NARUNEJI
Naruto milik MK
….
Seharusnya malam hari saat bulan purnama seterang ini, saat orang-orang merayakan Hanabi, saat orang-orang bersama orang yang di cintainya menikmati perayaan di malam yang indah begini. Ah seharusnya emang malam ini waktunya bersenang-senang, tapi tidak begitu dengan seorang lelaki berambut cokelat panjang berwajah manis.
Mukanya sekali-kali cemberut kemudian berkerut, tangannya mengepal kuat. Hatinya panas mendengar secara diam-diam celutukan atau lebih keluhan dari seorang pria berkulit hitam, dengan rambut pirang yang kelebihan pigmen. Pada lelaki di sampingnya atau lebih tepatnya pada orang kepercayaan pamannya.
Nama lelaki itu Naruto Uzumaki, anak baru yang dibawa oleh Yamato dari negeri jauh. Yamato sendiri adalah orang kepercayaan pamannya, jadi Naruto jelas punya akses yang cukup kuat untuk bekerja di bawah perusahaan besar bernaun Hyuuga corp.
Awalnya Neji tidak begitu tertarik pada lelaki itu, Neji benci orang yang sok dekat, sok akrab dengannya apalagi pada orang yang jelas-jelas punya maksud tertentu pada sepupunya. Sudah dipastikan orang serendah Naruto hanya ingin mengangkat derajat sendiri. Dasar benalu!
Ya itu dulu, sebelum lima bulan yang lalu Naruto berhasil membalikkan hatinya yang keras, lelaki pirang itu sudah terlanjur mencairkan hatinya, meleleh sampai ia tidak sanggup bertahan lagi. Ya, dia jatuh cinta pada Naruto karena dua patah kata yang keramat meluluhkan hatinya.
Sebenarnya ia sangat membenci pamannya karena ia selalu percaya kalau beliau telah mengambil alih perusahaan ayahnya. Seharusnya se bahagian saham dari perusahaan Hyuuga adalah milik ayahnya tapi diambil alih secara licik oleh Hiasi. Begitu pemikiran awalnya.
Tapi lelaki itu, Naruto menghalangi dan mematahkan niat jahat pada pamannya sendiri dan dengan dua patah kalimat "dendam tidak menyelesaikan masalah" hatinya tergugah ia melupakan niat jahatnya. Lelaki itu tanpa di bayar menutup mulut tentang dirinya. Setelah itu ia memandang dengan cara lain pada sosok itu. Sebuah bentuk kekaguman.
Tapi ia juga harus menelan kenyataan pahit kalo si pria pirang ternyata menyukai adik sepupunya sendiri. Menyebalkan.
"Haha…tidak kusangka orang sepertimu ada malunya juga." Yamato tergelak mendengar keluhan pemuda yang sudah dianggap adiknya ini.
"Niisan! tapi dia anak bos kita, mana aku berani, dattebayo?" keluhnya lagi sambil meminum kaleng birnya. Yamato kembali tergelak tidak menyangka malah si pirang ni yang menemaninya menikmati Hanabi.
"Um seperti bukan sifatmu saja, Naruto," guman Yamato yang disambut cengiran si pirang.
"Niisan kau ada ide nggak? buat ngajak tuan putri manis macam Hinata-hime." Lagi-lagi pria yang dipanggil niisan itu tertawa. "Tidak." Jawabnya santai. Naruto mendengus mendengarnya.
Neji yang sudah lama nguping akhirnya jengah. Ia keluar dan memanggil pria itu. "Naruto."
Laki-laki pirang itu Nampak terkejut, "Ah, Neji-sama." Sapanya sambil menyapa hormat. Yamato ikut membungkukkan badan saat melihat majikannya.
"Aku Perlu bicara padamu, Naruto," ucap Neji tanpa basa-basi sambil menarik laki-laki itu menjauh, meninggalkan Yamato sendiri yang sepertinya tidak ambil pusing.
