Enjoy it!


Chapter 2

"Back to Konoha"


Suara langkah menggema di sepanjang lorong gelap yang lantainya berair. Bunyi tetesan air yang jatuh adalah satu-satunya suara yang mengiringi suara langkah kaki. Terlihat sepasang kaki melangkah dengan pelan menuju suatu ruangan yang luas di ujung lorong. Wajahnya tak terlihat karena tak ada cahaya yang menyinari. Yang pasti, dari postur tubuhnya dia adalah seorang remaja.

"Akhirnya, kau ke sini juga bocah." Suara berat menggema setelah seseorang memasuki ruangan di ujung lorong itu. "Siapa kau sebenarnya?" dia memincingkan mata, melihat dengan teliti setiap inci tubuh remaja di depannya.

Orang yang ditanya tak menjawab. Ia melihat makhluk yang berada di balik jeruji besi besar di depannya. Mata sharinnegan bersinar dalam kegelapan. "Salam kenal, Kyuubi. Tidak, tapi setengah Kyuubi." Orang bertopeng rubah itu menyapa dengan suara datar. Nadanya menyiratkan ketidaktakutan. Postur tubuhnya tegap seakan tak merasa makhluk di depannya mempunyai derajat yang lebih tinggi darinya.

"Jadi kau sudah tahu kebenarannya ya?" Kyuubi terlihat menyeringai. Kesembilan ekornya melambai-lambai tak menentu, menyombongkan siapa dan seberapa kuat dirinya.

"Ya. Sejak insiden penyegelan 17 tahun lalu. Minato membagi chakra Kyuubi mejadi 2 bagian. Setengah chakranya dimasukkan padaku dan sisanya pada Menma. Itulah sebabnya ada 2 Kyuubi yang mendiami 2 tubuh. Dan satu lagi, warna bulumu lebih gelap. Kau adalah perwujudan dari kebencian Kyuubi. Benar 'kan?" tanya Naruto.

"Ya. Aku hanyalah kumpulan chakra gelap yang terlahir dari rasa benci pada manusia." Jawab Kyuubi. Ada sedikit penekanan pada kata manusia. Sepertinya Kyuubi memang sangat membenci manusia.

Naruto tersenyum di balik topengnya. "Kurama, itu namamu 'kan?"

Kyuubi kaget karena pemuda di depannya tahu namanya yang sebenarnya. Kyuubi diam sambil menatap lekat mata sharinnegan Naruto. "Dari mana kau tahu nama itu? dan siapa kau sebenarnya? Aku tahu kau bukan Naruto yang dulu. Aku merasakan sesuatu merasuki tubuh ini." Kata Kyuubi sambil menatap Naruto dengan beringas. Tatapan matanya sangat tajam, ingin mengintimidasi bocah pirang yang selalu tenang jika berhadapan dengannya.

"Aku? Tentu saja aku adalah Naruto … Naruto yang lain." Kata Naruto yang membuat Kyuubi kaget, sekaligus tak mengerti.

Naruto dengan cepat membuka segel jeruji besi di depannya. Kyuubi yang melihat itu langsung membuka gerbang dengan paksa dan meraung keras. Tangannya hendak mencakar Naruto yang melayang di depan. Naruto dapat menghindari serangan pertama Kyuubi dengan berpindah tempat menggunakan Shunsin.

"Kesalahan besarmu adalah membiarkan segel itu terbuka!" teriak Kyuubi. Ada sedikit nada senang karena berhasil lolos dari segel buatan Minato yang mengekangnya selama ini. Kyuubi tinggal harus mengalahkan Naruto agar dapat bebas sepenuhnya.

"Tidak. Itu bukan kesalahan," bantah Naruto tenang.

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"

"Hmm … mengambil chakramu, tentu saja." Jawab Naruto datar disertai seringai kecil yang tak dapat dilihat Kyuubi.

"Grrr! DASAR BOCAH SOK KUAT! KAU BERPIKIR DAPAT MENGALAHKANKU HAH?!" geram Kyuubi marah. Dia lalu menciptakan Bijuu Dama, jutsu andalan para Bijuu.

