"Sasuke! Woy Sasuke!"

Sasuke berdecak namun nggak juga ngehentiin langkahnya. Siapa yang pagi-pagi berani mengganggu ketenangannya. Nggak tahu apa, kalau moodnya lagi buruk hari ini?

"Sasuke budeg! Denger gak sih lo?!"

Saking keselnya, akhirnya keluar juga tuh kata-kata ajaib yang sukses ngehentiin langkah tu cowok raven. Aura hitam kegelapan memancar dari tubuhnya. Ia menoleh cepat dan menatap garang si pelaku yang lagi lari-lari ke arahnya.

Naruto.

Siapa lagi pemilik suara cetar membahana badai, kalau bukan tu cowok kepala durian. Ia berhenti tepat di hadapan Sasuke dan menatap kesal padanya. Di sebelahnya, Hinata yang ngos-ngosan karena ikut ngejar dia, masih sibuk ngatur nafasnya.

"Lo baru ditinggal tiga hari sama Sakura aja udah jadi budeg gini, Sas?! Ditinggal setahun udah jadi gila kali ya lo?!"

Naruto mencak-mencak di hadapan Sasuke yang juga nggak mau kalah masang wajah betenya. Hey, harusnya dia yang marah dong. Udah tahu dia lagi galau karena Sakura yang bolos kuliah tanpa kabar, malah dipanggil budeg. Siapa yang nggak marah coba!

"Maksud lo apaan?!"

"Sudah...sudah~"

Sasuke mencengkeram kerah Naruto dan bermaksud buat nonjok, kalau saja Hinata tidak ngelerai mereka.

"Duh Gusti~ Kalian ini piye to? Ini bukan waktunya berantem~"

Hinata menatap wajah Naruto yang kini tampak sedikit melunak karena ucapannya. Segera saja cowok pirang itu menoleh menatap Sasuke yang masih masang wajah kesalnya.

"Gue tadi lihat Sakura berangkat ke kampus sama cowok rambut merah, anak Seni Musik. Tadinya gue gak mikir macem-macem. Tapi gue baru tahu dari Hinata kalau tu cowok tunangannya Sakura."

Sasuke melotot dan spontan natap tajam ngancem ke Hinata yang otomatis kaget dapat pelototan dari si 'juragan es'.

"Maksud lo apaan!"

Bentakan Sasuke yang langsung membuat Hinata brambang dan mewek takut.

"Hiks.. piye to? Kok aku sing dimarahin? Wong aku cuma ngasih tahu curhatan Sakura aja~ hiks..."

Alamak! Salah deh ngomong kasar sama Hinata.

"Woy Sasuke, jangan kasar-kasar dong sama Hinata."

Dalam hati, Sasuke ngelus dada minta kesabaran lebih buat ngadepin ni cewek satu.

"Emang Sakura ngomongnya gimana sama kamu?"

Demi langit dan bumi, Sasuke pengen muntah denger nada bicaranya sendiri yang 'manis manja' kayak gini. Tapi nggak papalah. Demi informasi tentang sang pujaan hati, apapun akan ia lakukan. Hinata mulai menghentikan sesenggukannya dan natap Sasuke takut-takut.

"Kata Sakura cowok itu Pariban*nya. Namanya Gaara Rei Saragi. Anak budhe*nya Sakura."

Sasuke bengong gagal paham dengan istilah-istilah aliennya si Hinata. Namun keterangan Hinata selanjutnya membuatnya bagai tersambar gledek.

"Aku ndak begitu paham maksudnya Sakura~ Tapi kayaknya mereka dijodohin deh."

.

.

.

.

.

.

.

Ayah Kamu...?

Naruto milik Masashi Khisimoto Sensei

Ayah Kamu...? punya Yeo yo chan

Boleh di copy ga boleh di paste

Genre : Humor/Romance

Pairing : Sasuke Sakura

Rate : T deh

Warning : Bahasa non baku, humor gagal, culture konten, etc.

Fic ini tidak mengandung maksud apapun dan tak berniat menyinggung pihak manapun...

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kalo ada kesamaan crita, plot, dan alur itu hanya kebetulan semata. Tapi kalau ada kesamaan nama, tempat, judul dan sifat itu memang disengaja wkwkwk

.

.

.

.

.

Sasuke menatap dua orang yang lagi bermesraan –menurut pandangan matanya– di depannya saat ini, dengan emosi yang campur aduk. Antara marah, greget, nelangsa, dan nggak percaya. Di lihat dari sudut manapun, dirinya jauh lebih ganteng maksimal daripada tu cowok berambut cabe-cabean bertampang preman, yang lagi bareng sama Sakura. Lihat aja tuh mata berliner item tebel sama tato di jidatnya. Kok mau-maunya sih si Sakura tunangan sama orang model macam itu.

