Hm, bales review dulu dech.
Shearra26 : Lamken juga…^^. Aw, thank's ya, fic gaje zura dibilang keren. *melambung ke langit 7. –lebay dech-. Eh, iya, kata itu emg janggal wktu zura bc agi. = ='. Nti zura perbaiki ya. Thank's uga wat concritx… ;-)
Lillya Hozikawa : Arigatou Lil wat pujianx. Zura uga masih hrus bnyak belajar. ^^
Ttixz lone cone bebe : um, siapa ya? *ko balik nanya. Masih rahasia, nti uga ketauan. *ditabok
Rosanaru : Sankyuu na, Rosa-chan. Um, liat az nanti yah. xD
Bocah elek : thank u… ^^
Yosh! Ini apdetannya. Hm, sekedar pemberitahuan kalau chap ini sebagian terinspirasi dari anime Intial-D. So, jangan kaget ya kalau adegannya ada yang sama.
Hope u enjoy it!
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning:
OOC maybe, typo(s), shoot gun, sho-ai, dll.
Ah yeah, don't like don't read!
Salju putih telah ternoda.
Lelaki itu terdorong ke belakang dalam gerakan lamban setelah tiga timah panas melesat dan bersarang di beberapa bagian tubuhnya. Lalu secara perlahan pula, tumbang dan akhirnya terbaring, terkapar di atas hamparan semak-semak crocus yang diselimuti lapisan putih dingin tipis di tengah jalan.
Cairan merah pekat itu masih setia mengalir keluar dari luka di kepalanya dan kedua dada bidangnya. Merembes dan membasahi seragam polisi yang tengah dikenakannya. Sebagian tersasar keluar hendak mengganti foreground warna putih tempat raganya tergeletak.
Masih terpeta jelas di ingatannya. Kedua safir samudra lelaki itu menatapnya dengan pandangan lembut nan meneduhkan. Kedua katup bibir berpoleskan gincu darah yang bergerak tanpa suara seakan membisikkan sesuatu kepadanya. Pemuda itu bisa mendefinisikannya; mengartikan segala yang ia siratkan. Tetapi, terlambat. Semuanya terlambat. Tak ada kata sesal. Tak ada kata maaf. Satu-satunya orang paling berharga di hidupnya menghembuskan napas terakhirnya di tangannya sendiri.
Sound of Phoenix
Part 2 : Difference of Path
—
Jalan sempit di sebuah lereng pegunungan tampak lengang malam ini. Cahaya dari sang penguasa malam mencoba merayapi kawasan yang terselubung pohon-pohon plum di kanan kirinya tersebut. Suara-suara deru mesin kini mulai terdengar di kejauhan, memecah keheningan di area yang sering digunakan sebagai jalur lintas perhubungan darat itu.
"Cih," decih pemuda berambut coklat jabrik dan bertato segitiga merah di masing-masing pipinya itu. Sepasang mata liarnya melirik kaca spion mobilnya yang merefleksikan siluet Lambhorgini hitam yang tengah mengekorinya dengan ekspresi kesal. "Jadi, itu rencanamu. Memilih bagian belakang untuk mengawasi pergerakanku. Ck, kau pikir aku akan terjebak dengan taktikmu."
Tangan kirinya secara gesit memindahkan tuas transmisi ke arah depan disertai injakan pedal gas sampai ke batas maksimum. Pemuda penyandang nama Inuzuka Kiba tersebut mengeluarkan dengus angkuh, "Hhh, aku pasti menang." Dan mobil sport bermerk Bugatti Veyron itu pun melesat lebih cepat membelah angin jalanan.
Sementara Lambhorgini hitam yang berada di belakangnya itu masih menstabilkan kecepatannya. Tak hirau akan mobil perak metalik di depannya yang telah menambah frekuensi akselerasinya; mencoba memperlebar jarak dan memenangkan pertandingan tentunya.
Pemuda berambut emo dan bermata obsidian ─si pengemudi Lambhorgini─ mengangkat siku kanannya dan menopangkannya di kaca mobil yang memang sengaja ia buka. Lekas menyangga sisi wajahnya; seakan bersikap santai, walaupun sepasang oniksnya tak lepas dari lawan tandingnya yang telah mengambil jarak beberapa meter darinya. Beberapa helai surai hitamnya tampak berayun-ayun dimainkan sang bayu menambah kesan maskulin dan tampan di paras tanpa ekspresinya.