"Tak akan kubiarkan!" Naruto berteriak lalu membuat 1 segel tangan.

Deg!

Kyuubi merasakan tubuhnya tiba-tiba tak bisa digerakkan. Entah kenapa. 'Genjutsu?' tanyanya dalam hati.

"Dasar makhluk bodoh. Kesombonganmu itulah yang membuatmu kalah. Kau dengan sombong berani menatap mata sharinneganku. Itulah yang menyebabkanmu terjebak dalam genjutsuku." Kata Naruto yang diakhiri dengan tawa.

Gumpalan chakra padat yang tadi dibuat oleh Kyuubi perlahan-lahan pudar. Dia hampir kehilangan kesadarannya. 1 kata terakhir dari Kyuubi, "Sialan!"

Naruto berjalan perlahan menuju tempat Kyuubi. Dia lalu menarik chakra Bijuu ekor 9 itu sampai habis tak tersisa. Chakra berwarna orange gelap itu masuk ke dalam tubuh Naruto dengan sendirinya. Tubuh Naruto berpedar terang, itu dalah Bijuu Mode. Perbedaannya terdapat aura gelap yang mengelilingi seluruh tubuh Naruto.

Naruto menatap Kyuubi dengan kedua mata berbeda itu. Ia melihat tubuh Kyuubi kini kurus. Kedua mata Kyuubi berubah layaknya memiliki mata sharinnegan. "Diam dan tenggelamlah dalam ilusi itu sampai kau dibutuhkan kembali, Kurama."

Naruto menghilang dari ruangan itu. Urusannya sudah selesai. Dia akan kembali sadar di dunia nyata.


"… to!"

"… ruto!"

"Naruto!"

"Bangun Naruto!"

Naruto perlahan membuka mata, pandangannya masih mengabur. Telinganya samar-samar mendengar seseorang memanggilnya. Dia melihat siluet rambut berwarna biru. Saat pandangannya sudah jelas, Naruto melihat Konan yang berusaha membangunkannya. Naruto bangkit duduk. Ia tidur di sofa di kamarnya.

"Aku baru tahu kau susah dibangunkan, Naruto." Kesal Konan.

"Tidak juga. Aku hanya tidur terlalu pulas saja." Sanggahnya acuh sambil menggaruk atas kepalanya yang sedikit gatal. Kesadaran Naruto telah sepenuhnya kembali, ia menatap gadis di depannya. "Kenapa kau bisa masuk ke ruanganku?"

Mulut Konan tak bersuara, ia menyunggingkan senyum tipis. Tangan Konan direntangkan ke depan. Naruto melihat jari-jemari gadis berambut biru itu, lebih tepatnya sesuatu yang menggantung di jari Konan.

"Kau mengambil kunci kamarku?"

"Tidak. Ini hanya duplikat saja." Balas Konan singkat.

"Kenapa kau bisa memilikinya?" tanya Naruto lagi.

"Tentu saja aku memilikinya. Semua duplikat kunci kamar di gedung ini aku miliki. Tujuannya hanya untuk jaga-jaga, tak ada yang khusus."

Naruto menghela nafas. Sekarang dia mengerti kenapa Konan dapat masuk ke kamarnya. Biasanya Konan selalu membangunkan Naruto dari luar. "Ada apa Konan?" tanya Naruto. Jika jam segini ada yang membangunkannya maka Yahiko pasti memiliki misi untuk Naruto.

"Ada misi yang harus kau kerjakan." Jawab Konan.

"Misi apa? Dan apakah kali ini aku memiliki partner?"

"Ya. Kali ini Yahiko memberimu tugas untuk membunuh pemimpin clan Uchiha. Lebih jelasnya temui saja Yahiko, dia berada di puncak bangunan ini." Kata Konan sambil berlalu keluar. Dia diam beberapa saat di ambang pintu. "Hati-hati." Konan pun keluar dan menutup pintu kamar Naruto.

'Semoga saja aku dipasangkan dengan Zetsu.' Batin Naruto lalu memakai jubahnya dan menemui pemimpin Akatsuki.

