Sebelumnya saya minta maaf jika pairingnya tidak di sukai readers, terutama ShikaIno. Saya buat pair ini biar mudah saja membuat fic ini. Kenapa? soalnya ayah mereka bersahabat XD *AlasanMacamApaitu
Gomen nasai, buat alur berantakan dan kecepetan. Bahkan lebih cepat dari kereta api express *gaje
Ya saya berharapnya sih banyak yang suka, tapi saya juga sadar semakin banyak yang suka semakin banyak pula yang benci XD *plak
-oo-
CHAPTER 2
Disclaimer : dududuh, jangan tanya lagi ! *Duak
-oo-
Mereka bertiga tanya bergantian dengan muka memerah bak kepiting rebus. Hinata mencerna pertanyaan mereka dan kemudian tertawa.
"K-kalian ini, aku main di kamarnya itu bermain video game miliknya, bukan 'bermain' seperti yang kalian pikirkan. Hentai kalian!" ucap Hinata tertawa.
"A-Aku belum bisa mengunggulinya, aku kalah terus jadi tetap di bawah." imbuh Hinata dan tertawa lagi. Mereka bertiga kesal. Dugaan mereka melenceng 100%. Yah mereka salah menangkap arti kalimat Hinata.
-oo-
"Tenang, Neji. Kita hanya bermain video game di kamarku." ucap Sasuke tenang. Neji yang akan menggunakan 'kaiten' perlahan mulai melemahkan kuda-kudanya.
"Ck, tak kusangka kalian itu mesum!" ejek Sasuke menyeringai
"Urusai!" ucap mereka bersamaan. Meski Neji satu angkatan di atas mereka, tapi sudah seperti sebayanya.
"Tapi, aku akan melakukan 'itu' dengan Hinata jika dia sudah resmi menjadi pacarku." kata Sasuke menyeringai.
"Hakke Kuushou!" seketika Sasuke mendapat jurus dari Neji. Naruto dan Shikamaru menghela nafas.
.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya menuju toko baju yang sedang diskon. Dia memekik kegirangan saat melihat diskon mencapai 60%. Dia sibuk memilih baju kesana-kemari. Ia selalu hampir jadi gila saat ada diskon.
"Kurasa kau pantas memakai yang ini," kata lelaki di belakang Sakura. Sakura menoleh dan menemukan Naruto menenteng dress selutut berwarna pink dengan motif bunga di bagian dada dan ujung dress itu.
"N-Naruto? Sedang apa disini?" tanya Sakura heran
"Yahh, sedang menemani belanja perempuan menakutkan." kata Naruto kesal lalu nyengir lebar. Sakura jadi bertanya-tanya siapa perempuan itu.
"Oh gitu ya," balas Sakura tersenyum menyembunyikan rasa kecewanya
"Naruto!" panggil wanita berambut merah panjang dengan hawa mengerikan. Naruto tidak berani menoleh. Menurut Sakura, Naruto seperti selingkuh dan ketangkap basah. 'Wahh cantiknya perempuan itu. Apa iya pacarnya Naruto? Tapi dia lebih dewasa dari Naruto.' batin Sakura agak minder melihat wanita cantik itu.
"Na-ru-to!" panggil wanita itu dengan suara lebih berat. Akhirnya Naruto menoleh dan menemukan hawa panas di dekatnya.
"K-Kau sudah selesai Okaachan eahaha." Naruto berusaha menghilangkan rasa takutnya. Sakura melongo hebat, wanita cantik itu ibunya Naruto.
"Kemana saja, aku men-" hawa menakutkan itu tiba-tiba lenyap
"Siapa dia?" tanyanya menyenggol Naruto.
"Dia temanku. Sakura ini ibuku, Okaachan ini Sakura," Naruto memperkenalkan keduanya kikuk
"Hajimemashite, saya Sakura. Douzo Yoroshiku." ucap Sakura memperkenalkan dirinya sopan
"Saya Kushina, ibunya anak ngeselin ini," Sakura terkikik geli, Naruto memasang muka jutek.