Dia udah berusaha nahan diri karena wanti-wanti dari Naruto untuk nggak buat keributan. Atau berusaha tabah karena wejangan dari Hinata, saat Sakura nyuekin dia seharian ini. Bagaimana nggak kesel coba?! Kemarin tu cewek marah-marah nggak jelas, abis tuw ngebentak dan nyuruh ngerjain tugasnya, trus tiga hari ninggalin Sasuke tanpa kabar. Sekarang apa lagi coba?! Bawa cowok lain dan mesra-mesraan di depan dia? Pake acara tunangan segala.

Dan ini adalah batas maksimum dari level kesabaran Sasuke, saat matanya kini ngelihat tu cowok cabe-cabean, ngebisikin sesuatu di telinga Sakura dengan mesra –menurut pandangan matanya.

Brak!

Satu isi kantin kaget massal karena gebrakan meja ulah si 'juragan es'. Tak terkecuali si rambut gulali, si cowok cabe-cabean, juga Naruto dan Hinata yang duduk di sebelahnya.

"Woy Sasuke! Lo mau ngerebut warisan gue dengan ngebunuh gue?! Bikin jantungan aja lo!"

Menggubris semprotan Naruto, sang cowok raven langsung berjalan cepat dengan sorot yang tajam ke arah cewek gulali yang kini menatapnya resah. Mengacuhkan si cowok cabe-cabean yang menyipit menatapnya.

"Maksud lo apa?!"

Desisan itu terdengar setelah Sasuke berdiri persis di depan Sakura. Membuat sang gadis nelen ludahnya gugup. Cowok merah di sampingnya spontan maju menghalangi Sasuke, setelah ngeliat sorot resah di mata sang cewek. Mungkin karena insting jantannya kali ya?

"Siapa kau? Apa perlu kau sama Sakura?"

Sasuke langsung menoleh natap ngancem ke cowok cabe-cabean, yang sayangnya nggak mempan sama sekali sama tu cowok. Makin kesel aja Sasuke dibuatnya. Naruto yang khawatir, datang mendekat, siaga satu kalau-kalau terjadi keributan.

"Urusan gue sama Sakura! Bukan sama lo."

Si cowok cabe-cabean spontan mencengkeram kerah Sasuke dan natap sangar si cowok raven.

"Bah, berani kali kau sama aku! Sentuh Paribanku, retak dada kau kubuat!"

Gila mamen! Tu cowok tampang dan kelakuannya udah kayak dewa pencabut nyawa aja. Dari logat-logatnya sih kayaknya tu cowok satu spesies sama si Sakura. Naruto meringis dibuatnya. Sementara Sasuke menyipit waspada.

'Mampus lo, Sas. Muncul dah tu satu Gorila lagi!'

Satu Gorila berambut pink nyentrik aja udah berabe urusannya. Apalagi nambah satu lagi. Naruto nyengir berkeringat dingin memikirkannya. Daripada kena getahnya, akhirnya si cowok rambut durenpun memilih ngibrit sambil narik tangan Hinata. Meninggalkan Sasuke yang mengumpat kesal padanya. Dasar sohib nggak setia kawan!

.

.

.

.

.

"Apa-apaan ini, Sakura?"

Setelah susah payah Sakura ngeyakinin Gaara, akhirnya ia bisa bicara empat mata sama Sasuke. Enggak empat mata juga sih. Karena tanpa sepengetahuan mereka, Hinata dan Naruto lagi ngumpet nguping di belakang lemari di dekat pintu masuk ruang kelas kosong yang sedang mereka pakai saat ini. Sasuke sih sadar, tapi masa bodo. Beda sama Sakura yang dari dulu orangnya emang nggak sensitif. Dia nggak tahu kalau lagi diintai.

'Naruto, ndak sopan nguping pembicaraan orang lain~'

'Ssst, berisik Hinata. Kita nggak nguping, cuma nggak sengaja denger kok.'

Sasuke mendengus dalam hati ngedengerin bisik-bisik dari dua makhluk di belakang lemari itu. Kampret tuh si Naruto. Ngajarin yang nggak bener sama Hinata.

Mengacuhkan keributan kecil dari duo Naruto-Hinata, Sasuke kembali fokus pada cewek yang sekarang lagi gigit bibir bawahnya resah.

"Sakura!"

Satu bentakan dari Sasuke yang membuat satu tetes airmata tumpah dari mata Sakura, diikuti tetes-tetes yang lain.

"Kau tak pernah paham perasaan aku, Sas! Jengkel kali aku sama kau!"

