Mereka bilang cinta tidak mengenal perbedaan.

Mereka bilang bilang cinta tidak mengenal umur—mau muda, tua, anak kecil, ataupun orang dewasa.

Mereka bilang kekuatan cinta tidak boleh diremehkan, tetapi aku malah melakukan sebaliknya.

Aku tertawa. Aku tertawa ketika mendapat sebuah cinta darinya.

Dan sekarang—

aku terhantam keras oleh sebuah bumerang yang kubuat sendiri.


.

Disclaimer: Vocaloid © Yamaha. Yang lainnya punya pemilik masing-masing

Warning: AU/AR/AT merajalela di fanfic ini, romens gagal, alur kecepetan, typo, dll. ACCEPTING-REQUEST!—Tapi tidak menerima khusus bulan Februari-Maret, dan Desember #dor. (Setelah melalui berbagai pertimbangan, Bulan April jadinya boleh dirikues. Jadi yang niat rikues silahkan rikues!).

.


Chapter 2: February 14th – Valentine.

Kisah ini dimulai sekitar 6 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku masih berumur 20 tahun. Kala itu aku baru akan lulus dari universitas tempatku belajar, dan sekarang aku tengah mencari tempat rekomendasi untuk terjun ke lapangan dari profesorku.

Aku melihat kertas pengumuman di mading dengan mata yang memicing. Sesekali aku membetulkan kacamataku. Aku memang mempunyai pengelihatan yang kurang baik, namun tidak begitu buruk. Sekali lagi kuusapkan mataku, tidak percaya dengan apa yang kulihat. SD Yamaha, itu yang tertulis disamping namaku, menandakan kalau itu adalah tempatku PKL nantinya. Aku menunduk depresi, mengajar anak SD bukanlah hal yang benar-benar aku inginkan.

"Hmm.. Hiyama Kiyoteru, SD Yamaha. Manusia tertampan, SMA Utau. Wah, Ice Mountain terpisah sangat jauh rupanya." Ujar seseorang dengan nada kecewa, "Kalau begini, band kita terpaksa break dulu dong."

Aku menegadah keatas. Terlihat seseorang dengan rambut ungu tengah mengerlingkan mata kearahku. "Oh, Natsuki." Responku tidak semangat. Aku mengambil botol minum dari tangannya dan segera meminumnya. "Sudah menemukan tempat rekomendasi?"

"Yup, baru saja aku mengatakannya, Kiyo-chan." Ujar Natsuki sambil bersenandung riang. "Untung mereka mau mencarikan tempat PKL, jadi tidak usah susah-susah hehehe~"

"Aku lebih memilih mencari tempat sendiri deh," ujarku kesal. "kita boleh bolos tidak sih?"

"Tentu, kalau kau mau tidak mendapat nilai dan tidak lulus sih." Jawaban Natsuki membuatku semakin nge-down. Pintar sekali, si drummer ini.

"Hei, Kiyo-chan," panggil Natsuki lagi. Aku hanya ber"huh" dengan malas menanggapinya. Aku tidak pernah suka panggilan darinya.

"Kau tidak pedo kan?"

Aku langsung tersedak dari minumku. Mataku melotot tajam. Siapa yang tidak kaget mendengar pertanyaan absurd macam beginian huh?

"Kenapa menanyakan hal seperti itu, baka?"

"Habis kau kan akan ditempatkan diantara anak-anak SD untuk beberapa lama. Kupikir kau akan jadi sangat populer diantara mereka, dan lagi sebentar lagi kan Valentine, jadi kau pasti akan mendapat banyak coklat~"

"Bodoh! Valentine masih sebulan lebih tahu!" hardikku. Sejak kapan si drummer berubah menjadi bodoh begini?

"Ya sudah~ Terserah kau saja deh~" Natsuki melangkah meninggalkanku. Setelah agak jauh dia baru melambaikan tangannya dan berkata, "Lebih baik kau segera berkemas, dan temui para fansmu. Oh ya, jangan lupa beritahu aku kalau kau dapat pacar yang imut-imut disana!"