"Ini mau kau belikan buat Sakura, Naruto?" tanya Kushina jahil. Naruto dan Sakura blushing.
"Hei kalian disini rupanya." tiga orang itu menoleh ke sumber suara. Berdiri pria tampan dengan senyum lebarnya, ini Naruto versi keren.
"Ne, Minato-kun kau tadi juga kemana?" Kushina menatapnya kesal. Minato hanya nyengir.
"Itu siapa?" tanya Minato pelan pada Kushina
"Sakura, ini suamiku sekaligus ayah dari anak jabrik ini," Naruto memandang ibunya sebal.
"Yoroshiku~" sapa Sakura sopan. 'ayah Naruto sangat tampan' batin Sakura terkikik
"Ayo kita pulang Kushina, Naruto kau disini ya, antar temanmu pulang!" Kushina langsung menggandeng Minato dan pergi meninggalkan mereka. Hening
"Maafkan mereka ya Sakura-chan, mereka selalu begitu." Naruto menghela nafas melihat tingkah ortunya.
"Tidak apa-apa kok, sepertinya mereka romantis dan menyenangkan," balas Sakura tersenyum.
"Oh iya,apa kau mau mencoba baju ini?" tanya Naruto menggaruk tengkuknya. Sakura memerah.
"I-iya." jawab Sakura pelan. Tak berapa lama Sakura kembali, Naruto tercengang.
"Kenapa? Aneh ya?" tanya Sakura menyadarkan Naruto yang dari tadi bengong.
"T-tidak, kau sangat cantik, pas sekali denganmu," jawab Naruto malu-malu. Sakura jadi merona karena ucapan Naruto.
"Aku akan membelikan untukmu, jika kau suka." tawar Naruto tersenyum
"Tidak Naruto, tidak perlu." Sakura menolak sopan
"Aku yang memilihkannya, aku yang bayar. Jangan melawanku!" perintah Naruto. Sakura hanya pasrah menuruti Naruto. Setelah membayar, mereka langsung keluar dari toko.
"Ayo aku antar pulang. Oh iya, berapa nomor ponselmu, tulis sini!" Naruto menyodorkan i-phonenya. Wajah Sakura memerah, tapi tetap menurut saja pada Naruto.
-oo-
Hari ini Hinata berbelanja kebutuhannya di supermarket dekat KGG di antar pengawalnya. Meski anak golongan kelas atas tapi dia tidak manja. Hinata membeli detergen, pelembut pakaian, susu dan segala kebutuhan lainnya.
"Coklat!" pekik Hinata girang. Jika Sakura gila karena diskon, maka Hinata bisa gila karena makanan manis tertama coklat. Tanpa aba-aba Hinata mengambil beberapa batang coklat.
"Hinata-chan~" panggil lembut seorang wanita. Hinata mencari-cari sumber suara ternyata di samping kanannya.
"A-ah, Konnichiwa Mikoto Obaasan," Hinata membungkuk 90°.
"Hinata-chan, mau beli apa?" tanya Mikoto senang karena bertemu Hinata lagi, setelah beberapa hari yang lalu ke rumahnya diajak Sasuke-anaknya
"I-ini banyak kebutuhan yang habis, jadi hari ini berbelanja." jawab Hinata lesu
"Ck, lama seka-" ucapan Sasuke terhenti saat ibunya bersama gadis pujaannya. Hinata menunduk malu-malu. Sasuke mengalihkan pandangannya.
"Gomen Sasuke-kun, aku masih senang bertemu Hinata!" pekik Mikoto bahagia. Hinata semakin merona
"Hn," balas Sasuke melirik Hinata.
"A-ano, saya mau bayar dan pulang dulu Mikoto-baasan, Sasuke-kun," pamit Hinata membungkukkan badannya.
