[ January 02, 2017, 5:15:29 PM ]

Cigarette Lighter

HunSoo

Sehun - Kyungsoo

Slight; ChanBaek [Chanyeol - Baekhyun]

Lien

.


..()..

.

Ch2. SWEETNESS & FEAR

Ia tak pernah mengira bahwa menunggu bisa membuatnya merasa bahagia, sembari memikirkan seseorang yang telah dengan begitu cepat menguasai hatinya, membuat dedaunan musim gugur terlihat seperti ratusan mawar menggantung di langit. Masih terlalu cepat lima belas menit untuk waktu kedatangan Sehun, tapi Kyungsoo sudah menunggu di teras rumah. Dan hanya menunggu lima menit, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya. Saat si pengemudi membuka pintu mobil, Kyungsoo tersenyum, sepertinya Sehun juga mempercepat waktu pertemuan mereka.

Kyungsoo membuka pintu pagar lalu menghampiri Sehun, ia memperhatikan pria di hadapannya dari ujung rambut hingga kaki, rambut yang masih basah terlihat berantakan, kaos putih, celana hitam, sepatu hitam, namun ada sesuatu yang membuat Kyungsoo merasa sedikit tidak tenang. Tanpa mengatakan apapun Kyungsoo melewati Sehun, lalu membuka pintu kemudi mobil, lantas memasukkan setengah badan ke dalam. Sehun yang kini bingung, memperhatikan dengan kening bertaut.

"Kau tidak akan menemukan perempuan di dalam sana, percuma mencurigaiku." Ujarnya dengan intonasi jenaka.

"Jika itu terjadi, aku akan menghajarmu hingga wajahmu tidak bisa dikenali." Ancam Kyungsoo yang diucapkan dengan serius namun menuai tawa dari Sehun.

Kyungsoo melihat kursi belakang, namun tak menemukan yang dicarinya, kemudian ia membuka box mobil di sebelah kanan, dan ia mendapatkan apa yang diinginkannya, topi hitam ia ambil dari sana, lalu mendekati Sehun yang tampak semakin bingung.

Kyungsoo berjinjit untuk menggapai kepala Sehun, dan Sehun yang menyadarinya segera menundukkan kepalanya pada Kyungsoo, sembari memakaikan topi itu pada Sehun, Kyungsoo berkata; "Aku tidak suka menjadi perhatian orang lain, kau harus ingat."

Sehun menanggapinya dengan tawa kecil. "Rambutku masih basah karena aku terburu-buru, kau tahu? Lagi pula kita bukan selebritis."

Kyungsoo berdecak; "Abaikan rambut basahmu. Dan Juga, jangan pura-pura tidak tahu, kau pasti sangat sadar bahwa kau menarik perhatian orang-orang,"

Sehun meraih kerah jaket putih Kyungsoo dan membenarkan posisinya. "Tidak sebanyak ketika bersamamu."

Kyungsoo mengingat kejadian di kelas Sehun tempo hari. "Ya ya, karena mereka bertanya-tanya mengapa pria tampan itu bersama dengan pria pendek itu." Balas Kyungsoo, nada suara dibuat-buat terkesan kesal.

"Mereka juga bertanya-tanya siapa pria manis itu." Ujar Sehun lalu menyematkan ciuman kecil di bibir Kyungsoo. "Ayo masuk." Ajaknya kemudian.

"Ugh. Jangan terus menciumku dengan tiba-tiba, apalagi saat kita di depan rumahku. Dan juga, jangan memperlakukan aku seperti seorang perempuan." Gerutu Kyungsoo sembari memutar langkah ke arah sisi kanan mobil, Sehun hanya tertawa renyah mendengarkan. Saat Sehun masuk dan duduk di sisi kemudi, Kyungsoo mengikutinya dengan duduk di sampingnya.

"Kau membawa pemantik ku?" Tanya Sehun selagi menyalakan mobil dan menjalankannya.

Ketika ia tidak menunjukkan pemantik itu, Sehun menanyakannya. Entah mengapa itu membuat Kyungsoo merasakan perasaan yang sama ketika pertama kali bertemu dengan Sehun.

"Hm, di dalam saku celanaku." Jawab Kyungsoo.

