Snow Flower Memory
Main Cast:
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Cast:
Park Yoochun
Kim Junsu
Shim Changmin
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort/Drama
GS for UKE
.
.
.
HAPPY READ!
.
.
.
#Dua
Deting waktu berjalan dengan cepat. Pagi pun berganti siang. Jaejoong hanya diam di kamar rawatnya dan merasa sangat jenuh saat berada di ruangan itu. Tiba-tiba pintu ruang rawatnya terbuka, ada dua orang yang masuk ke ruang rawat Jaejoong. Satu yeoja manis bertubuh padat yang mempunyai suara seperti lumba-lumba dan satu lagi namja berwajah tampan seperti cassanova yang mempunyai jidat lebar.
"Suie? Chunnie?" Jaejoong menyapa kedua orang sahabatnya yang kini datang ke rumah sakit untuk menjenguknya.
"Jaejoongie..." ucap Junsu dengan suara seperti lumba-lumba. Yeoja manis yang mempunyai pantat seperti bebek itu berlari menghampiri Jaejoong yang kini sedang duduk di tempat tidur rawatnya.
Junsu memeluk Jaejoong dengan sangat erat. Ia memang takut kehilangan sahabat yang sangat disayanginya itu. Sementara di sisi lain, Yoochun bernafas lega saat melihat keadaan yeoja cantik yang ia cintai dalam keadaan baik-baik saja.
"KAU KETERLALUAN JOONGIE! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?! APA KAU INGIN MENINGGALKAN KAMI? KENAPA KAU MENCOBA BUNUH DIRI? BABO!" teriak Junsu begitu selesai memeluk Jaejoong.
Junsu memang sedikit tak bisa mengontrol emosinya, apalagi ini menyangkut nyawa sahabatnya.
"Mianhae, Suie, Chunnie..." ucap Jaejoong pelan.
Perlahan ia menundukan kepalanya dan tak mampu menyembunyikan tangisannya. Penyesalan kini tengah memenuhi hatinya. Harusnya ia berpikir panjang sebelum melakukan aksi bunuh diri. Ia memiliki sahabat yang begitu menyayanginya dan pastinya tidak ingin kehilangan dirinya.
Junsu segera memeluk Jaejoong kembali. Ia benar-benar tak ingin melihat sahabatnya bersedih.
"Mianhae, Joongie. Aku tidak bermaksud memarahimu. Tapi... aku dan Yoochun sangat shock saat mendengarmu bunuh diri, syukurlah kau tertolong Joongie. Untuk seterusnya kau harus berjanji pada kami untuk tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi, arraseo?" Junsu menekankan kata-katanya pada Jaejoong seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.
"Ne, aku berjanji," ucap Jaejoong mantap. Ia pun tersenyum sangat tulus.
Hidupnya yang rapuh terasa kembali perlahan-lahan karena banyaknya perhatian dari orang-orang yang menyayanginya.
"Chun, kenapa kau hanya diam saja dari tadi? Apa kau tidak ingin berbicara pada Jaejoong?" tanya Junsu pada Yoochun yang tadi hanya duduk terdiam di kursi tanpa terlibat dengan percakapan kedua sahabatnya itu.
Sebenarnya Yoochun ingin sekali berbicara banyak hal, bahkan mungkin ia ingin sekali memeluk yeoja cantik itu dengan sangat erat. Tetapi apa yang ia bisa lakukan sekarang? Jaejoong hanya menganggap Yoochun sebagai sahabatnya, tidak mungkin ia melakukan hal itu pada Jaejoong.
"Kau sangat berisik! Dari tadi aku hanya diam karena kalian tidak memberiku celah untuk berbicara! Cih dasar duckbutt!" Yoochun menunjukan sikap dinginnya di hadapan Junsu dan Jaejoong.
Hal itu memang sudah biasa bagi Junsu dan Jaejoong. Yoochun memang namja yang dingin dan tidak peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Tapi syukurlah, masih ada yang mau bersahabat dengannya, Jaejoong dan Junsu.
"Cih bisa-bisanya kau bersikap seperti itu. Bukankah kau yang sangat merindukan Jaejoong, huh? Saat mendengar Jaejoong bunuh diri, bukankah kau yang kalang kabut karena mengkhawatirkannya? Kau bahkan sampai-sampai pulang dari Jepang hanya untuk melihat keadaan Jaejoong. Tapi kau sekarang malah seperti ini. Kau terlalu berpura-pura Chun!" lontaran kata-kata pedas keluar dari mulut Junsu. Yoochun hanya mampu menyembunyikan perasaan malunya.
