"Hyung! Aku mau itu!"
Si empat belas tahun Taehyung menunjuk sepatu bola berwarna biru cerah dengan mata berbinar ingin. Ia memeluk lengan Jungkook, menatap pantulan tubuhnya di kaca etalase toko. Sebal karena tingginya yang tidak jua menyaingi Jungkook. Puncak kepalanya hanya menyampai pundak Jungkook. Dirinya begitu mungil jika berdiri bersebelahan seperti ini dengan Jungkook. Ia merapatkan bibir dengan lengkungan sedih.
"Semua anak di kelasku punya sepatu sepak bola seperti itu!" Adunya. Menempelkan pipinya di lengan Jungkook yang hangat. "Jimin yang pertama punya, lalu Jisoo menyusul, kemudian Jaehwan, Hyunbin, Yongguk, kemudian semua anak lelaki di kelasku punya semua!"
Ia mengadu sedih. Lengan Jungkook terlepas dari pelukannya, berbalik menggasak rambut Taehyung begitu sayang lalu mengalungkan lengannya di pundak Taehyung. Derai tawa Jungkook begitu menyenangkan, membuat Taehyung mengamati wajah Jungkook di pantulan kaca di hadapan mereka. Takjub melihat lengkungan bibir Jungkook yang menawan serta garis senyumannya yang tampan.
"Mau berjanji satu hal jika Hyung belikan sepatunya?" Tanya Jungkook penuh pengertian. Memiringkan wajahnya dengan jari bermain di dagu Taehyung.
"Apa?! Aku berjanji akan melakukannya!" Ia berucap senang. Mengepalkan jarinya penuh janji.
"Janji akan menjadi anak baik untuk Mama dan Hyung?"
"Aku berjanji!" Taehyung menyanggupi dengan cepat. Matanya berbinar cerah. Ia mendongak menatap Jungkook, sementara Jungkook sedikit membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar.
"Janji akan belajar lebih giat dan berlatih sepak bola dengan sungguh-sungguh?"
"Heung!" Taehyung mengangguk pasti. "Aku berjanji! Aku berjanji!"
Jungkook tersenyum gemas, mengapit dagu Taehyung dengan jari, kemudian mengacak rambut Taehyung, membawanya ke pelukan sesaat lalu mengernyitkan hidung menyerah.
"Ayo bawa pulang sepatunya kalau begitu!"
Taehyung berteriak senang. Berlari masuk ke dalam toko kemudian memilih sepatu yang diinginkannya. Ia berkali-kali menunjukkan senyuman rectanglenya kala mencoba sepatu idamannya. Dalam perjalanan pulang dengan sepatu baru di genggamannya, Jungkook membelikannya es krim lalu berjalan ringan menuju rumah Taehyung.
Di senja itu, saat Taehyung mengulum gagang es krim di mulutnya, mata berbinar mengamati wajah Jungkook yang berjalan santai di sampingnya; lekukan bibirnya yang merah, rambut hitamnya yang menawan, serta sinar cinta di matanya. Taehyung begitu bersyukur Tuhan mengirimkan Jungkook untuk dirinya. Ia begitu beruntung memiliki Jungkook di sisinya. Yang selalu membelanya dari omelan ibunya, yang selalu menyembunyikan Taehyung di belakang tubuhnya kala ibunya marah, yang selalu masuk ke kamarnya kemudian menenangkannya kala terjadi badai hebat. Jungkook mengajarkan banyak hal padanya. Jungkook membelikannya bola pertama, mengajaknya main di lapangan komplek rumah Taehyung, yang tahu jelas menu favorit es krim yang dipilih Taehyung. Dan Taehyung begitu bangga kala melihat Jungkook berdiri di depan gerbang sekolahnya untuk menjemputnya. Ia akan berlari cepat. Memeluk lengan Jungkook dan senang melihat lengkungan di senyuman Jungkook.
Ia membuang gagang es krimnya ke tempat sampah, berjalan semakin mendekat pada tubuh Jungkook lalu dengan mudahnya mencengkram jari Jungkook dengan jemari lengketnya akan sisa es krim yang meleleh.
Jika ada yang bertanya, kapan Taehyung mulai jatuh cinta pada Jungkook. Taehyung akan berani menjawab, saat umurnya empat belas tahun. Dengan paper bag sepatu sepak bola baru yang dibelikan Jungkook dalam genggaman, dengan bayangan senyuman Jungkook yang membalas cengkraman jarinya dan tidak perduli dengan jari Taehyung yang lengket, dengan lembayung senja yang membayangi langkah mereka, juga dengan hembus angin lembut yang membuat degup jantungnya tenang, tidak bertalu hebat, tidak berisik, namun tentram, seakan Jungkook sudah menggenggam hatinya terlalu lama, dan desir darahnya menerimanya dengan senang hati.
Jeon Jungkook sudah memiliki hatinya semenjak itu.
.
.
.
Judul : In Love Again
Ichizenkaze
With : Jeon Jungkook / Kim Taehyung
Park Jimin / Hong Jisoo / Jung Hoseok
Werewolf!Jungkook and Human!Tae
.
.
.
Taehyung pulang ke rumah dengan mata memerah, bekas tangisan masih tersisa nyata di pipinya, dan langsung memburu ke pelukan Ibunya yang terkejut. Taehyung berdeguk sedih, tidak mau membuka suara saat Ibunya bertanya. Ia melesakkan wajahnya di pundak Ibunya yang hangat, bergumam berisik akan denyut perih yang menyapa hatinya.
Kemudian, tiba-tiba saja, Ibunya mengerti. Semua menyadarkannya. Pikirannya terlempar pada di masa ia pernah berada di posisi Taehyung. Menatap tetesan darah di kerah baju Taehyung, menopang tubuh lemah Taehyung yang siap tumbang, dan sadar jika putranya tidak lagi terikat dengan Jungkook. Maka, ia membelai rambut Taehyung. Menguatkannya dengan kukuh, dan diam-diam menangis menyadari kenyataan jika Jungkook, yang sudah dianggapnya seperti Putranya sendiri, akan berhenti mengunjunginya, akan berhenti berdiri di sampingnya di depan kompor yang menyala untuk berdiskusi tentang menu makan malam, dan akan berhenti melihatnya tertidur di atas sofa ruang tamunya dengan wajah ngantuknya yang tampan.
Putranya mungkin mengatakan kata-kata jahat pada Jungkook. Berulang kali berteriak jika dia sudah dewasa dan bisa melakukan semuanya seorang diri. Namun, jauh di dalam hatinya ia sadar Taehyung sama lemahnya tanpa Jungkook. Taehyung tidak bisa melakukan semua yang terbiasa ia sandarkan pada Jungkook dengan sendiri. Putranya itu sadar ia butuh Jungkook. Ia membutuhkan Jungkook sebanyak Jungkook membutuhkannya. Namun, rasa egoisnya melambung tinggi. Keinginan untuk sendiri mengoyak harga diri Taehyung. Keyakinan ia bisa melakukan semuanya sendiri membuatnya menutup rapat suaranya dan menelan dalam-dalam keinginan untuk meraih Jungkook.
"A-aku tidak t-tahu kenapa aku menangis, Mama." Bisik Taehyung diiringi cegukan kanak-kanak yang membuat Ibunya mengelus semakin sayang puncak kepalanya. "Aku merasa kosong. Aku sangat merasa kosong. Aku tidak tahu apa yang aku tangisi. Tetapi, aku sangat sedih. Aku sedih sekali."
Ibunya mengusap pundak Taehyung, merapatkan bibirnya dan menyuarakan dalam hati.
Karena Taehyungie mencintai Jungkook, kau hanya belum menyadarinya.
.
.
.
"Kudengar ia sudah tujuh belas tahun,"
Jungkook mengenakan bajunya santai, merapikan rambutnya yang acak-acakan dan sibuk mengambil sepatunya di rak sepatu.