"Apa aku boleh melihatnya?" Tanya Sehun, namun suaranya terdengar ragu, dia pun tak mengalihkan pandangannya dari jalan, seakan menghindar untuk bertatapan dengan Kyungsoo, seolah dia takut membuat Kyungsoo menyadari sesuatu jika menatap matanya ketika meminta hal itu.

Kyungsoo mengeluarkan pemantik perak milik Sehun dari saku celananya, kemudian Sehun melihat pada pemantik itu hanya sepersekian detik. Namun terlambat, itu terlalu jelas untuk tidak disadari Kyungsoo, pemantik itu bukan hanya sekedar pemantik terlepas dari harga dalam nominal uang. Kemudian dalam pikirannya Kyungsoo bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika ia tidak membawa pemantik itu?

Untuk beberapa saat suasana menjadi canggung namun Sehun tiba-tiba memulai ceritanya tentang masa kecilnya bersama Chanyeol, berlanjut pada saat pertama kali dia tiba di Amerika saat usia 9 tahun, lalu tentang dia yang kesulitan menyelesaikan laporan di beberapa mata kuliahnya. Kyungsoo melakukan hal sama, menceritakan masa kecilnya, tentang keluarganya, tentang teman-temannya, namun tak ada yang melangkah lebih jauh dari garis itu, tak ada yang membuka sesuatu yang lebih mendalam tentang hidup mereka masing-masing, hingga mereka sampai pada tujuan.

Tujuan pertama adalah pameran lukis yang sangat disukai Sehun. Bersisian mereka melihat lukisan yang terpajang di sepanjang dinding. Selama itu Sehun menceritakan tentang seniman lukis yang diseganinya dan Kyungsoo mendengarkan dengan saksama, ia sampai merasa bahwa sepertinya ia juga mulai menyukai seni lukis. Kemudian menonton film menjadi tujuan mereka selanjutnya, Kyungsoo sangat menyukai film dan kali ini giliran Kyungsoo yang bercerita tentang film dan aktor yang disukainya. Sore hari pergi ke sebuah festival musim gugur, bermain berbagai macam permainan dan menikmati segala jenis makanan yang belum pernah dicicipi. Dan saat malam hari, Kyungsoo dan Sehun menonton sebuah penampilan band indi di pusat kota.

Waktu hampir lewat tengah malam, Kyungsoo berdiri di baris belakang menunggu Sehun yang sedang membeli minuman. Kepala bergerak-gerak selagi bergumam mengikuti lagu yang dinyanyikan, tangan bertepuk pelan bersama irama, namun tiba-tiba seseorang membentur bahu Kyungsoo dari belakang, kaki tak seimbang lalu ia jatuh tersungkur. Kyungsoo meringis merasakan lututnya yang terasa sakit, dan saat berdiri ia tak menemukan seorang pun yang seharusnya merasa bersalah padanya, semua orang di dekatnya tengah terfokus pada pertunjukan, dan detik itu Sehun sudah berada di samping Kyungsoo dengan ekspresi wajah khawatir yang dalam sekejab menjadi raut wajah menunjukkan kemarahan.

Dua kaleng minuman di tangan, dijatuhkan dengan sengaja, lalu Sehun berlari ke arah kerumunan. Awalnya Kyungsoo tertegun bingung, namun ketika melihat Sehun sedang mengejar seseorang di depan yang juga sedang menerobos kerumunan, akhirnya ia menyadari apa yang dilakukan Sehun. Kyungsoo segera mengejarnya sembari memanggil namanya, namun suara bising sepertinya menenggelamkan teriakannya. Hingga Kyungsoo melihat Sehun mencengkram kerah baju seorang pria di depan sana, seketika ia menjadi panik saat Sehun menjadi pusat perhatian, dengan susah payah melewati kerumunan, Kyungsoo tiba di posisi Sehun tepat sebelum pria itu melayangkan pukulan pada pria yang lain.

Kyungsoo memegangi tangan Sehun sembari menarik tubuhnya. "Sehun, hentikan, ku mohon." Pinta Kyungsoo dengan suara frustrasi, namun Sehun tak bergerak dari posisinya sembari menatap tajam seakan dia ingin membunuh pria yang kini terlihat takut menatap dirinya.

"Sehun!"

