N/A :: ebuset /banyak/ yang penasaran yak 8')
saya terharuuuuuu~ (?)

Yaudah langsung to the point aja! Chapter 2!
enjyoooooooooi~


Sudah 2 minggu sejak aku bersekolah di Namimori-chuu dan aku belum mendapatkan teman satupun. Setiap kali aku masuk ke kelas, bukan tatapan hangat dan ramah yang kudapat, melainkan tatapan dingin dan sinis. 'eh, liat deh ada mata belang', 'eww model rambutnya aneh sekali!' adalah kata-kata yang kudengar setiap hari di kelasku. Ya… tidak seperti di Kokuyo, aku di sini menjadi bahan olokan. Di Kokuyo, aku dicintai semua teman-temanku. Mereka tidak peduli dengan warna mataku dan bentuk rambutku yang dapat dikatakan unik ini. Bagaimana pun juga, aku ingin kembali ke Kokuyo. Tetapi, aku tidak menemukan orang spesial itu di Kokuyo. Walaupun kedua sahabat karibku, Ken dan Chikusa, aku perlakukan dengan baik , aku tidak merasa kalau salah satu dari mereka adalah orang spesial yang kucari.

"Wah! ada nanas lewat~"

Itu adalah salah satu dari sekian ratus perkataan yang dilontarkan murid-murid sekelasku. Sebenarnya, aku bisa saja menghajar mereka. Tetapi itu melanggar perjanjianku sebagai malaikat yang terbuang. Aku tidak boleh melukai mereka. Sangat menyedihkan? Ya. Demi kepulanganku ke surga aku rela menerima perkataan-perkataan mereka.

x*x*x*x

Hari selasa. Hari yang membosankan. Tidak, setiap hari itu membosankan. Bel pertanda istirahat telah berbunyi. Tidak seperti biasanya, diam di kelas dan melihat-lihat atau membaca buku, aku pergi ke atap sekolah. Sepertinya di situ sangat tenang dan tak ada siapapun di sana. Aku membuka pintu yang mengarah ke atap sekolah. Aku berjalan maju ke depan sampai aku dapat menggapai pagar pembatas. Aku melihat ke depan dan aku dapat melihat seluruh Namimori dari sini. Aku lalu melihat-lihat sekelilingku kalau ada orang lain di atap atau tidak.

"oya oya~ sepertinya aman-aman saja. Oke, deh!"

Aku melepaskan jaketku dan mengeluarkan sayapku. Capek juga kan kalau membungkam sayap di bawah seragam? Aku melakukan ini agar otot-otot sayapku nanti tidak sakit pada malam hari.

An injured angel who had lost his way was roaming on the streets in the sunset,~

Aku medesah lega, "Lega banget!". Kalau aku jelaskan, ini rasanya seperti meluruskan kaki saat kaki hampir kesemutan.

Sayap-sayapku yang berwarna putih mutiara ini berkilauan memantulkan cahaya, kehangatan sinar matahari membuatku ingin merentangkan saypku selebar-lebarnya. Sungguh, ini adalah suatu perasaan yang indah. Aku membiarkan sinar matahari menyentuh mukaku dan lalu aku menutup mataku dan tiduran di lantai atap sekolah.

"Hn, siapa di sana?"

Ah! Ada seseorang di sini! Aku segera menengok ke atap yang lebih tinggi dan aku melihat Hibari Kyouya, terduduk dan memperhatikan sayap-sayapku.

"A-ah Hibari! Ini bukan seperti apa yang kau lihat! Err—"

"Kau. Kau bukan manusia."

JLEB! Tepat pada sasaran! Aku merasa seperti ada panah yang menusuk diriku. Aku pun tertunduk. Penyamaranku sebagai manusia telah terbongkar oleh Hibari Kyouya. Sebagai prefek dari Namimori pasti dia akan menyebarkan ke semua orang apa yang dia telah lihat!

"Karena itu aku akan menggigitmu sampai mati!"

A-APA? Aku panik, tak tahu harus melakukan apa. Hibari melompat dari atap yang lebih tinggi dan mendarat tepat di depanku dan mengayunkan tonfanya. 'Ini sungguh gawat!' kataku dalam benakku.

