Aku mengetuk sedikit pintu dr. Krusht, mengintip sedikit ruang kerjanya. "Oh, Yoongi," ucapnya tersenyum kecil. Aku masih bisa melihat sisa – sisa keributan tadi saat bersama Jimin tadi. Aku bertanya – tanya kepada diriku sendiri, apa hubungan Jimin dengan dr. Krusht tadi. Tidak penting. Yang terpenting bahwa adikku perlu sembuh dan dia tidak perlu menderita lagi, tidak seperti hidupku yang terlalu ironi seperti ini. Hanya cukup diriku saja yang berlaku seperti ini.

Aku mendengar dr. Krusht menghembuskan napas beratnya, mungkin hatinya sedang berkecamuk bingung. "Dokter," panggilku pelan.

"Bagaimana keadaan adikku sejauh ini?" tanyaku langsung pada pokok pembicaraan sekarang.

"Duduk dulu, Yoongi." Aku membawa diriku untuk duduk di dekat meja kerjanya berhadapan dengannya. Aku menggenggam jemariku untuk menghilangkan rasa gugupku di hadapannya.

"Adikmu mungkin terlihat baik- baik saja, tapi—" ia menunjuk rontgen yang ditujukan olehnya. Aku tidak terlalu mengerti apa maksud itu, tapi setelah dijelaskansedikit olehnya aku mulai menganggukan kepalaku. "Kankernya mulai menjalar hingga ke bagian perut maka dari itu Jaxon sering merintih kesakitan di bagian perutnya, dan pula ia juga sering menolak makanan yang sering di bawa oleh suster. Dan kami juga menemukan hal yang mencengangankan, ia mulai sering membuang obatnya. Dulu Jaxon memang sering membuang obatnya tapi selalu ketahuan oleh suster, tapi ini tidak. Ia menyembunyikan obat pemberian suster itu di bawah bantal tempat tidurnya." Aku membelalakan mata, jantungku berdegup beberapa kali lipat, dan tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa membalas ucapan dari dr. Krusht. Tidak mungkin. Jaxon bukan anak yang seperti itu, tidak biasanya ia berbohong untuk menolak. Jaxon adalah tipe orang yang bisa mengutarakan pendapatnya dengan cepat.

"Sudah berapa lama ia berlaku seperti itu?"

"Mungkin, dua atau tiga minggu yang lalu," ucap dr. Krusht berpikir.

"Apa kankernya sudah menjalar cukup jauh?"

"Tidak, karena tidak menjalar ke bagian hati," aku menghela napasku pelan. Tenggorokanku tetap tercekat, tidak bisa. Jangan ambil Jaxon. Aku tidak bisa jika harus begitu.

"Mungkin kami bisa melakukan operasi lagi untuk pengangkatan di bagian perutnya." Tidak akan semudah itu, ucapku dalam hati. Jujur aku ingin berteriak dan menangis mengapa harus di saat situasi yang seperti ini. Tidak sekarang.

"Akan kupikirkan itu." aku berdiri meninggalkan percakapan ini, tidak ingin diriku terjerumus kembali untuk menangis dan meratapi penderitaan ini.

"Yoongi, aku bisa membantumu." Ucap dr. Krusht tulus. Ia menatapku dalam. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain untuk kehidupanku, aku tidak butuh itu.

"Tidak, ." kataku tegas.

"Tapi aku akan tetap membantumu." Katanya lagi tak kalah tegas dariku.

Aku menghela napas berat karena pembicaraan ini yang sedikit menyulitkanruang gerakku. Aku tidak menyukai percakapan yang begitu tegang hingga membuatku terancam. "Maaf membuatmu seperti ini, kita akhiri percakapan ini. Aku ingin bertanya bahwa, apakah dirimu mahasiswa di NYU?" tanyanya antusias. Aku mengangguk.

"Baguslah, aku ingin meminta tolong padamu."