"Cari alasan biar dia mau main kerumah!" bisik Sasuke tetapi dengan intonasi datar pada Mikoto. Ibunya tersenyum dan mengerling nakal
"Baiklah, kau yang bayar, aku akan mengejarnya." kata Mikoto memberikan belanjaannya pada Sasuke. Dia hanya memutar bola matanya.
"Hinata-chan tunggu!" teriak Mikoto saat Hinata sudah akan masuk mobilnya.
"A-ada apa Baasan?" tanya Hinata bingung.
"Tolong bantu aku masak di rumah ya, hari ini ulang tahunnya Itachi. Dan belum ada yang kuselesaikan," kata Mikoto merayu Hinata dengan muka sedih
"A-ano, tapi saya harus pulang dulu." jawab Hinata lembut. Mikoto memasang muka masamnya. Hinata jadi tidak enak.
"I-iya, a-akan saya bantu, sebentar saya telepon otou-sama," ucap Hinata menyetujui. Setelah menelepon wajah Hinata berbinar.
"Mikoto Baasan, saya boleh kerumah anda." kata Hinata malu-malu. Mikoto langsung memeluknya. Sasuke yang melihat itu menjadi iri pada ibunya yang bisa seenaknya memeluk Hinata.
"Sasuke, bilang pada Itachi kalo kita memajukan hari ultahnya," bisik Mikoto setelah Sasuke mendekat. Sasuke hanya menghela nafas. Mereka bertiga langsung menuju toko-toko lainnya membeli bahan untuk merayakan ultah Itachi yang dirayakan mendadak. Sesampainya di mansion mereka menyiapkan semuanya. Mereka menunggu Itachi pulang.
Saat Itachi membuka pintu dia tidak terkejut sama sekali.
"Otanjoubi Omedetou!" ucapan selamat dari semua orang. Itachi menghela nafas, ultahnya kan masih minggu depan.
"Hei, kau Hinata ya?" tanya Itachi mendekati Hinata, tak peduli dengan ucapan tadi
"I-iya, Itachi-nii~" jawab Hinata mengangguk. Itachi langsung memeluk Hinata. Sasuke langsung memukul kepala Itachi. Mikoto membulatkan matanya. Hinata wajahnya panas berat.
"Kenapa sih, dia kan sering main sama aku waktu Neji masih satu rumah dengan Hinata!" ucap Itachi tak terima dipukul Sasuke.
"Ayo Hinata kita main-main di kamarku!" ajak Sasuke meninggalkan keluarganya. Hinata blushing
"Itachi, jangan ganggu adikmu!" ucap Mikoto jahil. Acara ultahnya pun batal dan di rayakan minggu depan sesuai ultah Itachi.
-oo-
Neji kesal dengan kelakuan Sasuke yang seenaknya membawa Hinata ke mansionnya. Dia sangat geram saat di beritahu Hiashi. Dan dia berniat menjemput Hinata tapi niat itu di tepisnya setelah melihat gadis bercepol dua sedang berjalan membawa tas yang sangat besar. Neji menghampirinya
"Mau tumpangan?" tanya Neji. Tenten menoleh ke sumber suara dan menemukan Neji tersenyum padanya. Tenten sedikit merona
"T-tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kok," jawab Tenten balik tersenyum.
"Kelihatannya itu berat." ucap Neji sambil mengangkat tas yang di bawa Tenten.
"E-ehh, mau kau bawa kemana?" tanya Tenten mengejar Neji
"Akan kuantar, tas ini begitu berat, bagaimana seorang gadis membawa bisa membawa seberat ini?" kata Neji menatap Tenten heran. Tenten terkikik
"Ya sudah, masuk mobil, aku antar pulang!" perintah Neji. Tenten menurut saja, wajahnya tak bisa menyembunyikan rona merah itu.
"Apa isi tas itu?" tanya Neji penasaran setelah menjalankan mobilnya
"Oh, itu senjata yang akan aku buat latihan. Tadi belum aku ambil semua." jawab Tenten menjelaskan. Neji sedikit ngeri dengan senjata sebanyak itu. Neji juga manusia, meski mempunyai bela diri keturunan keluarganya tapi juga punya rasa takut dengan perempuan disampingnya itu.
