Bunuh Diri

Saat Jimin berpikir bahwa mati adalah pilihan terakhirnya, Taehyung membalikkan kenyataan dan memorak-porandakan pikirannya. Membuat Jimin berubah pikiran, bahwa akhir dari hari adalah bukan mati, tapi malam dengan Jimin berada di bawahnya. A BTS Fanfiction. VMIN. Kim Taehyung x Park Jimin. TWO-SHOT.

.

.

BANGTANSONYEONDAN belong to BIGHIT ENTERTAINMENT

WARNING!

Typo(s), Mature Content (language, alcohol, sex, etc), AU, OOC, and etc.

A big warning : Daddy!kink

Step out if you don't like it!

PAIR

Kim Taehyung x Park Jimin

.

.

PART II

.

ENJOY!

.

.

"Pastikan kau menyapa orang tuamu, kay?"

Jimin hanya memutar bola matanya saat Taehyung kini benar-benar mengatur apa yang harus ia lakukan. Taehyung berhasil membujuk Jimin untuk sekolah, dan parahnya membawa Jimin ke rumahnya untuk mengambil seragam. Padahal pria itu bilang awalnya akan ia saja yang mengambilkannya. Tapi sekarang Jimin duduk di samping Taehyung menuju ke rumahnya setelah membuat perjanjian asal dengan Taehyung tadi pagi bahwa ia akan menuruti perkataan Taehyung atau ia pergi dari apartemennya.

Awalnya Jimin hampir berhasil meyakinkan Taehyung untuk tidak berangkat ke sekolah, berdalih jika Taehyung mengantarnya ke rumah lalu ke sekolah akan membuatnya terlambat. Tapi Taehyung tentu sajalah lebih pintar, bilang bahwa ia adalah direktur kantornya jadi ia bebas ingin terlambat atau tidak.

Mereka sampai setelah sepuluh menit berada dalam hening mobil, hanya mendengar suara deru pendingin dan lalu lintas jalan di pagi hari yang ramai.

"Turun, aku setelahmu."

Jimin menatap Taehyung keki dan dengan tidak pelan membuka mobil Taehyung yang mahal itu, berjalan gusar ke rumahnya di lantai dua gedung tua itu. Taehyung mengikuti sambil terkekeh kecil, memerhatikan Jimin yang sepertinya sangat kesal dengan pilihannya.

"Aku pulang," Jimin masuk ke rumahnya, mendapati sang ibu tengah menonton televisi model lama dan ayahnya sedang bersiap untuk berangkat bekerja. Entah kerja apa yang ia jalani saat ini, Jimin tak pernah mau tahu.

"Ya! Park Jimin, kau masih berani pulang? Kukira kau akan hidup di jalanan selamanya."

Jimin menghembus napasnya panjang, ibunya sudah mulai kumat dan ia benar-benar tak ingin bicara dengannya. Terlebih dengan perintah Taehyung untuk menyapa kedua orang tuanya. Jimin lalu tersenyum dan membungkuk ke arah keduanya,dan senyum yang dipaksakan.

"Aku hanya ingin mengambil seragam dan pakaianku lalu pergi lagi, puas—AW!"

Jimin menoleh dan mendapati Taehyung sudah berdiri di sampingnya sebeum tadi pria itu mendepak belakang kepalanya dengan tidak pelan. Jimin menatap nyalang Taehyung sementara Taehyung bergumam kecil seperti jaga bicaramu bocah, lalu menatap kedua orangtua Jimin dengan senyuman yang sejuk.

"Oh, Taehyung?" kata Tuan Park, "Kau mengantar Jimin? Astaga, anak ini makin merepotkanmu saja, maafkan aku."

Taehyung menggeleng pelan, "Tidak, sama sekali tidak. Aku mengantar Jimin ke sini untuk mengambil pakaiannya."

Jimin menatap Taehyung dan memutar matanya, lalu melenggang masuk ke kamarnya tanpa permisi untuk segera mengemasi pakaiannya seperti apa yang Taehyung katakan. Darah Taehyung hampir naik saat melihat Jimin benar-benar tak tahu sopan santun, tapi mungkin ia akan memukul kepala anak itu lebih keras nanti.

"Begini Tuan Park" Taehyung memecah hening, dengan otomatis kedua suami-istri itu menoleh ke arah Taehyung, "aku ingin meminta izin kembali. Bolehkah Jimin tinggal di tempatku... yah, untuk waktu yang agak lama?"

"Apakah Jimin yang meminta padamu?" tanya Tuan Park, dan Taehyung dengan refleks menggeleng, tangannya pun ia gerakkan untuk menunjukkan isyarat ketidaksetujuan. "Tidak, tidak. Aku yang memintanya."

Kedua pasangan suami istri itu seolah bingung dengan apa yang Taehyung katakan. Kenapa ia tiba-tiba meminta Jimin untuk tinggal di tempatnya? Padahal sebelum-sebelumnya Taehyung bahkan tak pernah membahas Jimin jika mereka sedang bertemu.

"Taehyung, kau tidak perlu membawa Jimin. Jika kau ingin membantu, kami hanya butuh finansial untuk kebutuhan Jimin."

Taehyung mengangkat alisnya, Nyonya Park benar-benar bicara tanpa kata tersirat jika mereka memang kekurangan finansial—walaupun Taehyung sudah sangat hapal itu—dan seolah tak setuju untuk Jimin tinggal di tempatnya.

"Mungkin... kita bisa bicarakan ini nanti?" tanya Tuan Park, "Taehyung-ah, bisa bertemu nanti malam? Di tempat soju yang biasa,"

"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti."

Taehyung akhirnya memilih untuk berpamitan kepada keduanya dan melangkah sedikit cepat ke mobilnya. Ia menunggu Jimin di dalam mobil, berpikir kenapa anak itu memakan waktu yang lama untuk mengemasi pakaian. Ia sesekali melirik ke arah jam tangannya, bergantian untuk melirik ke luar jendela mobilnya.

