CHAP.2


Sehun mengaduk es jeruknya dengan sedotan yang di selipkan di antara jari tengah dan jari telunjuknya itu. Matanya menatap kosong kearah gelasnya sendiri. Ia sedang berada di kantin sekarang, tapi ia sama sekali tidak menghiraukan makanan atau minuman yang ada di dekatnya. Fikirannya hanya tertuju pada satu hal. Namja berambut coklat yang ia temui di lapangan kemarin.

Perasaan aneh yang di rasakannya benar-benar mengganggu. Entah apa yang terjadi, tapi Sehun merasakan sesuatu yang aneh ketika ia melihat namja itu. Seperti ada yang mengganjal, suatu perasaan aneh yang bahkan Sehun sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Hal itu benar-benar mengganggunya. Hampir semalaman Sehun tidak bisa tidur memikirkan hal ini.

"Sehun?"

Suara Seulgi membuyarkan lamunan Sehun. Ia mengerjap beberapa kali sebelum berkata, "Ya?"

Seulgi menaikan alisnya menatap Sehun. "Kau melamun lagi."

"Benarkah? Tidak." elak Sehun.

"Jadi, bagaimana menurutmu?"

Kali ini Sehun menatap Seulgi bingung, "Apa?"
Seulgi mendengus, "Nah, lihat? Kau tidak mendengarkan apa yang ku katakan barusan."

Sehun menghela nafas. Well, masalah namja berambut coklat itu membuatnya kurang

fokus. Sehun mulai berfikir sepertinya dirinya mulai tidak beres.

"Baiklah, maaf. Memangnya tadi kau bicara apa?"

Seulgi menghela nafas, "Aku membicarakan soal pentas seni tahunan yang akan di adakan minggu depan."

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tau soal acara tahunan yang selalu di selenggarakan Yeonggi itu. Acara dimana akan di adakan pesta besar-besaran di Yeonggi. Akan ada bazzar, pameran, panggung yang meriah, dan banyak acara lainnya. Acara ini adalah salah satu acara yang sangat di banggakan oleh Yeonggi. Selain menampilkan bakat-bakat murid Yeonggi, biasanya akan hadir setidaknya satu artis papan atas yang sangat di tunggu kehadirannya.

"Oh, soal itu. Kenapa?"

"Ya. Kau tau, aku, wendy, irene dan Joy akan tampil dalam acara itu."

Sehun mengangguk, kali ini disertai dengan senyuman. "Sudah kuduga." gumam Sehun dengan nada bangga pada kekasihnya itu. Seulgi ikut tersenyum, "Ya. Selain itu, aku dan yang lain mempunyai ide bagus."

"Apa?"

"Salah satu temanmu, Kai. Ia juga akan mengisi acara."

"Oh." Sehun tidak terlalu kaget mendengar hal itu, karena ia tau sahabatnya yang satu itu memang memiliki kemampuan lebih dalam bidang seperti ini. Ia pasti akan menampilkan kemampuan dance-nya yang luar biasa. Sehun melanjutkan, "Dia akan tampil solo?"

"Tadinya ya." Seulgi berhenti sebentar untuk meminum colanya lalu melanjutkan, "Tapi kemudian aku mempunyai ide cemerlang." sambungnya dengan sebuah senyum misterius tersungging di bibirnya.

"Ide?"

"Aku mengusulkan, bagaimana kalau kau dan Kai tampil melakukan battle dance?"

Dan kali ini Sehun agak terkejut. Ya, Sehun memang termasuk dalam club Dance. Dan ia juga merupakan salah satu anggota terbaik. Tapi Sehun tidak pernah berekspektasi bahwa dirinya akan tampil di acara pentas seni Yeonggi.

"Aku?" gumam Sehun tak percaya. "Kau bercanda."

"Tidak, Sehun. Aku serius. Kau tau, jika kau dan Kai battle dance itu pasti akan sangat keren! Perpaduan dari dua namja yang pandai menari. Ooh, aku sudah bisa membayangkan bagaimana meriahnya ketika kalian berdua tampil nanti!" tukas Seulgi antusias.

Tapi Sehun menggeleng, "Aku tidak mau."

"Apa?!" Nada Suara Seulgi meninggi. "Tapi- kenapa?"

"Aku bukan tipe orang yang percaya diri untuk tampil di hadapan orang lain. Terlebih lagi aku juga tidak terlalu pandai dalam menari. Jika dibandingkan dengan Kai, aku tidak ada apa-apanya." gumam Sehun.

