Sudah update chap 1 nya... monggo... monggo dibaca lagi...

Kalo suka...

How To Be Something You Miss?

By Thyz Verbazend

Disclaimer : MK

.

.

.

Chapter 1 : Reasons why I love her

Kutatap tubuh yang terkulai tak berdaya itu, bayangan-bayangan akan masa dimana kesempurnaan akan melingkupi kehidupan kami kini kembali berpendar-pendar dalam benakku.

...Flashback...

Neji's POV

Hari yang selama ini selalu kunantikan bersama kekasihku kini tinggal menunggu waktu saja. Hari yang akan menjadi saksi bersatunya cinta kami. Hari yang akan membuatku memilikinya seutuhnya. Yaitu hari pernikahan kami.

.

.

Namaku Hyuuga Neji, aku seorang yang baru saja lulus dari sekolah dokterku dengan membawa gelar yang tentu saja akan menjadikanku sebuah profesi yang sudah aku cita-citakan semenjak aku masih menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar. Seakan itu belum cukup, kebahagiaanku semakin terlengkapi dengan satu hal yang sangat mengejutkan yang datang dari kekasihku.

Tepat di hari wisuda kami, dia telah menyetujui proposalku untuk menjadikannya istriku. Tak dirasa hubungan yang sudah kami jalani selama empat tahun ini akan resmi maju sampai ke pelaminan. Bahagia tak hanya menyelimuti kami, tetapi juga kerabat, Teman-teman dan juga tentu saja orang tua kami yang sudah menunggu lama untuk datangnya hari ini.

Dia, wanita pujaanku, Haruno Sakura, kini sedang mematut dirinya di depan cermin dengan tak henti-hentinya memamerkan senyum yang menghias lekuk indah wajahnya. Senyumnya tentu saja karena dia sedang mengagumi gaun pengantin yang sedang dicobanya, gaun yang sudah kami pesan khusus untuk hari istimewa kami. Tak ada yang mampu mengekspresikan apa yang sedang kami rasakan saat ini, terlebih setelah perjuangan yang kami lalui bertahun ini demi mempertahankan hubungan kami.

"Sayang, bagaimana dengan rendanya apa kau suka?" Tanya Sakura padaku tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari cermin.

"Menurutku motif yang kemarin sudah cukup bagus?" Jawabku sambil berusaha memasangkan dasi yang tak kunjung selesai. Sakura menyadari kegiatanku itu dan segera beranjak dari tempatnya menghampiriku.

"Sudah kubilang, kau tak akan pernah bisa memasang dasi sendiri." Bibirnya memamerkan senyum saat tangannya meraih dasiku dan merapikannya dalam sekejap. "Nah, beres. Kau terlihat tampan sekali." Ucapnya lembut sambil menepuk bahuku pelan.

Kami kini sedang berada di butik terkenal milik salah satu teman Sakura untuk menyesuaikan pakaian yang sudah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Kami memandang cermin yang memantulkan bayangan seorang lelaki memakai tuxedo hitam dan seorang wanita bergaun putih dengan aksen warna pink yang senada dengan warna rambutnya. Mereka kelihatan serasi, tentu saja menurutku. Tapi siapapun pasti akan mengatakan hal serupa.

Tak dapat kusangka bahwa akhirnya aku mendapatkan Sakura sebagai pendampingku. Hubungan kami hanya berawal dari insiden kecil di sebuah teater kampus yang melibatkan aku dengannya. Dari saat itu mulailah tumbuh benih-benih cinta di antara kami. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tapi hubunganku dengannya semakin hari semakin dekat, tanpa adanya status diantara kami pun semua orang mengira bahwa kami memiliki sebuah hubungan khusus. Hingga akhirnya aku memutuskan di awal tahunkeduaku di kampus, untuk menyatakan perasaanku. Awalnya dia begitu marah padaku sampai tak mau berbicara padaku hampir satu minggu lamanya. Tapi setelah mendengar penuturannya ternyata penyebab kemarahannya adalah dia mempertanyakan mengapa aku harus menundanya begitu lama, mengabaikan sinyal yang sudah ia berikan sejak lama sehingga membiarkannya menunggu hingga begitu lama dalam keraguan apakah aku mencintainya. Dan tentu saja pada akhirnya dia menerima cintaku.