"Maaf lama,"

Taehyung terperenjat saat Jimin tiba-tiba membuka pintu samping mobilnya, menaruh sebuah tas di jok belakang dan satu lagi ia taruh di pangkuannya. Dengan cepat ia mengenakan sabuk pengamannya dan menatap ke jendela di sampingnya, seolah tak ingin menatap Taehyung.

Suara deru mobil terdengar dan tidak dengan suara mereka. Jimin masih diam menatap keluar jendela, menopang dagu dengan tangan yang bersandar di sisi jendela. Taehyung pun fokus dengan setir di tangannya dan lalu lintas pagi hari yang padat.

"Kau marah karena aku membawamu ke rumah?" Taehyung bertanya, menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah warna merah.

Jimin masih diam, bahkan enggan menoleh ke arah Taehyung atau lirikan mata pun tak ada. Taehyung mengkalkulasikan bahwa Jimin memang iya marahnya. Mungkin sebaiknya Taehyung saja yang mengambil pakaian anak itu dan membiarkan Jimin tinggal di rumahnya.

"Baiklah kita tidak akan ke rumahmu lagi, biar aku saja yang menghadap mereka."

Hanya sebuah gumaman kecil yang keluar dari bibir Jimin dan Taehyung hanya bisa memutar bola matanya. Jimin benar-benar sebuah definisi dari anak remaja yang kurang didikan, dan Taehyung sangat mengerti kenapa demikian. Ia benar-benar mengerti apa yang terjadi pada Jimin, dan benar-benar ingin membantunya juga.

Mereka sampai setelah mendapat kemacetan di satu titik, dan beruntung Jimin benar-benar tepat waktu sampaidi gerbang sekolah sebelum gerbang benar-benar ditutup. Di dekat gerbang sudah ada Jungkook yang berdiri dengan risau menunggu kedatangan sobatnya itu.

"Kalau ada sesuatu telepon aku," kata Taehyung.

"You're not my babysitter astaga," Jimin memutar bola matanya jengkel, "don't you dare to fucking care about my personal life."

Jimin dengan keras membanting pintu mobil Taehyung dan Taehyung yang tadinya sudah siap akan menceramahi Jimin terhenti seketika. Taehyung benar-benar harus sedikit keras kepada Jimin agar membuatnya sedikit saja lurus dan benar.

"Ya, kau berangkat bersama siapa?"

Jungkook langsung menghampiri Jimin yang sudah keluar dari mobil, seolah takjub bahwa Jimin baru saja turun dari sebuah mobil mewah. Biasanya anak itu akan berlari mengejar pintu gerbang, dengan rambut berantakan dan keringat di sekujur pelipisnya. Maka dari itu Jungkook selalu stand by di gerbang kalau-kalau Jimin terlambat dan ia bisa memohon penjaga sekolah untuk menahan gerbangnya sebentar.

"Berisik," Jimin melangkah masuk ke dalam gerbang, tak menghiraukan Jungkook yang mempercepat langkah agar sejajar dengannya.

"Hei serius," Jungkook kini berhasil berjalan tepat di samping Jimin, memandang sahabatnya itu dengan raut penuh pertanyaan, "kau tahu? Sampai rasanya Pak Satpam juga kaget melihatmu keluar dari mercedes dengan gagah begitu."

Jimin mendecak kesal dan berhenti mendadak membuat Jungkook yang refleksnya sudah bagus itu ikut berhenti dan menodong Jimin dengan tatapan seriusnya.

"Jangan sekarang, okay? Aku ingin tidur di kelas Yura Sonsaengnim dan menjernihkan pikiranku, sampai jumpa."

"Ya-ya! Park Jimin brengsek!"

Jimin berjalan secepat kilat sampai suara teriakan Jungkook itu tak terdengar lagi. Ia masih belum siap untuk pertanyaan beruntun Jungkook nantinya. Anak itu kalau sudah penasaran benar-benar tidak bisa direm mulutnya dan akan selalu mengganggunya. Semoga ia bisa tidur dengan nyenyak di kelas sejarah nanti.

.

.

"Jadi dia yang menolongmu waktu itu?"

Jimin mengangguk-angguk, menikmati makan siangnya di kafetaria bersama Jungkook di sampingnya dan ada Mingyu juga Wonwoo di hadapannya. Jungkook benar-benar memohon untuk Jimin bercerita dan Jimin tak sanggup berkata tidak saat Jungkook berjanji akan menraktirnya di McDonald sore nanti.

"Dan kalian tinggal bersama sekarang, begitu?" tanya Mingyu yang mulutnya penuh makanan lalu mendapat sentilan kecil di dahinya oleh Wonwoo yang mengomel untuk menelan dulu makanannya.

Jimin mengangkat kedua bahunya,dan semua berdecak kecewa dengan jawaban yang sangat tidak memuaskan dari Jimin.

"Jim, sudah kubilang kan, dia itu pedofil yang mengincarmu—Ups, pardon," Jungkook hanya bisa melebarkan senyumnya dan memberi tanda dua jari perdamaian ke arahnya.

"Dia teman ayahku, ya begitulah." Jimin ingin melanjutkan makannya namun tatapan serius dari ketiga rekannya itu membuat kedua sumpitnya tersimpan kembali di atas nampan. "Apa sih yang kalian harapkan? Dia teman ayahku, dia ingin menolongku yang terlalu sering bermasalah di rumah. Hanya itu."

"Dia lebih terlihat seperti your sugar daddy dibanding seseorang yang ingin menolongmu Jim,"

Pernyataan dari Wonwo sukses membuat Jimin tersedak lauknya dan dengan tergesa meminum air yang beruntungnya sudah ia ambil sebelum mengambil nampan tadi. Bayangan saat ia dengan jahil memanggil Taehyung dengan Daddy kemarin hari.