Yahiko berada di puncak bangunan tempat markas Akatsuki. Dia terlihat sedang menatap awan yang mengeluarkan rintik-rintik hujan. Naruto mendekati Yahiko.

"Jelaskan detail misinya!" pinta Naruto tanpa basa basi.

Yahiko tersenyum tipis. "Kau dan Zetsu akan berpasangan untuk misi membunuh pimpinan clan Uchiha dan mengambil matanya. Pemimpin clan Uchiha bernama Uchiha Fugaku."

"Alasan aku membunuh Uchiha Fugaku apa? Dan siapa klien kita sekarang?"

"Ini bukan misi yang diminta orang lain. Melainkan misi utama Akatsuki. Zetsu putih telah mengawasi Fugaku selama 5 tahun. Dia mengatakan bahwa Fugaku memiliki Mangekyou Sharingan yang dapat mengendalikan Kyuubi. Mata itu dapat berguna untuk kita." Jelas Yahiko tanpa memandang lawan bicaranya.

"Hmm … ini menarik. Lalu siapa yang akan memakai mata itu?" tanya Naruto.

Yahiko perlahan menatap Naruto yang berada di belakangnya. "Aku." Jawabnya singkat dengan seringai tipis tercetak di wajahnya.

"Baiklah, kapan kami memulai misinya?"

"Semakin cepat maka semakin baik."

Bukan Yahiko yang menjawab, melainkan sesosok makhluk yang memiliki 2 warna di tubuhnya. Hitam dan putih. Itu adalah Zetsu. Dia muncul dari balik kegelapan di ujung ruangan.

"Ayo sekarang kita berangkat." Ajak Zetsu hitam lalu menghilang ditelan bumi.

"Ya." Naruto memakai Shunshin untuk mengikuti Zetsu. 'Zetsu, sebentar lagi masa hidupmu akan berakhir. Kau adalah penghalang terbesar untukku.'


2 hari waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Konoha. Mereka kini sedang berada di hutan sambil melihat benteng besar yang melindungi Konoha dari ancaman luar. Beberapa mayat shinobi terlihat tergeletak di sekitar Naruto dan Zetsu. Mayat itu adapah para shinobi yang sedang bertugas untuk mengawasi keadaan hutan perbatasan Konoha. Bagi Naruto dan Zetsu, melumpuhkan 1 kelompok shinobi patroli adalah hal yang mudah.

"Sudah lama aku tak datang ke desa busuk ini," gumam Naruto.

Zetsu yang tak sengaja mendengar ucapan Naruto menoleh. "Benar juga. Aku baru ingat ini kampung halamanmu." Kata Zetsu putih.

Naruto tak membalas perkataan Zetsu. Dia terus melihat benteng Konoha menggunakan mata saktinya di balik topeng rubahnya. "Konoha memiliki kekkai transparan yang melindungi baik dari udara maupun dalam tanah. Cukup sulit untuk menembus kekkai tersebut. Bagaimana menurutmu, Zetsu?"

"Hmm … kita akan melakukan misi pada malam hari. Jangan sekarang. Apa matamu bisa merusak kekkai Konoha?" suara serak itu bertanya pada Naruto.

"Bisa saja. Tapi aku yakin mereka akan sadar jika ada penyusup. Otomatis penjagaan akan diperketat. Itu hanya akan menyulitkan misi kita."

"Bagaimana jika kita menyamar menjadi orang biasa yang hanya singgah di Konoha sebentar untuk istirahat." Saran Zetsu putih.

"Tidak buruk. Aku setuju dengan rencana itu."

"Sudah diputuskan. Kalau begitu ayo kita cari tempat untuk istirahat. Kita akan mengunjungi Konoha malam hari."

Naruto dan Zetsu hendak pergi mencari tempat istirahat, namun langkah mereka terhenti karena mendengar suara rintihan. Naruto dan Zetsu menengok ke belakang, sepertinya masih ada shinobi Konoha yang belum mati.

"Si-sialan kau … Akatsuki!" sungutnya berbicara dengan kesal. Dia masih memiliki nyawa setelah mendapat 3 luka tusukan di perut. Dia memiliki ketahanan tubuh yang bagus.

