My Life

Title : My Life

Cast : Kim Jongin, Kim Minseok, Oh Sehun and Xi Luhan

Suport Cast : Lee Donghae, Cho Kyuhyun and ETC

Pairing : HunKai/SeKai, LuMin/ HanMin

Genre : Brothership, Romance, Sad(sedikit), Drama

Rated : T – G

Disclaimer : Cerita ini murni milik saya.

-oo00oo-

Cahaya matahari yang masuk dari cela jendela kamar rumah sakit itu, membuat tidur Minseok terganggu. Minseok menutup matanya dengan menggunakan punggung tangannya. Mendudukkan badannya dan merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.

Minseok mengucek matanya sebelum akhirnya melihat Jongin yang masih tertidur di atas katilnya.

Minseok merasa bersyukur, dongsaengnya sudah tidak apa – apa.

Di usapnya kepala Jongin dengan lembut. "syukurlah, kau tidak apa – apa saeng. Hyung sangat takut kau meninggalkan hyung saeng"

Minseok merendahkan badannya lalu mencium kening Jongin dengan lembut. "hyung menyayangimu saeng-ah" ujar Minseok sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Saat Minseok sedang di kamar mandi, seorang namja manis masuk kedalam ruangan itu lalu menutup pintunya secara perlahan.

"sepi? Kemana Minseok?" ujar namja manis yang biasa di sebut dengan Donghae.

Donghae berjalan kearah meja yang memang sudah ada di dalam ruangan itu untuk meletakkan bekal yang memang di buatnya untuk Minseok.

"apa ini dongsaeng Minseok?" monolog Donghae saat melihat Jongin yang masih tertidur di atas katil.

"aigoo~~, dia sungguh imut" ujar Donghae dengan gemasnya.

Donghae membaringkan kepalanya di atas katil Jongin dan memandang wajah damai Jongin yang membuatnya jadi tenang.

"Donghae ajumma"

Donghae mengalihkan pandangannya kearah Minseok yang terlihat segar setelah selesai membersihkan dirinya. "Minseok-ah"

"sejak kapan ajumma disini?" tanya Minseok sambil berjalan kearah kopernya untuk memasukkan pakaian kotor miliknya.

"ajumma sudah dari tadi di sini Minseok-ah" Minseok menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "oh ya, ajumma membuatkan bekal untukmu dan dongsaengmu. Ajumma yakin kalian pasti belum makan dari semalam" kata Donghae sambil memberikan bekal yang di letakkannya di meja kepada Minseok

"terima kasih ajumma" ujar Minseok sambil menerima bekal yang di berikan Donghae. Donghae tersenyum manis membalas ucapan terima kasih Minseok.

"hyung~~"

Suara lirih dari Jongin, membuat Donghae dan Minseok segera mengalihkan pandangannya kearah Jongin yang sudah bangun.

"saeng-ah, kau sudah bangun?" ujar Minseok dengan wajah yang senang saat mengetahui Jongin sudah bangun.

Minseok meletakkan bekal itu di atas meja kembali dan mendudukkan dirinya di atas katal Jongin supaya dia bisa memeluk tubuh dongsaengnya itu.

"apa ada yang sakit, Jongie?" tanya Minseok sambil mengelus kepala Jongin dengan lembut.

"kepala Jongie sakit hyung" jawab Jongin sambil merapatkan matanya saat merasa kepalanya yang berdenyut sakit.

"biar ajumma panggilkan dokter dulu ne" Minseok menganggukkan kepalanya setuju dengan usulan Donghae.

Tidak lama dari Donghae pergi memanggil dokter, Donghae kembali dengan membawa dokter yang semalam memeriksa Jongin. Minseok pun membaringkan Jongin kembali keatas kasur dan membiarkan sang dokter memeriksa Jongin kembali.

"bagaimana keadaannya sekarang Kyu?" tanya Donghae yang berdiri tidak jauh dari Kyuhyun, sang dokter. Minseok diam sambil menunggu ucapan sang dokter.

Kyuhyun membalikkan badannya dan menatap Donghae dan Minseok. "keadaannya sudah baik – baik saja sekarang. Saya harap kalian menuruti perkataan saya semalam" ujar Kyuhyun membuat Minseok menghela nafasnya lega.

