Saat itu Tanah sedang berangkat ke sekolah dan diperjalanan ia melihat Angin.
"Angin!" Tanah mendekati Angin yang terlihat sedang memakan sesuatu dengan lahap, "Kamu makan apa?"
Angin tersenyum, "Biskuit!" Lalu ia menawarkan biskuit itu ke Tanah, "Kamu mau?"
Tanah meneliti biskuit itu sesaat karena biskuit itu bentuknya mengingatkannya akan biskuit seseorang, "Itu biskuitnya buatan siapa?"
"Buatan aku dong~!" Angin tersenyum bangga.
Tanah kaget sekaligus kagum, "Kamu bisa masak?"
Angin mengangguk, "Iya!"
"Diajarin siapa?"
"Diajarin kak Yaya!"
Tanah hampir saja keselek ludah, "Sama.. kak Yaya..?"
Angin mengangguk dengan semangat.
"Pernah ada orang lain yang coba biskuit kamu, tidak?"
Angin sedang menggunakan pose orang berpikir lalu tersenyum, "Iya! Tadi aku bagi ke kak Taufan! Entah kenapa dia terlihat pucat setelah memakan biskuitku, lalu aku tanya kenapa katanya dia lagi capek saja tapi dia bilang biskuitku enak, kok!"
Tanah merasa kasihan terhadap kakaknya Angin, 'Kasihan sekali kakaknya..' Batinnya.
"Kamu mau coba?"
Tanah menggeleng-gelengkan kepalanya, "Eh.. Tidak usah, tidak usah.. Tadi aku udah makan!"
Angin menatapnya sedih, "Ehh? Biskuitku memangnya tidak enak?" Maklum dia memang 'agak' pesimis orangnya.
"Bukan! Bukan! Soalnya tadi aku udah makan banyak karena kak Gempa masak banyak tadi!"
Sepertinya Angin kali ini menerima perkataannya itu, "Hmm.. Ya sudah!"
Tanah menghela nafas lega, 'Untung saja..' Batinnya.
Angin tiba-tiba melambaikan tangannya ke seseorang sebaya dengan mereka, "Petir! Sini, sini!"
Petir mendekati mereka berdua, "Selamat pagi."
Tanah tersenyum, "Selamat pagi!"
Angin juga tersenyum, "Selamat pagi, Petir! Oh iya!" Angin menawarkan biskuit buatannya ke Petir, "Ini biskuit buatanku! Mau coba gak?"
"Boleh-" Sebelum Petir bisa mengambil salah satu biskuit itu, Tanah sudah menarik tangan Petir lalu membisikkan, "Petir! Jangan! Biskuit itu memang buatannya tetapi ia diajari kak Yaya!" Petir terlihat pucat sesaat, lalu Tanah melanjutkan bisikannya, "Kakaknya, Taufan saja sudah memucat saat memakan biskuit itu! Jadi hati-hati!"
"Kenapa kalian masih disini?" Mereka bertiga menoleh ke sumber suara dan melihat kakak-kakak mereka, Taufan, Gempa dan Halilintar sedang menatap mereka. Trio Angin, Tanah dan Petir biasanya berangkat duluan meninggalkan kakak mereka karena itu biasanya mereka yang sampai sekolah duluan.
Angin tersenyum melihat kakaknya, "Eh, kakak~"
Tanah tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, "Halo kak.."
Dan Petir tidak mengatakan apa-apa.
"Oh iya!" Angin menawarkan biskuit buatannya ke Gempa dan Halilintar, "Kak Gempa, kak Halilintar! Mau coba biskuit buatanku nggak?"
Gempa terlihat terkejut lalu tersenyum, "Kamu bikin biskuit?"
Angin mengangguk dengan semangat, "Iya!"
'ALAMAK!' Batin Tanah dan Petir bersamaan. Mereka tidak ingin kakak-kakak mereka menjadi korban biskuit buatan Angin yang diajari cara pembuatannya oleh Yaya.
Saat mereka ingin menghentikan kakak-kakak mereka dari mengambil biskuit Angin tiba-tiba ada tangan yang menghalangi mereka.
Mereka melihat ke atas dan melihat Taufan tersenyum jahil, lalu Taufan membisikkan sesuatu kepada mereka berdua, "Tenang saja.. Walaupun biskuitnya diajari oleh Yaya tetapi tidak seburuk biskuit Yaya, kok.. Palingan itu hanya akan membuat mereka mual sesaat.. Dan juga kasihan si Angin, masa nanti gak ada yang mau makan biskuitnya.. Kalian tahukan dia sifatnya memang ceria tetapi pesimis?"
Tanah dan Petir mengangguk pasrah lalu senyuman Taufan melebar.
Halilintar mendelik ke Taufan, "Apa yang kau bisikkan ke mereka?"
Taufan hanya tersenyum jahil, "Hmm~? Bukan apa-apa kok~" Ia menoleh ke arah Tanah dan Petir, "Iyakan~?"
Tanah mengangguk, "Iya.."
Petir juga hanya mengangguk.
Lalu senyuman Taufan melebar saat melihat reaksi Gempa dan Halilintar yang memakan biskuit Angin.
Angin menatap mereka berdua dengan tatapan penuh harapan, "Enak, gak?"
Gempa berusaha menelan biskuit itu lalu mengangguk, "I- iya! Enak kok, Angin!"
Halilintar juga mengangguk, "Enak.."
Taufan terlihat berusaha menahan tawanya sampai kakinya diinjak oleh Halilintar.
Angin menawarkan biskuit itu ke kakaknya, "Kakak mau?"
Taufan menolak tawaran itu, "Tida-" Tetapi tiba-tiba Halilintar mengambil dua biskuit itu,
"Angin ini boleh aku ambil gak? Biar aku kasih ke kakakmu nanti saat dia lapar!"
Angin mengangguk semangat, "Tentu saja boleh!"
Halilintar menyeringai ke arah Taufan, 'Rasakan!'
Taufan hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan keringat dingin, 'GLEK!'
Gempa menghela nafas melihat tingkah laku mereka berdua, "Sudah, sudah! Sekarang ayo berangkat ke sekolah! Nanti terlambat!" Lalu Gempa menengok ke arah Angin, Tanah dan Petir, "Kalian bertiga juga harus cepat! Keburu bel!"
Tanah tersenyum, "Baik kak!"
Angin juga tersenyum, "Baik kak Gempa~!"
Petir mengangguk, "Baik.." Maklum dia memang orangnya kadang-kadang terlalu malas untuk menunjukkan banyak ekspresi dan berkata-kata.
Humikmika : Ini chapter ke 2~! Langsung bikin soalnya lagi banyak ide buat fic ini :v Kalo fic yang Unexpected Meeting KAYAKNYA nanti bakal aku lanjutin pas udah malem ingat KAYAKNYA lho! Moga aja sempet soalnya nanti malem kayaknya pulangnya malem!
Terima kasih telah membaca!