Well, Sebenarnya bukan itu alasan sesungguhnya. Sehun hanya takut ia tidak bisa

bertanggung jawab. Maksudnya, ya, Sehun bukanlah tipe orang yang mau bekerja keras untuk suatu hal yang menurutnya kurang penting. Ia sangat berbeda dengan Kai. Mimpi Kai adalah menjadi seorang penari hebat, artis yang terkenal. Kai pasti akan dengan semangat tampil di acara tersebut. Jika ia harus di pasangkan dengan Sehun, otomatis Sehun harus berlatih dengan Kai untuk menampilkan yang terbaik. Tapi Sehun tidak mau. Ia tidak mau nantinya ia malas berlatih, dan jadinya malah merusak penampilan Kai. Jadi lebih baik tidak perlu.

Seulgi mengerutkan keningnya, "Ayolah. Terlebih lagi semua orang tau kalau kau dan Kai adalah sahabat. Kalian pasti akan terlihat sangat kompak!"

"Tapi-"

"Oh, dan satu lagi. Kalian berdua adalah murid populer! Aku yakin acara ini akan jadi sangat sukses jika kalian berdua tampil!"

Sehun mulai merasa terganggu ketika Seulgi menyebutkan kata-kata "Murid Populer."

Ia tidak suka di cap seperti itu. "Seulgi, dengar. Tanpa aku, acara akan tetap sukses. Satu orang tidak akan berarti besar." gumam Sehun lembut.

"Tapi Sehun-"

Sehun menggenggam tangan Seulgi, "Aku percaya kau dan yang lainnya bisa mengsukseskan acara ini. Kau dan yang lainnya bukanlah murid-murid biasa. Kalian pasti bisa mengsukseskan acara ini tanpa aku. Kau tidak perlu terpaku padaku."

Lama kelamaan Seulgi mulai pasrah, ia luluh dengan kata-kata lembut dari Sehun.

"Tapi kami masih membutuhkan satu lagi penampilan yang spektakuler.." gumamnya pelan.

"Kalian sedang membicarakan pentas seni?" Tanya Kai yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Sehun.

Mata Seulgi melebar, "Kai!" teriaknya antusias. "Ya, kami sedang membicarakan pensi.

Hey, tolong bujuk sahabatmu ini. Dia tidak mau tampil denganmuu." gumam Seulgi manja sambil mempoutskan bibirnya.

Kai menoleh ke arah Sehun, "Kau tidak mau? Kenapa?"

Sehun menaikan bahunya, "Aku rasa aku tidak sebagus itu untuk tampil di acara tersebut. Terlebih lagi harus di pasangkan denganmu."

"Yah. Kau ini bicara apa. Kau tau, jika kita tampil berdua, aku yakin acara ini akan sukses besar. Dan pentas seni tahun ini akan menjadi yang paling bagus!"

Sehun mendengus, "Seulgi sudah mengatakan itu barusan." gumamnya santai lalu meninum es jeruknya dan melanjutkan, "Tapi aku benar-benar tidak bisa."

Kai menghela nafas, lalu melirik ke arah Seulgi. Ia seolah berkata, "Bagaimana ini?" tanpa suara. Dan Seulgi hanya menggelengkan kepalanya bingung.

Tiba-tiba Sehun menjentikan jarinya, "Ah. Kenapa tidak kalian berdua saja?"

Kai dan Seulgi menoleh cepat ke arah Sehun. "What?! Apa maksudmu?" tanya Seulgi dengan nada shock.

Sehun menatap keduanya polos, "Ya, maksudku, kalian berdua saja yang battle dance. Kalian sama-sama bagus dalam hal itu, dan jika yang melakukan adalah sepasang namja dan yeoja, itu akan jauh lebih keren!"

Kai terlihat berfikir sejenak. Menimbang-nimbang perkataan Sehun. Sementara Seulgi dengan tegas berkata, "Kau bercanda?! Itu tidak mungkin! Oh Sehun, kau tau kan siapa aku?!"

Kali ini Sehun menaikan sebelah alisnya bingung dengan pertanyaan aneh Seulgi,

"Kau.. Seulgi kan?"

"Astaga Oh Sehuuun!" teriak Seulgi geram. "Aku ini Kang Seulgi, dan aku pacarmu! Dan Kai, dia adalah sahabatmu!"

Sehun semakin tidak mengerti apa maksud Seulgi sebenarnya, "Ya... lalu?"

