Chapter 1
Eastern Siberia
Hari itu, salju turun dengan derasnya menutupi segala sesuatu yang ada di bawahnya. Entah mengapa sinar mentari enggan untuk menari di hari itu. Asap perapian menghiasi langit siang itu. Seraya berkata, "Badai akan tiba". Di tengah keheningan siang itu, nampak dua orang serdadu membelah salju yang menutupi jalan menuju ke sebuah rumah sederhana dekat dengan gunung es abadi. Sesampainya di rumah tersebut, salah seorang dari serdadu tersebut mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian, pintu rumah tersebut terbuka dan keluarlah seorang wanita berparas cantik dengan rambut pirangnya yang diurai.
"Kalian siapa? Ada perlu apa kalian datang kemari?"
Salah seorang serdadu yang berbadan tinggi menjawab, "Kami adalah suruhan dari Yunani. Kami datang kemari untuk membawa putri anda ke sana".
"Untuk urusan apa kalian membawa putriku?"
"Kami tidak mengetahuinya secara detail. Namun, itu adalah titah dari yang mulia kami".
"Aku tidak akan membiarkan kalian membawa putriku!"
"Walaupun anda tidak mengijinkannya, kami akan tetap membawanya", tukas serdadu yang lain dengan gusar.
Mendengar itu, wanita tersebut menutup pintu rumah. Namun, dengan sigap, serdadu yang berbadan tinggi mengganjal pintu tersebut dengan kakinya.
"Biarkan kami masuk", serunya.
"Tidak akan!"
"Oka-san?"
Dari ruang tidur, muncullah seorang gadis kecil berambut merah ruby dengan mata berwarna ungu sendu.
"Rea! Jangan keluar dari kamarmu! Cepat masuk!"
"Tapi, oka-san—"
Pintu rumah terjerembab terbuka dengan mudahnya akibat konsentrasi sang ibu teralihkan oleh kedatangan putrinya. Kedua serdadu tersebut merangsek masuk ke dalam rumah dan mendapati sang ibu sedang memeluk putri kesayangannya tersebut. Melihat putrid dari sang ibu tersebut, kedua serdadu tersebut berdiri kaku tanpa emosi. Layaknya mereka sedang melihat seorang Medusa.
"Oka-san, siapa mereka?"
Sang ibu hanya dapat menatap putrinya tanpa menjawab sepatah kata pun. Setelah tersadar dari lamunannya, salah seorang serdadu memberanikan diri untuk membuka mulutnya.
"Kami adalah utusan dari Yunani untuk membawamu ke sana".
"Membawaku?", tanya Rea yang kemudian memperhatikan kedua serdadu tersebut dengan seksama. Dilihatnya perisai dan tombak yang disandang oleh kedua serdadu tersebut. Terlihat sebuah simbol berwarna emas mengkilat.
"Sanctuary? Kalian akan membawaku ke sana kah?"
Mendengar ucapan tersebut, sontak sang ibu dan kedua serdadu tersebut terkejut. Dan kemudian, salah seorang serdadu mengangguk sebagai jawabannya. Mengetahui hal itu, Rea menatap ibunya dengan mata ungu sendunya dan berkata," Oka-san, oka-san tahu siapa aku bukan? Kenapa oka-san tidak membiarkan aku pergi ke sana?"
Wanita tersebut memandang Rea dengan sedih. Ia telah mengetahui bahwa suatu saat nanti, ia akan berpisah dengan putrinya dan bahkan tidak akan bertemu lagi. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipinya. Dengan berat hati, ia berkata,"Rea, ibu tidak melarangmu, nak. Hanya—"
"Oka-san, oka-san tidak perlu mengkhawatirkanku. Bila saatnya tiba, kita pasti akan bertemu lagi, oka-san".
"Rea…"
Dipeluknya putri kesayangannya itu untuk terakhir kalinya. Kemudian, ia menatap kedua serdadu dan berkata," Bawalah putriku ke sana. Tapi, dapatkah kalian berjanji padaku bahwa ia akan baik-baik saja di sana?"
"Maaf, tapi kami tidak bisa menjanjikan itu. Karena, kami tidak mengerti apa yang akan dilakukan yang mulia kepadanya nanti."
Wanita tersebut menarik napas panjang seraya berucap,"Baiklah kalau begitu".
Ia berjongkok dan menatap putrinya untuk terakhir kalinya. Ia memeluk Rea dan kemudian memberikan sebuah kalung kristal dengan liontin angsa dan salib. Dikenakannya pada Rea dan mengecup kening Rea.
"Rea, bila suatu saat nanti kamu bertemu seseorang dengan liontin yang sama dengan milikmu, itu berarti, dia adalah saudaramu".
Rea menatap bingung ibunya dan kemudian menjawab,"Iya, oka-san".
Salju terbelah kembali bersama dengan angin dingin yang menusuk tulang. Rea menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya, menatap ibunya dengan sedih. Dalam hati, ia hanya bisa berharap bahwa ia dapat bertemu dengan ibunya suatu saat nanti.
"Maafkan aku, oka-san. Tapi inilah takdirku."