"Mati saja kau Natsuki!"

~ February ~

"Namaku Hiyama Kiyoteru. Mulai sekarang aku akan menjadi wali kelas kalian. Karena aku guru baru, jadi mohon bantuannya!"

Suasana kelas 5-D hening sekali. Ah, omong-omong kelas 5D adalah kelas yang kuajar sekarang. Kulihat bocah-bocah lelakinya hanya menguap melihatku didepan kelas, sesekali malah ada yang mengupil. Namun beda dengan murid perempuannya, mereka melihatku dengan tatapan.. tidak biasa. Seperti tatapan para fangirls yang baru bertemu idolanya. Aku berkeringat, tak tahu harus berbuat apa.

"Emm.. Baiklah, aku absen dulu ya." Ujarku berusaha memecah suasana tak enak yang ada. Buru-buru aku raih buku absen yang baru diberi oleh kepala sekolah tadi. "Emm.. SeeU?"

"Hadir pak!" ucap seorang anak dengan bando kucing berwarna kuning dirambut pirangnya. "Itu saya pak!"

"Namamu agak unik, SeeU-san. Ini bukan nama samaran kan?" tanyaku. Kita harus memastikan kalau ia sebenarnya bukan anak mafia bukan? (Kau terlalu banyak menonton film, Kiyo-chan).

"Iie, itu nama asliku. Aku baru pindah dari Korea Selatan, gyosa! Makanya namaku agak berbeda."

Gyosa, eh? Apakah itu sebutan guru disana atau semacamnya? "Ah, aku mengerti. Salam kenal, SeeU-san." Ucapku seramah mungkin. Aku tidak bisa terlihat seram didepan anak kecil seperti ini. Bisa merepotkan jadinya.

"Lalu.. Leon?" Seorang laki-laki pirang dengan mata setengah mengantuk berdiri dan menunduk kearahku. Sepertinya ia kurang tidur. "Ok. Selanjutnya, Lily-san?"

Seorang perempuan pirang berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya dengan cara bernyanyi. Setelah agak lama, akhirnya aku baru bisa membujuknya untuk berhenti bernyanyi. (Omong-omong, suaranya lumayan bagus untuk seorang anak-anak).

"Berikutnya, IA?" seorang perempuan pirang pucat panjang berrok merah berdiri dan melambaikan tangannya dengan semangat. Aku sweatdrop dan membalas lambaiannya. Setelah itu, baru aku mengabsen lagi. "Gallaco-san?"

"Galaco bukan Gallaco, sensei! Jangan salah mengeja namaku!" Pirang lagi! Seorang anak perempuan berambut kuning berdiri dan menyela perkataanku, memarahiku sampai puas sampai akhirnya duduk lagi. Kami-sama, ada apa dengan kelas ini?

"Ba—baiklah, Lola-san?" Dan seorang pirang kembali mengangkat tangannya! Gyaaaa kenapa kelas ini penuh dengan rambut pirang? ! Apa-apaan kelas yang amat rasis begini?! Seseorang tolong bilang kalau tidak semua anak dikelas ini berambut pirang semua!

"Ya—yang terakhir.." aku membetulkan kacamataku, berharap sindrom pirang ini segera berakhir. "Kaai Yuki-san?"

Hening. Tidak ada yang mengangkat tangan.

"..Kaai Yuki-san?" aku mengabsen sekali lagi, takut-takut suaraku kekecilan atau aku salah menyebut nama.

BRAK. Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan kencang. Semua melihat kearah pintu kecoklatan disampingku sekarang—termasuk aku. Terlihat seorang perempuan pendek dikuncir dua tengah terengah-engah. Dan oh ya, rambutnya hitam. Reflek aku tersenyum—entah tersenyum senang karena itu bukan pirang atau sarkastik karena ia hampir melewati batas toleransi waktu telat.

"Kaai Yuki-san, ya?" tanyaku memastikan. Si perempuan cilik hanya memasang senyum lebar.