"Neji-sama, apa yang hendak anda bicarakan?" Tanya Naruto ketika ia sudah cukup jauh di seret. Neji memandang lekat-lekat pria yang ada di hadapannya. Naruto bingung dengan aksi diam majikannya. Tapi demi kesetiannya ia bersabar, menunggu lelaki berambut panjang ini untuk membuka mulut.
"Ku dengar kau tertarik pada sepupuku?" pertanyaan itu tentu bikin kaget, tapi Naruto bukanlah seorang pengecut dalam hal perasaan. Kalau dia memutuskan untuk menyukai seseorang maka ia akan jujur dan diperjuangkan. "Benar." Jawaban tegas itu bikin Neji menggeram dalam hatinya. Tidak bisa dibiarkan itu yang ada di otak cerdasnya.
Neji menarik nafas dan menghembuskan pelan-pelan. "Nanti malam datanglah ke kamar Hinata-sama."
"Ehh?!" Si pirang itu terkejut, matanya melotot pada majikannya ini, tidak sopan emang tapi pria blonde tu kadang lupa statusnya sendiri. "M-Maaf Neji-sama." Ia langsung membungkuk badannya saat menyadari kesalahan yang ia perbuat.
"Hinata-sama mengundang kau ketempatnya, Naruto." Ada senyum sinis yang di tunjukkan Neji, namun Naruto yang terlampau senang tidak menyadari hal itu.
"Benarkah, ittebayo?!" lihat bagaimana semangatnya pria bodoh itu, Neji mengangguk mantap. Uuh cinta emang butuh pengorbanan. Lihat dan nikmati saja apa yang terjadi padamu Naruto, karena tidak peka pada perasaanku. Neji tersenyum dalam hatinya.
…
Naruto bersiul pelan, malam ini ia memakai baju yang terbaik yang ia punya. Siapa sangka langkahnya untuk mendekati tuan putri dapat tercapai dengan mudah? Agak aneh sih, tapi ini merupakan kesempatan yang sangat berharga.
Lorong yang panjang menjadi lebih bewarna, duh hatinya jadi berbunga-bunga membayangkan si Hinata-hime yang menunggunya, pasti dara itu sangat cantik, tubuhnya yang indah dibalut dengan kimono berbahan kain lembut. Rambutnya yang panjang tergerai, kadang angin menerbangkan helai-helai hingga tercium ke hidungnya. Uuhhh dia benar-benar tidak sabar.
TOK! TOK!
Dengan pelan ia mengetuk pintu kayu itu, seorang pelayan keluar dan menyapanya, ia tersenyum. Pelayan itu menyuruhnya masuk.
Dengan memasang senyum yang paling menawan ia memasuki kamar itu yang cahayanya agak redup, Naruto semakin berdebar di dalam hatinya. Dan pintu tertutup seiring menghilangnya si pelayan.
Naruto gugup, di hadapannya Hinata-hime duduk membelakanginya, wangi harum tubuhnya tercium begitu bebas, mengirim sejuta rasa di hati si pemuda.
"Selamat malam, Hinata-sama." Namun sang dara tidak menyahut, ia hanya mengangguk, lalu mengangkat satu tangannya menyuruh Naruto untuk duduk. Sang blonde tahu kalau nonanya itu pemalu dan jarang bicara mungkin karena itu Naruto akan pelan-pelan saja. Hatinya semakin keras berdebar.
Ia duduk memandang punggung Hinata-sama, rambutnya tergerai indah seperti bayangannya rasanya ingin membelai rambut panjang nan indah itu. Uuh… bau tubuhnya yang harum tercium jelas di ruangan ini. Naruto rasanya begitu terbuai.
Dihadapannya ada secangkir teh hijau yang masih hangat. Si pirang cukup senang Hinata menunggunya dan menjamunya seperti ini. Ia minum pelan teh itu, rasanya manis seperti nona Hinata.
Namun belum sempat membuka mulut untuk sekedar basa-basi dengan wanita itu, ia terbatuk dengan keras saat melihat nona itu membuka kimono indahnya memperlihatkan bahunya yang mulus putih bersih.
