"Tak terasa sudah tiga tahun aku bekerja sebagai pelayan seperti ini di tempat yang lebih mirip neraka daripada sebuah kepangeranan, dan anehnya aku bisa betah, dan sekarang Tianyi sudah jadi apa ya? Apa menjadi gadis cantik yang hidup bahagia?" tanya Ling yang tengah asyiknya berjalan menuju pasar dengan daftar belanja di tangannya.
Brak!
Prang!
"KYAAAAA!"
"Lengkingan itu..." Ling mengingat-ingat suara lengkingan yang amat memekakkan telinga itu, namun tak asing bagi Ling.
Duarrrr!
"TIANYIIIIII!" pekik Ling kaget dan langsung menghampiri tempat kejadian yang tak jauh dari posisinya—sekitar tujuh atau delapan meter—dimana ada sebuah bus yang menabrak pembatas jalan dan meledak begitu saja. Dirinya ingat teriakan itu! Dia ingat!
"Hei! Anak kecil tidak boleh mendekat!" seru salah satu pemuda yang berada di tempat kejadian.
"Moke! Apa semua murid sudah keluar?" tanya seorang guru perempuan pada Moke selaku ketua kelas sedikit panik.
"Tinggal Luo Tianyi yang belum keluar!" seru Moke sehabis melihat daftar murid.
Ling tercengang. Sahabatnya dalam bahaya?! Kenapa orang-orang bodoh ini tidak menolong sahabat satu-satunya?! Sementara api—yang sudah membakar hampir setengah dari bus—itu seolah-olah mengejek Ling dan yang lainnya karena tak dapat melawannya.
"Biarkan aku masuk!" seru Ling.
"Jangan! Nanti kau akan terluka! Dengan api yang sebesar ini kemungkinan kecil sekali Tianyi dapat terkan!" seru Moke sambil menarik tangannya.
"Aku harus menolong sahabatku! Lepaskan aku!" seru Ling sambil menghentakkan tangannya dan masuk ke dalam bus.
"Tunggu!" seru Moke, namun Ling begitu keras kepala.
Di dalam bis, Ling melihat sahabatnya tergeletak lemas tak sadarkan diri di lantai kasar bus. Ling berusaha mengangkat tubuh Tianyi yang kini sudah lebih kecil daripada dia, berbanding terbalik dengan tiga tahun silam.
Hup!
Ling melompat keluar dengan Tianyi yang masih tak sadarkan diri di punggungnya. Semua orang begitu terkejut melihat gadis sekecil Ling yang begitu berani. Para laki-laki yang melihat kejadian secara langsung itu menutup wajah mereka, malu karena kalah oleh seorang gadis.
"Cepat! Bawa Tianyi ke rumah sakit!" seru Ling.
"Kami sudah menelpon ambulans tadi." ujar Moke yang sepertinya cuman satu-satunya orang yang begitu tenang dengan insiden yang bisa merenggut nyawa banyak orang itu.
Murid yang lainnya? Ada yang masih syok, bahkan ada yang pingsan, ada yang menangis tersedu-sedu karena barang-barang mereka terbakar habis. Juga ada beberapa murid yang terkena luka bakar yang kebanyakan terkena di tangan dan kaki.
"Kenapa kau tenang sekali heh?" tanya Ling.
"Sudah pernah mengalami, jadi sudah terbiasa." jawab Moke.
Ling menatap wajah Moke yang ugh, sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan langsung saja memalingkan wajahnya yang sedikit memerah. Rambut hitamnya yang begitu berkilau, mata biru bening yang—tunggu! Dalam keadaan mencekam seperti ini dia masih memikirkan ketampanan pemuda yang berbicara padanya tadi?!
Lima menit berselang, ambulans datang dan membawa murid-murid yang terluka itu termasuk Tianyi, serta dua guru yang masuk ditambah Ling yang memaksakan dirinya untuk ikut. Ia tak peduli akan dimarahi Bibi Lai karena terlambat, tapi masa bodoh! Yang penting sekarang adalah kondisi sahabatnya! Nyawa sahabatnya itu sekarang berada di ambang kematian!
Story : Bottle of Friendship
Disclaimer : Vocaloid belongs to Yamaha and Crypton Future Media
Warning : AU!China, typo(s), misstypo(s), failed visualization, bad ending, plot hole, OOC, OOT, dan warning-warning lainnya yang tidak bisa disebutkan.
Rate : T
Genre : Friendship and Angst
Ryuuka Mikan proudly present...
