Summary : Parody Cinderella + parody Aladdin! Len adalah laki-laki malang yang mempunyai ibu tiri dan dua kakak perempuan tiri dan menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Suatu hari, Sang Pangeran Kaito mengadakan lomba breakdance! Bagaimanakah ceritanya?


Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corp & Crypton Media Future

Cinderolla © Reeiikya

Warning : OOC, OOT, Abal, Jelek, Jayus, Garing, ada misstypo dan typo.

DON'T LIKE DON'T READ


.

******* POV : I ever write it, right? *******

.

Aku kini duduk di sebuah kursi berhiaskan motif bintang emas dan benang emas yang mewah sekali. Malahan, sepertinya kursi ini seutuhnya terbuat dari emas murni. Tak hanya kursi ini saja yang terbuat dari emas murni. Kasur, meja, gorden, lantai, bahkan langit-langitnya pun terbuat dari emas murni. Sangat mewah.

Heck, tempat apa-apaan ini? Membuatku ingin muntah saja. Aku tidak pernah menyangka ada ruangan seperti ini. Dan juga, kenapa aku dipaksa masuk ke ruangan ini? Memangnya aku sudah setuju untuk menjadi hime di kerajaan ini? Tentu tidak!

Pangeran Kaito itu sungguh menyebalkan. Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak mau tinggal di Istana, apalagi tinggal bersamanya? Cih, aku juga dipaksa menikah dengannya. Memangnya aku mau? Tentu saja tidak! Grr, semua orang di Istana ini membuatku marah besar!

"Hime-sama. Apakah anda ada di dalam?" terdengar suara memanggil dari luar pintu ruangan yang sekarang aku tempati ini.

Beberapa penjaga kerajaan membuka pintu ruangan yang sekarang aku tempati. Mereka terlihat mengenakan baju lapis baja dan membawa tombak yang terlihat sudah diasah sangat tajam. Kemudian, satu dari penjaga-penjaga itu membawa sebuah gaun yang diletakkan di sebuah hanger dan diberi plastik. Jangan jangan...

"Hime-sama. Anda diperintahkan Pangeran Kaito untuk mengenakan gaun ini disaat pesta pertunangan yang akan diadakan sebentar lagi. Jadi, anda diminta untuk segera mengenakan gaun ini," kata penjaga yang membawa gaun.

"Hah? Pertunangan?"

"Benar, hime-sama. Pertunangan antara anda dengan Pangeran Kaito."

"Heck! Apa-apaan itu? Aku tidak mau mengenakan gaun itu! Lebih baik kalian membawa gaun itu kembali ke Pangeran Kaito dan katakan padanya kalau aku tidak akan pernah mau tinggal bersamanya!" teriakku kesal kepada para penjaga-penjaga itu.

Kemudian aku memerintahkan penjaga-penjaga itu keluar dari ruangan yang kutempati dengan kesal. Setelah penjaga-penjaga itu keluar dan tidak terdengar lagi suara langkah kakinya, aku merebahkan diriku di kasur yang tentu saja terbuat dari emas murni yang ada di ruangan yang sekarang kutempati ini. Aku memandang langit-langit dengan mata sayu dan berkaca-kaca.

"Apa mungkin aku bisa keluar dari tempat ini? Ataukah, aku tidak punya pilihan lain lagi kecuali menikah dengan Pangeran Kaito? Hmm, andai saja aku masih punya banyak waktu sebelum ini semua terjadi, maka aku akan mencoba untuk memperbanyak waktu bermainku," gumamku.

"Hey, Len!"

Aku mendengar seseorang memanggilku. Pelan tapi pasti, suara itu berasal dari ruangan ini. Aku duduk di kasur it dan aku memutar kepalaku untuk mencari siapa yang memanggilku. Tapi aku tidak bisa menemukan siapa yang memanggilku itu. Aku menghela nafas dan kembali duduk sambil menundukkan kepalaku. Mungkin itu hanya imajinasiku saja.

