Title : Stay with him
Main Casts :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Genre : Humor, Romance, fluff (maybe ._.)
Rate : T
Length : Chaptered
A/N : Hi Hi Hi~~~ I am backkkk~~~ Pada heran ya kenapa ada orang hiatus waktunya secepet saya? Jawabannya simple aja sih, aku kangen sama kalian semua :* /hoek/ enggak ding.. aku kangennya sama ChanBaek *dihajarmassa* Yang bilang Chanyeol pedo, jawabannya bukan. Chanyeol itu masih 22 tahun, and Baekhyun udah 16 tahun, mereka beda 6 tahun aja, jadi bukan pedo. Masa beda enam tahun pedo sih u,u eomma sama appaku beda lima tahun lho (tuaan eommaku) berarti eommaku pedo juga dongg? Itu si baeknya aja yang sableng manggil Chanyeol ajussi. Peran Kris liat aja di chap ini hehehe.. Okelah.. Itu aja bacotan untuk sekarang, enjoy the story please^^
.
.
.
.
Chanyeol menghentikan laju mobilnya di depan gerbang sekolah baru Baekhyun. Sembari Baekhyun membuka sabuk pengamannya, Chanyeol berpesan, "Nanti kau pulang sendiri, aku banyak pekerjaan di kantor."
Chanyeol menatap jalan di depannya lurus saat Baekhyun menatapnya sengit, "Aku tidak tau jalan pulang ajussi." Katanya jengkel.
"Bukan urusanku."
Mungkin kalimat favorite Chanyeol itu 'Bukan urusanku.'
"Bagaimana aku pulang nanti?"
"Pikirkan sendiri. Sekarang keluar, aku hampir terlambat."
Baekhyun mencibir pelan. Ia keluar dari mobil Chanyeol—tentunya tak lupa melampiaskan kekesalannya pada pintu mobil Chanyeol.
Ia masih menghujani tatapan membunuh pada mobil Chanyeol yang sudah mulai bergerak meninggalkan lingkungan sekolahnya. Ia kesal. Hari ini belum tentu dia akan mendapatkan teman, lalu bagaimana nanti caranya Baekhyun pulang? Ia tidak mengetahui seluk beluk Seoul dengan baik karena walaupun dulu ia tinggal di Korea—dan ia juga sebenarnya warna negara asli Korea—dia bukanlah penduduk Seoul. Dulu, ia dan keluarganya tinggal di Bucheon.
Ia meringis namun akhirnya berbalik juga memasuki gedung sekolahnya yang berwarna krem. Bibirnya maju dengan dahi berkerut. Mana ada siswa baru sepertinya sekarang ini? Biasanya siswa baru itu masih dikawal oleh walinya sampai masuk ke kelas.
Oh, mungkin Baekhyun harus mengingat satu hal.
Bahwa walinya sekarang ini bukanlah wali biasa. Walinya adalah makhluk aneh dari planet lain yang kebetulan tinggal di bumi untuk merencanakan berbagai cara untuk menginvasi bumi.
Wow.
Sedikit menghibur.
Ia mengedarkan pandangan dengan hati-hati untuk mencari letak kantor kepala sekolah. Sekolah ini benar-benar besar dan luas, mungkin Baekhyun perlu bertanya pada orang sekitar kalau ia tidak mau kehabisan waktu lima jam hanya untuk mencari letak kantor kepala sekolah.
"Permisi, apa aku boleh tau di mana letak kantor kepala sekolah?" Baekhyun bertanya takut-takut pada sosok tinggi menjulang dengan rambut pirang yang sedang melintas di sampingnya.
Lelaki pirang itu menatapnya lama. Baekhyun sampai menggaruk tengkuknya karena merasa canggung dipandangi begitu tajam oleh mata elang laki-laki itu.
"Lelucon macam apa lagi ini?" Dahi Baekhyun mengerut. "Apa tidak ada cara lain untuk mendekatiku?" kali ini ditambah dengan mulut Baekhyun yang menganga. Baekhyun rasa dia sedang menanyai orang mabuk.
"Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku bahkan baru mnginjakkan kaki di Korea kemarin, aku bahkan tidak mengenalmu. Aku hanya ingin menemukan kantor kepala sekolah, aku ada keperluan di sana."
Lelaki itu mendekatkan wajahnya membuat Baekhyun berjengit mundur, "Trik siswa baru? Ckckckck, cerdaslah sedikit." Lelaki itu menyeringai lalu menegakkan tubuhnya.
Bakhyun mengerjapkan matanya bingung.
Sepertinya benar orang ini sedang mabuk.