"N-Nona Hinata," panggilnya, tubuhnya panas-dingin saat melihat punggung wanita itu yang terbuka tanpa penghalang.
Sungguh ia lelaki sejati yang tidak akan tahan di goda seperti itu, dalam ransangan yang memikat itu, Naruto bertanya-tanya apa yang sebenarnya di inginkan oleh majikannya ini? Walau tidak dapat ia pungkiri ia menyukai keagresifan nonanya itu.
Ia bangun terburu-buru melangkah cepat ke arah gadis itu. Tidak! Ia sedar posisinya seperti apa? Lagian ia tidak akan terburu-buru ia akan membuat nona itu menyukainya perlahan-lahan.
Ia menunduk berniat memakai kembali kimono itu, namun ia terkejut begitu melihat raut wajah yang tadi yakini sebagai nona Hinata. "N-Neji-sama!" saking terkejut ia terduduk dan mundur dengan mata terbuka lebar.
Neji tanpa babibu langsung menerjang Naruto, menduduki tubuh pria itu yang masih syok. "A-apa yang anda lakukan?" tanya Naruto terbata, Neji menempelkan telunjuk di bibir pria itu "Ssshhhttt."
"Neji-sama mengapa anda berpura-pura jadi nona Hinata?" Neji mendengus telunjuknya bermain di kemeja Naruto, pria blonde itu meneguk ludahnya gugup pasalnya lelaki yang mirip perempuan itu telanjang di atas tubuhnya.
"Neji-sama sebaiknya anda berpakaian kembali," kata Naruto selanjutnya sambil menyingkirkan tubuh si laki-laki rambut panjang, namun Neji menahan tubuhnya ia kembali mendorong tubuh Naruto kembali terlentang di atas lantai.
"Menurutmu siapa yang paling cantik aku atau Hinata, Naruto?" tanya Neji sambil mengusap lehernya sendiri, leher Naruto kaku, tubuhnya mendadak jadi batu saat tubuh polos Neji menggesek pelan tubuhnya.
"Tunggu dulu!" ia jadi panik, "Aku bisa lebih baik dari nona Hinata, kok." Setelah berkata begitu perlahan-lahan tangan lembutnya bergerak melepas satu-persatu pakaian yang di kenakan Naruto. Sang blonde diam, ia bingung harus bereaksi apa.
Sejujurnya ia bukanlah lelaki straight murni, ia juga kadang tertarik pada tubuh indah laki-laki, makanya melihat Neji yang begitu agresif jiwa liarnya terbuka. Neji hanya tidak tahu kalau ia sedang membangunkan singa lapar.
Setelah kemeja Naruto di tanggalkan, Neji mengusap-usap otot terlatih pria itu, seperti yang selalu ia lihat saat Naruto berolah raga di belakang rumah. Tubuh sempurna si pria blonde selalu membuatnya suka. Ditatapnya wajah Naruto lekat penuh hasrat.
"Pandanglah aku. Tatap mataku, Naruto." Naruto menurut, memandang ke wajah cantik lelaki itu. Lalu ia sedar kalau Neji tidak kalah mempesona di bandingkan Hinata, tanpa sedar ia menarik rambut pajang itu hingga menunduk.
"Cium Aku~~peluk aku~~ Naruto." Lagi-lagi lelaki itu menuruti perkataan Neji, ia mencium lembut bibir laki-laki itu. lalu menjadi suka saat mengetahui bertapa lembut bibir itu di atas bibirnya. "Aku mencintaimu."
Naruto terbelalak, kembali memandang Neji lekat-lekat rasanya ia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, sedangkan laki-laki bermarga Hyuuga itu menatap balik Naruto dengan penuh keyakinan. Ia tidak akan mundur, akan ia perjuangkan cintanya. Walaupun hatinya menjadi taruhan dan sakit.
Naruto diam namun bibirnya tidak tinggal diam, dilumatnya bibir Neji yang merekah dengan lumatan penuh gairah. Sehingga membuat Neji merintih dan mendesis kenikmatan.
