Okay, this is one of the payments for my fics update debts, well, there's still a lot left to be erased.. but, since this is for Kay-chan, then I put it as a priority..
Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei
Genre: Semi-romance, Friendship, Drama, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, etc
Rate: K+, well, just for safety even this chapter could also be read by younger children,
Pairing(s): still no pairing for this chapter, but might change in later chapter...
Warning: Female Kurapika, OOC-ness, typo(s), perhaps, gloomy scenery, AU, implicit pairing etc
I accept no silent reader, you read, you review
Alice in Chains
Chapter Two—Snowdrop and Butterflies on Winter Days
Kurapika masih mengingat dengan jelas hari ketika sang ayah memburunya dan ia secara tidak sengaja tersesat di dalam hutan terlarang, yang kemudian mempertemukannya dengan mansion Lucilfer dan penghuninya yang bernama Kuroro Lucilfer.
Satu bulan sudah berlalu sejak ia pertama kali menginjakkan kaki didepan pintu mansion ini, dan satu bulan kurang satu hari adalah waktu dimana Kuroro menyatakan kalau ia boleh tinggal bersamanya, sebagai seorang adik.
Pada mulanya semua hari berlangsung begitu lama, lantaran Kuroro kembali menyibukkan diri dengan tenggelam diantara buku-buku koleksinya di ruang perpustakaan sementara Kurapika belajar mengurusi segala urusan rumah, mulai dari memasak makan pagi, siang, dan malam, hingga membersihkan seluruh ruangan yang dirasa kotor olehnya.
Kuroro sendiri tidak habis pikir bagaimana gadis sekecil itu tidak pernah kelihatan lelah dan senyuman manisnya meski ia telah bekerja keras mengurus rumah besar ini seorang diri.
Sejumput rasa simpati sempat terbersit dalam pikirannya mengingat ia sedang mempekerjakan seorang gadis kecil yang baru saja diangkat adik olehnya, tapi tak lama kemudian sang pemuda menepis pemikiran itu, dengan mengingat bahwa sebenarnya keberadaan rumah ini tidak boleh diketahui oleh siapapun, maka dari itu ia selama ini tidak pernah berpikir untuk menyewa pekerja untuk mengurus rumahnya, tapi kemudian gadis kecil ini datang di suatu malam berbadai, gadis yang sudah dibuang oleh keluarganya sendiri, sehingga kecil kemungkinannya ia ingin pulang kembali atau sekadar pergi dari sana, karena itulah ia memutuskan untuk membiarkannya tinggal dirumah ini bersamanya.
Saat ini keduanya terlihat sedang menghabiskan waktu diruang perpustakaan, tentu saja Kurapika sudah selesai dengan urusan rumah.
Wajah gadis itu terlihat serius saat menelaah sebuah buku bacaan yang ada didepan hidungnya, sementara Kuroro tampaknya lebih tertarik untuk mengamati gadis itu ketimbang menghabiskan buku bacaannya sendiri.
Tak lama berselang Kurapika sepertinya mulai kelihatan lelah membaca, iapun menutup bukunya sebentar dan memejamkan kedua mata birunya.
Lalu sang gadis menaruh buku yang tadi dibacanya keatas meja yang berada dihadapannya dan memutuskan untuk beralih pada jendela kaca dibelakangnya, Kuroro, yang sebentar tadi telah kembali membaca, merasa tertarik dengan apa yang dilakukan gadis itu dan mengamatinya sekali lagi.
"Onii-sama, aku melihat snowdrop!", seru Kurapika dengan nada yang terdengar gembira, mengira kalau Kuroro masih sibuk dengan bukunya, sehingga ia berseru untuk mendapatkan perhatiannya,
"Oh", sahut Kuroro singkat dengan suara baritonnya yang terdengar datar, meski matanya tidak beralih dari gadis kecil berambut pirang itu.
Mata biru Kurapika terlihat bersinar-sinar saat tertuju pada bunga-bunga dibawah sana, iapun naik keatas jendela itu untuk melihatnya lebih jelas,
"Onii-sama, bolehkah aku turun dan melihatnya..", pinta gadis itu setengah merajuk, Kuroro segera menurunkan pandangannya kearah buku bacaannya saat gadis itu menoleh padanya,
"Ya, tentu", ujar sang pemilik mata onyx itu datar, ia sendiri tidak tahu bagaimana seoranga gadis kecil yang tidak benar-benar jelas asal-usulnya dan baru datang sebulan yang lalu bisa membuatnya sampai seperti ini, begitu tertarik, seakan gadis itu menyebarkan hawa kehangatan yang begitu asing, sampai-sampai bagian dingin dalam hati pemuda itu mengiba padanya agar ia jangan sampai terhapus, karena kehangatan yang terpancar dari gadis kecil itu.
