His Past Life
His Butler, problem
"Anda sudah terlambat Tuan Muda"
Bagi seorang Issei, ada begitu banyak hal yang sangat dia benci. Begitu banyak dan salah satunya adalah dia paling tidak suka, jika dia sedang diganggu pada saat sarapan pagi. Bahkan saking berharganya waktu sarapan pagi ini, dia membuat peraturan sendiri 'Jika ada yang menganggu sarapan paginya dia akan menggunakan Sacred Gearnya untuk melenyapkan mahluk tersebut'.
Tanpa bergeming sedikitpun dia mencoba untuk kembali kedunianya sendiri, mencoba untuk menyantap sebuah lembaran roti yang sudah tinggal sedikit lagi. Namun bukti kuatnya efek perkataan itu membuatnya tidak bisa memasuki dunia tersebut. Melirik, tatapannya menjadi tak suka ketika melihat wajah tersenyum ramah itu.
"Apa!?" dia bertanya, tak yakin dengan pendengarannya.
"Anda sudah terlambat Tuan Muda" suara ramah kash butler itu kembali mengulang perkataannya. Kembali menunjukan sebuah senyuman dengan mata tertutup yang ramah.
Fakta bahwa orang disampingnya ini merupakan Iblis tidak bisa dipungkiri, mencoba diam Issei berusaha kembali memasuki dunianya sendiri. Kembali tatapannya lurus menghadap lembaran roti yang tinggal beberapa gigitan lagi untuk habis. Namun dia hanya diam, menatap roti itu dalam diam.
"Naruto siapkan mobil, kita berangkat sekarang!" pemuda itu pergi dari meja makan, berjalan pelan meninggalkan sang butler yang hanya berdiri mematung menatap punggung sang majikan.
Dan mendengar perintah dari majikannya, sang butler hanya memberi sebuah hormat. Membungkukkan sedikit badannya. "Yes, My Lord" hanya itu kata yang keluar, disertai seringai yang menakutkan ganjil dari sang pelayan.
Issei yang mendengar jawaban itu tak terlalu peduli, pemuda itu tetap melangkah pergi. Meninggalkan sarapan paginya, meninggalkan roti yang sudah tinggal sedikit lagi untuk habis dalam dingin karena sang penyantap sudah kehilangan selera makannya.
0o0o0
Mobil itu berhenti tepat didepan gerbang sebuah Academy terkenal dikota ini. Mobil sedan berwarna hitam itu menjadi pusat perhatian sejenak para siswa dikarenakan kemewahannya. Pintu terbuka dan menampakan seorang pemuda bersurai coklat dengan ekspresi kosong, yang tidak terlalu memusingkan berbagai ekspresi dari siswa siswi disekitarnya.
Iris mata kanannya, menatap lurus kedepan, tatapannya tajam bak pedang yang membelah udara kosong. Tidak ada yang menhalangi jalannya. Dan sesekali tangannya mengelus penutup mata yang terpasang dimata kirinya.
Banyak yang menatap kagum atas sosok tersebut, namun banyak juga yang menatap tak suka bahkan benci akan sosok tersebut. ya berbagai ekspresi terpancarkan ketika pemuda itu lewat.
Hyodou Issei.
Disekolah Issei bukanlah termasuk kedalam kumpulan murid-murid populer lainnya, dia hanya siswa biasa yang memiliki kepopuleran yang cenderung normal. Ya tidak berlebihan semua cenderung normal seperti kebanyakan, namun yang membuat dia luar biasa adalah semua aset kekayaannya yang berasar dari purusaahan Hyudou Company. Sebuah perusaahan yang bergerak dibidang Teknologi, Komunikasi, dan Farmasi. Dan bagaimana dia bisa sekaya itu? Tidak ada yang tau, yang pasti banyak rumor yang beredar akan kekayaannya.
Sepanjang lorong sekolah Issei berjalan lurus tanpa hambatan, dirinya sesekali membalas setiap sapaan yang ditujukan padanya. Perjalanannya lancar, bahkan sangat mulus... sampai dari arah selatan tiba-tiba Issei merinding ketika merasakan sesuatu dengan kecepatan gila mendekat kearahnya.