"Ouh~~ Teruskan, Naruto…" Naruto menurut, meneruskan cumbuannya. Dilumat dan diciuminya bibir Neji. Sementara tangannya bergerak melakukan cubitan pada kedua puting dada Neji yang sudah menegang.
Neji merasa senang ia membalas lumatan Naruto.
Mereka berdua semakin larut dalam gairah, sambil terus bercumbu, tangan keduanya pun bergerak saling melakukan belaian dan remasan pada bagian-bagian tubuh lawan yang sensitive. Yang akan membuat gairah lawan bertambah membara.
Neji berusaha menopang tubuhnya dengan bertumpu di dada bidang kokoh tubuh Naruto, bagai ular piton, tubuh Neji meluk-liuk diatas tubuh Naruto sambil terus mencium wajah dan pipi laki-laki itu. Naruto melihat laki-laki itu diatasnya, ia tersenyum melihat begitu agresif laki-laki yang ia pikir selama ini penuh wibawa, tenang dan selalu berpikir matang-matang saat melakukan sesuatu.
Begitu manis dan seksi itulah yang muncul di pikiran si blonde.
"Apa kau itu penggoda, Neji-sama?" namun sang lelaki bermata indigo itu hanya memandang mata biru di bawahnya dengan sayu, menghantar rasa yang membara dan membakar di hati Naruto, tangan besarnya menyentuh perut ramping dan mulus milik Neji, perlahan naik dan kembali bermain-main di puting sensitif laki-laki bermarga Hyuuga itu.
Neji mendesah dan merintih dengan nada yang pasti sangat di sukai oleh si blonde, ia semakin gencar memuntir dada itu hingga benar-benar memerah. Naruto benar-benar menyukai apa yang dengar, ia memeluk tubuh polos diatasnya dan berusaha untuk duduk.
Neji memandang lelaki itu yang berusaha membuka celana sendiri, Neji menyeringai senang ia ikut membantu membuka dengan gembira celana sang blonde. Saat benda bulat panjang berotot itu lolos ia memandang takjub, inilah yang selalu di sembunyikan Naruto di balik celananya? Kesenangan yang akan segera ia dapat. Sementara itu tangannya yang penasaran menyentuh ujung milik Naruto, ia terkesiap ketika ukuran dan kekerasan benda itu semakin bertambah besar, panjang dan keras.
"Kau Suka ittebayo?!" pertanyaan si pirang dibalas anggukan oleh Neji, ia sekarang mirip anak kecil yang dikasih permen. Neji menyentuh dada tan itu matanya memandang Naruto penuh harap.
"Boleh aku menjilatnya?" Naruto tertawa ia mengelus puncak kepala Neji. "Lakukan yang terbaik." Yang langsung di sambut Neji dengan melahap benda yang ada di selangkangan Naruto dengan gairah yang meluap-luap. Ia menjulurkan lidahnya keluar, dengan ujung lidahnya dijilat kepala benda yang berbentuk topi baja itu, sehingga membuat Naruto melenguh ia mengadahkan kepalanya. Merasakan geli bercampur nikmat.
"Ouh~~ Neji~~ stt… aahh…!" Tangan Naruto pun bergerak, menggapai-gapai mencari pegangan. Dan akhirnya, tangannya berhasil mendapatkan kepala Neji yang kebetulan menunduk menikmati permainannya sendiri. Maka ditekannya kepala Neji kebawah, sehingga mulut yang terbuka itupun semakin menelan benda bulat berotot yang ada di selangkangannya.
Sungguh Naruto sangat menikmati servis mulut yang di lakukan Neji, ia lupa kapan terakhir ia pernah membiarkan seorang laki-laki mengoral punyanya sampai membuat ia sangat puas begini. Mungkin rasa anus Neji akan benar-benar membuat ia melayang malam ini.
Karena memikirkan kenikmatan yang akan di perolehnya, Naruto buru-buru membalik keadaan, ia membuat Neji terlentang di lantai dan menaiki kaki lelaki itu ke bahunya, sehingga mudah baginya melihat anus Neji yang merekah yang memanggil dirinya.