"Kan, dia memang sugar daddy-mu," kata Wonwoo berbahagia dengan pernyataannya yang menurutnya sepihak benar. "Jim, itu bukan ide yang buruk. Kau bisa mengambil uangnya lalu kemudian pergi. Selesai."

"Kau, tak beda jauh dari ibuku bangsat," Jimin menyeka sudut bibirnya, "tapi yeah aku hanya ingin bermain-main saja dengannya. Mungkin sebulan lagi dia sudah menendangku keluar karena tidak tahan."

Ya, Jimin memang hanya ingin bermain-main saja dengan Taehyung. Mendapat tawaran tinggal dengan konsekuensi harus menuruti seluruh perkataan Taehyung hanyalah omong kosong, ia benar-benar tak akan mengikuti kemauan pria itu.

Mungkin bermain-main sedikit saja akan menyenangkan?

.

.

Jimin benar-benar gagal mendapat McDonald-nya saat Taehyung sudah berada di depan gerbang bersandar santai di mobil mercedes-nya sambil memainkan ponselnya. Jungkook bahkan bilang untuk bersenang-senang dan ambil McDonald-nya lain kali, begitu pula Mingyu dan Wonwoo yang mendadak sama menyebalkannya seperti Jungkook—atau mereka kenyataannya memang sudah menyebalkan sedari dulu.

"Kenapa harus menjemputku sih? Aku bisa pulang sendiri sialan," Jimin sudah berdiri tepat di hadapan Taehyung dan pria itu dengan segera menyimpan ponselnya dan berdiri tegak menghadap Jimin.

"Wae? Sudah kubilang untuk menuruti perkataanku bukan? Jika aku ingin menjemputmu ya kau tidak bisa menolak," Taehyung tersenyum dan mengacak rambut Jimin kasar dan mendapat desahan protes dari sang empu. "Naik cepat, kita akan pergi ke suatu tempat."

"Fuck aku jadi tak dapat McDonald dari Jungkook," Jimin dengan malas membuka pintu mobil bersamaan dengan Taehyung di tempat kemudi, dan Taehyung sontak tertawa mendengarnya.

"Temanmu?" Taehyung menyalakan mesin mobilnya dan menunggu Jimin yang masih sibuk dengan sabuk pengamannya sambil mengangguk, "Teman yang baik. Akan kubelikan nanti okay jangan ngambek?"

"Siapa yang ngambek bangsat kau sangat berlebihan," Jimin selesai dengan urusan sabuk pengamannya dan menoleh untuk menatap marah pada Taehyung.

"Okay, okay astaga galak sekali," Taehyung menjalankan mobilnya perlahan, "dan oh, peraturan pertama, jangan cursing saat denganku sayang."

Jimin menohok kaget saat Taehyung memanggilnya sayang dan dengan nada paling menggelikan sedunia, ia melirik Taehyung yang hanya terkekeh kecil akibat reaksi Jimin yang sesuai dengan perkiraannya.

"Terserah, kita mau kemana?" Jimin bertanya, tangannya disilangkan di depan dada dan ia menatap Taehyung dengan jengkel.

"Membelikanmu sesuatu?" Taehyung balik bertanya.

"Oh," Jimin tersenyum dan menatap Taehyung, "Want to act as my sugar daddy? How sweet,"

"Bukan astaga," Taehyung untuk kesekian kalinya terkejut saat Jimin lagi-lagi membahas masalah soal ke-daddy -an ini dan Taehyung akan selalu tak tahu harus membalas apa jika Jimin sudah mengoceh demikian, "hanya ingin astaga, apakah aku tidak boleh?"

"Tidak, tidak." Jimin menggeleng cepat, "Alasanmu membelikanku sesuatu hanya ada dua, pertama kau kasihan padaku karena aku atau yeah, what will you buy for me, Daddy?"

"Hmm?" Taehyung bergumam rendah, genggaman tangan di setirnya mengerat dan Taehyung hanya ingin membungkam Jimin saat itu juga dengan ciumannya kalau bisa. Anak ini, pintar sekali mempermainkannya. "Stuffies?"

"Haha, kau benar-benar sangat menyukai ini bukan?" Jimin terkekeh saat Taehyung mulai menghiraukan candaannya dan membalas dengan baik, "dan hmm... bisa kau belikan aku sesuatu?"

.

Jimin berjalan riang saat Taehyung mengabulkan permintaannya. Ia dibawa ke sebuah toko buku paling besar di Seoul setelah makan siang di McDonald—Taehyung benar-benar tidak bercanda soal mengganti gagalnya ia mendapat McBurger dari Jungkook—dan membeli beberapa pakaian untuknya.

Taehyung berjalan di belakang Jimin tersenyum memandanginya, mendapati betapa bahagianya Jimin hanya untuk pergi ke sebuah toko buku. Anak itu berjalan cepat ke rak penuhkomik dan mengambil beberapa volume terbaru dari animasi One Piece.

"Senang sekali?"

Jimin hanya mengangkat kedua alisnya dan melihat komik-komik lain yang masih terbungkus rapat dengan plastik. "Aku hampir ketinggalan lima volume, kau tahu? Pendapatanku akhir-akhir ini berkurang banyak."

"Kau memang bekerja?" Taehyung bertanya serius, sementara Jimin menggeleng dengan santai dan masih asyik dalam dunia animasinya tersebut. "Lalu?"