"Tidak mungkin aku tampil berdua dengan Kai! Apa yang kau fikirkan huh? Orang-orang pasti akan mengira aku dan kau sudah putus! Kau mengizinkanku tampil bersama namja lain, kau ini gila atau apa huh?!"

Sehun face palm mendengar kata-kata kekasihnya itu. Jadi, ini alasan Seulgi?

Satu detik

Dua detik

Tiga—

"HAHAHAHAHAHAHAHA" Tiba-tiba saja Sehun tertawa terbahak-bahak. Membuat Kai dan Seulgi terdiam. Yang paling kesal tentu saja Seulgi, ia menatap geram kekasihnya yang super aneh itu.

"YAAA OH SEHUN KENAPA MALAH TERTAWA!"

Sehun berusaha meredam tawanya untuk berbicara, "Maaf- maaf, habisnya alasan mu itu lucu sekali." gumamnya sambil masih terkekeh.

Seulgi mengerutkan keningnya tidak suka. "Lucu apanya?!"

"Kau terlalu mementingkan pandangan orang lain. Cara berfikirmu sungguh lucu sekali." gumam Sehun. Kemudian ia menoleh ke arah Kai, "Kai, jangan dengarkan Seulgi. Ikuti saja saranku. Menurutku kau pasti jauh lebih mengerti, apa jadinya kalau kau dan Seulgi tampil bersama. Terlebih kudengar akan ada beberapa manager dari agency artis yang di undang, kan? Siapa tau mereka melihatmu dan tertarik dengan bakatmu."

Kai mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan kata-kata Sehun. Ya, memang benar. Sebenarnya akan lebih keren jika battle dance di lakukan oleh pasangan. Akan menjadi kesan tersendiri.

"Kau benar. Seulgi, bagaimana? Demi kesuksesan acara ini juga." gumam Kai pada akhirnya. Seulgi menatap tajam ke arah Sehun sesaat, lalu akhirnya menghela nafas.

"Well, mau bagaimana lagi. Ini demi kesuksesan acara, kan?"

Sehun tersenyum pada Seulgi, "Nah, bagus. Kalau gitu kalian berdua harus berlatih mulai sekarang. Acaranya bulan depan, kan?"

Kai mengangguk, "Ya." Ia melirik jam tangannya, Lalu berkata, "Oh, aku harus pergi, ada urusan. Seulgi, nanti sore sepulang sekolah kita berkumpul di ruang latihan!"

Setelah mendapat jawaban anggukan dari Seulgi, Kai pergi meninggalkan Sehun dan Seulgi.

"Problem solved?" gumam Sehun pada Seulgi yang kelihatannya masih badmood.

Seulgi menghela nafas lalu menatap Sehun, "Kenapa kau begitu mudahnya mengizinkanku untuk tampil dengan namja lain? Apa kau tidak cemburu?"

Sehun tersenyum, "Namja lain? Kai itu sahabatku. Aku percaya dia tidak akan macam-macam denganmu."

"Tapi tetap saja.." Seulgi menundukan kepalanya lalu menghela nafas.

"Seulgi," Sehun menggenggam tangan Seulgi lalu mengecupnya pelan, "Aku mencintaimu. Aku melakukan ini untuk membantumu. Aku tau kau sangat ingin acara ini berjalan sukses, makanya aku mengajukan ide ini. Percayalah padaku, semuanya akan berjalan lancar." kata Sehun lembut, dengan senyum di akhir kalimatnya.

Perbuatan Sehun seolah menghipnotis Seulgi, ia merasakan keyakinan dari Sehun telah tertular padanya.

Seulgi akhirnya ikut tersenyum, "I love you so much, Sehun." gumamnya yakin sambil mempererat genggaman tangannya. Seulgi tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, Sehun benar-benar namja terbaik yang pernah ia temui, dan Ia sangat bersyukur tuhan mengizinkan Sehun menjadi miliknya.


Seperti biasanya, Sehun berjalan sendiri menuju keluar gerbang sekolah. Jam menunjukan pukul setengah empat sore, Kelas bubar sejak setengah jam yang lalu tapi Sehun baru bisa pulang karena ia menemani Seulgi sebentar tadi. Tapi kemudian Seulgi menyuruh Sehun untuk pulang duluan karena katanya ia masih akan lama. Sehun pun menurut, ia memang sudah lelah.