Ling mondar-mandir khawatir di depan sebuah ruang rawat, menunggu hasil pemeriksaan Tianyi—sebetulnya ada teman-teman Tianyi yang lainnya, hanya Ling tak peduli, toh bukan siapa-siapa dirinya—yang sudah memakan waktu hampir seperempat jam. Ingin sekali ia melihat teman seperjuangannya dulu melalui jendela ruangan, namun sudah ditutup oleh sebuah tirai. Ia pun mendecak kesal, dan sekaligus takut sahabatnya ini kenapa-kenapa, ia sungguh takut.
"Maaf aku melanggar janjiku Tianyi, harusnya dua tahun lagi baru kita bisa bertemu," lirih Ling, "namun kau terluka. Tak mungkin aku membiarkanmu terluka dan hangus dibakar si jago api di dalam bus dimana tidak ada seorangpun yang berani menolongmu. Aku..."
Kriettt...
Ruang UGD terbuka, menampakan si jas putih yang tak lain dan tak bukan adalah dokter. Ling dan dua guru—yang sedari tadi diam duduk di kursi dan langsung berdiri—langsung menanyakan kondisi korban.
"Apakah Anda keluarga dari pasien?" tanya sang dokter.
"Saya gurunya." ujar salah satu guru.
"Kalau begitu, silahkan ikut ke ruangan saya sebentar." ujar sang dokter sambil mengajak guru itu ke ruangannya.
Kini tinggal Ling dan satu guru perempuan yang berada di ruang tunggu, menunggu hasil pemeriksaan yang akan disampaikan oleh dokter itu.
"Hmm, namamu siapa?" tanya guru itu membuka pembicaraan.
"Namaku Yuezheng Ling." jawab Ling sopan.
"Oh, nama ibu Liangyi Weiyun." ujar guru bernama Weiyun itu, lalu segera mengganti topik, "Kaukenal dengan Tianyi?"
"Tiga tahun yang lalu, sejak kami sama-sama hidup berdua sebagai penyanyi jalanan." ujar Ling.
Weiyun tampak kaget, "Orang tuamu? Kenapa kau bisa terpisah dengan Tianyi?"
"Kami sama-sama tidak punya orang tua. Dan pada saat itu kami memutuskan berpisah, untuk mencari takdir kami yang sesungguhnya, mengubah nasib kami agar menjadi lebih baik." jawab Ling.
"Oh..." respon Weiyun.
"Ibu, kalau boleh tahu, guru yang satu lagi itu siapa?" tanya Ling berusaha sesopan mungkin.
"Namanya Bianpao Niang. Biasanya dia sering dipanggil Boomco oleh satu sekolah." jawab Weiyun yang dibalas anggukan paham oleh Ling.
"Weiyun!"
Ling dan Weiyun menoleh. Terdapat sosok yang baru saja dibicarakan oleh Ling dan Weiyun tadi. Ya, guru perempuan bernama Bianpao Niang a.k.a Boomco tadi.
"Weiyun! Semua murid selamat!" seru Boomco sedikit berteriak, masih mengutamakan ketenangan di rumah sakit.
"Baguslah." ujar Weiyun senang, sementara Ling menghembuskan napas lega.
"Beberapa murid hanya terkena luka bakar ringan dan sudah boleh pulang jika keadaannya sudah membaik, namun ada satu murid yang mengalami buta di mata kirinya. Dan dia adalah..." Boomco berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan menarik dan menghembuskan napas berulang kali.
"Siapa Boomco?" tanya Weiyun.
"... Luo Tianyi."
Ling langsung menahan napasnya begitu mendengar sahabatnya mengalami kebutaan akan insiden itu. Mengapa? Mengapa bisa? Mengapa cuman Tianyi? Mengapa harus Tianyi yang mengalami hal separah ini? Ini pasti cuman mimpi bukan? Pertanyaan itu berkecamuk di pikirannya. Dan untuk pertanyaan terakhirmu Ling, sayang sekali, ini kenyataan, bukan mimpi.
"Ti-Tidak mungkin..." lirih Ling.
"Mata kirinya baik-baik saja, namun mata kanannya terkena oleh pecahan kaca bus yang menembus matanya hingga merusak korneanya. Perawat medis berhasil mengangkat serpihan kaca itu, namun tidak bisa menyelamatkan penglihatan kanannya. Namun ada satu cara yang bisa mengembalikan penglihatan kanannya itu seperti semula." terang Boomco.
"Apa itu?" tanya Ling antusias.
"Transplantasi kornea mata." jawab Boomco.
"Aku mau mendonorkan mataku untuk Tianyi!" seru Ling antusias.