"Hanya mendapatkan uang dari beberapa adik kelas yang baik dan manis?" Jimin tersenyum lebar sebelum membawa komik-komik tersebut ke kasir dan menyuruh Taehyung untuk cepat namun kerah seragamnya terlebih dulu ditarik oleh Taehyung. "Ya—"

"Wah, aku tak menyangka kau benar-benar melakukan hal itu," Taehyung masih menarik belakang kerah Jimin cukup tinggi sampai terdengar suara tercekik kecil dari Jimin yang Taehyung yakin hanya buatan semata, "jangan lakukan itu lagi okay? Jika kau butuh uang bilang padaku, dan jangan sekali-kali melakukan itu lagi, janji?"

"Janji astaga—uhuk lepaskan aku sialan aku benar-benar tercekik!" Jimin mengangkat kelingkingnya memperlihatkan bahwa ia berjanji untuk tidak melakukannya—meskipun itu hanya bullshit semata.

Taehyung melepaskan cengkramannya di kerah Jimin dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Nah, aku tak akan main-main jika kau ketahuan melakukannya, ingat konsekuensi kita?"

"Iya, iya bawel. Tendang aku kapan saja kau mau dari apartemen sialanmu itu." Jimin mendengus sebal dan Taehyung malah tertawa karenanya meski Jimin bingung di mana bagian yang lucunya. "Oh, aku ingin membeli satu lagi. Sebentar."

Jimin dengan asal memberikan lima komiknya ke tangan Taehyung dan berjalan menuju ke rak yang berjudul besar ilmu pengetahuan alam. Ia mengambil satu buah buku yang sangat tebal dengan cover berwarna putih dengan ornamen-ornamen atom berwarna-warni. Sangat kimia sekali.

"Kau... suka kimia?" tanya Taehyung heran dengan buku pilihan Jimin yang merupakan buku yang paling sering ia abaikan pada jaman sekolah dulu.

"Yups," Jimin membuka-buka buku tersebut, sebuah buku rangkuman pelajaran dari kelas satu sampai tiga untuk ujian masuk universitas, "aku suka kimia sejak sekolah menengah pertamaku tapi ibuku selalu membuang bukuku dan bilang untuk belajar ekonomi dan menjadi pebisnis."

"Ibumu... sedikit aneh astaga," Taehyung ikut mengintip halaman yang Jimin baca dan taehyung merasa kacamatanya mendadak buram hanya melihat rumus-rumus aneh yang membuat kepalanya pening, "aku baru lihat seorang ibu yang melarang anaknya belajar."

"Ya, dan sejak itu aku benar-benar melepas seluruh keinginanku untuk belajar," Jimin menutup kembali bukunya dan menyimpannya kembali ke rak, "ia hanya ingin uang, dan aku meyakinkan bahwa uang tidak hanya didapat lewat bisnis. Aku juga ingin jadi ilmuan, dan yeah dia menolaknya mentah-mentah karena itu pekerjaan memakan waktu dengan gaji tak sepadan."

"Untuk seorang brandal sepertimu, cita-citamu lumayan." Taehyung tersenyum, "Tidak akan dibeli bukunya?"

Jimin menatap Taehyung, "Ini edisi satu... boleh aku beli sampai edisi empat?" Taehyung menaikkan sebelah alisnya, membayangkan empat buku setebal kamus bahasa inggris-korea dan sebaliknya dibaca oleh Jimin. "Yah, ini buku untuk ujian masuk universitas, dan aku ujian tahun depan tapi yeah boleh kan?"

"Silakan, sudah kubilang kau bebas mau membali apa pun yang kau mau, baby boy." Taehyung dengan bercanda memanggil Jimin demikian dan membuat anak itu tersenyum dengan lebar.

"Thank you Daddy!"

Dan Taehyung tak sanggup bergerak maupun berkata saat Jimin dengan kasual mengecup pipinya dan berjalan menuju rak yang menyediakan edisi selanjutnya dari buku tersebut. Taehyung benar-benar tak mati rasa bukan? Jimin baru saja mengecup pipinya, catat, mengecup pipinya.

Jimin terkekeh saat menoleh dan mendapati Taehyung yang tak bergerak dari posisinya. Wah, jurus ini benar-benar berhasil membuat Taehyung tak berdaya. Mungkin akan Jimin lakukan lain kali?

.

.

Satu minggu, tepat satu minggu Jimin tinggal di apartemen Taehyung dan mereka hampir setiap hari bertengkar. Jimin berkali-kali kedapatan merokok di ruang tengah Taehyung dan ia protes bahwa itu akan merusak kesehatan dan soal perjanjian mereka, dan Jimin tentu saja akan mengambil alasan-alasan masuk akal yang membuat Taehyung bungkam namun tetap saja rokoknya yang ia beli dengan uang sendiri—sebenarnya uang Jungkook tapi anggap saja itu uang Jimin juga—berakhir tragis di tempat sampah.

Jimin juga tak suka jika Taehyung terus menerus bertanya soal kehidupan sekolahnya dan ingin rasanya Jimin menjejal mulut Taehyung dengan buku kimia barunya. Ia sudah membaca seperempat halaman dari edisi satu omong-omong. Ia terus bertanya bagaimana menu makan siangnya, apakah ada guru yang menyebalkan, atau apakah Jungkook membuatnya kesal dan hal-hal lainnya yang membuat Jimin jengkel. Taehyung bilang Jimin harus terbuka jika ingin punya komunikasi yang baik dengan orang tua dan Jimin hanya menelan mentah-mentah ungkapan itu tanpa mencernanya sama sekali.

Taehyung masih cukup sabar menghadapi Jimin dan masih tahan untuk tidak menganiaya anak itu dengan kekerasan, masih sabar saat anak mengambil soju dari dalam kulkasnya dan bilang hanya minum satu teguk padahal satu botol menghilang entah kemana. Taehyung juga masih sangat sabar saat Jimin lagi-lagi menggodanya, memanggilnya daddy dengan nada manja agar Taehyung mengantarnya ke rumah Jungkook meski Taehyung sedang terburu ke tempat rapat, mengelus pahanya terlampau tidak benar saat Taehyung sedang duduk di ruang tengah dan anak itu hanya menonton televisi dengan wajah paling inosen sedunia. Taehyung masih bisa sabar.