"ISSEEIIII!" ahh.. dia tau teriakan ini, suara dari Motohama dan Matsuda dua sahabat baiknya sedang melesat dengan kecepatan gila kearahnya, yang terkadang membuat dia heran sendiri apakah dua sahabatnya ini benar-benar manusiakah?. "Ada apa dengan kalian berdua?" tatapannya menyipit melihat dua sahabatnya ini sedang berusaha mengambil nafas didepannya.
"Ini aku mengundangmu dalam pesta kecil dan pribadi kita, aku punya koleksi baru!" Matsuda mengatakan itu dengan semangat. Issei bisa melihat tangan sahabatnya itu mengambil sesuatu dari dalam tas dan mengeluarkan sebuah DVD, yang Issei tau itu DVD porno. "Ayo ikut bergabung, aku mengundangmu dalam acara yang akan menambah masa mudamu!"
Setetes keringat jatuh meluncur dari Issei, melirik kekiri dan kanan dia bisa merasakan adanya bisik-bisik para gadis yang lewat akan keberadaan mereka, bisikan negative. Dan ini tidak bagus! Melipat kedua tangannya, Issei menatap Matsuda dan Motohama secara bergantian. Menghela nafas, Issei membuka suara. "Maaf tetapi aku tidak tertarik"
Issei berbalik arah dan kembali melangkah menuju kelas. Meninggalkan Matsuda dan Motohama yang terdiam berdiri mematung dengan mulut menganga lebar.
"DASAR SIALAN!"
"MATA SATU SIALAN!"
"SOK SUCI!"
"KAU AKAN MENYESAL!"
"PERGI SANA!"
"KAU AKAN MENYESAL!"
Issei terus berjalan, dia mendengar semua itu tetapi tidak terlalu mempedulikannya. Malah dia tersenyum tipis mendengar umpatan dua sahabatnya itu. langkah kakinya terus berayun menuju kelas, dimana dia mendengar teriakan itu semakin mengecil.
0o0o0
Semilir angin berhembus pelan menerpa tubuhnya, pakaian seba hitam yang dipakainya sedikit menari dibawa angin. Daun-daun kering berterbangan melewatinya. Hari yang cerah, setidaknya begitulah pemikiran singkat dari pria bersurai pirang cerah yang sedari tadi berdiri sendiri didalam taman kota yang sepi.
Iris biru laksana laut miliknya, menatap angkasa tanpa awan diatasnya. Matahari bersinar terang disana, namun pandangannya menyipit bukan karena matahari tetapi apa yang ada disana. Sebuah sinar kecil yang tak jauh dari sang surya. Sebuah sinar kecil yang berdiri sendiri.
Sinar itu perlahan semakin membesar, atau lebih tepatnya sinar itu perlahan turun dan menuju kearahnya. Secara reflek tangannya menutup matanya berusaha menghalau sinar yang semakin menyilaukan itu.
Tubuhnya menengang ketika merasakan sensasi terbakar dikulitnya ketika cahaya itu makin mendekat. Aura ini dia tau milik siapa, tidak salah lagi...
"Tak kusangka salah satu dari petinggi Malaikat mendatangi Iblis rendahan sepertiku" Naruto menatap cahaya didepannya, raut wajahnya menunjukan anggapan remeh akan sosok didepannya. Cahaya itu mulai meredup dan menampilkan sesosok wanita bersurai pirang cantik dengan lingkaran halo emas diatas kepalanya.
Naruto menyipitkan matanya ketika dia menangkap raut wajah kurang bersahabat dari Malaikat didepannya.
"Berhentilah bercanda" sosok itu membuka suaranya, suara dengan nada yang lembut namun tesirat ketegasan disana. "Mengapa kau merebut dia dariku?"
Naruto menautkan alisnya binggung, namun detik itu juga dia paham kemana arah pembicaraan ini akan berlansung dan apa tujuan Malaikat itu mendatanginya. "Aku tidak pernah merebutnya, dialah yang memanggilku Gabriel"
"Kau tau dia akan menjadi bagian dari Surga" Gabriel masih dengan ekspresi tidak terima, wajahnya memerah bukan karena nuansa romantis. Tetapi memerah menahan marah, tatapannya menatap tak suka akan pria didepannya. "Kenapa kau masih terima permintaannya?"