Yoochun memang sangat khawatir pada Jaejoong. Bagaimana ia tidak khawatir pada yeoja cantik itu, sementara baginya Jaejoong adalah hidupnya, seseorang yang bisa membuatnya bernafas.
"Aishh... kau terlalu berlebihan, duckbutt! Siapa bilang aku yang paling khawatir? Bukankah kau yang terlalu cerewet saat mendengar kabar Jaejoong bunuh diri? Kau yang terus-terus meneleponku saat aku sedang di Jepang. Menyebalkan!" perdebatan itu terus berlangsung dan membuat Jaejoong merasa pusing mendengar perdebatan mereka.
"GEUMANHAE!" teriak Jaejoong seketika.
Junsu dan Yoochun pun sepontan menutup mulu mereka dan tak berdebat lagi.
"Mianhae, Joongie. Kau tahu sendiri jika kami berdua tidak pernah akur. Lagi pula Yoochun memang keterlaluan, dia sebenarnya merindukanmu tapi tak ingin bilang karena dia malu!" ucap Junsu lagi.
Yoochun hanya mampu mendelik ke arah Junsu. Ingin sekali ia menendang bokok bebek itu kalau perlu sampai yeoja cerewet kehilangan aset berharganya, batin Yoochun.
"YA! YA! BERHENTI MENGUCAPKAN HAL YANG BUKAN-BUKAN!" teriak Yoochun geram.
"Suie, Chunnie, kalian membuatku pusing. Harusnya kalian menghiburku bukan membuatku seperti ini..." keluh Jaejoong.
Junsu hanya tersenyum geli melihat Jaejoong yang terlihat kesal. Sementara Yoochun masih hanya berekpresi dingin.
"Arraseo, kami akan menghiburmu. Sekarang kau mengingankan kami melakukan apa Joongie?" tanya Junsu.
Jaejoong terdiam sejenak untuk berpikir.
"Hmm... aku tak ingin apa-apa. Kalian cukup menemaniku di sini dan jangan pulang sebelum aku ijinkan," ucap Jaejoong seolah menuntut.
Junsu dan Yoochun hanya mengangguk pasrah menyetujui permintaan sahabat mereka.
Jaejoong menghabiskan harinya bersama sahabatnya untuk bercanda ria. Mereka terlihat sangat bahagia dan saling melempar candaan satu dengan yang lain. Yoochun pun mulai terbiasa bergabung dengan candaan dua namja cantik itu.
Tiba-tiba dering ponsel Junsu menghentikan kegiatan mereka bertiga. Junsu keluar sebentar untuk menerima panggilan telepon. Kini hanya ada Jaejoong dan Yoochun di dalam kamar rawat itu. Keduanya merasa canggung untuk memulai pembicaraan kembali.
"Chunnie, gumawo..." kata Jaejoong memecahkan kebisuan di antara mereka berdua.
"Kau berterima kasih untuk apa, Joongie?" tanya Yoochun bingung.
"Gumawo, kau dan Junsu sudah datang untuk menjengukku. Jika kalian tidak datang ke sini, mungkin aku akan jenuh dan kesepian..."
"Ah, kau tidak perlu berterima kasih Joongie. Kami melakukan ini karena kami menyayangimu. Aku harap kau tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Jika kau ada masalah, jangan sungkan untuk menceritakan padaku atau Junsu. Kami pasti akan membantumu," ucap Yoochun sambil tersenyum hangat.
"Ne, aku berjanji tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu lagi," kata Jaejoong penuh semangat. Yoochun yang melihat hal itu hanya mampu tersenyum, ia bahagia karena sepertinya Jaejoong telah kembali menjadi yeoja yang ceria.
Junsu segera masuk kembali ke dalam ruang rawat inap Jaejoong setelah ia mengangkat teleponnya tadi.
"Joongie, sepertinya aku harus segera pulang. eomma-ku kewalahan melayani pelanggan kedai ramyeon kami. Aku harus segera membantunya," ucap Junsu pada Jaejoong. Sebenarnya Jaejoong masih ingin bercanda ria bersama Junsu dan Yoochun, tapi dia tidak bisa. Tak mungkin ia meminta sahabatnya untuk tinggal lebih lama di rumah sakit.