Tapi untuk yang kali ini, Taehyung tak bisa sabar.

Taehyung yang seperti biasa menjemput Jimin sepulang sekolah, secara tak sengaja menemukan anak itu berada dalam gang sempit bersama Jungkook dan dua lainnya ia tidak kenal, dan juga dua bocah yang berjongkok ketakutan di bawah mereka.

"Cepat astaga, kalian tak akan memberikannya kepada kami?" Jungkook menendang bahu salah satu dari kedua anak itu yang hampir menangis ketakutan dan kencing di celana mereka sendiri.

"Kalian tuli? Atau bagaimana—ya! Siapa yang menarik... Taehyung?" Jimin menoleh saat seseorang dengan kasar menarik kerah belakangnya, deja vu sih tapi ia tetap saja kaget saat Taehyung sudah berada di belakangnya dengan raut sulit di artikan dan jas yang sudah terlepas menyisakan kemejanya saja.

"Maaf anak-anak, kupinjam anak brengsek ini dulu, oke?" Taehyung tersenyum namun Jungkook, Mingyu dan juga Wonwoo bergidig seram di tempat mendapati senyum itu bukan senyum bahagia, "Dan kalian berdua, pulanglah, orang tua kalian pasti khawatir."

"Ya! Jangan dengarkan perkataan dia—fuck!"

Jimin merintih saat Taehyung menjambak rambutnya keras-keras dan membuat ia mendongak menatapnya, dan kedua anak malang itu berlari saat Taehyung dengan dagunya memberi gestur untuk pergi.

"Kalian juga pulang, aku akan mengurus anak ini dulu baru kalian, mengerti?"

Mingyu, Wonwoo dan Jungkook mengangguk kecil dan berjalan cepat meninggalkan Jimin yang masih berada dalam kuasa tangan Taehyung di rambutnya. Jimin bahkan merasa bahwa rambutnya sebentar lagi akan copot semua karena Taehyung benar-benar menariknya dengan keras.

"Ya, lepaskan aku brengsek!" Jimin menggenggam lengan Taehyung dan meronta namun hal itu membuat kepalanya semakin perih, dan Taehyung benar-benar lebih kuat darinya.

"Kau benar-benar ya," ungkap Taehyung, melepaskan cengkramannya di rambut Jimin dan beralih menarik tangan anak itu dan membawanya ke mobilnya, membiarkan anak itu mengaduh berisik sampai mereka masuk ke dalam mobil dan melewati perjalanan dengan hening.

Jimin bernapas dengan marah, bertanya-tanya bagaimana Taehyung bisa menemukannya dan membuatnya malu di depan korbannya juga ketiga temannya. Dan Taehyung pun sama, ia menyetir dengan tidak tenang, bahkan speedometer-nya menunjuk ke angka delapan puluh lebih yang mana melebihi standar keselamatan jalan raya. Dan itu cukup membuat Jimin sadar bahwa Taehyung benar-benar sedang marah.

Bahkan saat mereka sampai dan Taehyung mencengkramnya keras dan membawanya masuk ke dalam gedung, Jimin tak mampu bergerak. Tubuh Jimin yan tak jauh lebih besar itu terseret setelah mereka keluar dari elevator. Jimin berkali-kali mengumpat dan menyuruh Taehyung untuk melepaskan genggamannya di lengannya namun Taehyung sama sekali tak menggubris malah mempererat cengkramannya yang membuat Jimin meringis kesakitan.

"Hei anak nakal,"

Jimin diam, namun masih berani menatap Taehyung nyalang. Mereka sudah ada di dalam apartemen Taehyung—atau lebih tepatnya di dalam kamar Taehyung—dengan Taehyung yang berdiri tepat di hadapan Jimin dengan tatapan nyalang mengintimidasinya.

"Sudah kubilang untuk berperilaku baik," Taehyung menyentuh pipi Jimin, lembut sekali sampai rasanya bulu di wajah Jimin meremang karenanya, "dan apa yang kau lakukan hari ini hmm?"

Jimin masih diam, ia menunduk dan tak ingin menatap Taehyung. Janjinya dengan Taehyung hanyalah omong kosong baginya, ia tak benar-benar akan menurutui semua perintah Taehyung hanya demi imbalan tinggal di tempatnya. Tapi jika melihat Taehyung semarah ini dengan ekspresi yang membuatnya merinding juga suara yang jauh lebih rendah dari biasanya, ia tak tahu harus berbuat apa.

"Kau sendiri yang bilang padaku, akan menjadi anak baik dan menghentikan semuanya. Aku paling benci orang yang suka melanggar janji. Aku benar-benar ingin marah padamu Jimin-ah."

Taehyung meraih dagu Jimin, lalu mencengkramnya dan membuat anak itu otomatis menatap ke arahnya dengan raut berani yang ia buat-buat. Alis Jimin saling bertaut, merasakan cengkraman di dagunya yang tidak pelan juga tatapan Taehyung yang membelenggu matanya.

"Aku tahu kau mungkin hanya menganggap semua ini main-main. Tapi aku sama sekali tidak. Kau tidak berhak mempermainkan perasaanku seperti ini Jimin, kau benar-benar membuatku sakit hati."

Taehyung bicara dengan nada sedih yang ia buat-buat, membuat ekspresi sedih yang membuat Jimin mendecih kesal karenanya.

"Ya aku hanya main-main brengsek, aku hanya ingin bermain-main saja denganmu, puas?" Jimin mengenggam lengan Taehyung agar ia bisa lepas dari cengkramannya namun nyatanya Taehyung jauh lebih kuat daripadanya.

