abal-abal saya,ya. XD

Higashino Ruuya: Terimakasih untuk pujian dan reviewnya. Terimakasih juga untuk masukannya, saya benar-benar merasa terbantu, beberapa memang sudah saya ubah. Tapi, kalau ada beberapa yang belum, saya meminta maaf. Saya terkadang ceroboh dan tidak teliti,sih. Hehe

Rahma Mizuki : Terimakasih untuk review dan pujiannya.

Nah, itu balasan review dari reading,please.

Summary:Sebuah cerita tentang masa lalu seorang gadis yang terlupakan. Sebuah masa lalu yang terbakar dalam kobaran api. Menentukan apakah cinta atau balas dendam yang akan dipilihnya

Discalimer: untuk selamalamalamalamanya Vocaloid nggak bakalan jadi milik saya. Kalaupun bisa,hanya sebatas mimpi bo'ongan. XD

ekhem,Vocaloid milik Yamaha dan dikembangkan oleh Crypton Future Media.

Rated:mungkin T

Warning: fanfic gaje,abal-abal,sukar di mengerti,tidak bermutu,membutuhkan review

Nah,semuanya. Enjoy,please.

Don't Like,don't Read.
RnR,please.. ^^


"Ba.. Bagaimana keadaan Miku-chan, Nii-san?" Seorang pemuda berambut biru bangkit dari posisi duduknya dengan gelisah. Tampak dari wajahnya kalau dia sudah sangat kelelahan hanya demi menolong seorang gadis yang berteriak histeris di antara kobaran api. Beberapa bagian di tubuhnya berwarna abu-abu, akibat dari debu sisa kebakaran yang berterbangan. Ujung syalnya terbakar sedikit saat berusaha membawa tubuh gadis itu dari puing-puing kios yang tiba-tiba roboh.

Seorang pemuda yang berdiri di muka pintu tersenyum sedikit. Lilitan perban di mata kanannya pun tak mengurangi efek senyumannya yang dingin tapi menenangkan. Pemuda berambut biru menghela nafas berat sambil menjatuhkan dirinya di kursi. Lalu dia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.

"Ini bukan salahmu, Kaito." Pemuda bersurai ungu gelap menarik kursi di samping si pemuda biru yang bernama Kaito itu.

Kaito menghela nafas lagi. Pemuda bersurai ungu gelap yang sudah duduk dengan tenang, hanya diam menatap tingkah laku adiknya. Tak dapat di elakkan lagi, lemahnya pengawasan mereka sebenarnya adalah penyebab kekacauan ini.

"Aku tidak bisa melindungi, Miku-chan.." Kaito menengadahkan kepalanya. Tangan kanannya menutupi kedua iris biru dari pandangan sang kakak. " Kalau begini terus, bagaimana caranya.. kita bisa menebus kesalahannya?" Kaito melanjutkan perkataanya kembali dengan lirih.

"Hentikan!" Si pemuda ungu gelap membentak Kaito. Kaito tersentak kaget. Di tatapnya wajah sang kakak dengan ngeri. Salah satu irisnya yang tak tertutupi perban menyipit bagaikan elang, nafasnya sedikit memburu, air mukanya menampakkan kemarahan dan kekecewaan yang bercampur aduk. Itulah yang dapat dilihat Kaito saat ini.
"Kita melakukannya bukan untuk menebus kesalahan! Apa kau lupa?! Seperti apa kesalahan yang dia perbuat?! Semua ini tidak mungkin cukup untuk menebusnya,bodoh!" Si pemuda ungu menahan nafasnya sejenak. Suaranya terlalu keras. Mungkin saja ada orang lain yang mendengarnya. Tapi, di buangnya pemikiran itu jauh-jauh. Rumah mereka ada di seberang sungai yang agak jauh dari desa. Tetanggapun memiliki rumah yang berjauhan dan terpisah oleh ladang-ladang mereka.

"Bodoh!" Si pemuda ungu menggeram pelan sambil bangkit dari duduknya. Meninggalkan Kaito yang sedang tercengang kaget di kursinya. Kaito menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menghela nafas panjang.

"Maaf, Miku-chan.."

At Another Place

"Ugh,.." Seorang gadis merintih kesakitan saat terbangun dari tidurnya. Ah, bukan, bukan tidur. Tapi pingsan.

Dia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Pandangannya masih sedikit kabur dan berputar-putar. Dengan perlahan, gadis itu bangun dari posisi tidurnya sambil menatap sekeliling. Hal yang membuatnya bernafas lega adalah saat melihat sebuah piano tua yang di letakkan di sudut kamar dekat jendela. Itu piano miliknya.

Perlahan, kejadian beberapa saat yang lalu, mengalir begitu saja dalam ingatannya. Tubuh gadis itu bergetar pelan, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, sedikit demi sedikit, bulir-bulir air mata menuruni setiap lekuk wajahnya yang sedang menangis dalam diam.

Kobaran api itu, suara isak tangis, suara jeritan yang memekakkan telinga, tubuh manusia tak bersalah yang tenggelam di dalamnya. Memenuhi segala isi pikiran gadis itu.

"Hentikan!" Gadis itu tersentak kaget. Kesadarannya kembali normal setelah dia mendengar suara teriakan dari luar pintu. Tubuhnya tak bergeming sedikitpun. Dia takut untuk melangkahkan kakinya, berada di sini tanpa suara mungkin lebih baik. Itulah yang dipikirkan gadis itu. Tapi, dia merasa seperti mengenal suara itu. Seperti suara Taito, paman gadis manis berambut torquise yang tergerai dengan acak-acakan tu.

Gadis itu menajamkan pendengarannya, bukan untuk menguping. Hanya sekedar untuk memastikan apakah telinganya benar atau salah.

"Kita melakukannya bukan untuk menebus kesalahan! Apa kau lupa?! Seperti apa kesalahan yang dia perbuat?! Semua ini tidak mungkin cukup untuk menebusnya,bodoh!"

Suara teriakan itu terdengar lagi. Gadis manis itu mengernyitkan dahi. Bingung dengan apa maksud dari kalimat itu. Suaranya memang milik Taito, tapi apa dia sedang membentak Kaito? Lalu, apa maksud perkataannya itu?

Oh, gadis manis yang malang.. Kau pasti sedang sangat kebingungan sekarang,. Asal kau tahu, kenyataan yang pahit sedang menantimu, manis. Kau harus bisa memilih takdirmu. Hasil dari kelancangan sang iblis pada tuannya.

"Iblis…"
Gadis itu tersentak kaget. Dia mendengar suara rintihan sayup-sayup di kamarnya. Seperti suara yang sama saat dia pergi ke pasar bersama Kaito. Gadis itu bangkit dari kasurnya dan berlari perlahan mengitari kamarnya. Berusaha mencari keberadaan suara itu. Dia melongokkan kepalanya keluar jendela, tapi hanya kehampaan yang dia dapatkan. Gadis manis itu menghela nafas kecewa. Dia benci di permainkan seperti ini.


"Miku-chan, aku masuk.."

Pintu kamar Miku berderit pelan. Cahaya dari luar kamar menerobos masuk ke kamarnya yang gelap gulita. Gadis itu tidak menghidupkan lampu di kamarnya, dia sibuk memandangi langit malam lewat jendela kamarnya di lantai atas.

"Ah, ya.." Miku menolehkan wajahnya. Di dapatinya sosok pemuda biru yang menyelamatkannya tadi pagi, sedang membawa senampan makanan.
"Kaito-kun, ada apa?" Miku menatap siluet biru yang tidak terlalu jelas dalam kegelapan itu. Seperti dia sedang menatap bayangannya sendiri di antara lembayung senja. Kaito hanya diam sambil meletakkan nampan di meja.
"Sudah saatnya makan malam, Miku-chan. Apa yang sedang kau lakukan di situ?" Kaito berjalan mendekati Miku. Dia menjatuhkan dirinya di ranjang. Pemuda biru itu tidak pedulil pada gelapnya ruangan. Kegelapan justru membuat suasana hatinya sedikit lebih tenang.
"Melihat bintang. Dari sini terlihat sangat indah, Kaito-kun.." Miku menyangga dagunya dengan kedua tangan sambil menatap bintang-bintang itu lagi.
"Bintang?"
"Ya. Karena..hanya pemandangan ini saja yang tersisa.." Miku menggigit bibir bawahnya perlahan. Tampak bahunya sedikit gemetar. Kaito menatap lemah pada punggung Miku. Ditebaknya kalau gadis itu sedang menahan tangisnya.
"Miku-chan.." Kaito merasa sedikit sakit saat meilhat Miku yang seperti itu. Di pegangnya dada sebelah kirinya terasa aneh. Bukan hanya sakit, tapi remuk. Seperti di hantam dengan baja, seperti di tusuk dengan sebilah pedang perak, seperti di jatuhkan ke dalam api dendam yang membara.
'Maafkan aku, Miku-chan..' kaito menundukkan kepalanya. Gerak bibirnya selalu berucap kata maaf. Percuma. Kata maaf tidak akan bisa mengembalikan segalanya. Kau terlalu naïf, Kaito.
"Bintang itu, benar-benar luar bisa, ya.." Miku melanjutkan lagi kata-katanya. Kaito sedikit terkejut, dia memiringkan kepalanya tanda bahwa dia tidak paham dengan perkataan Miku.
"Tidak peduli pada awan kelabu yang berarak di langit malam, tidak peduli akan keberadaan mereka di anggap atau tidak, mereka tetap selalu ada di sana." Miku menengadahkan tangannya ke langit. Seolah-olah sedang menerima cahaya bintang dalam genggaman tangannya yang mengerat.
Kaito terhenyak mendengar perkataan Miku. Terlalu tulus, tidak itu bukan ketulusan. Itu keinginan. Miku ingin seperti bintang. Acuh tak acuh tapi indah.
"Miku-chan.."
"Itu yang dia ajarkan padaku. Aku benar-benar bodoh, ya. Masih saja terikat dengan masa lalu." Miku tersenyum pahit. Di kepalkan kedua tangannya di depan dada sambil menggigit bibir bawahnya.
"Miku-chan.. Hentikan.." Kaito berucap lirih, tapi Miku mengacuhkannya.
"Aku merasa senang. Sekalipun yang tersisa hanyalah kenangan, tapi itu tetaplah ada. Aku ingin kenangan itu terus abadi. Terus hidup di dalam hati orang-orang yang aku sayangi. Selamanya. Tidak peduli apakah aku harus hidup sendirian ataupun mati menderita, yang terpenting. Mereka tetap mengingatku.." Miku memejamkan matanya perlahan, tanpa dia sadari, ada titik air yang mengalir dari sudut matanya. Miku terisak-isak menahannya. Dia hancur, gadis itu sudah sangat hancur.

"Hentikan,Miku-chan.."

Tiba-tiba, Kaito bangkit dari duduknya dan memeluk Miku dari belakang. Miku tersentak kaget. Bisa di rasakannya hembusan nafas pemuda itu di puncak kepalanya. Tangan pemuda itu melingkar dengan erat di pinggangnya. Tak ingin melepaskannya, bahkan hanya sedikit saja.
"Kau tidak sendirian, Miku-chan. Aku ada di sini, selalu. Aku akan selalu.. menemanimu.." Kaito berbisik di telinga Miku dengan lembut. Membuat gadis berambut torquise itu semakin terkejut.