"kalau begitu saya permisi dulu, annyeong"

"terima kasih dokter"

Minseok pun segera mendekati Jongin karena Jongin minta di peluk olehnya. "syukurlah kalau dongsaengmu sudah tidak apa – apa" ujar Donghae sambil mendudukkan dirinya di dekat katil Jongin.

"ne, oh ya, Jongin kenal ini namanya Donghae ajumma. Ajumma kenalkan ini dongsaengku yang imut namanya Kim Jongin" ucap Minseok membuat Jongin mempoutkan bibirnya.

Donghae tersenyum gemas melihat Jongin yang sangat sangat imut itu. "Hai Jongie, naega Cho Donghae imnida, tapi Jongie memanggil ajumma dengan panggilan Hae ajumma aja ne" ucap Donghae sambil mengulurkan tangannya.

Jongin pun menerima uluran tangan Donghae dengan takut – takut. "ne, Hae Ajumma, Kim Jongin imnida, bagapta"

"wah~~, tangan Jongie sangat halus. Ajumma suka"

Jongin langsung menarik tangannya dan menyembunyikan wajahnya didada Minseok membuat Minseok dan Donghae tertawa pelan melihat tingkah Jongin yang menggemaskan itu.

"jjah, sebaiknya kalian berdua sarapan sekarang. Jongin, kau mau kan ajumma suap?"

Jongin menatap Donghae dengan wajah takutnya. "tapi, Jongie mau di suap sama Minseok hyung"

"Jongin di suap sama ajumma saja ne, nanti biar Minseok hyung bisa sarapan juga. Kalau nanti Minseok hyung telat sarapan, nanti Minseok hyung sakit. Jongin mau Minseok hyung sakit?"

Jongin menggelengkan kepalanya dengan bibir yang di poutkan imut. "nah, kalau begitu Jongin di suapi sama ajumma saja ne" akhirnya Jongin pun menganggukkan kepalanya membuat Donghae tersenyum puas.

"kajja biar ajumma, pangku Jongin"

Jongin pun menerima uluran tangan Donghae dan mendudukkan dirinya di paha Donghae. Sementara itu, Minseok pun mendudukkan dirinya di bangku yang tadi di duduki oleh Donghae.

Donghae mulai mengambil bekal yang berisi bubur khusus untuk Jongin.

"wah~, Lihat ajumma membuat bubur ayam, Jongie suka ayam?" Jongin pun menganggukkan kepalanya sambil menatap bubur yang ada di hadapannya. "kalau begitu, Jongie harus makan yang banyak ne, supaya Jongie bisa sehat"

"ne, ajumma"

"bagus, sekarang kita makan. Ayo buka mulutnya, aaaaa~~~"

Jongin membuka mulutnya patuh.

"enah?"

Jongin kembali menganggukkan kepalanya dengan pipi yang menggembung karena mulutnya penuh dengan makanan. Donghae tersenyum karena melihat Jongin yang suka dengan bubur yang di buatnya.

Sementara Minseok, tersenyum senang. Dia tidak menyangka ternyata Donghae sangat sayang pada Jongin. Padahal mereka baru bertemu sekarang. Tapi, Minseok benar – benar merasa bersyukur. Setidaknya Jongin tidak kehilang kasih sayang orang tua, karena ada Donghae yang menyayanginya.

"Minseok, makanlah sarapanmu. Jangan sampai kau sakit karena telat sarapan"

Minseok tersenyum mendengar perkataan Donghae. "Ne, ajumma. Aku akan makan sarapanku"

-ooOOoo-

Selesainya dari menyuapi Jongin, Donghae segera keluar dari ruangan Jongin, dan membiarkan Minseok membersihkan Jongin.

"kemana Sehun?"

Donghae baru sadar bahwa Sehun sedari tadi tidak ada di dekatnya. Kenapa saat bersama Minseok dan Jongin dia melupakan anak evilnya itu? tidak biasanya dia begitu.

Donghae mulai berjalan kearah ruangan dimana keponakkannya di rawat. Dia yakin kalau Sehun ada di sana.

"YAKH, CADEL JANGAN MENYENTU KAKIKU"

"hahahaha, thirreo, ini menyenangkan ge"

"KAU PIKIR KAKIKU MAIN, EOH? ARGHH, YAKH, KU BILANG BERHENTI CADEL"

"hahahaha"

Donghae menggelengkan kepalanya saat mendengar teriakkan Luhan, keponakkannya dari luar ruangan.

"Cho Sehun, berhenti mengganggu gegemu" ujar Donghae sambil berdiri di depan pintu ruangan Luhan.

"eomma"

Sehun turun dari katil Luhan dan berlari kearah Donghae. Sehun memeluk kaki Donghae dengan erat.

"kenapa kau senang sekali mengganggu gegemu, eoh?" Sehun hanya tersenyum manis mendengar perkataan sang eomma.

Luhan yang melihat Sehun tersenyum pun hanya mendengus kesal. Dasar setan kecil- batin Luhan.

"sekarang minta maaf sama Luhan gege"

"ne, eomma"

Sehun melepaskan pelukkannya dan membalikkan badannya kearah Luhan. "gege, maafkan Thehun ya. Thehun janji tidak akan melakukannya lagi" Luhan mamandang malas kearah Sehun.

"ne, gege maafkan" jawab Luhan dengan tidak ikhlas.

"thudah eomma" Donghae mengelus kepala Sehun dan menggendongnya. "bagus, itu baru namanya anak eomma" Sehun tersenyum membuat mata sipitnya menjadi semakin sipit.

"sudah bagaimana keadaanmu kakimu Luhan-ah?" tanya Donghae sambil berjalan kearah sofa yang memang sudah tersedia di ruangan Luhan. Sehun mendudukkan dirinya di atas paha Donghae sambil menatap kearah Luhan.

Luhan adalah korban dari kecelakaan, atau bisa di bilang kecelakaan yang terjadi karena balap liar. Luhan memang sangat senang ikut balap liar. Padahal Donghae dan Kyuhyun sudah sering melarangnya, tapi Luhan yang memang pada dasarnya sedikit bandel, membuat dia tidak pernah mendengar perkataan Donghae dan Kyuhyun. dan sekarang, dia sudah kena akibatnya sendiri.

Kaki kanannya patah, dan itulah sebabnya kenapa dia harus di rawat di rumah sakit ini.

"sudah baikkan, Imo" jawab Luhan seadanya.

"bohong" Donghae mengalihkan pandangannya kearah Sehun. "Luhan ge bohong eomma. Bahkan dia belum minum obat yang di berikan thuthter dari tadi"

Donghae memicingkan matanya kearah Luhan dan membuat Luhan menelan ludahnya dengan susah. "Luhan~~"

"iya, iya, aku memang belum meminum obatku Imo. Lagian, Imo juga taukan kalau aku benci obat – obat pahit itu? jadi aku tidak akan mau minum obat – obat itu"

Donghae menarik nafasnya dalam setelah mendengar ucapan Luhan tadi.

"baiklah kalau begitu, terpaksa Imo melakukan ini padamu, Luhan-ah"

Luhan menatap horor kearah Donghae. "melakukan apa maksud Imo?"

"Imo akan mempekerjakan seseorang untuk menjadi perawat pribadimu"

"Mwo?" mata Luhan membulat sempurna. "sirreo, Imo tidak usah melakukan itu untukku"

"tidak, Imo memang harus melakukan ini untukmu, supaya ada orang yang bisa menyuruhmu untuk minum obatmu"

"tapi Imo..."

"tidak ada tapi – tapian Luhan. kau taukan, Imo paling tidak suka di bantah, jadi Imo akan tetap melakukan hal itu kepadamu" Luhan mendengus kesal karena keputusan secara sepihak yang di lakukan Donghae kepadanya.

"perawat pribadimu akan datang nanti siang. Dan Imo harap, kau tidak berprilaku buruk terhadapny, atau semua kelakuanmu disini akan Imo adukan kepada orang tuamu yang ada di China" Luhan meneguk ludahnya susah mendengar ancaman Donghae.

"kau mengerti?" Luhan menganggukkan kepalanya. "bagus, hanya itu saja yang ingin Imo katakan kepadamu. Imo harap kau mau menepati janjimu itu. kalau begitu Imo pergi dulu, annyeong" Donghae pun beranjak dari duduknya dan menggendong Sehun.

"annyeong Luhan ge" Sehun melambaikan tangganya kearah Luhan, dan membuat Luhan kembali mendengus kesal.

-ooOOoo-

"Minseok"

Minseok membalikkan badannya, yang diikuti oleh Jongin yang ada di dekat Minseok. "oh ajumma, annyeong" Minseok membungkukkan badannya kearah Donghae yang sedang menggendong Sehun, sementara Jongin menyembunyikan tubuhnya di balik kaki Minseok karena dia melihat Sehun yang menatapnya tidak berkedip.