"Okay, tapi dengan satu syarat," kataku pelan, dr. Krusht terkekeh pelan. "Aku ingin pinjam padamu $500." kataku pelan.

"Tidak masalah."

"Kau berada di jurusan apa?" tanyanya.

"Literatur,"

"Aku mendengar bahwa ia akan pindah ke jurusan literature," gumam dr. Krusht pelan yang jelas – jelas terdengar olehku.

"Apa kau melihat seseorang di sini sebelum kau masuk ke ruanganku?" hatiku mewanti – wanti perasaan yang berkecamuk seperti adonan kue yang tidak diketahui bahan – bahan pembuatannya yang membuatku mual. Isi perutku berputar – putar.

Aku tercekat, lalu menganggukan kepalaku sedikit.

"Dia anakku." Aku membelalakan mata.

"Anak tiri, ibunya cerai lalu menikah denganku." Jujur sekarang aku mungkin lupa cara bernapas. Aku menahan napasku beberapa detik karena terkejut dengan ucapan dr. Krusht yang sukses memacu jantungku. Tidak mungkin. Seharusnya dia bisa bersikap baik dengan ayahnya meski ia hanya ayah tirinya. Ya, Tuhan. Tidak mungkin. Aku mengucapkan kalimat itu berulang kali karena tidak bisa percaya dengan kenyataan yang seperti ini. Tidak mungkin bisa seperti ini. Mengapa dunia begitu sempit sekarang di hadapanku. Dokter yang menangani adikku ialah ayah tiri dari seseorang yang meminta pertanggung jawaban kepadaku karena aku menabrak tubuhnya yang masih belum dari operasi. Terlihat klise.

"Lalu,"

"Aku hanya meminta dirimu untuk memperhatikannya, hanya memberitahu kesehariannya saja. Mungkin kau bisa memberitahuku tentang keadaannya apa ia terlihat baik – baik saja atau tidak." Aku bisa mendengar nada memohon dari kalimatnya yang panjang itu.

Aku mengangguk tersenyum, tapi bagaimana bisa aku mengetahui keadaannya bahwa aku bukan teman atau teman satu jurusannya. Aku lupa dengan kenyataan bahwa ia akan pindah ke jurusan literature Inggris. "Ini akan membuatmu mudah, karena ia akan satu jurusan denganmu." dr. Krusht tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat dengan jelas.

Aku bertanya –tanya dari mana Jaehyun mendapat wajah asia yang sama rasnya denganku.

"Ini," dr. Krusht mengulurkan uang sebanyak $500 ke hadapanku. "Tidak jadi, dok. Aku rasa bisa mengatasinya." Aku menolak uang pemberiannya karena aku terlalu bodoh untuk menerima itu. Salahkan pada kebiasaanku, yaitu ceroboh.

Aku pergi ke tempat administrasi untuk membayar kekurangan obat adikku. "Atas nama, Yoongi Min."

Pegawai itu mengernyit melihat berkas – berkas yang ia buka, lalu ia membolak – balikan beberapa halaman di hadapannya. "Sudah lunas, tuan." Aku memiringkan kepalaku, bertanya – tanya. Apa aku sudah membayar semua kekurangan pengobatan adikku. Tidak mungkin.

"Di sini dituliskan sudah dilunaskan dengan anonym, orang tersebut tidak membiarkan anda mengetahui siapa yang membayar pengobatan adik anda." Aku mendesah pelan. Jujur aku kesal mengapa ia ikut campur dengan kehidupanku. Apa ia orang yang kukenal?

Setelah beberapa lama aku berada di rumah sakit, aku memutuskan pergi ke tempat kerjaku yang berada di dekat kota New York. Tidak jauh dari tempat tinggalku mungkin hanya sekitar 30 menit dengan bus. Aku melihat ponselku menunjukan sekarang pukul 9 malam.

Aku sudah terlambat masuk kerja.

Aku menaikki taksi untuk mempercepat jalanku, Sarah akan kecewa lagi padaku. Aku mendengus mendengar ocehannya yang panjang jika aku terlambat dalam pekerjaan ini. Aku menerima pesan singkat dari Sarah. 'Ada seseorang yang menunggumu, kau harus membereskannya.' Aku mendengus kesal karena perasaanku yang campur aduk di sini.

Tak berapa lama aku memasuki sebuah tempat yang penuh gemerlap lampu berkelap – kelip dan dentuman elektronik musik yang memekakkan telinga. Aku hampir saja dicegat oleh penjaga karena aku tak membawa kartu identitasku tapi berkat Sarah aku bisa melewati pintu belakang. "Pelangganmu menunggumu sudah dua jam di sini. Ia tidak ingin orang lain selain dirimu."

"Kau tidak boleh melewatkannya, karena ia akan membayarmu banyak, Yoongi sayang. Karena kau adalah asetku." Ucap Sarah terkikik hingga membuatku merinding.

"Kau tidak seharusnya berpakaian yang menggoda seperti ini," Sarah menyeringai lalu mendorongku ke hadapan seseorang yang sedang berdiri bersandar di meja bar. "Senang bertemu denganmu, Yoongi. Aku harap kau tidak mengecewakanku." Ia tersenyum, lebih tepatnya seringaian yang tajam yang membuat tubuhku membeku perlahan karena tatapannya.

Aku bisa melihat tubuh tegapnya yang berdiri di hadapanku. "Harry," ucapnya memperkenalkan diri.

Ia menarikku ke dalam dekapannya, ia menaruh tangan kanannya di bahuku, lalu membawaku naik ke atas di mana tempat penginapan berada. Ia membawaku cepat ke atas menarikku untuk memasuki kamar pesanannya. Aku meringis karena genggamannya yang cukup kuat karena meninggalkan bekas yang tidak begitu merah. "Aku melihat seseorang memperhatikanmu." Ucapnya pelan.

"Aku—" aku tidak tahu ingin berbicara apa.

"Ia tinggi mungkin seperti diriku, tubuhnya tegap tapi terlihat jelas bahwa ia masih kuliah. Apa lagi gayanya yang memakai celana jeans hitamnya."

"Mengapa kau memesanku?" tanyaku memberanikan diriku.

"Dari mana kau tahu aku bekerja di sini?" tanyaku lagi.

"Mengapa kau kembali, hah?!" aku berteriak frustasi. Jujur aku ingin membunuh seseorang yang ada di hadapanku, mengapa ia kembali setelah meninggalkanku juga, tepat saat ayahku meninggalkanku. Ke mana dia selama ini.

"Ke mana saja kau selama ini?!" tidak cukupkah kau tahu aku mencarimu saat itu. Ia. Dia. Seseorang yang berada di hadapanku. Teman kecilku, meski ia tua satu tahun dariku. Hingga ia merelakan dirinya tinggal kelas untuk dekat bersamaku. Aku berdecih menatap seseorang di hadapanku ini, seseorang yang selalu kurindukan dan kubenci di saat bersamaan. Aku menarik tubuhku dari tarikannya lalu memberinya jarak beberapa langkah di hadapanku. "Jangan mendekat." Desisku.

"Dari mana kau mengetahuiku ada di sini?"

"Kau harus meninggalkan pekerjaan laknat ini, Yoon." Desisnya sambil menatapku tajam. "Kau bukan siapa – siapa lagi bagiku," kataku bergetar.

"Aku tahu kau bergetar. Kau bisa saja meragukanku. Tapi kau tidak bisa meragukan Harry yang satu ini, Yoon." Ia memajukan tubuhnya hingga aku tertabrak tembok di belakang hingga ia menyeringai sambil mengangkat tanganya mengunci diriku di hadapannya.

"Kau tak mengerti dengan keadaanku, Yoon." Suara Harry melembut menatapku dalam.

"Tidak bisakah kau berhenti, apa hanya ini yang bisa kau lakukan kepada adikmu. Bagaimana kalau adikmu mengetahui pekerjaan kakaknya yang menjijikan ini, kurasa ia tidak ingin sembuh dengan penghasilanmu yang haram ini."

"Aku tahu kau bekerja dengan seseorang yang seperti apa, Taeyong. Aku mengetahui mucikarimu itu."

"Sudah berapa banyak pria dan wanita yang sudah mencobai dirimu ini." Cukup. Aku tidak ingin mendengar ucapan seperti ini. Tidak lagi. Aku mengingat beberapa pelangganku yang mengucapkan kata – kata kotor seperti Harry yang ucapkan padaku. Aku sudah cukup membuat diriku sehina ini, tidak dengan ucapan Harry yang membuatku ingin menendangnya keluar angkasa.

"Mengapa, Harr. Jawab aku." Aku berucap frustasi karena tidak bisa berhenti berpikir mengapa seseorang di hadapanku kembali. Teman masa kecilku yang konyol ini berubah menjadi sesosok orang yang berwibawa dengan kemeja biru navy yang di buka kedua kancing atasnya. Ia terlihat seksi sekarang.

"Aku tahu bahwa aku seksi, Yoon." Aku mencubit perutnya keras lalu berdecih kesal karena ucapannya yang terkesan sedang menggodaku.

"Tidak ada tempat untukmu, karena kau keduluan dengan Calum."

Aku mendorong tubuh tegapnya dari hadapanku menaruh tubuhku duduk di pinggiran kasur yang empuk berwarna merah marun ini. "Pria yang selalu mengikutimu saat kau sekolah dasar, hm? Aku tak percaya secepat itu."

"Orang yang mengikuti saat sekolah dasar?" tanyaku bingung.

"Ya, si asia itu 'kan sudah mengikutimu sejak sekolah dasar, tapi kau sibuk dekat denganku, Tae. Ia sering lewat depan rumahmu."

"Dia bukan asia, wajahnya saja yang seperti asia," dengusku kesal.

"Kau membuatku ingin memakanmu kau tahu." Tubuhnya merangkak di hadapanku, menatapku tajam dan seringaian yang tercetak jelas di bibir merahnya. Jantungku berdegup kencang tidak berani menatapnya mengapa suasana di sini kembali menjadi panas. Aku menhembuskan napasku pelan agar ia tidak mengenai hembusan napasku. Ia kembali memajukan tubuhnya, sama seperti Jaehyun lakukan padaku saat kejadian di perpustakaan tadi. Mengapa kejadian tersebut harus terbesit di pikiranku.

"Kau tidak seharusnya menghabiskan waktuku untuk mencarimu sepanjang tahun."

Aku tidak bisa bernapas karena tubuhnya yang begitu dekat denganku dan dada bidangnya yang menyentuh tubuhku hingga aku berharap tenggelam di kasur ini, menghindari dirinya yang selalu kunantikan. Apa sesosok di hadapanku ini seutuhnya ada, aku tidak percaya itu.

Ia menghembuskan napas hangatnya di daerah leherku hingga membuatku merinding, aku bergidik merasakan perlakuannya.

Aku mendorong tubuhnya tapi nihil, tidak ada pergerakan sedikit pun. "Kau tidak bisa menolak, Yoongi. Karena aku sudah membayarmu mahal." Ia mengucapkan kalimat panjang itu dengan hembusan napas di tengkukku hingga aku bergeliat merinding, hingga aku tidak sengaja menggesek bagian bawah miliknya dengan lututku. Aku mendengar Harry meringis. Ia menarik tubuhnya dari tengkukku menatapku tajam, "Apa kau mencoba menggodaku, hm?" jujur aku ingin pergi dari keadaan yang seperti ini. Aku tidak percaya bahwa ia sedang menatapku tajam hingga membuatku merinding kurasa bulu kudukku sudah berdiri hingga sekarang. Aku menggerakan badanku pelan dengan perasaan mewanti takut terkena asetnya seperti tadi.

