Chiwachiwa! (OwO)/

YOSH! Akhirnya bisa juga nulis chapter 2 ini! Karena gak mau basa-basi diawal, silakan nikmati kelanjutan cerita yg rada absurd ini oke?!

Douzo, Reader-tachi!


ooOooOooOoo

-MY LITTLE SISTER IS KUROKO TETSUNA-CHAN!-

Disclaimer : Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Story : Evamaru

Genre : Humour, Romance

Rated : T – M(?)

WARNING! : OOC, Alur maju mundur(?), Tanpa EYEDE, Bahasa campur-campur, Character dari anime lain yang numpang lewat jadi figuran (GEPLAK!) Dll. INGAT! Karakter disini bukan punya saya (udeh tau) Sebenernya sih saya pengen memiliki semua karekter ini tapi takut dipeggal kepalanya oleh Tuan Tadatoshi *Plak*

ooOooOoo

.

.

Chapter 1 : Red Devil & Blue Angel

.

ooOoo

.

"Suatu saat dengan kebetulan atau sengaja kita pasti akan bertemu lagi"

.

ooOoo

"A-ano, A-akashi-kun!"

"Hmm?" aku melirik sebentar kearah surai baby blue tersebut. Ia tampak terlihat kabingungan sementara wajahnya merona dan—

"A-apakah seragam rok ini tak ada yang lebih panjang sedikit? I-ini terlalu pendek untuk ku."

Mataku terpukau dan jantungku berdetak cepat melihat wujud dari Tetsuna. Ia sangat cantik dan imut sekali menggenakan seragam setelan dari SMA Teiko. Kemeja putih, pita merah, almamater hitam yang pas badan, serta rok lipat-lipat 'ehem' yang memang sangat pendek bewarna hitam. Semua itu sangat cocok sekali dengan lekuk tubuh Tetsuna. Aku yakin, ibu sengaja memilihkan baju yang pas badan untuknya.

"A-akashi-kun!"

Ah, aku terbangun dari lamunanku. Tampak tetsuna sedang mencoba menarik-narik rok bagian bawahnya.

"Itu pantas untukmu kok! Kau tak usah malu begitu. Cepat duduk! Kita akan ke sekolah sebentar lagi." Aku mencoba menyembunyikan wajahku dari semburat merah sialan ini.

"Ta-tapi aku malu! Ka-kalo begini, celana dalam ku bisa kelihatan."

Aku menghela nafas sesaat dan meletakan sendok dan garpu, lalu beranjak dari kursiku dan berjalan menuju Tetsuna.

"Sudahlah! Apapun yang kukatakan, itu Absolute. Jadi, sekarang kau lebih baik makan terlebih dahulu. Masalah celana dalam mu kelihatan atau nggak, itu belakangan. Biar kucukil mata orang itu jika berani mengintip celana dalam mu." Kedua tanganku memegang masing-masing pundak Tetsuna dan menggiringnya ke meja makan.

"I-Itu be-berlebihan." Protes Tetsuna sementara wajahnya semakin memerah mendengar ucapanku.

"Duduk!" sekali hentakan tanganku, kini ia duduk dan aku pun kembali duduk. Ia tak berkata apa-apa lagi dan menatap kearah makanan.

"Ng, Akashi-kun. A-aku boleh makan sandwich ini?"

"Tentu saja Tetsuna! Jelas kalau kau duduk disini itu berarti kau boleh makan semuanya yang ada."

"Ma-maaf."

Keheningan kembali terjadi. Aku terus mengawasi gerak gerik Tetsuna yang sepertinya tampak menarik bagiku.

Lihat! Ia membuka bibir merah muda mungilnya. Tak terlalu lebar. Sementara sang sandwich menunggu untuk segera dimasukan kedalam mulut Tetsuna. Kurang lebih 2 detik, ia menggigit sandwich itu dengan gigitan kecil dan mengunyah secara perlahan-lahan. Hal itu Tetsuna lakukan berkali-kali. Cara ia mengunyah entah mengapa sangat lucu. Seperti anak anjing.

TRANG! PLAK! Aku menjatuhkan sendok ku dan memukul jidatku sendiri. Plis! Gua gak kuat ngelihatnya. Oh tuhan! Kenapa Tetsuna seimut ini? Baru kali ini ada perempuan yang berhasil menarik hatiku.

"A-akashi-kun? Kau tidak apa-apa?"

Aku hanya menggeleng dan mengisyaratkan kalau tak apa-apa. Ku ambil sendok baru di meja dan melanjutkan acara makanku.

"Maaf Akashi-kun, paman dan bibi kemana?"

"Tetsuna, kini kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Barhentilah memanggilku Akashi-kun! Paman dan bibi alias orang tuaku kini adalah orang tuamu aku adalah kakak mu. Dan nanti, margamu juga akan di ubah menajadi 'Akashi Tetsuna' mengerti?" Jelasku dengan lembut sambil menatap Tetsuna.