"Apa kau punya oil?" Neji mengangguk dan segera menggambil pelumas yang tidak jauh darinya. Naruto kembali tertawa.
"Hey cantik, apa kau sudah sangat mempersiapkan ini, heh?" Neji mengerucut bibirnya merasa malu karena ketahuan sangat menginginkan pria ini. sedangkan Naruto semakin gemas melihat keimutan dari tingkah yang ditunjukkan oleh majikannya ini.
Uuh baru ia tahu kalau Neji bisa sangat manis dengan sikapnya ini.
Hasratnya semakin besar, ia menyiapkan lubang itu dengan cepat, Neji merasa geli ketika pelumas itu di olesi di anusnya dengan banyak.
"Aahh… Oohh…" rintihan terdengar ketika Naruto memasukkan jari-jari ke lubang kenikmatannya, dadanya berdebar keras membayangkan kalau jari-jari lelaki yang ia cintai berada dalam tubuhnya, dan dadanya semakin keras berdetak tatkala bayangannya berubah liar saat bagian terpenting dari Naruto memasuki tubuhnya. Jari-jari Naruto menusuk dan menggelitik ruang dalam anus Neji, yang membuat lelaki berambut panjang itu memekik tertahan dengan kedua mata membeliak bagai kesurupan dan tangannya dengan kuat mencengkeram lengan Naruto.
"Auw…! Naruto… sstt…!" mendengar rintihan dan desahan Neji, Naruto semakin bertambah gairah, jari-jarinya terus bereaksi, melakukan tusukan dan gelitikan, sehingga semakin membuat Neji kelojotan, mengeram dan merintih dalam kenikmatan dengan mata membeliak-beliak bagai kesurupan.
"Naruto…hhnngg…aku tidak tahan." Naruto tahu apa yang diinginkan Neji, ia menuruti permintaan laki-laki itu, ia sendiri juga tidak sabar ingin menikmati sajian utama.
Ia membuka lubang itu dengan kuat dengan menarik ujungnya, Neji merintih lagi. Kemudian memajukan tubuhnya, benda miliknya mengesek lubang anus itu seakan mengucap salam perkenalan, Neji berdebar menunggunya.
Perlahan namun pasti bendanya menerobos pertahan kokoh Neji, membuat lelaki berstatus majikan itu menahan nafas sebentar. Memang ini bukan yang pertama buatnya, tapi melakukan dengan orang yang begitu diinginkan semuanya terasa berbeda, ada eforianya tersendiri, perasaan yang meletup seperti ada kembang api yang bertalu-talu didalam hatinya.
"Mainkan, Naruto… ayunkan." Kembali hasratnya terbit, saat ia mulai terbiasa dengan kepunyaan Naruto di lubangnya. Naruto segera melakukan gerakan memompa, ia menggerakkan pantatnya maju-mundur dengan perlahan seakan-akan ingin Neji bisa merasakan setiap inci dari barang berharganya.
Neji yang berpengalaman tidak tinggal diam, iapun ingin Naruto bisa ikut merasa nikmat, ia menggerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri mengimbangi gerakan Naruto. Sehingga sang pirang bisa merasakan benda miliknya bagai dipelintir dan diremas-remas menimbulkan kenikmatan tiada tara.
Mereka terus berpacu, gerakan yang awalnya lambat kini meningkat, tanpa kenal rasa lelah, bahkan meski keringat sudah sangat banyak keluar mereka tidak peduli, mereka terus berpacu.
Rintihan dan lenguhan kenikmatan, tiada hentinya keluar dari mulut mungil Neji, sedangkan Naruto, nafasnya memburu.
"Oohh…Aahh… Sstt!"
"Bagaimana, Neji?"
"Aku menyukai permainan ini, Naruto."
"Benarkah?"
"Iya."
Disanjung seperti itu, semakin membuat Naruto kian bertambah semangat, pacuannya pun semakin bertambah menggebu.