Weiyun terkejut, "Jangan Ling! Umurmu masih kecil! Itu bisa membuat nyawamu jadi taruhannya!"
"Tidak apa-apa! Asalkan Tianyi sempurna! Aku tidak mau melihat Tianyi terluka untuk yang kedua kalinya setelah ia mendapatkan kebahagiaannya! Aku tak mau ia menderita sama sepertiku yang harus dikucilkan dari masyarakat sosial!" seru Ling membayangkan yang terjadi ke depannya.
"Ling..." Weiyun memanggil nama gadis sebaya dan seperjuangan Tianyi itu, "kalau itu maumu, baiklah."
Setelah mendengar itu, senyum Ling merekah lebar, "Tapi kumohon, jangan beritahu ini kepada siapapun."
"Baiklah." ujar Boomco yang nyaris saja menangis melihat sikap heroik anak kecil berusia sebelas tahun itu.
.
.
.
"Umm... aku dimana?"
Itulah ucapan yang pertama kali keluar dari mulut seorang gadis bernama Yuezheng Ling itu. Mata kirinya bisa melihat seperti biasanya, namun kenapa mata kanannya serasa gelap?
Ling menyentuh mata kanannya. Lembut. Ini perban ya? Berarti transplantasinya berhasil! Apa yang dia pikirkan benar bukan?
"Jangan ditekan-tekan seperti itu, mata bagian kananmu masih perlu menyesuaikan diri dengan keadaan seperti itu." pesan seorang suster yang mengurusi pencangkokkan kornea mata Ling untuk Tianyi.
"Huang, bagaimana prosesnya?" tanya seorang dokter.
"Berhasil." jawab perawat yang dipanggil Huang itu.
Ling hanya bisa tersenyum, dalam hati ia bersorak-sorak riang karena berhasil menyelamatkan penglihatan temannya itu. Meskipun nyawanya yang jadi taruhannya, ia tak peduli. Asal sahabatnya bisa bahagia, ia sangat bersyukur.
"Tolong..." ujar Ling pelan, "rahasiakan namaku dari Tianyi."
Semua perawat medis menatap ke arah Ling dengan pandangan yang tak bisa diartikan, namun mereka paham, jadi hanya bisa terdiam dan akhirnya mengangguk kecil.
"Terima kasih banyak." ujar Ling.
.
.
.
Qingxian dan Longya yang mendengar anak angkat tersayang mereka mengalami kecelakaan langsung mendatangi rumah sakit yang diberitahu oleh Weiyun. Mereka sama-sama meninggalkan pekerjaan masing-masing hanya untuk melihat kondisi Tianyi.
"Untungnya ada orang yang bersedia mendonorkan korneanya untuk Tianyi." ujar Weiyun.
"Siapa orangnya?! Siapa?!" tanya Qingxian antusias.
"Kami ingin berterima kasih padanya." tambah Longya.
"Dia ingin identitasnya dirahasiakan, bahkan saya sendiri juga tidak tahu siapa." jawab Weiyun berbohong. Maaf! Maaf! Maaf! batinnya berulang-ulang.
Saat itu juga Ling keluar dari ruang operasi, dan ketika itu juga Longya dan Qingxian melihat gadis kecil itu dengan kursi roda, dan salah satu mata gadis itu diperban.
Gadis kecil—Ling—itu hanya tersenyum, dan dibalas tatapan bingung oleh Qingxian dan Longya, terutama Longya sendiri. Melihat gadis itu ia serasa melihat bayangan dirinya sendiri di depan cermin! Namun yang membedakan adalah jenis kelamin dan pakaiannya saja. Wajahnya? Sama persis bagai pinang dibelah dua!
"Selamat siang Tuan! Nyonya! Yuezheng Ling menghormat kepada Anda!" agh, ternyata Ling kembali ke mode pelayannya di Kepangeranan Yan itu sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada dan sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat di atas kursi rodanya.
Longya dan Qingxian terkejut dipanggil seperti sebagai seorang 'Raja' dan 'Ratu'. Sementara Ling masih saja dalam posisi menghormatnya itu.
"Err, kau tidak perlu seperti itu, biasa saja." ujar Longya sedikit kaku yang membuat Ling menghentikan aksi hormatnya.
"Longya, kenapa kau tidak bilang kau punya kembaran, heh?" bisik Qingxian sambil menyikut lengan Longya dengan pelan.
"Akupun tidak tahu siapa dia." balas Longya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan dan Nyonya! Selamat siang!" ujar Ling sambil mendorong kursi rodanya sendiri.