Dan seruan Kyungsoo menyadarkan Sehun, ia melihat Kyungsoo yang memandang dirinya dengan khawatir, lalu amarahnya menghilang begitu menatap mata bulat itu. Kemudian sekali lagi ia menatap pria yang telah membentur bahu Kyungsoo hingga terjatuh dengan mata memperingati, sebelum ia menarik tangan Kyungsoo dan membawanya keluar dari kerumunan yang sedang memperhatikan mereka.

Ke duanya berdiri dengan diam di samping mobil yang terparkir, tanpa sanggup melihat pada satu sama lain, suasana canggung kembali menghampiri mereka. Namun keadaan yang berlarut membuat Kyungsoo tidak nyaman, hingga ia memutuskan untuk melepas suasana canggung di antara mereka.

"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.

"Hm." Gumam Sehun singkat, yang menyebabkan Kyungsoo ragu untuk bicara lebih lanjut.

"Lututmu terluka?" Dan pertanyaan Sehun membuat Kyungsoo terkejut hingga ia tertegun sebelum bisa menjawab;

"Tidak."

Ke duanya kembali terdiam. Sejenak,

"Aku tinggal sendiri, dan keluargaku tinggal di Amerika." Ujar Sehun. Kyungsoo menoleh, bingung, tapi kebingungannya segera terjawab; "Ingin menginap di rumahku?"

Ruangan braroma maskulin memberi stimulus yang merangsang penciuman, lalu mengirimkan desiran panas pada kulit, berirama dengan setiap usapan lembut jari-jari Sehun di permukaan tubuhnya. Diperlakukan dengan sangat hati-hati menimbulkan perasaan gelisah dan takut, Kyungsoo ingin Sehun lebih kasar, mencengkramnya dengan kuat, dengan begitu ia tak perlu merasa takut bahwa pegangan Sehun akan terlepas, karena setiap desahan napasnya kini menyadarkannya, bahwa ia tak akan bisa lagi merasa hidup jika tanpa Sehun. Bentuk rengekan dan permohonan ia ungkapkan dalam ciuman menuntut, melumat bibir Sehun, menarik tubuhnya lebih dekat, hingga ia merasakan dentuman detak jantungnya—detak jantung Sehun yang menegaskan bahwa dia merasakan hal yang sama. Sehun mengangkat tubuh Kyungsoo, membaringkannya di atas ranjang, menempelkan milik mereka yang mengeras, fakta dari hasrat yang dahaga, kemudian senyum lembut terlukis di wajah sehun, mata sendu seolah berkata bahwa dia berharap pagi tak pernah datang.

.

..()..

.

Ia bermimpi. Mimpi dari kenangan yang sudah lama menghilang, tentang pria yang sudah meninggalkannya demi wanita lain, bahkan setelah hubungan mereka berjalan 9 tahun, saat itu ia tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menangis meratapi rasa sakit. Pria itu telah meninggalkan lubang besar di hatinya, membuatnya terpuruk hingga ia tak bisa mengingat lagi bagaimana rasanya menjadi seseorang yang hidup. Kini ia berdiri di hadapan pria itu, tersenyum, dan mengucapkan selamat tinggal, selama lubang besar di hatinya perlahan terisi oleh perasaan hangat untuk seseorang yang lain. Sebelum membuka mata, ia berharap bahwa itu bukan hanya sekedar mimpi.

"Selamat pagi." Suara lembut menyapa telinga, Kyungsoo menoleh, menemukan Sehun duduk di sofa dengan komputer laptop di pahanya. Dia tampak segar, mengenakan kaos putih dan celana dril abu-abu, rambut masih terlihat basah, namun dia sangat berbeda dengan kacamata yang dipakainya.

Kyungsoo tak menjawab, tubuhnya yang terasa tidak nyaman, menarik perhatiannya. Ia mengintip ke dalam selimut tebal yang menutupi tubuhnya, masih telanjang, karena itu ia merasa tidak nyaman, dan dari pada itu ia merasa bahwa tulang pinggangnya telah patah, punggungnya terasa nyeri.

"Aku akan menyiapkan air hangat." Ujar Sehun.

"Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo bertanya, mengehntikan gerakan Sehun yang hendak meletakkan laptop ke atas meja.

Melihat Sehun yang menatap dengan bingung, Kyungsoo menjelaskan; "Maksudku, apa yang sedang kau lakukan di laptopmu."

Kedua alis Sehun terangkat, sebelum ia mengerti; "Ah, aku sedang mengerjakan laporan laboratorium, aku sudah menceritakannya padamu kemarin."

