Terima kasih banyak untuk teman-teman yang telah memberikan masukan dan ide-ide, untuk kelangsungan FanFic ini... ide2 tersebut membuatku bisa berimajinasi lebih jauh. Sekali lagi terima kasih :D Selamat Membaca!
Disclaimer: J. K. Rowling
PERGI UNTUK MELUPAKAN
Chapter 1
Pohon-pohon yang ada di hutan ini adalah pohon-pohon besar yang mungkin sudah berumur ribuan tahun, karena lingkar pohon-pohon ini bisa mencapai tiga lingkar tangan orang dewasa dilingkarkan secara bersamaan di pohon-pohon itu. Tanah di bawahnya telah tertimbun oleh daun-daun kering yang sudah menjadi humus bertahun-tahun lamanya, seperti karpet bulu tebal yang melapisi sebuah lantai yang luas. Suasana remang-remang dan sedikit lembab juga dingin karena sinar matahari tertutup oleh jarak antar pohon yang saling berdekatan dan rimbunan daun-daunan. Bau humus dan daun-daunan mati tercium dalam udara. Angin yang bertiup di atas puncak pepohonan seperti bunyi desahan sosok tak berwujud. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada jejak kaki binatang, burung-burung pun sepertinya tidak membuat sarang di puncak pohon-pohon itu. Di sini waktu seolah tidak begitu penting, semua seolah berjalan sangat lamban dan tenang.
Tadi telah dikatakan tidak ada kehidupan di tempat ini, tapi sebenarnya ada. Dua orang laki-laki berjalan perlahan di antara pepohonan sambil memandang berkeliling dengan cemas. Salah seorang dari mereka adalah seorang pemuda yang kira-kira berumur sekitar dua puluhan dan yang lain adalah laki-laki yang sudah agak tua dengan beberapa helai uban di rambutnya. Mereka berkulit hitam dekil, pucat dan kusam dengan rambut dan mata hitam. Mereka juga memakai jubah panjang coklat kusam dan sangat kotor, kalau diperhatikan lebih dekat kita akan melihat bahwa itu adalah bekas darah kering kecoklatan yang entah sudah berapa lama berada di sana.
"Langgi da ka?" tanya yang lebih muda. Suaranya yang melengking terdengar letih dan ketakutan. Dia bertanya pada temannya menggunakan bahasa Lura, bahasa masyarakat pribumi Pulau Salura. Dilihat dari penampilannya, mereka memang orang-orang Halura (bangsa asli Pulau Salura).
"Ndaku pinya a..." jawab temannya yang lebih tua. Dia berkata aku tidak tahu, untuk menjawab pertanyaan temannya yang bertanya dimana kita.
Kemudian mereka mulai berbicara dalam bahasa mereka sendiri tentang kejadian yang mereka alami. Mereka rupanya terpisah dari rombongan, saat terjadi pertempuran melawan beberapa manusia serigala. Mereka juga sudah berjalan sangat lama tanpa tahu hari, arah dan tanpa sesuatu untuk dimakan. Tongkat sihir mereka hilang saat sedang melarikan diri. Selama beberapa waktu mereka telah berusaha bertahan hidup dengan memakan daun-daunan hijau dan meminum air dari batang pohon yang dicungkil dengan batu tajam.
Tanpa sepengetahun mereka sepasang mata berwarna abu-abu perak sedang mengawasi mereka dari antara daun-daunan di atas pohon. Laki-laki itu bertubuh tinggi dengan rambut pirang putih seperti pasir dan berkulit pucat. Kumis dan janggut yang berwarna sama seperti rambutnya tumbuh dengan lebat dan berantakan di atas bibir dan dagunya. Kelihatannya dia sudah berhari-hari tidak bercukur. Pakaiannya adalah kemeja Muggle kotor dengan jeans biru pudar yang penuh noda coklat dan tanah di mana-mana. Dia menatap tajam dua orang yang duduk di bawah pohon besar di sebelah pohon tempat dia berada dan berusaha menangkap apa yang mereka katakan, tapi tak satu kata pun dipahaminya.
Kemudian terlihat gerakan di samping kedua orang itu, seekor ular besar seukuran paha orang dewasa dengan panjang mencapai lima meter sedang merayap dari antara semak-semak di sebelah kiri menuju kedua orang itu. Si ular rupanya telah merasakan darah hangat dari tubuh dua orang tersebut dan dengan gerakan meliuk dia memperpendek jarak. Bunyi desisan menyadarkan dua orang itu dari perbincangan panjang tentang bagaimana agar bisa keluar dari hutan ini. Mereka berbalik dan terpaku dengan mulut terbuka lebar saat memandang si ular besar. Tidak ada suara yang keluar, hanya expresi wajah mereka yang menunjukkan keterkejutan yang sangat. Jarak ular hanya tinggal beberapa centi dari kepala mereka, tapi keduanya tetap tidak bergerak seolah siap menerima apapun yang terjadi. Laki-laki di atas pohon bergerak cepat, melompat dengan menjaga jarak dari si ular, berlari seperti angin dan menikam sesuatu seperti tombak tajam ke kepala si ular. Ular itu mengeluar desisan seperti jeritan kesakitan sesaat sebelum terbujur kaku di tanah berhumus.
Dua orang itu akhirnya bisa mengeluarkan suara seperti dengkuran dan bernafas lega lagi. Mereka memandang laki-laki bermata abu-abu perak itu dengan penuh penghargaan dan terima kasih.
"Kami sungguh-sungguh sangat berterima kasih, Sir," kata laki-laki yang lebih tua dengan bahasa Inggris yang beraksen tajam pada si mata abu-abu perak yang sedang menarik keluar tombaknya dari kepala si ular. Tombak itu terbuat dari sebilah kayu dengan ujung tajam yang sepertinya terbuat dari karang runcing yang sangat tajam.
"Ya... ya... terima kasih banyak, kami mungkin sudah menjadi sarapan... atau makan siang, ya?" kata laki-laki yang lebih muda memandang berkeliling bertanya-tanya apakah hari masih pagi atau siang kemudian melanjutkan, "... ular ini."
Mereka tiba-tiba berteriak ketakutan ketika si mata abu-abu perak menodongkan tombak pada mereka. Mereka saling merapatkan diri di pohon dan saling pandang satu sama lain.
"Siapa kalian?" tanya si mata abu-abu perak dengan tajam, memandang mereka satu persatu.
"Eh, kami... " keduanya saling berpandangan.
"Katakan atau kutusuk kepala kalian seperti aku menusuk ular ini!" kata si mata abu-abu perak lagi dengan ancaman yang sangat jelas di suaranya yang dingin.
"Dengar, Sir! Kami tidak bisa menceritakan siapa kami karena kami tidak mengenalmu," kata laki-laki yang lebih tua.
Si mata abu-abu perak menusukkan tombak sedikit ke kulit leher laki-laki yang lebih tua tersebut sampai mengeluarkan darah. Dia menjerit.
"Ndilu!" jerit si pemuda. "Apa yang kau lakukan?" dia memandang si mata abu-abu dengan tajam.
Orang yang bernama Ndilu itu menatap si mata abu-abu perak sambil meringis kesakitan. "Jauhkan tombakmu dari leherku, Sir, kita akan bicara baik-baik."
