Rate: M

Genre: Friendship, Romance maybe

Pairing: Boy x Boy (Kaname x Zero)

Warning: Lemon, Ngaje, OOC.

Don't like, don't read.

Chap 2

BRAAAKKKKK!

Suara pintu yang dibuka dengan keras dari arah rumah mengalihkan pandangan ketiga orang itu pada sosok yang berdiri didepan pintu dengan wajah menyeramkan plus tongkat ditangannya.

"Lepaskan Zero Vampire BRENGSEK!" bentak anak itu sambil menodongkan tongkatnya pada Kaname.

"..." Kaname sebenarnya kaget melihat dua anak yang sama persis. Apa lagi warna rambut dan mata mereka sama. Tapi Kaname tetap diam guna mempertahankan image coolnya.

"Tunggu Ichiru. Dia-" belum selesai Zero berkata tiba-tiba anak yang ternyata bernama Ichiru melayangkan tongkatnya kearah Kaname. Refleks Zero melindungi Kaname dan tongkat itu mengenai bahu kanannya yang terluka.

"UKH!.." Zero terjatuh dan bahunya kembali mengeluarkan darah. Sejenak Kaname lengah dan Ichiru kembali menyerang Kaname tapi ditangkis oleh Ichijou dengan pedangnya.

"Kaname-sama anda tidak apa-apa kan?" tanya Ichijou.

"Tidak. Tapi Zero."

"Aku baik-baik saja. Sebaiknya Kaname pergi saja. Aku akan baik-baik saja dengan Ichiru." kata Zero lalu berjalan kearah Ichiru dan menariknya masuk kedalam rumah.

Ichiru berjalan mengikuti Zero sambil menatap Kaname dengan tatapan tajam dan membenci.

-XXXXX-

"Sepertinya anak itu membenciku." ucap Kaname saat mereka sedang berjalan ditengah hutan.

"Hahahahaha. Itu karena Kaname-sama sudah menggangu saudara tercintanya." ucap Ichijou sambil menahan tawa.

"Apaan sich kau Ichijou. Aku seperti mengambil kekasih orang saja." ucap Kaname lalu memukul pundak Ichijou.

"Aduh!, jangan bicara seolah-olah kau baru saja ditinggalkan Kaname-sama."

DUARRRRR!

Kaname dan Ichijou dikagetkan oleh suara dari kediaman Kuran yang berada 100m didepan mereka. Secepat kilat Kaname dan Ichijou lalu berlari menuju kediaman Kuran. Tampak kobaran api yang mengamuk membakar habis castil berserta isisnya.

"Jangan kesana Kaname-sama." ucap Ichijou sambil memeluk Kaname dari belakang. Menahan agar Kaname tidak masuk kedalam kobaran api itu.

"ICHIJOU LEPASKAN..AYAH DAN IBUKU MASIH DISANA!" teriak Kaname sejadi-jadinya dan masih memberontak.

"Sudahlah Kaname-sama. Rumah itu sudah terbakar!. Ayah dan ibu anda takkan selamat dengan kebakaran seperti itu"

"Tapi...tapi..." Kaname berlutut dan menagis sejadi-jadinya.

Ichijou yang melihat keadaan itu tak bisa melakukan apa-apa pada sahabatnya itu. Kaname yang sangat terpuruk, kehilangan orang tua yang dicintai. Benar-benar sangat menyedihkan. Akhirnya Ichijou memutuskan agar Kaname tinggal bersama Ichijou dikediaman Takuma selama beberapa bulan. Karena sang kakek dari anggota senat memutuskan untuk membawa Kaname kesuatu tempat dalam perlindungan senat.

Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian kebakaran yang menewaskan kedua suami istri Kuran. Kaname masih mengurung diri dikamar dan tidak mau makan sama sekali. hal itu membuat Ichijou cemas dan memutuskan untuk meminta bantuan pada teman-temannya.

"Apa benar Kaname-sama tidak mau keluar kamar?" tanya Ruka.

"Iya. Dia bahkan sudah dua minggu ini tidak makan." kata Ichijou.

"Yang benar saja. Biarpun Kaname-sama adalah keturunan darah murni, tapi beliau bisa sakit kalau begini terus." ucap Aido serius.

Akhirnya Aido memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Kaname dan akhirnya usahanyapun berhasil. Kaname sedang bersandar disandaran tempat tidur dengan tatapan kosong.

"Kaname-sama kau kenapa?"

"..."

"Ayolah Kaname sama. Nanti kau bisa sakit kalau mengurung diri disini terus." ucap Aido.

"Pegilah."

"Tapi Ka-"

"Aku bilang pergi!"

Mereka pun pergi meninggalkan Kaname yang masih bersandar sambil menitikan air mata. Ichijoupun memutuskan untuk meminta bantuan pada Zero agar membuat Kaname kembali seperti semula.

"Teman-teman. Bagaimana kalau kita meminta bantuan pada Zero" ucap Ichijou.

"Siapa itu Zero?, Cewek ya?" tanya Ruka.

"Mana ada cewek namanya Zero oon!" jawab Aido langsung digampar ma Ruka.

"Aku itu bertanya. Memang salah kalau aku bertanya dia cewek atau cowok?" kata Ruka masih bergulat dengan Aido.

"Sudah-sudah. Pokoknya kita harus mencari anak itu. Kalau tidak salah dia tinggal didaerah pinggiran kota didekat kediaman Kuran." kata Ichijou melerai Ruka dan Aido.

"Bagaimana ciri-ciri anak itu?" tanya Rima.

"Dia memiliki kulit putih, berambut perak serta bermata violet." terang Ichijou langsung disambut anggukan oleh semuanya.

Merekapun akhirnya berangkat menggunakan mobil menuju kota didekat kediaman Kuran pada sore harinya. Karena jarak yang agak lumayan jauh mereka baru tiba disana saat hari sudah malam. Kota yang pada malam hari akan tampak sepi. Karna aktivitas semenjak pagi hari akan berhenti pada saat malam akan menjelang. Mereka tidak bisa membawa mobil karena jalan yang ada dikota itu tidak bisa dilewati oleh mobil. Jadi mereka harus berjalan kaki menuju rumah Zero.

Akhirnya mereka sampai disebuah rumah yang dua minggu lalu didatangi oleh Kaname dan Ichijou. Kebetulan didepan rumah sedang berdiri anak yang mereka cari-cari. Merasa ciri-ciri yang dimiliki oleh anak itu sama dengan yang diterangkan oleh Ichijou. Aido dengan seenak jidat langsung saja menarik anak itu menuju teman-temannya. Merasa kesal karna ditarik seenaknya anak itu langsung memukul Aido dengan tongkat yang ada dibalik mantelnya.

"Adaw!, koq dipukul sich!" teriak Aido lalu melepaskan tangannya dari anak itu.

"Siapa kau?, enak saja menari-narik orang." bentak si anak yang ternyata adalah Ichiru.

"Tunggu jangan-jangan kau anak liar yang waktu itu ya?. mana Zero, aku ada urusan dengannya" ucap Ichijou to the poin. (tumben Ichijou OOC.)

"Ichijou, apa maksudnya ini" tanya Rima dan Shiki berbarengan. Belum sempat Ichijou menjawab keluarlah Zero yang mereka cari.

"Kamu.." tunjuk Zero pada Ichijou.

Semua yang melihat kalau anak yang dikatakan Ichijou ada dua orang hanya bisa kaget. Secara mereka baru pertama kali melihat orang dengan kesamaan yang sangat identik seperti ini.

"Zero. Aku mohon ikutlah denganku. Kaname, dia.." pinta Ichirou pada Zero.

"Ada apa dengan Kaname?" tanya Zero memotong perkaan Ichijou.

"Pokoknya ikut saja dulu. Nanti aku jelaskan" jawab Ichijou langsung menyeret Zero bersamanya. Aido dkk yang masih kangetpun segera mengikuti Ichijou menuju kediaman Takuma dan membiarkan Ichiru yang memanggil-manggil Zero agar tidak pergi bersama para vampire bangsawan itu.

-XXXXX-

Dengan perasaan yang tak karuan, akhirnya Zeropun memasuki kamar Kaname. Disana Kaname masih bersandar dengan tatapan kosong seperti saat terakhir Ichijou masuk kekamar.

"Kaname." ucap Zero sambil mendekati ranjang Kaname.

Kaname hanya diam. Tatapan matanya kali ini benar-benar kosong.

"KA-NA-ME" Zero mencoba memanggil Kaname secara perlahan. Tapi lagi-lagi Kaname tak merespon.