"Itu aku pak! Aku Kaai Yuki! Salam kenal!"

Dan itu saat aku pertama bertemu dengannya.

Dan jika kau berpikir aku langsung tersihir pada pandangan pertama karena kepolosannya, maka kau salah. Aku tidak sepedofil itu, kawan.

~ February ~

Hampir seminggu lebih sudah aku lewati di SD Yamaha. Mereka semua tidak seburuk yang aku pikir. Mereka lumayan cepat menangkap pelajaran. Lalu mereka tidak semenyebalkan yang aku kira. Anak-anak lelakinya sudah akrab denganku—bisa dibuktikan dengan kelakuan usil mereka setiap hari. Bukannya aku tidak keberatan sih, tapi mengingat katanya mereka jarang bisa seakrab itu terhadap guru membuatku merasa senang.

Beda lagi dengan anak perempuannya. Setiap hari mereka selalu membuntutiku kemana-mana layaknya ikan remora kepada hiu. Bukannya aku terganggu sih, tapi jumlah mereka semakin hari semakin banyak! Entah kenapa aku menjadi terkenal dikelas lain dan angkatan lainnya. Aku mendesah, terima saja deh.

Tapi bukan Hiyama Kiyoteru namanya kalau tidak bisa lepas dari teriakan para fangirls. Pengalamanku selama bergabung di Ice Mountain tidak akan pupus begitu saja. Menemukan celah sedikit, akan langsung kumanfaatkan segesit seekor singa kelaparan. Aku memang hebat hahahaha!

"Kiyo-sensei~!"

Oh, oke, ada satu orang yang entah kenapa selalu menemukanku dimanapun aku berada. Segesit apapun aku berlari, dia pasti sudah berada diujungnya dengan kilat. Aku bergidik melihat anak yang sedang melambai-lambai kearahku. Dia seperti mempunyai radar terhadapku! Menyeramkan!

"Kiyo-sensei! Ayo pulang bersama!"

Aku menghela napas. Padahal kupikir aku bisa pulang sendirian dengan tenang.

"Kenapa kau selalu mengikutiku sih?" tanyaku agak risih. Tidak ada kata formal layaknya murid dan guru diantara kami sekarang.

"Rumah kita searah Kiyo-sensei~ Lagipula tidak baik membuat anak kecil sepertiku pulang sendirian."

"Kau bisa pulang dengan temanmu!Demi Kami-sama, memangnya kau tidak punya teman?"

"Tapi kita kan satu rum—"

"Rumah kau dan kos-anku beda satu lantai! Kita tidak satu rumah!"

Aku langsung bergegas menuju rumahku sebelum terjadi keributan yang tidak perlu. Ya, aku memang nge-kos dirumahnya. Universitas yang membuatku tinggal dirumahnya. Ibunya Kaai pun tidak keberatan, malah kelihatannya ia menerima sekali. Seperti punya anak cowok—katanya.

Kaai terlihat memanggil-manggil namaku, tadi aku tidak menggubrisnya. Aku menutupi mukaku dengan buku yang sedang kubaca, supaya terkesan sibuk dan membuatnya menyerah. Tapi bukannya menyerah dia malah memeluk kakiku dan membuatku kesulitan berjalan.

"Kau sedang apa sih, Kaai?" tanyaku kewalahan. Aku hampir saja terjatuh.

"Buku apa yang sedang kau baca, sensei?" tanyanya penasaran. Aku melongo sambil memperlihatkan cover bukuku.

"Phan.. Phan.."

"Phantom of the Opera," ujarku memotong perkataan Kaai. Kelihatannya ia sulit mengucapkan judul bukuku, "ada apa kau bertanya? Kau tidak terlihat seperti tertarik dengan buku ini, Kaai."

"Aku ingin tahu kenapa sensei membacanya~" balasnya riang, sambil berlari kecil mendahuluiku, "Sensei itu kan guru matematika utamanya—meski kau juga mengajar beberapa mata pelajaran lain, tapi tidak dengan bahasa Inggris. Kenapa membaca buku bahasa Inggris sensei?"