"Kudengar kau juga melepasnya,"
Jarinya terhenti. Ikatan sepatunya gagal. Jungkook menghembuskan nafas tercekat. Merasakan tenggorokannya yang tercekik dan hela nafasnya yang menyakitkan. Ada tumpukan bara api yang jatuh menimpa dadanya, menyelinap ke dalam denyut jantungnya lalu mengoyak kerja syarafnya. Jungkook mencoba sekuat tenang berkonsentrasi, kembali mengikat tali sepatunya menjadi sempurna.
"Jeon Pak tidak akan membiarkan kau mati, Jungkook-ah," suara Joohyeon kembari mengudara, ingin sekali Jungkook sumpal agar diam. "Kau adalah pemimpin pak. Kau tidak akan dibiarkan mati karena ikatanmu yang lepas."
Hembus nafas Jungkook lelah, ia menyelesaikan ikatan sepatu kirinya lalu menegakkan tubuh.
"Jika kau terus diam, mereka akan berbuat sesuatu untukmu," Joohyeon mencegat langkah Jungkook yang bersiap keluar. "Kau menunggunya enam belas tahun, buddy. Kau menunggunya selama itu hanya untuk melepasnya. Kami menunggu kau selama enam belas tahun untuk memimpin. Jeon pak tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Jungkook menggeritkan giginya kaku. "Apa yang mereka inginkan dengan mengirimmu ke sini, Joohyeon-ah?"
Mata pemuda itu berkilat merah, mengatupkan bibir lalu berkata pelan. "Bulan purnama selanjutnya, kau harus memiliki seseorang dengan tanda di lehernya; tandamu. Bulan purnama selanjutnya, kau akan diresmikan sebagai pemimpin kami. Aku tahu. Aku tahu teramat sangat sulit mengarungi hidup tanpa belahan jiwamu, tapi kami tidak bisa memilik pemimpin lain selain dirimu. Kau sudah di sana sebelum kami tahu. Kau adalah pemimpin kami, Jeon-ah."
Jari Jungkook lemah mendengarnya. Ia selalu menekan tanggung jawabnya dan menolak sadar jika keselamatan dan keberlangsungan paknya berada di tangannya. Jungkook menjilat bibirnya perih. Menarik nafas untuk meredakan denyut menyakitkan yang menonjok jantungnya lalu bergumam.
"Apa yang mereka sugestikan?"
Joohyeon merunduk, melepas cengkramannya di tangan Jungkook. "Sebuah pernikahan. Untuk menjagamu tetap hidup. Dan demi kehidupan di Pak Jeon."
Dan jiwa Jungkook melolong sedih memikirkan ia harus menikah dengan orang lain; bukan Kim Taehyung.
.
.
.
Semua orang menatap lehernya. Taehyung mencoba mengenakan turtleneck tinggi yang hampir menyentuh garis bibir bawahnya untuk dilapisi di dalam seragam sekolahnya. Ia melekat di sisi Jimin semenjak ia menginjakkan kakinya keluar dari Volvo hitam Jimin. Bukan hanya karena tidak ada Audi Jungkook yang terbiasa parkir di depan gerbang sekolahnya dan menurunkannya, tetapi juga dengan kenyataan jika mata Taehyung sembab luar biasa. Pipinya memerah, bukan karena angin musim dingin yang berhembus tetapi karena desak rindu akan telapak tangan Jungkook yang biasa singgah di atas kepalanya sebelum membiarkan Taehyung keluar dari mobilnya.
"Aromamu manis sekali, Tae-ya." Jimin bersuara ketika mereka duduk di bangku kelas. Masih sepi. Jisoo belum datang, hanya ada beberapa anak murid yang terlampau rajin yang duduk di depan dengan tekun. Jimin melayangkan senyuman menenangkan yang membuat Taehyung ikut membalasnya. "Lebih manis dari biasanya."
"Itu sesuatu yang buruk?" tanya Taehyung sembari menggigit bibirnya.
"Buruk jika tidak ada aku atau Jung—Hoseok-hyung." Jimin membasahi bibirnya yang kering. "Kau akan mencobanya?"
Jimin menghindari percakapan itu. Jimin menahan diri untuk tidak bertanya, tentang luka di leher Taehyung, juga tentang aroma Taehyung yang berhembus berbeda. Tidak ada lagi Jungkook. Tidak ada lagi semerbak lemon yang menimpa hidungnya begitu ia duduk di dekat Taehyung. Semua hanya vanilla, dan potongan stroberi. Benar-benar hanya Kim Taehyung. Jimin gatal ingin bertanya, namun saat melihat mata sambab Taehyung dan suaranya yang parau, niat itu ia urungkan dalam-dalam.
"Apanya?" Taehyung bertanya polos. Matanya menyiratkan kebingungan yang imut. Jimin harus menahan diri untuk tidak berubah menjadi bentuk serigalanya lalu menjilati wajah Taehyung yang lucu.
"Bersama Hoseok-hyung?" Jimin menaikkan alisnya. "Aku melihatmu malam itu, di malam ulang tahunmu. Kau terlihat sangat oke dengannya."
Taehyung menyanjungkan senyuman tipis. "Hoseok-hyung memang keren. Dan, aku tidak tahu." Gumamnya, memilin lengan kemejanya yang kepanjangan. "Semua terjadi begitu tiba-tiba,"
Jimin bergerak di tempatnya, mencari posisi yang nyaman lalu menarik nafas panjang. "Ingin membicarakannya?" Jimin berbisik penuh pengertian. Lalu, Taehyung kembali ingin menangis.
"Seungcheol mengikat Jisoo ketika ia berumur tujuh tahun," Taehyung mengangkat wajah, menatap Jimin. Suaranya serak menahan tangis. "Kapan kau melakukannya pada Yoongi-hyung?"
Mata Jimin berpendar penuh kenangan. Ia merapatkan bibir, mendekatkan bangkunya lalu tersenyum. "Apa kau tahu, Tae-ya, jika umur serigala tiga tahun lebih lambat dari umur manusia?"
"Yeah," Taehyung mengangguk. "Aku pernah mendengarnya."
"Aku berumur lima belas tahun saat aku bertemu Yoongi-hyung yang saat itu berumur tujuh belas tahun. Sekarang aku berumur tujuh belas tahun—dan masih tujuh belas untuk dua tahun ke depan, ketika Yoongi-hyung sudah menyentuh dua puluh dua." Jimin kembali menjilat bibirnya. "Aku mengira aku akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih muda dariku, seperti kau yang berumur satu tahun dan bertemu Jungkook yang berumur lima belas, atau seperti Jisoo yang berumur tujuh tahun dan bertemu Seungcheol yang berumur enam belas. Aku mengira aku akan mendapatkan seseorang seperti kalian. Namun, alih-alih aku bertemu si tujuh belas tahun Min Yoongi."
Taehyung tidak bisa untuk tidak tersenyum, "bagaimana rasanya?"
"Rasanya seperti bumi yang kau pijak rubuh di dalam matanya. Kau melihat semua warna. Kau melihat dirimu sendiri. Aku melihat diriku sebagai Park Jimin yang berumur lima belas tahun, yang akan menjaganya luar biasa, yang akan memberikannya payung kala hujan, yang membuka lenganku ketika ia menggigil kedinginan. Segalanya menjadi dirinya. Tujuan hidupku menjadi dirinya."
Pendar di mata Jimin yang penuh akan cinta membuat Taehyung bergerak iri di posisinya. Perasaan sehebat itu tidak pernah ia rasakan, dan mendengarnya dari Jimin membuat Taehyung ikut ingin merasakannya.
"Dan kau langsung … mengklaimnya?"
Jimin menggeleng, "Tidak, Tae-ya. Peraturannya juga berlaku di dunia kami. Harus berumur tujuh belas aku baru diperbolehkan untuk mengikatnya menjadi belahan jiwaku. Aku hanya boleh menandainya, tidak boleh mengikatnya."
"Kau sudah melakukannya?" Tanya Taehyung jahil.
"Satu menit setelah aku resmi tujuh belas tahun, aku sudah melakukannya." Jimin menjawab diiringi cengiran.
