Disclaimer : I do not own Naruto!
Warnings : OOC, totally AU fic.
Semenjak kepergian Sasuke yang mendadak Hinata bagaikan mesin tak berjiwa, bergerak oleh rasa tanggung jawab besar yang ada di dirinya. Sasuke adalah sahabat Hinata sejak dia masih belum bisa menghitung jumlah jari kakinya, kini dia tidak lagi di kota yang sama dengannya.
Hinata tersiksa oleh pertanyaan yang dia ajukan kepada dirinya sendiri sehubungan dengan kepergian Sasuke. Mengapa dia pergi? Kata-kata terakhirnya terus terngiang di benak Hinata, 'mulai saat ini kita harus menjauh' apakah Sasuke muak menjadi tempatnya berkeluh kesah? Itu tidak mungkin, Hinata tidak percaya itu karena selama ini Sasuke sangat peduli kepadanya. Walau dengan cara uniknya sendiri, tapi Hinata mengerti semua kepedulian Sasuke kepadanya meski lewat kata-kata yang tidak selalu enak terdengar.
Dari seluruh teman yang dimiliki Hinata, hanya Sasuke lah yang menunjukkan dengan jelas rasa ketidaksukaannya mendengar Hinata yang baru saja menyelesaikan kuliahnya akan menikah dengan Deidara yang baru dikenalnya enam bulan. Deidara yang baru beberapa tahun terakhir ini tinggal di Konoha adalah anak dari pendiri salah satu perusahaan besar yang dikenal Hinata di universitasnya, Deidara harus segera menikah bila ingin meneruskan kepemimpinan ayahnya, itu adalah syarat yang berlaku di keluarga mereka.
Entah dia hanya memanfaatkan Hinata atau tidak namun Hinata benar-benar mencintainya pada saat itu, dan dia tidak menolak saat Deidara melamarnya. Di saat Hinata mengikat janji suci, Sasuke lah yang pertama memberikan selamat dengan senyum bahagia yang jarang terpahat di wajah dinginnya. Dia akan selalu bahagia untuknya, Sasuke dan Neji bagaikan kakak yang melindungi Hinata.
Keberadaan Sasuke sangat alami di sekelilingnya, mereka pergi ke sekolah, taman, dan lingkungan yang sama selama bertahun-tahun di Konoha. Setelah kepergian Sasuke seakan-akan sesuatu telah terenggut dari dadanya, sesuatu yang vital telah terenggut paksa. Kekosongan itu membuatnya limbung, walau tetap dapat berjalan dengan kedua kakinya, langkah dihidup Hinata tak lagi tegap. Kehilangan itu telah membuat sebagian hatinya kosong, Hinata sangat menyayanginya sebagai sahabat.
Itulah yang dikatakannya kepada dirinya sendiri, tapi benarkah seperti itu adanya? Ataukah arti kata-kata itu sama bila dia mengucapkan bila api itu dingin? Entah mengapa Hinata tidak bisa terlalu dekat dengan teman wanita lainnya, selain dengan Hanabi. Namun dengan Sasuke, Hinata bisa menceritakan hal apapun. Walau apa yang dia ceritakan itu adalah hal yang memalukan yang akan membuat kening orang lain berkerut saat mendengarnya, tapi tidak dengan Sasuke.
Persahabatan mereka tidak sepenuhnya bisa dibilang persahabatan yang hangat bila salah satu orang itu adalah Sasuke Uciha yang terkenal dingin dan agak sombong, sebagian besar waktu yang dihabiskan mereka bersama, Hinata lah yang berbicara panjang lebar. Terkadang Sasuke menjawab dengan kalimat pendek seperlunya, namun lebih sering dia mengacuhkan Hinata.
Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Hinata, walau di beberapa kesempatan yang amat jarang terjadi Sasuke mau berbagi satu atau dua hal kepadanya. Mereka berbagi rahasia kecil dan mimpi yang tidak diketahui orang lain, itu sudah membuatnya merasa bahagia. Sikap Sasuke yang dingin dan acuh tidak masalah baginya, mereka sering menghabiskan waktu bersama dalam keheningan yang nyaman. Hanya dengan menikmati keberadaan masing-masing itu cukup untuk persahabatan mereka, saling melengkapi.
Persahabatan yang dijalinnya berubah menjadi sesuatu yang egois dari sisi Hinata, di tiga bulan pertama pernikahannya. Karena desas-desus telah terdengar disaat itulah dia lebih membutuhkan Sasuke sebagai tempat bersandar. Desas-desus itu pertama kali Hinata dengar dari Ino, dia memang teman Hinata yang sangat peduli akan apapun disekitarnya. Setelah berkencan dengan bersama pacarnya larut malam, tidak sengaja dia melihat Deidara memasuki sebuah apartemen bersama seorang wanita berambut panjang berwarna merah.
Saat itu Hinata hanya tersenyum dan mengatakan terima kasih kepada Ino telah memberitahunya, tanpa memberi kesempatan Ino untuk berkata lebih lanjut atau mengajukan satu pertanyaanpun Hinata berhasil mengalihkan pembicaraan. Waktu bergulir dengan cepat, rumor semakin merebak di kalangan teman-teman Hinata, dari wajah dan perilaku yang terbaca oleh Hinata kebanyakan mereka merasa kasihan kepadanya.