"apa yang kau lakukan di sini?" Donghae berjalan mendekati Minseok, tapi padangan mata Sehun tidak pernah terlepas dari Jongin yang semakin menyembunyikan dirinya di balik kaki Minseok.

"ah..a..aku hanya ingin bertanya berapa administrasi yang harus aku bayar di rumah sakit ini ajumma"

Donghae tersenyum mendengar perkataan Minseok tadi.

"ayo ikut ajumma sebentar. Nona-ssi, aku bawa pemuda ini sebentar, ne" ujar Donghae kepada seorang yeoja yang berkerja di bagian administrasi itu.

"ne, Donghae-ssi. Silahkan"

"kajja" Minseok pun menganggukkan kepalanya.

Minseok mengelurkan tangannya kearah Jongi, sebelum akhirnya mengikuti Donghae yang berjalan kearah kursi yang memang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.

"duduklah" suruh Donghae kepada Minseok.

Minseok mendudukkan dirinya di hadapan Donghae dan mememangku tubuh Jongin. Jongin pun segera menyembunyikan wajahnya di dada Minseok saat Sehun yang menatapnya tanpa berkedip sama sekali.

"ada yang ingin ajumma katakan samamu, Minseok-ah"

"ne, apa itu ajumma"

"sebenarnya kau tidak perlu membayar administrasi di rumah sakit ini lagi" Minseok menatap Donghae dengan bingung.

"eoh, maksud ajumma apa?" tanya Minseok sambil menatap kearah Donghae sambil mengedipkan matanya polos. Tangannya tanpa sadar terangkat dan mengelus kepala Jongin dengan lembut.

"sebenarnya, rumah sakit ini adalah milik keluarga ajumma"

"mwo? Benarkah?" Donghae menganggukkan kepalanya. "ta.. tapi...tapi..." Minseok bingung harus berkata apa. Dia tidak menyangka ternyata Donghae adalah pemilik rumah sakit yang sedang di tempati oleh dongsaengnya itu.

"kau tau, ajumma ikhlas membantumu, Minseok-ah"

Minseok menundukkan kepalanya sambil menatap Jongin yang masih betah menyembunyikan wajahnya di dada Minseok. "tapi... ajumma sudah banyak membantuku dan juga Jongin. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikkan ajumma ini" ujar Minseok dengan pelan.

"kau tidak perlu membalas apa pun, Minseok-ah. Ajumma ikhlas, benar – benar ikhlas membantumu dan juga Jongin"

Minseok mengangkat wajahnya menatap kearah Donghae. "ajumma..." ujar Minseok menggantungkan perkataannya. "tolong... katakan apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikkan ajumma ini. aku tidak mungkin hanya menerima kebaikkan ajumma, tanpa membalasnya sama sekali"

Donghae menarik nafasnya sambil menatap lembut kearah Minseok. "baiklah kalau begitu, kau bisa melakukan sesuatu untuk ajumma" seketika wajah Minseok berubah menjadi cerah mendengar perkataan Donghae.

"ajumma mau kau... menjadi perawat pribadi dari keponakkan ajumma. Kau mau?" Minseok menganggukkan kepalanya cepat. Tidak mungkin dia menolak, setelah apa yang Donghae lakukan untuknya dan juga Jongin.

"syukurlah kalau begitu, ajumma akan mengantarmu nanti siang ke ruangannya untuk jumpa dengannya, dan kau tidak perlu khawatir, ajumma juga akan memberimu gaji, supaya kau memiliki masukkan untuk memenuhi kebutuhanmu"

"ne, ajumma. Gomawo, jeongmal gomawoyo"

"ne, Cheonmayo Minseok-ah. Tapi... kenapa sedari tadi Jongin hanya menyembunyikan wajahnya didadamu?" ternyata Donghae sedari tadi memperhatikan Jongin.

"oh.. mungkin dia takut melihat anak ajumma yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip"

Donghae mengalihkan pandangannya kearah Sehun, dan ternyata benar, Sehun menatap intens kearah Jongin, bahkan matanya tidak berkedip sama sekali.

"eh, bocah evil, kenapa kau menatapnya begitu, eoh? Kau membuatnya takut, bocah evil"

"dia manith dan juga imut eomma" jawab Sehun dan akhirnya mengedipkan matanya.