Hari yang ditunggu pun tiba. Seluruh ruangan telah dihiasi dengan bunga mawar kesukaan kami. Dengan keluarga dan kerabat yang menyaksikan momen penting ini. Aku menunggunya di depan altar dengan perasaan gelisah dan berbagai pertanyaan dalam benakku yang terus mengganggu, mengapa dia tak kunjung tiba di pintu itu? Apakah dia belum siap dan pergi meninggalkanku? Apakah sesuatu menghambatnya di perjalanan? Segala pertanyaan itu terus bergejolak, Padahal belum genap lima belas menit aku berdiri disana.

Hingga kulihat dia masuk diiringi adik perempuan kecilku yang berjalan di depannya dengan menebarkan kelopak bunga sebagai karpet merahnya. Dia terlihat begitu menawan dalam balutan gaun itu, semakin aku tak sabar untuk menyegerakan berakhirnya acara ini agar ia semakin cepat menjadi milikku. Dia berjalam dengan pelan takut diiringi musik yang mengalun dari piano dan seruling yang dimainkan oleh dua sahabatku yang lain di tepi ruangan.

Sejenak aku takut dia menginjak gaunnya yang panjang itu dan terjatuh, tapi tentu saja ketakutan itu tak beralasan karena disisinya dia didampingi oleh ayahnya yang setia menjaganya dengan penuh tanggung jawab, tanggung jawab yang sebentar lagi akan diembankan padaku, suaminya.

Dia tiba di depan altar, senyum dan tatapan matanya yang lembut diarahkannya padaku dari balik cadarnya yang transparan. Kuraih genggaman tangannya, bersama-sama kami mengucapkan sumpah dan janji setia sehidup semati kami. Janji untuk saling menyayangi, janji untuk saling mengasihi, janji untuk saling menjaga, apapun yang terjadi sampai maut memisahkan, sampai salah satu diantara kami merelakan kepergian yang lainnya.

Sungguh ironis, pernikahan suci yang bagi kebanyakan orang justru akan membawakan kebahagiaan. Tetapi malah berujung tragedi bagi pernikahanku, kami bahkan belum genap merayakan satu minggu usia pernikahan kami.

Di tempat dimana kami menentukan bulan madu kami. Bulan untuk memadu kasih dan sayang justru tempat yang menjadi saksi kehancuran pernikahan kami.

Tempat yang kami pilih adalah sebuah resort pribadi milik keluargaku. Sebuah tempat yang indah karena berada tepat di bibir jurang yang mengarah ke hamparan samudera biru yang luas. Di bawahnya kita dapat menemukan pantai berbatu yang cocok untuk beristirahat menikmati pemandangan matahari tenggelam. Seperti yang kami lakukan sore itu.

"Sayang lihat, sunset nya indah sekali." Ucap sakura sambil bersandar pada pagar pembatas balkon yang terbuat dari kayu, matanya melihat pemandangan matahari yang seakan tenggelam ditelan oleh hamparan laut di bawahnya. Aku yang sedang duduk sambil menikmatinya pun beranjak mendekati tubuh istriku.

Kupeluk badannya dari arah belakang dan kelingkarkan lenganku mengelilingi perutnya. "Kamu suka? Kita bisa membuat villa pribadi disini jika kau mau." Kukecup puncak kepala istriku perlahan dengan lembut sambil menghirup aroma dari helaian rambutnya.

"Begini saja sudah cukup, kuharap kita bisa tinggal lebih lama." Wajahnya menerawang kedepan menikmati setiap detik kebersamaan kami. Kusandarkan daguku pada bahunya sehingga kedua pipi kami pun bersentuhan. Dia memejamkan matanya sambil mempererat pelukan diantara kami. Semilir angin sejuk semakin menambah hangatnya suasana diantara kami bersama kegelapan malam yang semakin pekat diiringi hilangnya matahari di ufuk barat. Berharap bahwa momen ini akan berlangsung selamanya, tak ingin cepat berakhir.

Di tengah kebisuan kami, tiba-tiba tubuh sakura terhenyak mengisyaratkan dia sedang terfokus pada sesuatu. Matanya membuka cepat dan terdapat semburat ceria di wajahnya.

"Sayang, aku punya ide." Katanya dengan antusias.

" Hmm, apa?" Ucapku sambil mengecup pipinya lembut. Dia seketika membalik tubuhnya sehingga menghadap tepat kearahku.

"Bagaimana kalau kita besok jalan-jalan keliling pantai saja. Kan bagus pemandangannya." Wajahnya tak henti-hentinya menebarkan aura antusias itu.