Neji yang merasakan bertubi-tubi kenikmatan menggelinjang ia merengang dengan mata membeliak liar, tanpa ia sadari ia mencapai batasnya ia klimak dengan sangat puas. Ia terkulai tanpa tenaga sebagai bukti kalau pria cantik itu telah mencapai puncak kenikmatan.
Mengetahu Neji sudah mencapai kepuasan, Naruto yang belum mendapatkannya. Berusaha semakin cepat memacu tubuhnya, tidak peduli Neji yang kepayahan mengimbangi tubuh lawannya. Pacuannya semakin bertambah cepat dan cepat. Sehingga Neji menekan kuat bahu Naruto yang terus melakukan gerakan keluar-masuk.
Ia menjerit-jerit kecil saat ia sudah tidak bisa menahan tubuh Naruto yang begitu cepat melakukan sodokan, ia pasrah dengan tenaga yang sedemikian terkuras membiarkan Naruto melakukan apapun padanya, dan akhirnya, dengan didahului lenguhan panjang serta tubuh menegang. Naruto pun mencapai kepuasannya.
Sesaat kemudian, tubuhnya terkulai lemas di samping tubuh Neji yang tak bertenaga. Neji tersenyum senang ia dengan bahagia memeluk tubuh kekar Naruto. Si pria blonde ikut memeluk pria itu, rambut panjang Neji ia main-mainkan sekali-kali ia cium, ia menyukai harum wangi rambut lembut itu.
"Sejak kapan menyukaiku, heh?" Neji mencubit perut Naruto tidak berniat menjawab pertanyaan pria itu.
"Ow! Ow sakit." Naruto menjepit hidung mancung Neji, sedangkan majikan itu bagai bayi yang butuh kehangatan ia merapatkan tubuhnya dan memeluk tubuh lelaki itu erat.
"Apa sekarang kita pacaran, Naruto?" Naruto melihat laki-laki itu, kemudian ia tersenyum.
"Dengar Neji-sama, aku bukan gay." Mendengar itu muncul kemarahan dalam diri Neji, ia bangkit dengan tergesa-gesa namun Naruto tidak membiarkannya, ia menarik kembali tubuh polos Neji dan memeluknya erat.
"Tapi aku tidak keberatan kok pacaran dengan majikanku sendiri he…he…" Neji kembali mengerucutkan bibirnya dan memukul pelan tubuh orang yang diam-diam ia cintainya ini.
So, mungkin hari-hari berat akan mereka jalani. Tapi pasti ia tidak akan gentar sedikit pun.
Tamat.
Kise cin : oke Narusasori… untung ada yang minta di atas dengan ide, soalnya aku malas banget mikir ide wkwkwk.
Kuchiki Hatsuki : Narushika! Oke beb, idenya singkat banget ya, ku usahakan ya.
AsSRape69
Guestnya guest : thanks
Kuraublackpearl : oke tunggu aja
Hatsuki Anita Anti mainstream : oke, tapi ane simpan dulu, soalnya sudah ada yang minta narusasu.
Yuu : aduh, bisa kasih ide lain gx, soalnya aku paling gx bisa bikin cerita sedih, lagian ni fic Cuma senang-senang ja.
DieNsL : oke, tapi ane simpan dulu, soalnya sudah ada yang minta narusasu.
Uchiha Jidat : hahaha typo emang kelemahan saya, tapi terimakasih nasehatnya, bantu saya lagi ya ^^ soal kulitnya Naruto saya emang lebih suka mengambarnya kulit hitam wkwkwk. Narusasu, oke, tapi ane simpan dulu, soalnya sudah ada yang minta narusasu.
Ahn Ryuuki : oke sayang, tunggu aja tanggal mainnya.
Himeka chuu, guest : NarutoMinato oke, tunggu aja ya.
Applefoxes : saya gx yakin bisa bikin dengan tema begini, tapi akan saya usahakan.
ShinKurai : ente bangkit dong! Ane tunggu NARUGAA darimu ya.
Narusasu : Naruneji pesananmu silahkan dilahap wkwkwk. Maaf kalo kurang mesum