"Oh," Kyungsoo bergumam kecil. Ia bangun dari posisinya dan seketika ringisan sakit terlepas dari bibirnya, membuat Sehun segera berlari ke arahnya dan membantunya bersandar pada kepala ranjang.

"Seharusnya kau memberitahuku jika ini pertama kalinya bagimu, jadi kita tidak harus terburu-buru." Ujar Sehun selagi menyelipkan bantal di belakang punggung Kyungsoo. Ada raut bersalah di wajahnya.

Kyungsoo membenarkan posisi selimut hingga batas pinggang, "Ini bukan pertama kalinya." Tanggapnya. Kemudian ia mengangkat wajah menatap Sehun yang berdiri di samping rangjang, yang menatap ke arahnya dengan ekspresi datar. "Ini bukan pertama kalinya bagiku." Kyungsoo kembali berkata, nada menegaskan jelas terdengar.

Sehun menunduk, merendahkan tubuhnya, kedua telapak tangan bertumpu di atas kasur dengan Kyungsoo terperangkap di antara ke dua lengannya, lalu ciuman lembut yang bertahan beberapa detik ia sematkan di bibir Kyungsoo. "Siang ini teman-teman kelompok di laboratorium komputer akan pergi ke pantai untuk menyegarkan pikiran dari padatnya tugas akhir-akhir ini, termasuk aku dan Chanyeol, kau ingin ikut? Kurasa Chanyeol juga pasti membawa Baekhyun bersamanya." Ucap Sehun, di luar dugaan Kyungsoo.

Apa Sehun menghindari topik yang baru saja Kyungsoo bawa? Apakah Sehun tidak peduli?

Ah. Kyungsoo segera membuang pikiran itu jauh.

"Hm." Kyungsoo mengangguk sebagai respon.

.

..()..

.

Pergi ke pantai di musim gugur benar-benar ide buruk, Kyungsoo meringkuk di bangku panjang di pinggir pantai dengan selimut dan jaket tebal bersama Baekhyun, payung lebar memiliki tiang tinggi yang menaungi mereka, menimbulkan bunyi tertiup angin. Tak ada orang lain selain mereka di sana, namun cuaca dingin sepertinya tidak berpengaruh bagi teman-teman Chanyeol dan Sehun, mereka bermain di pantai, berlarian dan berenang, para perempuan bahkan menggunakan bikini, seperti sekelompok orang yang benar-benar ingin melepaskan setres dari agenda padat kuliah mereka.

Samar terdengar seseorang menyebutkan nama Sehun, Kyungsoo yang mendengarnya kemudian menoleh ke arah suara, tiga orang perempuan yang berkumpul di bibir pantai tak jauh dari Kyungsoo dan Baekhyun, saling membisikan sesuatu. Di saat bersamaan, Sehun dan Chanyeol bersama dengan dua pria lainnya, berjalan ke arah pantai dengan masing-masing membawa alat selancar, mereka bertelanjang dada dan hanya menggunakan Boxer. Ke tiga perempuan itu pun tertawa bercekikikan.

"Bukankah itu sedikit ekstrim?" Bisik perempuan berambut pendek menggunakan bikini warna merah.

"Kurasa kekasihnya sengaja melakukannya untuk memamerkannya pada kita." Perempuan berambut panjang dengan bikini hitam menanggapi tajam.

"Hanya perempuan posesif yang akan melakukan itu, apalagi pada pria tampan seperti Sehun." Ujar perempuan berambut ikal pendek menggunakan bikini biru.

Ekspresi Kyungsoo berubah masam mendengar percakapan ke tiga perempuan itu, "Seenaknya saja mengatakan orang lain posesif." Gerutunya tanpa sadar, dengan suara menggumam.

"Aku juga ingin bertanya, kenapa aku tidak pernah tahu kalau kau adalah pria yang sangat posesif." Kyungsoo menoleh mendengar ucapan Baekhyun yang duduk di sampingnya, ia menatap tajam dengan isyarat menuntut.

"Apa kau tidak sadar pada apa yang sudah kau lakukan?" Baekhyun menunjukkan eskpresi tak percaya, "Lihatlah Sehun baik-baik."