Sehun berjalan sambil mengacak-acak rambutnya, lalu menatanya kembali. Biasanya ia tidak terlalu peduli pada penampilan, tapi menurutnya hari ini ia sangat berantakan. Saat Sehun mendongakan kepalanya, Matanya menangkap sesuatu di lapangan. Langkah kaki Sehun terhenti, ia terpaku disana, nafasnya terhenti selama beberapa detik dan jantungnya langsung berdebar.

Lagi-lagi namja berambut coklat itu.

Lagi-lagi perasaan aneh ini muncul.

Namja itu sedang bermain bola, sama seperti kemarin. Bedanya, hari ini ia mengenakan seragam- tanpa almamater. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya di gulung hingga sikut, celana hitamnya sudah mulai kotor dengan noda debu. Sehun tidak tau ada apa dengan dirinya, tapi tiba-tiba ia melangkahkan kakinya untuk mendekati lapangan, mengarah ke namja tersebut.

Anehnya, sekarang Sehun lebih merasa tenang, ia mulai bisa mengontrol dirinya. Dan sekarang, ia berdiri di pinggir lapangan. Namja itu belum menyadari keberadaan Sehun karena posisinya menghadap ke gawang, membelakangi Sehun.

Namja itu menendang bola, Dan melesat masuk ke dalam gawang. "Yeaaaah!" Teriaknya Senang lalu berlari ke gawang untuk mengambil bola. Saat ia berbalik, namja itu terdiam. Akhirnya ia melihat Sehun yang berdiri di pinggir lapangan.

Mata keduanya bertemu, dan Sehun bersumpah ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya saat itu juga. Tapi kali ini ia lebih tenang, ia tidak memilih untuk berlari seperti kemarin.

"Oh, Hey!" Sapa Namja berambut coklat itu dengan senyuman dibibirnya.

Sehun membalas dengan mengangkat sebelah tangannya, "Yo."

Namja itu berjalan mendekati Sehun, "Kalau tidak salah, kau yang kemarin, kan?"

Ternyata dia masih mengingatku. Batin Sehun. Sehun mengangguk, "Ya." jawabnya singkat. "Dan, soal kemarin, maaf aku langsung pergi begitu saja. Aku tiba-tiba teringat urusan mendadak."

Apa itu? Sehun berbasa-basi pada orang yang baru ditemuinya? Sehun yakin dirinya sudah benar-benar tidak beres.

Namja itu mengangguk, "Ne, ne, tidak apa-apa." gumamnya ringan, lalu menjatuhkan bolanya ke tanah dan mulai menjuggling bola tersebut. "Kau tau, Sesampainya dirumah aku langsung melihat diriku di cermin. Kukira ada sesuatu di wajahku yang membuatmu lari begitu melihatku." guraunya dengan diiringi tawa ringan.

Entah kenapa, tapi Sehun ikut tersenyum. Itu bahkan bukanlah suatu candaan yang lucu, tapi ketika melihat namja itu tertawa, otomatis Sehun ikut melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Ini pertama kalinya Sehun benar-benar tersenyum pada seseorang yang baru di temuinya.

Sehun mengerjap, "Ah, benar juga."

Namja itu melirik Sehun, "Apa?"

"Kita belum kenalan."

Tiba-tiba bola di kaki namja itu terjatuh, "Ah ya. Benar." lalu namja itu mengulurkan tangannya "Namaku Luhan!"

Mata Sehun melebar. Oh! Sehun ingat sekarang. Namja ini, namja pindahaan dari Kirin yang menjadi topik pembahasan di mading. Ah benar juga, bagaimana bisa Sehun tidak terfikirkan hal itu?

Sehun menyambut uluran tangan Luhan, "Oh Sehun, tapi panggil saja Sehun."

Luhan mengangguk, "Nama yang bagus!" pujinya dengan senyuman manis. Sehun yakin ia belum pernah melihat seorang namja dengan senyuman semanis itu sebelumnya.

Sehun mengerjap, "Y-ya, terima kasih." katanya, lalu melepaskan genggaman tangannya. "Oh ya, apa kau tau, namamu terpampang jelas di mading sekolah."

Luhan mengambil bolanya yang terjatuh lalu berjalan ke arah bangku dimana tasnya berada dan duduk disana, "Benarkah? kenapa?" tanya sambil sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.

Entah apa yang mendorong Sehun, tapi ia ikut mengarahkan kakinya ke arah bangku dan duduk di sebelah Luhan, "Karena kau murid pindahan dari Kirin."