Yah, sebenarnya karena Ling baru saja dioperasi, tentu saja semua anggota badannya melemas hingga berjalanpun susah, jadi Ling menggunakan kursi roda untuk bergerak sementara waktu. Biaya administrasi? Sudah dibayar oleh pihak sekolah tentunya.
"Dia buta sebelah ya?" tanya Qingxian prihatin.
"Agh lupakan, yang terpenting sekarang adalah siapa orang tersebut yang bersedia mendonorkan mata untuk Tianyi? Kita harus membalas budinya!" tutur Longya.
"Ta-Tapi... aku curiga pada anak manis itu!" balas Qingxian.
Tanpa disadari semua orang, sebuah lekukan bibir ke atas terbentuk di wajah Ling, membuat air muka Ling sedikit berubah.
"Kuharap pengorbananku tidak sia-sia..."
.
.
.
Keadaan buta sebelah ini sangat mengganggunya dalam dua tahun selanjutnya. Ia tidak bisa melihat ke arah yang satunya lagi, hanya bisa mengandalkan penglihatan di mata kirinya itu. Bahkan ia tak bisa mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Bibi Lai sehingga hampir setiap hari dihukum keras, mulai dari dicambuk hingga yang paling parah, tidak mendapat jatah makan siang dan makan malam.
Namun kalau mengingat kondisi Tianyi dua tahun lalu itu, ia serasa ingin menangis dan begitu menyesal jika seandainya tidak menolong Tianyi pada saat itu. Ya, dia merasa senang dan bahagia sekali saat ia bisa menolong teman satu-satunya itu meskipun pada saat itu nyawanya menjadi taruhan terbesarnya.
Ling memasuki kamarnya, mendapati jam dinding yang menunjukkan jam sebelas lewat lima menit. Sudah malam sekali rupanya. Ia mencoret tanggal empat di bulan kelima dalam setahun itu di kalender yang berada diatas lemari kecilnya disamping tempat tidurnya, lalu teringat dengan buku diarynya yang sudah jarang—hanya sesekali dan jika itu sempat—ditulis sejak ia bekerja di tempat ini, tempat hidupnya selama lima tahun.
"4 Mei ya..." Ling teringat sesuatu, "Agh! Besok aku bisa bertemu dengan Tianyi setelah sekian lama!" serunya riang sambil mengambil buku yang sangat lusuh itu dan pena—yang anehnya tidak kehabisan tinta setelah lima tahun berlalu, entah karena tidak terlalu sering dipakai atau memang pena yang awet.
Sabtu, 4 Mei 2030
Agh, sudah lama aku tidak menulis di buku ini sejak bekerja di sini. Aku harus merencanakan sesuatu agar aku bisa kabur dari sini dan menemui Tianyi, sahabatku. Memang aku sudah melanggar janji kami agar bertemu lima tahun ke depan, tapi aku berani bersumpah, aku benar-benar merindukannya! Semoga ia bisa hidup seperti dulu lagi, tidak cacat setelah insiden itu. Agh! Aku benar-benar tidak sabar untuk menggali botol persahabatan kami lagi! Tunggu aku ya Luo Tianyi!
"Kebetulan sekali Bibi Lai tidak memerintahku malam-malam ini..." dalam hati Ling sangat senang sekali, namun sebenarnya ia tak terbiasa tidur secepat ini. Ah, sudah terbiasa bekerja sampai malam mungkin.
Liànrén shǒuzhōng yīnghuā cǎo chūn cǎi mǎn bù de wéixiào~
"Eh?" Ling menajamkan indra pendengarannya, berharap ia tak salah dengar kalau ada seseorang bernyanyi di tengah malam seperti ini, mengingatkannya pada sesuatu.
Ya, memori kenangan Ling bersama Tianyi terputar lagi di kepala Ling.
"Liànrén shǒuzhōng yīnghuā cǎo chūn cǎi mǎn bù de wéixiào."
"Tianyi, itu lagu apa?"
"Hmm? Entahlah, aku mendengarnya pada saat aku tak sengaja melewati rental CD."
"Kauhapal liriknya Tianyi?"
"Aku hanya mengira-ngira saja, tapi sepertinya bunyi liriknya memang begitu."
"Tunggu... Tianyi, coba kau nyanyikan ulang."
"Liànrén shǒuzhōng yīnghuā cǎo, chūn cǎi mǎn bù de wéixiào."
"Agh iya! Aku ingat! Zhǒng xiàle, yī duo duo qīngchūn cuǐcàn de niánshào."
