Silent Euphony

"The Thing Left Unnoticed."

Chapter 2

.

.

.

Fanfiction of

Axis Power Hetalia

Hidekaz Himaruya

.

.

Starred by:

Roderich Edelstein a.k.a Austria

Gilbert Beilschmidt a.k.a Prussia

Ludwig Beilschmidt a.k.a Germany

.

.

.

Malam itu, Roddy kembali cukup terlambat ke dalam kamar asrama yang kebetulan ia huni seorang diri—awalnya berdua bersama Lovino namun Antonio menyeret siswa berdarah Italia itu bersamanya.

Roddy tak terlalu mengacuhkan hal tersebut. Toh, ia sendiri terbiasa sendirian dan justru baik untuk kemampuannya dalam berkosentrasi—mengingat Roddy kerap berlatih biola di dalam kamar asramanya, sedang berlatih piano hanya bisa dilakukan di dalam ruangan musik.

Roddy yang tengah merebahkan diri di atas tempat tidur—berbaring di atas punggungnyadan lantas mengalihkan arah pandang—kini menatap case berwarna hitam berisi biola kesayangannya yang ia letakkan di atas meja belajar tepat di sisi tempat tidur.

Ya, biola kesayangannya.

Saat itu, usianya baru menginjak 13 tahun. Biola tersebut adalah pemberian dari sang kakek untuknya—yang lalu ia gunakan untuk mengikuti kompetisi bermain biola beberapa bulan kemudian.

Dan satu kejadian yang amat sangat membekas di dalam benak terjadi—bahkan hingga saat ini, Roddy tak bisa melupakan akan hal tersebut.

Tepat satu hari sebelum perlombaan digelar, Roddy menemukan pemandangan yang nyaris membuat jantungnya seketika berhenti berdetak.

Di hadapannya saat itu, ia melihat Gilbert tengah berada di dalam kamar tidurnya bersama biola miliknya yang tengah laki-laki albino itu pegang dan yang membuat Roddy terpaku—nyaris mati kaku, adalah kondisi dari biola tersebut.

Leher biolanya patah dan entah apa yang telah dilakukan Gilbert namun Roddy ingat benar bagaimana amarah seketika menguasai dirinya—dan Gilbert hanya menyeringai. Nampak puas.

Roddy habiskan malam itu bersama tangis—sesenggukkan meratapi nasib biola dan perlombaan yang akan ia ikuti di esok hari.

Hingga suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya di tengah malam—saat itu Roddy tengah separuh tertidur dengan kedua kelopak matanya yang membengkak.

Separuh enggan dan dengan menyeret langkah gontainya, Roddy membuka pintu kamar dan seketika kedua bola mata violet-nya melebar mendapati sosok Ludwig di balik sana—tengah memegang biolanya.

"Biolamu." Kata Ludwig malam itu seraya menyodorkan biolanya yang telah diperbaiki.

Tampak bagian leher biolanya telah diberi beberapa buah skrup yang mengunci retakan leher biola tersebut dengan amat sangat rapat.

Roddy nyaris tak mempercayai apa yang ia lihat—ia menangis lagi dan yang ia lakukan setelahnya hanya menghambur memeluk tubuh Ludwig.

Pahlawannya.

Dan lamunan Roddy akan masa lalunya tersebut seketika buyar ketika pintu kamar asramanya diketuk.

Roddy mengerjap-ngerjapkan mata lalu segera bangkit dari tempat tidur seraya membenahi letak kacamatanya. "Ya?" Dan figur tinggi tegap Ludwig muncul di balik pintu tersebut ketika ia membuka pintu tersebut.

"Malam." Sapa Ludwig dengan suara bariton berintonasi serius seperti biasa.

Roddy mengangkat kedua alisnya—menatap laki-laki pirang itu dengan tatapan penuh tanya. "Ludwig?" Ia lalu menggeser tubuh seraya membuka daun pintu kamarnya sedikit lebih lebar. "Silahkan masuk."

Dan Ludwig hanya mengangguk sekilas lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.

.

.

.

Dengan sebuah klipping proposal yang ada di tangannya, Ludwig putuskan untuk mengunjungi Roddy—yang kehadirannya siang tadi telah membuat heboh seisi ruangan rapat walau yang patut disalahkan sebenarnya adalah kakaknya sendiri.

Ketukan singkat nan tegas Ludwig lakukan pada pintu kamar asrama yang Roddy huni seorang diri.

Dalam diam, Ludwig sejenak mengira-mengira di dalam benaknya. Sedang apa laki-laki itu saat ini? Mengingat biasanya, Roddy selalu menghabiskan waktu bermain piano di ruangan klub musik atau bermain biola di dalam kamarnya.

Yang ia tahu, Roddy menghabiskan sore harinya tadi bersama Arthur dan Lukas di ruangan broadcasting—Kiku dan Elizaveta yang adalah penyiar radio sekolah juga tampak bersama mereka.

Dan Ludwig yakin bila hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi seorang Roderich Edelstein yang lebih sering menghabiskan waktu bersama alat musiknya.

Tak lama, suara si empu kamar terdengar dari dalam kamar—samar, hingga suara kunci yang diputar menyusul dan pintu di hadapannya lantas terbuka.

Lewat kedua iris safirnya, Ludwig melihat laki-laki pemilik rambut coklat mahoni tersebut tengah membenahi letak kacamatanya. Rambut Roddy terlihat cukup berantakan—mungkin laki-laki itu tengah berbaring sebelum ini?

Dan setelah dipersilahkan masuk, Ludwig hanya menganggukkan kepalanya—singkat, lalu segera melangkah ke dalam kamar yang rapi. Langkahnya terhenti saat kedua iris safirnya tertuju pada case biola milik Roddy.

Ludwig termangu menatap benda itu.

Rasanya sudah lama sekali sejak kejadian di malam itu—dan suara Roddy yang halus memecah lamunannya. Membawanya kembali ke realita.

Ludwig lantas segera mengalihkan arah pandang—kembali menatap kedua iris violet milik Roddy yang jernih dari balik kacamata. Ia berdeham pelan lalu mengulurkan klipping proposal yang ia bawa.

"Ini hardcopy proposal yang dibuat oleh Berwald dan baru saja kuterima sore tadi. Kurasa kau perlu membacanya." Kata Ludwig menjelaskan lalu terlihat satu tangan Roddy terulur meraih benda tersebut.

"Oh, benarkah?" Suara Roddy terdengar menyahuti kalimatnya lalu laki-laki Austria itu nampak sibuk membaca—membolak-balikkan setiap halaman klipping proposal tersebut.

Sedang Ludwig tidak langsung memberi respon. Ia kembali terdiam dengan arah tatapan tertuju pada pergelangan tangan Roddy yang kecil.

Sangat kecil dan ringkih bila dibandingkan dengan lengannya yang kokoh berotot—bahkan masih kalah jauh dari Gilbert yang juga rajin bercokol di ruangan gym bersamanya.

Dan apa yang terjadi siang tadi dirasa cukup beralasan.

Dengan tubuh kecil yang tak pernah tersentuh kegiatan fisik semacam olahraga, Roddy jelas kalah tenaga bila dibandingkan dengan Gilbert yang aktif di klub sepakbola bersama Mathias dan Willem.

Ditambah lagi, Gilbert adalah ace klub sepakbola sekolah ini.

Ludwig menghela napas samar—separuhnya tak rela melihat Roddy selalu jadi bulan-bulanan sang kakak namun ia sendiri tak bisa berbuat banyak.

"Kurasa proposal ini belum sepenuhnya jadi."

Suara halus Roddy kembali menggema memenuhi indera pedengarannya—Ludwig mengerjap singkat lalu kembali menatap hanya mengangguk.

"Ya, hanya poin-poin utama yang dijelaskan Berwarld di sana. Malam ini, aku, Kiku, dan Feliciano akan menyempurnakannya." Ujar Ludwig yang disambut anggukan kepala Roddy.

Tatapannya bertemu lagi dengan iris violet milik laki-laki pecinta musik itu.

"Lalu, ada yang bisa kubantu?" Tanya Roddy yang lalu menyerahkan kembali klipping proposal tersebut kepada Ludwig. Tampak sang ketua klub musik tersebut melipat kedua tangannya di depan tubuh.

Ludwig lantas menggelengkan kepala. "Belum. Aku hanya ingin menunjukkan ini padamu." Jawab Ludwig yang dibalas kilatan bingung pada kedua mata Roddy—Ludwig segera mengalihkan arah pandang lalu bersiap untuk membalikkan tubuh.

"Akan aku bicarakan lagi besok. Sebaiknya kau segera beristirahat." Kata Ludwig yang lalu berjalan ke arah pintu kamar—diikuti langkah Roddy di belakang.

"Baiklah. Selamat malam." Ucap Roddy yang hanya dibalas anggukan singkat dari Ludwig—dan pintu kamar itu kembali ditutup dari dalam.

Ludwig lalu menoleh sekilas—menatap pintu kamar Roddy yang telah tertutup.

Diam sejenak dan larut dalam kesunyian koridor gedung asrama murid laki-laki—dan tepat saat ia hendak melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, sosok sang kakak muncul di ujung koridor dimana tangga berada.

.

.

.

Tak banyak hal yang bisa Gilbert kerjakan hari itu. Selain kegiatan klub sepakbola, Gilbert biasanya disibukkan oleh tugas—dan kebetulan tak ada tugas kelas yang harus ia kerjakan malam ini.

Dan beberapa jam lalu, Gilbert menghabiskan waktunya bersama beberapa anggota klub renang yang masih berlatih.

Beruntung, ia kenal baik dengan Ralph—sang kapten klub renang sekolah berdarah Australia tersebut, yang membuat Gilbert tak pernah sungkan datang dan bergabung saat waktu senggang yang ia miliki cukup banyak.

Walau biasanya, ia juga sering melakukan serangkaian aktivitas konyol atau berulah jahil bersama Antonio dan Francis—dua sahabatnya yang sering disebut Bad Touch Trio, dan nama itu terdengar begitu awesome bagi Gilbert.

Sambil bersiul ringan, Gilbert berjalan menaiki anak tangga gedung asrama murid laki-laki sambil menenteng sebuah kantung plastik putih berisi beberapa buah es krim juga popsicles rasa buah yang rencananya hendak ia gantungkan pada gagang pintu kamar si bocah aristokrat—Roderich Edelstein, mengetuknya lalu berlari kabur.

Hal yang kerap ia lakukan tiap-tiap ia mendapati Roddy kembali ke kamarnya lewat dari sore hari.

Aristokrat bodoh itu pasti kelelahan, kesesesesese. Gilbert membatin dan tepat saat dirinya hendak berbelok ke arah koridor dimana kamar Roddy berada, saat itulah ia melihat sosok tak asing.

Huh? West?

Seketika Gilbert menghentikan langkah dan kembali ke balik dinding—dalam diam mengintip ke arah sang adik yang tengah berjalan seorang diri.

Sedang apa West di sini?

Dan apa yang menjadi pemandangan selanjutnya cukup membuat dada Gilbert bergemuruh.

Ia melihat Ludwig berhenti di depan sebuah pintu yang adalah pintu dari kamar milik Roddy namun sang adik tak langsung mengetuk pintu tersebut—melainkan diam sejenak seraya menatap pintu di hadapannya dengan tatapan menerawang dan di detik berikutnya, barulah pintu itu diketuk.

Tak lama pintu pun terbuka dan Ludwig segera melangkah masuk—sosoknya hilang dan Gilbert masih diam di dalam persembunyiannya.

Air mukanya berubah dengan kedua iris kemerahan miliknya yang masih tertuju lurus pada pintu kamar Roddy yang terbuka.

Sialnya jarak yang terbentang di antara mereka cukup jauh—Gilbert bahkan tak bisa mendengar apa-apa selain suara jangkrik dan suara-suara murid sekolah yang masih berada di halaman luar gedung.

Dan sejujurnya, pemandangan tersebut sangat baru baginya.

Sebelum ini—selama rutinitasnya mengawasi kamar Roddy dari luar, Gilbert sekalipun tidak pernah melihat Ludwig mendatangi Roddy langsung ke kamar sang ketua klub musik tersebut.

Gilbert lebih sering mendapati Ludwig dan Roddy berbicara saat kegiatan belajar-mengajar di kelas atau di koridor gedung sekolah—dan jujur saja, ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba melingkupi Gilbert saat ini.

Kenapa kedatangan Ludwig menemui Roddy di waktu-waktu seperti ini begitu mengusiknya?

Gilbert mendengus pendek dan ia putuskan untuk menunggu Ludwig hingga adiknya itu keluar dari kamar Roddy.

Dan beruntung karena tak lama dari Gilbert diam menunggu, sosok Ludwig kembali terlihat berjalan keluar dari dalam kamar Roddy—entah apa yang keduanya bicarakan di dalam sana dan pemandangan di detik berikutnya cukup membuat Gilbert tercenung.

Tatapan itu lagi! Tatapan nelangsa semacam itu!

Gilbert sama sekali tak pernah tahu dan mengira jika Ludwig ternyata bisa berekspresi sedemikian rupa—suram, dengan tatapan yang menerawang jauh. Begitu melankolis dan sangat berbanding terbalik dengan ekspresi keras nan serius yang selalu Ludwig tampilkan.

Dan tatapan menerawang itu kembali Ludwig tujukan pada pintu kamar Roddy yang telah tertutup di belakang punggungnya.

Tampak kedua alis albino milik Gilbert samar menyatu—sang ace klub sepakbola sekolah tersebut kini sibuk berasumsi di dalam pikirannya atas apa yang baru saja ia lihat.

Gilbert lalu putuskan untuk beranjak dari balik dinding untuk menghampiri adiknya yang masih tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Yo, West!" Sapa Gilbert—dan seperti apa yang telah ia duga, Ludwig begitu kaget saat mendapati sosok Gilbert berjalan menghampirinya.

Tergurat jelas pada wajah Ludwig yang seolah berkata 'sejak kapan?'—dan Gilbert begitu menikmati tiap jengkal wajah adiknya yang telah sempurna dihiasi oleh keterkejutan, walau di detik berikutnya, Ludwig segera dapat menguasai diri.

Wajah adik pirangnya itu tampak kembali kaku seperti biasa.

Perlahan ia berjalan menyusuri koridor gedung asrama yang kembali lengang dengan derap langkah tak bersuara—satu tangannya masih menenteng kantung plastik sedang satu tangan lainnya disurukkan ke dalam saku jaket.

"Bruder." Ludwig balas menyapa, "Sedang apa di sini?"

Gilbert lantas menampilkan seringai khasnya, "Baru saja kembali dari kolam renang." Sahutnya sebagai jawaban dan ia yakin Ludwig paham akan aktivitasnya satu itu.

Ludwig hanya mengangguk—berdeham pelan setelahnya, "Sebaiknya kau segera pergi beristirahat, Bruder."

"Kesesesesese. Kau tidak perlu mengingatkan aku, West. Aku bukan si aristokrat bodoh itu." Dan tepat setelah Gilbert menyudahi kalimatnya, tampak kedua iris safir sang adik melebar sekilas yang lalu dialihkan darinya.

Gilbert mendengus di dalam hati—benar-benar terasa janggal.

"Aku tahu." Sahut Ludwig datar lalu kembali menatap dirinya. "Kalau begitu aku duluan." Kata Ludwig selanjutnya yang segera ditahan oleh Gilbert.

"Tunggu sebentar, West. Kau bisa memiliki ini."

Lantas Gilbert segera merogoh kantung plastik yang ia bawa dan mengulurkan dua buah popsicles ke arah adiknya itu. "Kau bisa membaginya bersama Feliciano. Kesesesesese."

Ludwig hanya menghela napas lalu menerima pemberiannya, "Danke, Bruder." Ucap sang adik kemudian berlalu dari hadapannya yang hanya ia balas dengan sebuah anggukan singkat.

Koridor gedung asrama lantas kembali lengang dengan hanya ia yang berdiri di tengahnya.

Gilbert termenung selama beberapa detik lalu mengalihkan arah pandang ke pintu kamar Roddy yang tertutup.

Tak terdengar suara apapun dari dalam—karna biasanya Gilbert selalu mendengar permainan biola laki-laki itu dari luar.

Mungkinkah Roddy sudah pergi tidur?

Gilbert lalu kembali merogohkan tangan ke dalam kantung plastik putih yang ia bawa—meraih satu buah popsicles lalu menggantungkan kantung plastik itu ke gagang pintu kamar Roddy dengan sejumlah es krim yang tersisa.

Selanjutnya ia beranjak ke arah dinding koridor dan duduk berjongkok di bawah frame jendela yang menampilkan pemandangan halaman di luar gedung.

Perlahan ia sandarkan punggungnya pada dinding seraya membuka bungkus popsicles miliknya—menatap pintu kamar Roddy yang tertutup sambil menikmati dinginnya es yang ia beli sebelum ini.

Dan kehadiran Ludwig barusan masih mengganggu benaknya.

Berbeda dengan sang adik yang dapat bebas berbicara dan bertatap muka dengan laki-laki bertahi lalat di dagu itu—Roderich, Gilbert justru tidak memiliki kesempatan semacam itu.

Kesempatan bagus semacam itu.

Karena belum sempat keduanya bertatap muka, Roddy pasti segera memutar langkah tepat saat mendengar suaranya—jika Gilbert beruntung, keduanya masih dapat berpapasan namun air muka yang ditampilkan Roddy sangatlah tidak bersahabat.

Membuat dadanya bergemuruh—herannya itu terasa menyakitkan dan ia kerap bertanya-tanya pada dirinya sendiri, akan sampai kapan ia memperhatikan Roddy dari luar lingkaran?

Gilbert menggigit popsicles-nya lagi dan masih sibuk dengan pikiran sendiri sedang kedua iris ruby-nya masih terpaku menatap pintu kamar Roddy yang tertutup.

Dan apa yang terdengar selanjutnya—samar, Gilbert refleks duduk tegak dari sandaran punggungnya pada dinding koridor gedung.

Itu adalah suara permainan biola dan Gilbert tahu benar darimana melodi indah ini berasal.

Gilbert lantas terkekeh pelan.

Morning Has Broken, huh? Gilbert bergumam di dalam hati saat mengenali melodi dari permainan biola yang begitu halus dan merdu tersebut dan musik ini cukup sering dimainkan Roddy—laki-laki itu nyatanya begitu berbakat dan terampil.

Lalu di sanalah Gilbert—duduk berjongkok dengan punggung kembali bersandar pada dinding sambil memejamkan kedua matanya.

Menikmati permainan biola Roddy yang indah dan mendayu—membiarkan melodi tersebut kembali membawanya ke masa lalu.

Ke suatu malam dimana ia temukan leher biola milik Roddy yang patah menjadi dua.

.

.

.

To be continued.