"Aku disini, Len!"

Aku melihat bayangan seseorang di balik gorden emas itu. Aku segera berlari menuju gorden itu. Dan, apa yang kulihat? Dua gadis yang sedang berpakaian serba hitam layaknya agen yang sedang menjalankan misi rahasia. Yang satu, aku mengenalnya. Yang satunya lagi, aku tidak mengenalnya.

"Kak Miku!" teriakku kaget.

"Ssst, diam Len! Ayo cepat kita keluar dari sini sebelum ada yang curiga dan melihat semua ini!" balas Kak Miku dengan suara super pelan.

"Ah, b-baiklah. Tapi kak, siapa dia?" aku menunjuk gadis yang datang bersama Kak Miku.

"Ah, dia temanku. Namanya Kagaine Rin. Dia mengetahui kalau kau ada di Istana ini karena saa itu ia juga mengikuti lomba breakdance dan melihat tarian breakdance milikmu."

"Hng, tapi-"

"Sudahlah! Yang penting kita harus segera keluar dari tempat ini! Ayo cepat!"

Braak! Pintu ruangan yang tadi kutempati terbuka. Beberapa penjaga masuk sambil menodongkan tombak ke arah kami. Bagaimana bisa mereka tahu kalau Kak Miku dan temannya itu ada disini dan hendak membawaku keluar dari tempat ini? Heck, kenapa harus ketahuan, sih!

"Kalian berdua! Diharapkan jangan bergerak dan jangan berani menyakiti hime-sama!"

"Damn, kalau begini jadinya, semua rencana yang kita susun bakal sia-sia!" kata Kak Miku.

"Benar! Apa yang harus kita lakukan?" Kagaine Rin angkat bicara.

Kak Miku terdiam dan terlihat berekspresi kesal. Aku hanya bisa cengo dan terdiam melihat semua ini terjadi begitu saja. Aku menundukkan kepalaku dan mulai berdo'a, semoga saja akan ada hal baik terjadi.

"Len, Rin, kalian pergi saja berdua. Aku akan menahan mereka semua disini. Cepat selamatkan diri kalian!"

"Lalu kau bagaimana, Miku?" Kagaine Rin memandangi Kak Miku.

"Sudah kubilang aku akan baik-baik saja disini. Kalian sebaiknya pergi saja! Cepat lari dari tempat ini!"

"Tidak! Kak Miku harus ikut!" teriakku.

"Hei Len, aku ini kakakmu. Kau harus patuh padaku, mengerti? Sekarang, pergilah!"

Kagaine Rin menarik tanganku dan membawaku keluar ruangan itu melewati jendela. Kemudian, ia melompat ke sebuah trampolin yang sepertinya sudah disiapkan di bawah. Aku mengikutinya dan melompat ke trampolin itu. Aku dan Kagaine Rin segera berlari secepat mungkin keluar dari wilayah kerajaan.

"Ayo cepat! Kita naik itu!" Kagaine Rin menunjuk sebuah motor ber-merk V-ixion dan segera naik di bangku depan.

Aku mengikutinya dan seger naik di bangku belakang. Kemudian dengan secepat kilat, Kagaine Rin memacu motor itu secepat kilat. Aku hanya bisa berpegangan sekuat mungkin.

"Kagaine Rin, kita mau kemana?" tanyaku.

"Ke tempat yang cukup aman untukmu."

"Dimana? Jangan bermain rahasia-rahasiaan denganku. Aku ini gampang marah kalau ada sesuatu yang disembunyikan."

"Sudahlah, tutup mulutmu, Kagamine Len. Yang penting adalah kau selamat."

Aku mendengus dan berdecak kesal.

"Pegangan lebih erat. Aku akan menambah kecepatan."

Kecepatan ditambah dan motor yang kunaiki sekarang ini melaju kencang sekali. Seolah-olah semua benda yang ada di pinggir jalan tidak terlihat dan hanya terlihat seperti garis-garis yang bergerak lurus.

~o0o~ ~xXx~ ~o0o~

Aku duduk di rumahku dengan santai. Aku sudah selesai membersihkan rumahku dan semua yang diperintahkan oleh ibuku. Kemudian aku melakukan senam ringan dan menguap lebar.

"Huaaah, ngantuk."

"Len, apa kau sudah membersihkan rumah?" terdengar suara ibu memanggilku.

"Ah, sudah bu. Sekarang aku mau istirahat sebentar."

"Yasudah. Tapi jangan istirahat terlalu lama. Kau tahu, 'kan? Rin hendak datang ke rumah kita."

"Iya, bu. Aku tahu."

Sekarang, semua berjalan terkendali dan tenang. Aku bisa kembali ke rumah dengan tenang dan menjadi kekasih dari Kagaine Rin yang ternyata adalah adik dari Pangeran Kaito. Awalnya aku tak percaya, tapi kini aku percaya.

Setelah kejadian itu, Ibu dan kak Tei merubah sikap. Mereka menjadi lebih baik padaku dan menjadi lebih peduli padaku. Ceritaku sebagai cinderella yang kurang bahagia di rumah ini kini telah berubah. Aku kini adalah anak yang berbahagia.

Ah iya, aku lupa satu hal untuk kuceritakan. Sebenarnya, setelah kejadian pelarianku dari Istana Aizuphire, banyak hal-hal yang telah berubah.

Kak Miku yang melindungiku dan Rin dari penjaga istana saat itu, kini telah menjadi istri sah Pangeran Kaito. Aku tidak tahu cerita lengkapnya. Tapi, kudengar saat itu Pangeran Kaito datang ke ruangan itu dan melihat Kak Miku dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka sekarang menjadi pasangan yang bahagia. Apa aku bisa bahagia bersama Rin seperti Kak Miku dan Pangeran Kaito?

"Len, aku datang," terdengar suara yang tidak asing bagiku. Suara Kagaine Rin.

"Rin, kau sudah datang?" jawabku sambil tersenyum menatapnya.

"Iya, apa kau sudah siap untuk pergi?"

Aku mengangguk. Rin tersenyum dan kemudian berjalan ke arahku. Ia mengecup dahiku dan aku membalasnya dengan memberikan kecupan di pipinya. Wajah kami merah merona seketika. Kemudian, kami berpegangan tangan bersama-sama memandangi masa depan kami yang aka bahagia selamanya.

"Rin, kapan kita akan menikah seperti kakakmu?" tanyaku.

"Hmm, menikah ya? Mungkin besok..." Rin tertawa kecil.

"Ah, ini bukan bercanda. Ini sungguh-sungguh!"

"Sungguh-sungguh? Lalu bagaimana kalau sekarang saja kita menikah."

"Sekarang?"

"Iya, sekarang."

Rin berlari sambil menggandeng tanganku ke sebuah gereja yang sepertinya sangat mewah. Entah apa yang akan dilakukan Rin. Tapi, aku tetap aka bahagia bersama Rin.

.

.


OWARI!


A/N :

Hello minna! Maaf apdetnya lama. Nyehehe *smirk*

Dan juga, gomen kalau di chap ini kayaknya pendek banget dan alurnya begitu cepat. Habis, saia ngetiknya tergesa-gesa. Jadi, maafkan ketergesaan saia! *sujud*

Dan lagi, maaf kalau ceritanya aneh dan menyimpang dari cerita asli Cinderella & Alladin. Saya minta maaf sebesar-besarnya! Dan juga, endingnya nggantung banget! *sob sob*

.

Nee, Jangan pedulikan spam saya di atas. Yang pasti, review ya? Saya sudah menungu review kalian sejak lama (?) Review to the point! xD


Review please~