"Ehm, jadi keahlianmu memakai senjata ya?" tebak Neji tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya
"Yah tidak begitu ahli, aku hanya bisa menggunakannya." ucap Tenten merendah. Padahal aslinya dia mampu menggunakan segala senjata dari berbagai macam era. Dari era ninja sampai sekarang dia bisa menggunakan dengan sangat baik. Baik dari shuuriken maupun senjata api AK47 dll.
"Jangan merendahkan diri. Perempuan dengan keahlian bersenjata itu sangat menakjubkan." balas Neji tersenyum tipis. Tenten senang mendengarnya.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil peralatan ninja yang aku pesan kemarin!" Neji langsung menghentikan mobilnya. Tenten menghambur keluar ke sebuah toko.
"Aku tak akan membuatnya marah, aku bisa dicincang." gumam Neji terkekeh di dalam mobilnya.
Tak berapa lama Tenten kembali dengan satu tas cukup besar. Neji yang melihatnya otomatis turun dan membantunya.
"Aku bukan orang lemah yang selalu ingin di tolong, Neji!" ucap Tenten sewot saat Neji mengambil tas itu dari tangannya.
"Bukan urusan lemah atau tidak, tapi seorang lelaki tak akan membiarkan gadis kesusahan," balas Neji panjang lebar
"Aku bahkan tak kesulitan sama sekali!" ujar Tenten mengerucutkan bibirnya. Neji melihat itu dan merasa gemas
"Sudahlah!" Neji masuk ke mobil diikuti Tenten.
Mereka sampai dirumahnya Tenten.
"Ayo ikut mampir," ajak Tenten ramah. Neji awalnya ingin menolak tapi tiba-tiba ide muncul di benaknya.
"Boleh aku melihat latihanmu?" tanya Neji dengan muka berharap.
"Y-ya boleh saja~" jawab Tenten seraya mengajak Neji masuk ke dalam.
"Jadi disini kau latihan?" Neji melihat sekeliling ruang mirip kelas ninja.
"Yah kadang, tapi aku lebih suka berada di halaman belakang. Oh, senjatanya ketinggalan di mobilmu!" kata Tenten keluar lagi diikuti Neji. Mereka kembali dengan menghela nafas. Tasnya benar-benar berat.
"Coba lempar shuriken ini!" pinta Neji setelah Tenten membuka tasnya di halaman belakang. Tenten menyeringai. Sekejap Tenten melempar tiga shuriken dengan posisi masih duduk. Nafas Neji tercekat melihat tak ada satupun shuriken yang melenceng. 'Dia sangat mengerikan' batin Neji.
-oo-
Ino mengikuti kemauan ayahnya dengan sangat malas. Kalau tidak dipaksa ayahnya pasti dia tidak mau ikut. Acara reuni gengnya dulu pasti sangat membosankan. Mau tidak mau Ino berdandan dan ikut acara ayahnya.
"Hime, kau tidak akan bosan, percayalah!" ucap Inoichi-ayah Ino
"Kenapa begitu yakin touchan?" tanya Ino malas
"Karena kedua temannku punya anak seumuran denganmu, mungkin saja kau tertarik padanya," goda Inoichi. Ino memutar bola matanya 'jika ada Shikamaru aku akan ikut. Heh kenapa kepikiran dia?' itulah yang ada di pikiran Ino. Akhirnya mereka berangkat ke hotel tempat reuni para sahabat lama itu.
Sesampainya di hotel, mata Ino membelalak melihat seorang pemuda yang duduk membelakanginya. Dari tatanan rambut dan perawakannya, Ino mengenalnya.
"Oh hei, Inoichi akhirnya kau datang juga," sapa orang bertubuh besar seumuran Inoichi, lalu memeluknya.