Melihat wajah Malaikat yang memerah menahan marah, Naruto maju dan mempertipis jarak diantara mereka. Iris birunya bisa menatap iris biru Gabriel yang menatapnya benci. "Karna dia meminta, dan sebagai Iblis aku hanya menjalankan apa yang seharusnya, bertindak sesuai peranku di dunia ini"
Gabriel, tubuh wanita itu sedikit bergetar mendengar kalimat tersebut. bukan kalimat itu, tetapi nada yang tersirat didalamnya. Nada yang penuh ancaman, perlahan dia semakin mundur, dia sadar siapa sosok dihadapannya ini adalah salah satu dari Iblis yang merupakan perlambangan dari seven deadly sins.
"Apa yang kau ingginkan?" dalam langkah mundur itu Gabriel kembali bertanya. Langkahnya semakin mundur tapi itu tidak memperlebar jarak diantara mereka, karena pria itu juga ikut melangkah maju. "Apa kau inggin memakan jiwanya?"
"Tidak" Naruto terus maju berusaha mempertipis jarak diantara mereka. "Aku sudah bosan memakan jiwa Manusia, sudah tidak ada kepuasan bagiku akan jiwa mereka"
bhuk—
Gerakan Gabriel terhenti ketika dia tertahan oleh sebatang pohon. Keringat dingin meluncur dari wajah cantiknya ketika Naruto terlah mempertipis jarak diantara mereka. Tubuhnya menengang ketika tangan sedingin es itu mulai membelai wajahnya. "Hen-hentikan!"
-!
"Jika kau membunuhku, ini akan memicukan perang antar tiga fraksi kembali" ucap Gabriel lirih menatap Naruto.
Perlahan Naruto berhenti membelai wajah itu, walau sebentar dia menikmati rasa takut yang terlihat jelas dari wajah itu. Naruto kemudian mendekatkan wajahnya dengan Gabriel, dia bisa merasakan raut wajah takut dari Malaikat itu. ekspresi menutup mata itu entah kenapa serasa lucu baginya.
Walau seorang petinggi Malaikat. Akan tetapi, Naruto paham betul bahwa Gabriel adalah seorang yang polos akan menatap dunia ini. Meski dia pemimpin Surga tetapi dia sering kikuk dalam memimpin sehingga berbagai perkerjaannya sering diantikan oleh Michael atau Rafael. Dan dia juga mempunyai rasa kasih yang besar... itu terbukti ketika Issei yang merupakan calon Joker Gabriel direbut oleh Naruto.
Dan tentu saja Gabriel marah dan segera mendatanginya cepat atau lambat... sepertinya Malaikat cantik ini tidak mengindahkan nasehat Michael tentangnya...
Namun kesampingkan semua itu, saat ini Naruto sedang menikmati wajah takut dari Malaikat tersebut.
Tubuhnya bergetar. Gabriel tidak pernah merasa setakut ini, hanya dengan berdiri dihadapat pria itu dia bisa dengan jelas merasakan perbedaan kekuatan diantara mereka. Dia hanya bisa menutup matanya, dengan jelas dia bisa merasakan hembusan nafas pria itu.
Seharusnya dia mendengarkan apa kata saudaranya soal Iblis yang telah merebut jokernya. Harusnya tidak begini, dengan kematiannya pasti akan menimbulkan perang antar tiga fraksi kembali terjadi.
"Sudah ku katakan padamu, bahwa bukan aku yang mengambilnya. Dia yang mencariku"
-!
Sedetik itu juga Gabriel membuka matanya, tatapannya lurus dan tidak percaya kepada pemuda itu. kedua iris senada mereka saling bertemu satu sama lain, saling berusaha membaca pikiran masing-masing.
"owhh ternyata sudah waktunya" Naruto membuka jarak diantara mereka, pria itu melirik jam tangan mewah yang melingkar ditangan kirinya. "Maafkan aku, aku harus segera pergi."
Dengan pelan Naruto mengenggam tangan Gabriel dimana wanita itu hanya bisa membatu terdiam. Sedikit membungkuk kemudian dengan pelan Naruto mengecup tangan tersebut.
"Aku pergi dulu"
Itulah ucapan terakhir Naruto sebelum menghilang dalam lingkaran sihir.
Sepeninggalan Naruto, Gabriel hanya bisa terdiam. Ekspresi wajahnya tidak terbaca saat ini. Sebuah ekspresi yang terdiri atas marah, lega, malu, tersipu, dan shok bercampur menjadi satu.