Hibari terus mengayunkan tonfanya kepadaku dan aku harus menghindar. Sebenarnya, aku bisa saja membalas serangannya tapi itu akan melanggar janjiku.

"AKH!" sakit. Salah satu tonfanya berhasil memukul perutku.

"UGH!" dan tanganku.

"AH!" dan pipiku. Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain. Aku berjalan maju lalu menggenggam kedua tonfa Hibari. Hibari mencoba melepaskan tonfa-tonfanya dari genggaman tanganku tetapi usahanya hanya sia-sia.

"Hei. Lepaskan sekarang juga." Hibari menggoyang-goyangkan tonfanya dengan lebih agresif, namun tetap saja itu tidak bekerja untukku. Lalu aku memojokkan dia ke tembok yang terdekat. Tangan kiriku meraih kedua tangannya dan tangan kananku menyingkirkan kedua tonfa-tonfanya.

"Kufufu~ sepertinya kau sudah tahu rahasiaku," kataku sambil tersenyum menyeringai. Hibari terdiam, tetapi muka seriusnya tidak pudar sedikitpun. "Oya oya, sungguh merepotkan. Kalau begini mau ga mau aku harus membuatmu diam, kufufu~"

Aku memandangi matanya yang berwarna abu-abu kehitaman itu. Jadi seperti ini kah mata manusia bila dilihat dari dekat? Matanya memancarkan aura gelap dan tekat membunuh yang besar, tapi tetap indah untuk dilihat.

~And encountered a lonesome boy, whose eyes were stunningly beautiful.~

"Lepaskan aku. Mau apa kau, herbivore?"

Sepertinya aku menemukan cara yang tepat untuk membuat Hibari terdiam. Kufufu~

"Okeh, kau akan kulepaskan. Tapi dengan syarat, kau tidak akan bilang siapa-siapa tentang apa yang kau lihat, ya? Tolong rahasiakan dari siapapun!" Aku memohon dan memaksa Hibari dengan tatapan mata yang mencoba untuk meyakinkan Hibari.

"Hn. Terserah aku. Bukan urusanmu."

HAH? APA? APANYA YANG BUKAN URUSANKU? Ini jelas-jelas gawat, Hibari Kyouya sang pemimpin dari komunitas kedisiplinan Namimori-chuu! Dasar, apakah kau tidak mengerti? Oke, aku harus tenang. Harus tenang. Ayo tenang Mukuro Rokudo. Tenaaanngggg…

"Oya oya, sepertinya kau tidak akan mengerti mengapa," Hibari melontarkan death-glarenya untuk kesekian kalinya kepadaku. Lumayan menakutkan, sih. "akan kuceritakan mengapa aku mempunyai dua benda di belakangku ini. Kau mau dengar?" Perlahan, death-glare Hibari memudar. Bagus Mukuro. "Sekarang, aku akan melepaskanmu. Capek tau memegangi kedua tanganmu dengan satu tangan dan mendorongnya ke tembok. Tapi kamu harus janji! Jangan menggigitku sampai mati,"

"Hn," aku melepaskan Hibari dan membiarkan dia duduk di lantai. Aku duduk di depannya. Lalu aku mulai bercerita tentang masa laluku.

~The instant when their eyes met, the wretched angel immediately fell in love,~

Matanya yang abu-abu kehitaman membawa ketenangan bagiku, walaupun secara realita itu tidak mungkin. Aku terus menatap matanya yang indah itu. Terkadang Hibari melihat-lihat ke arah lain ketika aku bercerita, tetapi sepertinya dia tertarik dengan masa laluku.

"…jadi itulah bagaimana caranya aku bisa mendarat di bumi dan… yah—mempunyai kedua sayap ini,"

Hibari terdiam dan dari sorot tatap matanya, dia seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

"H-hei ini asli loh!" aku memegang sayap kiriku dan mengarahkannya pada Hibari. "coba pegang kalau kau tak percaya. Kufufu~"

Awal-awalnya dia segan memegang sayapku, tetapi kemudian ia merentangkan tangannya dan mencoba menggapai sayapku.