Kuroro sadar ia bisa luluh dan kehilangan keinginannya sebagai seorang kriminal jika ia terus berada dirumah bersama gadis kecil yang rambutnya sewarna mentari pagi dan matanya seperti sepasang kristal aquamarine itu, oleh karenanya ia memutuskan untuk membuat sebuah misi untuk Genei Ryodannya, dimana ia ikut serta didalamnya, ia tahu menjauh dari gadis ini adalah jalan terbaik untuk menghindari pancaran-pancaran kehangatan yang berpijar dengan lembut darinya, karenanya, meski ada sedikit perasaan berat untuk meninggalkan sang gadis sendirian di mansion besar itu, ia tetap pergi.
"Kurapika, aku ada urusan selama beberapa minggu", katanya suatu hari pada saat mereka sedang makan malam, Kurapika terlihat menenggak ludahnya dan terdiam selama beberapa saat,
"Hn...baiklah", ujarnya sendu, binar-binar dimatanya terlihat memudar saat mendengar berita barusan, dan sepertinya ia memaksakan diri untuk sekadar menjawab 'baiklah',
"Kapan Onii-sama akan berangkat?", imbuhnya kelu, Kuroro mendengar hawa kesedihan dalam suaranya,
"Dua hari lagi", sahut Kuroro datar, Kurapika terlihat menghela nafasnya,
"Oh", ia menjawab sambil memasukkan potongan steak yang menjadi santap malam mereka hari itu.
Sinar matahari menyapa ruangan tempat gadis itu terlelap, tapi tampaknya sang gadis masih lelah sehingga ia tidak bangun.
Seorang pemuda berambut hitam terlihat menyusuri lorong-lorong mansion dan bergerak menuju kamar tidur gadis kecil itu, ia membuka pintunya perlahan, dan melihat sesosok gadis kecil terlelap dengan damai diatas ranjang miliknya, ia tersenyum datar,
"Maaf, Kurapika, tapi aku harus pergi hari ini", ujarnya pelan, setengah berbisik, dengan posisi masih di dekat pintu yang terbuka itu, sang gadis tidak merespon, ia membiarkannya dan beranjak pergi.
Selama perjalanan menuju Ryuusei-gai, Kuroro memikirkan tindakan-tindakannya, yang membuatnya bingung sendiri, karena ia tidak pernah sedikitpun merasa berat meninggalkan siapapun sebelumnya, kecuali gadis ini, ditambah pemikirannya tentang alasan kata 'Maaf' yang disampaikannya pada Kurapika, benar-benar tidak sesuai dengan dirinya selama ini.
Kurapika membuka kedua bola mata aquamarinenya, dan terkejut mendapati hari telah beranjak siang.
Gadis itu menoleh pada daun pintu yang terbuka, ia tahu apa yang terjadi dalam tidurnya,
kenapa dipercepat? Onii-sama.., batinnya sedih, mengingat mansion ini begitu sepi untuk seorang gadis kecil seperti dirinya, maka gadis itupun memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaiannya, ya, kira-kira dua minggu setelah ia diangkat adik oleh sang pemuda Lucilfer, ia dibelikan beberapa stel pakaian perempuan, dan meskipun Kurapika adalah gadis tomboy yang lebih suka pakaian laki-laki—seperti yang diberikan Kuroro dihari kedatangan gadis ini—ia menerima pemberian kakaknya itu dengan wajah cerah, dan senang hati.
Kurapika memandangi dirinya sendiri dicermin perak yang tergantung dihadapannya, disana terlihat seorang gadis kecil dengan pakaian laki-laki kecil yang membuat ia terlihat seperti anak laki-laki, ditambah rambut pirangnya yang pendek, membuatnya tidak terlihat feminin sama sekali.
Pada hari-hari lain saat Kuroro sedang dirumah, Kurapika akan dengan senang hati mengenakan pakaian ala gadis-gadis kecil pada umumnya, tapi bila Kuroro sedang tidak ada, ia akan mengenakan pakaian laki-laki yang menurutnya lebih nyaman, bagaimanapun selama ini ia lebih terbiasa hidup dan berpakaian selayaknya laki-laki.
Kurapika berjalan-jalan kesekeliling mansion itu, ini kali pertama ia akan ditinggal untuk waktu yang lama, sehingga ia harus mulai mencari aktifitas untuk mengusir kebosanan selain dari membersihkan mansion ini.
Matahari telah tergelincir dari titik zenith saat Kurapika selesai membersihkan mansion itu, iapun telah makan siang, dan sekarang sedang duduk disalah satu sofa diruang tengah itu, sebuah buku berukuran sedang berada ditangannya.