"Uwaaaaa, kautahu lagu itu Ling?!"
"Tentu saja! Ini lagu lama tahu! Bahkan aku hapal! Liànrén huái zhōng yīnghuā cǎo, tīngjiàn xiōngtáng xīn zài tiào, tōutōu de zài sīniàn nà shì wǒmen xiāng'ài de... jìhào."
"Penyanyinya siapa Ling? Judulnya apa? Ajarin aku lagunya Ling!"
"Err, judulnya Ying Hua Cao kalau tidak salah, entahlah, aku lupa. Penyanyi aku juga tidak ingat, hehe. Iya iya kuajarin kok."
"Huwaaaaa, terima kasih banyak Ling!"
"Sama-sama Tianyi..."
Tes!
Tes!
Tes!
"Tian... yi." lirih Ling sambil memeluk bantal putih polos di kamarnya itu. Setetes demi setetes air mata perlahan menelusuri lekukan wajahnya hingga menetesi bantalnya.
Ling mengelap sisa air mata di kedua pelupuk matanya. Lagipula besok ia akan bertemu dengan sahabatnya kan? Jadi ia tak boleh menangis saat ini, jangan kali ini. Besok saja ia menangis bersama sahabatnya, tangisan penuh kerinduan di dalamnya, ya, lebih baik seperti itu.
Namun semakin lama ia mendengar melodi indah—namun begitu menyakitkan di hati Ling—itu, air matanya terus mengalir tanpa henti. Dan itu membuatnya sama sekali tidak bisa tidur karena memori kebersamaannya dengan Tianyi terus berputar tiada habisnya seperti roda.
"Entah mengapa aku punya firasat buruk tentang hari esok..."
Ling meletakkan bantalnya kembali ke tempat semula dan meletakkan kepalanya diatas bantal empuk itu. Air matanya masih mengalir membasahi bantalnya. Salahkan mesin otaknya yang memutar hal yang sama namun menyakitkan di hatinya itu.
Malam itupun berakhir dengan pecahnya tangisan Ling yang begitu memilukan hati bagi siapa yang mendengarnya.
.
.
.
"Tianyi... apa kau akan datang?"
Ling berhasil kabur bersama buku diarynya dari istana. Tidak, dia sudah minta izin kok, secara tidak langsung sih...
Ah lupakan. Sekarang Ling sudah menunggu dari jam sembilan pagi hingga jam satu siang, namun Tianyi tidak datang-datang juga. Perasaan tidak enak mulai menjalar ke hatinya, hal-hal negatif yang ia pikirkan mulai membuatnya langsung mengeratkan pelukannya pada buku diary miliknya.
Tiba-tiba sosok gadis yang sangat familiar yang terbentuk di iris kiri Ling membuatnya langsung tersenyum riang. Dilambai-lambaikan tangan kanannya sambil berseru keras memanggil nama temannya.
"Tianyi!" seru Ling.
Gadis itu menoleh. Benar! Itu Tianyi! Seorang gadis dengan kedua iris yang berbeda sambil memegangi sekantung buah jeruk mandarin. Namun anehnya gadis itu menatap Ling dengan pandangan aneh.
"Kautahu namaku dari mana?" tanyanya sambil mendekat ke arah Ling.
Ling menautkan alisnya, "Tianyi, kau tidak mengingatku? Ini aku Yuezheng Ling! Sahabatmu!"
"Kau bukan temanku." ujar Tianyi dingin.
Jleb!
Rasanya seperti seribu panah yang menusuk hatinya. Sakit dan perih, itulah yang ia rasakan saat ini. Ling mengusap telinganya tak percaya, inikah Luo Tianyi yang ia kenal? Inikah?
"Ti-Tianyi..." lirih Ling.
"Apa? Kau memang bukan temanku lagi, pergi sana! Kau hanya membuang waktuku! Mana mungkin aku punya teman orang buta dan miskin sepertimu!" seru Tianyi sambil meledek Ling.
"Tapi... kita kan sahabat." ujar Ling sambil meneteskan air matanya.
"Oh ayolah, ini bukan drama telenovela." ujar Tianyi sambil memutar bola matanya, bosan.
Ling pun meletakkan bukunya diatas pondok tua yang ternyata belum digusur, lalu tangannya menggali tanah yang berisikan botol yang mereka kubur bersama. Ia ingat koordinat tempatnya bersama Tianyi menguburkan botol, sangat ingat.
Dan tangannya pun berhasil meraih botol yang terpendam lima tahun lamanya itu. Sementara Tianyi hanya diam tanpa ekspresi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, kantung jeruk mandarinnya pun ia letakkan di tanah, sengaja.