"Hei, tapi ini sedikit tidak adil," Taehyung meninju main-main lengan Jimin. "Umur serigala tiga tahun lebih lambat dari manusia, dan itu sangat tidak adil. Kau masih berumur tujuh belas untuk dua tahun ke depan, namun Yoongi-hyung menyentuh umur dua puluh empat. Itu terdengar benar-benar tidak adil."
Jimin tertawa, ia mendongak lucu ketika tertawa. "Kau benar-benar tidak tahu tentang kami ya, Taehyung-ah."
"Hm?" Taehyung melebarkan bola matanya. "Apa yang aku lewatkan?"
"Saat seorang manusia menerima untuk menjadi belahan jiwa dari serigala yang sudah menandainya," Jimin menjelaskan dengan hati-hati. "Maka umur si manusia juga akan melambat seperti pasangannya. Yoongi-hyung masih berumur dua puluh dua untuk dua tahun ke depan. Akan masuk ke dua puluh tiga setelah tiga tahun setelahnya, dan seterusnya. Umurnya akan ikut melambat."
Taehyung bergumam mengerti penuh ketakjuban. Ia dan Jimin belum pernah membicarakan hal seperti ini. Mereka terbiasa hanya membicarakan beberapa hal ngaco tentang dunianya, tanpa ingin tahu tentang dunia Jimin. Mendengar langsung semuanya dari Jimin, entah kenapa membuat Taehyung menjadi jauh lebih mengerti tentang dunia yang selama ini selalu ia hindari.
"Jadi itu benar juga?" Taehyung menggigit bibirnya sesaat. "J-jika kau—aku melepasnya, dia akan mati?"
Jimin diam cukup lama. Matanya menyiratkan ketakutan ketika berbicara. Jari Jimin menyapa jari Taehyung, melilitkannya dengan nyaman untuk memberikan senyuman kecil yang penuh keperihan.
"Seorang serigala yang dilepaskan atau melepaskan ikatan di leher belahan jiwanya, dia diberikan waktu untuk mencari orang lain; bukan untuk menjadi belahan jiwanya, tapi hanya untuk sekedar memberikan tanda gigitan di lehernya dan hidup bersamanya. Mereka masih bisa hidup, namun rasanya benar-benar berbeda dengan hidup terikat dengan belahan jiwanya. Hati mereka akan kosong. Jiwa mereka hampa. Maka, rata-rata banyak serigala yang lebih memilih mati daripada hidup tidak dengan belahan jiwa mereka," Jimin memberikan senyuman pahit. "Yoongi-hyung pernah meninggalkanku selama tiga hari untuk membereskan urusannya di Seoul. Aku menangis selama tiga hari karena rasa sakitnya begitu menusuk. Di jantungku, di desir darahku, di hembus nafasku, semua sakit. Semua meneriakkan kesakitan. Aku…aku…" Jimin bernafas lemah. "Aku tidak bisa membayangkan jika Yoongi-hyung melepas ikatannya dariku. Aku mungkin akan benar-benar memilih mati."
Bibir Taehyung mengerut sedih. Ia mencengkram jari Jimin erat, menggelengkan kepala kaku dan mencoba berbisik lirih untuk menampiknya.
"J-jungkook-hyung tidak akan mati, kan, Jimin-ah?"
.
.
.
Itu Jungkook.
Yang berdiri di depan gerbangnya dengan kedua telapak tangan masuk ke dalam saku mantelnya adalah Jeon Jungkook. Taehyung terpaku dipijakannya, tidak perduli dengan celotehan Jisoo, tidak perduli dengan bantahan Jimin yang memukul kepala Jisoo dengan ranselnya, juga tidak perduli ketika Jisoo berbalik menjambak rambut Jimin dan diiringi oleh teriakan kesakitan Jimin yang meminta lepas. Taehyung menghentikkan langkahnya. Menyaksikan kala rambut hitam Jungkook tersapu angin dan membuat keningnya terlihat. Hembus nafas Jungkook nampak bosan, ia mengecek arlojinya seakan menunggu.
Dan, selama enam belas tahun selalu terulang kejadian seperti ini, dengan Jimin yang membungkukkan tubuh ke arah Jungkook diiringi sapaan keras, dan Jisoo yang ikut membungkukkan tubuh dengan lambaian tangan manisnya. Lalu Taehyung akan berjalan lebih lambat dari kedua sahabatnya, menatap cengiran Jungkook sembari menggasak rambut Jimin, melihat senyuman cerah Jungkook ketika matanya menemukan Taehyung. Lengan Jungkook akan terulur; meminta Taehyung menggapainya. Namun Taehyung hanya akan mendengus malu, menampik uluran tangan Jungkook dan berlari cepat menuju mobil pemuda itu diiringi godaan Jimin dan Jisoo yang mengusiknya, juga diiringi tawa Jungkook sembari menyuruh Jimin dan Jisoo berhenti menggodanya, memberikan sapaan pamit lalu menyusul Taehyung masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Tetapi, hari ini pengecualian. Jimin dan Jisoo memang membungkukkan tubuhnya sopan kala melihat Jungkook, dan pemuda itu hanya memberikan senyuman tipis terpaksa. Tidak ada Taehyung yang akan berjalan menghampirinya. Alih-alih, seorang wanita dengan rambut lurus sebahu berjalan ke arah Jungkook. Tersenyum manis begitu berdiri di samping Jungkook, mendongakkan kepala dengan tawa lebar ketika Jungkook mengangkat tangannya untuk mengusap puncak kepalanya. Dan Taehyung, mematung patah hati melihatnya.
Dadanya sesak melihat senyuman di wajah Jungkook; bukan untuknya, tetapi untuk wanita itu, tangisannya mengalir begitu saja melihat Jungkook yang membawa wanita itu ke mobilnya dan membiarkannya masuk; ke tempat yang biasa Taehyung duduki. Taehyung tanpa sadar membiarkan tubuhnya meluruh, menangis sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Ia bahkan tidak sadar keberadaan Jimin dan Jisoo yang kini berada di sisinya. Ia bahkan tidak sadar jari Jimin yang mengusap rambutnya dan Jisoo yang memeluk tubuhnya penuh kekuatan. Yang ia sadar adalah betapa hancur hatinya melihat Jungkook bersama orang lain; bukan dirinya.
.
.
.
"Aigu, kenapa matamu merah sekali," Hoseok mengusap kantung mata Taehyung dengan lembut, bibirnya melengkung sedih, jarinya hangat ketika meluncur turun untuk mencubit pipi Taehyung.
"Tidak tahu," jawab Taehyung dengan mata terpejam, suka merasakan telapak tangan Hoseok yang mengapit kedua sisi pipinya dengan mata penuh khawatir. "Pagi ini aku bangun sembari menangis."
"Heeeh?" Hoseok mengapit sisi pipi Taehyung lebih erat. "Kau bermimpi buruk?"
Taehyung bermimpi tentang kilatan darah, pepohonan hutan yang lembab, kilat marah badai, dan tentang mata merah Jungkook serta dengan lolongan serigala penuh kesedihan yang mengusik dadanya.
Namun ia menggeleng, tidak menyuarakan pikirannya, menarik telapak tangan Hoseok turun dari pipinya kemudian mencengkramnya erat.
"Mungkin aku terlalu senang karena hari ini akan kencang bersama Hyung," ia tersenyum lebar. Dibalas Hoseok tidak kalah lebar.
"Aigu, imut sekali Kim Taehyung ini." Hoseok mengeratkan genggaman tangan mereka. "Kalau begitu mari buat hari ini menyenangkan, oke?"
Taehyung mengangguk ceria, tanpa tahu jika hatinya masih menangis perih.
.
.
.