"Boleh, tentu saja boleh?" Jawabku manja padanya. Tak pernah kusangka jika menerima permintaannya kali ini adalah keputusan yang salah.

"Oke kalau begitu, tapi kamu yang menyetir," dia memukul pelan dadaku. Hingga kami tertawa berbarengan sebelum tiba-tiba kedua mata kami bertemu dan tawa itu pun hilang seketika, digantikan oleh sebuah ciuman lembut.

.

.

.

Esoknya seperti yang kami janjikan di hari sebelumnya, kami pun sekarang sudah berada dalam sebuah mobil jip terbuka yang sedang menyusuri jalan di sepanjang bibir pantai untuk menikmati pemandangannya yang indah. Tak henti-hentinya istriku itu mengagumi setiap inci pesona pemandangan yang bak lukisan. Hingga aku pun tak tahan untuk menggodanya.

"Hey, dari tadi kamu itu kerjaannya ngoceh mulu." Ucapku bercanda padanya.

"Biarin, liat istri seneng dikit kenapa sih?" Jawabnya setengah tertawa. Rambutnya yang panjang tergerai sebahu meliuk liuk diterpa angin pantai.

"Apa? Kamu bilang apa barusan? Istri? Baru sekali kamu ngomong kaya gitu." Tanyaku pura-pura tak mendengar.

"Udah ah jangan dibahas, gak mau jadi suami aku?" Katanya dengan sedikit ketus. Wajahnya terlihat memerah menutupi rasa malu.

"Aduh gitu aja kok marah?" Kucolek sedikit pingganggnya untuk kembali menggodanya.

"Nggak kok siapa yang marah." Tangannya terlipat di depan dada dengan mata yang tak berani menatapku.

"Nah itu kenapa? Hehe, kalo marah entar cantiknya berkurang looh..." Godaku padanya sambil mengerling dari ekor mataku ke arahnya agar tidak kehilangan fokus pada jalanan di depan.

"Kamu, dasar geniit..." Ucapnya sambil tertawa dan memukul-mukul pelan bahuku.

"Idihh, siapa yang genit? Bukannya tadi malemmph..." Ucapanku terhenti karena dia tiba-tiba membekap mulutku, wajahnya kembali merona merah.

"Udah jangan dibahas-bahas. Nanti ada yang kena setrum... hahaha..." dia tertawa setelah berhasil membuatku kegelian dengan gelitikannya yang tepat mengenai daerah sensitif di pinggangku.

"Aduhh, gelii...geli..." Tubuhku sedikit kuhindarkan menyamping dan melepas salah satu tanganku yang memegang kemudi untuk menangkap tangannya. "Nakal kamu ya, awas akan kubalas." Aku menyeringai lebar lalu menggunakan tanganku yang semula menangkap pergelangan tangannya untuk membalas perbuatannya.

"Ahahaha... udah hentikan-hentikan." Pekiknya meminta ampun, tapi kejadian saling menggelitik itu terus berlanjut hingga fokusku terpecah. Tanpa kusadari sebuh bus sedang melaju dengan kecepatan tinggi tepat ke arahku. Yang pertama melihatnya adalah Sakura.

"NEJI AWAAS!" Sakura berteriak keras sambil menyadarkanku dengan mengambil alih kemudi. Namun itu semua sudah terlambat.

BRAKKK!

Yang terakhir kuingat adalah suara keras yang dihasilkan dari tubrukan antara mobilku dan bus itu. Semua yang ada dihadapanku merah dan remang-remang, aku berusaha menggapai tangan Sakura yang terkulai lemas di sisi pintu yang terbuka karena hancur, sebelum akhirnya kegelapan mulai mengambil alih semuanya.

.

.

.

Bau yang pertama kali kucium adalah bau antibiotik dan obat-obatan khas rumah sakit begitu aku dapat membuka mataku kembali. Kepalaku begitu pusing juga pandanganku sedikit buram, aku berusaha mengingat dimana ku berada sekarang dan mengapa aku berada disini. Seketika aku baru tersadar bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan hebat dan pertama kali kulakukan begitu mengingat itu adalah memanggil nama istriku.

"SAKURA!" Aku terbangun dari posisi tidurku menjadi duduk secara tiba-tiba hingga menyebabkan gelombang kesakitan yang amat sangat tak tertahankan di pusat otakku. Kulihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruangan tempatku terbaring kaget mendengar teriakanku, begitu dia mendekat ternyata baru aku mengenalinya bahwa dia ada ibuku.

"Neji kau sudah sadar nak?" dia memelukku begitu dengan erat, wajahnya menampakkan semburat bahagia bercampur tangis.

"Dimana sakura bu? Bagaimana keadaannya?" Tanyaku pada ibuku menuntut penjelasan. Wajah ibuku terlihat sangat bingung untuk berbicara. Tapi akhirnya dia berkata juga.

"Sakura baik-baik saja Neji. Dia masih berada di ruangan ICU, beberapa dokter masih harus melakukan pemeriksaan lagi terhadapnya." Hatiku sedikit tenang mendengarnya, mendengar bahwa orang yang paling aku cintai masih menghirup udara yang sama denganku.

Setelah itu ibu membaringkanku untuk kembali beristirahat, tapi aku tidak ingin, aku mau mengetahui apa yang terjadi setelah kejadian yang menimpa kami berdua. Ternyata berkat kelalaianku, mobil yang kutumpangi bersama sakura menabrak sebuah bis sekolah. Untungnya saja bis dalam keadaan kosong dan supir bis hanya mengalami luka ringan. Sedangkan aku dan Sakura menderita luka yang cukupparah kami langsung dilarikan ke rumah sakit oleh warga yang melihat kejadian tersebut.

Aku sendiri sudah hampir tak sadarkan diri selama empat hari. Kaki kanan beserta dua rusukku patah. Untungnya saja tidak ada luka serius lainnya, dalam beberapa minggu pun mungkin aku bisa kembali menjalankan aktivitasku.

Begitu mendengar penuturan ibu, aku begitu khawatir dengan kondisi Sakura, jika aku saja bisa sampai separah ini, bagaimana dengan dia? Maka aku pun memaksa ibu untuk bertemu dengan Sakura.

"Aku mau ke ruangannya bu," pintaku padanya.

"Jangan Neji, kondisimu masih belum kuat." Katanya menahanku.

"Tidak bu, aku harus melihat keadaan Sakura." ucapku lagi padanya dengan muka bersungguh-sungguh, aku begitu mengkhawatirkannya.

"Tidak Neji..." Dia berkata lemah, sepertinya ibuku menyembunyikan sesuatu.

"Kenapa bu, katakan padaku apa yang terjadi? Ibu mengetahui sesuatu?" dia tidak menjawab apa-apa, hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah.

"Kalau begitu biarkan aku bertemu dengannya bu, kumohon..."

"Baiklah kalau begitu Neji..." Akhirnya ibuku menyerah dan meminta bantuan suster untuk memindahkanku ke kursi roda. Dia mendorong kursi rodaku sampai tiba di depan ruangan tertutup. Dari jendela aku dapat melihat Sakura sedang terbaring tak sadarkan diri di tempatnya. Beberapa peralatan terpasang padanya.

Meskipun baru lulus, aku tetap seorang dokter. Maka saat aku melihatnya, aku menyadari ada yang ganjil dengannya. Begitu melihat seorang dokter keluar dari ruangannya akupun langsung menanyainya mengenai keadaan Sakura.

"Dokter, saya suami pasien yang ada di dalam bagaimana keadaan Sakura?" Tanyaku tanpa basa basi untuk menghentikan langkahnya. Dia terdiam sejenak memikirkan sesuatu, lalu mulai berkata.

"Sakura baik-baik saja nak Neji, anda tidak usah khawatir." Jawabnya sambil tersenyum lemah tapi aku menangkap ada keraguan dalam kata-katanya.

"Tidak mungkin dok, saya juga seorang dokter. Sakura tidak mengalami luka serius di tubuhnya, jika keadaannya memang tidak apa-apa seharusnya dia sudah sadarka diri." Kataku padanya dengan wajah serius dan menuntuk penjelasan darinya. Wajahnya mulai terlihat tidak tenang dan gelisah, dia memandang sekelling tapi tak ada seorang pun. Lalu sejenak matanya dan mata ibuku berpandangan penuh arti seakan mereka berbicara dalam diam. Aku terus memerhatikan mereka sambil sesekali menoleh pada tubuh istriku yang tergolek tak berdaya.

Keheningan itu menciptakan aura tabir ketegangan yang tak kasat mata di antara kami. Sampai beberapa detik lamanya, akhirnya ibuku menghembuskan nafasnya panjang dan kemudian berkata.

"Tak apa-apa dokter, dia berhak untuk mengetahuinya. Sudah tidak ada gunanya lagi untuk menutup-nutupinya." Wajahnya menunduk dan menunjukan ekspresi rasa prihatin padaku.