Astaga, siapa yang membiarkan seorang siswa mabuk di pagi hari begini?
Lagi, trik apa yang dia maksud? Baekhyun bukannya sedang memainkan sulap tadi.
"Kalau kau tidak mau menunjukkan, yasudah tidak apa. Tapi jangan bicara yang aneh-aneh begitu." Baekhyun membalikkan tubuhnya meninggalkan si pirang. Ia memukul kepalanya sendiri. Kenapa hari-harinya di Korea sangat berat?
Ia mengangkat kepala, setelahnya tersenyum lebar saat melihat siluet pria tua berpakaian rapi. Ya, mungkin bertanya pada guru adalah jawaban terbaik.
.
.
.
.
"Annyeonghaseyo, Byun Baekhyun imnida." Baekhyun membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan teman-teman barunya. "Aku pindah dari China, mohon bantuannya." Ia membungkuk lagi.
"Kau mau membohongi kami? Kalau kau dari China kenapa logat Koreamu sempurna begitu?" tanya seorang anak bermata bulat.
"Aku tidak berbohong. Aku memang orang Korea, tapi lima tahun terakhir aku dan keluargaku tinggal di China." Ia tersenyum menampakkan matanya yang melengkung indah.
"Sampai di situ dulu perkenalannya. Kuharap kalian dapat berteman baik dengan Baekhyun." Ucap guru Kim yang sejak tadi berdiri di sebelah Baekhyun. "Tuan Oh, kau sendirian di sana kan?"
"Ne seonsaengnim."
"Cha, Baekhyun, duduklah di samping Sehun." Guru Kim menunjuk sebuah meja di urutan ketiga yang terletak di dekat dinding.
"Ne seonsaengnim." Baekhyun membungkuk hormat pada guru Kim lalu berjalan ke arah meja yang ditunjuk gurunya tersebut.
"Annyeong, Oh Sehun." Orang bernama Sehun itu mengulurkan telapak tangannya, disambut cepat oleh Baekhyun, "Byun Baekhyun." Katanya dengan senyuman.
"Sekolah ini membosankan kan?"
"Ne?"
"Aku selalu merasa bosan, terutama di kelas ini."
Dahi Baekhyun mengerut, "Kau tidak akan mengatakan bahwa kau ini sejenis murid pembangkang super malas kan?"
Sehun tertawa keras. Matanya membentuk lengkungan yang sama seperti saat Baekhyun tersenyum.
"Apa yang lucu Tuan Oh?" tanya guru Kim dari depan kelas.
Sehun berdeham, memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak, "Tidak ada apa-apa seonsaengnim."
Guru Kim berdeham keras. Ia membuka kaca mata minus yang membingkai mata tuanya, "Baiklah, kalian kerjakan soal yang ada di halaman 112." Guru Kim duduk di kursinya.
"Apa aku terlihat seperti murid pembangkang super malas?" tanya Sehun pada Baekhyun.
"Mungkin." Jawab Baekhyun ragu. Ia menatap teman sebangkunya itu lama.
Sehun tersenyum dengan makna tak terbaca. "Kurasa sampai sini dulu. Guru Kim meminta kita mengerjakan soal." Sehun mengambil buku tulis dari dalam tasnya, menaruh buku matematikanya di tengah—berbagi dengan Baekhyun.
Baekhyun juga segera mengambil buku tulis. Saat ia akan berbalik kembali ke depan, ia tak sengaja melihat wajah salah satu siswi yang duduk dua barisan di sebelahnya tepatnya di urutan empat. Wajah anak perempuan itu terlihat cantik, kulitnya putih dengan bibir semeah cherry. Ia menoleh ke arah Sehun.
"Ya, siapa gadis yang di sana itu?" Baekhyun menunjuk gadis yang dilihatnya tadi dengan dagu.
"Maksudmu Sulli?"
"Ah, namanya Sulli?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku menyukainya." Ucap Baekhyun lancar.
"Mwo?" Sehun meletakkan pensilnya. "Kau menyukai perempuan?"
Baekhyun menatap Sehun bingung, "Tentu saja. Aku ini laki-laki, sudah pasti suka pada perempuan. Pertanyaan bodoh macam apa itu?!"
Sehun mengerjap, "O…Ya, perbedaan itu memang indah." Katanya mengangguk-angguk lalu kembali menulis. Baekhyun mengerut bingung, namun ia sama sekali tidak berniat bertanya. Ia kembali menoleh ke belakang, pada sosok bernama Sulli yang menarik perhatiannya pada pandangan pertama.
.
.
.
.
Untungnya, Sehun adalah orang normal—tidak seperti Chanyeol ajussi dan si pirang mabuk—jadi Baekhyun mudah mengakrabkan diri dengannya. Sehun tidak dingin seperti Chanyeol, tidak aneh seperti si pirang, jadi semua waktu yang mereka habiskan berdua terasa lebih menyenangkan. Sehun dan Baekhyun pulang dengan bus setelah Sehun mengajak Baekhyun ke toko kaset video game untuk membeli keluaran terbaru.
Hari itu musim panas, jadi Baekhyun merasa sangat lelah dan kepanasan. Ia sampai di rumah tepat pukul lima sore. Begitu memasuki rumah, ia langsung menyerbu kamar mandi—mandi sore untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket.
Chanyeol yang sedang menonton tv ia abaikan—karena ia merasa kalaupun ia menyapa, dinding tidak akan menjawab kan?—dan segera masuk ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur setelah meninggalkan tasnya di kursi meja makan.
Setelah melempar seragamnya ke keranjang pakaian kotor—Baekhyun punya enam seragam untuk dipakai satu per hari—Baekhyun segera mengguyur dirinya dengan air dingin yang mengalir melalui shower.
Ia bersenandung saat meratakan shampoo milik Chanyeol ke kepalanya—Sebenarnya Baekhyun lebih menyukai wangi shampoo strawberrynya daripada wangi shampoo Chanyeol. Ia meratakan sabun pada seluruh tubuhnya lalu mulai membilas lagi. Ia masih bersenandung sambil memijat kepalanya untuk mendapatkan rasa rileks.
Begitu ia merasa kepala dan badannya sudah bersih, Baekhyun mematikan shower. Ia bersiul-siul sambil tangannya meraba gantungan handuk. Merasa tangannya hanya menggapai udara kosong, Baekhyun menoleh ke samping, mendapati gantungan handuk dalam keadaan kosong.
Baekhyun mengerut bingung, kembali mengingat-ingat di mana ia meletakkan handuk.
PLAK
Baekhyun memukul dahinya sendiri. Ia baru sadar bahwa tadi ia langsung menyerbu kamar mandi tanpa ingat pada handuk tersayangnya.
Oh astaga, kumohon sekali ini saja, handukku tersayang, berjalanlah ke kamar mandi.
Baekhyun memukul kepalanya lagi.
Ia berjalan mondar-mandir, menggigit bibirnya yang sudah membiru kedinginan. Makhluk aneh di luar sana pasti tidak bisa dimintai tolong, bahkan untuk digubris saja Baekhyun masih banyak ragu.
Ia membuka sedikit pintu kamar mandi, mengeluarkan kepalanya untuk melihat Chanyeol di luar sana. Ia masih duduk di sofa menghadap tv, menonton dengan wajah tanpa ekspresi. Di depan Chanyeol adalah pintu kamarnya.
Pintu kamar, jemput aku ke sini.
Baekhyun ingin menangis.
Ia kembali menutup pintu, menatap keranjang pakaian kotor yang terletak di sudut kamar mandi.
Apa ia pakai lagi saja seragamnya ya?
Ah tidak, seragam itu sudah kotor dan Baekhyun sudah mandi. Baekhyun tidak ingin menaruh sesuatu yang sudah kotor pada tubuhnya jika ia sendiri sudah bersih total.
Ia membuka pintu lagi, diam-diam mengukur jarak kamar mandi dengan kamarnya. Mungkin kalau Baekhyun berlari secepat angin, Chanyeol tidak akan melihat tubuh telanjangnya kan?
Ya, pasti tidak. Chanyeol pasti berpikir bahwa melihat Baekhyun yang sedang berlari telanjang bukan urusannya.
Baekhyun menarik nafas dalam berusaha mempersiapkan mental. Sekali lagi ia menatap Chanyeol yang sedang menonton, sebelah kakinya keluar dari kamar mandi. Masih memperhatikan Chanyeol, ia segera mengambil ancang-ancang dan…
…lariiiiiiiiiiiii.
Chanyeol menatap pintu kamar Baekhyun yang baru saja dibanting keras. Yang dia lihat itu orang tak berpakaian yang sedang berlari-lari kan?
.
.
.
.
Baekhyun keluar dari kamarnya dengan menggunakan sebuah bokser di atas lutut dengan pakaian tanpa lengan. Hari ini terlalu panas dan ia tidak suka kepanasan.
Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas jus jeruk dari kulkas kemudian mendekati Chanyeol yang masih di tempatnya tadi. Baekhyun mempelajari raut wajah Chanyeol dan ia menyimpulkan Chanyeol pasti tidak melihat apa-apa.