Hari minggu itu Taehyung baru turun dari kamarnya saat makan siang. Ia menghabisi malam minggunya bersama Jimin dan Jisoo, nonton teater sampai tengah malam, singgah untuk mencicipi makanan ringan di tepi jalan lalu pergi ke karaoke dua puluh empat jam sampai pukul empat pagi. Ibunya membuka pintu rumah dengan tatapan sebal, namun menepuk pipi Taehyung hangat begitu putranya tersenyum senang diiringi ucapan maaf Jimin dan Jisoo yang sudah membawa pergi main Taehyung sampai pagi. Ia langsung tumbang ke tempat tidurnya dan baru bangun saat matahari menyengat panas ke punggungnya. Ia mengecek smartphonenya untuk melihat pesan dari Jisoo yang menanyakan keadaan Taehyung, serta chat dari Jimin yang penuh akan foto-foto memalukan mereka kemarin malam.
Taehyung lama sekali menempelkan jarinya di layar smartphone. Tidak ada pesan dari Jungkook, alih-alih ia mendapat pesan dari Hoseok yang menanyakan apakah Taehyung punya waktu untuk kencan bersamanya akhir minggu. Taehyung tidak langsung membalasnya, ia menyentuh kolom chatnya bersama Jungkook dan menggigit bibirnya melihat deretan pesan yang biasa Jungkook kirimkan padanya; Di mana? Sedang apa? Sudah pulang? Aku di depan gerbang. Selamat pagi. Ia menscrollnya hingga bawah. Hingga pada pesan terakhir Jungkook yang dikirimnya tepat ketika mereka bertengkar hebat; Jangan lepaskan aku, Taehyung-ah.
Taehyung berakhir bangkit dari tempat tidurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Membiarkan dinginnya air menghujam kepalanya dan mengenyahkan Jungkook dari pikirannya. Setelah selesai mandi dan merapikan tempat tidurnya yang acak-acakan, ia menuruni undakan tangga lalu melangkah menuju dapur. Ia mendapati saura Ibunya yang tertawa, diiringi suara lain yang menimpali.
Jungkook. Yang tengah membalas ucapan Ibunya dengan tangan sibuk mengeluarkan belanjaan dari kantung plastik itu adalah Jungkook. Pemuda itu langsung menyadarinya. Ia mengangkat kepalanya ketika Taehyung tiba di depan pintu dapur yang terbuka lebar. Mata Jungkook yang pekat menahan Taehyung untuk tidak rubuh. Nafas Taehyung kacau. Ia meremas kausnya kuat kala Jungkook masih menatapnya dengan raut datar yang sangat keterlaluan.
"Sayang, sudah bangun?" Ibunya bertanya. Membawa sekoci penuh kopi lalu menaruhnya di atas meja makan. "Jimin dan Jisoo semalam mengajak Taehyung main di luar. Ia pulang pukul 4 pagi. Mama khawatir sekali. Ia susah dihubungi seperti biasa." Ibunya tanpa sadar menceritakannya pada Jungkook. Pemuda itu menyeret matanya dari Taehyung, memberikan Ibunya senyuman tipis.
"Hm, begitu." Gumamnya pelan. Hampir tidak terdengar.
"Mama bertemu Jungkook di supermarket," Ibunya memberikan jawaban melihat tatapan Taehyung yang masih menusuk Jungkook. Putranya itu masih diam berdiri di tempatnya tanpa berniat mendekat. Bola matanya terpaku pada Jungkook, tidak mencoba menutupi kerinduannya melihat Jungkook berada kembali di rumahnya seperti yang ia lakukan. "Jungkook membantu Mama membawa belanjaan ke mobil, lalu menawari Mama untuk mengantarkan sampai rumah."
"Taehyungie mau kopi?" tawar Ibunya lagi dan terus membuka percakapan antara putranya dan Jungkook. "Duduk di sini, kenapa berdiri terus? Mama belum menyiapkan makan siang karena lupa belum belanja. Jungkook punya ide untuk menu makan siangnya?"
"A-ah." Jungkook kala itu tengah membuka pintu lemari pendingin, memasukkan bahan-bahan masakan ke dalamnya dalam diam. "Aku tidak bisa lama, Ma." Jungkook menolak halus. "Aku ada janji dengan teman-temanku,"
"Ah, sayang sekali." Ibunya memasang wajah sedih yang membuat Jungkook menggaruk tengkuknya canggung.
Taehyung memberanikan diri melangkah, dengan gugup duduk di kursi meja makan, menghirup aroma kopi yang kuat sementara matanya masih kukuh menatap Jungkook yang kini tengah mensejajarkan telur di rak teratas lemari pendingin. Taehyung merasa yakin Jungkook meliriknya, sebelum ia kembali fokus pada butiran telur di tangannya dan mengangguk-angguk kecil ketika Ibu Taehyung terus berbicara.
Taehyung menuangkan kopi ke dalam gelasnya, meminumnya lamat sembari menjawab singkat saat Ibunya bertanya. Wanita itu terus mengoceh, Jungkook terkadang meresponnya dengan tawa sopan, namun Taehyung tetap diam. Tidak berani bersuara lebih dan gugup dilirik Jungkook setiap kali ia membuka suara. Ibunya tiba-tiba saja memekik ringan, berkata ia melupakan sesuatu di mobilnya kemudian meninggalkan Taehyung dan Jungkook dalam diam yang begitu canggung.
Tidak ada yang membuka suara. Jungkook diam. Patuh merapikan tumpukan daging tanpa mau bersuara sedikit saja. Begitupula dengan Taehyung, memeluk mug dalam kungkup jemarinya dan berdoa semoga Ibunya cepat kembali. Dia tidak pernah merasa secanggung ini dengan Jungkook. Suasana diantara mereka ini benar-benar mencekik. Taehyung tidak tahan.
"Jangan buat Mama khawatir, Taehyung-ah." Jungkook yang pada akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka. "Tetap kabari dia kemanapun kau ingin pergi, jikapun itu bersama Jimin dan Jisoo. Beritahu dia."
Taehyung merunduk, jemari terlepas mencengkram mug kemudian mengaitkannya satu sama lain dengan gugup. "Aku lupa," gumamnya menjawab.
Hembusan nafas Jungkook nampak kasar. Pemuda itu bangkit berdiri setelah yakin semua sudah tertata rapih. Ia menutup pintu lemari pendingin lalu mendudukkan tubuhnya di depan Taehyung, sibuk menuangkan kopi ke dalam gelasnya.
Siapa wanita itu?
Siapa dia?
Kenapa kau menjemputnya?
Kenapa kau menyentuh puncak kepalanya?
Kenapa kau tersenyum padanya?
Taehyung menelan semua pertanyaan itu dalam kepalanya. Mengangkat kelopak matanya lirih dan menatap Jungkook yang sibuk menenggak kopinya dalam sekali teguk. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, mata tidak sengaja bertemu dengan milik Taehyung.
Masih di sana.
Sinarnya masih di sana.
Gelung cintanya masih tersimpan di mata Jungkook.
Jungkook masih menahannya seperti itu, seakan Taehyung adalah semestanya, seakan Taehyung adalah pusat dunianya, dan seakan Taehyung adalah sebagian jiwanya yang hancur lebur. Matanya masih menyiratkan kekhawatiran, keinginan untuk mengetahui apa saja yang Taehyung lakukan, dan ingin mencengkram lengan Taehyung betapa resahnya dia mendengar untai kata Ibunya saat berkata Taehyung baru sampai rumah pada pukul empat pagi.
Binar di mata Jungkook tidak pernah berubah. Sekalipun pemuda itu dengan segera mengalihkan matanya. Menutupinya dengan kesungguhan. Diakhir semua itu, Taehyung tahu jika Jungkook ingin berada di dekatnya sebesar ia ingin Jungkook berada di sisinya.
"Aku harus pergi," Jungkook bangkit berdiri dengan tergesa, menyenggol meja dengan brutal dan membuat kursinya bergerak jatuh. Ia mengambil kursi yang jatuh lalu menaruhnya ke tempat semula. "Kirimkan salam untuk Mama. Aku pamit."
Langkah Jungkook lebar. Detak sepatunya cepat. Tanpa tahu apa yang dipikirkan, Taehyung ikut bangkit berdiri. Ia mengejar langkah Jungkook.
"H-hyung!"
Tidak menoleh. Jungkook semakin mempercepat langkah.