"oh... kau suka ne dengan Jongin, eoh. Ya ampun, bocah evil, berapa umurmu sebenarnya? Kau masih terlalu kecil untuk merasakan yang namanya perasaan suka"

"tapi, Thehun tidak bitha tidak melihatnya eomma"

Donghae tertawa mendengar penuturan polos anaknya. Sifat Kyuhyun benar – benar menurut kepada Sehun.

"astaga, Sehun, ternyata kau benar – benar anak appa mu, eoh." Sehun mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Donghae tanpa melepaskan pandangannya dari Jongin sama sekali.

"baiklah, kalau begitu kau berkenalan dengannya dulu, ne" Sehun menganggukkan kepalanya cepat.

Minseok menganggukkan kepalanya saat mengertia arti tatapan Donghae yang mengarah padanya. "Jongie, lihat ada yang ingin berteman dengan Jongie" Jongin mengangkat wajahnya dan melihat Minseok dengan tatapan anak anjingnya.

"gwenchana, Jongie gak perlu takut, dia orangnya baik kok" ujar Minseok lembut. "jjah, sekarang balik badanmu dan kenalan dengannya" Minseok mengangkat tubuh kecil Jongin dan menghadap kearah Sehun.

Senyuman cerah langsung terlihat di wajah Sehun yang membuat Jongin takut.

Donghae tertawa melihat Jongin yang ketakutan. "hahaha, eh, bocah evil, dia ketakutan melihatmu. Mungkin dia melihatmu seperti setan"

"eomma, walaupun Thehun thetan, tapi Thehun thetan yang tampan"

Ketawa Donghae semakin kencang setelah mendengar penuturan Sehun. "iya, iya, Sehun setan tampan, seperti appa Kyuhyun" Sehun paling senang kalau di samakan dengan sang appa. Karena menurutu Sehun, appanya itu tampan dan juga hebat.

"nah, sekarang waktunya kenalan dengan Jongin"

"ne"

Sehun pun segera mengulurkan tangannya kearah Jongin. "hai, kenalkan, namaku Thehun, Cho Thehun"

"The... Thehun?" ujar Jongin terbatah.

"aniyo, bukan Thehun, tapi Thehun"

Jongin mengernyitkna keningnya. Bukannya dia tidak salah ngomong tadi menyebutkan nama namja kecil yang di pangku oleh Donghae saat ini, tapi kenapa dia bilang salah?

"Thehun?" ujar Jongin dengan suara yang pelan.

Sehun menundukkan kepalanya. Hancur semua harga dirinya gara – gara kecadelannya. Donghae mengelus kepala Sehun lembut, mengerti dengan keadaan Sehun saat ini.

"Jongin..." Jongin mengalihkan pandangannya kearah Sehun. "namanya bukan Thehun, tapi Sehun. Sehun ini cadel 'S' jadi dia sedikit susah untuk mengucapkan namanya" Jongin menganggukkan kepalanya patuh.

"Sehun.."

Sehun segera mengangkat kepalanya dan menatap Jongin dengan senyuman yang merekah di wajahnya. "ne, Thehun, bukan Thehun"

Jongin menganggukkan kepalanya. "naega, Kim Jongin imnida, bagapta" Sehun menerima uluran tangan Jongin dengan cepat. Oh~~, Sehun bersumpah, baru kali ini dia merasa tangan yang selembut ini. bahkan tangan Donghae yang menurutnya lembut, kalah dengan kelembutan tangan Jongin.

"tangan Jongin lembut" ujar Sehun dengan sepontan. Jongin segera menarik tangannya dan mengatupkan kedua tangannya.

"kau kembali membuatnya takut, Sehun-ah"

"oh, Mianhae, Thehun tidak bermakthud membuat Jongin takut" Jongin hanya menganggukkan kepalanya pelan.

"nah, sebaiknya kalian berdua kembalilah ke ruangan kalian. Bukannya seharusnya Jongin istirahat yang banyak supaya sehat?"

"ne, ajumma benar. Kalau begitu, kami permisi dulu. Annyeong Donghae ajumma, Sehun-ah" ujar Minseok sambil membungkukkan badannya.