"Hn, ceroboh," desisnya. Ia pun lekas menekan pedal gas, mengejar mobil sport perak metalik yang telah meninggalkannya jauh di belakang. Dan hanya dalam hitungan detik, mobil itu tepat menyusul mobil di depannya dan mulai mempersempit jarak.
Pengemudi Bugatti Veyron itu mengerling lagi kaca spion mobilnya dan membelalak terkejut; menyadari bahwa jarak mereka kini tak lebih dari 3 meter. "Shit," serapahnya. "How did he do it? Lambhorgini itu tak mungkin menyamai speed W16 engine Bugatti milikku. That makes no sense."
Pemuda itu menaikkan kecepatannya lagi; memforsir kinerja mesin untuk menambah laju mobilnya. Mata berpupil kecilnya berkali-kali melirik gelisah mobil sport hitam keluaran Volkswagen Grup yang tak sedikitpun memisahkan diri darinya. Seperti parasit yang menempel dan mengikuti setiap alur pergerakan Bugatti Veyron-nya.
Ia sudah kehabisan akal. Akselerasi sudah menunjukkan batas tertinggi; hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Namun, mobil sport yang berada di belakangnya itu bisa dan terus saja mengadaptasikan kecepatannya. Kondisi ini membuatnya tertekan. Keringat mengalir berlelehan. Sedangkan intuisinya terus membisikkan kata berulang-ulang, 'Kau harus menang. Kau harus menang.'
Konsentrasi menyetirnya buyar. Ia kehilangan focus pada jalan yang sedang dilaluinya. Dan tak ayal sebuah human error pun terjadi…
Sekitar tujuh meter dari hadapannya, jalan menikung tajam ke kiri.
"Crap." Kedua bola mata berpupil kecil itu melebar.
Ia pun segera menekan laju mobilnya dengan menginjak rem, memindahkan tuas persneling ke posisi (L) —untuk menahan laju kendaraan dan membantu fungsi rem— dan lekas memutar setir cepat berlawanan dengan arah jarum jam. Ia harus melakukannya dengan cekatan dan memperhitungkan ketepatan timing. Kalau tidak, badan depan mobil akan menabrak pembatas jalan dan memungkinkan mobil beserta dirinya terjun bebas ke jurang.
Bunyi decitan ban yang bergesekkan dengan jalan bergema nyaring di udara, dan lalu suara tumbukkan keras memekakkan telinga menyusul setelahnya.
Beberapa detik berlalu dengan amat menegangkan. Desah napasnya mulai tersengal —dampak penahanan refleks—. Wajahnya memucat. Peluh makin liar berjatuhan dari permukaan kulitnya.
Ia berhasil. Bugatti Veyron-nya berhenti dan ─mungkin─ bumper samping kanannya meminta untuk direparasi. But, that's not a big problem. Setidaknya nyawanya masih melekat erat di raganya dan anggota tubuhnya tak berkurang satupun jua.
Ia menghembuskan napas lega. Ia bersyukur, Kami-sama masih memberikan kesempatan hidup untuknya dan— kesempatan untuk menyaksikan adegan live action yang sanggup mencengangkan mata.
Pupil hitam itu kembali membeliak lebar. Napasnya kembali tertahan. Nalarnya berkonfrontasi dengan logika.
Bagaimana tidak?
Lambhorgini hitam itu konstan menstabilkan akselerasinya di tikungan tajam yang sama dan dengan lihainya —seakan sang pengemudi dan mobil adalah satu badan— berhasil melalui tikungan yang mustahil bisa dilewati dengan speed seperti itu, tanpa menyentuh sedikitpun badan mobil sport yang kini telah berhenti dengan tidak elitnya.
Jakun pemuda berambut coklat itu terlihat bergerak naik turun. Matanya masih terpaku pada obyek berwarna hitam yang kini menyalip dirinya dan mulai melesat menjauhinya.
