"Kayaknya dia masih muda," gumam Jisung, matanya menelisik CV Ong Seongwoo yang ada di tangannya. "Kau belum pernah mempekerjaan babysitter cowok kan sebelumnya?"
"Gak, tapi mungkin bisa membawa perubahan yang bagus," kata Daniel, sambil menyeruput coffee latte nya. "Lagian, dia lebih tua satu tahun dariku. Tapi kau belum pernah bilang aku 'muda'"
Jisung terkekeh. "Habis muka mu memang bapak-bapak banget sih. Sementara dia mukanya masih kayak remaja."
"Terserah deh hyung, lagian belum ada email atau telfon dari orang lain, jadi sepertinya aku akan langsung menerima CV nya saja. Sudah berapa hari anakku dititipkan di rumah abang." kata Daniel.
Saat jam makan siang, ia membuat janji untuk bertemu dengan calon babysitter bernama Ong Seongwoo tersebut. Untuk wawancara, sekedar formalitas belaka. Lagian hari ini kantor tidak terlalu sibuk, dan tidak ada meeting untuk beberapa jam ke depan. Ia sampai duluan di tempat pertemuan mereka, kafe yang baru buka di seberang kantor. Sambil menunggu, ia membaca sekilas novel yang dipinjamnya dari Jisung.
Satu setengah chapter kemudian, seseorang mengambil tempat duduk di depannya dan bergumam, "Coraline, ya? Aku juga pernah baca tapi berhenti karena serem."
Daniel tersentak dan segera mengalihkan pandangan dari buku, "Ah, maaf, aku tidak melihatmu datang."
Lelaki di depannya kurus, rambutnya hitam dan agak kusut di terpa angin. Ia memakai kemeja putih dan suspender hitam. Ia juga memasang senyum di wajahnya, "Tidak apa, aku juga sering begitu kalau baca buku." Lelaki itu mengulurkan tangan. "Aku Ong Seongwoo."
"Kang Daniel," balas Daniel, menjabat tangannya dan tersenyum balik. "Terimakasih buat CV nya, sekarang cukup susah mencari orang baru sebagai pengganti babysitter untuk menjaga anak-anakku."
"Kau sudah pernah punya babysitter ya sebelumnya?"
"Iya," jawab Daniel, menimbang-nimbang apa ia harus memberi tahu Seongwoo yang sebenarnya? Tapi akhirnya dia jujur juga. "Tapi mereka semua minta berhenti kerja."
"Hmmm," gumam Seongwoo. Wajahnya lucu, seperti kelinci, kata suara dalam kepala Daniel. Untung tak diucapkannya keras-keras. "Aku tidak bermaksud lancang, tapi perkiraanku, mereka berhenti karena dijahili anak-anakmu?"
Daniel berkedip cepat. "Uh, benar. Bagaimana kau tau?"
"Hanya menebak saja," Seongwoo tersenyum lagi, dan Daniel penasaran, apakah senyum riangnya itu akan bertahan setelah ia bertemu dengan dua anaknya yang bagaikan terror. "Jangan khawatir, aku tahan dengan anak kecil."
"Kuharap begitu." Kata Daniel.
Seongwoo cuma tersenyum.
.
.
.
from: Daniel
to: Ong Seongwoo
at 9.43a.m.
hai, seongwoo kan? ini daniel, cuma mau mengecek apa kau kesulitan menemukan rumah kami?
.
from: Ong Seongwoo
to: Daniel
at 9.45a.m.
aku akan sampai sebentar lagi! jangan khawatir
.
.
.
"Tolong aku, anak-anak, kali ini jangan jahili dia, ya?" pinta Daniel dengan muka memelas. "Ini demi kebaikan kalian juga."
Jinyoung tidak bilang apa-apa, tapi si kecil Woojin, yang baru berumur 5 tahun, bertanya dengan penasaran, "Ayah, ku pikir babysitter ituuuuu cuma ada yang cewek aja"
"Ada juga yang cowok kok, sayang," jawab Daniel. Ia menuntun kedua anaknya menuju ruang tamu, dimana Seongwoo sedang berdiri. "Bilang hai ke Seongwoo."
"Hai," kata Woojin malu-malu. Jinyoung bahkan tidak mau memalingkan muka.
"Hai juga," sapa Seongwoo. "Siapa nama kalian?"
"Aku Woojin." Kata Woojin, ia lalu menunjuk Jinyoung. "Itu Jinyoung, dia abangku."
"Ooh," kata Seongwoo, seakan-akan dia baru tau hal tersebut untuk pertama kali. Ia mengangguk dengan antusias. "Senang bertemu denganmu, Kang bersaudara!"
"Margaku Bae, bukan Kang." Gumam Jinyoung.
"Itu marga ibunya," jelas Daniel cepat-cepat, ia merasa lega karena Seongwoo tidak terlihat kaget atau bertanya lebih jauh.
"Keren juga, Bae Jinyoung," kata Seongwoo. Ia berlutut sampai tingginya sejajar dengan Jinyoung. "Kau termasuk tinggi untuk ukuran anak seusiamu, yah?"
Jinyoung mengabaikannya dan melangkah pergi. Seongwoo hanya diam saja melihat anak itu kembali ke kamarnya.
Daniel meringis. "Maaf tentang itu. Jinyoung itu... dia tidak nyaman dengan orang baru."
"Gak papa kok," kata Seongwoo. "Nanti lama-lama dia akan terbiasa."
"Kuharap begitu. Ohya, aku akan menunjukkanmu isi rumah agar kau tak kesulitan," mulai Daniel, tapi kemudian Woojin menarik-narik celananya, mencoba menarik perhatiannya juga. Ia melihat ke bawah,
"Aku saja, ya, yah?" pinta Woojin, matanya besar dan lucu. Itu salah satu kelebihan Woojin sebenarnya, punya jurus aegyo yang super ampuh meluluhkan hati orang dewasa. Daniel sudah kebal, tapi kadang-kadang masih luluh juga.
"Baiklah. Bawa Seongwoo, jangan lupa tunjukkan tempat kotak obat ya, itu yang paling penting. Kau ingat kan dimana ayah menyimpannya? Di laci paling bawah."
"Okai!" kata Woojin sambil memimpin ke depan, Seongwoo mengekorinya di belakang dengan senyum di wajahnya.
.
.
.
from: Ong Seongwoo
to: Daniel
at 2.34p.m.
hai, cm mau mengecek apa anak2 boleh makan snack
aku ingin pinjam dapurmu dan bikin makanan ringan utk mereka
.
from: Daniel
to: Ong Seongwoo
at 2.35p.m.
boleh kok! Kedengarannya enak
cm pastikan sj tdk ada kacang2nya, Woojin sptinya trauma dgn kacang sejak kejadian muntah itu.. wah kacau aku tdk mau mengingatnya lg
.
from: Ong Seongwoo
to: Daniel
at 2.36p.m.
ok bos! tp janji kau harus cerita padaku soal kejadian muntah nya Woojin nanti krn aku sangat penasaan skrg
.
from: Daniel
to: Ong Seongwoo
at 2.37p.m.
tentu saja haha
.
.
.
Woojin menempel pada Seongwoo seperti lebah dan madu.
Lucu rasanya melihat Woojin mengekori Seongwoo kemanapun ia pergi, seperti anak anjing hilang. Apapun yang Seongwoo lakukan, Woojin pasti mengikutinya. Daniel senang melihat interaksi mereka, karena Woojin biasanya sangat pemalu di depan orang asing. Babysitter sebelum-sebelumnya selalu bilang kalau Woojin adalah anak yang pendiam dan tidak banyak suara, tapi bersama Seongwoo, Woojin selalu ribut dan jadi lebih sering tertawa. Daniel senang melihat Woojin kembali jadi anak yang riang gembira.
"Habis itu, kami membuat rumah-rumahan dari lego, tapi kata Seongwoo kita bikin istana aja supaya dinosaurusnya punya rumah yang lebih besar, terus tiba-tiba datang mobil yang mau menyerang istana dan menculik putri dinosaurus tapi dinosaurus yang lain memakan mobilnya dan putri dinosaurus berhasil diselamatkan! Lalu semua dinosaurus ikut berpesta bersama-sama!" celoteh Woojin tanpa jeda saat makan malam di hari pertama Seongwoo bekerja.
Tadi sore saat Daniel pulang kantor, ia mendapati Woojin sedang tidur di dalam 'tenda mini' di ruang tengah yang terbuat dari selimut-selimut yang di ikat ke sofa sehingga membentuk tenda. Ada Seongwoo yang sedang menemani Jinyoung mengerjakan PR di meja makan. Jinyoung masih mengabaikan Seongwoo, tapi menurut Daniel hal tersebut merupakan kemajuan besar karena Jinyoung biasanya langsung mengusir orang-orang yang berani mendekatinya.
"Apa Woojin ikut berpesta bersama dinosaurusnya?" Tanya Daniel sambil tertawa menanggapi anaknya, Woojin mengangguk cepat. "Baguslah, kalau begitu sekarang habiskan nasi mu ya."
"Okeii," kata Woojin, memasukkan sesendok penuh nasi ke mulutnya. "law'lu kmmi' be'mmayn kaa'uokey!"
"Jangan bicara kalau mulutmu penuh, Woojin."
Anak lelaki itu menelan nasinya, lalu berkata "Aku bilang, lalu kami bermain kaaruokey!"
"Apa itu?" Tanya Daniel. "game baru?"
"Bukan!" Woojin menggelengkan kepala. "Di handphone nya Seongwoo. Ada musik nya terus kita ikut nyanyi."
"Oh, karaoke," kata Daniel, sambil tertawa. "Kayaknya asik ya."
"Kayaknya membosankan," kata Jinyoung, sambil menusuk-nusuk sayuran di piringnya dengan garpu.
"Gak bosan kok! Enggak!" kilah Woojin, ia memanyunkan bibirnya.
Jinyoung sangat menyayangi Woojin, semua orang juga tau. Dia tidak tahan melihat ekspresi sedih adiknya yang justru terlihat imut itu, dia jadi merasa bersalah. "Maaf," katanya sambil mengusap pipi Woojin. "Kalau kamu bilang enggak bosan, berarti enggak ngebosenin kok."
Woojin kembali tersenyum mendengarnya.
.
.
.
"Gimana kabar anak-anak?"
Daniel tersenyum dan mengangguk. "Mereka bersikap baik-baik aja, anehnya. Memang baru seminggu, jadi belum ada kejadian apa-apa."
"Bagus lah." Jisung ikut tersenyum. "Mereka dekat dengan babysitter barunya?"
"Woojin yang keliatan suka sekali dengannya." Daniel kembali mengulang kejadian setiap sore saat ia pulang kantor dan Woojin langsung menyerangnya penuh semangat dengan cerita-cerita 'tadi aku dan Seongwoo bermain ini,' atau 'tadi Seongwoo menunjukkan ini padaku!', lalu ia teringat Jinyoung yang masih mengabaikan Seongwoo. "Jinyoung masih.. tidak mau bicara dengannya."
"Jinyoung memang begitu dengan semua orang," kata Jisung datar.
.
.
.
from: Daniel
to: Ong Seongwoo
at 3.56p.m.
maaf sblmnya tp aku ingin minta tolong seminggu ini bisakah kau jaga anak2 sampai jam 7? aku sedang banyak pekerjaan dan meeting ;;
.
from: Ong Seongwoo
to: Daniel
at 4.00p.m.
bisa bisa haha tenang sj
aku akan mengajak mereka nonton film kartun kalau boleh
.
from: Daniel
to: Ong Seongwoo
at 4.00p.m.
boleh sj! makasih banyak ;)
.
from: Ong Seongwoo
to: Daniel
at 4.03p.m.
c:
.
.
.
Jinyoung setiap hari berangkat sekolah pukul 7:30, dan Woojin baru masuk TK tahun depan, jadi Daniel biasa menghabiskan pagi harinya mengobrol dengan Seongwoo yang selalu datang jam 6 pagi dengan senyum cerahnya. Daniel tidak percaya ada orang yang bangun tidur sejak pagi buta dan masih bisa tersenyum lebar sepertinya.
"Ini untukmu," kata Seongwoo sambil menyodorkan gelas plastik berisi kopi hangat yang dibelinya dalam perjalanan menuju kesini. "Ku pikir tidak ada salahnya datang lebih awal, siapa tau kau harus pergi cepat atau gimana."
"Terimakasih kopinya, Seongwoo," kata Daniel sambil meneguk cairan hitam kental ajaib favoritnya itu. "Tapi beneran, kau bisa datang telat kok, Woojin biasa bangun pukul 7. Aku tak ingin merepotkanmu."
"Aku tak repot, kau membayarku, ingat?" Seongwoo tertawa, suaranya menyegarkan sel-sel otak Daniel yang baru bangun tidur. "Tidak masalah kok, lagian aku dapat teman mengobrol juga."
Daniel ikut tertawa bersamanya. Ia harap semburat merah yang menjalar dari pipi hingga lehernya tidak terlalu kentara.
.
.
.
to be continue.
.
.
.
ciieee danieeelll
hahaha
anyways ayoo beri komen! i love reading comments hehe see u in chapter 3!