"Zetsu, sepertinya kau belum membereskan bagianmu." Kata Naruto dengan nada sedikit menyindir rekannya karena tak becus membunuh kawanan shinobi lemah seperti mereka. Zetsu tak cocok jika diberi misi pembunuhan. Itulah yang dipikirkan Naruto.

Zetsu hitam tertawa renyah. "Aku minta maaf. Kau tahu, aku tak terbiasa menjalankan misi pembunuhan seperti ini. Sekarang biarkan aku yang bertanggung jawab."

Zetsu berjalan mendekati shinobi yang masih mempunyai nyawa itu. Di sisi lain, shinobi yang masih diberi waktu untuk hidup berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi kedua musuhnya. Dia sadar tak akan menang melawan mereka. Pikirannya saat ini hanyalah pergi ke Konoha secepat mungkin agar bisa melapor pada atasannya. Tapi sepertinya usaha shinobi itu tak membuahkan hasil. Pergerakannya sangat lambat, dia bahkan tak bisa berjalan normal.

Zetsu yang melihat buruannya hanya menyeringai kecil. Dia cukup terhibur dengan pemandangan ini. Zetsu bagaikan sang predator yang bermain-main dengan mangsanya. Layaknya seekor harimau yang berjalan mendekati rusa yang telah terluka parah. Naruto hanya melihat itu dengan wajah datar.

"Hentikan usahamu yang sia-sia itu!" kata Zetsu putih sambil terkekeh, menyuruh sang musuh untuk menyerah. Perkataan Zetsu putih tak mendapat respon. Shinobi itu terus berjalan sekuat tenaga sambil menyeret kaki kirinya yang patah.

Jarak antara Zetsu dan shinobi itu semakin dekat … dekat … dekat … sampai tak terasa jarak mereka hanya 1 meter.

"Inilah akhirmu." Zetsu merentangkan tangan kanannya. Dari telapak tangannya muncul sebilah kayu yang langsung melesat menuju jantung shinobi itu.

Crash!

"Arrghh!"

Tubuh shinobi itu ambruk. Darah mengucur deras. Dapat dipastikan tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Serangan Zetsu tepat mengenai target sampai jantung itu hancur. Setelah puas melihat tubuh tak bernyawa di depannya Zetsu berbalik dan mendekati Naruto. Mereka lalu mencari tempat istirahat yang aman.

Waktu terus bergulir. Pagi berganti siang, siang berganti malam, kini saatnya Naruto dan Zetsu melakukan misi yang mereka emban. Naruto dan Zetsu telah menyamar menjadi seorang pedagang biasa. Berkat jutsu henge yang dikuasai Naruto, penyamaran mereka berjalan lancar.

Naruto dan Zetsu berjalan santai menuju gerbang utama desa Konoha. Gerbang itu masih terbuka namun dijaga oleh 2 orang shinobi berpangkat Chuunin. Naruto tahu siapa 2 shinobi yang bertugas sebagai penjaga gerbang utama itu, Kotetsu dan Izumo. 2 orang sahabat yang telah lama bekerja sama dalam perkerjaan. Mereka pun memiliki kombinasi jutsu yang lumayan bagus. Kotetsu dan Izumo bukan termasuk shinobi lemah.

"Hoi kalian berdua, tunggu dulu!" Izumo berteriak untuk mencegah Naruto dan Zetsu yang dalam mode henge memasuki Konoha tanpa izin.

"Kemari!"

Naruto dan Zetsu menghampiri pos jaga tempat Izumo dan Kotetsu bekerja.

"Ada keperluan apa kalian datang ke Konoha?" tanya Kotetsu setelah memandang 2 orang pendatang dari luar. Dia sedikit memincingkan matanya.

"Kami datang ke Konoha untuk berdagang sambil mengistirahatkan tubuh yang lelah karena melakukan perjalanan selama berhari-hari." Jawab Naruto dalam wujud henge pria berumur berkumis tebal. Nadanya cukup meyakinkan.