Momen ketika tangannya memegang sayapku, aku merasakan perasaan yang berbeda. Sangat berbeda. Entah itu hangat, senang, panik atau bahkan… cinta? Mungkin. Tetapi tidak terlalu jelas jadi aku tidak yakin kepada perasaanku yang terakhir itu. Raut muka Hibari berubah. Kaget? Mungkin.

Ketika Hibari memegangi sayapku, salah satu bulunya terjatuh. Hibari kaget dengan jatuhnya bulu itu.

"Ah, tidak apa-apa. Sudah biasa kok," aku menggengam tangan kanan Hibari, tangan kiriku mengambil bulu yang jatuh dan memberikannya kepada Hibari sambil menggenggam kedua tangannya dengan kedua tanganku. "Ini untukmu. Kenang-kenangan bertemu dengan malaikat, kufufu~ Hei, kejadian seperti ini tidak selalu terjadi pada setiap orang, tahu? Hanya orang yang beruntung yang dapat bertemu dengan malaikat dengan bentuk aslinya, lebih beruntung lagi kalau sempat berbicara dengannya, kufufu~" aku tersenyum lagi, kali ini memberikan senyuman yang ramah, tidak seperti biasanya yang menyeringai. Aku melepaskan genggaman tanganku.

Ketika aku melepaskan genggamanku, Hibari membuka tangannya dan terlihat di atas telapak tangannya terdapat sehelai sayap malaikat. Aku kembali melihat mata Hibari dan kali ini sepertinya Hibari menyadarinya.

"Apa kau lihat-lihat, herbivore?" katanya sambil melihat diriku dengan tatapan serius. Sepertinya aku merusak suasana amazement yang sedang Hibari alami.

~and, with his feelings intensifying,~

"Hibari Kyouya," kataku memulai percakapan dengan topik yang berbeda, "kau tahu tidak kalau kau adalah…"

"Hn?"

"Kau adalah teman pertamaku di Namimori-chuu, dan karena itulah…"

Ting ~ Tong ~ Teng ~ Tong

Sial. Bel berbunyi. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat. Aku mendekatkan mukaku ke muka Hibari. Dia tampak was-was dengan tingkah lakuku yang tiba-tiba ini.

~they opened the box of taboo.~

"Hibari Kyouya, aku menyukaimu,"

Aku mengecup bibir Hibari Kyouya yang lembut itu. Aku kaget dengan sensasi yang diberikan. Sensasi yang berbeda dan aku menyukainya.

Setelah berberapa detik, aku melepaskan kecupanku dan tersenyum sebentar terhadapnya.

"Kali ini kau sangat amat beruntung dapat berciuman dengan malaikat, kufufu~ Jaa ne, fuuki iinchou! Mata ashita!"

Aku berlari menuruni tangga dan lalu aku tersadar dengan apa yang barusan aku lakukan. Dasar bodoh.


….idih =))
moso begini sih =..=
tapi kata lagunya begitu orzz; ngikut aja deh =AAAA=;;

Balesin reviews anon—KALIAN PUNYA ACC FFN KNAPA MASIH PAKE ANON HAH =)) yasudlah -..-

Kyou: iya kyou sabar yah ini author BARU KELAR ujian =)) sabar sabar wwww

Aiko: iya itu pendek sengajaa ||D *dzigh* kan itu diceritain kenapa dia pindah ke nami— eh blom ya? Eh udah blom sih -..- *bah*

ViraYuuki lagi males login: DATENG" MANGGIL" CHROME =)) *glundung* GYAHAHA epic tuh kalo kaya gitu— si Black134 [user ffn] lagi bikin fanart ini fic HAHAHA tadinya tak suruh Hibari pake dress kaya Miku punya gitu tapi- =w=;; /author & black takut dikamikorosu orz/

AUTHOR MAU CURHAT! D8
author habis ujian loh. Habis ujian. Author ujian. /lah trus kenapa?/
ini ngetiknya nyolong" waktu luang di rumah nih orz; padahal kan ga boleh buka lappie ;; /JDERRRR

Trus author juga galau nih mau lanjutin ini fic apa nggak soalnya udah ada yang ngambil tema yang sama jadi males ntar ada dobel-_- lanjutin ga, minna?

mau review ga review ya terserah anda~
kasih flame & tak bom kamu pake sistema CAI oke? c: