~My Lovely Guardian.~
Chapter II
Disclaimers = Naruto © Masashi Kishimoto
My Lovely Guardian © Vivikibalover
KibaHina NaruHina
Warning: OOC, Typos, Gaje
Genre: Friendship, Hurt/comfort, Romance
Rate: T
Please R&R
~My Lovely Guardian.~
` Chapter II
Prolog
Hari ini Hinata dipertemukan dengan tunangannya. Siapakah dia?
~…~
Hinata memasuki rumahnya yang ditata begitu rapi dengan segala jenis masakan yang telah terhidang di meja.
"Cepatlah mandi dan ganti baju dengan gaun yang sudah Tou-san siapkan!"
"Ada apa sih memangnya?"
"Tou-san ingin mempertemukan mu dengan calon tunangan mu."
"Tu-tu-tunangan?" Gadis bermata lavender itu terkejut.
. . .
Hinata duduk melamun di kamarnya tanpa melakukan apa-apa.
'Tu-tunangan, tapi aku…'
"Nee-chan, cepatlah orangnya sudah datang nee-chan pasti suka dia keren. Sekarang sedang menunggu Nee-chan untuk makan malam."
Teriakan Hanabi barusan membangunkan Hinata dari lamunannya. Namun, ia masih saja diam.
"Nee-chan, cepatlah Nee-chan tidak mau aku dimarahi ayah kan?
"I-iya Hanabi tunggu sebentar."
"Bisakah aku masuk?"
"Masuklah."
"Nee-chan, belum ganti baju?"
"I-iya" jawab Hinata dengan wajah muram.
"Nee-chan kenapa?"
"Tidak. Nee-chan tidak apa-apa."
"Kalau begitu cepatlah!" kata Hanabi sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Hinata turun dari kamarnya menuju ruang makan, dengan berbalutkan dress ungu muda selutut dan jepit ungu kecil dirambutnya.
"Ini dia Hinata sudah datang" Kata Hiasi Hyuuga.
Hinata terkejut begitu melihat sosok yang dikenalnya sedang duduk di samping ayahnya. Hinata hanya bisa diam terpaku di ujung anak tangga.
"Hinata, ayo duduk sini."
Ibunya menyuruh Hinata. Dia hanya bisa menurut dan mematuhi perintah ibunya.
"Hinata, ini Uzumaki Naruto, orang yang akan bertunangan denganmu." Ayahnya memperkenalkan Naruto.
"Salam kenal Hinata."
Hinata hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
"karena Hinata sudah disini mari kita makan" ajak ibu Hinata.
"Terima kasih, Bibi."
"Rencananya pertunangan kalian akan ayah langsungkan besok malam, Bagaimana?"
"Itu bagus , Paman. Tidak masalah." Jawab Naruto kilat.
"Baiklah, akan ayah suruh menyebarkan undangan ke seluruh desa konoha."
.
.
.
Di rumah Inuzuka.
"Hana… Bantu ibu menyiapkan baju untuk menghadiri pesta pertunangan keluarga Hyuuga"
"Iya, kaa-san"
Mendengar pembicaraan ibu dan kakak perempuannya itu kiba segera menghentikan aktivitasnya memandikan akamaru dan segera berlari ke kamar ibunya.
"Siapa yang bertunangan, Kaa-san?"
"Oh, itu Hinata." Jawab ibunya.
"De-dengan siapa?" Kiba berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Uzumaki Naruto." Jawab Ibunya singkat.
"Wah, benarkah itu Kaa-san? Beruntung sekali Hinata itu." Inuzuka Hana menyahut.
Kiba hanya terdiam di tempatnya. Kiba tak tahu harus bagaimana.
"Kapan pertunangannya?" suara Kiba yang tiba-tiba serak memecahkan keheningan.
"Besok malam, kau datang kan Kiba?" Tanya Ibunya.
"Aku tidak tahu Kaa-san." Jawabnya ragu.
"Lho, orang tua Hinata itu teman akrab Kaa-san, tidak enak kalau tak datang." Ibunya menjelaskan.
.
.
.
Keesokan harinya di Konoha University. Terlihat segerombolan anak perempuan sedang membicarakan keberuntungan Hinata yang akan bertunangan dengan pewaris tunggal konglomerat di Suna gakure. Sedangkan Hinata sendiri sedang duduk bersama sahabatnya, Ino dan kekasih sepupunya, Tenten.
"Eh, Hinata bagaimana perasaan mu? Nanti malam kan pesta pertunanganmu? Kau pasti bahagia, bisa bertunangan dengan Uzumaki-Kun?" Celoteh Ino panjang lebar.
" …" Hinata terdiam sambil memainkan Hand phonenya.
"Trus, gimana gaun mu, dan segala macam persiapannya, kenapa sekarang masih masuk kuliah?"
"Kalau gaun dan lain lain sudah ku urus kemarin." Sahut Tenten bangga.
"Hei, Hinata? Kenapa diam aja sih. Hinataaaa!" panggil Ino.
"Hn…"
"Eh, huh!" kedua temannya itu kesal melihat respon Hinata.
Saat itu juga Kiba lewat di depan mereka dengan wajah tertunduk. Penampilannya yang lain dari biasanya itu menarik perhatian Ino.
"Guys, Coba liat ada Kiba-kun. Tapi kok aneh ya, kusut banget?"
"Eh?" Hinata dan Tenten terkejut.
"A-aku mau ke toilet dulu." Kata Hinata.
"Oke. Kita masuk kelas duluan ya. Tapi cepetan ke toiletnya? Bentar lagi masuk nih." Tenten mengingatkan.
"I-iya."
Hinata mengejar Kiba yang berjalan dua meter di depannya.
"Kiba-kun." Panggil Hinata.
Kiba berbalik dan mendapati Hinata tengah berdiri disana.
"Hinata-chan." Desah Kiba perlahan.
Mata lavender itu bertemu pandang dengan mata hitam yang indah yang biasanya memberikan ketenangan itu. Kiba menatap dalam pemilik mata lavender didepannya. Mencium aroma tubuhnya. Mendengar desah nafasnya yang terengah karena mengejarnya. Cukup lama mereka terdiam seperti itu sampai akhirnya Hinata membuka percakapan.
"Ke-kenapa,?"
"hm?" Tanya Kiba heran.
"Ada apa dengan penampilan mu?"
"Oh, ini. Ada tugas yang harus aku selesaikan jadi aku lembur semalaman. Hehehe berantakan ya" jawab Kiba sambil tertawa kecil.
"Oh."
"Oh ya, ngomong-ngomong selamat ya atas pertunangan mu. Maaf, saking sibuknya jadi nggak sempat kasih selamat."
"Sebenarnya, ada yang mau aku bicarakan Kiba-kun, bisakah kita bertemu sepulang sekolah ditaman dekat danau?" Tanya Hinata.
Kiba terdiam sejenak hingga akhirnya dia menyetujuinya.