Tubuhnya merosot kebawah ketika dia merasakan lututnya goyah dan tak sanggup menopang berat tubuhnya. Perlahan wanita itu memeluk lututnya sendiri, mencoba berfikir kembali apa yang sudah dilakukannya...
Apa dia benar jika melawan seorang yang dijuluki Satan?
0o0o0
Bel pulang sekolah tela lama berbunyi. Semua murid telah sibuk kembali dengan dunia mereka, ada yang akan pergi untuk pulang, mengikuti ekstrakulikuler. Dan sekedar shoping atau main game di warnet dekat sekolah. Berbeda dengan semua itu Issei masih setia dikelas yang sudah kosong itu. pandangannya menyipit pada smartphone miliknya, perlahan jarinya menari indah memainkan berbagai fitur yang ada... semua sempurna, dia akan pulang sebentar lagi dengan menelpon Naruto.
Tetapi..
Seseorang menepuk pundaknya, seseorang yang tidak datang melalui pintu. Seseorang yang tiba-tiba entah bagaimana sudah berdiri dibekalangnya. Dan merespon tepukan itu Issei mengalihkan wajahnya pada pelaku tersebut. namun, ekspresi wajahnya lansung berubah ketika dia mengetahui siapa orang itu.
"Bochou memanggilmu"
"Lagi?" Issei menampilkan ekspresi 'tidak mengerti kepada orang itu' kembali pada smartphone miliknya dia terlihat sibuk dengan sesuatu. "Katakan padanya aku tidak tertarik" dia mengatakan itu tanpa mengalihkan perhatiaannya dari perangkat pintar itu.
"Dia memaksa Issei-kun"
Issei terdiam dan menatap sosok tersebut. "Kau sudah tau jawabanku Kiba"
"Aku harap kau mengerti bukan" Kiba, pemuda itu menjawab ramah disertai senyum persahabatan diwajahnya.
Issei menghela nafas, dia menyerah untuk hal ini. Dia kembali pada dunianya dan terlihat menghubungi seseorang. "Naruto, tak usah kau menjemputku hari ini!" memasukan smartphone tersebut kedalam kantong celananya. Dia menatap Kiba seperti layaknya semua siswa Academy Kuoh menatap sang pangeran. "Pimpin jalannya"
Dengan itu Kiba dan Issei meninggalkan kelas, menuju tempat yang mereka tuju.
0o0o0
Club Penelitian Ilmu Gaib.
Merupakan sebuah club yang tidak begtu populer, bahkan lebih tepat disebut sebuah club yang tidak begitu berguna. Club konyol yang sering mendedikasikan setiap anggota kelompok mereka akan hal-hal aneh dan tidak jelas.
Seperti berburu hantu, mengoleksi cerita horor, misteri, dan urban lengend. Bahkan club ini juga sering melakukan kegiatan yang tidak pada mestinya.
Namun meski begitu, meski tidak terlalu terkenal oleh kalangan sekolah dan guru. Ternyata club ini cukup populer dikalangan pada siswa siswi se-Academy Kuoh. Club kecil ini, berisikan semua anggota murid populer dari berbagai kelas. Dan tidak semua siswa dapat menjadi anggota club ini kalian tau? Hanya dengan diundang secara lansung oleh pemimpin clublah kalian bisa bergabung dengan club konyol ini.
Ya... setidaknya itulah yang manusia tau tentang club ini.
Seperti saat ini, Issei menduduki dirinya dengan tenang disebuah sofa mewah yang seharusnya terlalu mewah untuk sebuah club kecil. Kembali, walau sudah beberapa kali melihat club ini secara lansung... tetapi arsitektur club ini mengambil konsep abad pertengahan dengan berbagai interior clasic yang kental.
Sedikit berbeda dengan masionnya yang seluruhnya mengambil konsep Britania clasic.
Mengedarkan pandangannya, dia bisa melihat seorang gadis bersurai putih dengan ukuran tubuh loli. Duduk diatas lengan sofa seraya melahap beberapa cake dengan khitmat. Ya... dia Tojou Koneko, seorang siswi kelas satu yang begitu populer akan keimutannya. Seorang siswi yang merupakan maskot Academy ini... siswi yang dingin dan nyaris tidak memiliki emosi. Dan lebih dalam dia bisa merasakan aura nekomata pada gadis bersurai putih itu.