"Karena aku tidak sebodoh dirimu—"

"—Hei! Itu tak sopan!" Kaai ngambek. Pipinya menggembung, lucu sekali.

"Karena aku tertarik, Kaai. Kau tahu? Orang yang pintar matematika pasti kemampuan berbahasanya juga meningkat. Aku hanya mengasah kemampuan berbahasaku."

"Benarkah?"

"Ya. Makanya kau jangan suka bermain video games terus."

"Aku tidak bermain terus!" elak Kaai cepat. "Aku hanya melakukan yang anak-anak biasa lakukan!"

"Anak-anak biasanya belajar tahu."

"Itu sih sensei!"

Kemudian kami mulai adu mulut disitu. Mulai dari hal yang tidak penting sampai yang random sekali (sama aja). Setelah kami berdebat agak lama disitu, kami baru melanjutkan perjalanan kami menuju rumah Kaai.

Selama perjalanan pulang tidak ada satupun dari kami yang berbicara. Kaai terlalu marah sementara aku asyik membaca bukuku. Lagipula, kami terlalu lelah untuk berdebat kembali.

"Ah ya, sensei," tiba-tiba Kaai bersuara. Jari telunjuk kanannya berada dipinggir bibirnya sekarang—pose berpikirnya, menurutku. "kau disini sampai kapan?"

"Bermaksud mengusirku?"

"Tidak hanya bertanya." Balas Kaai sambil mengangkat bahunya, "Jadi?"

Aku menoleh keatas, mencoba untuk mengingat. "Hmm… 3 atau 2 minggu kedepan?"

"Kok sebentar?" protes Kaai. Aku sweatdrop mendengarnya.

"Karena mereka yang menentukan waktunya, baka." Ledekku. Muka Kaai langsung memerah karena marah.

"Hmm.. kalau begitu," ia meraih tanganku, lalu menggenggamnya hangat. "ayo kita bersenang-senang berdua selama 3 minggu ini!"

"Hah?" aku mempertanyakan ajakannya, "Lebih baik kau belajar sana! Aku tak mau saat aku pergi nilaimu masih sejelek itu!"

"Belajar kan bisa privat sama sensei pas malamnya! Kita kan satu rumah!" Kaai ngeles, "Ayolah sensei~ Waktu seperti ini ga bakal keulang kan?"

"Tidak mau! Di kos-an itu waktunya istirahat!"

"Sensei!"

"Tidak! Lagipula aku sibuk mendata nilai!"

"Sensei~ Onegai~"

Aku terdiam. Mataku berkedut melihat Kaai yang sudah memasang puppy eyes-nya. Ia selalu melakukan itu kalau ingin sesuatu—kepadaku maupun ibunya. Aku menghela napas, anak ini keras kepala sekali.

"Baiklah, dengan syarat nilai matematikamu selanjutnya harus dapat 100."

"Eeeeh?" Wajah Kaai menunjukkan tanda tidak setuju, "Itu mustahil!"

"Mau apa tidak?" tantangku. Raut wajah Kaai langsung berubah serius. Beberapa menit kemudian ia mengangguk, menyanggupi tantanganku. Aku tersenyum puas. Ini akan menjadi sangat menarik.

"Oh iya, sensei," sebelum memasuki rumah tiba-tiba ia memanggilku, "mulai sekarang, panggil aku Yuki ya! Oke, Kiyo-sensei?"

Aku hanya mengangguk dengan malas, dan segera masuk kedalam.

~ February ~

Esoknya, suasana dikelas 5-D sangat suram.

Anak-anak terlihat tengah mengeluarkan raut wajah serius. Beberapa sibuk mencorat-coret kertas soal dengan kecepatan maksimum. Beberapa ada yang menoleh keatas mencari inspirasi. Beberapa ada yang menggaruk-garuk kepalanya tengah depresi, dan beberapa ada yang tengok kanan-kiri berusaha mencari jawaban—entah itu benar apa salah.