Tubuh gadis itu bergetar hebat, tangisnya mulai pecah. Dia berteriak menghempaskan semua rasa sakitnya malam itu. Teriakan pilunya membuat siapapun terhenyak bila mendengarnya. Apalagi suara isak tangisnya yang membahana. Mengoyak kesunyian malam dengan teriakan kesakitan.

Di bawah sana, seorang pemuda berambut ungu gelap, tersentak kaget mendengar suara teriakan gadis manis kesayangannya. Rasa sakit mendera tubuhnya, anatara rasa sakit, kepedihan, kebencian.. Semuanya itu menyatu. Dalam jiwa yang menari di antara kematian.


"Miku-chan.. "

Siluet seorang wanita berambut merah muda terlihat di antara bayangan pohon dan tiupan angin senja musim panas. Seorang gadis kecil yang sedang membawa seikat bunga liar, menolehkan wajahnya. Dia sedang duduk dengan manis di antara sekumpulan bunga dandelion yang indah.
"Mama!" Gadis kecil itu berteriak riang sambil berlari ke tempat wanita itu berada. Menghambur ke pelukan wanita itu sambil tertawa riang, bunga-bunga dalam genggamannya terlepas begitu saja. Berhamburan mengikuti arah angin senja.
"Miku benar-benar nakal,ya!" Seorang pria berambut ungu panjang berjalan mendekat. Di usapnya dengan gemas rambut anak gadisnya itu. Gadis manis itu mendengus sebal.
"Papa yang nakal!" Gadis itu balas meneriaki pria di sampingnya. Dia menggembungkan pipinya sambil menolehkan wajah. Menghindari tatapan mata dengan pria itu.
"Oy,oy. Apa kau tidak tahu, seberapa khawatirnya Mamamu? Dia bahkan nyaris mencekikku kalau kau tidak juga di temukan,gadis nakal!" Pria itu menjongkokkan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil di hadapannya. Di cubitnya pipi gadis itu dengan gemas sampai membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Hahahaha.." Wanita berambut merah muda tertawa pelan melihat kelakuan suami dan anak semata wayangnya itu. Tawanya semakin jadi saat melihat anak kesayangannya itu berdebat argumen dengan sang ayah.

"Sudahlah, saatnya kita pulang. Keburu gelap, nih." Wanita itu menyudahi perdebatan mereka sambil tersenyum lebar. Gadis kecil itu berteriak riang.

"Ya, ayo." Pria bersurai ungu bangkit dari posisinnya. Di tatapnya wajah wanita di hadapannya sambil tersenyum lembut.

"Ayo!" Ucap si pria dan wanita itu bersamaan sambil mengulurkan tangan dan tersenyum pada gadis kecil yang terdiam di hadapan mereka.
"Ya!" Dengan riang, gadis itu menerima uluran tangan mereka.

Di bawah lembayung senja yang indah, di antara tiupan angin musim panas yang menerbangkan putik dandelion, mereka tertawa bersama.. Dengan ikatan tak tampak yang abadi. Selalu menggenggam tangan satu sama lain sambil tertawa bahagia.

"Mama, Papa, aku berjanji.. Aku akan menjadi gadis yang lebih kuat lagi. Aku tidak akan membuat orang lain harus menjadi pelindungku lagi. Justru, akulah yang akan terus melindungi mereka. Aku janji.."

~To Be Continued~

Author Note
Yosh! Akhirnya chap 2 selesai juga! Maaf lama, sempet kena wb, sih.

Kebanyakan libur, isi kepala jadi buram semua.

Nah, kalau begitu, saya mau ngucapin, 'arigatou gozaimasu' buat yang udah nge-review cerita saya.
Saya benar-benar berterimakasih,

Berkat review anda, saya jadi ada niat buat ngetik lanjutannya. Hehe..
Nah, tidak perlu berlama-lama lagi, tunggu saya di chapter berikutnya. Doakan juga, semoga saya memiliki waktu luang untuk mengetik. Terima kasih banyak..
See you next chapter!

..RnR,Please..