"Cih mata satu menyebalkan"
Setetes keringah meluncur dikulit Issei ketika pendengarannya menangkap umpatan tersebut. kembali mengalihkan pandangannya dia kembali kemelihat seseorang. Seorang pemuda yang duduk disudut ruangan ini seraya memoles beberapa pedang besi bertipe long-sword.
Kembali menghela nafas berat seakan tidak mengakuinya. Issei dengan benci dia mengatakan dia mengenal sosok tersebut. Dia Kiba Yuto, seorang pangeran berkuda putih yang tersesat dizaman moderen ini. Seorang pria tampan ramah dan pintar... owh.. jangan lupakan dia juga sangat lembut pada siapapun. Membuat semua wanita menginginkannya.
Secara singkat dia adalah semua yang wanita ingginkan.
Seorang pangeran sekolah yang menjadi musuh semua siswa Kuoh Academy, yang otomatis ikut menjadi musuhnya dalam artian yang lain.
"Cih!" Issei mengalihkan pandangannya ketika Kiba menyadari tatapannya dan membalasnya dengan sebuah wajah ramah dengan senyum persahabatan disana.
"Silakan diminum Issei-kun"
Sebuah suara kembali mengalihkan Issei dari dunianya. Keasal suara, dia melihat seorang gadis dengan surai drak blue bergaya pony tail berjalan kearahnya. Gadis itu membungkut seraya meletakan dua buah cangkir teh dihadapannya. Issei terdiam melihat semua itu, namun dia mulai memengang gelas itu ketika gadis itu tersenyum padanya.
Menatap teh tersebut, Issei bisa melihat adanya beberapa butiran beras seperti dipanggang. Dan beras-beras itu terlihat jelas karena warna teh yang cenderung bening. Menghirup sejenak Issei bisa mencium aroma seperti nasi gosong yang gurih. Hmmm... hampir mirip aroma popcorn. Meneguk teh itu seteguk dia kembali merasakan rasa gurih dan sedap... juga manis.
"Genmaicha" guman Issei yang kembali meletakan cangkir tersebut.
"Ara ara~ betul sekali" gadis itu menjawab dengan nada sensual, dan ditambah dengan sebuah senyumman manis diwajahnya.
Berusaha membalas senyum, dia mengenal sosok dihadapannya ini. Himejima Akeno, seorang atau salah satu dari dua wanita paling cantik disekolah ini. Tidak ada yang tau asal usulnya tetapi menurut beberapa rumor, dia adalah anak dari seorang Miko. Sering menjadi objek impian nista para lelaki di Academy ini. Apa lagi dengan gaya bicaranya yang sensual membuat fantasi itu semakin liar...
Dan sekedar info tambahan. Menurut Motohama Akeno adalah siswi terakhir yang masih memakai gaya rambut pony tail.
"Jadi apa akhirnya kau memutuskan utuk menjadi budakku?"
Issei berusaha tersenyum seramah mungkin ditengah kekagetannya akan kedatangan sosok ini. Sepintas pandangannya sangat terpana akan rambut semerah darah tersebut. Namun detik itu juga semua diurungkannya, pandangannya berusaha senormal mungkin ketika berhadapan dengan sosok dihadapannya.
Rias Gremory. Merupakan pimpinan dari club penelitian Ilmu gaib, merupakan siswi luar negri yang berasal dari negara Skandinavia... pastinya juga tak pasti karena negara itu juga mencakup tiga negara eropa. (Baca fic DayWalkers untuk lebih jelasnya)
Merupakan siswi paling diincar oleh semua siswa Kuoh Academy selain Akeno... mereka berdua... dua One-sama.
"Tidak Rias-senpai" Issei membalas pertanyaan Rias seraya kembali meminum teh yang disediakan untuknya.
"Uh~" Rias yang mendengar itu hanya bisa cemberut, melipat kedua tangannya pipi gadis itu mengembung tanda tak suka akan jawaban pemuda itu. "Ku kira kau datang karena setuju"
Issei sempat kembali terpana akan ekspresi cemberut Rias, namun semua kembali ditepis. Berusaha tersenyum ramah, pemuda itu kembali menyamankan posisinya saat ini. "Aku datang karena aku menghormatimu yang secara lansung memanggilku"
"Hmm..." Rias kembali hanya berguman lemah mendengar penuturan Issei, kalo boleh ditanya bisa dibilang dia kecewa dengan jawaban itu. Namun apa daya sangat sulit untuk membujuk pemuda itu menjadi salah satu budaknya.