Kyungsoo menoleh pada Sehun yang kini berdiri tepat di bibir pantai sembari memegangi alat selancar sementara matanya memandang ombak, detik itu Kyungsoo tak bisa menyembunyikan eskpresi terkejutnya, matanya membulat lebar menyaksikan bagaimana dada dan punggung Sehun dipenuhi tanda ciuman yang berwana merah pekat, otaknya langsung berputar mundur pada peristiwa semalam untuk mengingat kembali bagaimana ia telah membuat tanda-tanda itu di tubuh Sehun, lalu Kyungsoo menggeram sembari menutup wajahnya yang kini memerah menggunakan ke dua telapak tangannya.

"Apa yang sudah ku lakukan? Tidak, bukan apa yang ku lakukan, tapi apa yang dia lakukan bertelanjang dada dengan penampilan seperti itu?" Ratap Kyungsoo, masih membekap wajahnya.

"Bukankah bagus, Sehun terlihat begitu percaya diri, dia seperti ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia sudah menjadi milik seseorang." Ujar Baekhyun. "Haruskah aku mengatakan pada para gadis di sana siapa yang memberikan tanda ciuman itu?" Goda Baekhyun, yang membuat Kyungsoo seketika mengangkat wajahnya yang semakin memerah saat memberi tatapan tajam yang memperingatkan, namun Baekhyun meresponnya dengan tawa keras. "Ah, kenapa aku tidak pernah berpikir ingin melakukannya pada Chanyeol." Gumam Baekhyun kemudian.

Sembari menggeram Kyungsoo berdiri dari bangku, meninggalkan Baekhyun dan berjalan ke arah mobil Sehun yang di parkir tak jauh dari pantai. Kyungsoo mengeluarkan kunci mobil Sehun dari saku jaketnya, kemudian setelah mobil terbuka, ia masuk ke dalam lalu duduk menghempaskan tubuhnya, sembari menggeram ia menutup wajahnya lagi dengan ke dua tangannya, rasanya ia bisa mati karena malu. Sekarang ia berpikir apa yang mungkin dipikirkan Sehun mengenai tanda ciuman itu, dan itu membuatnya takut. Akan tetapi jika mengingat kembali, ia memang melakukannya dengan perasaan tak ingin melepaskan Sehun, yang berarti ia telah menunjukkan sebuah obsesi dengan melakukan itu. Apa Sehun akan berpikir bahwa dirinya terlalu berlebihan?

Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Kyungsoo terlonjak kaget. Sehun berdiri di sana dengan tubuh membungkuk sembari memandang khawatir pada Kyungsoo yang duduk di dalam mobil, "Kau baik-baik saja? Apa tubuhmu masih terasa sakit? Kau ingin kita pulang?"

Kyungsoo tertegun mendengar pertanyaan bertubi dari Sehun. "Ti-tidak." Jawabnya gugup ketika ia melihat lebih dekat tanda ciuman di tubuh Sehun. Ia tak percaya ia benar-benar melakukan itu. Kyungsoo frustrasi dalam hati.

Kening Sehun bertaut, menatap Kyungsoo lekat seakan ia mencari apa yang salah. "Tunggu di sini, aku akan mengganti bajuku sebentar." Ujarnya kemudian.

Kyungsoo ingin menahannya tetapi Sehun sudah menutup pintu mobil dan berlari menjauh. Kemudian ia menunggu dengan gelisah, ia khawatir, pada hubungan yang dimulai dengan sesuatu yang tidak begitu jelas tetapi Kyungsoo sudah mendeklarasikan sesuatu tanpa persetujuan Sehun. Kyungsoo kembali terlonjak kaget saat pintu kemudi mobil terbuka, Sehun sudah mengenakan kaos hitam dengan jaket tebal berwarna cokelat. Saat duduk, Sehun membuka minuman green tea kaleng yang dibawanya lalu memberikannya pada Kyungsoo.

Ia mengambil minuman kaleng yang masih hangat dari tangan Sehun lalu meminumnya sebelum berkata, "Kau seharusnya tidak meninggalkan teman-temanmu." Tukasnya.

"Aku kedinginan, kau lihat?" Jawab Sehun memperlihatkan bibirnya yang berubah warna ungu.

Kyungsoo menatapnya kemudian tertawa kecil. Sementara Sehun mengambil kaleng minuman dari tangan Kyungsoo dan meletakkannya di dekat dasbor, kemudian menarik tubuh Kyungsoo lalu mendudukkannya di atas pangkuannya, kursi kemudi yang sempit membuat tubuh mereka berhimpitan dengan dada yang saling menempel.