Luhan menengguk botol minumnya, lalu mengangguk, "Ah, aku tidak tau topik itu menjadi sangat hangat disini." gumamnya enteng. Lalu ia melanjutkan, "Memang apa yang salah dari itu?" tanyanya, kali ini menatap ke arah Sehun.

"Kau tau kan, Kirin itu sekolah seni. Dan seleksi untuk masuk ke sekolah itu cukup sulit. Kau sudah cukup beruntung untuk masuk ke sana, lalu kenapa pindah ke sekolah edukasi semacam Yeonggi?"

Luhan terlihat berfikir sejenak, "Hm.. Kenapa ya."

Sehun menaikan alisnya bingung. "eh?"

Kemudian Luhan melirik ke arah Sehun dan terkekeh pelan, "Tidak ada alasan khusus. Aku ingin saja." jawabnya enteng.

Sehun cukup terpaku dengan jawaban santai dari Luhan. Ia tidak menduga Luhan akan menjawab seperti itu. Sehun tau bagaimana sulitnya masuk ke Kirin, ia dulu pernah mengantarkan Kai untuk ikut seleksi. Dan hasilnya? Kai gagal. Ia sangat terpuruk waktu itu. Tapi Luhan? sudah beruntung masuk Kirin, tapi malah pindah ke Yeonggi dengan alasan yang cukup mengejutkan. Kalau boleh jujur, Sehun kagum.

"Kau sepertinya membanggakan Kirin sekali? Apa kau pernah ikut seleksi lalu gagal?" tanya Luhan.

"Hm? Tidak, bukan aku, tapi sahabatku. Aku melihat bagaimana ambisiusnya ia untuk masuk Kirin, lalu saat gagal, ia sangat kecewa dan kesal. Makanya aku bingung denganmu."

Luhan tersenyum, "Tapi... aku sebenarnya punya alasan. Yang mungkin tidak terlalu penting." Luhan terlihat menerawang sebentar, lalu ia menggeleng. "Sudahlah lupakan."

Luhan bangkit dari bangku, lalu menggiring bolanya, "Hey, tendanganmu yang kemarin bagus. Mau main?" ajak Luhan antusias.

Seolah terhipnotis, Sehun dengan cepat menerima ajakan tersebut. "Tentu!" Ia meletakan tasnya di bangku dan membuka almamaternya, sehingga ia hanya mengenakan kemeja dan dasinya.

Sehun berlari kelapangan lalu ia mulai berebut bola dengan Luhan. Untuk yang

pertama kalinya dalam kehidupan Sehun, ia dengan mudahnya berbicara, tersenyum, tertawa, dan bermain dengan seseorang yang baru saja di kenalnya. Setiap hal yang dilakukan Luhan selalu menarik perhatian Sehun. Dan rasanya, Perasaan aneh itu berubah menjadi perasaan bahagia ketika Sehun berada di dekat Luhan. Setiap ajakan Luhan membuat tubuh Sehun dalam sekejap menurut untuk mengikuti ajakan tersebut. Namun tetap tidak ada perasaan terpaksa dalam diri Sehun, justru ia dengan senang hati melakukan itu.

Siapa Luhan? Apa yang membuatnya bisa dengan mudah membuat sisi friendly Sehun keluar dengan sekejap?

Jam menunjukan pukul lima sore, Sehun dan Luhan sudah bercucuran keringat. Keduanya berbaring di lapangan karena sudah lelah bermain-main.

Luhan tiba-tiba tertawa pelan, "Sehun, kau tau, ini pertama kalinya aku bermain sepak bola dengan orang lain di Yeonggi." gumamnya sambil masih mengatur nafasnya.

Sehun menoleh lalu menaikan alisnya tak percaya, "Benarkah? Kukira kau selalu bermain saat jam istirahat atau semacamnya."

Luhan menggeleng, "Tidak, aku hanya menonton di pinggir lapangan. Baru saat pulang sekolah, aku diam-diam bermain sendiri di lapangan."

"Kau bisa mengajaku kalau kau memang butuh teman bermain. Aku akan mengajak dua temanku yang lain."

Luhan tersenyum, "Ne." Lalu ia bengkit dari posisinya, "Ini sudah sore, aku harus pulang."

Sehun ikut bangkit, lalu melirik jam tangannya, "Benar juga. Ayo"

Lalu keduanya berjalan menuju tas mereka, setelah merapihkan barang-barang, mereka berjalan keluar sekolah bersama. Sehun yakin, seumur hidupnya ia tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya.