terima kasih atas komentarnya, Lingkarano!
Dua minggu kemudian, Kuroko mengajukan pengunduran diri.
Pengunduran diri itu sesimpel yang dia pikirkan. Temui Nijimura-senpai. Sampaikan kepentingan. Kapten, saya ingin mengundurkan diri, terima kasih untuk semuanya, sungguh pengalaman berharga, saya tidak akan melupakannya. Nijimura menerima surat pernyataan Kuroko dengan kening berkerut tiga. Nijimura bertanya apakah Kuroko yakin, latihan bahkan baru mulai setengah semester dan kau sudah mau keluar, yang benar saja. Kuroko membungkukkan diri sebagai permohonan maaf.
"Kau yakin?" tanya Nijimura untuk kedua kali. Kuroko sedikit heran mengapa Kapten begitu persisten dan skeptis.
"Iya."
Nijimura mengamati surat pernyataan dengan saksama seperti guru bahasa mencari kesalahan ejaan. Ada jeda beberapa detik sebelum dia menggerakkan tangan sedikit, pertanda dia menerima pengunduran diri Kuroko. "Yah, baiklah." Nijimura mengangguk. "Sedikit sayang, kautahu. Kau satu-satunya pemain putri. Kalau kau cukup muka tembok untuk mendaftar, kupikir kau juga cukup teguh untuk bertahan sampai akhir."
Kuroko menggigit pipi bagian dalam kuat-kuat. Otaknya menerjemahkan ucapan Nijimura sebagai sindiran luar biasa. Apa dia terlihat selemah itu di mata Kapten? Terlalu lembek dan mudah menyerah? Apa Kapten selama ini memang meragukannya dari awal? Nijimura jarang berkata terang-terangan dia memandang rendah seseorang. Apa Kuroko orang pertama yang harus menerima hal itu dari Kapten?
Berbagai prasangka yang memenuhi Kuroko hilang ketika Nijimura menepuk pelan puncak kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan gestur seorang senior yang menghargai juniornya, membuat Kuroko sedikit-banyak tertegun. Terutama ketika Nijimura berkata, "Ya sudah, sana, lakukan apa yang kaumau."
Kuroko, selagi terpaku memandangi punggung Nijimura yang menjauh, baru tahu kaptennya itu bisa menjadi begitu hangat dan pengertian.
Mungkin, seperti kata Nijimura, karena dia satu-satunya putri.