"Jungkook-hyung!"
Taehyung berhasil meraih lengan Jungkook, menariknya keras hingga Jungkook berdiri tinggi di hadapannya. Mata Jungkook menyipit tajam, meminta penjelasan kenapa Taehyung begitu kukuh mencegat langkahnya. Kerutan di kening Taehyung gusar, bibirnya merapat, jarinya mencengkram sweater Jungkook erat. Taehyung tidak sadar jika matanya berkaca-kaca. Bayangan Jungkook mengabur di pelupuk matanya. Ia menarik Jungkook mendekat, namun pemuda itu tetap diam tidak mematuhi.
Jangan pergi.
Tetap di sini.
Ia mencengkram lebih erat sweater Jungkook. Permohonan menguar keras dari cara Taehyung mengusap kasar air mata di pipinya.
Marahi aku seperti biasanya.
Diamkan aku seperti biasanya.
Katakan lagi. Kekhawatiranmu. Bilang padaku kau akan menjemputku esok hari. Katakan jika kau akan duduk di meja makan esok pagi dengan koran di tanganmu dan ucapan selamat pagi yang manis. Katakan esok hari kau akan duduk di depan ruang tamu dengan televisi menyala dan sekaleng bir di tanganmu.
Katakan kau akan kembali jatuh cinta padaku.
Katakan kau akan kembali menjadi milikku.
Katakan kau akan kembali ke sini.
Katakan.
"Aku harus pergi,"
Jungkook melepas matanya dari Taehyung, mencoba tidak perduli dengan tangisan Taehyung yang lemah. Ia menoleh cepat sembari membalikkan tubuhnya, mengurai cengkraman Taehyung di lengannya, lalu pergi menjauh.
Dan, kali ini Taehyung tidak mampu menahannya seperti sedia kala.
.
.
.
Jungkook menarik nafas panjang, mengeratkan cengkramannya pada pagar kayu yang menjadi tumpuannya lalu memandang sinar mentari yang semakin turun dan menyajikan warna jingga yang indah. Ia memejamkan mata sesaat kala dentaman rasa sakit menyerbu kepalanya tanpa ampun. Jungkook berdiam diri di rumahnya sepanjang hari, berbaring menatap langit-langit kamar dengan pikiran melayang pada tangisan Taehyung dan jarinya yang mencengkram sweaternya dengan erat. Ada permohonan di tatapannya, ada sebersit rindu dari isakannya, namun Jungkook mencoba buta dan berlalu pergi. Karena ia begitu takut Taehyung akan kembali menyakitinya.
Menjauh dari Taehyung sudah lebih dari menyakiti nuraninya. Melihatnya bersama orang lain sudah pasti menusuk denyut jantungnya hingga terkoyak tak bersisa, dan Jungkook tidak ingin kembali jiwanya hancur berkeping-keping. Ia ingin mencoba sembuh. Mencoba melupakan Taehyung dan menjalani kehidupannya dengan normal.
Jungkook tengah mencoba kembali berjalan, karena Taehyung sudah menembak seluruh syarafnya hingga tak bekerja. Jungkook ingin bernafas dengan leluasa.
Jungkook mencium aroma almond, seduhan daun kering teh hangat, lalu kepingan kukis yang kaya akan cokelat. Jungkook menoleh lambat, menatap Min Yoongi yang berdiri di balkon rumahnya dengan mug berisi teh dalam genggaman tangannya. Ia sudah lama tidak menyapa tetangganya yang satu ini. Menatap kulit pucatnya yang tersinari cahaya senja serta tatapan mata malasnya yang penuh pengertian.
Min Yoongi mengambil satu potong kukis dari dalam toples, menggigitnya nyaring kemudian mengunyahnya lamat. Pemuda itu menarik nafas, dan Jungkook dapat menghirup aroma Jimin dibalik desah frustrasinya yang melirik Jungkook. Ia meletakkan mugnya ke atas meja, memasukkan kukisnya tak bersisa ke dalam mulut lalu menatap Jungkook kelam.
"Kau menyedihkan," itu ucapan pertamanya. Bibir terkatup rapat setelahnya seakan takut ucapannya menyakiti Jungkook.
Namun, Jungkook berbalik mendengus, tertawa kecil, merunduk dan mengakuinya. "Yeah," Ia mengeratkan cengkramannya pada pagar yang mencapai batas pahanya. "Kau benar."
"Mereka terus membicarakannya," Yoongi menelan makanan di mulutnya dengan pelan. "Mereka bilang kau jauh lebih menyeramkan, kau diam dan bersembunyi, kau melupakan takdirmu."
Jungkook menyunggingkan senyuman mendengar ucapan Yoongi. Tidak membantah.
"Mereka bilang kau keluar untuk berburu hampir tiap malam. Kau mengoyak mangsamu terlalu buas dan kau menggeram marah setiap kali seseorang menganggumu. Kau menjadi jauh lebih menyeramkan. Total berengsek. Tidak ada yang ingin mendekatimu, bahkan Kuanlin dan Jinyoung malas datang ke rumahmu untuk memintamu hadir di latihan harian."
Kini, Jungkook tertawa. "Berlebihan," gumamnya pelan. "Kuanlin tadi pagi ke rumahku dan aku menyiapkannya sarapan untuk disantap bersama. Aku dan dia tertawa. Kita berteman."
"Atau," Yoongi membalasnya dengan argumennya yang selangit. "Dia hanya terlalu sungkan untuk menolak ajakan sarapan bersamamu, dan karena tahu lehernya akan patah jika dia tidak tertawa dengan leluconmu yang konyol."
"Woah, kau melukai harga diriku." Jungkook melipat tangannya di depan dada.
Mengikuti, Yoongi ikut melipat tangannya di depan dada. Matanya penuh oleh kekhawatiran namun tertutupi dengan sifat culasnya yang terlalu tinggi. "Melepasnya membuatmu berubah sejauh itu?"
Untuk menjawab pertanyaan yang satu itu, Jungkook diam untuk beberapa menit.
"Ingat saat kau koma dua tahun lalu?" Yoongi menjilat bibirnya yang kering. Tiba-tiba menyadari suasana hati Jungkook yang mendadak kelabu. Yoongi membalikkan tubuh hingga menghadap pada sinar matahari yang mulai tenggelam dan menyisakan gelap yang seketika mencekam. "Mereka berkata sehebat apapun kekuatan fisikmu dan mengesampingkan statusmu sebagai seorang serigala, kau bisa mati jika dua jam kemudian Hongsuk tidak menemukanmu."
Jari Jungkook bergetar, ia menggigit bibirnya perih.
"Kau bukan hanya memberikan duniamu untuknya, Jungkook-ah. Kau juga memberikan segenap nyawamu. Dia tidak tahu itu?"
"Dia tidak perlu tahu," Jungkook menjawab terlalu cepat.
Yoongi mendengus kasar, "dan dia berhak melakukan ini padamu?"
"Aku melepasnya," Jungkook bersuara lemah. "Aku yang memutuskan untuk melepasnya. Jangan salahkan dia."
"Bahkan saat kau menderita luar biasa seperti saat ini, kau masih membelanya." Yoongi terkejut menyadari nada suara kejamnya yang penuh amarah. "Bahkan saat kau sekarat dan koma selama satu bulan hanya untuk menyelamatkannya, kau masih membelanya. Kau benar-benar luar biasa."
"Kau akan melakukan hal yang sama."
Yoongi tertawa sarkastik. "Aku mungkin akan melakukan hal yang sama, tapi aku tidak sebodoh itu untuk melepasnya. Aku akan berteriak di wajahnya tentang apa saja yang aku lakukan sepanjang hidupku untuknya." Yoongi mengetatkan dagunya. "Kau sudah bertahan di sisinya enam belas tahun, lalu apa salahnya berani untuk sedikit saja berteriak di wajahnya dan menahannya lebih lama? Apa salahnya redam sekali lagi rasa sakit hatimu dan tahan pergelangan tangannya di sisimu lebih lama? Kau membuat perjuanganmu sia-sia, Jungkook-ah."