"Watch out your language baby boy, you make my heart hurts." Jimin meringis nyeri saat Taehyung mempererat cengkraman tangan besarnya di dagunya. Taehyung tersenyum namun entah kenapa semua itu membuat mental Jimin seketika menciut.

"Kau tidak seharusnya bermain-main denganku," Taehyung melepaskan cengkramannya, lalu mendekatkan bibirnya untuk menjilat piercing helix-nya sebelum berbisik di telinga Jimin, "kau salah orang untuk diajak bermain-main, sayang."

Jimin menggeram saat Taehyung menjilat telinganya terlampau seduktif. Ini tidak benar. Ini sungguh tidak benar. Tapi gerakan lidah jahanam itu yang turun ke bagian lehernya benar-benar membuatnya beku di tempat. Ia bahkan tak berani untuk sekadar membuka mata dan menyuruh Taehyung untuk berhenti.

"Kau bajingan, brengsek—" Jimin menghentikan umpatannya saat Taehyung menggigit bagian lehernya kencang, lalu membasahinya dengan liurnya sebelum bangkit dan menatap Jimin.

"I don't want my baby boy to cursing,"

Knock out, Jimin kehilangan akal sehatnya saat Taehyung memanggilnya demikian dengan suara baritone rendah yang seksi dan tatapannya yang membuatnya gila. Jimin benar-benar sudah gila sekarang.

Taehyung hanya sekali memanggilnya demikian dan itu sudah cukup untuk membuatnya merinding. Dan kali ini, entah rasanya menjadi berlipat-lipat mendebarkan jantungnya, meruntuhkan seluruh pertahanannya yang ia buat untuk Taehyung dan melumerkan akal sehatnya. Ia benar-benar bertekuk lutut dan tak mampu hanya untuk menegakkan tubuhnya dan menatap mata Taehyung.

Dengan pelan Taehyung membawa tubuh Jimin ke dekat ranjang dan menghempasnya dengan tidak pelan. Taehyung tersenyum puas saat Jimin benar-benar tak melawan dan hanya diam tak berkutik terlentang di atas ranjangnya. Taehyung benar-benar dibuat frustasi hanya melihat Jimin begini. Ia bahkan harus benar-benar menahan diri untuk tidak mencium Jimin sedari dulu namun sekarang ia tak peduli.

Gerakan Taehyung lambat tapi sukses membuat jantung Jimin berontak ingin keluar dari rusuknya, ia ingin menendang Taehyung dan memukulinya namun entah kenapa ia tak bisa bergerak. Sel-sel di otaknya serasa mati saat menatap Taehyung yang kini sudah berada di atasnya; menaunginya, menancapkan dominasi di seluruh tubuhnya yang hampir bergetar.

"Aku benar-benar tak akan menahan diri untuk sekarang Jimin," Taehyung mengecup rahang Jimin merambat sampai ke ujung dagunya, lalu mengecupi rahang lainnya dan untuk kedua kalinya menjilat telinganya, "kau benar-benar bocah brengsek kurang ajar."

Jimin terkesiap saat tiba-tiba Taehyung menciumnya. Awalnya hanya bibir yang saling menempel canggung, namun Taehyung dengan cepat membuat keadaan lebih dekat dan lebih panas. Jimin merasakan bibir tipis Taehyung yang dengan handal memberikan lumatan, isapan, bahkan gigitan di bibirnya, membuatnya semakin tak berkutik dan diam tanpa perlawanan.

Jumlah oksigen seakan menipis saat keduanya melepas ciuman dan saling berlomba untuk menarik napas, terengah dengan mulut terkuak. Taehyung tersenyum puas saat melihat Jimin sebegini kacaunya hanya karena ciumannya. Jika tahu cara menjinakkan seorang Park Jimin adalah seperti ini, ia akan melakukannya sejak awal.

Jari-jari Taehyung bergerak untuk melepas kancing seragam Jimin satu persatu, memperlihatkan undershirt putihnya yang sudah kusam. Jimin hanya tak sanggup untuk bernapas saat Taehyung merobek undershirt itu dengan begitu mudah hingga bagian depannya terbelah dua. Menampilkan bagian atas tubuhnya yang cukup terbentuk untuk ukuran anak sekolahan.

Mata Jimin membulat total saat Taehyung dengan cepat menarik lepas dasi hitamnya, memanjangkannya lalu menatap ke arah Jimin. Jimin sudah pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya namun tubuhnya tiba-tiba membeku seolah ia menantikan Taehyung benar-benar melakukannya.

"Tangan di atas kepala baby," Taehyung memerintah, dan dengan patuh tanpa perlawanan Jimin mengangkat tangannya dengan gemetar dan matanya yang terpaku mutlak di mata Taehyung, "That's my good boy."

Pujian itu entah kenapa membuat Jimin menegang, mengeratkan urat nadi di lehernya dan merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Ide awal memanggil daddy sendiri hanyalah untuk menggoda Taehyung, ia juga tak tahu akan berakhir menjadi sebegini mengenaskan baginya.

Jimin meringis pelan saat Taehyung mengikat tangannya terlampau keras, membuatnya tak mampu untuk sedikit pun menggerakan pergelangannya. Ia menatap Taehyung yang tampak bahagia sekali dengan hasil karyanya.

Mata Jimin tertutup dan ia menggigit bibirnya kuat-kuat saat merasakan bibir Taehyung sudah tiba di atas lehernya, membuat banyak bercak semerah kelopak bunga yang pasti akan berbekas lama nantinya. Gigitan di bibirnya kian mengencang saat gigi-gigi Taehyung menyapa tulang selangkanya, menggigitnya lembut lalu mengisapnya pelan.

"Tae—"

"Use the word Jimin,"

Jimin merasakan air matanya menggenang, terlebih saat Taehyung dengan kurang ajar menggunakan tangannya untuk menyentuh area sensitif di dadanya. Belum lagi kata yang harus ia sebutkan. Kemarin, ia masih boleh mengucap kata itu kepada Taehyung agar ia kesal dan mengabulkan permintaannya. Jimin yang bahkan pertama kali menyebut Taehyung demikian, menggodanya seolah menyerahkan diri dan bermain-main dengan libido Taehyung. Tapi kali ini, bahkan untuk bernapas pun sulit. Ada kecaman adrenalin yang menumpuk di dadanya saat ia akan menyebutkan kata tersebut.

"Dad—" Jimin meraih napasnya suah payah, mencengkram sarung bantal putih di bawah kepalanya terlampau kuat dan dengan kuat mencoba menatap Taehyung, "—daddy,"

Taehyung mengangguk-angguk setuju lalu beranjak untuk menatap Jimin. Mata Jimin bergelinang air mata, bibirnya sedikit bengkak dan terkuak mengambil napas terputus, juga leher hingga selangkanya yang dipenuhi bercak merah membuat Taehyung tak sanggup untuk diam saja. Ingin rasanya mengabadikan momen ini dan menyimpannya rapat-rapat hanya untuk dirinya sendiri.

Tangan Taehyung merambat untuk menyentuh ujung celana kain Jimin, membuka kancingnya dan menurunkannya perlahan sampai membuat Jimin frustasi.

"Wet,"

"Karenamu breng—Aa!"

Jimin mendesah terlalu keras saat Taehyung dengan madar meremas dan membuat gerakan pijat yang teratur. Taehyung terkikik kecil saat melihat reaksi Jimin yang spontan itu.

"No cursing baby boy, or I'll leave you here like this."

Jimin memejamkan matanya saat kini Taehyung sudah benar-benar membuat bagian kakinya telanjang tanpa sehelai kain pun. Rasa dingin yang menyentuh serta tangan Taehyung yang kurang ajar meremas paha miliknya membuat Jimin tak mampu berbuat apa-apa selain menahan suaranya untuk keluar. Sudah cukup sekali ia mendesah keras dan ia benar-benar malu.

Ikatan di pergelangan Jimin seolah mengerat saat Jimin mencengkram dasinya terlampau keras, menahan diri dari sentuhan-sentuhan Taehyung di bagian bawahnya yang membuatnya memejam mata nikmat. Bahkan saat dua jari Taehyung ada di dalamnya, Jimin hanya tak mampu berbuat apapun selain menggigit bibirnya dan membiarkan cicitan kecil keluar dari tenggorokannya. Ini tangan Taehyung, yang lebar dan jarinya begitu panjang yang begitu ia kagumi.

"Jangan digigit, aku ingin mendengar suaramu." Taehyung menyentuh dagu Jimin dan dengan responsif Jimin membuka mulutnya, mendesah keras saat jari panjang Taehyung dengan mudah menemukan titik sensitifnya. Mengeluarkan erangan-erangan erotis yang cukup keras dan diredam oleh ciuman asal Taehyung saat jari di dalamnya bertambah jumlah dan bertambah semakin dalam.

Jimin ingin memrotes karena Taehyung bergelak terlalu pelan di bagian bawahnya. Tapi saat Taehyung benar-benar berhenti dan menanggalkan seluruh pakaiannya dan bersiap di posisinya, Jimin berubah pikiran. Jimin berteriak mengenaskan saat Taehyung benar-benar masuk, air mata sukses menembus kelopak matanya dan diusap pelan oleh Taehyung sambil bibirnya dikecupi dengan sayang.

"Daddy—"

"Kau tadi seram sekali," untuk kesekian kalinya Taehyung menekankan pinggulnya, mendapati Jimin yang melengkungkan tubuhnya dan melempar kepalanya memperlihatkan bentuk lehernya yang indah, "berkuasa sekali, menindas orang lain dan mereka takut kepadamu."

Jimin tak mampu membalas kata-kata Taehyung, hanya mampu mengambil napas putus-putus juga mengeluarkan geraman juga suara tak jelas dari tenggorokannya. Tubuhnya terguncang saat Taehyung tak juga melambat dari kecepatannya, membuat derit ranjang bersuara keras.

"Tapi sekarang, kau benar-benar tak berdaya di bawahku." Taehyung mempererat cengkramannya di pinggang Jimin dan memperlambat gerakannya, mengetahui Jimin sudah hampir menatap bintang tapi Taehyung masih ingin bermain-main. "Apa aku perlu melakukan ini padamu di depan mereka? Supaya mereka melihat betapa lemahnya Park Jimin di tanganku?"

Jantung Jimin kian berdebar saat Taehyung bicara tanpa memilah katanya, ia benar-benar membayangkan jika Taehyung menyentuhnya di hadapan semua orang dan memperlihatkan kepada orang-orang bahwa Jimin adalah miliknya. Jimin tak habis pikir kenapa ia bisa berpikir demikian.

"Daddy," napas Jimin terengah berantakan, keringatnya mengucur tak sedikit di hampir seluruh tubuhnya. Pergelangan tangannya amat merah dan matanya setengah tertutup karena semua ini, "ja-jangan berhenti."

"As your wish baby,"

Dan Jimin tak tahu lagi mana dunia atau neraka atau pun surga saat Taehyung bergerak dengan brutal, membuat tubuhnya tersentak mengenaskan dan tak sanggup untuk hanya diam saja. Matanya terpejam dan angkasa ada di pelupuknya saat ia berteriak dan merasakan semuanya dalam keadaan putih; kenikmatan yang dicapai bersamaan dengan Taehyung.

Napas keduanya terengah, Taehyung melepas dirinya dan bergerak untuk melepas ikatan di pergelangan tangan Jimin dan mengecupi bekas merah yang kentara di sana. Taehyung memeluk Jimin dan menenggelamkan wajahnya di leher Jimin. Bergumam maaf jika ia terlalu keras dan mengecupi lehernya lembut.