"Hmm... arraseo, kalian boleh pulang. Tapi sebenarnya aku masih ingin ditemani kalian..." gumam Jaejoong sambil mempautkan bibir cerrynya.
"Joongie, kami berjanji akan menjengukmu lagi jika kami ada waktu. Kau jangan bersedih lagi, ne" hibur Junsu.
Jaejoong pun tersenyum sambil memeluk Junsu. Yoochun yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sampai kapan mereka akan terus berpelukan, pikirnya.
"Kau pulang dengan Yoochun?" tanya Jaejoong.
"Ne," jawab Junsu.
"Chunnie, jaga Junsu dengan baik. Kau harus hati-hati mengendari motormu," nasehat Jaejoong. Ia memang sedikit khawatir karena Yoochun selalu menjalankan motor sportnya dengan kecepatan tinggi.
"Kau tidak perlu khawatir. Walaupun ngebut, akan aku pastikan Junsu selamat sampai pintu rumahnya," gurau Yoochun sambil tersenyum jail.
"Cih awas saja kalau kau tak menepati ucapanmu!" teriak Junsu.
Jaejoong tersenyum kembali melihat kedua sahabatnya berdebat. Junsu dan Yoochun memang tak pernah akur meraka seperti Tom and Jerry, tapi itulah istimewanya mereka. Setiap perdebatan mereka selalu membuat Jaejoong merasa terhibur.
"Arraseo, kami pulang dulu Joongie. Semoga kau cepat sembuh," ucap Junsu.
"Kami pulang dulu ya, ingat perkataanku tadi."seru Yoochun sambil mengacak rambut Jaejoong.
Jaejoong hanya mendelik sebal. Dari dulu Yoochun memang sangat senang mengacak rambutnya padahal ia sangat benci saat ada orang yang menyentuk rambunya.
Yoochun dan Junsu segera beranjak untuk pulang. Saat mereka membuka pintu ruang rawat Jaejoong, mereka berpapasan dengan Yunho yang akan masuk ke dalam ruang rawat yeoja cantik itu. Junsu segera membungkukkan badannya pada Yunho sementara Yoochun hanya menatap Yunho dengan pandangan yang sulit diartikan, Yoochun merasa seperti cemburu pada dokter itu.
"Apa dokter tadi yang merawat Jaejoong?" tanya Junsu sambil berjalan menyesuri lorong rumah sakit.
"Mungkin," jawat Yoochun singkat.
"Ah.. Jaejoong benar-benar beruntung sekali dirawat oleh dokter setampan dia," gumam Junsu pelan namun terdengar oleh Yoochun.
"Cih tampan dari mana? Dia pasti sudah tua!" seru Yoochun kesal.
"Kau ini kenapa sie? Sepertinya kau sangat tidak suka dengan dokter itu. Ah... atau jangan-jangan kau cemburu ya?" tebak Junsu.
Yoochun hanya mendengus kesal saat Junsu berbicara seperti itu. Lalu ia mempercepat langkahnya untuk menghindari ucapan-ucapan Junsu yang mungkin akan membuatnya semakin tersudut.
"Sudahlah jangan tanyakan hal yang bukan-bukan seperti itu, atau kau mau aku tinggal?" ucap Yoochun yang langkahnya sudah semakin jauh dari Junsu.
"Ya! Tunggu aku Chun!" teriak Junsu sambil berlari. Yeoja manis berlambut sebahu itu mengejar Yoochun namun Yoochun semakin mempercepat langkahnya dan membuat Junsu kewalahan untuk mengejarnya.
"Awas kau Park Yoochun! Akan aku bongkar rahasiamu pada Jaejoong!" gumam yeoja bermata sipit itu sambil mengatur nafasnya yang masih tak beraaturan.
.
.
.
Jaejoong sibuk merapihkan rambutnya yang kusut karena ulah Yoochun tadi. Yunho yang baru saja masuk ke ruang rawat Jaejoong hanya bisa tersenyum simpul melihat aktifitas yang dilakukan oleh yeoja itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Jaejoong mendongak kaget saat mendapati Yunho sudah berada di depannya.
"Jung uisa-nim? Kau membuatku jantungan saja!" seru Jaejoong.
Yunho lalu duduk di kursi dekat tempat tidur rawat Jaejoong sambil mengamati yeoja cantik itu. Jaejoong yang merasa di pandangi dengan tatapan yang lain dari biasanya hanya tersipu malu.
"Jung uisa-nim, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jaejoong heran.
"Hmm.. aku merasa ada sesuatu yang aneh..." dokter itu memandangi Jaejoong, membuat yeoja cantik itu semakin salah tingkah.
Jaejoong mengerutkan keningnya karena bingung dengan ucapan dokter tampan itu.
"Sesuatu yang aneh? Maksud uisa-nim?"
"Kau terlihat sangat ceria hari ini. Apa karena namjachingu-mu datang menjengukmu tadi?" tanya Yunho santai.
"Namjachingu?" tanya Jaejoong bingung. Seingatnya ia tidak mempunyai namjachingu saat ini.
"Ne, bukankah namjachingu-mu baru saja keluar dari ruangan ini?" jelas Yunho.
"Maksud uisa-nim, Yoochun? Dia bukan namjachingu-ku, tapi hanya sahabat saja," ucap Jaejoong dengan penuh penekanan.
Yunho hanya tertawa. Betapa lucunya melihat ekpresi Jaejoong yang saat ini sedang mendelik sebal ke arahnya.
"Ya! Kenapa uisa-nim malah tertawa? Apa ada yang lucu, huh?"
"Kau lucu, Jaejoong-ssi. Mengapa kau malu untuk mengakui namjachingu-mu sendiri? Kasihankan dia tidak kau akui." canda Yunho lagi.
"aku sudah bilang dia bukan namjachingu-ku, Jung Yunho uisa-nim!" teriak Jaejoong kencang.
"Arraseo arraseo, aku kan hanya bercanda Jaejoong-ssi. Kau sangat mengemaskan," ucap Yunho.
Lalu Yunho mengacak rambut Jaejoong. Jaejoong terdiam sejenak mendapat perlakuan seperti itu. Yeoja itu merasa ada hal yang berbeda saat tangan Yunho menyentuh bagian yang ada pada dirinya, rasa yang dia terima berbeda saat tangan Yoochun mengacak rambunya tadi.
"Uisa-nim, sebenarnya kau ke sini untuk apa? Memerikasa kondisiku lagi?" tanya yeoja cantik itu, menghentikan aktifitas yang dilakukan oleh Yunho.
"Hmm... tentu saja," gumam Yunho.
"Aku sangat bosan, Jung uisa-nim. Lagi pula kondisiku sudah jauh membaik, bukan? Aku ingin keluar dari ruangan ini..."
"Kau mau kemana, huh? Cuaca di luar sangat dingin. Lebih baik kau istirahat saja di sini."
"Shireo, aku bosan," keluh Jaejoong pelan.
Yeoja itu membaringkan tubuhnya dengan bibir yang mengerucut penuh. Baginya sangat membosankan berdiam diri di ruang rawatnya. Walaupun di luar sangat dingin, sebenarnya yeoja itu sangat menyukai salju. Salju menyisakan kisah kebahagian dan kenangan indah antara yeoja cantik itu dengan eomma-nya.
Yunho menatap wajah Jaejoong seolah mencari tahu apa yang terjadi pada yeoja yang mempunyai mata bulat dan besar itu.
"Apa kau marah?"
"Anio."
"Lalu kenapa kau tiba-tiba cemberut seperti itu?"
"Jebbal, aku bosan, Jung uisa-nim. Sebentar saja, ne..." mohon Jaejoong dengan menunjukan doe eyes andalannya.
"Tapi di luar sangat dingin. Walaupun kondisimu saat ini sudah membaik, udara dingin bisa mempengaruhi kesehatanmu," jelas Yunho.
Jaejoong semakin mengerucutkan bibirnya saat mendengar penjelasan dari dokter tampan itu. Ia membenampakan wajahnya di bawah selimut karena malas mendengar perkataan dokter itu lagi.
"Huh menyebalkan!" rutuknya kesal.
Yunho hanya bisa menggelangkan kepala ketika mendegar runtukan yeoja cantik berhidung mancung itu.
"Hmm... arraseo, aku akan mengijinkanmu keluar, Jaejoong-ssi," ucap Yunho akhirnya.
Jaejoong yang mendengar hal itu seketika membuka selimutnya dan tersenyum lebar pada Yunho.
"Jeongmal?!"
Yunho mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jaejoong.
"Tapi kau hanya boleh keluar selama 15 menit dan juga aku akan mengawasimu," kata Yunho.
Jaejoong menjadi sedikit sebal saat mendengar perkataan Yunho. Tapi akhirnya ia kembali ceria setelah ia menimbang-nimbang perkataan Yunho. Segera ia beranjak dari tempat tidur rawatnya.
"Pakailah mantelmu, Jaejoong-ssi!" perintah Yunho sebelum Jaejoong beranjak keluar kamar. Jaejoong berjalan ke arah nakas yang tak jauh dari tempat tidunya. Yeoja cantik itu mengambil mantel berwarna merah muda miliknya dan segera memakai mantel itu.
"Pakai syalnya juga!" seru Yunho.
Namja tampan itu mengambilkan syal warna merah yang terletak di tempat tidur Jaejoong lalu melilitkannya di leher Jaejoong. Hal itu membuat Jaejoong mematung dan mengeluarkan warna merah pada pipinya karena merasakan perhatian dari Yunho yang di rasakan sangat menyentuh hatinya.
"Gu...gu..mawo, Jung uisa-nim," ucap Jaejoong sambil terbata-bata pada Yunho.
Yunho membalas senyuman itu dan membuat Jaejoong semakin salah tingkah di depan Yunho.
"Cheonmaneyo, sekarang kau mau kemana? Aku akan mengantarkanmu."
"Aku hanya ingin ke taman belakang rumah sakit ini saja, soalnya aku ingin melihat salju turun dan mencari bunga salju," kata Jaejoong semangat.
Yunho hanya terdiam melihat Jaejoong. Yeoja itu semakin mengingatkannya pasa seseorang yang sangat ia rindukan.
Yunho menuruti keinginan Jaejoong untuk pergi ke taman belakang rumah sakit. Jaejoong tak henti-hentinya mengukir senyuman di bibir cerry merahnya saat ia berjalan di kolidor rumah sakit bersama Yunho. Sepertinya perasaan hangat saat bisa berjalan beriringan dengan dokter yang telah merawatnya dari beberapa hari yang lalu itu.
Langkah kaki Jaejoong dan Yunho terhenti saat mereka sampai di taman belakang rumah sakit. Yunho mendudukan dirinya di kursi taman rumah sakit sambil menggosok-gosokan kedua tangannya yang terasa dingin. Sementara itu Jaejoong tidak mencoba duduk di samping Yunho, melainkan ia kembali melakukan hal yang tidak dimengerti oleh Yunho, mencari-cari sesuatu di bawah tumpukan salju.
"Jaejoong-ssi, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Yunho.
Pandangan namja itu fokus pada yeoja mungil yang kini sedang ada pada jarak yang sedikit jauh di depannya.
"Aku hanya mencari bunga salju. Uisa-nim, apa kau belum perah melihat bunga salju?" tanya Jaejoong.
Senyuman yeoja itu begitu jelas tergambar seolah menandakan bahwa ia tengah bahagia saat ini.
"Bunga salju? Setahuku tidak ada bunga yang mekar di musim dingin. Bukankan ketika musim dingin datang, bunga-bunga itu telah berhenti bermekaran karena adanya musim gugur?" Yunho balik bertanya.
Jaejoong menanggapi perkataan Yunho namun tangannya masih sibuk mencari-cari sesuatu di bawah tumpukan salju.
"Jika uisa-nim percaya, bunga itu pasti ada. Sepertiku yang selalu mempercayai ucapan eomma tentang bunga salju itu. Dan akhirnya kemarin, eomma berhasil menunjukan bunga itu padaku. Tapi sayangnya, itu hadiah eomma yang terakhir untukku sebelum eomma meninggal..." suara Jaejoong berubah menjadi parau saat menceritakan kisahnya bersama eomma yang sangat ia sanyangi.
Yunho menghela nafasnya sejenak. Melihat yeoja cantik itu murung, membuat hatinya terasa beku. Yunho bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya. Hanya saja semenjak ia merawat yeoja itu di rumah sakit, ada setu perasaan yang selalu mengganjal hatinya. Ia ingin selalu melihat keadaan yeoja itu dalam keadaan baik-baik saja. Ketika yeoja itu tersenyum, Yunho merasakan dirinya tenang. Sebaliknya, ketika yeoja itu menangis ataupun terlihat sedih Yunho merasakan perasaan sesak di dadanya.
"Jaejoong-ssi, duduklah di sini!" Yunho menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya dengan tangannya, mengisyaratkan Jaejoong untuk segera duduk di sana.
Jaejoong menghentikan kegiatannya dan menuruti perintah Yunho. Yeoja itu lalu berjalan ke arah Yunho. Tapi pandangan yeoja itu menatap lurus ke arah salju yang menutupi hampir seluruh halaman taman belakang rumah sakit itu.
Putih. Jaejoong tak bisa melepaskan pandangannya dari sesuatu yang disebut salju itu. Kenangan demi kenangan berputar seperti roll film dalam memori otaknya. Ia ingat ketika dua minggu yang lalu, eomma-nya menunjukkan ia sebuah bunga yang sangat indah. Bunga snowdrop, bunga yang mekar saat musim dingin. Bunga itu muncul dari bawah tumpukan salju. Mahkota bunga itu berwarna putih dan putiknya sedikit berwarna hijau kekuningan.
"Jung uisa-nim, dulu eomma-ku pernah bilang akan menunjukkan sebuah bunga yang mekar di musim dingin pada Joongie. Awalnya Joongie juga tidak percaya, tapi akhirnya eomma berhasil membuktikannya padaku, dan bunga itu sangat indah..." cerita Jaejoong saat ia sudah mendudukan tubuhnya di samping Yunho.
Yunho lalu menoleh ke arah Jaejoong yang masih menatap ke depan seolah tengah mengingat-ingat kenangan bersama eomma-nya.
"Jeongmal? Memangnya seperti apa bunganya?" tanya Yunho ingin tahu.
"Bunganya berwarna putih, seperti melambangkan ketulusan. Jika bunga itu mekar, putik bunga itu akan berwana hijau kekuningan. Bunga itu sangat indah..."
"Tetapi... aku tidak menyangka jika bunga itu adalah hal terakhir yang ingin eomma tunjukan pada Joongie," sambung Jaejoong.
Jaejoong terdiam sejenak. Hatinya sedikit sesak saat mengingatkan kenangan bersama eomma-nya. Mungkin sebentar lagi air matanya akan segera menetes keluar.
"Kau tahu, Jaejoong-ssi. Kau masih beruntung, di luar sana masih banyak sekali orang yang ditinggalkan tanpa sepatah katapun. Jika kau lebih membuka matamu, kau akan tahu kau sangat beruntung hidup di dunia ini. Dan juga kau masih mempunyai appa yang sangat menyayangimu. Kau harus tetap hidup dan bahagia untuknya..." Yunho menasehati yeoja canti itu sambil menatap Jaejoong dengan tatapan lembut.
'Aku memang masih mempunyai appa, tapi haruskah aku hidup dan bahagia? Bukankah dia yang membuat eomma meninggal?' batin Jaejoong. Selalu perkataan seperti itu yang ia dengar saat eomma-nya meninggalkan ia selama-lamanya. Tapi sesungguhnya bukan hal itu yang ingin ia dengar dari orang-orang itu.
"Arraseo, uisa-nim. Tetapi ada satu perkataan eomma yang masih belum aku tahu jawabannya sampai sekarang..." keluh Jaejoong.
"Perkataan tentanga apa?" tanya Yunho.
"Eomma bilang padaku, bunga memiliki pilihan untuk hidup di musim yang ia inginkan, begitu juga dengan hati manusia..." ungkap Jaejoong.
Yunho dan Jaejoong kini hanya terdiam dan tak tahu harus membicarakan apa. Yunho pun tidak mengerti dengan perkataan eomma-nya Jaejoong.
"Emm... lambat laun kau pasti menemukan jawabannya, Jaejoong-ssi. Sekarang sudah lebih dari 15 menit, kau harus kembali keruang rawatmu. Lagi pula aku harus segera mengganti perban di pergelangan tanganmu dengan perban baru."
Jaejoong hanya menangguk untuk menjawab pertanyaan Jaejoong. Mereka berdua akhirnya kembali ke ruang rawat Jaejoong.
.
.
.
Senja telah tiba saat Jaejoong dan Yunho kembali berada dalam ruang rawat Jaejoong. Jaejoong merasa sedikit lega karena bisa membagi cerita dengan Yunho, atau mungkin lebih tepatnya dengan orang yang ia sukai sejak beberapa jam yang lalu.
"Jung uisa-nim, jeongmal gumawo..." ucap Jaejoong saat Yunho tengah mengganti perban di pergelangan tangannya dengan perban baru.
"Mwoga?" Yunho sedikit tersenyum menanggapi ucapan Jaejoong.
"Karena uisa-nim telah mendengar ceritaku. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan pada uisa-nim. Hanya saja..." ucap Jaejoong menggantung kata-katanya.
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja, uisa-nim memberikan Joongie waktu 15 menit di taman tadi. Padahalkan Joongie masih ingin bermain dan menikmati musim dingin."
Jaejoong sedikit memanyunkan bibir cerrynya dan membuat Yunho tertawa melihat hal itu.
"Jaejoong-ssi, sudah kubilang udara di luar tidak ba..."
"Ne, arra arra! Kau sudah mengatakannya berulang kali, Jung uisa-nim. Aku sampai bosan mendengarnya!"
"Bagus jika kau sudah tahu," Yunho tersenyum jahil pada Jaejoong. Jaejoong semakin kesal dengan dokter yang ada di hadapannya itu.
"Sebenarnya bukan hanya karena hal itu saja aku melarangmu untuk tidak terlalu lama di luar."
"Lalu karena apa?" tanya Jaejoong.
"Kau tahu, hobimu sangat buruk."
"Hobiku buruk? Hobiku yang mana?" tanya Jaejoong yang tak mengerti.
"Hobimu yang suka mencari bunga salju. Kau tahu kan jika tanganmu sedang terluka? Apa kau tidak merasa sakit saat tanganmu yang terluka ini terkena salju yang dingin? Aku khawatir luka yang ada di pergelangan tanganmu akan bertambah parah," ucap Yunho secara menatap mata bulat yeoja yang ada di hadapannya kini.
Jaejoong sedikit tertegun setelah Yunho mengatakan hal itu. Yeoja cantik itu benar-benar tidak menyangka bahwa Yunho sangat memperhatikan kesehatannya.
"Kenapa hanya diam, hmm? Apa kau baru sadar aku melarangmu karena mempunyai alasan yang kuat?" tanya Yunho.
Jaejoong hanya mengangguk pelan dan tak mampu menatap Yunho. Yeoja cantik itu merasa bersalah karena menganggap Yunho terlalu mengekangnya padahal namja itu memiliki niat yang tulus padanya.
"Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menapati janjimu."
"Janji? Janji yang mana?" sepertinya Jaejoong lupa tentang janjinya yang ia ucapkan tadi pagi.
"Padahal baru beberapa jam yang lalu, apa kau sudah lupa, huh?"
Jaejoong masih berpikir dan mengingat-ingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"OMO! Ne, aku mengingatnya. Arrayo uisa-nim, jangan khawatirkan aku, aku akan hidup dengan baik dan tidak mengulang perbuatan bodoh itu!" seru Jaejoong dengan semangat.
"Yaksok? Kau harus pegang janjimu itu Jaejoong-ssi. Setelah kau keluar dari rumah sakit ini, aku tidak mau mendengar kabarmu menyanyat nadi di tanganmu ini lagi atau apapun yang yang berhubungan dengan percobaan bunuh diri."
Yunho menatap mata bulat besar itu dengan serius, Jaejoong hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Yunho.
"Jja, sudah selesai," ucap Yunho saat ia sudah selesai mengganti perban lama dengan yang baru di pergelangan tangan Jaejoong.
"Jaeongmal gumawo, uisa-nim," ucap Jaejoong sambil membaringkan tubuhnya, hari ini sedikit merasa melelahkan untuknya namun juga sangat menyenangkan.
"Ne, cheonmaneyo. Istirahatlah, jaljayo," kata Yunho. Yunho pun segera meninggalkan ruang rawat Jaejoong dan menyisakan Jaejoong yang kini tinggal sendiri di dalam ruang rawatnya.
'Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada Jung uisa-nim...' batin Jaejoong sebelum terlelap di tempat tidur rawatnya.
.
.
.
TBC