"Ini," ujar Ling, "kau masih mau mengelak Tianyi?"
Tianyi menggelengkan kepalanya, "Heh, kalau memang aku punya teman buta sepertimu, seharusnya aku tak pernah mengenalmu! Aku malu punya teman—ralat—sahabat buta sepertimu!"
Ling menjatuhkan botol mineral itu sambil berlari menjauhi Tianyi yang lagi-lagi diam setelah mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan untuk Ling. Sudah lama ia menunggu momen pertemuannya dengan Tianyi, ingin memeluk tubuh Tianyi sebagai penghilang rasa rindu setelah lima tahun berpisah, dan sekarang harapan itu... pupus.
Tianyi menatap botol itu, lalu iseng ia membuka botol itu, walaupun ia sedikit jijik untuk memegang tanah. Setelah membuka tutup botol itu, ia mengeluarkan kertas yang sudah berwarna cokelat kusam dari botol dan membukanya perlahan.
Luo Tianyi : Aku bahagia bisa memiliki teman seperti Yuezheng Ling. Dia cantik, baik, dan selalu bersamaku kapanpun dimanapun. Aku betul-betul sangat bahagia! Dan hari ini kami akan berpisah, memang begitu sedih, tapi inilah takdir kami! Berkati kami agar bisa bertemu lagi suatu saat nanti.
Yuezheng Ling : Saat kutahu aku tak memiliki sanak saudara lagi, aku begitu sedih sampai aku bertemu dengan Luo Tianyi! Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Sikapnya jauh lebih dewasa seperti anak remaja meskipun usianya masih delapan tahun sama sepertiku. Aku akan berpisah selama lima tahun dengannya. Semoga saat lima tahun itu berakhir, aku bisa bertemu dengannya lagi.
Tes!
Tes!
Tes!
"A-Ada apa ini? Kenapa air mataku jatuh begitu saja? Dia kan bukan sahabatku."
Tianyi menatap pondok tua itu dan melihat sebuah buku yang sama kusamnya dengan kertas tadi. Ia ingat sampul buku itu, itu kan buku yang dibeli oleh Ling sewaktu Ling membeli buku dengan hasil mengamennya!
Senin, 5 Mei 2025
Hari ini tepat perpisahanku dengan Tianyi, sungguh menyedihkan, tapi ini semua agar kami dapat mengubah nasib kami menjadi lebih baik lagi. Kuharap aku bisa menemukan orang tua yang baik, agar mereka bisa mengasuhku dengan baik dan penuh perhatian pula. Dan juga aku berharap lima tahun segeralah berakhir, aku ingin bertemu dengannya lagi.
Tes!
Tes!
Tes!
"Bo-Bodoh... kenapa aku menangis sekarang? Dia kan bukan temanku lagi." ujarnya sambil mengusap air matanya.
Lembar demi lembar ia lihat sampai ia menemukan sebuah lembaran berisi curhatan harian seorang Yuezheng Ling—bahkan Tianyi tak tahu itu milik Ling kalau ia tidak melihat nama yang tertera di depan buku itu—yang berhasil membuatnya membelalakkan kedua bola matanya itu.
Tes!
Tes!
Tes!
"Agh! Hujan!" seru Tianyi panik sambil masuk ke dalam pondok dan tak lupa membawa sekantong jeruk mandarin dan buku tua yang ia dapatkan tadi. Setelah masuk, tanpa pikir panjang lagi Tianyi langsung membaca buku itu.
Selasa, 11 Juli 2028
Aku bahagia bisa melihat Tianyi lagi! Meskipun aku tahu aku melanggar janji kami, lagipula aku cuman melihatnya saja, tak berbicara padanya. Dia mengalami kecelakaan pada saat liburan wisata belajar. Lalu aku mendengar kabar bahwa temanku mengalami kebutaan di mata kanannya. Tentu saja aku sedih, dan aku langsung bersedia mendonorkan mataku untuknya. Aku tidak mau dia dikucilkan oleh teman-temannya karena dia buta sebelah, aku ingin dia bahagia karena selama kami bersama dia selalu membuatku bahagia.
"Bodohnya aku..." gumam Tianyi lirih, "ternyata dia sendiri yang mendonorkan matanya, dan bukannya aku membalas budinya justru aku tidak menganggapnya sahabat lagi."
Dan di halaman paling belakang buku itu, Tianyi melihat tulisan yang sanggup membuatnya menangis kencang.
Bagiku, Tianyi adalah sahabatku satu-satunya. Dan ia adalah satu-satunya mutiara paling berharga dalam hidupku. Aku bahagia bisa mengenalnya. Aku berjanji akan membuatnya bahagia termasuk seandainya dia tidak mengharapkanku lagi.
- Yuezheng Ling -
"Aku benar-benar tidak percaya kalau aku menghina sahabatku sendiri, apalagi dia yang telah mendonorkan matanya padaku. Aku benar-benar... tidak menyangka hal ini akan terjadi."
Tianyi menatap langit yang kini menurunkan hujan yang amat sangat deras, membuat otaknya memutarkan memori masa lalunya bersama Ling. Air mata membasahi pelupuk matanya, ingin sekali ia memutarkan waktu dan menjadi lebih baik di depan Ling.
"Sepertinya aku takkan pernah dimaafkan oleh Ling lagi. Semuanya sudah terlambat." ujar Tianyi dengan suara parau dengan nada sesenggukan di dalamnya.
"Tapi... kita kan sahabat."
Deg!
Entah mengapa, kalimat sesederhana namun penuh makna itu terlintas di benaknya. Kalimat Ling itu... berhasil membuat Tianyi meremas dadanya pelan, dalam hatinya ia memaki-maki dirinya yang bodoh itu, hanya karena keangkuhannya yang tak mau menganggap Ling sebagai sahabatnya lagi karena Ling buta yang ternyata demi menolong penglihatannya.
Manusia macam apa aku ini?! batinnya sambil meremas dadanya yang sudah sesak itu semakin kuat.
Ditemani oleh hujan yang semakin deras itu, Tianyi menangis sekencang-kencangnya. Menyesali perbuatannya yang mengiris luka di hati Ling, membuat dirinya tahu persahabatan diantara mereka tak akan penuh dengan kebahagiaan dan rasa persaudaraan seperti dulu lagi—
"Apa kau tetap menganggapku sebagai sahabat Ling?"
—dan satu hal yang sepertinya sudah pasti dipikirkan oleh Ling, menurut Tianyi—
—hubungan persahabatan mereka akan hanya tinggal memori masa lampau saja bagi Ling setelah sahabatnya ini mendapat ucapan tajam darinya.
.
.
.
Drap!
Drap!
Drap!
"Hiks... aku benar-benar tidak percaya Tianyi sudah berubah seratus delapan puluh derajat seperti itu!" seru Ling sesenggukkan, membiarkan air hujan membasahi dirinya.
Sungguh! Ia tak menyangka Tianyi mengolok-olok bahkan menghina dirinya yang sudah tidak sempurna lagi di mata Tianyi! Ia tahu ia memang buta, namun dia adalah orang yang sama! Yuezheng Ling tetaplah Yuezheng Ling!
Ia mempercepat langkahnya, membiarkan air mata terus menetes membanjiri wajahnya, yang kini telah bersatu dengan air hujan. Biarlah ia menumpahkan rasa kekecewaannya pada perubahan sikap Tianyi dalam tangisan pilu ini. Ia sudah cukup menahan semua kesedihannya, namun yang satu ini ia memang tak bisa menahannya sama sekali.
Ling tak menyadari, pada saat ia berlari menyeberangi jalan, ia tak melihat sebuah mobil yang akan menabrak dirinya—
Tin!
Tin!
Tin!
"Ling! Awas!"
Brak!
—namun ia selamat dalam insiden itu.
"Ti-Tianyi!" seru Ling yang terkejut bukan main saat sahabat lamanya ini yang mendorongnya hingga selamat, namun sahabatnya sendirilah yang tertabrak mobil.
"Li-Ling..." gumam Tianyi perlahan namun pasti, dimana dirinya telah bersimbah darah yang menyatu dengan air hujan.
"Tianyi! Bodoh! Kau kenapa menyelamatkanku?" tanya Ling emosi.
"Kita kan... sahabat." jawab Tianyi.
Ling menahan napas tak percaya. Sahabatnya yang tadi menusuk hatinya melalui kata-kata pedas kini kembali menganggapnya sebagai seorang sahabat. Ling benar-benar tak percaya.
"Aku ingin minta maaf padamu, ugh..." entah mengapa Tianyi merasa dadanya sesak, "kau sudah banyak... menolongku, jadi aku harus membalasnya."
Meskipun dengan napas tersengal-sengal, Ling dapat mengerti ucapan temannya, dan Ling hanya bisa berujar, "Bodoh," umpatnya, "tapi jangan sampai mengorbankan nyawamu juga!"
Tianyi tersenyum tipis, "Ini sudah... takdir. Sampai jumpa... di kehidupan selanjutnya. Berjanjilah padaku... kalau kau akan terus hidup."
"Tunggu, jangan pergi dulu Tianyi, setidaknya jangan hari ini, kita baru saja bertemu!" seru Ling lalu melihat kedua mata Tianyi yang terkatup rapat dan senyum lebar penuh kebahagiaan, yang sanggup membuat Ling menitikkan air mata.
Tidak, ini bukan air mata kecewa. Ini air mata kesedihan sekaligus penuh kebahagiaan. Bahagia karena Tianyi mau menganggap dirinya sahabat walaupun ia buta di akhir-akhir napasnya, namun sedih saat harus melepas kepergian sahabatnya di hari pertemuan mereka setelah lima tahun berpisah.
Ling tersenyum. Memang ini pertemuan terakhir antara dirinya dan sahabatnya, namun ia yakin, bahwa persahabatan mereka tidak akan pernah berakhir dan tali yang menghubungkan persahabatan mereka tak akan pernah putus oleh apapun.
"Aku berjanji akan tetap hidup, sesuai permintaanmu... Tianyi."
.
.
.
Fin~
.
.
.
Ending yang menyamping dari alur yang Mikan persiapkan kemarin. Ini benar-benar gaje plus sulit dimengerti DX gomennnnn!
Kemarin udah kepikir alur yang pas cuman lupa! Moga friendship angstnya kerasa ya owo. Sempat kehilangan sense friendship pas nulis gara-gara masalah RL, jadi gomen lagiiiii! #curcolbentar #plak
Yosh! Saatnya balas review!~
Mii-chan : Arigatou udah dibilang friendshipnya kerasa, padahal Mikan sendiri ngga ngerasa ouo. Dan arigatou udah ngereview.
miyokokiragana7 : Arigatou atas pujiannya. Ini udah tamat. Gomen cuman two-shot hehe. Arigatou udah review.
Matsuka : Iya, ini sudah lanjut dan tamat. Ngga akan dihapus kok, hehe. Yosh! Thanks sudah ngereview!
akanemori : Ahhh?! Typo?! Arigatou sudah diberitahu Aka-senpai, lain kali Mikan bakal perhatiin typonya. Alurnya kecepatan? Uwaaaa, Mikan emang ngga bisa bikin alur yang pas owo. Arigatou udah bilang friendshipnya kerasa. Arigatou juga sudah mereview Aka-senpai!
Asane Yashi : Benarkah friendshipnya terasa di awal? Hyaaa, Mikan ngga nyangka. Untuk angstnya pasti gagal huhu #pundung Arigatou sudah mereview Asane-senpai!.
Kei-T Masoharu : Agh, friendshipnya biasa aja, ngga keren-keren amat owo. Yosh! Ini sudah lanjut! Arigatou sudah mereview Kei-senpai!
noname : Ini sudah lanjut dan ngga mungkin discon kok hehe. Arigatou sudah mereview.
Guesttttt : Sudah lanjut! Arigatou udah dibilang keren. Angstnya angst gagal kok, ngga tahu ini bad ending atau justru happy ending? Entahlah, ini terserah readers. Arigatou sudah mereview.
XD : Yoshaaa! Sudah lanjut! Ngga bakal discon atau (bahkan) dihapus kok. Arigatou sudah mereview.
orang : Ini sudah lanjut. Arigatou atas reviewnya.
Misami Ray : Ray-neeeee! Arigatou sudah dibilang keren! Ini sudah lanjut kok! Thanks udah mereview!
mk : Makasih udah dibilang keren. Egh, penggunaan kata 'kau' dengan kata kerja yang biasa disambung 'ku', seperti 'kupikir', 'kuraih', dsb. dalam EYD itu memang benar. Makanya Mikan nyambungin kata 'kau' dengan kata kerja seperti itu. Gomen kalau masih salah. Dan arigatou atas reviewnya!
Kurotori Rei : Rei-kyunnnnnn~ #dijitak Ehem-ehem, Tianyinya ngga amnesia kok, liat aja chapter ini, semoga memuaskan! Dan arigatou atas reviewnya Rei-kyunnnnnn~! #dijitaklagi
kiki : Hehe, alurnya memang kecepatan setelah Mikan baca ulang, dan typo pada kata 'kau'? Hehe, sepertinya di balasan review jawabanmu sudah dijawab. Arigatou atas reviewnya!
And the last, mind to review? Con-crit and Flame are received at here :)