Mereka saling bertatapan sesaat.
Si mata abu-abu perak menjauhkan tombaknya.
Ndilu bersandar di pohon dengan lega, dia duduk sambil menyentuh luka goresan di lehernya, yang darahnya telah bercampur dengan darah ular yang masih melekat di tombak itu. Dia berdoa dalam hati semoga darah ular itu tidak beracun, kemudian menyeka darah dengan menggunakan lengan jubahnya. Si pemuda duduk di dekatnya dengan cemas dan menatap si mata abu-abu perak dengan takut-takut. Si mata abu-abu perak berdiri di depan mereka dengan mata bersinar dingin yang bisa diartikan dengan 'aku akan membuat kalian lebih berdarah lagi kalau tidak menceritakan padaku apa yang kalian lakukan di sini'.
"Baik akan kuceritakan... ini bukan karena tombak yang kau todongkan pada kami, Sir, tapi karena kau telah menyelamatkan kami dari ular ini..." kata Ndilu memandang bangkai ular. "Kami orang Halura adalah orang-orang yang sangat tahu berterima kasih dan hutang nyawa adalah hutang yang akan selalu kami ingat seumur hidup kami."
"Tidak perlu basa-basi," kata si mata abu-abu perak dengan tajam.
"Baiklah... namaku Ndilu, dia bernama Mada, kami bekerja sebagai Auror di Kantor Wilayah Salura."
"Auror?" kata si mata abu-abu perak setengah bertanya pada dirinya sendiri seolah kata itu sudah lama pernah didengarnya dan lupa di mana dia mendengarnya.
"Ya, dan kami penyihir... kami dalam sebuah misi dengan beberapa teman kami, tapi dihadang oleh segerombolan manusia serigala ganas lalu kami bercerai berai dan terpisah... kami berdua kabur bersama masuk lebih jauh ke dalam hutan dan tersesat... kami tidak tahu sudah berapa lama kami tersesat."
"Apa yang kalian lakukan di hutan ini?"
"Kami tidak akan memberitahumu, Sir... kau boleh membunuh kami sekarang, tapi kami tidak akan membuka rahasia... kami adalah Auror yang telah disumpah untuk tidak akan membuka rahasia pekerjaan apapun yang terjadi."
"Bagaimana kalau untuk orang yang telah menyelamatkan nyawa kalain?"
"Tidak bisa, Sir... kami benar-benar tidak bisa memberitahu anda."
Mereka saling berpandangan. Si mata abu-abu memberi pandangan peringatan, tapi menyerah ketika dua orang berkulit hitam tersebut tetap memandangnya dengan tegas.
"Baiklah... aku tidak akan memaksa... sebagai balasan karena aku telah menyelamatkan nyawa kalian, kalian harus menjadi pengikutku," kata si mata abu-abu perak dengan sombong, setelah mereka diam cukup lama.
"Dengar, sir... kau hanya perlu memberitahu kami jalan untuk keluar dari hutan ini..."
"Aku sudah berada di sini lama sekali dan aku tidak tahu jalan keluar, jadi tutup mulut dan ikut apapun yang kuperintahkan, aku akan memimpim kita untuk keluar dari sini."
Ndilu dan Mada saling berpandangan. Mereka rupanya tidak bisa menerima dipimpin oleh orang yang tak dikenal, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak tahu menahu tentang hutan ini.
"Dengar! Kita akan bekerja sama untuk mencari jalan ke luar, tapi kalian harus mendengarkan aku... " kata si mata abu-abu, memberikan pandangan tidak bisa dibantah kepada mereka.
"Baiklah, sir... kami akan ikut denganmu, tapi kami belum tahu namamu..." kata Mada, setelah mereka saling bertatapan beberapa lama.
"Aku tidak mempunyai nama," jawab si mata abu-abu perak, memandang melampaui dua orang itu seolah dia tidak ada di sana bersama mereka.
"Apa yang membuatmu berada di sini, Sir?" tanya Ndilu ingin tahu.
"Jangan banyak tanya... sebab aku tidak tahu dan walaupun aku tahu, aku tidak akan menceritakannya pada kalian," kata si mata abu-abu perak berang.
"Oke, Sir, tapi bagaimanapun juga kau harus punya nama, kami tidak bisa selamanya memanggilmu 'sir', bukan?" kata Mada, memandang Ndilu dengan pandangan bertanya.
"Terserah kalian... aku tidak peduli," kata si mata abu-abu perak, memandang tombaknya yang penuh darah ular dengan heran kemudian mengambil sebuah daun lebar di dekat situ dan membersihkan darah ular yang menempel ditombaknya.
"Bagaimana kalau kami memanggilmu 'Silver'... rambut dan matamu berwarna perak, kurasa nama itu cocok untukmu," kata Ndilu setelah berpikir sesaat lamanya.
Mada menjeritkan persetujuan. "Silver... bagus sekali!"
Si mata abu-abu perak memandang mereka kemudian memberikan anggukan setuju. Silver, pikirnya dalam hati, nama itu tidak buruk. Itu lebih baik dari pada tidak bernama. Dia benar-benar tidak ingat apa-apa tentang dirinya sendiri. Pada suatu hari yang cerah dengan desahan angin dan bau udara berhumus, dia terbangun dari tanah tempat dia berbaring, terbangun dengan memori kosong. Dia tidak tahu siapa namanya, di mana rumahnya atau asalnya, dia bahkan tidak ingat mengapa dia bisa berada di tengah hutan dengan tubuh memar-merah dan luka-luka berdarah di seluruh tubuhnya. Selama beberapa hari atau bulan – waktu seolah hilang di tempat ini – dia berhasil menyembuhkan dirinya sendiri dengan daun-daunan yang ditemukan di tengah hutan. Tubuhnya begitu lemah dan kurus, dia sungguh bersyukur karena tidak dijadikan santapan binatang buas. Dia memang tidak menemukan jejak binatang buas di tempat itu, hanya beberapa ular besar dan binatang kecil sejenis kambing gunung dan kelinci. Bintang itulah yang menjadi makanannya sehingga dia bisa bertahan hidup. Dia juga sudah sangat mahir menggunakan tombaknya karena alat itu adalah satu-satunya yang membuatnya bisa bertahan di alam liar itu.
"Silver..." kata Ndilu, mengagetkan Silver yang masih membersihkan tombaknya. "Bagaimana kau bisa membuat tombak itu?"
"Aku menemukan karang ini di sungai dekat tempat tinggalku," jawab Silver, memandang tombaknya.
"Kau punya tempat tinggal? Sudah berapa lama kau di sini?" tanya Mada.
"Sudah lama," jawab Silver singkat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita harus segera kembali ke peradaban," kata Ndilu memandang sekelilingnya, sementara Mada memegang perutnya ketika perutnya berbunyi karena kelaparan.
"Maaf..." katanya.
"Ya... dan kami juga harus makan karena kami belum memakan sesuatu yang layak sejak melarikan diri dari manusia serigala," tambah Ndilu.
"Baiklah... kalian bawa bangkai ular itu dan ikut aku. Kita akan ke tempat tinggalku karena di sana lebih aman dari tempat ini," kata Silver, menjatuhkan daun yang dipakainya untuk menyeka tombak.
"Untuk apa bangkai ular ini?"
"Untuk makan malam kita," kata Silver santai.
Ndilu dan Mada langsung mual.
"Aku tidak akan memakan ular ini," kata Mada protes.
"Terserah... aku yang akan memakannya dan kalian akan mati kelaparan sebelum matahari terbit besok," kata Silver, berjalan menuju bangkai ular hendak mengangkatnya.
"Baik... baik, kami akan membawa ular ini," kata Ndilu, memberi pandangan peringatan pada Mada dan mereka berdua mengangkat bangkai ular itu dengan kejijikan yang nyata.
Silver memandang mereka sesaat, kemudian berjalan menyusuri deretan rapat pohon-pohon. Kelihatannya dia tahu jalan karena Ndilu dan Mada sama sekali tidak tahu harus melangkah ke mana, jadi mereka hanya mengikutinya dan berharap dalam hati Silver membawa mereka ke tempat yang nyaman dan dekat dengan air karena tenggorokan mereka sangat kering dan sakit.
Mereka berjalan sangat jauh, semakin masuk ke dalam hutan. Suasana remang-remang berubah menjadi gelap ketika masuk semakin jauh ke dalam hutan. Ndilu dan Mada tidak tahu apakah ini sudah malam atau sinar matahari tidak mencapai bagian hutan ini. Kaki mereka terasa berat dan sakit, tubuh mereka terasa dua kali lebih letih ditambah beban ular yang sepertinya seberat ribuan kati. Mereka berjalan tanpa bicara karena bicara akan membuat mereka semakin letih. Silver tampaknya tidak peduli dengan keletihan kedua teman seperjalanannya dan terus berjalan dengan kecepatan yang mematikan membuat yang lain tertinggal di belakang.
"Ayolah!" desak Silver, ketika dia melihat Mada dan Ndilu berjalan terseok-seok di belakangnya dan hampir kehilangan arah karena tertinggal jauh.
Mada dan Ndilu berusaha tidak memaki Silver dan menyuruhnya membawa bangkai ular itu. Mereka mengangguk dan berusaha memandang Silver di kegelapan.
"Aku tidak akan bisa melihat arah lagi kalau kalian berjalan seperti itu... sebentar lagi matahari terbenam dan kita mungkin akan bermalam di sini dan memakan daging ular mentah kalau aku tidak bisa melihat arah lagi," kata Silver, memandang keliling hutan yang semakin gelap.
Membayangkan akan memakan daging ular mentah membuat Mada dan Ndilu mempercepat langkah mereka dan berhasil mengimbangi langkah Silver.
Mereka berjalan cepat menyusuri pepohonan tanpa berhenti. Suasana lengang diganti dengan bunyi-bunyian binatang malam yang hendak keluar berburu. Setelah benar-benar sangat kelelahan dan berniat untuk menyerah, Mada dan Ndilu mendengar bunyi aliran air mengalir di kejauhan.
"Apakah itu sungai?" tanya Mada penuh harap.
"Ya, itu sungai... aku juga mendengarnya," kata Ndilu, berusaha memandang jauh di kegelapan.
"Ayolah!" desak Silver, hampir kehilangan kesabaran. Dia memandang keliling hutan dan berusaha memastikan waktu. Matahari sudah benar-benar akan tenggelam.
Mereka berjalan lagi dan tiba di pinggir sebuah sungai yang kelihatan berwarna hitam dalam kegelapan. Mada dan Ndilu memandang sungai itu seperti sebuah permata yang sangat indah dari penyimpanan Goblin. Mereka menurunkan ular di tepi sungai dan berjalan masuk ke sungai untuk minum. Keduanya mendesah puas setelah meneguk air sungai yang dingin.
Sementara Mada dan Ndilu bersenang-senang dengan air sungai, Silver menarik bangkai ular ke arahnya dan mulai mengulitinya, mencucinya, kemudian memotong bangkai ular menjadi tiga potongan besar, cukup untuk makan malam mereka bertiga. Kulit ular dan sisa potongan yang tidak diperlukan dibuangnya ke sungai.
"Ayo!" panggilnya pada Mada dan Ndilu yang masih berusaha menyenangkan diri di sungai. Mereka mendekati Silver dan dia memberikan potongan daging ular pada mereka. Dengan daging ular di tangan masing-masing, mereka berjalan lagi menyusuri titian kecil yang terbuat dari batu-batu cadas tajam dan akhirnya tiba di lahan terbuka yang sedikit lapang. Ada potongan-potongan kayu bekas terbakar di tengah lahan tersebut.
"Letakkan dagingnya di sini," kata Silver, meletakkan dagingnya di atas sebuah daun lebar. Mada dan Ndilu melakukan hal yang sama.
"Bagaimana kau menyalakan api?" tanya Mada memandang Silver yang sedang menyusun ranting dan kayu kering menjadi tumpukan.
"Jangan kuatir soal api, tapi bisakah kalian melakukan sesuatu untuk membantuku?" kata Silver mendelik pada Mada dan Ndilu yang cuma menonton apa yang dilakukannya.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Ndilu, "Walaupun orang pribumi kami sama sekali tidak tahu cara-cara Muggle menyalakan api... kami selalu menggunakan tongkat sihir."
"Ya... keluarkan tongkat sihirmu kalau kau punya... aku juga akan senang jadi tidak perlu menyalakan api dengan batu ini," kata Silver dengan sinis, menunjukkan dua batu hitam pipih.
"Kau akan menyalakan api dengan itu? Apa namanya?" tanya Mada tertarik.
"Tongkat sihir kami hilang, jadi kami tidak bisa menyalakan api... kurasa caramu lebih baik dari pada sama sekali tidak bisa mendapatkan penerangan..." kata Ndilu, lalu berjalan mengumpulkan beberapa ranting dan menambahkannya ditumpukan.
"Nah, Mada lebih baik kau mencari batu-batu yang agak besar dan letakkan di sekeliling tumpukan ini agar apinya tidak menjalar ke mana-mana dan aku akan berusaha menyalakan api..." kata Silver pada Mada.
Setelah Mada pergi, Silver mulai menggesekkan kedua batu hitam kecil membuat percikan bunga api muncul dan hilang. Dia mengesek lagi dengan kuat sambil mendekatkannya pada tumpukan ranting kering. Akhirnya api bisa menyala juga, dia memandang batu itu sesaat dengan penuh terima kasih. Silver sangat bersyukur karena berhasil menemukan dua batu hitam tersebut. Batu itu ditemukannya dalam sebuah goa di hulu sungai. Goa yang tidak terlalu dalam itu merupakan tempat tinggal seekor beruang karena banyaknya kotoran dan jejak kaki beruang di mana-mana.
"Akhrinya..." kata Ndilu, duduk di samping Silver memandang api yang menyala riang.
Setelah menyusun batu mengelilingi api unggun, Mada duduk di samping Ndilu dan mengulurkan tangannya menghangatkan diri.
"Bagaimana kau bisa tahu batu itu bisa mengeluarkan bunga api? Itu kan batu yang dipakai manusia purba Muggle," kata Ndilu memandang Silver sambil mengingat-ingat beberapa buku tentang Muggle yang pernah dibacanya.
"Awalnya aku tidak tahu, aku mengambilnya karena bentuknya aneh kemudian aku merasakan batu itu panas kalau didekatkan, jadi aku berpikir bahwa mungkin aku bisa menyalakan api dari keduanya dan ternyata berhasil," kata Silver. Dia bangun menuju semak-semak dan mematahkan tiga ranting muda tebal dan mencucukkannya pada masing-masing daging ular, setelah itu dia menyerahkan satu pada Mada dan satunya pada Ndilu.
"Kalau tongkat sihirku ada di sini, aku bisa men-transfigurasi daging ini menjadi daging domba atau beef... atau mengadakan makanan yang layak dimakan dari udara kosong," kata Mada memandang daging ular yang dipanggangnya dalam api dengan jijik.
"Kau tidak bisa melakukannya... Makanan adalah salah satu dari lima Perkecualian Prinsip Hukum Gamp tentang Transfigurasi Eksperimental. Maksudnya adalah kau bisa memanggilnya kalau kau tahu dimana letaknya dan kau juga bisa memperbanyak jumlahnya kalau kau sudah punya beberapa," kata Silver tanpa sadar, memutar-mutarkan dagingnya di atas api.
Mada dan Ndilu memandangnya dengan mulut terbuka.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Ndilu.
"Apakah kau juga penyihir?" tanya Mada.
Silver kelihatan kaget. "Entahlah..." katanya, "... aku tidak tahu apa-apa tentang diriku, memoriku hilang."
"Oh..." kata Mada tidak tahu harus berkata apa.
"Kelihatannya bukan karena Jampi Memori karena kalau kau terkena Jampi itu kau akan melupakan segalanya, tapi kelihatannya kehilangan memorimu tidak permanen karena kau bisa mengingat sepotong informasi dari buku Transfigurasi Tingkat Lanjut. Kau mungkin terkena benturan atau apa di kepalamu... kau bisa mengingat siapa dirimu kalau kau berusaha keras. Kami akan membawamu ke St. Honora kalau kita sudah kembali peradaban," kata Ndilu memandang Silver seperti pandangan seorang Penyembuh pada pasiennya.
"St. Honora?" tanya Silver.
"St. Honora adalah rumah sakit untuk luka-luka sihir di pulau ini. Kalau memang kepalamu cuma kena benturan, mereka akan bisa menyembuhkanmu dengan mudah, tapi akan sulit kalau kau terkena Jampi Memori karena harus orang yang memang benar-benar mampu yang bisa mematahkan Jampi itu atau orang yang memberikanmu Jampi itulah yang bisa mematahkannya karena hanya dia yang tahu memori apa saja yang hilang dan memori apa yang telah ditanamkannya kepikiranmu."
"Bukan... menurutku aku bukan terkena Jampi Memori karena Jampi itu tidak menyebabkan rasa sakit di kepala bagian belakang, bukan? Lagi pula aku selalu teringat sebuah flat sempit dengan seorang anak perempuan kecil berambut pirang-putih."
"Anak perempuan?" seru Mada.
"Kalau dia memiliki rambut yang warnanya sama denganmu berarti dia mungkin adalah anakmu," kata Ndilu.
"Ya, aku juga berpikir seperti itu... " kata Silver, mengerutkan kening mencoba mengingat, tapi berhenti karena tikaman rasa sakit kembali menghujam kepalanya. Mengabaikan rasa sakit, dia mengeluarkan daging dari api dan mencicipinya sedikit.
"Apakah sudah matang?" tanya Mada, mengeluarkan dagingnya sendiri dan mencicipinya sedikit.
"Kurasa sudah," kata Ndilu, meletakkan dagingnya di sebuah daun lebar untuk diangin-anginkan supaya dingin.
Silver dan Mada melakukan hal yang sama.
"Aku yakin Penyembuh St. Honara bisa mengembalikan ingatanmu, mereka tidak pernah mengecewakan," kata Mada, memandang Silver yang menganggukkan kepala sedikit.
"Yang harus kita lakukan adalah keluar dari hutan ini, setelah itu kita bisa melakukan hal lain," kata Ndilu memandang berkeliling.
"Apakah kau sudah pernah berusaha keluar dari hutan ini?" tanya Mada.
"Tidak... aku tidak bisa ke mana-mana karena memoriku hilang... aku tidak tahu arah mana yang harus kuambil karena aku tidak tahu di mana aku berada... aku pernah mencoba berjalan menyusuri sungai, tapi aku kembali lagi ke sini karena aku tidak bisa menuruni tebing terjal yang mengelilingi sungai."
"Tadi aku hendak mengusulkan sungai, tapi karena tidak ada jalan, kita harus memikirkan alternatif lain..." kata Ndilu.
"Ceritakan padaku tentang pulau ini," kata Silver, mengambil dagingnya dan mulai merobek sedikit demi sedikit dan memasukkannya ke mulutnya. Ndilu dan Mada juga mengambil daging masing-masing dan memakannya tanpa protes. Mereka mencoba untuk tidak memikirkan bahwa itu daging ular dengan membayangkan bahwa daging itu adalah beef empuk yang enak.
"Salura adalah pulau kecil. Pemukiman penduduknya terletak di bagian timur pulau. Saat ini kita berada di hutan yang bernama Mbulang yang dalam bahasa Inggris artinya lost – hilang – karena menurut kepercayaan para Muggle pribumi, hutan ini adalah hutan tempat tinggal Ma hawurung.."
"Ma hawurung?" tanya Silver.
"Ma hawurung adalah jenis setan yang memiliki kekuatan-kekuatan tertentu, bisa terbang dan sering memangsa manusia, tapi kami penyihir percaya bahwa hutan ini menjadi markas seseorang yang..."
"Hmmm..." Ndilu memberi peringatan pada Mada, yang hampir keceplosan mengatakan tujuan mereka datang ke hutan Mbulang itu.
"Eh... daging ular ini ternyata empuk dan enak, ya," kata Mada memandang dagingnya dengan penuh perhatian.
Silver memandang keduanya dengan curiga. Kehilangan ingatan yang dialaminya membuatnya sangat berhati-hati. Dia sebenarnya tidak percaya pada kedua penyihir pribumi ini, tapi dia memerlukan mereka untuk bisa keluar dari hutan ini. Mereka bisa menjadi kawan seperjalanan meskipun mereka tidak terlalu banyak membantu.
Mereka menghabiskan makan malam masing-masing, setelah itu Silver menambahkan ranting mati dalam api unggun.
"Apakah kita harus membiarkan api terus menyala?" tanya Mada memandang api yang menyala semakin besar.
"Ya... kita tidak ingin binatang liar mengganggu kita saat kita sedang tertidur, bukan?" kata Silver.
"Kita akan tidur di mana?" tanya Ndilu.
"Di sini..." kata Silver, bergerak menuju sebuah pohon besar di belakangnya. Pohon itu memiliki lubang yang bisa dimasuki oleh orang dewasa. Dia menyuruh Ndilu dan Mada masuk lebih dulu kemudian dia sendiri menyusul dengan membawa sebuah potongan kayu yang menyala. Dengan diterangi cahaya remang-remang mereka masuk ke sebuah ruangan bundar yang agak lembab. Di dalamnya terdapat hamparan daun-daunan kering yang dihamparkan Silver di lantai yang dijadikan tempat tidur oleh Silver. Silver menancapkan potongan kayu itu di tengah ruangan kemudian dia mengambil potongan kayu lain dan mulai menguliti kayu itu sehingga mengeluar getah yang langsung diteteskan ke dalam api membuat itu menyala lebih besar seperti obor dalam kegelapan.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Mada memandang potongan kayu yang telah selesai dikuliti dan dilemparkan Silver di lantai ruangan.
"Getah damar," kata Silver acuh. "Getah damar dapat membuat api bertahan cukup lama... carilah tempat yang nyaman dan tidurlah besok kita akan mulai menyusun rencana perjalanan!"
Mada dan Ndilu membaringkan diri di lantai, sedangkan Silver berjalan menuju hamparan daun-daunan yang dijadikannya ranjang. Dia berbaring menatap langit-langit kayu. Malam ini adalah malam terakhirnya di pohon berlubang ini. Keesokan harinya mereka harus berangkat untuk keluar dari hutan ini mencari pemukiman penduduk, setelah itu dia bisa St. Horona... St. Hirana atau apapun namanya itu untuk menyembuhkan kepalanya dan dia bisa ingat lagi. Kemudian kilasan wajah seorang anak perempuan kecil muncul dipikirannya. Ya, dia memang anakku, pikirnya. Dia sangat yakin bahwa anak perempuan itu adalah anaknya karena dia merasakan perasaan sayang yang tak terbendung pada anak itu. Kalau dia punya anak perempuan berarti dia mempunyai seorang istri. Dia mencoba membayangkan seorang wanita berambut pirang putih seperti anak perempuan itu, tapi dia menggelengkan kepala. Tidak mungkin, pikirnya tidak sabar. Istrinya mungkin adalah wanita berambut coklat atau hitam atau merah, tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan pasti. Saat ini mungkin istrinya sedang menunggunya atau dia mungkin berpikir bahwa Silver sudah mati dan sedang menangisinya. Aku harus cepat-cepat keluar dari sini pikir Silver sambil memejamkan mata.
Silver terbangun oleh bunyi gemericik air dibebatuan dan bunyi siulan burung-burung. Tempat ini memang lebih ramah dibandingkan tempat dia menemukan dua penyihir pribumi itu kemarin. Di sini burung-burung berkicau riang dengan santai di atas puncak-puncak pohon, angin juga bertiup riang di sela daun-daun dan lahan yang terbuka itu membuatnya bisa melihat langit tanpa terhalang oleh sederetan pohon. Di sini sumber air, yaitu sungai, sangat dekat sehingga dia tidak perlu mencari air. Silver mendesah dia mungkin akan sangat sedih meninggalkan tempat ini, tempat yang sudah menjadi rumahnya selama hampir sebulan ini, tapi dia harus segera kembali ke peradaban, anak dan istrinya membutuhkannya.
Dia bangun dan memandang Ndilu dan Mada yang masih tertidur pulas di sudut ruangan kemudian berjalan keluar dengan membawa tombaknya. Bekas api unggun yang semalam telah berubah menjadi abu, dia memungut beberapa ranting mati dan mulai menyalakan api lagi. Matahari telah naik cukup tinggi, hampir berada di puncak kepalanya. Mereka rupanya telah melewatkan sarapan, tapi di tempat ini sarapan sama sekali tidak penting, kalau merasa lapar cari makanan dan makan, itulah yang penting.
Silver mengambil tombaknya dan berjalan menuju sungai. Ikan-ikan yang berlompatan riang di air membuatnya dengan mudah bisa menusukkan tombak dari batu besar tempat dia duduk dan menunggu ikan-ikan itu lewat. Tempat yang belum terjamah ini membuat ikan-ikan seolah tidak perlu waspada terhadap pemburu makanan. Setelah mengumpulkan beberapa ekor ikan dia mencucukkannya di ranting muda dan kembali untuk membakarnya di api unggun.
"Wow ikan... harum!" kata Mada yang baru saja keluar dari lubang pada batang pohon dan duduk di samping Silver.
"Mana Ndilu?" tanya Silver, membalikkan ikan supaya matangnya merata.
"Masih tidur..." jawab Mada.
"Kalian keluarga?" tanya Silver memandang Mada dengan teliti, kalau diperhatikan baik-baik, Mada memang kelihatan sangat muda dan sedikit terlalu ceria.
"Tidak... dia adalah pelindungku di Kantor Wilayah Salura... aku baru bergabung dengan Auror tahun ini," kata Mada, memandang ikan yang dibakar Silver dengan kelaparan.
"Berapa umurmu?" tanya Silver mengabaikan pandang Mada dan berjalan untuk mengambil dedaunan lebar dan meletakkan ikan-ikan yang telah matang di atasnya.
"Aku berumur dua puluh tahun November nanti... apakah ikan itu boleh dimakan sekarang?" tanya Mada.
"Bangunkan Ndilu!"
Mada berjalan menuju pohon berlubang dan muncul kembali beberapa saat kemudian bersama Ndilu yang bertampang suram. Silver sudah mengatur ikan-ikan bakar didaun-daunan.
"Makan siang!" kata Silver, mengambil seekor ikan untuk dirinya sendiri.
Mereka makan ikan bakar selama beberapa saat tanpa bicara.
"Kita harus membuat rencana perjalanan," kata Silver.
"Pemukiman di sebelah Timur pulau, jadi kita harus berjalan menuju Timur," kata Ndilu memandang keliling dengan bingung. "Di mana Timur?"
"Matahari biasa terbit dari sebelah sana," jawab Silver, menunjuk pepohonan di sebelah kiri. "Jadi kita harus mengambil jalan itu."
"Kita juga memerlukan makanan dan minuman," kata Mada cemas.
"Kita bisa menyimpang air dalam beberapa bubung bambu yang kusimpan dalam pohon berlubang itu," kata Silver, "... dan kita akan berburu untuk mendapatkan makanan."
Ndilu dan Mada mengangguk setuju.
Silver menghabiskan ikannya dan masuk ke dalam pohon berlubang mengambil lima bubung bambu yang biasa dipakainya untuk mengisi air. Dia menuju sungai mengisi semuanya dengan air sungai dan memberikan semuanya pada Ndilu dan Mada.
Selamat tinggal, kata Siver menatap sekeliling lahan terbuka yang telah menjadi rumahnya selama beberapa minggu ini dengan sedikit sedih. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Kehidupannya di sini adalah masa-masa suram dalam hidupnya, tapi dia bersyukur bisa selamat.
"Ayo berangkat!" kata Ndilu, memikul dua bubung bambu dibahunya.
Silver dan Mada mengangguk. Mereka berjalan menuju sebelah Timur. Mereka tidak tahu ke mana jalan ini akan berakhir, tapi keberanian dan keinginan untuk menemukan peradaban membuat mereka berusaha.
Dia seperti berada dalam suatu aula yang luas. Orang-orang tak berwajah berdiri di sekelilingnya. Mereka berjubah hitam dan memakai topeng tengkorak berwarna putih. Mereka mengeluarkan teriakan-teriakan senang bercampur hinaan yang membuat tubuhnya mengigil. Dia ingin cepat-cepat menyingkir dari tempat mengerikan ini dan dari orang-orang yang menurutnya adalah penjahat yang sedang merencanakan kejahatan. Dia mencoba bergerak, tapi dia tidak bisa. Memandang ke kiri dan kanannya, dia menyadari bahwa dia sedang dipegang oleh dua orang yang tak dikenal yang juga menggunakan jubah hitam dan topeng. Kedua orang itu tertawa memandangnya.
"Mau ke mana, Manis?" tanya salah satu dari mereka dengan suara dimanis-maniskan yang menurutnya sangat menjijikkan.
"Lepaskan aku," jeritnya, "... apa yang kalian lakukan?"
Dua orang itu tertawa lagi diikuti oleh tawa orang-orang di sekelilingnya.
"Diam!" kata seseorang dari kerumunan. Dia memakai jubah berwarna merah seperti darah dan topeng tengkorak dengan warna yang sama. Dilihat dari penampilannya dan cara orang-orang lain memandangnya, rupanya dia adalah pimpinan mereka.
Yang lain langsung berhenti tertawa dan suasana hening menyeramkan.
"Kau ingin tahu apa yang kami lakukan? Ambil tawanan kita!" si pemimpin memberi perintah dan dua orang keluar dari kerumunan menuju pintu aula dan pergi entah kemana. Dia tidak ingin tahu. Dia berdoa dalam hati siapapun tawanan ini dapat menghadapi apapun yang akan mereka lakukan padanya.
"Aku tahu kau akan senang melihat ini..." kata si pemimpin dengan suara licik.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, kau akan segera kecewa kalau mengharapkan aku untuk senang melihatmu menyiksa orang," katanya dengan suara yang dibuatnya seberani mungkin.
Si pemimpin tertawa menyeramkan." Kau akan senang... benar-benar akan senang. Kau mungkin sudah tidak melihatnya selama beberapa minggu ini, bukan? Aku tahu kau sangat merindukannya."
"Siapa...?" dia menggigil kemudian merontak, mencoba melepaskan diri dari dua orang yang memegangnya, tapi sekuat apapun dia berusaha, dia tidak bisa melepaskan diri karena cengkraman dilengannya terlalu kuat.
"Kami membawanya, Tuan," kata salah satu dari dua orang yang keluar aula untuk mengambil tawanan. Mereka telah kembali dan membawa sesosok tubuh lemah yang kemudian didorong ke tengah kerumunan.
Sosok tubuh itu terjatuh dengan bunyi debam keras di dekatnya. Wajahnya terhalang rambut pirang putih seperti pasir, yang panjang dan kotor. Jantungnya berdebar-debar. Dia merasa sangat mengenal sosok ini, seperti sosok dari kehidupannya yang lama dan telah dilupakan, tapi dia tidak yakin. Apakah ini benar-benar dia, bukankah dia sudah mati, pikirnya dalam hati.
"Kulihat kau mengenalnya..." kata si pemimpin dengan seringai sinis.
"Aku tidak mengenalnya," jawabnya mengabaikan debaran jantungnya.
Si pemimpin tertawa sinis. "Berpura-pura tidak mnegenalnya? Bagus... kita lihat apakah kau masih tidak mengenalnya setelah aku..."
"Apa yang terjadi dengannya?" dia memotong perkataan si pemimpin.
"Kau ingin tahu? Lihat ini... crucio!" kata si pemimpin mengacungkan tongkat sihirnya pada sosok itu.
Sosok itu menjerit kesakitan bersamaan dengan jeritannya sendiri. Dia merasakan kesakitan yang sangat, dia lebih baik dibunuh dari pada disiksa seperti ini.
"Hentikan! HENTIKAN!" jeritnya. Rasa sakit berhenti.
Sosok itu tergeletak lagi di lantai dengan wajah menghadap ke arahnya. Dia dapat melihatnya sekarang. Wajah putih pucat dan mata abu-abu perak yang sangat dikenalnya. Mata itu sedang memandangnya.
"Rose..." bisik sosok itu.
"Scorpius..." bisiknya dengan airmata berlinang.
Rose terbangun dengan tubuh berkeringat dan nafas yang memburu. Airmata masih mengalir dipipinya. Dengan gemetar dia menghapus airmatanya dan bangun untuk minum dari kendi kecil yang terletak di atas meja dekat jendela. Kamar, tempat dia berada saat ini adalah semacam bilik kecil yang terdiri dari tempat tidur, sebuah meja dan kursi, juga sebuah lemari di sudut.
Dia mendesah sambil meletakkan gelasnya. Malam ini dia bermimpi aneh lagi. Mimpi aneh tentang Scorpius selalu datang mengganggu tidurnya sejak mereka tiba di tempat ini. Mimpi-mimpi itu sangat aneh dan tidak masuk akal. Dia pernah memimpikan Scorpius yang telah di-imperius oleh X yang tak berwajah dan dijadikan anak buah. Di malam yang lain, dia bermimpi Scorpius, yang entah bagaimana telah menjadi Muggle miskin dan hilang ingatan, dia tidak mengenal Rose dan menyuruhnya menyingkir. Dan mimpinya yang benar-benar menyeramkan adalah mimpinya tentang Scorpius yang tiba-tiba menjadi manusia serigala dan menyerang semua orang termasuk Rose. Sebenarnya masih banyak lagi mimpi lain tentang Scorpius yang sebagian telah dilupakannya. Satu hal yang pasti, semua itu hanya mimpi dan kenyataannya adalah Scorpius telah meninggal. Rose menghapus airmatanya lagi, berjalan ke dekat jendela dan memandang kegelapan di luar.
Saat ini mereka berada di pondok kecil yang dijadikan markas di sebuah hutan yang bernama Mbulang. Pondok itu terbuat dari kayu dan dibuat seperti rumah panggung yang tidak terlalu tinggi. Pondok itu kecil dengan sebuah ruang tamu merangkap dapur dan ruang makan. Kamar tidurnya dua; yang agak besar dipakai Al, Ian dan Pete dan yang lebih kecil dipakai Rose. Kamar mandi terbuat dari tembok batu yang dibangun langsung di tanah dan berjarak satu meter dari bangunan utama. Jarak pondok ini hanya beberapa kilometer dari pemukiman dan mantra perlindungan telah dipasang disekeliling pondok sehingga baik penyihir ataupun Muggle tidak ada yang bisa melihat pondok itu.
Beberapa hari yang lalu mereka tiba dari Inggirs dengan menggunakan Portkey rahasia tanpa melalui Depertemen Transportasi Sihir, Depertemen Kerjasama Sihir International ataupun kantor Imigrasi Muggle. Misi ini telah benar-benar telah dirahasiakan untuk mencegah korban seperti misi pertama. Setelah mereka tiba di pondok, Al bersama Ian dan Pete langsung menyusun rencana perjalanan. Mereka berniat akan langsung berangkat masuk hutan untuk mencari X keesokan harinya. Al memberikan sebuah cermin kecil pada Rose.
"Ini Cermin Dua Arah..." kata Al waktu itu. "Kau bisa menghubungi Markas Auror Inggris dengan ini, Dad menyimpan pasangannya."
"Kurasa Cermin ini tidak begitu penting karena..."
"Rose, Cermin ini penting. Kita tidak bisa mengirim kabar ke Markas pakai burung hantu karena burung hantu bisa dicegat dan kita juga tidak bisa menggunakan Potronus karena jarak dari Inggris dan Samudra Hindia sangat jauh. Jadi kita hanya bisa menggunakan Cermin ini... cermin inilah yang kami pakai untuk saling menyampaikan pesan kalau kami bertugas di tempat yang jauh dari Inggris."
"Oh..."
"Pastikan kau berada di dekat Cermin ini setiap tiga hari sekali. Dad akan menghubungimu."
"Apakah kau telah mengatur arlogimu sesuai waktu tempat ini?" tanya Ian pada Rose.
"Eh... masih waktu Inggris," kata Rose sedikit bingung.
"Aku akan mengaturnya untukmu," kata Ian. Rose menyerahkan arloginya pada Ian yang segera memutarnya dengan cepat kemudian memberikan lagi padanya. Dia memakainya kembali tanpa memperhatikan.
"Menurutku kalianlah yang harus membawa cermin itu," kata Rose, setelah beberapa saat memandang Al, Ian dan Pete yang sedang berdiskusi.
"Kau yang harus menyimpannya Rose karena kaulah yang akan menjaga pondok ini... kami bisa mengirim Potronus padamu dan kau bisa menyampaikan kabar tentang kami pada Dad."
"Al, kalianlah yang memerlukan cermin ini. Aku akan baik-baik saja... pondok ini dilindungi dengan Mantra Fidelius kan?"
"Ya... dan karena itulah, Rose... karena pondok ini terlindungi jadi kami meninggalkan cermin ini bersamamu. Perjalanan kami tidak aman. Kami bisa saja ditangkap dan dibunuh... kami tidak ingin cermin itu jatuh ke tangan musuh."
Apakah mereka datang ke sini hanya untuk mengantar nyawa, tanya Rose dalam hati menggigil menskipun udara terasa hangat.
"Kami akan kembali setelah dua minggu," kata Al, "... atau kalau kami berniat melanjutkan perjalanan, kami akan menghubungimu."
"Kalian akan kemana?"
"Kami akan ber-apparate di tempat mayat Scorpius ditemukan... kami akan memulai pencarian dari sana."
Rose merasakan tubuhnya gemetar. Dia sangat ingin pergi ke sana juga, tapi dia tahu harus ada seseorang yang tinggal untuk menjaga pondok.
"Baiklah..." kata Rose menyerah.
Mereka akhirnya berangkat keesokan harinya meninggalkan Rose di pondok dengan tugas bersih-bersih pondok. Mereka belum menghubunginya lagi sejak itu dan dia juga belum mendapat berita dari Markas Auror di Inggris. Dia mendesah lagi, berjalan kembali ke ranjang dan berbaring. Menatap ke langit-langit kamar dia berpikir bahwa sia-sia saja dia datang ke sini. Hari-hari yang dilaluinya begitu membosankan. Dia juga tidak tahu kapan Al dan teman-teman Aurornya akan kembali. Selama hari-hari menantiannya ini, kadang-kadang dia mendengar langkah-langkah kaki di luar pondok dan potongan-potongan pembicaraan yang tidak dimengertinya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang dalam pondok dan membunuh rasa ingin tahunya.
Suara nafas berat dan suara langkah-langkah kaki beberapa orang berlarian, terdengar sangat dekat dengan pondoknya. Rose terkejut dan ketakutan sesaat, tapi dia menenangkan diri, menyambar tongkat sihirnya dan berjalan ke jendela memandang kegelapan di luar. Dia melihat sosok remang-remang beberapa orang dalam penerangan cahaya suram tongkat sihir. Rose berdoa dalam hati agar Mantra Fidelius pondok itu masih berfungsi.
"Langgi da ya?" terdengar suara seseorang.
"Mana anak itu? Brengsek! Ayo cepat cari! Kalian tidak ingin dijadikan santapan manusia serigala kan? CARI... CARI!" terdengar suara yang bisa dimengerti Rose. Rose mencengkram tongkat sihirnya dan mencoba mengingat beberapa mantra pertahanan yang pernah dipelajarinya di Hogwarts dan saat pelatihan Pemunah Kutukan.
Terdengar bunyi semak yang dikibaskan, bunyi ranting-ranting patah dan makian bercampur umpatan kasar.
"Masuk ke dalam hutan... mungkin dia bersembunyi di sana," terdengar lagi suara perintah. Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki menjauh, rupanya orang-orang itu telah masuk lebih jauh ke dalam hutan.
Rose menghembuskan nafas yang sejak tadi ditahannya. Dia berjalan kembali ke ranjang dan duduk dengan tubuh gemetar. Dia bertanya dalam hati siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan. Dari potongan percakapan yang didengarnya tadi, mereka sepertinya sedang mencari seorang anak dan anak itu harus segera ditemukan kalau tidak mereka akan dijadikan santapan manusia serigala. Apakah ini ada hubungannya dengan X atau ada rahasia-rahasia lain dibalik semua ini. Rose berbaring di ranjang dan berharap semoga pagi segera datang.
Rose bangun dengan pikiran tak menentu, mimpi tentang Scorpius datang lagi. Dia bermimpi Scorpius terdampar di pantai Salura dan ditolong oleh Muggle setempat. Rose mengeluh, semakin hari mimpinya semakin aneh saja. Bisakah dia untuk semalam saja tidak memimpikan Scorpius, sepertinya tidak bisa. Semakin hari pikiran tentang Scorpius memenuhi pikirannya. Rose memandang cahaya matahari yang bersinar di sela-sela dedaunan di luar jendela. Dia berjalan ke luar kamar dan membuka pintu pondok untuk menghirup udara pagi yang segar, saat itulah dia melihat sesosok tubuh kecil tergeletak di beranda sempit di luar pondok. Rose mendekati sosok itu dan mendesah lega setelah merasakan nafas dan nadi sosok tubuh itu. Rose mengangkat tubuh kecil itu dengan mudah, membawanya ke dalam dan membaringkannya di sofa.
Sosok itu adalah sosok tubuh kotor dan dekil dari anak perempuan kecil kira-kira berumur delapan tahun. Dia mengenakan baju seperti dester tua yang sudah usang dan robek-robek di sana-sini, juga sepasang sandal tali jelek yang solnya terlepas. Rose langsung tahu bahwa anak itu adalah anak suku Halura dilihat dari kulitnya yang coklat dan rambutnya yang hitam ikal. Apa yang dilakukan anak ini di dalam hutan, pikir Rose, kemudian menyadari bahwa tubuh anak itu dipenuhi luka-luka goresan. Dia mendaraskan mantra penyembuhan dan menyembuhan luka anak itu
"Inna..." desah anak itu dalam bahasa Lura.
Rose terdiam sesaat, menanti apa lagi yang akan dikatakan anak itu. Namun anak itu tidak bicara lagi. Rose menutulkan tongkat sihirnya di dada kiri anak itu dan dia bergerak. Membuka matanya dan memandang Rose. Rose heran sendiri. Dia membayangkan mata anak itu berwarna hitam seperti malam, tapi mata yang memandangnya saat ini adalah mata berwarna biru gelap seperti samudra luas yang dalam. Anak itu bergerak dengan ketakutan dan berusaha untuk bangun.
"Tidak apa-apa... kau baik-baik saja... aku tidak akan menyakitimu..." kata Rose dengan lembut, berusaha menenangkan anak yang ketakuan itu.
"Kau tidak akan membunuhku?" kata anak itu dengan bahasa Inggris
"Tidak... buat apa aku membunuhmu?"
Anak itu memandang Rose lagi. Mungkin ingin memastikan Rose tidak berubah menjadi wanita berkepala seribu.
"Apakah anda orang baik, Nyonya?" tanya anak itu lagi.
"Namaku Rose... aku tidak tahu apa yang kau maksudkan dengan 'baik', tapi aku tidak punya alasan untuk berbuat jahat padamu."
"Aku..." anak itu tidak melanjutkankan kata-katanya karena perutnya berbunyi dengan keras.
"Aku punya makanan... dan aku tidak akan meracunimu," tambah Rose setelah melihat keraguan di wajah anak itu.
Anak itu berpikir sesaat kemudian mengangguk. Rose mengajaknya ke dapur dan menyediakan sarapan berupa beberapa telur rebus dan secangkir teh. Mereka duduk di meja dapur dan makan bersama dalam diam selama beberapa saat.
"Siapa namamu?" tanya Rose.
"Wulang," jawab anak itu singkat. Dia memakan sarapannya dengan cepat.
"Kau yang dicari orang-orang itu semalam?" tanya Rose, teringat kejadian semalam.
Wulang menatap Rose sesaat. "Kau mendengar mereka?"
"Ya... mengapa mereka ingin menangkapmu?"
"Aku tidak tahu... sepertinya mereka ingin membunuhku, tapi aku melihat pondok ini dan..."
"Kau bisa melihat pondok ini?" tanya Rose kaget, hampir saja dia tersedak telur. Bagaimana dia bisa melihatnya? Bukankah Mantra Fidelius telah dipasang di sekeliling pondok ini, pikir Rose.
"Ya, aku bisa melihatnya... tapi mereka sepertinya tidak bisa melihat pondok ini, mereka pergi begitu saja," kata Wulang, mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kau bisa melihatnya?" tanya Rose lebih pada dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu..." jawab Wulang singkat.
"Apakah kau mengenal orang-orang yang ingin menangkapmu?"
"Tidak... mereka datang ke rumah kami dan ingin menangkapku, tapi Mamu Kahi menyuruhku berlari ke hutan."
"Siapa Mamu Kahi?"
"Dia adalah bibi yang merawatku... dia bekas tetangga kami dulu."
"Mana orangtuamu?"
"Ayah telah meninggalkan kami sejak aku berumur enam tahun, sedangkan ibu baru saja meninggal tiga bulan yang lalu."
"Maaf..." kata Rose, memandang Wulang yang sedang menunduk menatap cangkirnya.
"Tidak apa-apa..."
"Apakah orangtuamu penyihir?"
"Ayahku penyihir, dia orang Inggris. Sedangkan ibuku squib, dia orang Harula... dan aku... aku tidak tahu apakah aku penyihir atau squib karena belum ada tanda-tanda penyihir dalam diriku."
"Pantas saja matamu berwarna biru... ayahmu orang Inggris."
"Ya... mata ayahku biru... dan aku benci mata biru."
"Mengapa?"
"Aneh saja... aku orang Halura dan aku lebih suka punya mata hitam."
"Kau tidak merindukan ayahmu?"
"Tidak... ayah membenciku karena itulah dia pergi meninggalkan kami."
Rose tidak tahu harus berkata apa. Setiap keluarga punya masalah sendiri-sendiri. Bisa saja ayah Wulang pergi karena sedang melakukan sesuatu yang penting atau hal-hal seperti itu.
"Omong-omong, berapa umurmu?" kata Rose berusaha mengganti topik.
"Delapan tahun dua bulan lagi..."
"Yah... kau seharusnya sudah menunjukkan tanda-tanda peyihir sejak berumur tiga sampai lima tahun... memang ada beberapa orang yang terlambat. Mungkin kasusmu seperti itu," kata Rose menenangkan.
"Ya... aku berharap begitu, karena kalau aku belum menunjukkan tanda-tanda penyihir sebelum berumur sebelas tahun aku mungkin tidak akan ke Hogwarts dan bersekolah di sekolah Muggle..."
"Kalian tahu tentang Hogwarts?"
"Ya... Hogwarts adalah sekolah paling bagus di dunia sihir, meskipun kami biasanya bersekolah di Matira."
"Matira?"
"Sekolah Sihir di Sri Lanka, negara yang paling dekat dengan pulau kami," jawab Wulang, memandang tehnya. "Lagipula aku mungkin tidak akan bersekolah di manapun..."
"Mengapa?"
"Tidak ada yang membiayaiku kan?"
"Oh..." Rose tidak tahu harus berkata apa.
"Sudahlah... aku mungkin seorang squib seperti ibu," kata Wulang menghabiskan tehnya.
"Kau akan kembali ke tempat tetanggamu?" tanya Rose.
"Aku tidak bisa kembali... mereka mungkin akan kembali ke rumah Mamu Kahi dan membunuhku... eh, Nyonya... Rose, bisakah aku tinggal di sini? Rumah ini terlindung, mereka tidak akan menemukanku... aku tidak akan merepotkan dan aku akan berusaha semampuku untuk membantumu."
Rose menatap mata biru Wulang yang menatapnya penuh harap. Rose bingung, Al tidak mengatakan apa-apa tentang menampung seorang anak yang hendak dibunuh.
"Baiklah... kau boleh tinggal, tapi kau tidak boleh bilang pada siapapun tentang pondok ini ataupun tentang aku, mengerti?"
"Baiklah!" kata Wulang tersenyum ceria. Senyum pertamanya sejak masuk ke pondok ini, Rose balas tersenyum dan berpikir bahwa mungkin ini adalah tindakan bodoh yang pernah dilakukannya. Al mungkin akan membunuhnya pada saat dia kembali nanti.
Read and Review, please!
Untuk Hahaha yang kecewa, sejujurnya aku juga kecewa berat, Siz. Aku nulis Apa yang Terjadi di the Cannons dengan penuh perasaan (itu fanfic favoritku) juga dengan harapan bahwa Apa yang Terjadi di The Cannons bisa mendapatkan, paling tidak lebih dari sepuluh review karena aku memang punya rencana bikin multichapter Lilysander, tapi kelihatannya peminatnya kurang, fanfic itu cuma dapat delapan review, jadi aku batal nulis Lilysander dan memutuskan nulis Scorose lagi. Aku benar-benar minta maaf karena telah mengecewakan, aku sendiri juga kecewa, Fanfic favoritku ternyata tidak disukai.
TauHumba :D