"Begini lebih baik." Ujar Sehun sembari memeluk pinggang Kyungsoo.

Kyungsoo yang terkejut hanya bisa terpaku tak percaya. "Kau benar-benar pria yang impulsif."

"Terimakasih." Ujar Sehun.

"TIdak ku terima karena itu bukan pujian." Balas Kyungsoo.

Keduanya terdiam saling menatap, namun sesaat kemudian tertawa. Kyungsoo melingkarkan ke dua lengannya di leher Sehun, lalu menumpu dagunya di bahu Sehun. Kehangatan dari tubuh mereka membuat Kyungsoo terbawa dalam tidur saat masih berada di pangkuan Sehun. Kemudian saat membuka mata, dengan posisi berbaring di samping kursi kemudi, Kyungsoo melihat bahwa mereka sudah berada di depan rumahnya. Sehun berbisik di telinga Kyungsoo bahwa ia ingin membawa Kyungsoo pulang bersamanya, tetapi ia tidak ingin membuat orang tua Kyungsoo khawatir.

.


..()..

.

Hari selalu menjadi menyenangkan selama bersama Sehun, hingga tak terasa waktu telah berjalan 6 bulan sejak mereka bersama. Tak ada yang bertanya alasan mengapa mereka bersama, tak ada di antara mereka berdua yang mempertanyakan dasar hubungan mereka, semuanya mengalir seperti air tenang. Meski begitu, hanya ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran Kyungsoo, yaitu Sehun yang selalu menanyakan apakah Kyungsoo membawa pemantik itu atau tidak setiap kali mereka bertemu, dan semakin hari semakin membuat Kyungsoo gelisah karena Sehun akan menanyakannya berulang kali dan hanya akan berhenti jika Kyungsoo sudah memperlihatkan pemantik itu padanya.

Ada saat di mana Kyungsoo berpikir bahwa ia sebaiknya mengembalikan pemantik itu, tetapi jauh di dalam dirinya, entah mengapa hatinya selalu berkata bahwa ia akan kehilangan Sehun begitu melepaskan pemantik itu. Karenanya Kyungsoo memutuskan bahwa mereka perlu bicara, memulainya dari awal dan menghapus setiap keraguan, sehingga bisa menegaskan dengan benar-benar tentang hubungan dan perasaan mereka yang sesungguhnya.

"Kenapa tiba-tiba? Apa kau merasa tidak puas akan sesuatu?" Itulah jawaban yang diberikan Sehun ketika Kyungsoo menyampaikan keinginannya.

Gerimis mulai membasahi jalan kering di luar sana, kafe semakin sepi mengingat semua orang bergegas kembali ke rumah masing-masing sebelum hujan mengguyur. Kyungsoo memainkan jarinya pada sisi cangkir teh yang masih hangat, "Ini bukan tentang aku tidak puas akan sesuatu, hanya saja—"

"Kau tidak percaya padaku?" Sergah Sehun dengan nada menuduh. "Kau merasa khawatir dan gelisah karena kau tidak percaya padaku."

Kyungsoo tertegun, terkejut mengapa Sehun tiba-tiba menjadi emosinal.

Sehun mendesah seakan berusaha menenangkan diri sendiri. "Kita jangan bicarakan ini lagi." Ujarnya sembari tersenyum, meski Kyungsoo tak lepas menyadari senyum kosong itu. "Kau membawa pemantiknya?" Tanyanya kemudian.

Kyungsoo merasa dihantam kenyataan menyakitkan, tidak sadarkah Sehun bahwa itu lah yang menjadi permasalahan baginya? Dia yang seakan tak bisa hidup tanpa melihat pemantik perak itu satu hari pun, dia yang terlihat sangat bergantung pada pemantik itu, dan dia, yang seolah hanya peduli pada pemantik itu.

Kyungsoo berusaha keras menenangkan perasaannya, lalu memasang ekspresi datar sebagai pertahanan. "Aku kehilangan pemantikmu." Jawabnya.

Mata Sehun tiba-tiba membulat lebar, kemudian berdiri dengan cepat hingga kursi yang didudukinya terjatuh, beberapa pengunjung kafe melihat arah kegaduhan itu.

"Katakan kau tidak menghilangkannya." Dengan mata tajam ia berkata, suara penuh nada mengancam.