Mana ada orang yang melihat orang lain telanjang bisa bersikap setenang ini. Setidaknya begitu menurut Baekhyun.
Ia duduk di samping Chanyeol, melipat kakinya hingga boksernya semakin tertarik ke atas.
"Jangan dekat-dekat. Aku tidak ingin duduk di samping orang yang suka berlari telanjang."
SPRUUUUUUTTTTTTTTTTTT -_-
Baekhyun terbatuk setelah menyemburkan jus jeruknya. Ia menatap wajah datar Chanyeol yang masih menghadap tv, "Jadi ajussi melihatnya?" tanya Baekhyun panik. Semburat merah muncul di kedua pipinya—menjalar sampai telinga—menahan malu.
"Kau pikir aku tidak punya mata?"
Baekhyun mengulum bibirnya cemas. "Tidak, itu tidak seperti yang ajussi bayangkan. Ya, bukan seperti itu. Aku..aku.."Baekhyun merutuk dirinya yang tergagap.
Tiba-tiba ekspresinya menjadi lebih tenang, "Aku lupa membawa handuk. Lagipula ajussi kan laki-laki, kurasa tidak ada masalah." Baekhyun meletakkan gelasnya di meja. "Makanya perbaiki keran kamar mandi yang ada di kamarku!"
Chanyeol diam. Tangannya bergerak mengganti channel tv.
"Hei, bersihkan muntahanmu itu."
Baekhyun menatapnya garang, "Itu bukan muntahan!"
Chanyeol diam lagi.
Baekhyun berdiri dengan gerakan tidak ikhlas. Ia pergi ke belakang rumah dan kembali dengan tongkat pel di tangannya. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan penuh dendam lalu mulai menge-pel lantai yang ketumpahan jus jeruknya tadi. Ia sengaja menggosok lantai kuat pertanda protes. Tapi Chanyeol tidak melihat itu. Ia sibuk dengan tvnya.
Mungkin Chanyeol hanya memasang matanya untuk melihat orang-orang yang berlari dalam keadaan telanjang.
Oh, sial.
Tiba-tiba Chanyeol mematikan tv. Ia memandang ke arah jam yang tergantung di dinding.
18.27
Chanyeol berdiri kemudian berjalan ke dapur, meninggalkan Baekhyun yang masih sibuk dengan tongkat pelnya. Ia mendekati kulkas, mengeluarkan beberapa bahan yang ia rasa akan ia jadikan untuk menu makan malamnya.
Saat merasa saku celananya bergetar, Chanyeol mengeluarkan benda persegi tersebut, mengangkat panggilan masuk. "Ada apa?"
"Apa aku harus lembur hari ini juga?"
"Ya."
"Tapi kemarin aku juga lembur. Tidak bisakah direktur datang dan mengerjakan ini sendiri? Ini tugasmu direktur!"
"Aku ada banyak pekerjaan di rumah."
Kalau menonton tv itu bisa disebut 'banyak pekerjaan'.
"Direktur!"
Chanyeol memutus sambungan. Ia kembali sibuk dengan daging sapi di depannya.
"Ckckckck… apanya yang banyak pekerjaan?" sindir Baekhyun saat melewati Chanyeol dan seperti biasa—dan tentu saja—Chanyeol tidak peduli. Ia sibuk memotong dagingnya menjadi potongan dadu.
Tak lama Baekhyun datang lagi mendekati Chanyeol. Matanya berbinar melihat potongan daging dengan irisan sayur warna warni di sebelahnya, "Kau mau masak apa ajussi?" tanyanya semangat, seperti lupa bahwa tadi ia sangat kesal.
"Aku takut dapurku hangus dengan percuma, jadi aku akan memasak."
"Padahal yang kutanya kan dia sedang memasak apa!" Baekhyun menggumam. "Ah, ajussi ada yang bis akubantu?"
"Kalau untuk membakar dapurku, tidak usah, terima kasih."
Baekhyun memajukan bibirnya kesal. "Baiklah, ajussi saja yang masak." Baekhyun berbalik, "Seperti pembantuku." Sambungnya sangat pelan lalu terkikik geli.
"Kau pikir aku tidak punya telinga?"
Baekhyun berbalik lagi menatap punggung Chanyeol.
"Buat makanan malammu sendiri."
Huwaaaaaaaa eommaaaaa T.T
TBC
Yeah, update kilat. Bagaimana sodara-sodara? Lanjut gak? Lanjut? Ah yang bener? Klo emang mau lanjut, review dulu dong. Reviewnya yang ikhlas, enak dibaca, klo bisa panjang ya wkwkwkkwkwk XD *maunya.