"Lalu aku harus memanggilmu apa? Seijurou-kun?"

"Terserah. Tapi hilangkan embel-embel kun. Itu terdengar kaku. Kau boleh memanggil dengan nama lain."

"O-oni-san, Sei-nii… Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?"

UHUK! UHUK! Aku tersendak sarapanku sendiri dan segera mencari-cari minumanku dan meminumnya.

"A-apa?! Coba kau ulangi?"

"Sei-nii, Sei-nii! Karena aku ingin mencoba mengikuti gaya adik permpuan yang biasanya, bolehkah aku memanggil mu Sei-nii?" Ucap Tetsuna dengan nada imutnya. Dengan wajah yang agak merona, ia terus menatap kearah ku.

JDARR! Serasa sebuah peluru telah menembus jantungku. Aku juga segera menutup hidung yang sepertinya akan segera mengalirkan darah. Ha ha! Kenapa gara-gara ini aku bisa mimisan? Memangnya aku mesum?

"E-eto, Sei-nii tak apa-apa?" Tetsuna tampak kawatir denganku.

"Aku Rapopo." Ucapku. Hei! Bahasa apa yang barusan ku pake?

GILA LU TETSUNA! Kau ini jangan-jangan bukan manusia? Melainkan malaikat yang jatuh dari surga yang memang ditakdirkan untuk melayani dan memuaskan diriku!

Diantara semua wanita-wanita yang kukenal, hanya Tetsunalah yang mampu menerobos hatiku. Baru kali ini aku yang notabennya pemilik mata emperor yang ditakuti dan katanya (emang) kejam dapat dibutakan oleh kepolosan Tetsuna. Walau ia tak seseksi wanita lain, dada ratanya, kepolosannya yang tak berdosa, kulit putih pucatnya yang mulus bagai porselen, bibir mungilnya yang serasa enak untuk dilahap, suara imutnya, serta parasnya yang bak malaikat. Berani taruhan, keperawanan Tetsuna pasti masih suci dan belum pernah ada yang menyentuhnya. Karena yang boleh menyentuhnya pertama kali hanyalah aku seorang. OK, Gua akui kalau gua mesum. Puas?

Tapi, bukan berarti aku mesum kalau ingin sekali memiliki tubuh Tetsuna seutuhnya. Aku hanya berpikiran negative aja kok gak lebih! Hanya sekedar berdelusi ria! Tak seperti Aho Ahomine itu!

"Se-sei-nii! Kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa pa—ah! Maksudku a-ayah dan ibu tak ikut sarapan bersama kita?" walau ucapannya masih agak kaku, aku masih memakluminya.

"Mereka sudah kembali bekerja dan hanya pulang seminggu sekali bahkan sebulan sekali. Jadi, mungkin rumah ini akan sepi. Soalnya hanya ada pak Wataru, bibi Sakamoto, pak Takeshi, dan pak Hanamura."

"Kenapa?"

"Jelas karena aku takut kau merasa sepi dirumah ini."

"Apanya? Bukan itu yang kutanyakan."

"So?"

"Mengapa keluarga Akashi membangun rumah sebesar ini? Ratusan kali lebih besar malah dari tempat tinggalku yang dulu."

"Tanyakan saja pada ayahku! Diluar dugaan ternyata kau banyak bicara juga ya!"

"A-ah! Maafkan aku Sei-nii kalau sudah lancang dan bertanya yang tidak-tidak!" Melihat Tetsuna yang salah tingkah membuatku tersunyum.

"Tidak-tidak! Justru aku malah senang! Dengan begini kita bisa mendekatkan diri dan menjadi lebih akrab." Mendengar ucapanku, Tetsuna tersenyum.

"Kalau boleh tanya—kenapa keberadaanmu kadang tak bisa diketahui?"

Tetsuna menghentikan kunyahannya.

"Ntahlah! Sejak dulu memang keberadaanku tipis sampai dikira hantu. Tapi aku sudah terbiasa kok. Sebenarnya cara mengetahui keberadaanku ada satu cara." Kata Tetsuna. Seijurou hanya memberikan tatapan 'Apa itu?'

"Perhatikan terus diriku dan kau pasti mengetahui eksentesi ku. A-AH! Bu-bukan berarti aku menyuruh Sei-nii memandangku terus."

"Ha ha ha! Tidak apa-apa! Untuk membiasakan diriku beradaptasi dengan dirimu yang unik itu." Seijurou menunjukan senyum khasnya dan membuat Tetsuna bengong ditempat.


.

(NORMAL POV)

Seijurou yang sudah selesai mencuci tangan, membenarkan dasinya yang longgar dan segera menggenakan sepatu. Dilirik jam tangan perak yang melingkar dipergelangan tangannya yang telah menunjukan pukul 07.30 AM.

"Tetsuna, kau sudah siap belum? Ayo berangkat! Kau lama sekali?!" teriaknya.

Suara langkah kaki kecil terdengar menghampirinya dan menarik nafas sejenak.

"Gomen ne, Sei-nii! Aku tadi membantu membersihkan piring kotor sebentar." Jelas Tetsuna dengan terburu-buru langsung menggenakan sepatu yang sudah disediakan.

"Kenapa kau melakukan itu? Biarlah bu Sakamoto yang membereskannya."

"Aku tak mau jika kedatanganku malah merepotkan. Jadi, biarlah aku menyesuaikan dengan yang lain." Senyum dari surai baby blue itu terpancar membuat Seijurou menghela nafas.

"Sudahlah, itu memang tugas mereka. Lagi pula—" Ia terdiam sesaat lalu memperhatikan wajahTetsuna.

"Sei-nii?" Seijurou tak menggubris panggilan tetsuna. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Tetsuna.

"Ukh!" Sang korban merasa geli ketika kakaknya menjilat pinggiran bibirnya dengan perlahan.

"Ada sisa cairan susu rasa vanilla yang berada dipinggiran bibirmu." Ucapnya dan seketika langsung membuat wajah Tetsuna merah.

"Ke-kenapa Sei-nii tidak bilang saja! Kan bisa kuhapus sendiri." Pemilik mata heterochome itu hanya tertawa melihat Tetsuna salah tingkah.

"Jika kau mengelap mengunakan tanganmu, aku takut tangan mungilmu yang suci itu ternodai hanya oleh sisa-sisa cairan susu vanilla." Dapuk! Rupanya Sei nge-gombal!

"I-itu nggak lucu Sei-nii! Itu memalukan!" Protes Tetsuna yang hanya dibalas kikikan dari Seijurou.

"Sudahlah! Cepat masuk mobil kalau kau tak mau terlambat!" Seijurou mendorong perlahan Tetsuna masuk kedalam mobilnya.

"Ta-tapi?"

"Masih protes ku cium nih!"

"I-Iblis!" Batin Tetsuna yang wajahnya sudah hampir semerah tomat yang mau membusuk kesal atas kelakuan kakak tirinya itu. Dengan malu-malu masuk kedalam mobil.

Dalam benak Seijurou, ia sebenarnya berbohong dan menyeringai setelah puas dengan perbuatannya.

"Padahal tadi aku hanya berbohong! gua Cuma ingin mengisenginya sedikit. Tadinya sih mau gua cium langsung dan merasakan kehangatan bibirnya. Tapi, gua rasa itu terlalu cepat dan malah nanti gua yang dibenci Tetsuna! Selow Sei! Selow! Butuh waktu gak usah cepet-cepet! Nanti juga Tetsuna bakal jatoh ke pelukan gua."

Catatan singkat. Akashi Seijurou, 16 tahun, pemilik Emperor Eyes. Iblis merah yang ngakunya gak mesum punya mata heterochome. Sangat MODUS sekali. MODUS DAN PICIK! *Author dilempar gunting*

.

.

ooOoo

.

Kini puluhan pasang mata memandang kearah mereka berdua. Seperti layaknya bukan manusia biasa. Wanita bersurai baby blue itu seperti malaikat tanpa sayap yang diculik oleh pangeran iblis dari surga. Sementara pemilik surai merah itu pangeran iblis kejam nan tampan yg menculik malaikat tak berdosa untuk memonopolinya.

Ok cukup berimajinasinya. Seorang Akashi Seijurou memang berkelakuan seperti iblis. Ya ya! Kalau kalian tak percaya cukup tanyakan anggota-anggota kisedai yang sudah jadi korban kekerasan lahir dan batin. Namun, sekejam-kejamnya singa kalo lihat sang betina pasti langsung tenang. Ok, fix! Ngawur. Intinya, hatinya Sei saja yang sekeras besi gunting bisa diluluhkan oleh seorang Tetsuna.

Beberapa murid SMA Teiko mulai berkasak-kusuk membicarakan mereka berdua. Bukan-bukan! Bukan iblisnya lah! Kalau Sei, seluruh sekolah juga tau kali kapten tim basket SMA Teiko yang suka bawa-bawa gunting! Melainkan malaikat imut yang mengekor dibelakangnya.

"Siapa gadis itu? Aku belum pernah melihatnya!"

"Kenapa ia bersama Akashi ya?"

"Apa mereka berpacaran?"

"Dilihat dari Auranya sepertinya anak yang mengekorinya itu tak menonjol! Biasa banget deh!"

Sementara para sisawa siswi lainnya menggosip tentang mereka berdua, Tetsuna merasa kebingungan dan terus merunduk dibelakang Seijurou sambil memegangi ujung jasnya.

"Oi, Tetsuna!"

"A-Apa?"

"Berhentilah menarik bagian bawah jas ku! Kau bisa membuatnya melar."

"Se-sebelum itu, kenapa semua menatap kearahku?"

"Mungkin itu karena kaumanis!" Seijurou sedikit menggoda Tetsuna dan lagi-lagi berhasil membuat wajahnya merona.

"Sei-nii!berhentilah menggodaku! Aku serius!"

"Pfftt! Iya-iya! Aku menyukai ekspreksimu kalau kesal Tetsuna! Ternyata kau rada-rada Tsun ya!" Sementara sei menahan tawa, Tetsuna hanya bisa mengembungkan pipinya. Ya—sambil merunduk sih!

Ide jahil mulai menggerayangi otak Seijurou. Ditariknya tangan Tetsuna kearah sejajar dengan langkahnya lalu merangkulnya sehingga—well, tubuh mereka berdekatan. Tetsuna yang kaget hanya bisa menahan teriakan dan bermaksud untuk memprotes tindakan kakaknya itu.

"Se-sei-nii! Apa ya—"

"Apa kau takut kalau kita disangka pacaran hah?" Bisik Seijurou tepat di telinganya.

Ok! Tetsuna gak kuat! Baru sehari menjadi adik tiri Sei tapi sudah diperlakukan seperti ini! Karena merasa wajahnya sudah memerah mencapai panas 40®C, Tetsuna hanya dapat membenamkan wajahnya dalam rangkulan tangan Seijurou.

"I-itu mustahil Sei-nii! Kita kan sekarang Kakak beradik." Setelah puas dengan tingkahnya yang mampu membuat Tetsuna Blushing terus, Sei hanya tersenyum puas dan melepas rangkulannya. Dibelainya rambut adiknya itu secara perlahan.

"Maaf! Aku bercanda! Habisa kau kaku sekali!" Tetsuna hanya dapat menarik nafas panjang dan mencoba menabahkan hatinya.

"Ngomong-ngomong, ini kita mau kemana Sei-nii?"

"Ruang guru. Aku harus mengonfirmasikan kehadiran dirimu kesekolah ini. Kau menurut saja! Atau mau ku goda lagi?"

"Nggak." Tetsuna kemudian memutuskan untuk diam sambil mencoba memasang wajah datarnya.

Lorong demi lorong serta tatapan mata yang kepo abis mereka lewati. Dalam benak Seijurou yang melihat para laki-laki yang tampaknya terpukau oleh manisnya wajah tetsuna hanya bisa menatap mereka dengan sinis. 'kenapa? Lu lu pada sirik nggak punya adek seimut Tetsuna? Kasian deh lo! Awas lu berani deket adek gua! Gunting melayang dan menancap di antara kedua paha anda." Ajaibnya, entah kenapa apa yang dipikirkan Seijurou mampu memasuki otak para siswa yang tergoda oleh pesona Tetsuna dan sang korban yang ditatap Seijurou hanya merinding disko.

Kini, mereka telah sampai diruang guru. Dibukanya pintu kayu itu secara perlahan lahan. Ok, kosong! Tak ada siapa-siapa disini. Namun, terlihat sosok manusia yang berada di meja kerja wali kelas Seijurou.

"Ah, Akashi-kun! Sedang apa kau disini dan AKASHI! SIAPA DIA?! MANIS SEKALI!" Yang pertama kali mereka lihat bukanlah seorang guru, melainkan gadis berambut panjang yang mendominasi warna merah muda. Ya, Momoi Satsuki. Sementara Tetsuna hanya terus bersembunyi dibelakang Seijurou.

"Ternyata kau Satsuki! Kemana Yato-Sensei?"

"Ia sedang di aula. Para guru sedang rapat. Hei! Kau belum menjawab pertanyaan ku! Gadis yang dibelakangmu itu siapa?"

"Ah, dia Kuroko Tetsuna. Sebentar lagi ia akan menjadi 'Akashi Tetsuna'"

"WHAT DOUBLE WHAT WHAT WHAT?!"

"Itu Triple qaqa." Kritik akashi dengan wajah yang menirukan wajah Yaoming. Gile lu ndro!

"Bodo! DIA ITU TUNANGAN MU?!" Teriak Momoi lagi. Sepertinya gadis yang (ngakunya) punya cup F ini habis keselek toa. Sayangnya, saat Seijurou mau angkat bicara, sudah keduluan Tetsuna. Sayang sekali Sei! Niat menggodadirinya telah gagal.

"E-eto! Bu-bukan! Aku bukan tunangannya! Aku adalah adik angkatnya. Douzo yoroshiku ne onegai shimasu!" Tetsuna membungkuk dengan sopan.

"Yoroshiku ne Tetsuna-chan! Aku Momoi Satsuki. Panggil aku Satsuki ya!" senyum Momoi dan membuat Tetsuna memancarkan senyumannya.

"KYAHHH! KAMU KAWAII BANGET TETSUNA!" Momoi pun berlari dan memeluk Tetsuna. Yang dipeluk merasa kaget atas serangan tiba-tiba dari Momoi. Sementara itu, Seijurou yang nampaknya iri dan juga pengen banget meluk-meluk Tetsuna hanya dapat menghela nafas dan menahan dirinya untuk melemparkan gunting.

"Oi, Satsuki! Kalau bisa, kau yang urus data Tetsuna ya!"

"KYAHH! Tetsuna, kulitmu mulus ya!" Momoi mengelus-elus 'ehem' paha Tetsuna.

"Dan juga tolong tambahkan nama 'Kuroko Tetsuna' Kedalam absensi kelas kita."

"OMG! Harum tubuhmu enak sekali! Wangi vanilla!" Momoi menghirup aroma tubuh Tetsuna.

"Oh ya! Tolong carikan ju—"

"TETSUNA! KAU PETTANKO YA?! DADAMU SEUKURAN GENGGAMAN TANGAN!" Seru Momoi sambil coretmeremasdadacoret Tetsuna.

"Sa-Satsuki! Da-dame!" Tetsuna mulai merasa terganggu.

Clik! Perempatan mulai muncul dikepala Seijurou dengan keluarnya aura-aura hitam disekelilingnya.

"KAMPRET! Gua iri! Gua iri! Gua iri! Enak banget Momoi! Mentang-mentang cewek trus bisa megang Tetsuna seenaknya gitu? Gua juga pengen kali! Anyirr banget!" Ok permisa! Seijurou iri rupanya.

JLEBB! STRIKE!

Gunting bewarna merah itu melesat 1000 km/jam melewati Momoi dan Tetsuna begitu saja dan menancap di tembok. Seketika Momoi membatu dan Tetsuna tampak Syok sekali.

"Oi, Satsuki!"Aura kematian mulai bermunculan dari tubuh Seijurou.

"Berhentilah menyentuh Tetsuna-ku! Karena ia adik tiriku yang berharga! Daripada itu, apa kau mendengar semua omonganku hah?!"

Momoi hanya mengagguk dan bersembunyi dibalik punggung Tetsuna.

"Baguslah! Karena kalau kau tak mendengarnya, aku akan mencuci otakmu dengan bunga 7 rupa, pemutih, detergent, dan do**y agar otakmu tak terkena virus Daiki Dekil Dakian itu! Atau kau mau koleksi doujinshi yaoi mu kubakar habis hah? Dan satu lagi, jangan mentang-mentang dadamu lebih besar kau seenaknya membandingkannya dengan milik adikku paham?!" Ancam Seijurou.

"Ba-baik tuan muda Akashi!" seru Momoi yang ketakutan dan mulai menjauh.

"Se-sei-nii jahat!" Momoi dan Akashi melirik keasal suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan Tetsuna.

"Tetsuna, kau kenapa?" Perlahan-lahan Sei mendekat kearahnya yang mulai menintikan air mata. Namun, Tetsuna malah mundur selangkah.

"Dadaku memang tak sebesar Sastsuki. Tapi jangan membuatku malu dengan membandingkannya." Tetsuna pun memeluk tubuhnya sendiri dan menahan air matanya.

"Nah lo Sei! Tanggung jawab bikin anak orang nangis!" Batin Momoi. Kenapa? Karena kalau dia ngomong terang-terangan, yang ada gunting melayang.

Seijurou yang nampaknya sedikit merasa bersalah, mencoba mengangkat wajah Tetsuna agar menatap matanya.

"Hei, kau tak perlu cengeng! Keluarga Akashi tak boleh ada yang menangis karena hal kecil!"

"Ta-tapi—"

"Ayolah! Lagi pula kau masih dalam mas pertumbuhan. Daripada itu—"

Seijurou menyeka bulir-bulir air mata yang gagal jatuh dari mata bulat Tetsuna dengan lidahnya.

"Dada kecil itu membuat pemiliknya jauh lebih imut loh! Tapi percayalah, suatu saat nanti pasti tumbuh lebih besar." Seringai Seijurou. Pliss, itu ambigu!

Blush! Perkataan Seijurou membuat wajah Tetsuna kembali memerah lagi dan lagi-lagi Sei merasa puas bisa kembali menggoda adiknya itu.

"Se-sei-nii mesum!" Lirih Tetsuna. Sang tersangka hanya dapat menahan tawa dan membawa Tetsuna kedalam dekapannya.

"Bercanda lagi Adiku sayang!" Modus.

Sementara terjadi sebuah drama gratisan, Satsuki Momoi, penonton paksaan, bukan bayaran, hanya dapat menahan teriakan melihat adegan romantis gratisan anatara 'Kakak licik yang ingin memonopoli adik tirinya' Ok permisa. Itu ngawur. NGAWUR!

"Sepertinya asa yang terkena Sister Complek nih!" Satsuki tersenyum bahagia.

.

ooOoo

.

"Oi~ Akashicchi!" cowok pirang bersuara cempreng itu menyembulkan kepala tepat didepan meja sang emperror eyes. Malas dengan temannya itu, Seijurou hanya cuek sambil terus membaca buku.

"Kudengar tadi pagi kau bersama seorang wanita ya? Ia siapamu?" Tanyanya. Merasa ketenangannya diganggu, Seijurou mencopot kacamata belajar seraya menutup bukunya.

JLEEBBB!

FUCKED!

Gunting itu berhasil menancap tepat dihadapan pengganggunya dan membuat pria pirang itu hampir suport jantung.

"Berhenti berbicara dengan suara cemprengmu itu Ryouta!"

"Hi-Hidoiissu! Akukan hanya bertanya Akashichi!" korban, Kise Ryouta, mewek seketika seperti perempuan yang diputusin cowoknya.

"Wajarkah dari bel masuk tadi kau menanyakan hal itu sudah 14 kali hah?"

"Yang benar 17 Aka—DAMEE! BAIK! AKU DIAM!" Seijurou kembali menyimpan guntingnya yang lain. Sebenernya beberapa orang bertanya-tanya, berapa banyakah gunting yang mampu Sei simpan ditubuhnya hah? Dasar maniak!

"Kise! Kau berisik sekali! Kau mau membuat gendang telingaku pecah heh?" omel pemuda tan itu sambil menjitak kepala kise.

"I-ITAII! AHOMINECCHI! Lagipula suaraku tak sekeras itu kan? Aku juga tak menggunakan toa masjid maupun megaphone-nya Hatsune Miku kok! Oh ya! Katanya bentar lagi Hatsune Miku mau konser di Indonesia loh kalau gak salah di Jakarta." Jelas Kise yang nampaknya melupakan alur cerita ini.

"Siapa?" Tanya Aomine lagi sambil ngorek-ngorek kupingnya itu. Tuh lihat! Ada kuning-kuning lengket yang nempel dikelingkingnya.

"HATSUNE MIKU AHO! HATSUNE MIKU! Masa nggak kenal sih? Dijuga baru kalaborasi sama Lady Nganga loh!"

"YANG NANNNYYYAAAA?!" Teriak Aomine tepat ditelinga Kise sampai membuatnya terjatuh.

SSYUUNGGG, PRANGG! MEONGG!

Home Run!

Dasar iblis perusak!

Aomine dan Kise membatu seketika setelah sebuah gunting melewati wajah mereka dan memecahkan jendela kelas. Sepertinya seekor kucing telah menjadi korban kekerasan Guntingesual(?).

Awkward moment. Emangnya cuma Aomine ama kise dong yang kaget? Sekelas juga kaget keless! Tadinya kelas yang ramai seketika menjadi sunyi gara-gara gunting sang Emperror sudah dilontarkan.

"Woi! Kalo mau ribut, jangan di bangku orang! Perlu gua buatin ring tinju?" kata Seijurou dengan tatapan yang nggak nyenengin.

"Ti-tidak" ucap mereka berdua bersamaan.

"Bagus! Latihan kalian ditambah 7x lipat."

Mati kutu. Ketika sang kapten basket sudah berbicara, jangan harap kau dapat melawannya.

Sementara pemuda dari spesies kuntilanak dan pemuda yang kebanyajan berjemur itu meratapi nasibnya dengan pundung berjamaah dipojok kelas, Seijurou mengacuhkan mereka dan justru tertarik dengan hal yang dilakukan Midorima, teman dibagian belakang kanannya, yang sangat percaya dengan kata-kata mama laurent. Ah, maksudku Oha-Asa.

"Shintaro, apa yang kau pegang?" Tanya Seijurou.

"Oh, ini? Baru mau kuberikan kepadamu!" Midorima membetulkan kacamatanya yang melorot.

"Hah?"

"Benda keberuntungan Sagitarius hari ini adalah rok selutut." Seijurou yang mendengarnya hanga mengerjabkan mata beberapa kali. Tapi, sepertinya ia tau rok itu untuk apa! Bukan bukan! Bukan untuk dipakai dirinya sendiri, trus dandan menor, pergi deh ketaman lawang cyinn /plak

"Midochin terlalu parcaya tahayul! Kau mau menyuruh Akachin memakai itu? Itu lebih pantas dipakai Kisechin." Sang Titan ungun jejadian, Murasakibara Atsushi, dengan santainya memakan meubo. Gak tau meubo? Anggep aja momogi!

"AKU DENGAR ITU MURASAKICCHI!"

"Ryouta, latihanmu kugandakan lagi jadi 14x lipat! Berani teriak lagi ku gundul kau jadi Upin Ipin." Ancam Seijurou dan tentu saja Kise hanya bisamemohon belas kasih dari Tuhan.

ooOoo

Yato-Sensei, pria berusia 30 tahun, namun sifatnya masih kekanak-kanakan. Mempunyai seorang istri bernama Yukine dan dikaruniai 2 orang anak bernama Hiyori dan Kofuku. Pria berambut biru tua itu berjalan menelusuri lorong dengan seorang gadis yang mengekor dibelakangnya.

Tenang, itu bukan selingkuhannya kok! Kalau Yato sensei berani menyelingkuhi gadis itu, pulang pasti tinggal nyawa dan istrinya juga tak mau mengurusnya. Ara ara!

"Jadi—disini aku harus memanggil margamu Kuroko-san atau Akashi-san? Tak kusangka kau adalah keluarga Akashi juga. Tapi kalian tak mirib." Oh sensei! Sepertinya kau ketinggalan berita! Apa waktu Momoi menjelaskannya padamu kau tak mendengarnya?

"Kuroko-san" singkat, padat, dan jelas. Itulah Tetsuna. Ia tak mau basa-basi.

"o" Yap! Percakapan itu Cuma sampai disitu. Gak mungkin kan jika Yato-sensei adalah seorang pedopil lalu membawanya ke toilet dan mencabulinya? Ah kalian kebanyakan nonton berita saja!

.

.

"Selamat pagi anak-anak!"

"Selamat pagi Sensei!"

"Yah, cuaca hari ini memang cerah ya! Sepertinya akan lebih cerah lagi kalau kalian mau memberikan senyuman kepada murid baru yang akan mewarnai kelas ini!" seru Yato-sensei, tebar pesona.

Semua langsung kisruh membayangkan siapakah murid baru yang akan mewarnai kehidupan kelas mereka yang notabennya sebagian telah dihuni mahluk-mahluk berbakat namun tak wajar.

Seijurou menatap kearah Momoi dan yang ditatap mengedipkan mata sambil memberikan jempolnya.

"Jangan-jangan wanita yang dikabarkan bersamamu itu murid baru itu Akashi?" tanya Midorima.

"Yah lihat saja nanti." Senyum Seijurou yang sok misterius.

"Baiklah nona! Silakan ma—eh?!" sosok yang dilihat Yato-Sensei di pintu tadi sudah tidak ada ditempat.

"Kemana perginya?"

"Se-sensei sensei! Murid barunya itu bukan?" salah satu siswi menunjuk kearah belakang Yato-Sensei dan sentak membuat guru itu mengeceknya.

"LADALAH! SEJAK KAPAN KAU DISINI?!" Yato-Sensei terkaget-kaget.

"A-ano, sumimasen! Saya sudah disini sejak anada masuk kelas sejak awal."

Seluruh kelas menjadi heran karena juga tak menyadarinya kecuali Seijurou yang memang sudah tau. Namun, keheranan itu langsunglenyap digantikan decak kagum para siswa siwa yang melihat pesona Tetsuna yang kawaii itu. Walau sepertinya agak Tsun.

"Ba-baiklah! Kalau begitu silakan perkenalkan dirimu." Tetsuna hanya mengangguk.

"Hajimemashite, watashi no namae wa Koroko Tetsuna desu. Aku pindahan dari Fukushima dan kini tinggal di kediaman Akashi. Douzo yoroshiku ne onegai Shimasu." Tetsuna dengan sopan membungkuk diikutioleh tatapan dari seluruh kelas yang tak berkedip sedetikpun dengan mulut ternganga.

"Sumpeh lo demi apa nih malaikat tinggal dirumah iblis sarap itu?" batin siswa siswi yang nampaknya syok.

"A-AKASHII! DIA TUNANGANMU?" Kelas yang hening kembali digegerkan dengan teriakan Kise yang menggetarkan bumi. Mendengar seruan Kise, jelas membuat Tetsuna terkejut dan kelas menjadi geger.

"O-OI KISE-KUN! KA-KAU TAK USAH BERTERIAK!" Protes Momoi.

"Apa?! Tunangan?!" Para Siswa yang mendengarnya langsung hilang harapan.

"Kau beruntuntung sekali Akachin punya Tunangan seimut itu!"

"KYYAH! Kalau Tunangannya Kuroko-San sih aku ngalah deh! Dia terlalu imut!" Kali ini para Siswi yang komentar gak jelas.

"JA-JANGAN-JANGAN KALIAN PERNAH MELAKUKAN 'ITU' YA?!" Itu itu apa Aomine?

Sementara Seijurou terus memegangi kepalanya karena pusing dengan kelas dan berusaha tak melemparkan gunting, Tetsuna nampak mulai kesal atas suasana gaduh tersebut.

"AAAARRRRRGGGGGHHHHHH! HENTIKANNNN!" BRAK BRAK BRAKK! Teriak Yato-sensei sambil menggebrak-gebrak meja.

.

Kicep

Bengong

Seijurou pengen ngelempar semua guntingnya dan menggendong tetsuna kabur dari sekolah

Tetsuna hampir mau nangis

.

"Ehem. Baiklah mari kita selesaikan. Nah, Tetsuna! Silakan jelaskan pada teman-temanmu yang kepo abis dan rusuh ini tentang hubunganmu dengan Akashi Seijurou." Tetsuna mengangguk kecil.

"A-ano, a-aku ini adalah adik angkat Seijurou. Bu-bukan tunangannya."

Kelas kembali menjadi bengong. Seijurou menepuk lagi jidatnya yang jenong. Sudah ke-3 kalinya hari ini. Sementara Momoi, hanya bisa nyengir melihat reaksi teman-temannya.

"sumpeh lo ada iblis punya adik malaikat kayak gini? Lu mungut dimana Sei? Nyulik ya?" batin semuanya tanpa berani menatap Seijurou.

"Na-nah, tuh kan kalian sudah mendengar jawaban Tetsuna. Sekarang kau bo—"

Terasa sebuah kilatan menusuk pikiran Yato-Sensei. Diliriknya kilatan itu yang berasal dari seorang Akashi Seijurou. Ia menatapnya dengan tajam. Mengerti apa yang dimaksudkan, Yato-sensei hanya menghela nafas.

"Kuroichi-kun, bisakah kau pindah ke bangku kosong yang dibelakang? Biarkan Kuroko-san duduk disamping Akashi-kun."

Pemuda yang bermarga Kuroichi itu serentak kaget namun hanya menurut. Ia mengelus-ngelus dada dan bersyukur akhirnya dipindahkan juga dari samping Seijurou sehingga tak terkena imbas lagi kalau sang emperor itu melemparkan gunting.

"Nah, Tetsuna sila—"

BRAAKKK!

Pintu kelas terbuka dengan kasarnya. Lagi-lagi kelas menjadi kaget. Tampak pemuda tinggi sedang mengunyah roti sarapannya yang mesih menggantung dimulutnya."

"GHOMEHAHAI HENHEI! KHAKHU KHELAT! (Gomenasai sensei! Aku telat) "

"O-oi! Telan dulu makanannya! Baiklah kau boleh duduk." Perintah Yato-Sensei pada pemuda yang memiliki rambut merah kehitaman itu.

"Terima kasih sensei!" Setelah menelan makanannya, pemuda itu langsung melangkah masuk namun,

"Ah, Kagami-kun tali sepatu mu le-"

Pemuda itu kehelingan seimbangan dan mulai terjatuh. Dengan efek slow motion, Tetsuna nampak membualatkan matanya karena justru pemuda itu akan jatuh kearahnya. Begitu juga seisi kelas yang nampaknya sedang gigit jari melihat sang pemuda yang akan terjatuh. Seijurou? Spertinya ia yang paling syok diantara semuanya.

"Yah telat!" Batin Yato-Sensei

GUBBRRRAK!

.

.

ooOoo

-To Be Continued-

ooOoo

.

.


Akhirnya kelar juga chapter satu ini! (QAQ)

Para Reader-tachi, aku minta maaf ya kalau updatenya lama! Dan maaf juga kalau sepertinya chapter 1 ini agak aneh! Karena sewaktu mengerjakannya saya sedang demam tinggi dan kehabisan ide untuk menentukan alurnya. Gomenne! Pasti akan segera ku perbaiki! QAQ

Namun, semua rasa sakit demam tinggi itu membaik ketika aku mengetahui kalau fic ini dapat diterima dengan baik. Terima kasih untuk witchsong, Eqa Skylight, , Kyo Fuurime Tsuki, Aoi Yukari, Sagi Akabara, aedenfishly, , hikmatulhayati169, RaniRii, Rey Ai, ryuusan, MeetAstri, dan para Guest serta yang telah mengfav dan mengikuti cerita ini. Aku sangat senang sekali. Maaf jika belum bisa membalas satu persatu. Terima kasih atas saran dan kritiknya! (owo) aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi! Mungkin nanti akan ku balas melalui PM. Atas dukungan kalian aku akan membuat chapter 2 dengan semangat!

Untuk yang bertanya apakah fic ini dari rated T ke M itu masih kupikirkan. Kalau rencananya ada, mungkin bahasa akan kubuat tak terlalu vulgar dan rencana ada di chapter 3 atau 4. Untuk saat ini mukin fanservice terlebih dahulu kali ya! Atau malah sebaiknya tak ada adegan rated-Mnya? *dilempar sandal sama kagi*

Kalau ada kritik dan saran silakan! (^w^) yang punya usul juga boleh! Pasti kupertimbangkan :3

Sekali lagi terima kasih atas dukungannya, Reader-Tachi! Sampai jumpa di chapter berikutnya! (TTwTT)/

Spoiler :

"Sudah kuduga rok itu akan berguna."

"Tetsuna, kau masih marah padaku? Aku minta maaf!"

"UAHH! Se-sejak kapan kau masuk?! Maaf aku gak tau"

"SE-SEI-NII! Ha-handuk dipinggangmu co-copot."

Next. Chapter 2: Some Problem

.


ooOoo

Mind To Ripiu? (OwO)

ooOoo