"Tak biasanya ada yang berkunjung ke Konoha malam-malam begini. Bukan maksud mencurigai kalian berdua, tapi beberapa minggu ini banyak penjahat yang memasuki desa dengan modus sebagai pedagang atau petualang. Kebanyakan shinobi Konoha selalu mendapatkan misi yang berkaitan dengan itu." Kata Izumo, menjelaskan situasi dunia shinobi sekarang.

Zetsu yang dalam wujud pria paruh baya beruban hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia tak biasa menyamar seperti ini. Biarlah Naruto yang menyelesaikan masalah ini.

"Ya. Kami juga telah mendengar kabar seperti itu di salah satu desa yang sempat kami singgahi. Tapi kami mohon pada kalian agar diizinkan masuk ke Konoha untuk istirahat. Besok kami janji akan langsung pergi. Bagaimana?" tawar Naruto sambil berakting agar terlihat meyakinkan.

Izumo dan Kotetsu saling pandang. Sepertinya mereka masih belum percaya sepenuhnya pada Naruto dan Zetsu. Memang seharusnya begitu untuk shinobi yang sudah lama bekerja sebagai penjaga gerbang Konoha.

"Tunggu di sini! kami akan berdiskusi sebentar." Izumo berucap lalu mengajak Kotetsu untuk berbincang di ujung ruang pos jaga.

Zetsu memandang Naruto, yang merasa dipandang balik memandang. Naruto mengerti bahwa Zetsu ingin berbincang dengannya, namun tidak dari mulut melainkan dari pandangan mata. Zetsu memandang Naruto yang seolang mengatakan 'Bagaimana kalau kita membunuh mereka saja?'

Naruto membalas pandangan Zetsu dengan raut wajah tidak suka, seakan mengatakan 'Apa kau sudah gila? Membunuh mereka sama saja mengacaukan misi kita!'

'Lalu bagaimana?'

'Diam dan lihat saja!'

5 menit menunggu, Akhirnya Izumo dan Kotetsu mendekati Naruto dan Zetsu.

"Baiklah. Kami akan mengizinkan kalian menginap di Konoha selama 1 malam. Tapi jika kalian ingin tinggal lebih lama besok kalian bisa ke kantor Hokage untuk minta izin. Kalian mengerti?"

"Kami mengerti. Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu kami langsung mencari penginapan terdekat. Terima kasih banyak."

"Ya. Sama-sama. Semoga harimu menyenangkan di Konoha." Balas Izumo dan Kotetsu bersamaan.

Naruto dan Zetsu berjalan memasuki desa Konoha. Mereka kemudian mencari tempat sepi untuk melepaskan henge.

"Tugasmu adalah mencari keberadaan Uchiha Fugaku. Aku mengandalkanmu." Kata Naruto yang sudah melepas hengenya.

"Kehehe … tenang saja. Aku sudah mengetahui keberadaan target kita." Balas Zetsu santai.

Naruto sedikit terkejut mengetahui Zetsu telah melakukan tugasnya dengan cepat tanpa harus diperintah. "Kapan kau mencarinya?"

"Saat kita sedang berbicara dengan kedua shinobi tadi. Aku diam-diam membuat bunshin yang langsung memasuki tanah untuk mencari keberadaan Uchiha Fugaku." Jawab Zetsu putih.

"Bagus. Sekarang di mana dia? Bagaimana keadaannya?"

"Uchiha Fugaku sedang berdiri di depan air terjun yang berada di kawasan komplek Uchiha, dan untungnya dia sedang sendiri."

"Baiklah, ayo kita ke sana!"


Uchiha Fugaku, seorang pemimpin clan Uchiha yang telah memasteri sharingan. Dia terlihat sedang memandang air terjun di depannya sambil bersidekap dada. Postur tubuhnya tegap. Wajahnya datar khas kebanyakan laki-laki Uchiha. Meskipun terlihat sedang menyendiri seperti itu, Fugaku tak melepaskan penjagaan sedikit pun. Chakranya terus mendeteksi jika saja ada musuh yang menyerangnya.

Srek!

Benar saja. Chakranya mendeteksi kemunculan 2 orang yang berada di belakangnya. Fugaku merasakan 1 orang memiliki chakra yang sangat besar, setingkat dengan Bijuu bahkan lebih membuat Fugaku sedikit berkeringat dingin. Fugaku mengaktifkan sharingannya, dia lalu menoleh ke belakang dengan pandangan tajam. Bersiap melancarkan serangan pertamanya, intimidasi.

"Dari atribut yang kalian pakai … apakah kalian dari organisasi Akatsuki?" tanya Fugaku mengenali pakaian khas teroris yang akhir-akhir ini meresahkan desa ninja.

Naruto menatap sharingan merah dengan 3 tomoe yang bersinar dalam kegelapan milik Fugaku itu. "Sharingan, salah satu Doujutsu terhebat yang termasuk dalam Kekkei Genkai. Sharingan erat kaitannya dengan clan Uchiha dan tentu saja … Uchiha Madara." Kata Naruto mengomentari pendapatnya tentang sharingan. Dia tetap tenang meskipun Fugaku mengirimkan hawa intimidasi padanya.

Fugaku memincingkan mata. Sepertinya dia tidak perlu jawaban dari kedua orang di depannya untuk mengetahui bahwa mereka berasal dari Akatsuki. Sedetik kemudian Fugaku kaget karena yang berada di hadapannya sekarang adalah kriminal dengan peringkat S. "Jadi kau yang namanya Hyakuju,"

"Sepertinya kau telah terkenal keh," kata Zetsu putih sambil tertawa pelan. Naruto tak menanggapi ucapan rekannya.

"Aku tersanjung kau mengenali diriku. Tapi itu sia-sia saja karena … kau akan mati di sini."

"Apa tujuan kalian berdua?"

"Tentu saja, mengambil mangekyou sharinganmu yang berharga itu. Hahahah …."

Kedua bola mata Fugaku terbuka lebar. Dia kaget karena musuhnya telah mengetahui bahwa dia memiliki mangekyou sharingan. Satu-satunya orang luar yang mengetahui rahasia ini adalah anak pertamanya, Uchiha Itachi. Lalu kenapa mereka bisa mendapatkan informasi rahasia itu? apakah Itachi yang membocorkannya? Ah tidak tidak! itu tidak mungkin! Itachi bukan orang seperti itu.

'Ini buruk. Jika berhadapan dengan mereka akan sulit. Seseorang yang bernama Hyakuju memiliki chakra besar. Aku harus berhati-hati padanya. Berbanding terbalik dengan rekannya yang memiliki kapasitas chakra biasa. Aku bisa dengan mudah membunuhnya. Yang harus kuwaspadai adalah Hyakuju.' Batin Fugaku menganalisis keadaan.

"Ayo kita mulai, UCHIHA FUGAKU!" teriak Naruto semangat.

Uchiha Fugaku merangkai segel tangan dengan cepat. 2 detik kemudian keluar bola api dari mulutnya yang berukuran besar.

Katon: Goukayuu no Jutsu

Sebuah jurus berelemen api khas clan Uchiha telah dilontarkan Fugaku. Itu serangan keduanya. Mata sharingannya bergerak ke sana-sini guna memprediksi gerakan lawan selanjutnya. Bola api yang ditembakkan Fugaku dapat dihindari oleh Naruto dan Zetsu, mengakibatkan beberapa pohon yang berada di belakang terkena imbasnya. Pohon-pohon itu terbakar sampai gosong.

"Hampir saja. Sepertinya aku terlalu meremehkan pemimpin clan Uchiha." Kata Zetsu putih.

"Zetsu! Kau diam saja di belakang. Pertarungan bukan keahlianmu. Kau lakukan apa yang kau bisa saja. Biar masalah ini aku yang tangani!" kata Naruto agak keras karena jarak antara dirinya dan Zetsu cukup jauh.

"Dasar tukang perintah! Tapi baiklah." Zetsu lalu mundur ke belakang mengikuti intruksi Naruto.