"Apa aku telah melihat… 'setan'?" gumamnya lirih. Ekspresi tak percaya bertengger manis di wajah karamelnya.
.
.
.
Sorak sorai menyambut kedatangan Lambhorgini hitam tersebut. Bunyi decit pelan dan mesin yang dimatikan; pertanda mobil itu telah terhenti. Sesosok pemuda berambut raven dan bermata selaras malam keluar dari pintu kemudi. Beberapa orang tampak berbondong-bondong mengerubunginya dan like usual diiringi dengan koor histeris yang keluar dari bibir para kaum hawa berdengung menyapa gendang telinganya.
"Kyaaa… Sasuke-kun wa kakkoii da na~."
"Sasuke-kun, kapan-kapan ajak aku naik mobilmu, ya?"
"Sasuke-kun… emang keren~…"
"Sasuke-kun… jadi pacarku?"
"Enak aja, Sasuke-kun itu milikku, pig."
"Siapa bilang, forehead?"
"Apa? Kau berani mengataiku, pig."
"Kau yang mulai."
"Hhh…"
Dan jerit-jerit itu berakhir dengan adu mata dan berujung perkelahian khas perempuan. Pemuda yang sedari tadi menjadi obyek rebutan, masih loyal dengan tampang stoic-nya; hal biasa. Ia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan lekas menyenderkan tubuhnya di kap mobil. Tak acuh jika salah satu di antara mereka ada yang sampai berbuat nekad. Toh, itu bukan salahnya.
Sasuke menolehkan kepala dalam gerakan pelan, dikala sebentuk suara menyapanya, "Hei, Uchiha. Kiba mana?" Pemuda berkacamata hitam dan terbungkus jaket hitam pula berjalan mendekatinya.
Suara deru mesin di kejauhan dan kian mendekat, menjawab pertanyaan sang pemuda dan menghentikan perkelahian konyol dua gadis tersebut.
Bugatti Veyron dengan bumper rusak itupun berhenti tepat di samping kanan Lambhorgini hitam yang telah menyandang title sebagai sang pemenang. Pintu depannya membuka, menampilkan sosok pemuda berambut coklat berantakan dan mempunyai ciri khas tato segitiga merah di masing-masing pipinya.
Pemuda yang memiliki panggilan Kiba itupun melangkahkan kakinya mendekati sang lawan tanding.
"Kau memang hebat, Uchiha-san. Aku— mengaku kalah. No wonder, jika gelar King of Drift itu jatuh padamu." Kiba mengulurkan tangannya. "—dan mengenai reward-nya, kau tak usah khawatir. Akan segera ku transfer ke rekeningmu."
Sasuke menjatuhkan pandangannya pada telapak tan tersebut tanpa bermaksud untuk membalas.
"Hn," sahutnya lalu. "Kau tak perlu repot-repot. Aku hanya butuh tantangan. Dan kau—" Sasuke menghentikan ucapannya. "—bukan orang yang ku cari."
Setelah mengungkapkan frase tersebut, Sasuke beranjak dari posisinya dan segera meninggalkan area tersebut beserta Lambhorgini hitamnya tanpa mengindahkan efek dari lidah tajamnya barusan.
Kiba menurunkan tangannya yang tak tersambut. Sepasang matanya masih memandangi mobil sport hitam yang melaju kencang dan akhirnya lenyap di balik tikungan.
Kedua matanya memicing, tak suka. Buku-buku jarinya terkepal, mengencang.
"Che, Uchiha sombong. Tunggu pembalasanku."
.
.
.
Lambhorgini hitam itu tampak memasuki pelataran di sebuah mansion yang terkategori mewah. Sang pengemudi mematikan mesin mobil dan bergerak keluar. Segera saja ia tapakkan kaki jenjangnya untuk membuka pintu dan memasuki ruangan.
Beberapa langkah maju, mata obsidiannya menangkap sesosok pria yang terlihat duduk di sofa beludru merah panjang. Ia terpaku sejenak. Sepasang iris kelamnya memicing, menatap sosok pria berambut hitam panjang tersebut.
Tanpa menunggu lama pemuda berambut hitam itu menyusuri ruang tamu dan mulai meniti anak tangga satu persatu tanpa memedulikan sesosok pria berumur lebih tua empat tahun darinya tersebut yang sepertinya tak menyadari kehadirannya karena tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang ia tumpuk di atas meja.
Namun persepsinya salah. Belum sampai telapak kaki berbalut sneakers tersebut menyentuh anak tangga ke-lima, sebentuk suara baritone yang amat dirindukannya menghentikan laju langkahnya.
"Kau dari mana saja, otouto?" tanya pria itu lembut tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang sedang dipegangnya.
Sang pemuda terdiam sekilas. Ia ingin menyambut untaian nada lembut tersebut dengan sebentuk senyum —yang bahkan ia lupa bagaimana cara menampilkannya—. Namun mulut dingin yang tak mau sinkron dengan hatinya membalas, "Huh, sejak kapan kau peduli urusanku?" —dengan nada ketus yang terdengar kentara di setiap kata-katanya.
Pria itu mendongakkan kepala hanya untuk memandang pemuda yang tetap bergeming di posisinya tanpa menolehkan kepala dan mempertemukan kedua oniks kelam identiknya, "Kau adikku. Tentu saja aku peduli—" balasnya ramah namun tersela.
"Che…, bullshit," desisnya sinis. "Urusi saja kepentinganmu. Aku bukan anak kecil lagi yang harus memberikan laporan padamu ke manapun aku pergi— Tuan Polisi." Lagi-lagi guratan kontra yang diluncurkannya.
Pemuda itu melanjutkan langkahnya dengan tergesa setelah mengatakan kalimat penuh tekanan emosi tersebut.
"Sasuke—" Sang pria tersentak mendengar penuturan sang adik. Namun suara debam pintu yang keras menyahut panggilannya.
Sepasang obsidian itu lalu meredup, sendu. Sasuke, adik kecilnya yang dahulu begitu manja dan selalu menempel padanya, sekarang tumbuh menjadi sesosok pemuda dingin dan angkuh. Ia tahu, salah satu factor yang berperan penting dalam pembentukan pribadi adiknya adalah dirinya sendiri setelah kepergian kedua orangtuanya. Dan ia sadari itu. Ia tak pernah ada untuk adiknya. Tak pernah ada di sisinya. Mendekapnya dan mendengar keluh kesahnya. Hanya materi dan selalu materi yang bisa ia limpahkan tanpa diimbangi kasih sayang dan atensi yang cukup.
Ini memang salahnya. Salahnya. Semua salahnya.
"Sasuke, maafkan aniki," lirihnya.
.
.
.
Musim semi datang lebih cepat. Hari-hari dingin dan tak bersahabat segera berakhir. Bunga-bunga aneka warna seakan tengah berlomba-loma menunjukkan kecantikannya. Pucuk-pucuk daun pun turut menyembul satu demi satu di ranting-ranting pohon, meninggalkan bayang-bayang sepi dan beku di musim dingin.
Sesosok pemuda berambut raven terlihat duduk bersandar di salah satu cabang pohon sakura yang mulai memekarkan mahkotanya. Sepasang oniksnya menatap sekumpulan substansi putih bersih hasil dari kondensasi H2O yang berarak perlahan di hamparan biru angkasa. Semilir angin sisa-sisa musim dingin bertiup sepoi-sepoi. Mengibarkan beberapa helai surai kelamnya.
Namun semua fenoma itu tak sanggup mengenyahkan segala eksistensi yang membebani hatinya dan mengusik fungsi sel-sel kelabu syarafnya. Pikirannya menerawang jauh. Terngiang kembali tentang event yang terjadi antara dia dan sosok itu.
Ya, sosok itu.
Sosok yang jarang bahkan tak pernah lagi menampilkan keberadaannya di tempat yang mereka sebut dengan 'rumah', setelah insiden kepergian kedua orangtuanya beberapa tahun yang lalu. Sosok yang terikat darah dan berlabel 'saudara kandung' dengannya. Sosok yang selalu ia nantikan senyum hangat dan sapa ramahnya. Sosok yang ia kagumi figure-nya sebagai anak tertua di keluarga yang ia rasakan sudah tak sempurna lagi.
Segalanya berubah semenjak hari itu. Tak ada kata sapa. Tak ada lagi canda tawa. Tak ada bincang-bincang walau sekedar bertanya, "Bagaimana kabarmu hari ini?"
Dia dan pria yang dahulu sering ia panggil "aniki" itu seakan berada di dimensi berbeda dan menempuh jalur yang berbeda pula, meskipun bertempat pada satu atap yang sama. Puing-puing kesedihan itu kian membentang luas dan menciptakan jurang pemisah antara ia dan satu-satunya orang yang masih dimilikinya.
Semuanya berbeda. Sangat berbeda dan terasa menyesakkan baginya.
Apalagi jika ia mengingat kembali pada apa yang telah dilakukannya; menusuk hati kakaknya dengan jarum-jarum dinginnya.
Egois.
Ia memang egois.
Tapi, apakah itu sebuah kesalahan? Jika ia menginginkan kakaknya kembali seperti dulu kala; selalu berada di sisinya dan ada untuknya. Bukan menenggelamkan diri dengan bertumpuk-tumpuk berkas memuakkan dan kasus-kasus criminal yang memusingkan.
Ia ingin berbagi rasa itu. Berbagi rasa kehilangan itu. Berbagi rasa hampa itu dengan kakaknya —yang sekarang seakan bermetamorfosa menjadi orang asing baginya—.
"Ck, childish," decihnya entah pada siapa.
Pemuda itu pun bangkit dari posisinya dan melompat turun dari pohon —tempat relaksasi keduanya setelah atap perguruan tinggi tempatnya menimba ilmu— ke permukaan tanah berumput hijau. Baru tiga tapak kaki jenjang berselimut jeans itu melangkah, sepasang indra pendengarannya menangkap suara-suara gaduh tak jauh dari tempatnya berada.
Ia memutar tubuhnya untuk mencari asal suara.
Sesosok pemuda yang sangat dikenalnya, tampak diseret-seret secara paksa oleh beberapa kawanan yang sepertinya mahasiswa perguruan tinggi ini juga —mengingat bahwa perguruan tinggi ini tertutup untuk dimasuki khalayak umum kecuali pada event-event tertentu— ke belakang gedung Kesenian yang memang jarang dikunjungi orang.
Pemuda berambut hitam itu hanya memutar bola matanya menyaksikan panorama tersebut. "Che, jangan lagi," gumamnya.
Tanpa jeda lama, pemuda itu melangkahkan kakinya memutar haluan mengikuti para mahasiswa tersebut.
"Pukul saja anak itu, Sui. Anak freak seperti dia memang pantas mendapatkannya," seru seorang pemudi berambut merah panjang dan berkacamata berbingkai hitam.
Suara tumbukkan antara buku-buku jari yang terkepal dengan kulit wajah, membahana di tempat sepi tersebut. Pelakunya tak lain tak bukan adalah seorang pemuda berambut silver sebahu dan bermata violet —dan anehnya gigi-giginya berupa taring semua layaknya seekor hiu— yang merupakan mahasiswa senior semester lima Fakultas Teknik di Mitsuhasi Daigaku ini. Sementara, kedua rekannya sibuk memegangi lengan masing-masing pemuda berambut pirang keemasan yang menjadi sasaran pemukulan.
"Ini pelajaran karena kau tidak menuruti perintahku." Kembali suara-suara pukulan menggema di udara. Tak peduli akan lebam-lebam yang tercipta di wajah tan pemuda itu akibat dari aksi bullying-nya.
"Habisi saja anak sok ini." Kedua rekannya memprovokasi.
"Biar dia sadar. Siapa yang berkuasa di sini? Hahaha…"
"Ckckck." Suara decakan itu menginterupsi aksi Suigetsu. Kepalan tangannya mengambang di udara dan kepalanya bergerak menengok untuk melihat sang interuptor. Tak berbeda pula dengan ketiga kawannya yang kini sama tersita perhatiannya. "Dapat mainan baru— eh, senpai? Boleh bergabung?" ujar pemuda berambut hitam dan bertampang stoic yang terlihat bersandar di dinding beton sambil melipat kedua tangannya. Mata hitamnya menyorot tajam.
"Siapa kau?"
"Kyaaa… Sasuke-kun~," jerit a la fan-girl terlontar dari gadis berambut merah dan berkacamata tadi. Sepasang irisnya terlihat berbinar-binar menatap pemuda yang tengah bergaya cool —menurutnya—.
Sasuke hanya menanggapinya dengan pandangan dingin, "Ck, memalukan. Seharusnya kau cari lawan yang sebanding denganmu, senpai."
"Cuih, sombong." Suigetsu meludah ke samping. "Juugo, Kimimaro, beri pelajaran pada cecunguk satu ini."
Kedua orang yang disebut namanya itupun bergerak dari posisinya setelah melepaskan pemuda yang terlihat kepayahan akibat aksi mereka.
Juugo maju terlebih dahulu; memulai penyerangan. Tinju kanannya melayang hendak mengenai pipi kiri Sasuke. Namun, tangan pucat itu dengan cepat menangkisnya dan memberikan perlawanan yang sama. Satu pukulan telak menghantam hidung mancung pemuda berambut orange tersebut, membuatnya terhuyung ke belakang dengan dua aliran merah yang bertengger di pertengahan antara hidung dan bibir atasnya. Juugo mengerang kesakitan seraya memegangi hidungnya yang sepertinya menderita keretakan tulang.
Melihat rekannya yang roboh, Kimimaro merangsek maju dan tanpa aba-aba langsung melayangkan tendangan kaki kiri ke arah Sasuke. Sasuke menepis serangan itu dengan kedua lengannya. Tak berhenti sampai di situ, Kimimaro menggunakan kaki kanannya untuk menyerang. Sasuke menangkapnya dan lekas memuntirnya; menciptakan bunyi tulang yang bergeser dari sendinya disusul dengan gerakan roll per sekian detik di udara sebelum raga pemuda berambut putih panjang itu jatuh terhempas ke permukaan tanah karena efek gravitasi Bumi.
Ekspresi geram terkembang di wajah Suigetsu melihat satu persatu rekan-rekannya yang telah dikalahkan dengan mudahnya.
"Che, kau boleh juga, brat." Dicabutnya pisau lipat yang selalu diselipkannya di saku belakang celana jeans belelnya. "Bagaimana kalau kau hadapi yang ini?" —dan bunyi klek! pelan menghadirkan besi bermata tajam yang semula berdiam diri di wadahnya.
Sasuke mengambil sikap waspada.
Suigetsu beringsut mendekatinya dengan pisau terhunus dan langsung mengarahkannya ke bagian abdomen Sasuke yang merupakan misi sasarannya. Sasuke berkelit ke samping. Namun, Suigetsu terus saja melancarkan aksi mata pisaunya untuk melukai bahkan ia bermaksud menghabisi pemuda yang sudah mengintervensi kesenangannya.
Gigi-gigi berupa taring Suigetsu bergemeretak; emosi. Semua serangannya sia-sia. Tak ada yang kena dan hanya menusuk udara hampa di sekitar mereka. Sasuke meraih pergelangan tangan Suigetsu lalu menekuknya secara paksa; membuat Suigetsu berteriak nyaring kesakitan dan terlepasnya sang senjata dari genggaman. Lalu detik selanjutnya tubuh Suigetsu terpental sejauh beberapa meter, setelah tungkai Sasuke telak menghantam perutnya.
Sementara sang pemudi berpanggilan Karin yang sedari tadi hanya berperan sebagai spectator, mulai menghampiri Suigetsu yang terbaring sembari merintih kesakitan.
"Sui, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
"Che, lepas!" bentaknya seraya menepis Karin yang hendak menyentuhnya dan membantunya berdiri.
Iris violetnya menguarkan kebencian pada sosok pemuda berambut hitam yang berdiri di hadapannya dengan tanpa menampilkan ekspresi apapun.
"Kau lolos hari ini. Lain kali akan ku buat perhitungan denganmu. Camkan itu!" ujarnya disertai nada mengancam yang begitu kental. "Ayo pergi!" Suigetsu berdiri susah payah dan segera meninggalkan tempat tersebut disusul rekan-rekannya yang berjalan tertatih-tatih.
Kedua iris hitam Sasuke mengikuti rombongan Suigetsu yang bergerak menjauh. Lekas dilemparkan pandangannya pada pemuda berambut pirang yang masih bergeming di tempatnya dengan wajah penuh luka memar dan lebam-lebam yang mulai membiru. Namun, kondisi itu tak menyurutkan niatnya untuk memberikan cengiran khas kepada pemuda yang telah menyelamatkannya.
"Sepertinya kemampuan bela dirimu meningkat pesat, Teme," kata pemuda berambut pirang itu.
"Dan sepertinya aku juga harus menambah jam ekstra untuk menjadi malaikat pelindungmu, Dobe," balas Sasuke datar.
Pemuda itu hanya melempar senyum mendengar penuturan pemuda yang sudah menjadi sahabat karibnya.
"Selama kau tak keberatan melakukannya."
Sasuke mendecak, "Usuratonkachi."
Sasuke mengulurkan lengan pucatnya; membantu Naruto —nama pemuda berambut pirang itu— berdiri.
"Thank's." Naruto meraih uluran tangan tersebut dan menegakkan tubuhnya.
"Hn. Kenapa kau sampai terlibat masalah dengan para begundal itu?" tanya Sasuke.
"Bukan masalah penting," jawabnya santai sambil mengibas-ngibaskan sweater orange dan celana hitamnya yang ditempeli tanah dan helaian-helain hijau rumput.
"Ck, sampai kapan kau mempertahankan sikap defensif-mu itu, Dobe? Sesekali kau harus melawan."
"Hm… Aku senang kau khawatir padaku, Teme."
"Itu bukan jawaban."
"Lalu… aku harus jawab apa?"
Sasuke mendengus tak sabar atas jawaban innocent yang diucapkan Naruto, "Setidaknya kau harus mencoba melindungi dirimu sendiri. Bagaimana kalau tadi aku tidak ada? Bagaimana kalau aku tidak datang? Bagaimana kalau kau—"
"Aku yakin kau pasti datang," tegas Naruto.
Sasuke tertegun. Lidahnya kehilangan kemampuan untuk berbicara. Sahabatnya yang satu ini memang pintar berkelit kata.
"Che… Idiot." Setelah mengucapkan kata andalan yang khusus ditujukan untuk Naruto itu Sasuke lekas melangkahkan kakinya meninggalkan lokasi tersebut.
Naruto hanya menaikkan kedua sudut bibirnya sebelum beranjak menyusul langkah-langkah panjang Sasuke.
"Oh ya, selamat atas kemenanganmu semalam."
"Hn, bukan hal yang patut dibanggakan. Lagipula, kau tahu dari mana? Kau kan tidak datang," sahut Sasuke datar tanpa mengalihkan perhatiannya pada pemuda yang kini berjalan tepat di sampingnya.
"Aku selalu tahu, Teme," balasnya. 'Semua tentangmu, aku tahu,' tambahnya dalam hati.
Seolah mendengar bisikan naluri Naruto, Sasuke mengangkat sebelah alisnya dan menolehkan kepalanya; menanggapi frase ambigu tersebut sekaligus untuk melihat ekspresi tak tertebak Naruto yang tengah memberi seulas senyum kecil padanya.
.
.
Salju putih telah ternoda.
Lelaki itu terdorong ke belakang dalam gerakan lamban setelah tiga timah panas melesat dan bersarang di beberapa bagian tubuhnya. Lalu secara perlahan pula, tumbang dan akhirnya terbaring, terkapar di atas hamparan semak-semak crocus yang diselimuti lapisan putih dingin tipis di tengah jalan.
Cairan merah pekat itu masih setia mengalir keluar dari luka di kepalanya dan kedua dada bidangnya. Merembes dan membasahi seragam polisi yang tengah dikenakannya. Sebagian tersasar keluar hendak mengganti foreground warna putih tempat raganya tergeletak.
Masih terpeta jelas di ingatannya. Kedua safir samudra lelaki itu menatapnya dengan pandangan lembut nan meneduhkan. Kedua katup bibir berpoleskan merah darah yang bergerak tanpa suara seakan membisikkan sesuatu kepadanya. Pemuda itu bisa mendefinisikannya; mengartikan segala yang ia siratkan. Tetapi, terlambat. Semuanya terlambat. Tak ada kata sesal. Tak ada kata maaf. Satu-satunya orang paling berharga di hidupnya menghembuskan napas terakhirnya di tangannya sendiri.
Sosok itu membuka kedua belah kelopak matanya tiba-tiba dan menghenyakkan tubuhnya.
Mimpi itu lagi. Bayangan itu lagi. Rasa bersalah itu lagi.
Kenapa? Kenapa bayangan itu selalu menghantuinya, memburunya layaknya predator yang haus akan mangsa?
Kenapa tak sedikit waktu saja hidupnya lepas dari fragmen-fragmen kelabu masa lalunya? Tak membiarkannya bernapas lega di kehidupan yang dijalaninya seperti kebanyakan orang normal lainnya. Kenapa?
Berbagai pertanyaan yang tak pernah ia dapatkan jawabannya, mulai berjejalan lagi memenuhi equilibrium-nya. Benaknya terasa kalut seperti benang kusut. Tak berbeda jauh dengan kemelut yang dirasakan nalurinya kini.
Kapan? Sampai kapan mimpi buruk ini akan berakhir? Sampai kapan kenangan buruk itu menyingkir? Sampai ia menyusul orang-orang yang dicintainya kah?
Entah…
Dan satu patah kata itu saja yang mampu menorehkan jawaban atas semua tuntutan hati dan nalarnya.
Getar menjalari ranjang yang ditidurinya. Segera saja ia menggerakkan tangannya untuk menyingkap selimut dan mencari keberadaan benda yang masih bergetar tersebut.
Ia menatap layar LCD setelah benda yang dicarinya tergenggam di tangannya. Desah letih terhembus ketika sepasang safir samudranya membaca nama yang tertera di sana. Tanpa menunggu lama lagi ditekannya tombol answer sebelum kemudian menempelkannya di telinga.
"Moshi moshi," jawabnya.
"Kitsune-sama, moshiwake arimasen. Ada job yang harus anda lakukan malam ini," sambut seseorang yang meneleponnya.
"Hn."
"Target selanjutnya…"
Sosok itu mendengarkan dengan cermat apa saja yang diucapkan seseorang di seberang sana, tanpa penyelaan terhadap informasi yang didapatkannya.
"Hhh... wakatta. Kau tinggal tunggu kabarnya," sahutnya kemudian ketika seseorang di sana menghentikan penjelasan panjang lebarnya.
Bunyi klik pelan sebagai penanda terputusnya sambungan.
Sosok itu menegakkan tubuhnya dan segera bersiap diri untuk menjalankan tugasnya. Memasang wig hitam untuk meng-kamuflase-kan rambut aslinya. Kemudian memakai topeng berbentuk rubah dan topi bisbol sebagai penyempurna penyamarannya. Meraup mantel hitam panjang dan terakhir tak lupa menyisipkan FN Five-seveN kebanggaannya di balik saku mantelnya.
"Ini jalan hidup yang kupilih, tou-san," ujarnya seraya menatap intens pantulan dirinya di depan cermin yang dibalas oleh sepasang mata biru jernih yang juga tengah menatapnya.
Bayangan yang tercipta di hadapannya sedikit juga membuatnya bergetar.
Sungguh replica ayahnya. Tak ada yang menyimpang. Tak ada yang meleset. Benar-benar mirip. Kecuali ada beberapa bagian tubuhnya yang sudah terjamah oleh tangan-tangan kotor di masa lalu dan meninggalkan bekas yang tak kan pernah bisa ia hapus seumur hidupnya.
"Maaf, mengecewakanmu."
Tak ingin berlarut-larut dalam labirin masa lalu, sosok tersebut segera memantapkan hati dan meninggalkan apartemennya. Melaksanakan apa yang sudah menjadi pilihan hidupnya.
.
.
.
To be continue…
Gomen sesudahnya kalo chap ini garing abiesz, abal, gaje, mengecewakan! m(_ _)m. zura just get to be another person lately. So, mind g bs terfokus tuk mmbuat fic ni. Mo ichido gomenasai.
Kira-kira chap next n strusnya zura ushain smp batas maksimal.
Saa, mind to review?