Jika kalian menebak kalau mereka sedang ulangan matematika, maka kalian berhak untuk naik kelas (mungkin).

Yuki sendiri termasuk golongan utama. Demi hari ini ia telah bekerja sangat keras. Seminggu telah ia habiskan untuk marathon privat dengan wali kelasnya, Kiyoteru-sensei. Sekarang, jerih payah itu akan terbalas dengan nilai seratus.

(Dan habis itu mereka akan berkencan hohohoho).

Ditengah kemaklatan ulangan matematika, tiba-tiba suara ringtone hp memecah keheningan. Buru-buru Kiyo-sensei mengangkat teleponnya dan keluar kelas. Sontak anak-anak kelas 5-D memanfaatkan kesempatan itu untuk bekerja sama, tapi tidak dengan Yuki. Ia sebisa mungkin ingin mengerjakan ulangan itu sendiri.

"Baiklah," Kiyo-sensei pun memasuki kelas dengan wajah sedikit ganjil, "kumpulkan ulangannya."

Butuh waktu agak lama untuk mengumpulkan semua jawaban, kalau saja Kiyoteru tidak sampai mengancam dulu. Kebanyakan anak-anak malah ragu-ragu dan memanfaatkan situasi untuk menyalin jawaban. Tetapi seperti yang kukatakan tadi, karena Kiyoteru mengancam, maka semua langsung mengumpulkannya dengan cepat.

"Hari ini tanggal berapa?" tanya Kiyo-sensei tiba-tiba. Reflek semua anak langsung mengecek kalender di jam merekaa tau tempat lainnya.

"13 Februari pak!" jawab SeeU duluan. Kiyo-sensei langsung menghela napas.

"Besok ya.." gumam Kiyo-sensei kecil, sangat kecil tetapi entah kenapa telinga Yuki masih bisa menangkapnya.

"Saya ingin mengumumkan sesuatu." Kata Kiyo-sensei. Semuanya langsung diam dan menatap sensei. Raut wajah sensei terlihat serius sekali—membuat Yuki khawatir sekaligus penasaran.

"Besok.. adalah hari terakhirku mengajar disini." Kiyo-sensei mengumumkan. Semua anak langsung menjadi ribut, kecuali Yuki yang diam mematung. "Pihak tempatku kuliah tiba-tiba memajukan harinya. Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua."

Setelah itu pandangan Yuki memburam, telinganya mendadak tuli, sehingga ia tidak mendengar kelanjutan dari perkataan yang Kiyo-sensei berikan.

~ February ~

"Aih~ Ibu dengar kau sebentar lagi mau wisuda ya? Selamat ya!"

Aku tersenyum mendengar Kaai-san menyelamatiku. Dia memang orang baik. "Ya, terima kasih atas dukungannya, Kaai-san."

"Kalau kau sudah selesai PKL, berarti kau akan pergi dong?" ujar Kaai-san kecewa, "Kapan kau akan kembali?"

"Besok, supaya aku tidak telat untuk wisuda." Jawabku sekenanya.

"Sebenarnya ibu tidak ingin kau pergi, tapi ya mau bagaimana lagi." Tutur Kaai-san, "Kau sudah memberitahu Yuki?"

".. Sudah," ujarku pelan. Aku langsung memasukkan sup miso Kaai-san kemulutku dengan buru-buru.

"Kau sedang bertengkar dengan Yuki, Kiyoteru-kun?"

Buuufftt, aku langsung tersedak mendengar pertanyaan Kaai-san.

"Aku benar ya?" aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.

"..Aku naik keatas duluan, Kaai-san. Terima kasih atas makanannya." Ujarku berusaha mengelak pertanyaan dari Kaai-san. Aku langsung berlari keatas, mengabaikan ekspresi bingung yang ditunjukkan oleh Kaai-san.

Entah kenapa, bukannya pergi kekamarku sendiri, aku malah pergi kekamar Yuki. Sebenarnya aku bingung harus apa. Yuki mulai bertingkah aneh semenjak pulang sekolah tadi. Ia sama sekali tidak ingin berbicara padaku. Aku bingung, aku harus apa? Aku tidak pandai menghadapi anak kecil!

Atau,

Jangan-jangan dia bukan anak kecil dimataku? Melainkan sesuatu yang lain? (Oh tidak demi apapun aku ini bukanlah pedobear!—jerit Kiyoteru dalam hati).

"Yuki," kuketuk pintunya perlahan, "aku ingin berbicara denganmu."

Tidak ada respon. Bahkan tidak ada angin semilir seperti komik-komik pada umumnya.

"Yuki, aku datang untuk mengantarkan ulangan matematikamu." Ujarku sambil sedikit meremas kertas yang kupegang. "Selamat, kau dapat nilai 100. Kau tertinggi sekelas."

Masih tidak ada respon. Segitu marahnya ia padaku?

Kriiiet, tiba-tiba pintu kamar Yuki terbuka. Aku ingin memanggilnya, namun niat itu kuhentikan ketika aku melihat kedua mata Yuki yang sembab habis menangis.

Ia menangis? Karenaku?

"Aku tak apa-apa, sensei." Ia langsung berbicara seakan bisa membaca pikiranku, "Lebih baik sensei beres-beres saja. Masih banyak kerjaan kan?"

Setelah itu Yuki langsung menutup pintu kamarnya lagi, tidak memberikanku kesempatan untuk berkata apa-apa.

Aku menunduk. Ini bukan keadaan yang aku inginkan ketika aku pergi dari rumah ini.

~ February ~

February, 14th

"Senseeeeeeiiiii! Jangan lupakan kami ya!"

Aku tersenyum melihat murid-muridku datang ketika aku akan pergi. Aku amat terharu, apalagi ketika mendapat coklat sebanyak ini.

"Terima kasih karena telah mengajar disini meski sebentar!" ucap kepala sekolah sambil memelukku erat, "Jika lulus nanti, bisakah kau bekerja disini?"

Awalnya kukira ini adalah candaan, tapi melihat sinar matanya dan murid-murid lainnya, sepertinya mereka serius akan hal ini. "A—akan kupikirkan." Begitu jawabku, meski terkesan harkos (a.k.a harapan kosong) tetapi mereka tetap mempercayainya.

Tak lama kemudian, bus yang aku tumpangi pun datang. Sudah saatnya aku pergi!

Aku melihat kesekeliling. Dia tidak datang rupanya. Mungkin dia masih marah padaku.

"Baiklah, aku berangkat semuanya." Agak berat mengatakan ini sebenarnya, karena aku sudah terlanjur merasa nyaman disini. Tapi apa boleh buat, aku harus kembali untuk ijasahku.

Aku pun memasuki bus yang kutumpangi, lalu mencari tempat duduk yang enak dan nyaman. Setelah kutemukan, aku mulai merapihkan barang bawaanku—agar aku tidak kerepotan nantinya.

'Apa ini?'

Aku mendapati sebuah kotak coklat berbungkus coklat dengan pita merah muda ketika aku sedang merapihkan tas berisi laporan hasil kerja PKL-ku. Ketika kubuka, bisa kulihat isi coklatnya sudah agak lumer, tanda bahwa ia sudah lama berada ditasku. Kutebak sih dimasukkannya saat malam hari—tunggu,

Malam hari?

Aku segera menoleh kebelakang. Aku melihat sesosok anak 10 tahun jauh dibelakang sana, sosok yang tak mungkin aku salah liat. Seorang anak perempuan, masih pakai baju tidur, rambut berwarna hitam dikuncir dua dan agak berantakan karena buru-buru, tengah melambaikan tangan kearah bus yang kutumpangi.

Aku tahu. Aku tahu siapa yang memberi coklat ini.

"Yuk—" Baru aku mau memanggilnya, bus ini terlanjur melaju kencang.

.

.

.

"Hei~ Jangan bengong saja, Kiyo-chan~! Sedang memikirkan apa sih?"

Aku tersentak melihat muka Natsuki yang super nge-zoom dimataku. Natsuki lalu tertawa melihat aku terjungkal.

"Biar kutebak, kau sedang memikirkan pacar lolitamu?"

"Sejak kapan aku punya pacar lolita?!"

Aku lalu membetulkan dasiku, mengacuhkan Natsuki yang sibuk mencuap-cuap tentang sesuatu. 6 tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Aku sudah lulus dengan nilai memuaskan, dan sekarang aku baru saja bermutasi ke SMA Crypton, salah satu SMA terbaik se-Jepang! Aku sudah lama bermimpi untuk mengajar disini!

"—Itu yang kau pikirkan, kan?"

Aku menatap kearah Touma dengan tatapan horor. Satu lagi teman mengerikan yang bisa membaca pikiran.

Azuchi Touma, pemain bass di band-ku dulu. Orangnya berperawakan tenang—padahal penampilan nyaris identik dengan Natsuki, bedanya rambut Natsuki ungu, Touma kuning agak coklat. Dia ini bagai peramal, karena dia bisa menebak apa yang kami semua pikirkan.

"Sudah-sudah, belnya udah bunyi tuh. Ini hari pertamamu mengajar kan?"

Ada lagi 2 anggota tim lainnya. Yang berbicara tadi Hiyama Akito, sepupu sekaligus teman masa kecilku. Rambutnya merah dengan sedikit warna coklat disurainya—jadi merahnya agak beda dengan merah Akaito-sensei. Yang dari tadi tidak bicara itu Amane Haruto, guru musik sekaligus keyboardist Ice Mountain. Si pirang ini memang jarang berbicara.

"Bener tuh! Gue duluan ya!" pamitku. Yang lain juga langsung bubar menuju kelas masing-masing.

Aku segera bergegas menuju lantai dua. Kelas 2-D, itu kelas baru tempatuku mengajar. Aku akan menjadi wali kelas mereka yang mengisi mata pelajaran matematika. Jadi, aku seharusnya tidak boleh telat!

"Perkenalkan, nama saya Hiyama Kiyoteru. Mulai sekarang saya akan menjadi wali kelas—sekaligus guru matematika kalian. Mohon bantuannya."

Beberapa murid ada yang antusias menyambutku, beberapa ada yang terlihat malas begitu mendengar mata pelajaran yang aku ajar. Entah kenapa ini familiar.

Familiar..

"Baiklah, saya akan absen dulu." Aku segera meraih buku absen dan memanggil nama murid-murid satu persatu. Proses absen-mengabsen tidak memakan waktu begitu banyak. Aku langsung mengingat jumlah dan nama-nama mereka—mengingat nama mereka cukup mudah dilafalkan dan otakku yang encer (#dor). Semuanya berjalan lancar hingga aku sampai pada suatu nama.

"Kaai Yuki?"

Mataku membulat. Tentu aku mengenal nama ini. Kebetulan kah?

"Kaai Yuki?" aku mengabsen ulang, memastikan nama yang aku panggil.

BRAK. Tiba-tiba pintu disampingku terbuka dengan paksa. Semua orang melihat kearahnya—termasuk aku. Terlihat seorang anak perempuan tengah terengah-engah akibat terburu-buru. Ia berambut hitam dikuncir dua—gaya yang amat tidak khas anak 16 tahunan. Aku tersenyum, ia hampir melewati batas toleransi waktu telatnya.

"Kaai Yuki?" panggilku memastikan.

"Ya! Itu namaku! Salam kenal—Kiyo-sensei?!" bisa kulihat ekspresinya yang terkejut. Aku hanya tersenyum dan kembali melanjutkan acara absen yang tertunda.

Diam-diam, aku memasang seulas senyum—sebuah senyuman yang tidak pernah kutampakkan sebelumnya.

-TBC on March 14th: White Day

.


If you're not here, I can't believe anything
So let me hear your voice,*


.

*NP: If You're Not Here Anymore – Hiyama Kiyoteru