"annyeong Minseok-ah"

Minseok segera berjalan sambil menggendong Jongin yang kembali menyembunyikan wajahnya di bahu Minseok. Jongin mengangkat perlahan wajahnya dan melihat Sehun yang melambaikan tangan kearahnya.

Jongin perlahan mengangkat tangannya dan membalas lambaian tangan Sehun.

"kau masih kecil sudah mengerti dengan rasa suka, eoh? Bagaimana jika appamu tau, apa ya responnya nanti"

"tentu thaja appa pathti thetuju eomma"

"benarkah?"

"ne"

"karena eomma tidak percaya, jadi kita pergi keruangan appa untuk menanyakan tentang hal ini, oke"

"oke"

Donghae pun segera menggendong Sehun menuju ke ruangan Kyuhyun

-ooOOoo-

"Kyu..."

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari kertas – kertas yang berisi laporan tentang para pasien yang di tanganinya, kearah 2 orang yang baru saja memasuki ruangannya.

"appa~"

Kyuhyun segera berdiri dan mengambil alih Sehun yang berada di gendongan Donghae. "hai, bocah Evil" Kyuhyun mengusak rambut Sehun dengan lembut. "hai, appa Devil, hehehehe"

Donghae hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kedua tingkah aneh 2 namja itu. "appa, tadi Thehun jumpa sama theorang namja yang thaaaaangat manith"

"benarkah? Semanis apa dia? Appa yakin, eomma mu tetap lebih manis dari namja itu"

"ani, dia bahkan lebih manith dari eomma"

"appa jadi penasaran dengan orangnya. Appa boleh jumpa dengannya?"

"tidak, nanti appa merebutnya dari Thehun. Thehun tidak mau"

"eeehhh~~, appa kan sudah punya eomma, jadi tidak mungkin ngambil namja manis mu itu. jadi bolehkan appa jumpa dengannya?"

"tidak boleh"

"dasar evil pelit"

"biarin, weeekk~~"

"sudah, sudah, Sehun-ah main psp di meja appamu ne, eomma ingin bicara dengan appamu"

"ne, eomma"

Sehun segera turun dari pangkuan appanya. Dia berlari kearah meja Kyuhyun dan mengambil PSP yang memang sudah di sediakan oleh Kyuhyun di laci meja kerjanya.

"apa yang ingin kau bicarakan?"

Donghae mengalihkan pandangannya kearah Kyuhyun. "aku sudah mengatakan kepada Minseok, supaya jadi perawat pribadi Luhan"

"apa dia mau?" Donghae menganggukkan kepalanya. "bagaimana dengan Luhan, kau sudah memberi taunya?"

"aku sudah memberitaunya Kyu, dan aku yakin kau juga sudah tau bagaimana responnya" kali ini Kyuhyun lah yang menganggukkan kepalanya. "satu yang aku takutkan Kyu..."

Kyuhyun menatap Donghae dengan serius. "aku takut... Luhan akan berbuat kasar sama Minseok. Kau tau bagaimana sifat Luhan, kan Kyu"

Kyuhyun memeluk Donghae dan mengusap punggungnya dengan lembut. "kau tenang saja, Luhan tidak akan mungkin menyakiti namja semanis Minseok"

Donghae menatap kearah Kyuhyun. "benarkah?" Kyuhyun menganggukkan kepalanya mantap. "aku harap, yang kau ucapkan benar Kyu"

"yang aku ucapkan pasti benar. Percayalah"

Donghae pun menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun. "saranghae, Kyu"

"nado, saranghae, Cho Donghae"

TBC

A/N : Annyeonghaseyo,

akhirnya chap 2 nya update, mian kalau lama updatenya ne, khekhekhekhe.

oh ya, saya mau mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang sudah membaca dan juga mereview chap 1 nya.

Terima kasih semuanya ^_^

di Chap kali ini, HunKai sudah ketemuan, dan Minseok sudah menerima tawaran Donghae untuk menjadi perawat pribadi Luhan, hanya saja, LuMin belum ketemu untuk Chap ini. Di Chap depan mereka pasti akan ketemu, khekhekhekhe.

okelah, ini saja yang ingin saya sampaikan, saya harap kalian suka dengan Chap kali ini dan maafkan saya kalau ada typo, soalnya saya langsung mempostnya tanpa memeriksa terlebih dahulu.

jangan lupa tinggalkan jejak yang sudah membaca ff ini.

terima kasih semuanya.

salam dari Polly, Jongin, Sehun