Unexpected Tragedy
by
N-Yera48
Rate M -for contents & violence
Genre: Drama, Tragedy
Summary:
Kecerobohan Yoongi berujung pada kematian orang tersayangnya.
WARNING!
Death Fic
Shounen-ai/BL/Boys Love
Maybe it's your NOTP
So...
Don't Like, Don't Read
It's so simple, right?
.
.
.
© N-Yera48
.
.
.
"Yoonji."
"Eh, kak Yoongi." Yoonji menghampiri siswa berwajah mirip dengannya yang berdiri di pintu kelas.
"Kenapa, kak?"
"Kakak pinjam buku fisika kamu ya. Kakak lupa bawa tadi karena buru-buru. Nanti pas istirahat kakak balikin."
"Boleh, kak. Bentar ya."
Yoonji bergegas mengambil buku paket fisika miliknya dan menyerahkannya pada Yoongi. "Ini, kak."
"Makasih, adikku sayang." Yoongi mencubit gemas pipi Yoonji kemudian bergegas kembali ke kelasnya.
Sedari tadi ada yang memperhatikan interaksi si kembar. Yoonji tahu betul siapa pelakunya.
"Apa sih, Jim? Senyum-senyum ga jelas."
Walau Yoonji sibuk membalas pesan Jungkook sang kekasih, ia tahu jika teman sekelasnya yang bernama Park Jimin senyum aneh dari tempat duduknya dibelakang Yoonji.
Merasa ketahuan, Jimin menarik bangkunya tepat ke samping Yoonji. "Hehehe kok kamu tau sih, Yoon."
"Kamu naksir kak Yoongi, kan?"
"Terliat jelas ya?"
"Banget. Kamu terpesona gitu tiap mandangin kak Yoongi. Kamu kira aku ga tau?" Yoonji masih sibuk dengan ponselnya.
Jimin menggaruk belakang kepalanya yang mendadak gatal, "Kenalin aku ke kakakmu donk. Setidaknya aku bisa berteman dengannya."
"Berani bayar berapa?" Atensi Yoonji beralih ke Jimin, senyum miring tercipta di paras manisnya.
"Berbayar nih ceritanya?"
Yoonji terkekeh, "Ga deh, untukmu gratis. Tapi kak Yoongi kadang galak lho."
"Tau kok." Setelah itu Jimin malah senyum-senyum sendiri. Yoonji heran, sebegitu sukakah Jimin dengan kakak kembarnya?
• • •
Bel istirahat berbunyi, Yoonji dikejutkan oleh kehadiran Jungkook di kelasnya "Lho? Tadi katanya istirahat ada kerjaan di OSIS."
"Mampir bentar liat kesayangan." Jungkook meletakkan minuman kaleng di meja Yoonji.
Pipi Yoonji bersemu. Sesibuk apa pun kekasihnya, ia pasti menyempatkan waktunya untuk bertemu Yoonji.
"Terima kasih."
Yoonji merasa sangat beruntung memiliki Jungkook. Lihat saja pandangan iri dari teman-teman sekelasnya, walau ada juga yang gemas dengan interaksi keduanya.
• • •
"Akhirnya~" Yoongi merenggangkan tubuhnya ketika mendengar bel istirahat berbunyi. Guru Fisika segera menyudahi pelajarannya dan keluar kelas.
"Yoon, ke kantin yok." Ajak teman sekelasnya yang bernama Hoseok.
"Duluan aja. Aku mau balikin buku Yoonji dulu."
"Oke deh. Ntar nyusul ya."
"Sip."
Yoongi beranjak, tujuannya kelas Yoonji. Namun sesampainya disana, ia melihat Yoonji sedang bersama sang pacar. Ingin memanggil atau menghampiri, tapi tak enak. Sampai ada seorang siswa yang mendekatinya.
"Mau bertemu Yoonji?"
"Eh?-" Yoongi sempat terkejut, tapi ia langsung mengontrol keterkejutannya, "-Iya. Tapi sepertinya dia lagi sibuk. Bisa kau berikan buku ini padanya eumm.."
"Jimin. Park Jimin."
"Jimin?"
"Baiklah." Jimin menerima buku yang disodorkan oleh Yoongi.
"Terima kasih."
Yoongi sempat melayangkan senyumnya pada Jimin sebelum pergi dari kelas itu. Menyisakan Jimin yang diam terpesona.
"Manisnya~"
• • •
"Kak Yoongi, mau pulang?"
Yoongi menoleh dan mendapati Yoonji berlari kecil hendak mensejajarkan langkah dengan dirinya.
"Iya, mau bareng? Kamu ga sama Jungkook?"
"Dia masih ada kerjaan. Sore baru bisa pulang katanya. Oh ya, kak. Hari ini papa ada di rumah? Kalo ada aku mau mampir. Kangen. Hehe."
Yoongi senyum, "Ada kok."
Si kembar sampai di halte, menunggu kedatangan bus yang akan mengantar mereka pulang. Mereka membicarakan banyak hal hingga sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Hai, Yoonji."
"Jimin? Ngapain di halte. Biasanya bawa motor."
Jimin mengambil tempat berdiri di samping Yoonji, "Masuk bengkel."
Yoongi hanya melayangkan senyum tipis saat ia bersitatap dengan Jimin. Yang diberi senyuman balas senyum.
'Senyum gebetan manis banget woy!' Teriak Jimin secara imajiner.
Yoonji berbisik, "Jim, halte tujuanmu di seberang."
"Tau kok."
'Ini anak niat banget deketin kak Yoongi.'
"Kak, ini Jimin teman sekelasku."
"Iya, tadi buku kamu kan aku titip sama dia."
"Oh, iya ya."
Yoonji beralih ke Jimin dan mencubit bahu Jimin gemas. Kenapa ia bisa lupa tadi buku yang dipinjam kakaknya Jimin yang kasih?
• • •
"Papa~"
"Yoonji?"
"Iya. Hehe."
Begitu sampai di rumah, Yoonji langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Jiyong sang ayah. Yoongi pamit ke kamarnya.
Sesampai dikamarnya, Yoongi tersenyum kecut. Terbersit rasa iri setiap melihat interaksi Yoonji dan Jiyong. Tidak, ayahnya tidak pilih kasih. Hanya saja Yoonji ketika rindu dengan sang ayah, ia bebas bertemu. Berbeda dengan dirinya yang harus menahan rindu kepada sang ibu semenjak perceraian orang tuanya 3 tahun yang lalu. Ibunya membenci ayah dan dirinya. Ironi memang, tapi apa mau dikata.
Jika saja Yoonji ketahuan perihal perjumpaan ini, pasti Yoonji sudah dibawa sejauh mungkin oleh ibunya agar tidak bertemu lagi. Untung saja ibu mereka wanita karir yang hanya berada dirumah pada malam hari dan akhir pekan.
Yoongi sedang memainkan ponsel saat kamarnya diketuk dari luar.
"Kak, ini Yoonji."
"Masuk aja, ga dikunci."
Yoonji memasuki kamar Yoongi dan duduk disamping kakaknya, diatas ranjang. "Ngapain kak?"
"Cuma lagi buka-buka media sosial. Papa mana?"
"Tadi dapat panggilan dari agensi. Sekarang udah pergi."
Yoongi meletakkan ponselnya, "Mau kakak antar pulang sekarang?"
"Bentaran dulu kak. Masih mau disini. Di rumah sendiri, males."
Yoonji mengambil ponselnya dan menunjukkan foto selca dirinya bersama Jimin. "Kak, liat deh foto aku bareng Jimin. Menurut kakak Jimin ganteng ga?"
"Yoonji, jangan selingkuh. Kamu udah punya Jungkook."
"Bukan itu maksud aku ish."
"Trus?"
Ingin Yoonji mengatakan Jimin menyukai kakaknya, tapi Yoonji harus menahan diri. Disini ia hanya perantara.
"Kakak ga mau berteman sama dia? Katanya dia sih pengen berteman sama kakak."
"Apaan sih."
Dari jawabannya, suasana hati Yoongi sedang tidak baik. Atau memang Yoongi susah untuk dikenalkan pada seseorang? Tadi saat di bus, Yoonji sengaja mendorong Jimin untuk duduk disamping Yoongi. Tapi tak ada pembicaraan diantara keduanya. Yoongi memandang keluar sepanjang perjalanan dan Jimin hanya menatap Yoongi kagum. Ditatap lama seperti itu apa Yoongi tidak merasa ya? Yoonji heran sendiri dengan saudara kembarnya.
Hening beberapa saat teralihkan dengan pernyataan Yoongi. "Kakak kangen sama mama."
Mendengar hal tersebut, Yoonji pun tahu apa yang sedang dipikirkan sang kakak. Ia sempat terdiam, bingung bagaimana menanggapinya. Diperhatikan raut wajah sendu Yoongi yang sedang memandang foto keluarga mereka di meja nakas.
Wajah Yoongi persis sepertinya. Kulit mereka putih pucat. Mungkin terkesan narsis, tapi Yoonji akui paras Yoongi juga manis menjurus ke cantik seperti dirinya. Tinggi mereka pun tak jauh berbeda, Yoongi hanya lebih tinggi sekitar 1-2 cm. Hingga ide gila pun muncul tanpa bisa ditahan.
"Kak Yoongi bisa kok ketemu mama."
"Caranya?"
Yoonji hanya terkekeh aneh, membuat Yoongi mengernyit heran.
• • • • •
"Jadi ini maksudmu cara untuk bisa ketemu mama?"
"Tepat sekali!"
Yoongi heran, sangat sangat heran. Apa yang dipikirkan Yoonji hingga mendandaninya menjadi seorang perempuan?
Yoonji datang-datang membawa perlengkapan make up, baju, wig dan sebagainya.
"Coba bercermin, kak. Kakak mirip banget sama aku kalo begini. Mama pasti ga akan tahu."