"Hn. Kau terlalu meremehkanku Hyakuju. Apa kau yakin dapat mengalahkanku jika hanya dirimu sendiri yang maju?" Fugaku meremehkan Naruto.

Begitulah sifat kebanyakan Uchiha, sombong. Selalu memandang remeh orang lain dan merasa diri sendiri yang terhebat. Uchiha adalah orang yang memiliki kasih sayang melebihi Senju, namun kasih sayang itu akan berubah kebencian jika orang yang disayangi berkhianat. Sepertinya Naruto beruntung dulu dia tidak dilahirkan dari keluarga Uchiha. Mereka terlahir menjadi orang hebat namun disaat yang bersamaan kutukan selalu mengintai mereka, kutukan itu dinamakan kebencian, keangkuhan yang akan menuntun mereka ke jurang kegelapan.

Naruto sadar dia tidak bisa mengatakan semua itu, melihat kondisinya yang diliputi kebencian. Tapi memang seperti itulah pendapatnya.

"Justru aku yang harus berkata seperti itu. Apakah kau mampu mengalahkanku jika hanya seorang diri? Kau tahu, dari segi manapun aku jauh lebih unggul." Balas Naruto tak mau kalah.

Nadi Fugaku berdenyut kencang. Dia kesal karena perkataan musuhnya. Sepertinya rencana untuk memancing emosi lawannya gagal total. Hyakuju bukan orang yang mudah terbawa emosi hanya dengan dipanas-panasi menggunakan kata-kata. Tak ada pilihan lain bagi Fugaku selain dengan menyerang lawan menggunakan jutsu.

Fugaku menghilang dari tempatnya berpijak. Dia muncul tiba-tiba di belakang Naruto dengan sebilah kunai yang siap menggorok leher Naruto.

'Matilah!' batin Fugaku dengan seringai tipis.

Crash!

Bofh!

Mata Fugaku melebar. Musuh yang diserangnya hanya sebuah bunshin, bukan tubuh asli. Padaha dia yakin bahwa Naruto yang berhadapan dengannya adalah Naruto asli. Tapi kenapa matanya tak dapat melihat semua itu?

'Sial aku tertipu!'

Fugaku mengedarkan pandangannya ke segala arah. Depan, tidak ada. Kanan, kosong. Kiri, tidak ada. Belakang, tidak ada. Bawah, juga tidak ada. Hanya satu arah yang belum dia periksa dan Fugaku yakin Hyakuju berada di sana, di atasnya.

Shuriken Kage Bunshin no Jutsu

Naruto melemparkan 1 buah shuriken lalu digandakan menjadi berpuluh-puluh yang mengarah cepat ke Fugaku. Dalam pandangan mata sharingannya, Fugaku memprediksi luas serangan Naruto sebesar 10 meter. Tidak ada celah untuk menghindari semua shuriken dalam luas lingkup tersebut. Satu-satunya jalan hanyalah menghindar. Fugaku harus cepat bergerak jika tidak ingin terlambat.

Trak trak trak!

Seluruh kunai Naruto hanya menancap di permukaan tanah. Fugaku berhasil menghindar 1 detik sebelum shuriken mengenai kepalanya. Refleks yang dimiliki Fugaku tak dapat dipandang sebelah mata.

Naruto mendarat dengan mulus di antara tumpukan Kunai yang mengelilinginya. Jaraknya dengan Fugaku sejauh 15 meter.

"Tak ada pilihan selain menggunakan kekuatan mangekyou sharingan." Gumam Fugaku lalu memejamkan mata. Sedetik kemudian iris matanya telah berubah bentuk.

Sebuah mangekyou sharingan bersinar dalam kegelapan, menari di bawah rembulan, beraksi di atas kekuatan. Targetnya tak lain adalah Naruto seorang.

To Be Continued


AN: Sampai di sini saja dulu. Chapter depan akan menampilkan Naruto vs Fugaku. Nantikan saja! Update selanjutnya antara fic GOLD EMPEROR atau Naruto: One Piece. Tunggu saja.

Terima kasih yang sudah me-review chapter 1. Jangan lupa review yang banyak di chapter ini!

Indra Kusuma