"Tadi aku melihat seseorang yang menatapmu, wajahnya asia sepertimu. Kurasa ia mengenalmu. Atau mungkin itu adalah teman satu kampusmu. Aku tidak tahu. Tapi ia melihatku dengan tatapan tidak suka, apa lagi saat kau membawamu ke dalam dekapanku saat naik ke tangga. Apa kau begitu menggoda sampai ia tidak suka saat aku menyentuh dirimu, atau kau pernah berbuat sesuatu yang merugikan." Pernah, dan itu tadi siang. Aku mendengus, menggigit bibir bawahku. Harry mengecup bibirku saat aku menggigit bibirku.

"Oh, jangan lupa rambut cepaknya yang menggoda itu, kurasa kau akan menyukai itu." ia menyeringai berulang kali saat mengucapkan kalimat di hadapanku. Jujur jika aku tidak berada di bawah kukungannya aku akan mendorongnya dari lantai dua.

Aku mulai membayangkan siapa yang tadi menatap Harry tajam saat aku berada di dekapannya. Hanya satu orang yang terbesit dalam pikiranku, Jaehyun. Jelas sekali dengan potongan rambutnya yang Harry ucapkan, lalu tatapan matanya yang dingin, tajam, dan terlihat begitu ingin menindas orang dengan tatapan dinginnya yang bagaikan elang ingin menangkap mangsanya.

"Kau harus melayaniku, Tae." Jantungku berdegup berkali – kali lipat. Tidak siap dengan keadaan yang seperti ini, apa lagi dengan pikiranku yang penuh dengan pertanyaan yang tidak masuk akal, tidak seharusnya aku bertemu dengan Jaehyun di sini. Tidak mungkin ia ada di sini. Kurasa hanya diriku anak NYU yang bekerja di sini dan aku juga tidak pernah melihat anak NYU keluyuran di sini. Tidak di sini, karena klub ini jauh dari NYU.

Ia kembali membantingku, mendorongku hingga aku meringis, punggungku sudah terlalu banyak didorong oleh banyak orang. Ia menggenggam pundakku dengan jemarinya yang cukup kuat itu. Lalu mengecup bibirku pelan menggantikan rasa sakit yang ia timbulkan karena dorongan tangannya yang membuatku meringis. Ia masih mengecup bibirku lama tanpa ada tautan yang biasanya Calum lakukan padaku.

"Aku hanya meminta ini," ucapnya lalu berbaring di sampingku. Aku terkekeh pelan, lalu mengambil napas pelan karena sedari tadi aku tidak bisa bernapas dengan baik karena situasi yang menyulitkanku hanya untuk bernapas.

"Tinggalakan pekerjaan ini."

"Tidak," kataku tegas.

"Aku tidak mau kau terjerumus terlalu dalam, Tae."

.

.

.

.

.

.

.

a/n

not edited

aku balik dengan new chapter, makasih dengan yang sudah antusias dengan fanfic ini. aku ngabisin waktu nulis ff ini dengan beberapa album seperti justin, 5sos, miley, dan bbrp lagu wandi maaf ya ga ada lagu kpop haha… aku 5sosfam yang menyukai cowo cowo asia yang kadang menggetarkan hati apalagi oh sehun dan jung yoon oh, mereka berdua perfect banget ya jadi cowo bisa merinding aku ngeliat mereka berdua makanya aku hanya buat hunkai dan jaeyong saja. Chanbaek ada sih tapi dikit, chanyeol bisa imut banget soalnya.

Menurut kalian ff ini bagaimana, sedikit bosankah karena terlalu banyak penjelasan? Dan lagu apa yang cocok buat chap ini?