Yoongi menuruti perkataan sang adik, menatap refleksi dirinya yang sama persis dengan Yoonji. Apa ini cara terbaik?
• • •
Yoongi menuju halte dengan berbagai macam pemikiran dibenaknya, walau Yoonji sudah mengarahkan beberapa hal padanya seperti..
'Kalo ngomong, suara kakak tinggiin dikit. Kebetulan banget warna suara kita setipe. Jadi bakalan mirip.'
'Kamarku di lantai 2 ya kak. Kamar mama di lantai 1.'
'Mama akhir pekan gini seharian di rumah, jadi kakak punya banyak waktu buat kangen-kangenan sama mama.'
'Papa udah ku kasih tau perihal pertukaran kita dan ga masalah katanya.'
'Akhir kata, semangat kak Yoongi.'
Sungguh ocehan adiknya itu panjang sekali. Beruntungnya ia tidak dipaksa untuk memakai rok. Setidaknya celana jeans dengan casual style lumayan nyaman digunakan.
Sedari tadi jantung Yoongi terus berdetak menggebu-gebu. Apa ibunya akan tahu? Pemuda bermarga Min itu sungguh khawatir sang ibu akan membencinya semakin dalam.
"Yoonji?"
Hampir saja Yoongi menjerit kaget, namun berhasil ditahannya.
Pelaku yang memanggilnya mematikan motor dan melepaskan helm full facenya.
"Jimin?"
Jimin turun dari motor dan berdiri dihadapan Yoongi, "Mau kemana? Mau ku anterin?"
Yoongi keringat dingin, kenapa Jimin harus muncul?
"Ga papa, aku naik bus aja. Ah, itu busnya. Duluan ya!" Yoongi segera berlari kecil ke halte dan menaiki bus. Menghindari Jimin memang solusi terbaik.
Jimin masih memandang kepergian Yoongi. "Ada yang aneh, tapi apa ya?"
• • •
"A-aku pulang."
Yoongi memasuki rumah pelan. Tidak terlalu besar, namun suasananya sangat nyaman.
"Oh, Yoonji. Sudah pulang?"
Suara ini, suara yang ia rindukan. Asalnya dari arah dapur. Yoongi melangkahkan kakinya mendekati sumber suara.
Dilihatnya sosok itu berdiri membelakangi, memakai celemek abu-abu sedang memotong sayuran.
Yoongi yang saat ini menjadi Yoonji, perlahan memeluk orang yang teramat sangat dirindukannya itu dari belakang.
"I-iya, ma. Aku pulang."
"Ya ampun~ anak gadisku ini manja sekali." Kekeh Chaerin sembari lanjut memotong sayuran.
Yoongi masih memeluk sang ibu, melampiaskan rasa rindu yang teramat sangat. Mata memanas, air mata mengenang. Namun ditahan agar tak meluncur bebas. Bahagia yang ia rasakan tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
• • • • •
Sudah sebulan pertukaran itu berlangsung. Akhir pekan Yoongi akan menjadi Yoonji, menikmati kebersamaannya bersama Chaerin. Pertukaran tempat ini sangat membantu. Rasa rindu terobati walau Yoongi harus berkamuflase menjadi saudara kembarnya.
Yoongi sungguh diliputi rasa bahagia hingga ia tak bisa memejamkan matanya padahal malam sudah larut. Dipandangi langit kamar adiknya sembari menerawang hal-hal menyenangkan yang dilakukan bersama sang ibu tadi. Seperti membuat cake bersama dan memakai masker wajah produk terbaru CL Cosmetics. Feminin memang, tapi Yoongi harus mengikuti alur kehidupan Yoonji ketika bersama Chaerin.
Lamunan Yoongi buyar saat terdengar suara pelan dari arah balkon kamar. Yoongi mengangkat tubuhnya sedikit untuk bangkit, mengintip. Jantungnya berpacu cepat saat dilihat ada bayangan seseorang sedang memanjat balkon.
Yoongi perlahan meraih gunting di meja nakas dan menyembunyikan dibalik selimut. Guling dipeluk erat menutupi wajahnya namun masih disisakan celah untuk melihat pergerakan sosok dibalkon sana.
'Siapa itu? Ah, sial! Aku lupa mengunci pintu balkon.'
Orang itu berhasil menapaki balkon. Pelan-pelan dibukanya pintu, sangat pelan hingga tak ada suara yang terdengar.
Bermodalkan pencahayaan dari lampu di meja nakas, Yoongi melihat ia mendekat. Laki-laki, memakai jaket serta masker berwarna hitam.
'Tenang, Yoongi. Tenang. Kau bisa melawannya.'
Saat sosok itu sampai tepat di samping ranjang, Yoongi bangun tiba-tiba dan...
"ARRGH!"
"SIAPA KAU?"
.
.
.
Masih permulaan, belum ada konflik yang gimana. Terima kasih sudah mau mampir dan membacanya. Silahkan di review~
Note : Guru Fisika nya Yoongi itu saya lho. /apaan.
Love,
N-Yera48