"Kaname-sama." Ruka mulai menangis dipelukan Kain. Tak sanggup melihat sang "Darah Murni" menjadi seperti itu.

"Hei Kaname, apa kau masih mengingatku?, apa kau sudah meluupakanku?" tanya Zero sambil membingkai wajah Kaname.

"..."

"Ayolah!, kau tidak boleh terpuruk seperti ini. Kau harus kuat Kaname." ucap Zero lagi.

Kali ini Kaname menggerakkan tangannya berusaha menggapai tangan Zero yang membingkainya.

"Ze-Zero sedang apa kau disini?" tanya Kaname dengan suara yang serak.

"Kami yang membawanya Kaname-sama. Kami takut kesedihanmu berlarut-larut membuat kau jatuh sakit" ucap Ichijou pada Kaname.

Kaname pun langsung memeluk Zero dan menangis sejadi-jadinya (lebay ah!). Zero pun memeluk balik Kaname, membiarkan sang "Darah Murni" melepaskan semua beban yang menganjal dihatinya.

"Managislah sepuasnya Kaname. Aku ada disini untukmu." ucap Zero sambil mengelus rambut Kaname yang sangat halus.

'Wangi darah ini. Benar-benar manis.' batin Kaname tanpa sadar tertidur dipelukan Zero.

Zero pun lalu menidurkan Kaname dibantu oleh Ichijou dan Shiki. Lalu mereka semua pun pergi menuju ruang tamu.

"Terima kasih Zero. Berkat kau Kaname-sama akhirnya kembali seperti semula." ucap Ichijou.

"Tapi ada yang tidak beres dengan kota tadi." ucap Rima.

"Apa maksudmu Rima" tanya Kain.

"Samar-samar aku mencium bau darah Vampire Level E dengan jumlah yang lumayan banyak." ucap Rima dengan wajah serius.

"Apa!. Aku harus pulang ketempat Ichiru dan ibu." ucap Zero langsung berlari kearah pintu.

Didepan pintuk tampak seorang wanita berambur pirang pendek memanggul seorang anak yang mirip dengan Zero.

"Ichiru!" Zero langsung menghampiri Ichiru yang ternyata hanya pingsan.

"Kota itu sudah diserang vampire Level E. Aku berhasil menolongnya yang hampir dikepung oleh vampire-vampire itu." ucap Seiren.

"Lalu bagaimana dengan ibuku?" tanya Zero.

"Maaf. Hanya dia yang tersisa dari serangan itu. Aku tidak bisa menemukan ibumu."

"IBU.. IBUUUUUU!" teriak Zero sambil memeluk sang adik. Dari balik tembok tampak Kaname sedang memperhatikan Zero dengan mata pilu.

-XXXXX-

Malam harinya Zero sedang berada ditaman belakang kadiaman Takuma ditemani oleh Ichiru yang sudah sadar dari pingsannya.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Ichiru mamandang sang kakak.

"Aku tak tau. Hanya kau yang aku punya yang masih tersisa didunia ini." ucap Zero lirih.

"Jadi kau tidak mengganggapku sebagai apapun Zero?" ucap Kaname yang tiba-tiba muncul.

"Ka-Kaname. Bu-Bukan begitu maksudku." ucap Zero terbata-bata.

SRAAAKKK!

"Kalau terlalu lama disini kalian akan sakit." ucap Kaname menyampirkan selimut menutupi tubuh Zero dan Ichiru lalu meninggalkan mereka.

"Dia ternyata vampire yang baik ya kak." ucap Ichiru sambil memandang punggung Kaname yang terus menghilang.

"Iya. Bahkan dia lebih dari itu." ucap Zero dengan seyum diwajahnya.

Ichiru yang melihat sang kakak tersenyum merasa cemburu. Selama ini sang kakak tidak pernah memperlihatkan senyum seperti itu selain padanya dan sang ibu. Ichiru iri pada Kaname yang mendapatkan senyum milik kakanya itu.

-TBC-

Yey! Bagaimana ficnya? Saya gak merubah sifat si Ichiru yang masih sangat membenci para vampir apalagi si Kaname. hehehehehehe. Yah! hanya itu yang bisa saya katakan. Otak saya masih belum bisa memproses untuk bagian chaper 3nya. jadi harap bersabar ya.

plise review