Alamak! Nangis tuh cewek Gorila. Kayaknya ini pertanda bakal ada perang dunia ketiga deh. Sasuke aja sampai syok ngelihatnya. Hinata terpukau. Naruto mangap. Bisa jadi berita heboh kalau satu kampus tahu kejadian dasyat ini.

Spontan saja tuh cowok durian ngeluarin hapenya buat ngabadiin ni momen langkah, yang hanya terjadi enam puluh tujuh tahun sekali. Jarang-jarang bisa ngeliat Sakura nangis. Nggak pernah malah. Lumayanlah. Bisa dijadiin bukti buat malak Sakura. Masa selama ini dia yang selalu dipalak tuh cewek galak. Sekali-kali gantian dong.

"Kau ajak aku ke pernikahan Bang Neji. Kau tak tahu aku tak suka sama pernikahan adat. Aku jadi ingat kalau aku punya Pariban!"

Sebenarnya sih Sasuke ingin tertawa melihat Sakura yang sesenggukan kayak gini. Cuma ngeliat situasi yang lagi panas, sepertinya adalah keputusan yang nggak tepat kalau ia tertawa di atas penderitaan Sakura. Ia cuma bisa ngerjab-ngerjab bingung dengan semua keajaiban dunia di depannya ini. Jadi itu alasan Sakura ngambek waktu di ajak ke Solo?

"P –pariban? Gue gak paham maksud lo. Gue juga udah denger itu dari si Hinata."

Sakura mengusap airmatanya kemudian natap Sasuke putus asa.

"Gaara, pariban aku. Laki-laki yang boleh nikah sama aku."

Sasuke speechless seketika. Dia nggak paham seutuhnya maksud Sakura. Tapi dia udah nangkep intinya.

"Aku dijodohkan secara adat, Sas. Aku hanya boleh nikah sama pariban aku...hiks!"

Sasuke berdiri kaku di tempatnya. Dalam hati ia menjerit kaget. Masih ada toh jaman sekarang jodoh-jodohan? Pakai aturan siapa yang boleh-nggak boleh dinikahin lagi. Ia jadi bingung sendiri mesti gimana. Apa yang harus dilakuin ke cewek yang sekarang sesenggukan di depannya ini. Ia nggak ada pengalaman sama sekali nenangin cewek nangis. Maklumlah 'juragan es'.

Di belakangnya Naruto misuh-misuh. Sasuke kayak patung Liberty yang mlototin Sakura yang lagi mewek. Apa susahnya sih meluk nenangin gitu?!

"Besok gue ke rumah lo."

Satu kalimat yang langsung ngebuat Sakura mendongak natap tu cowok raven penuh tanda tanya, masih dengan sesenggukannya. Namun kalimat selanjutnya sukses bikin dia berhenti nangis dengan ajaibnya dan langsung melotot syok.

"Gue mau ketemu Bokap lo buat ngelamar lo."

.

.

.

.

.

"Siapa kau?"

"Pacar Sakura, Om."

Mungkin itu adalah contoh dari dua baris percakapan Sasuke dan papinya Sakura, sebelum akhirnya tu om-om berwajah garang, mingkep seketika dan spontan nglirik ke Sakura yang langsung mengkeret dapat hadiah lirikan semi pelototan dari papi tercintanya. Galak-galak begini, Sakura termasuk salah satu anggota perserikatan 'anak-anak takut bapak'.

"Pacar kau, Sakura?"

Sakura harus ngelewatin ritual meremas-remas tangan gugup dulu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan penuh nada ancaman dari sang papi.

"I –iya, Pi."

"Apa pula kau ini?! Kau tahu kau punya Pariban?!"

Sakura merem melek denger gelegar suara papi Khizashi. Di sampingnya, Hinata dan Naruto cuma bisa meringis natap iba ke cewek yang biasanya sangar kayak preman Pasar Tanah Abang, kini mlempem kayak krupuk di depan papinya. Sebenernya Naruto pengen juga sih ngabadiin ni momen berharga, buat malakin Sakura nanti. Jarang banget lihat ni cewek Gorila jadi OOC gini. Tapi dia juga masih sayang nyawa. Kagak berani macem-macem di depan pawang Gorila, model kayak papinya Sakura.

"Saya datang kesini bermaksud melamar Sakura, Om."

"Bah! Berani kali kau?! Sakura cuma boleh nikah sama Pariban dia!"

Bentakan papi Khizashi meletus mendengar pernyataan tegas dari Sasuke. Hinata sampai melompat dari tempat duduknya.

"Sing sabar, Pakdhe*. Jangan marah-marah. Ndak baik buat kesehatan~"

Bujukan dari Hinata bikin papi Khizashi menoleh cepat natap tu cewek. Hilang sudah raut garangnya kalau udah natap wajah lembut Hinata.

"Udah berapa kali kukata pada kau, tet*. Panggil aku Tulang*. Kau sudah kuanggap anak aku sendiri."

'Kampret ni Om-om! Giliran sama Hinata, lembutnya kayak permen kapas! Giliran sama gue kayak induknya Gorila,' Sasuke misuh-misuh dalam hati menerima ketidakadilan perlakuan papinya Sakura. Untung camer, kalau orang lain mah udah Sasuke giles dari tadi.

Hinata sendiri cuma bisa ngerjab-ngerjab mata oon. Sejak kapan namanya berubah jadi 'pétét'? Dia emang deket sama keluarganya Sakura. Tapi seingatnya dia nggak pernah deh ngadain syukuran buat ganti nama, gegara dianggap anak sama pakdhe Khizashi.

"Inggih Pakdhe..eh maksudnya, iya Tulang."

Aduh, adem ati papi Khizashi ngeliat senyumnya Hinata. Ckck, layak diangkat jadi menantu nih ni butet* satu. Itu Sasori, abangnya Sakura, lagi nganggur di belakang. Kayaknya nggak bakal nolak deh kalau dijodohin sama Hinata. Sekali-kali bolehlah nikahin silang antar suku bangsa. Kan berbeda-beda, tapi tetep satu jua. Biar berwarnalah hidup ini.

Papi Khizashi berkhayal indah. Enggak sadar kalau dia sendiri yang udah nolak pernikahan silang Sakura-Sasuke. Ngeles aja pinter, kayak bajaj.

"Sasuke tuh sayang banget sama Sakura, Om. Sumpah deh saya nggak bohong. Sakura pasti bahagia sama dia."

Si Naruto unjuk gigi buat nolong Sasuke. Walau sifatnya yang kadang bikin Naruto pengen nyate tu cowok, Sasuke tetep sohibnya dia dari orok. Jadi nggak mungkinlah Naruto masa bodo kalau Sasuke butuh bantuan.

Papi Khizashi mendelik ke Naruto yang nyengir, pura-pura nggak ngerti dengan arti delikannya –padahal dalam hati mah mringis. Untung anaknya Minato yang punya stasiun tivi tempat dia dan maminya Sakura numpang jual tampang. Kalau nggak, udah dia semprot kayak Sasuke.

"Berapa nyawa kau punya sampai berani kau lamar anak aku. Tak tahu kau, Boru* Batak yang berharga, tak bisa sembarang aku beri pada orang tak jelas."

Naruto melotot. Wah macem-macem nih om-om. Nggak tahu apa siapa itu Sasuke? Nggak jelas dari Hongkong. Belum tahu aja dia.

"Saya bukan orang tidak jelas, Om. Saya pewaris lima puluh persen saham dari perusahaan Uchiha's King Property, kalau Om belum tahu."

Papi Khizashi mingkem seketika. Mencoba mencari alasan buat ngeles. Siapa yang nggak ngerti dengan perusahaan property milik bokapnya Sasuke. Cuma dia belum rela aja anak gadis satu-satunya harus jatuh ke tangan seorang yang nggak punya darah Batak sama sekali. Pantang itu dikeluarganya.

"Ini bukan tentang kekayaan, ini tentang siapa kau. Siapa keluarga kau. Aku tak bisa terima orang yang tak punya darah Batak–"

"Saya memang bukan orang yang punya darah Batak, Om. Tapi saya adalah orang yang mencintai Sakura dan dicintai Sakura. Apa pariban Sakura, bisa menjawab seperti ini jika Om menanyakan hal yang sama?"

Belum kelar papi Khizashi ngomong, Sasuke udah main nyambar aja. Bikin keki. Apalagi kalimat Sasuke ngundang perang. Bawa-bawa pariban Sakura segala. Seolah-olah pilihan papi Khizashi tu orang yang salah.

Walau sebenarnya papi Khizashi nggak yakin juga sih, kalau si Gaara bakal jawab kayak gitu. Secara, yang cinta cuma si Gaara aja. Sakura mah dari dulu udah nolak ni perjodohan. Intinya papi Khizashi udah mulai goyah keputusannya gegara ngedengerin kata-kata bombastisnya Sasuke.

"Saya punya jutaan cinta buat Sakura,Om. Harta yang paling berharga yang sudah saya berikan untuk Sakura. Cinta yang membawa kebahagiaan. Cinta yang bisa menyatukan semua perbedaan. Kekayaan saya hanya sebagai bonus saja. Apa Om bisa menjamin anak Om yang katanya berharga, bisa bahagia jika Om percayakan pada orang pilihan Om?"

Sakura ngerjab-ngerjab nggak percaya. Ini beneran Sasuke kan? Kok kayaknya beda sama yang bisanya yah? Kesurupan apa ni cowok? Hinata aja sampai meneteskan airmata denger kata-katanya. Si Naruto mangap di tempat. Spontan dia langsung nempelin punggung tangannya di jidat Sasuke trus disamain suhunya sama bokongnya sendiri.

"Nggak panas,"

'Kampret ni anak! Dipikir gue anak sapi kali, suhu tubuh gue disamain sama bokongnya!' Sasuke misuh-misuh dalam hati. Diluar dia emang stay cool, jaga imej men, di depan camer. Tapi dalam ati mah ukh..! Sasuke gondok berat ngeliat wajah innocent si Naruto yang kini manggut-manggut nggak jelas. Apa sebegitu parahnyakah dia, sampai ngeromantis aja dia nggak pantas?

Sementara papi Khizashi kagak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia udah kalah telak. Sebenernya kalah bukan karena jawaban Sasuke yang masuk akal sih. Kalau dia mau, dia bisa aja ngeles terus. Hanya saja, dia malu sama diri sendiri. Sasuke bisa romantis banget sama Sakura. Hal yang nggak bisa ia lakukan sama maminya Sakura. Makhlumlah gengsinya dia tinggi banget. Apalagi maminya Sakura tuh galak banget. Kagak mempan diromantisin.

Makanya dia terharu sekaligus iri banget ada orang yang bisa romantis sama anaknya. Nggak kayak dia sama maminya Sakura. Sakura pasti bahagia banget.

Heh, Papi Khizashi nggak tahu aja sih, sebenernya kehidupan Sasu-Saku kayak gimana. Nggak jauh bedalah sama mereka. Ini lagi kepepet aja tu makanya si Sasuke bisa romantis gitu.

Intinya papi Khizashi sekarang cuma bisa menghela nafas nerima kenyataan kalau Sasuke-Sakura saling mencintai dan cuma akan bahagia jika memiliki satu sama lain.

"Baiklah,"

Sakura nahan nafas ngedengerin papi tercintanya yang kini menoleh menatap padanya.

"Apa lagi yang bisa kukata kalau kau sudah ingin seperti itu, tet. Emang dari dulu kau itu kepala batu."

Sakura tersenyum senang dan natap papinya berbunga-bunga. Setelah beberapa saat terjebak dalam aksi tatap menatap dengan sang anak, Papi Khizashi akhirnya balik lagi natap Sasuke dan ngomong sama tu cowok raven.

"Kuserahkan Sakura pada kau, asal kau penuhi tiga permintaanku."

Sasuke ngerasa udah kayak jin aja dimintain tiga permintaan. Tapi gak papalah. Demi Sakura, apapun akan dia lakukan. Tanpa banyak pertimbangan langsung aja dia gangguk setuju.

"Pertama, aku mau kau turuti prosesi mangain marga*,"

Sasuke nggak paham. Tapi daripada ribet, dia asal ngangguk aja.

"Kedua, aku mau nanti waktu kalian menikah, pakai adat Batak. Tak maulah aku malu di depan keluarga besar aku,"

Sasuke mah bodo amat. Mau pake adat Batak, Betawi, Jawa atau bahkan Papua sekalipun, nggak masalah. Cintanya ke Sakura itu yang terpenting.

"Dan ketiga, ini yang paling penting–"

Sakura sebenernya rada nggak enak sama permintaan papinya yang agak keterlaluan. Tapi ngeliat Sasuke menyanggupi semuanya, dia terharu banget. Sasuke macho banget. Rela berkorban. Semoga permintaan terakhir papinya nggak aneh-aneh yang bikin Sasuke jadi stres sampe kebawa mimpi.

"Aku mau ini Butet Hinata jadi menantu aku. Jadi paribannya si Sasori. Adem kali hatiku ngeliat senyuman dia. Ha.. ha.. ha.."

Papi Khizashi langsung ngekek abis ngomong gitu. Nggak nyadar sama suasana awkwk yang tercipta gegara kalimat nggak bertanggungjawabnya. Terutama si Naruto yang langsung mangap dua kali lebih lebar dari sebelumnya. Hinata cuma bisa diem natap oon ke papi Khizashi. Sasuke mah tetep stay cool dengan wajah temboknya. Masa bodo lah.

"Iya Om. Ambil aja si Hinata. Dia masih single kok."

Seketika kekehan papi Khizashi terdengar makin membahana. Kayaknya dia seneng banget denger jawaban lebih nggak bertanggungjawab dari Sasuke. Nggak sadar dengan wajah syok Naruto yang kini nggak cuma mangap doang, tapi nambah pake acara mlotot segala gegara ucapan Sasuke.

"Kampret lo Sasukeeeee!"

Dan pada akhirnya acara pertemuan mereka ditutup dengan teriakan melengking dari si rambut duren yang langsung ngibrit narik tangan Hinata –takut ceweknya itu di culik sama pawang Gorila–, ninggalin papi Khizashi yang kaget setengah mati dan langsung misuh-misuh ngeliat calon menantunya di bawa kabur.

.

.

.

.

.

"Ah, ngerepotin kali tu papi aku! Macem-macem kali permintaannya!"

Sasuke cuma nglirik Sakura yang lagi ngomel-ngomel nggak jelas di sampingnya, trus balik lagi natap ke arah kolam ikan mas di depannya. Nggak ada niat buat ngebalas omelan tu cewek bawel. Setelah pertemuan nggak jelas dengan papinya Sakura tadi, Sasuke masih tetep di rumah Sakura gegara maminya Sakura yang maksa dia buat makan malam bareng. Berada di belakang rumah bareng sama pacar tercintanya itu, nunggu waktu makan malam tiba.

Merasa nggak ada jawaban dari Sasuke, Sakura akhirnya menoleh natap tu cowok raven.

"Kau tak apa, Sas? Aku tak enak sama kau–"

"Itu cuma adat, Sakura,"

Sakura ngerutin dahinya dan udah mau ngomel lagi tapi nggak jadi gegara udah Sasuke nyamber ngomong duluan. Udah cukup papi Khizashi aja yang bikin dia pusing hari ini. Dan ngedengerin Sakura ngomel-ngomel, bikin kepala Sasuke dua kali lipat lebih pusing. Jadi daripada itu terjadi lebih baik dia yang ngomong buat nutup tu bibir seksi.

"Cinta lebih kuat dari apapun, Sakura. Nggak akan ada yang dapat memisahkan kita, asal lo nggak nyerah gitu aja. Dan perbedaan di antara kita ini, nggak akan pernah membuat gue menyerah."

Binggo.

Sakura mingkem seketika. Tu cewek emang nggak mempan digombalin, tapi ngeliat Sasuke romantis gini, dia agak sedikit merinding disko.

"Kau tak sakit kan, Sas? Aneh kali kau hari ini."

Sasuke berdecak nggak seneng dengernya. Membuat Sakura jadi nggak enak hati. Gimanapun dia tahu kalau ni cowok udah ngorbanin harga dirinya, nglakuin hal-hal romantis yang bukan gayanya buat ngambil hati papinya. Sakura akan jadi pacar nggak tahu diri kalau malah ngebilang Sasuke aneh.

"Sayang kali aku sama kau, Sas! Apa adanya kau!"

Dan abis ngomong gitu, Sakura langsung nyruduk meluk dada Sasuke. Membuat cowok raven itu kaget setengah mati dan langsung batuk-batuk karena tabrakan Sakura ke dadanya nggak main-main. Buset dah. Tu cewek tenaganya udah kayak banteng aja. Untung ayank beb Sasuke.

Si Sasuke cuma bisa senyum aja ngeliat kelakuannya Sakura. Galak-galak begini, ia sayang banget sama tu cewek. Dia rela melakukan apapun untuk selalu bersamanya. Dan akan selalu seperti itu selamanya. Tak akan ada yang bisa memisahkan mereka. Termasuk papinya Sakura.

Ngomong-ngomong soal papinya Sakura–

"Sakura, papi lo mantan preman ya?"

Setelah keheningan melanda mereka sesaat, akhirnya Sasuke mulai ngomong lagi. Sakura yang ngedengerin kalimat tanya itu spontan saja mendongak dan natap wajah gentengnya sang pacar. Tiba-tiba ia jadi keinget ceritanya sama Hinata tentang kejadian gombalan gagalnya Sasuke, buat ngebujuk dia yang ngambek gegara acara ke Solo kemaren. Dia juga baru tahu kalau waktu itu Sasuke niatnya mau ngegombalin dia. Makhlumlah preman pasar, jadinya kudet masalah begituan.

Dan kayaknya Sasuke mau ngegomblin dia lagi nih.

Kebawa suasana romantis yang udah Sasuke ciptakan seharian ini, akhirnya dengan muka yang sedikit memerah malu-malu Sakura kemudian ngejawab.

"Kok kamu tahu?"

Di depannya Sasuke cuma menghela nafas.

"Pantas aja. Papi lo mirip preman gitu."

"..."

Hening.

"..."

Nggak ada yang bersuara.

"..."