"Kau bahkan tak pernah datang reuni sebelumnya." ganti orang berambut nanas menyambut Inoichi dengan pelukan
"Ah, warui. Memang sangat sibuk." jawab Inoichi terkekeh. Ino masih penasaran dengan pemuda yang sama sekali tidak menoleh itu.
"Ayo duduk!" ajak pria bertubuh gembul itu. Nafas Ino hampir berhenti melihat pemuda tadi yang sekarang di hadapannya. Dia pun juga tampak shock dengan kedatangan Ino.
"Inoichi, ini anakku Shikamaru." ucap pria baruh baya berambut nanas itu memperkenalkan putranya.
"Dan ini Ino anakku, Shikaku, Chouza~" Inoichi juga memperkenalkan Ino pada sahabat lamanya
"Anakku tidak ikut, sedang ada di luar kota." ucap orang gembul bernama Chouza itu.
"Dimana anakmu sekolah Chouza?" tanya Inoichi
"Oh, dia memilih ke Kumo." jawab Chouza tersenyum
"Bagaimana anakmu Shikaku?" Inoichi ganti bertanya pada Shikaku
"Pemalas ini ada di KGB, anak cantikmu itu bersekolah di KGG ya?" tebak Shikaku. Nafas Ino memburu, jika ayahnya memberitahu maka Shikamaru akan mengetahuinya. Shikamaru sendiri sepertinya sangat menunggu jawaban dari Inoichi.
"Iya Shikaku, bahkan dia punya anggota geng terkuat." jawab Inoichi semangat dan membuat Ino lemas seketika. Shikamaru menyeringai
"Apakah anggotanya empat orang paman?" tanya Shikamaru sopan pada Inoichi. Ino semakin gundah.
"I-iya, hebat kau tau itu, pantas saja anak Shikaku!" puji Inoichi, wajah Ino pucat
"Tiga anggota lainnya bernama Hinata, Sakura dan Tenten." tambah Shikamaru tersenyum tipis
"Hebat sekali kau Shikamaru!" Inoichi membelalakan matanya kagum
"Karena kemarin mereka-"
"Sumimasen~" ucapan Shikamaru terpotong karena Ino langsung menariknya menjauh dari mereka semua. Bisa hancur reputasi KGG kalau Shikamaru memberitahu mereka.
"Mungkin mereka sudah saling kenal. Rasanya akan semakin mudah berbesan denganmu, Inoichi~" kata Shikaku tersenyum lebar melihat anaknya di tarik paksa oleh gadis itu. Inoichi dan Chouza tertawa.
"Kenapa menarikku?" tanya Shikamaru setelah tangannya dilepas Ino jauh dari mereka.
"J-jangan kau beritahu mereka kalau aku kemarin ke sekolahmu!" ancam Ino gugup.
"Kau takut jika ayahmu tahu kau seorang penyusup?" tanya Shikamaru mengangkat satu alisnya dengan seringai tajamnya. Dia mendekatkan tubuhnya dengan Ino.
"Kita semua sudah buat kesepakatan untuk menghukum para penyusup! Mendokusai~" tambah Shikamaru sambil membuka ponselnya namun posisinya tidak berubah sama sekali.
'Seperti dugaan,mereka penyusup' Shikamaru mengirim pesan SOS pada anggota ROOT. Dan seketika dia melakukan hukuman kesepakatan yang telah mereka buat.
-oo-
TBC
-oo-
Saya buat fic ini sangat terburu-buru, mumpung ada ide, takutnya ntar ilang dari nih kepala. *KagakNanya
Ternyata yang dilakukan SasuHina cuma bermain video game loh, kirain apa XD *GagalFokus *PLAKK
Ini chap pendek banget, lebih pendek dari ingusnya Udon (?)
Sekarang tebakan lagi, apa ya hukumannya? Saya udah tau nih pada mikir apa muahaha XD *sotoy
Ikuti terus lanjutannya, review jangan lupa!
Jangan jadi pembaca gelap kalo nggak mau di anggap 'gosong' XD. Arigatou !