Jungkook mengeluarkan nafas gemetar, mengerutkan alisnya penuh sabar dan menahan dirinya untuk tidak terbesit akan amarah. Cengkramannya semakin kuat. Pundaknya bergetar dan penuh sakit hati, ia memberikan jawaban pada tuntutan pertanyaan Yoongi.
"Dia menyukai orang lain," bisiknya. "Bertahan di sisinya selamanya, itu perkara mudah. Memberikan nyawaku untuknya, itu perkara mudah. Menunggunya sampai aku mati, itu perkara mudah. Tetapi, ketika melihat matanya yang penuh cinta untuk orang lain, mendengar suara pengakuannya jika ia menyukai orang lain, melihat senyuman senangnya bersama lelaki yang disukainya, itu bukan perkara mudah." Jungkook tersedak oleh suaranya sendiri. "Aku tidak bisa bertahan lebih lama karena ia mencintai orang lain. Aku tidak punya kekuatan untuk berdiri di sampingnya lagi."
.
.
.
"Kim Hangyun," Jimin duduk di sisinya, tiba-tiba saja berbisik di sisinya dengan tenang. Taehyung berjengit. Menaikkan alisnya pura-pura tidak mengerti. "Wanita yang sedari tadi kau tatap itu, namanya Kim Hangyun." Jimin memperjelas.
"Aku tidak menatapnya," sergah Taehyung, mengaduk nasinya sembari merunduk. Wanita itu tengah tertawa ceria, rambut sebahunya begitu halus, bayang akan telapak tangan Jungkook yang membelai puncak kepala wanita itu terus menghantam ingatan Taehyung.
"Semalam," Jimin mengatupkan bibir. Terlihat sulit untuk memberikan pengakuan, namun akhirnya menyuarakan suaranya dengan tangguh. Lambat laun Taehyung pasti akan tahu, dan membayangkan Taehyung mengetahuinya dari orang lain membuat Jimin membenci keadaannya. Dirinya. Harus dirinya yang memberitahu Taehyung. "Sudah ditetapkan."
"Apa?" Taehyung memandang Jimin sembari menyuap makannya.
"Jungkook-hyung akan menikah dengannya,"
Nafas Taehyung terhenti saat mendengarnya. Pandangannya nanar. Telinga berdenging panjang. Ia gemetar luar biasa hingga sendok yang digenggamnya jatuh berisik ke dalam nampan makananya yang penuh.
"K-kenapa?" tanyanya gagap. Air matanya mengumpul, tidak tertahan dan Taehyung tersedu bahkan sebelum Jimin menjelaskan.
"Jeon pak tidak akan membiarkan Jungkook-hyung mati, Taehyung-ah. Dia adalah pemimpin mereka. Paknya akan melakukan apa saja untuk membuat Jungkook-hyung tetap hidup."
Masih menangis hebat, Taehyung mengusap wajahnya yang penuh air mata. Jimin bahkan harus menaruh sumpitnya untuk membawa wajah Taehyung ke pelukannya. Pemuda itu masih menangis hebat. Berisik sekali hingga membuat beberapa orang menatapnya bingung.
"Hei, Tae. Kau oke?" tanya Jimin cemas.
"T-tidak tahu." Masih menangis. Taehyung balas memeluk Jimin. "A-aku tidak tahu k-kenapa aku menangis, Jimin-ah. Aku t-tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa rasanya menyakitkan sekali. Aku tidak tahu."
Jimin hanya berdoa semoga Taehyung cepat tahu jika semua sakitnya bermula semenjak ia melepaskan Jeon Jungkook dari kehidupannya.
.
.
.
"Lagi?"
Lai Kuanlin mendengus kasar, ia meninju pohon terdekat yang dijangkau denganya sebal. Kemudian dengan patuh menyilangkan tangannya di depan dada begitu mendengar geraman Jungkook yang dalam. Sifat serigalanya langsung tunduk di bawah gertakan Jungkook yang berkuasa.
"Apa istimewanya dari dia?"
Jungkook menendang tulang kering Kuanlin, pemuda itu merintih pelan sembari mengusap tulang keringnya yang berdenyut nyeri.
"Diam saja,"
"Kau terus datang ke sini selama dua minggu terakhir, Hyungnim." Protes Kuanlin. Keningnya berkerut kesal. "Aku mendengar rumor yang tersebar di dalam pak jika dia mencampakkanmu."
Jungkook mendengus, "siapa yang berkata seperti itu?"
"Aku tidak tahu, tapi aku mendengarnya dari Woojin-hyung."
"Kau percaya omongan Woojin?"
"Apa benar seperti itu, Hyungnim?" Kening Kuanlin berkerut samar. Balik bertanya. "Mencintai seseorang memangnya segila itu?"
"Memang," Jungkook menjawab tanpa pikir panjang. "Rasanya memang segila itu. Sudah tahu dia menyukai orang lain, aku masih menatapnya setiap malam. Sudah tahu dia ingin lepas dariku, jantungku masih saja berdetak untuknya. Jatuh cinta memang segila itu, Kuanlin-ah."
"Banyak yang membicarakannya," Kuanlin bersuara pelan. "Mereka berkata kau menunggunya selama enam belas tahun. Kau mengikatnya saat ia berumur satu tahun. Kau bertahan di sisinya sepanjang waktu, tetapi dia lebih memilih bersama orang lain. Itu sebabnya kau melepas ikatanmu di lehernya. Ini benar-benar tidak masuk akal. Belahan jiwa benar ada tidak, sih?"
Jungkook tersenyum tipis. Ia mengalungkan lengannya di leher Kuanlin.
"Dengar baik-baik," gumamnya. "Yang berhak menentukan belahan jiwa itu benar-benar ada atau tidak itu bukan diriku, bukan Woojin juga bukan orang-orang diluar sana yang terus berbicara seenaknya. Kau sendiri yang berhak menentukan. Bukan tradisi yang membuatmu berpikir dia adalah milikmu. Jantungmu. Hatimu. Desir darahmu. Mereka yang berkata. Semestamu yang akan memberitahu. Jika kau mendengar orang-orang berkata jika dia mencampakkanku, maka katakan ini pada mereka." Mata Jungkook memandang sosok Taehyung yang tengah serius duduk di meja belajar dalam kamarnya, lampu menyala terang dan Taehyung menggigit bibirnya berkonsentrasi. "Pemuda itu adalah duniaku. Dia nafasku. Jikapun aku melepasnya, itu bukan karena dia mencampakkanku, bukan juga karena dia memilih bersama orang lain. Dia hanya belum sadar dia tidak bisa hidup tanpaku. Dia masih duniaku sampai sekarang. Dia masih nafasku. Dia masih semestaku. Jadi, tutup mulut dan jangan ikut campur. Oke?"
Kuanlin merapatkan bibir. Mengangguk kaku paham sembari melirik Jungkook yang menggasak tempurung kepala Kuanlin sembari tersenyum hangat.
Dan selama ia mengenal Jungkook, baru kali ini Lai Kuanlin berharap dapat mencintai seseorang sebagaimana Jungkook mencintai Kim Taehyung.
.
.
.
Taehyung kembali melihat Jungkook. Ia terlihat bahagia bersama kumpulan paknya yang menyeramkan. Jeon Pak memilik anggota bertubuh besar dengan kilat bola mata merah yang menakjubkan. Derai tawa Jungkook terdengar lepas, ia merangkul seorang lelaki di sampingnya sembari bercanda dengan leluasa. Jungkook mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut dengan sepatu sol di kakinya. Ini pertama kalinya bagi Taehyung melihat Jungkook bergaul bersama kumpulan paknya. Terbiasa memiliki Jungkook untuk dirinya sendiri, Taehyung dibuat kesal ketika melihat hebatnya Jungkook melindungi paknya dengan penuh tanggung jawab.
Mata mereka bertemu ketika Jungkook baru datang dengan seorang pemuda tinggi kurus yang memiliki senyuman menawan, pemuda itu menepuk pundak Jungkook akrab lalu berlari menuju kumpulan paknya dan membiarkan Jungkook melangkah menuju pak miliknya. Mata mereka bertemu ketika Taehyung memutuskan untuk berbincang dengan Hongseok di depan perapian besar. Bola mata Jungkook melebar kaget mendapati Taehyung berada di sana. Ia menahan mata Taehyung lama sekali sebelum memutuskan untuk mengalihkan pandangannya lalu tidak melirik Taehyung sedikitpun setelahnya.
"Kau seharusnya akan merayakan ini bersamaku," Jisoo duduk di sampingnya, memberikan senyuman pada Hongseok yang duduk di samping Taehyung.
Di setiap bulan purnama, bagi pasangan yang memutuskan untuk mengikat diri mereka setelah ketentuan umur mereka telah terlampaui. Mereka akan berada dalam sebuah perayaan, dengan sang serigala yang berburu dan memberikan hasil buruan mereka ke hadapan belahan jiwanya. Secara simbolik, mereka akan terikat ketika belahan jiwanya tersebut menerima hasil buruannya. Mereka akan melanjutkan tahap selanjutnya secara privasi, namun di mata seluruh pak, mereka resmi terikat satu sama lain.
Taehyung merapatkan senyuman sedihnya. Dan, lagi-lagi Taehyung begitu ingin menangis. "Bagaiman simbol jika Jisoo menerima hasil buruan Seungcheol nanti?" tanyanya pada Hongseok.
Pemuda itu menenggak minumannya. "Jisoo hanya butuh menepuk kepala Seungcheol."
"Dengan Seungcheol yang masih dalam bentuk serigala?" tanya Taehyung.
"Yap," Hongseok menjawab.
"Yap," Jisoo menjawab. "Aku sudah beratus kali melihatnya. Aku sudah datang ke acara perayaan ini beratus kali. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Kau juga di sini saat Jimin mengikat Yoongi-hyung?" Taehyung menahan matanya untuk tidak melirik Jungkook.
"Yep," Jisoo mengangguk. "Jimin membawa seekor rusa ke hadapan Yoongi," Jisoo mengulang ingatannya. "Yoongi-hyung hanya berdiri di sana, tersenyum terimakasih, mengusap kepala Jimin kemudian menepuknya hangat." Jisoo mengangkat tangannya, memeragakan bagaimana telapak tangan Yoongi menepuk puncak kepala serigala Jimin.
"Aku…" Taehyung berakhir menatap Jungkook yang masih betah mengobrol dengan paknya. "…belum pernah melihat bentuk serigala Jungkook-hyung."
Hongseok tertawa mendengarnya. Jisoo hanya mengerutkan kening bingung untuk merespon.
"Jungkook-hyung juga tidak pernah membiarkanku menghadiri perayaan seperti ini." Gumamnya.
"Aku mengerti kenapa Jungkook melakukannya," Hongseok menaikkan alis paham.
"Kenapa?" tanya Jisoo ikut penasaran.
"Kau beraroma sangaaat manis, Taehyung-ah." Hongseok berucap jujur. "Jika aku jadi Jungkook, aku juga akan melakukan hal yang sama."
Jungkook bukan terlalu overprotektif. Jungkook bukan menahannya untuk dirinya sendiri. Jungkook tidak seegois yang ia pikirkan. Jungkook tidak semenyeramkan yang pernah ia teriakan ke wajah pemuda itu dengan murka.
Jungkook hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Karena dahulu, Taehyung adalah miliknya. Dahulu, Jungkook menjaganya luar biasa karena itu adalah kewajibannya, itu adalah tanggung jawabnya. Jungkook sudah berjanji di depan Ibunya untuk menjauhkan Taehyung dari bahaya, untuk mencintainya dalam segala macam situasi, dan untuk bertahan di sisinya selamanya. Dan, Taehyung sakit memikirkan jika ia baru berpikir seperti ini setelah Jungkook melepasnya.
.
.
.
Jungkook menghampirinya kala Taehyung merunduk menahan kantuk. Ia duduk di depan rumah Yoongi yang sepi. Bisik-bisik samar percakapan Yoongi dan Jimin di dalam kabur dalam pendengarannya. Ia malas untuk pulang, dan ia juga tidak ingin mengganggu Yoongi dan Jimin di dalam. Selama enam belas tahun hidupnya, ia juga baru tahu jika rumah Yoongi ternyata tepat bersebelahan dengan milik Jungkook. Ia dibuat terkejut saat melangkah turun dari Volvo Jimin dan berdiri di depan rumah Yoongi yang ternyata sudah bertetangga dengan Jungkook sudah sangat lama.
Taehyung tengah menyangga kepalanya pada lekukan lengannya ketika selembar selimut menutupi punggungnya dan membuat rasa hangat mengalir halus di desir darahnya. Pikirannya melayang kala melihat bagaimana bahagianya Jisoo ketika Seungcheol membawa seekor rusa ke hadapan Jisoo dengan mata menyala kuning menakjubkan. Ia di sana kala Jisoo mengangkat tangan, menepuk puncak kepala serigala Seuncheol dan mereka berdua terlihat luar biasa bahagia kala itu semua terjadi. Taehyung menarik nafas. Ia tidak mampu menghirup aroma Jungkook layaknya yang Jimin jelaskan; lemon yang segar dan segarnya pinus. Namun ia tahu sejuknya aura Jungkook kala berada di sisinya. Taehyung menggelamkan kepalanya lebih dalam pada lekukan lengannya, kaku begitu Jungkook menaikkan selimutnya yang melorot dan membuatnya kukuh menutupi tubuhnya.
"Mau kuantar pulang?"
Walau setelah semua yang terjadi, Jungkook masih bersuara lembut padanya. Auranya masih penuh tanggung jawab untuk menjaga Taehyung dari apapun. Jarinya gatal. Taehyung berakhir dengan mencengkram jemarinya satu sama lain sembari memejamkan matanya erat.
"Papa meninggalkanku saat aku berumur lima tahun," gumam Taehyung pelan, nampak berbisik pada hembusan angin. "Hyung pasti ada di sana, kan?"
Jungkook diam. Duduk di sisi Taehyung lalu menghembuskan nafas panjang.
"Aku hanya melihat Mama yang menangis," aku Jungkook. "Aku yang memeluk Taehyung, ingat?"
Taehyung mengangguk, senyumannya sedih. "Aku tidak tahu kenapa Papa pergi saat itu. Mama berkata Papa memutuskan untuk pergi karena itu adalah pilihannya. Aku tidak pernah bertemu Papa setelahnya, aku tidak pernah menangis ingin bertemu dengannya. Aku baik-baik saja tanpanya." Suara Taehyung bergetar. "Namun, ketika semua orang berteriak jika Papa pergi karenaku, aku mulai membencinya."
Jungkook kaku di sampingnya. Taehyung membuka matanya. Menatap figure menenangkan Jungkook yang bertahan mendengarkan Taehyung dengan tabah.
"Papa meninggalkan Mama karenaku," bisikan Taehyung perih. "Ada luka di leher Mama. Mama mengira aku tidak pernah memperhatikannya. Papa melepas Mama karenaku. Lalu bagaimana bisa?" Taehyung bertanya pelan. "Papa adalah belahan jiwa Mama. Lalu bagaimana bisa dia melepasnya dan memilih bersama wanita lain? Apa itu masuk akal? Apa Hyung juga akan melakukan itu padaku?"
Jungkook menoleh, menatap matanya dalam temaram bulan yang tinggi. Pancaran matanya memberikan banyak makna. Banyak jawaban. Banyak kegelisahan. Banyak pertanyaan. Taehyung memutuskan untuk menutup kelopak matanya dan menangis dalam diam.
"Papa bertahan di sisi Mama selama hampir dua puluh tahun. Namun, Papa memutuskan untuk melepas Mama. Hyung sudah menungguku selama enam belas tahun, lalu apakah nantinya kau juga akan meninggalkanku seperti Papa meninggalkan Mama? Lalu untuk apa semua ini? Aturan tentang belahan jiwa, ikatan di leherku, ikatan untuk memiliki hidupku, apa belahan jiwa itu benar-benar ada?" Rintih Taehyung. Ia hanyut ketika jari Jungkook terangkat dan mengelus pipinya pelan. "Aku tidak ingin jatuh cinta seperti ini, Jungkook-hyung. Bukan karena tradisi yang mereka percaya sepenuh hati. Bukan karena tanda di leherku. Aku ingin jatuh cinta dengan debaran di dadaku, aku ingin jatuh cinta dan tersenyum idiot sepanjang hari karenanya. Aku ingin jatuh cinta dan tidak bisa tertidur karenanya. Aku ingin jatuh cinta dan kencan bersamanya seperti menapak surga dalam sehari. Aku ingin jatuh cinta lagi,"
Wajah Jungkook mendekat, hembus nafasnya mendekat, sapuan hangatnya berlabuh ke tengkuk Taehyung. Ia tidak berbisik menenangkan, ia tidak marah mendengar penuturan Taehyung. Jungkook mengecup pipi Taehyung hangat. Mengelus pelipisnya teratur. Membawa tubuh Taehyung mendekat. Memeluknya erat. Membiarkan Taehyung bersandar pada tubuhnya dan membiarkan mereka berdua hancur bersama-sama.
.
.
.
"Taehyung-ah!"
Kala itu, segalanya menjadi tuli di pendengarannya. Taehyung hanya mampu melihat garis matahari yang tenggelam, semua kabur, matanya penuh air mata. Dadanya sesak, ia sulit untuk mengatur nafasnya yang tercekik.
"Taehyung!"
Kala itu, yang berdendang di telinganya hanya pengakuan. Pengakuan. Pengakuan. Perbuatan keji. Ejekan teman-temannya, dan tubuhnya yang basah karena didorong brutal ke dalam kolam di tengah sekolahnya yang sepi. Ia melihat lapisan buku-bukunya yang basah, tasnya yang ikut masuk ke dalam kolam, melihat teman-temannya yang tertawa mengolok, dan nafasnya hancur. Taehyung tidak pernah setakut itu pada orang lain.
"Diam di sana! Jangan bergerak!"
Kala itu, Taehyung mengulang langkah kakinya yang penuh amarah, masuk ke dalam rumahnya dengan tangisan. Ia berteriak pilu ea rah Ibunya, meminta jawaban, meminta sebuah pengakuan. Jungkook yang kala itu duduk berdampingan dengan Ibunya terkejut melihat Taehyung yang pulang lebih awal dari jadwal pulang di sekolahnya. Seragamnya basah, suaranya tercekat ketika ia menyerukan segala ucapan teman-temannya yang menusuk.
"Mereka bilang Papa pergi karena aku terlahir bukan sebagai seorang serigala! Mereka bilang Papa mencari wanita lain agar mendapatkan seorang anak lelaki yang akan menjadi serigala nantinya! Mereka bilang Papa pergi karena Mama bukan belahan jiwanya! Mama mengambil Papa dari orang lain! Mereka b-bilang…hiks… m-mereka bilang Papa pergi karena aku!"
Kala itu, Taehyung ingin rasa sakit di dadanya pergi. Ia merasa menjadi pecundang. Ia merasa hidupnya tidak berguna. Taehyung menatap lurus pada gemerlap sinar senja yang perlahan pudar. Ia terisak perih. Tidak mampu mengucapkan kata apapun. Ia hanya ingin semuanya hilang. Ia ingin terlelap lama. Ia ingin pergi dari hidupnya yang suram.
Kala itu, Taehyung mengambil langkah maju. Gravitasi membawanya jatuh. Taehyung memejamkan mata. Lalu, jemari kuat itu mencengkram pergelangan tangannya, menahannya untuk tidak terkubur oleh debur ombak dan membuat tubuh Taehyung melayang pilu di ujung tebing yang curam.
Kala itu, Taehyung mengangkat kepalanya. Menatap mata penuh kesungguhan Jungkook yang menahannya sekuat tenaga. Menatap lekukan alisnya yang serius menarik tubuh Taehyung agar tidak terjatuh. Garis bibirnya rapat, matanya penuh air mata, bibirnya melengkung sedih dan mencengkram pergelangan tangan Taehyung semakin erat kala kekuatannya kalah dan tubuhnya mulai melingser turun mengikuti berat tubuh Taehyung.
"Putuskan sekarang juga," ucapnya penuh rasa sakit. Keringat mengalir di pelipis Jungkook. "Jika kau hidup, aku akan hidup. Jika kau ingin mati, maka aku melepasmu dan ikut bersamamu. Pilih sekarang, Taehyung-ah."
Taehyung terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menatap Jungkook, terus menatapnya dengan air mata mengalir di pipinya. Debur ombak semakin terdengar menyeramkan di telinga Taehyung.
"Mama sangat menyayangimu dengan luar biasa. Ia menangis tidak henti ketika kau keluar dengan penuh amarah dari rumah. Ia mencengkram tanganku dan memintaku mencarimu; membawamu pulang dalam keadaan selamat. Jika kau merasa kasih sayang Mama sedangkal itu untuk membiarkanmu mati, maka ia akan melakukannya lima belas tahun lalu. Jika kau menyangka Mama menutupi kepergian Papamu untuk kebaikannya sendiri, maka kau salah besar. Ia melakukannya untukmu. Semua yang Mama lakukan, dia melakukannya untukmu."
Jungkook mulai kehilangan tenaga. Ia mencengkram pergelangan tangan Taehyung dengan kedua jemarinya. Merapatkan matanya erat untuk menguatkan diri.
"Hiduplah lebih lama. Bernafaslah lebih lama. Jika waktunya tepat, mari temui Papamu dan pinta jawaban darinya. Bertahanlah. Tertawalah. Dan beritahu Papamu jika kau hidup dengan begitu menyenangkan tanpanya. Bilang padanya, jika kau dan Mama tidak butuh Papamu dengan pemikirannya yang sesempit itu. Tanpa menjadi seorang serigala, kau sudah memukau. Kau berharga. Kau sangat berharga, Taehyung-ah."
Kala itu, kejadiannya berlangsung cepat. Ie menggeleng frustrasi pada Jungkook. suaranya tercekik.
"Aku mau h-hidup. Aku ingin hidup."
Satu ucapan itu membuat Jungkook melayangkan senyuman bangga. Ia mengeratkan cengkramannya. Jungkook yang menariknya ke atas permukaan tanah dengan penuh kekuatan dan nafas kelelahan yang berisi kesungguhan. Dan di detik kemudian, tubuh Jungkook terjungkal dari tepi tebing. Taehyung berhasil memijak tanah, sementara tubuh Jungkook melongsor turun melayang jatuh.
Jika ada yang bertanya kapan Taehyung mulai mencoba untuk berhenti mencintai Jeon Jungkook, maka Taehyung dengan pasti akan menjawab saat umurnya beranjak lima belas tahun, dengan ribuan skpekulasi tentang Papanya merebak di sekolahnya, dengan Taehyung yang selalu pulang ke rumah setiap hari dengan tangisan karena ledekan dan dorongan brutal pada tubuhnya yang kurus, dan juga dengan tubuh Jungkook jatuh menimpa permukaan laut yang gelap, mulai tenggelam di antara debur ombak ganas yang menyeramkan hanya untuk menyelamatkan kebodohannya.
.
.
.
Taehyung ingin jatuh cinta lagi, bukan karena tanda di lehernya yang Jungkook sematkan enam belas tahun lalu, tetapi karena itu adalah Jungkook. Jeon Jungkook.
.
.
[TBC]
.
.
Aduh aku makin lama makin soft ini sama taehyungnya. Getaga bikin dia jahat wakakaka.
Thanks for the reviews di previous chapter. KALIAN TUH JJANG SEKALEEEH! Sini aku peluk satu-satu! Heheheh.
Dan minal aidzin walfaidzin ya, teman-teman! Maafkan kalau aku ada salah sama kalian. Selamat Hari Raya Idul Fitri!