"Maksud ibu?" tanyaku tambah tidak mengerti dengan situasi ini, denyutan di kepalaku bertambah semakin keras.

"Begini nak Neji, kecelakaan itu tidak menimbulkan luka di tubuh istri anda, hanya saja benturan di kepalanya telah menyebabkan masalah serius. Kami menemukan gumpalan darah pada rongga kepala istri anda. Sangat berbahaya sekali bila terus dibiarkan seperti itu, untunglah kami sudah berhasil mengeluarkan gumpalan darah tersebut. Tapi hal lain yang kami takutkan adalah tekanan yang disebabkan gumpalan tadi telah mematikan beberapa fungsi otak istri anda. Sehingga untuk sementara waktu istri anda berada dalam kondisi mati otak, dia tidak akan sadarkan diri untuk beberapa waktu." Dokter tersebut menyesaikan penjelasan panjangnya.

Setiap kata yang diucapkannya terus membentuk pisau terbang yang seakan menembus dadaku dan merobek isinya. Aku begitu merasa bersalah akan keadaan yang harus ditanggung Sakura seorang diri, semua ini salahku. Andai aku dapat lebih berhati-hati.

"Sakura..." tangisku pecah seketika, akuberanjak dari kursi rodaku dan berjalan memasuki kamar sakura dirawat tanpa memedulikan sakit yang dirasakan kakiku dan denyutan di kepalaku.

"Neji!" Ibu berusaha menghentikanku namun niatnya urung begitu aku mencapai tempat sakura terbaring. Aku menenggelamkan kepalaku pada sisi tubuhnya dengan air mata yang terus mengalir. Kedua orang yang tadi bersamaku hanya mampu melihatku prihatin dari balik pintu.

Mengapa harus seperti ini yang kau berikan padaku dan istriku tuhan? Mengapa bukan aku saja yang harus menderita tuhan? Jeritku terus bergaung dalam hati. Kuraih tangannya dan mengecupnya lembut. Hari ini tepat sepuluh hari sejak pernikahan kami, bahkan aku belum sempat mengecap kebahagiaan bersamanya tuhan.

Sungguh sakit melihat orang yang kau kasihi menderita. Awalnya kau bahagia bahwa Sakura masih hidup, tapi kini kebahagiaanku itu sirna dan digantikan dengan kesedihan dan penyesalan yang amat sangat. Melihatnya terdiam terbaring dan tak bergerak sama sekali padahal jantungnya masih berdetak sungguh lebih ironis daripada melihatnya meninggalkan dunia ini. Jika aku dapat memilih, aku ingin menggantikan posisinya sekarang.

... End of flashback...

Ia kira semua akan cepat berlalu, namun setelah dua tahun, sakura masih tetap belum sadakan diri.

Normal POV

Tanpa disadari seorang wanita sedart tadi sedang memperhatikannya dari luar pintu ruangan. Dia berniat masuk namun mengurungkan niatnya begitu melihat san dokter muda sedang memegang tangan seorang wanita sambil memejamkan mata dan sebutir air mata mengalir dari pipinya.

Wanita itu dapat merasakan gelombang kesedihan yang amat besar yang menyelimuti ruangan itu.

.

.

TBC

.

.

A/N :

Chapter yang ini mengisahkan kisah cinta antara NejiSaku yang berakhir tak bahagia... eh salah belum berakhir deng... ditunggu aja gimana kelanjutannya yaaa...

Niatnya sih pengen bikin chapter yang sedih dan penuh tragedi gitu. Tapi ya memang dasar author amatir, temen-temen saya bilang jadinya datar-datar saja. Dan untuk judulnya juga tetep yang ini kayaknya.

Untuk PM yang minta update fic lain mohon sabar dulu ya. Saya seperti biasa sedang mandet ide nih di otak terus perlu lari dulu sebentar. Berhubung fic ini temanya agak ringan jadinya saya semangat dan ngalir-ngalir aja nih idenya.

Makasih banget yang udah nge fave and nge alert fic ini. Saya bersyukur ada juga yang suka sama fic gaje + abal ini.

Special thanks buat yang udah review : Kiana Cherry's, Renata Kurosaki, Yoruichi Shihounin Kuchiki.

Juga saya mau promosi lagi dikit, kalo berkenan, mampir juga ya ke fic-fic ku yang lain.

Kalau berkenan maukah meninggalkan jejak berupa review? Please...

-THYZ-