"Taehyung,"

Lalu Taehyung menjawab dengan sebuah gumaman, mempererat pelukannya di pinggang Jimin dan masih betah mengecupi leher pria bersurai jingga itu. Jimin hanya tak percaya pria ini tak marah saat ia hanya memanggil namanya saja tanpa embel-embel kesopanan seperti hyung atau panggilan biasa Jimin untuk Taehyung. Yah, Daddy.

"Kau... akan mengusirku dari sini?"

Taehyung mengangkat kepalanya dan menatap Jimin, setelah sesi tadi, Jimin masih berpikir bahwa Taehyung akan mengusirnya? Taehyung menopang kepanya di sandaran sikut, menatap Jimin yang juga sedang menatapnya.

"Tadinya, aku bahkan akan mengusirmu saat kau merokok di apartemenku," Taehyung merapikan helai rambut Jimin yang basah dan menutupi kelopak matanya, "tapi aku ingat perkataan ayahmu."

Jimin menatap heran, apa yang dikatakan ayahnya kepada Taehyung?

"Ingat saat aku mengantarmu ke rumah untuk mengambil pakaian?" Jimin mengangguk, "malamnya setelah mengantarmu ke toko buku dan mengantarmu pulang, aku bertemu dengannya."

Jimin menggumam paham, Taehyung bilang akan bertemu dengan salah satu rekan kerjanya dan hanya mengantarnya ke apartemen setelah itu pergi kembali.

"Dia bilang begini padaku: aku sangat mengerti kenapa kau ingin meminta Jimin tinggal. Aku adalah orang tua yang buruk. Aku dan istriku selalu bertengkar di hadapannya, bahkan istriku tak segan-segan bilang bahwa Jimin adalah pembawa sial. Aku benar-benar ingin berubah tapi tidak bisa, aku selalu berakhir memarahi Jimin dan bertengkar dengan istriku karena lelah dan stres luar biasa di tempat kerja. Apa kau bisa menjaga Jimin untukku? Kali ini saja,aku ingin minta tolong padamu. Buat Jimin tersenyum dan makan-makanan yang enak seperti anak lainnya. Itu permintaan terakhirku Taehyung-ah, aku tak akan meminta tolong padamu lagi."

Taehyung tersenyum mendapati mata Jimin yang berkaca, bibirnya gemetar dan napasnya melamban perlahan.

"Ayahmu sudah banyak membantuku, jadi aku ingin juga membantunya. Dengan menjagamu. Dan aku juga menyayangimu Jimin, sangat menyayangimu." Taehyung mengecup pelipis Jimin lama, "Aku benar-benar menyayangimu Jimin, sangat, dan kurasa juga aku mencintaimu. Aku bahkan tak tahu itu benar atau salah tapi fuck aku tak tahan untuk memberimu ciuman dan memelukmu setiap saat."

Jimin terkekeh sebentar dan mengecup bibir Taehyung pelan, "Tidak salah kok jatuh cinta dengan yang jauh lebih muda, iya bukan? Sekarang sedang trend kok pacaran berbeda belasan tahun. Dan damn, kau melarangku cursing tapi kau sendiri cursing?!"

Taehyung tertawa, "Maaf, okay? Mari kita berjanji untuk tidak cursing satu sama lain."

Jimin mengangguk, menikmati bagaimana hangatnya pelukan Taehyung di tubuhnya dan hangat napas di lehernya.

"Dan, awas saja jika kau melakukan hal-hal seperti tadi siang," Taehyung menggigit leher Jimin jahil dan membuat Jimin meringis, "aku tak segan-segan memberi lebih dari yang tadi, dimengerti?"

Jimin mengangguk dan memejamkan matanya, membiarkan Taehyung menenggelamkan wajahnya di lehernya lagi dan beristirahat sejenak.

"Ya Taehyung," Jimin sekali lagi memanggil tanpa sufikasi kesopanan dan Taehyung juga menjawabnya dengan gumaman lagi, "aku baru ingat besok aku ulangan ekonomi, shit, tanggung jawab kau membuat bokongku mati rasa!"

Taehyung bangun dari tidurnya dan menatap Jimin sedikit kaget, ia benar-benar tak ingat bahwa Jimin notabennya masih anak sekolah dan besok adalah weekdays.

"Bangsat, guru ekonomiku killer sekali aku tak mau tahu kau harus izin ke sekolah,"

"Oke astaga maaf, aku akan izin ke wali kelasmu dan bilang kau sakit okay?" Taehyung benar-benar duduk dan terlihat panik untuk mencari ponselnya dan ia tak dapat menemukannya, "jangan cursing astaga kuperingatkan,"

"Apa peduliku,"

"Aku tak akan memberimu izin kalau begitu,"

"Aku tak naik kelas karena nilai ekonomiku nol itu salahmu. Selesai."

"Fuck kenapa kau pandai bicara sekali aku benar-benar bisa mati muda," Taehyung berdiri dan mencari ponselnya di atas meja nakas sekali lagi, "di mana ponsel sialan itu astaga..."

"Lihat siapa yang cursing di sini?"

"Baik aku tidak akan cursing asal kau juga tidak,"

"Aku akan tetap cursing meskipun kau tidak, Daddy,"

"Persetan,"

"Persetan juga untukmu,"

"Ralat, aku mencintaimu,"

"Aku tidak, cepat telepon wali kelasku astaga!"

.

.

-the end-

.

.

A/N

Hai! Ini bagian duanya, semoga suka akrena aku lumayan sedikit bingung untuk menentukan bagaimana endingnya. Dan oh! Apa kalian mau kalau aku bikin sequel one-shot atau sequel beberapa chapter dari cerita ini? hehehehe

Sekian, jangan lupa review, fav, dan follow ya!

-La demencia-