Kurapika menutup buku itu tak lama kemudian, menghela nafas sambil menutup mata dan berujar pelan,
"Onii-sama...kau akan pulang kan?", ia memandang lirih pada langit-langit mansion yang jauh tinggi diatas kepalanya itu.
Gadis itu lalu beranjak dari sofa berukuran besar itu dan berjalan menuju pintu, tapi matahari sudah tergelincir cukup dalam dan ia khawatir tidak dapat pulang tepat waktu sebelum malam tiba pada hari ini sehingga ia memutuskan untuk tidur dulu, dan memulai eksplorasinya esok hari.
Gadis itu membuka matanya pagi itu, dan baru sadar kalau ia tertidur disofa besar, ia mengusap-usap matanya, mencoba menajamkan penglihatannya,
aku akan memulai eksplorasiku hari ini, batin gadis berambut pirang itu, ia segera mempersiapkan kebutuhannya dan segera beranjak keluar rumah begitu matahari menyapanya.
Kurapika berjalan menyusuri jalan-jalan yang pernah dilaluinya saat berlari dari kejaran anak buah ayahnya yang hendak membunuhnya, ia tersenyum getir mengingat apa yang terjadi pada malam itu, juga dua hari sebelumnya, saat sang ayah mengetahui kebenaran tentang dirinya, dan berniat membunuhnya.
Lamunan Kurapika terusik saat ia mendengar suara yang terdengar kurang familiar menyapa telinganya,
"Ha-hallo", sapa suara itu, Kurapika pun menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berambut hitam, matanya berwarna kecoklatan dan memancarkan aura hangat yang polos,
"Hallo", sahut gadis berambut pirang itu, anak berambut hitam itu terlihat sangat ramah,
"Siapa namamu?", imbuh gadis itu, ia memutar tumitnya agar bisa menghadap anak itu, dan tanpa disadarinya, ia telah tersenyum,
"Namaku Gon, salam kenal kakak", kata anak itu, Kurapika tersenyum mendengarnya, sebelum ia menyadari bahwa ia sudah berjalan cukup jauh dari rumahnya, sebab kini ia telah menapakkan kakinya diatas sebuah lingkungan perumahan, yang nampaknya berada cukup jauh dari mansion Lucilfer,
"Aku Kurapika, salam kenal Gon", ia menjawab dalam senyuman manisnya,
"Gon! Rupanya kau disini ya?", seru sebuah suara yang ternyata dimiliki oleh seorang wanita berambut coklat kemerahan dengan mata hijau,
"Bibi Mito, kenalkan, ini Kurapika", kata Gon mencoba memperkenalkan Kurapika pada bibinya, Mito tersenyum ramah,
"Hallo, Kurapika, aku Mito, bibinya Gon", sapa perempuan bermata hijau emerald itu, Kurapika ikut tersenyum ramah padanya,
"Dimana orangtuamu Kurapika? Apa mereka tidak mencarimu?", tanya Mito lembut, Kurapika tersenyum simpul mendengarnya,
"Aku tinggal bersama kakakku, dan dia sedang pergi jauh, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan", paparnya tenang, ia sepertinya harus terbiasa dengan keterangan baru tentang dirinya ini,
"Oh, begitu rupanya, memangnya, berapa usiamu?", tanya Mito lembut, aura keibuan terpancar darinya, Kurapika sempat terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan padanya itu, ia mengenang sang bunda yang sangat sayang padanya, dan menjaganya dengan begitu baik, sehingga hampir menetes airmata yang menggenang di sudut matanya, namun ia segera menepis perasaan itu dan menatap lurus pada mata emerald dari wanita itu,
"Usiaku 9 tahun, Nyonya", katanya sopan, Mito terkesiap,
"Eh, tidak perlu begitu, panggil saja aku bibi, ya?", katanya meyakinkan gadis itu, Kurapika tersenyum malu,
"B-baiklah, b-ibi", ia mengucapkannya pelan, wajahnya bersemu merah muda, meskipun batinnya senang sekali,
"Ah, kakak 9 tahun ya, aku dong baru 4 tahun", celoteh anak bernama Gon itu, Kurapika mengangkat alisnya terkejut, namun tak lama kemudian bibirnya mengukirkan sebuah senyuman tipis.
Kurapika lalu menerima undangan Mito untuk minum teh sebentar dirumahnya, lalu ia pamit pulang sebelum matahari tergelincir jauh, hanya beberapa derajat dari titik zenith-nya.
"Hari ini...menyenangkan sekali", gumamnya malam itu, diatas ranjangnya sendiri, sesaat sebelum ia kembali terlelap.
A/N: Gyaaaa! update at last! it's kind of hard to updated since my siblings always demand me to play sims and stop writing or playing with facebook, oh GOD! it so frustrating...
see you in the other fic~
Happy Reviewing...