Namun tatapan datar Kyungsoo tak goyah. "Aku menghilangkannya." Tegasnya, bersamaan dengan suara meja yang digebrak keras oleh Sehun, Kyungsoo sedikit terlonjak karena terkejut, namun ia mengangkat wajah dan membalas tajam tatapan mata gelap Sehun.

"Kau menghilangkannya?!" Bentak Sehun, napas memburu karena amarah. "Aku mempercayakan pemantik itu padamu dan kau menghilangkannya? Kau pikir bagaimana aku harus memaafkanmu, Kyungsoo?!" Maki Sehun frustrasi.

Kyungsoo menelan ludah seakan menelan peluru yang sebentar lagi akan bersarang di dadanya, rasa sakit di hati membuatnya sulit untuk bicara, Sehun yang berada di hadapannya bukanlah Sehun yang ia kenal, dia adalah sisi lain dari Sehun yang tidak pernah ia lihat, yang lepas kontrol dan tidak terkendali, karena dia begitu terikat pada pemantik itu. Dan karenanya kini Kyungsoo bisa melihat gambaran jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya selama ini, Sehun tak berbohong bahwa pemantik itu berharga sama dengan nyawanya, dan kepastian yang bisa Kyungsoo lihat sekarang, ada kisah tentang pemantik itu, yang tidak akan pernah bisa membuat Sehun terlepas, yang akan selalu menjadi dinding pembatas di antara mereka. Kyungsoo dengan yakin berani berkata jika pemantik itu adalah simbol perjalanan hidup Sehun, yang akan selalu mengikatnya pada masa lalu.

Kyungsoo tertunduk pasrah, bagaimana pun ia tak akan bisa menang dari sesuatu yang mengikat Sehun begitu erat, karena itu, sekarang atau tidak sama sekali, kali ini, jika hubungan itu harus berakhir, maka ia harus mengakhirinya tanpa penyesalan, tidak seperti saat ia ditinggalkan pria masa lalunya.

"Tidak perlu." Ujar Kyungsoo sembari berdiri. "Kau tidak harus memaafkanku untuk apapun." Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan mengeluarkan pemantik perak dari sana, lalu meletakkannya tepat di hadapan Sehun. "Setidaknya, sekarang aku tahu bahwa selama ini kau tetap bersamaku karena aku memegang benda itu." Kening Sehun bertaut bingung. "Kau boleh memilikinya kembali, dengan begitu kita tidak harus bertemu lagi dan aku tidak harus selalu mendapatkan pertanyaan sama yang membuatku hampir merasa bosan mendengarnya."

Kyungsoo mengambil tas hitam miliknya yang disampirkan di punggung kursi yang ia duduki, menyampirkannya ke bahu kemudian beranjak, namun hanya satu langkah ia berhenti, dan tanpa menoleh ia berkata; "Sebelum itu aku ingin kau tahu, aku tidak pernah mendustai perasaanku, yang kuperlihatkan selama ini adalah kejujuran dan ketulusanku. Aku jatuh cinta padamu juga bukan kamuflase, sehingga wajar bagiku merasa gelisah ketika aku bahkan tidak tahu alasan mengapa kau bersamaku. Aku ingin kita memulainya dengan benar, membicarakannya satu persatu, membuka perlahan apa yang tidak ingin kita perlihatkan."

Ia menoleh dan bertemu dengan tatapan Sehun yang benar-benar tampak bingung, seolah dia sedang tersesat di suatu tempat yang lain. "Kau berkata bahwa pemantik itu adalah nyawamu, jadi aku ingin mengetahui alasannya, sehingga aku bisa memahaminya. Kau mungkin tidak akan mengerti, bagaimana rasanya memilikimu tapi itu hanya seperti mimpi karena kau seakan justru adalah milik orang lain di saat yang sama. Aku hanya ingin bicara, agar aku tidak perlu lagi merasa dihantui sesuatu yang tidak kuketahui. Kenyataannya, bukan aku yang tidak mempercayaimu, tapi kau, kau yang tidak pernah mempercayaiku, kau tidak pernah ingin membuat hubungan kita menjadi nyata." Sehun tertegun selama Kyungsoo menunjukkan senyum tipis yang menyimpan pilu. "Untuk sesaat kau menakutiku, Sehun."

.


NEXT 3


.