"KAMPRET KAU, SASUKEEEE!"

Sampai teriakan Sakura diiringi lolongan kesakitan dari Sasuke yang kena bogem dari tu cewek pink, menghancurkan suasana romantis yang udah tercipta dari kesalahpahaman di antara mereka.

Yah, mungkin emang mereka ditakdirkan untuk nggak bisa saling meromantisasi kali yah?

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

Ahay...akhirnya end juga...end dengan gajenya...khakha...

Saya putuskan kalau fic ini end di sini... maaf buat Rabie no cherry yang mengharapkan fic ini sampai lima chapter khikhikhi... saya emang mutusin buat complete di chapter dua, tapi gak nutup kemungkinan kalau akan nyambung lagi kalau yoyo dapet ide baru hihi...biar reader gak ngerasa di gantungin gitu...

Oke...ngomong-ngomong soal di gantungin... bagi reader yang ngerasa semua fic yoyo tuw dibuat seolah-olah Sakura nggak pernah ngedapetin orang yang dia sukai, mudah-mudahan di fic ini semua pemikiran reader tentang saya jadi terpatahkan... saya nggak pernah sama sekali berpikir seperti itu...semua fic yoyo murni ide yang timbul karena yoyo ngeliat sekeliling yoyo... kalo ada yang ngerasa nggak cocok dengan fic-fic yoyo, di saranin untuk mundur teratur...saya juga gak pernah maksa anda buat baca fic saya... kalau anda senang baca fic saya, saya juga ikut seneng, tapi kalau ada yang gak seneng, yah yoyo musti ngomong apa lagi... selera mah relatip...

Khakha...oke jangan jadi tegang gegara ocehan yoyo di atas ya, itu Cuma selintingan aja...hihihi...saya mah nyante orangnya... gak pernah nganggep serius sesuatu...

Back to story...saya putusin buat ngedit lagi chapter 1 jadi hampir full of bahasa non baku...eits tunggu coy, ada alasannya yoyo mutusin seperti itu. pertama, karena masukan dari Guest yang ngasih masukan: terlalu banyak deskripsi jadi ngebosenin, jadi yoyo mutusin buat ngecut beberapa bagian dan dibuat sedikit santai end gak terlalu baku kayak fic yoyo yang lain...makasih guest-san masukannya :-)... alesan kedua, karena chapter dua, bahasa yoyo juga hampir full of bahasa non baku. Sebenernya yoyo mau buat bahasa baku, Cuma bagian percakapan yang gak baku, tapi entah kenapa kok jadinya malah gak baku semua gini. Di cocokin sama yang chapter satu, dan yoyo Cuma bisa mangap doang. Ya ampun, kayak langit dan bumi, perbedaan gaya bahasanya #tepokJidat#...ya udah deh, daripada ngehapus dan bikin yang baru, lebih baik chapter satu aja yang diedit...

Oke, ehem...tentang cerita, tentang pariban dan istilah-istilah alien yang kesebut di atas dan juga di chapter 1, mungkin yoyo harus ngasih kamus istilah nih hehe...kamus istilah yang beberapa yoyo dapet pengetahuannya dari papa dan my sister Spica Zoe :

Pariban: panggilan dari seorang cewek ke cowok atau sebaliknya, dimana ayah si cewek marganya sama dengan ibunya si cowok. Di dalam adat batak, ada tradisi dimana ada marga yang boleh menikah dan ada marga yang nggak boleh menikah. Pariban adalah istilah dimana kedua orang cewek-cowok itu boleh dinikahkan. (sepupupun tidak masalah, selama yang bersaudara itu ayah si cewek dan ibu si cowok a.k.a marga ayah si cewek sama dengan ibu si cowok). Sementara yang tidak boleh menikah adalah cowok dan cewek yang marganya sama (contoh: cewek marga sitompul gak boleh nikah sama cowok marga sitompul, Saragi nggak boleh nikah sama Saragi, Tambunan nggak boleh nikah sama Tambunan, karena mereka di anggap saudara) dan beberapa marga ada yang juga gak boleh dinikahkan karena masih ada hubungan darah. #pusing? Sama.. saya juga...khakha.. yoyo pusing waktu dipidatoin aturan tradisi di adat batak sama papa dan Spica Zoe juga. Yoyo akuin suku Batak adalah suku dengan aturan paling rempong di indonesia#

Budhe : singkatan dari 'Ibu Gedhe' (Ibu besar), artinya kakak perempuan dari ibu atau ayah kita. Ini pasti udah banyak yang tahu kan? Ini bahasa jawa.

Pakdhe : singkatan dari 'bapak gedhe' (bapak besar), pasangannya budhe atau kakak laki-laki dari ayah atau ibu kita. Bahasa jawa juga.

Tulang : hampir mirip artinya sama dengan paman. Tapi secara khusus, panggilan kita buat saudara laki-laki ibu kita. (panggilan di batak tu banyak bingit sesuai dengan marga dan silsilah kita. aku sendiri pusing kalau di suruh mengklasifikasikan#plak#khakha)

Mangain marga : prosesi mengangkat seseorang menjadi anak atau memberikan marga/boru pada seseorang yang berasal dari suku lain. Dalam suku batak, yang boleh mengadakan pernikahan adat batak ya Cuma orang batak. Jadi kalau pengen ikatan pernikahan disahkan secara adat batak, ya kedua pasangan harus menjadi orang batak. Dan itu berarti dua-duanya harus punya marga. Gitu deh kira-kira...Jadi di fic ini si sasu bakal dikasih marga supaya bisa nikah secara batak gitu.. ni ide terinspirasi dari mamaku(yang orang jawa), yang juga dapet marga dari opung saya hehe...

tet/butet : panggilan untuk anak gadis (bahasa batak). sama kayak 'ndok' (bahasa jawa). 'tet' itu singkatan 'butet'

Boru : istilah marga tapi buat : kalo tambunan cowok dibilang 'marga tambunan', tapi kalau tambunan cewek, dibilang 'boru tambunan'. gitu deh kira-kira...

pétét : mungkin udah banyak yang tahu, artinya petei cina (bahasa jawa), petei yang kecil-kecil itu loh...

Pager ayu : penyambut tamu. bisanya dari keluarga pengantin (bahasa jawa)..

udah deh kayaknya itu doang istilahnya...

next adalah bales repiu...

untuk SHL7810 : saya speeachles lihat ada review kamu. bangga bingit fic saya bisa di baca dan disukai semua pihak (nggak Cuma ssl doang). makasih bingit yah udah mau suka. apapun kesukaan kita, apapun perbedaan kita, jangan sampai ngerusak pertemanan kita ya? hehe...#kokGueJadiLebayGiniYa?# oke back to your review, tentang logat medan dan batak itu, kalo itu mah saya gk begitu paham yah, soalnya saya sendiri belum pernah ke medan hehe. ni fic saya buat karena ngeliat orang-orang batak di sekeliling saya aja kok. di keluarga saya, semua pakenya bahasa indonesia kalau komunikasi. nah, tapi khusus buat papaku, dia logatnya kayak gitu sih. aku liat om ruhut sitompul, sama beberapa orang batak di tipi juga logatnya gitu. jadi yang saya pikir kayak gitu emang logatnya orang batak. hehe...gak tawnya emang di medan logatnya gitu ya? hehe...tapi tengs bingit ya say, udah mau bagi pengalaman tinggal di medan...aku jadi makin kangen aja ma kampung halaman #emaaaaakkkk!NangisBombay#, multichapter? liat entar deh #kaboooorrr# tapi makasi banget kamu dah mau suka fic saya ini.

Liana Zafirna,secrella,nolnol,dafara white,choikim1310 : iya tuh, si sasu kayak tembok,renternir, triplex, telenan, dkk...khakhakha

sa-sarada-chan : bah, mana ada yang berani ngegombalin aku. yang ada aku yang ngegombalin mereka #loh?# khakha tengs udah repiu

kimmy ranaomy, ikalutfi97, , ferrish0407, hyemi761,coolAndCold, al khayla, sarvers295: khakha seneng kalau bisa menghibur...tengs udah repiu, fav and fol...

blackchiatto : khakha..ngliat reoiu km ngekek sendiri...km batak? marga/boru apa? salam kenal ya...

dan buat rable no cherry : spesial chapter ini masukan dari kamu aku pakai...khakha...tapi yang ngomong 'retak dada kau' bukan saku tapi gaara...gapapa yah? makasih banyak masukannya...membantu sekali...btw, kamu juga anak pejabat?! boru apa?

and specially buat Spica Zoe : my sister yang udah mau repot-repot jd beta readerku, dan ngasih ijin buat make marga kau buat abang Gaara, tengs banget! #pelukKedjub# ni fic aku kasih spesial buat kau. Jangan pensiun dari dunia ffn gara-gara ocehan gak penting orang yang gak ngerti kau ya? akupun sama sering dihina begitu, mereka gak taw aja baiknya kau kayak apa...semangat sis!

oke sekian dulu cuap-cuap saya...bagi yang lagi nunggu fic monster #garuk2Kepala# aku sampae lupa punya tu fic...#plak# khakha...ditunggu aja ya?

sekian dari saya...see u next fic...

kritik dan saran ditampung...