"Baiklah!" Issei kemudian berdiri bangkit dari posisi duduknya dan menatap Rias dan yang lain dengan wajah ramahnya. "Jika tidak ada urusan lagi aku akan pergi. Lagi pula hari ini sudah terlalu sore..."
Issei melangkahkan kakinya melewati Rias dan perlahan menuju pintu ruangan club ini.
"Tunggu!"
-!
Namun langkahnya kembali terhenti ketika dia mendengar sebuah suara dari belakang sana. Menoleh dia mendapati Rias berdiri didepan para budaknya, dan dengan jelas dia melihat iris hijau itu menatapnya dalam... terlalu dalam.
"Kenapa kau tak pernah mau bergabung denganku. Bahkan kau juga menolak ajakan Sona?"
"Itu mudah.." Issei tersenyum dan memilih membuka pintu. Namun sebelum menghilang dalam balik pintu dia kembali menatap semua anggota Club penelitian Ilmu gaib sekali lagi. "Karna aku sudah lebih dahulu menjual jiwa ini kepada Iblis"
0o0o0
Seperti biasa Naruto pulang kemasion Hyudou dengan banyak barang belajaan ditangannya. Berkali-kali dengan gerakan minimum, dia berusaha agar tidak bersenggolan dengan setiap manusia yang berjalan melawan arus dengannya. Bukan apa-apa tapi dia hanya sayang dengan jasnya yang kotor oleh keringat sehabis kerja.
Namun ekspresi kosong dari wajahnya tergantikan dengan raut wajahnya yang tiba-tiba menunjukan kesiagaan. Langkahnya terhenti menyebabkan beberapa manusia secara tidak sengaja menabrak dirinya. Sempat melirik panjang setiap manusia yang menabraknya namun itu percuma karna kewaspadaannya semakin meningkat.
"Tapi seorang Malaikat, sekarang Malaikat jatuh..." guman Naruto menatap trotoar yang tak pernah sepi disore hari. "Entah kenapa Mahluk sejenis kita sekarang hobi muncul disiang bolong begini?"
Kembali, Naruto memilih berjalan. Meski raut wajahnya masih menunjukan kewaspadaan, tetapi dia sebisa mungkin mencoba untuk tenang. Tetap dan terus melangkah Naruto berbelok pada tikungan selanjutnya, menuju sumber aura Malaikat jatuh yang dia rasakan.
"Bukan hanya malam... tetapi siang haripun insiden supranatural tetap menimpa Manusia" ucap Naruto skartis... ketika melihat seorang Malaikat jatuh yang baru saja membunuh seorang Manusia yang dicurigai mempunya sebuah Sacred Gear yang kuat.
"Cih~ apa urusanmu Iblis rendahan?" sepasang iris onyx itu menatap kepala pirang itu tajam. "Namun tak kusangka aku bertemu seorang budak Iblis sepertimu?" sambungnya kemudian ketika melihat apa yang dikenakan Naruto.
"Benar... aku seorang Iblis Pelayan" balas Naruto membenarkan dan kemudian tersenyum dengan mata tertutup.
"Kau kira aku peduli" Malaikat jatuh itu menciptakan sebuah tombak cahaya dari ketiadaan, dengan spontan tombak itu dilempar kearah Naruto yang masih tersenyum.
Tombak itu melesat dengan cepat. Namun akibat memiliki reflek yang bagus tombak itu berhasil dihindari dengan mulus oleh Naruto. Tapi sayang tidak dengan belanjaannya yang tertusuk tombak tersebut.
Masih memandangi belanjaannya yang telah menjadi sampah. Naruto memandangi kantong belanjaan yang terhunus tombak itu, secara perlahan bergetar... tombak itu kehilangan eksistensi dan menghilang... menyisakan sebuah kantong belanja yang berlubang.
"Belanjaanku sudah menjadi sampah" Naruto berguman dengan intonasi datar, tapi tatapan tidak terima jelas terpancar dari kedua matanya. "Apa kau tau bahwa barang-barang ini sudah susah-susah kudapatkan?"
"Hah.. kau kira aku peduli dengan hal semacam itu?" Malaikat itu kembali mengangkat tangannya dan dari ketiadaan tercipta sebuah tombak cahaya. Dan melemparnya dengan cepat ketika dia melihat Iblis tersebut berlari kearahnya.
Tombak itu dilempar, namun puluhan garpu dan pisau makan juga melesat kearahnya. Tubrukan tak dapat dihindari, tetapi bukti banyaknya garpu dan pisau makan yang melesat kearahnya membuat beberapa bagian anggota tubuhnya tertancap oleh peralatan makan itu.
"Cih... Apa kau punya senjata yang lebih baik dari pada ini?" Malaikat jatuh itu memandang rendah Iblis yang ada dihadapannya seraya mencabut sebuah pisau makan yang tertancap di dadanya. 'cih.. lumayan sakit'
"Hedeh~ padahal peralatan itu cukup ampuh untuk membunuh Manusia"
Kembali Naruto menyelipkan garpu dan sendok makan disemua jarinya ketika dia melihat bahwa Malaikat jatuh itu kembali membuat dua tombak cahaya dari ketiadaan. Tidak melempar tetapi Malaikat jatuh itu melesat turun kearahnya, tidak tinggal diam Naruto juga maju melesat kearah Malaikat jatuh itu, dengan segala kemungkinan yang ada.
0o0o0
Issei memandang tepian jendela dan melihat semua yang tertera dalam pandangannya dalam rasio cepat. Semua cepat bahkan terlalu cepat untuk diikuti matanya, sedikit tubuhnya berguncang ketika bus yang ditumpanginya berhenti di halte berikutnya. Dia tidak memilih turun ketika banyak penumpang yang turun, rumahnya masih agak jauh dan mungkin di halte berikutnya dia akan turun.
Penumpang disebelahnya telah turun dari tadi, dan dia tidak terlalu peduli akan hal itu. namun sedikit goncangan kembali dirasakannya ketika seseorang kembali duduk di sebelahnya. Melirik dari ekor matanya dia bisa melihat seseorang, tidak! Seorang gadis yang berpakaian seperti seorang suster gereja. Memakai tudung dan pakaian yang khas.
Masih melirik dia bisa melihat helaian rambut emas milik gadis itu terurai jatuh. Dan pandangannya makin menipit melihat apa yang gadis itu baca... sebuah Al-Kitab.
Namun sekali lagi dia memilih untuk tidak peduli, merogoh sesuatu dari sakunya. Issei kembali mengeluarkan sebuah smartphone dan mulai memasuki dunianya sendiri.
AN : Hai.. para readers semua... akhirnya setelah beberapa saat berbalu saya kembali dengan Fic His past life chapter2. Bagaimana apa kalian puas? Sepertinya saya akan menerima respon kalian lewat review nantinya ya ^_^.
Ok selanjutnya Fic ini mengambil khonsep yang berbeda dari canon, walau nantinya juga akan ada beberapa yang menjurus kesana. Dan fic ini sendiri tidak akan terlalu panjang paling mungkin Cuma sampai 15 chapter... kok bisa tau? Mudah konsep dasar fic ini sendiri sudah selesai.. selama saya vakum beberapa hari.
Dan selanjutnya di fic ini juga Issei sudah menguasai Balance Breaker. Alasannya nanti akan diceritakan di chapter selanjutnya.
Dan untuk masalah Pair saya juga sudah punya dan tentunya mungkin akan seperti keinginan readers sekalian atau mungkin tidak. Saya telah meberikan beberapa tandanya, saya harap readers mengerti siapa pasangan siapa.
Satu lagi gaya penulisan saya, juga mencoba gaya baru... saya harap kalian semua paham.
Dan terimakasih pada kristoper21 yang telah memberikan sebuah nesehat (pelajaran) yang berharga kepada saya. Anda memang salah satu author Favorite saya, dan salah satu panutan saya dalam setiap Fic yang saya jalani. Tetapi saya kali ini berpanutan pada author Galerians..
Oh ya dan untuk yang menanyakan nama nick name game online saya ini dia..
Dragon Nest : AllenWalker (Inquisitor) - Se7enSwordz (Moon Lord / Lunar Knight)
Lost Saga : |GPS|TakeshiMura
Point Blank : AllenwalkerAFF86
Perfec World : -Yami-
Saya sudah mencoba untuk meng-add beberapa readers yang sudah mencantumkan nick namenya, tapi kenapa selalu gagal.
Ok segitu saja... saya harap nanti ada yang ngeriview... ^_^.
Drak Yagami out