Setelah Ino giliran Sakura yang memberinya kata-kata manis penyemangat dengan pesan tersembunyi yang dapat dibaca dengan jelas oleh Hinata, pesan itu senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ino. Sakura mengetahui hal itu dan dia merasa sangat kasihan kepada Hinata, Hinata tersenyum lembut kepadanya. Dia menghargai apa yang dilakukan Sakura sebagai sahabatnya tetapi dia tidak mau di kasihani oleh orang lain, walau dia tidak perduli akan pendapat orang tentangnya namun lama-kelamaan Hinata mulai muak akan semua itu. Dia tidak lemah seperti kebanyakan anggapan semua orang, dia tahu kekuatannya, kelemahannya, hanya saja dia memilih untuk diam dan menjadi seorang gadis baik. Lemah dan baik adalah dua hal yang sangat jelas berbeda.
Yang terakhir datangnya dari Sasuke.
"Apa yang akan kau lakukan bila yang dikatakan mereka adalah kenyataan?" tanya Sasuke dengan acuh sambil memandangnya dari balik bahu.
Pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya pada saat itu terngiang-ngiang terus di kepalanya. Dia tidak tahu jawaban apa yang harus dikatakannya, tetapi Sasuke tahu.
"Pertahankan apa yang kau miliki, perjuangkanlah bila itu sangat berharga bagimu"
Tiga hari setelah Sasuke mengatakan hal itu, tanpa sengaja bukti telah tergenggam di tangan Hinata. Kemudian Deidara mengakui rahasia kelamnya, namun yang paling menyakitkan adalah tidak ada satu kata maaf pun yang terucap dari mulutnya. Hinata mempunyai andil besar atas kesalahan yang telah dia lakukan, dia tidak cukup baik untuknya, itu tuduh Deidara. Walau begitu, Hinata percaya dia akan dapat merubah keadaan seperti semula. Hari-hari dilaluinya dengan pergulatan batin yang melelahkan, belum lagi mood yang berubah-ubah karena kehamilannya. Hinata dan Deidara berada di dalam satu atap namun jarang sekali percakapan terlontar diantara mereka.
Bagaikan musuh yang menyamar sebagai pasangan hidup, hari dilalui dengan perang dingin. Yang paling menyedihkan untuk Hinata adalah tidak ada sentuhan lembut di perutnya yang mulai membengkak, tidak ada kecupan dan bisikan sayang untuk sang calon anak tercinta. Tidak ada sosok pria bertitel suami yang dapat meringankan morning sickness yang dialaminya dengan kecupan sayang.
Satu-satunya hal yang diberikan suami untuk calon bayi tercinta adalah obat penggugur kandungan dua minggu setelah Hinata memberitahukan kehamilannya. Tidak ada waktu hangat yang dihabiskan bila mereka berdua berada di dalam satu ruangan, kedua insan itu tidak dapat menurunkan tirai pertanda sandiwara cinta telah usai. Waktu berlalu, kepercayaan yang dimilikinya semakin tipis bagai tebing yang tergerus oleh air laut. Perlahan namun pasti cinta remaja bodohnya yang menggebu-gebu itu mulai pudar lalu menghilang tanpa bekas.
Lukisan indah tentang pernikahan yang dimilikinya telah coreng-moreng dengan noda kebohongan dan kekecewaan. Hinata tidak lagi kuat, dia tidak bisa lagi bertahan bila apa yang dipertahankan tidak lagi berharga baginya. Suaminya tidak lagi pantas untuknya, dia tidak lagi berharga untuk dipertahankan bila dia terus memperlakukan Hinata seperti sampah. Sudah cukup Hinata mendengar semua tuduhan tak berdasar yang ditujukan kepadanya, semua itu hanyalah alasan agar Deidara dapat mengikis sedikit perasaan bersalah di dirinya.
Hinata tidak akan diam saja kali ini, ini yang kedua kali dia menjalin hubungan dengan wanita itu dibalik tirai hitam penghianatan. Dia harus mengambil tindakan, dia akan menemui perempuan bodoh itu dan memutus benang kusut yang diuntai suaminya. Sembilan puluh hari sudah cukup baginya untuk menanti keajaiban yang takkan hadir untuk datang memeluknya. Tidak akan ada keajaiban yang dapat merubah sifat seseorang dengan mudah, khususnya untuk Deidara. Hinata telah sampai di ambang garis pembatas antara hadapi atau terus berlari, dan dia memilih pilihan yang pertama.
-.
Hinata mematut diri di cermin, berbagai macam alat rias berserakan di hadapannya. Untuk sesaat, dia hanya tertegun menatap barang-barang itu. Pada akhirnya hanya pemulas bibir berwarna merah muda natural, perona pipi, maskara, dan eye liner yang dipulas tipis di wajahnya. Pada hari ini dia harus tampil cantik tanpa terkesan berlebihan untuk mengintimidasi lawan, dia akan menemui orang yang sudah beberapa waktu ini mengganggu kewarasan yang dimilikinya. Gadis cantik berumur 21 tahun dengan senyum manis menatap balik dari cermin, senyum itu seakan disangkal oleh matanya yang sendu.
"Aku siap" bisik Hinata kepada gadis di cermin.
Hari itu Hinata memakai blouse hitam model hi-low, panjangnya hingga pertengahan paha di bagian depan dan semata kaki di bagian belakang, pakaian yang dikenakannya menyamarkan kehamilannya yang sudah menginjak usia 7 bulan. Rambutnya yang hitam kebiruan tergerai, ia memakai sepatu kanvasnya. Hinata terlihat cantik, kasual dan polos pada saat bersamaan. Dia melirik sekilas ke jam tangan, saat suaminya memacu mobil di jalan raya. Masih banyak waktu tersisa dari yang dijanjikan, jalanan sangat kosong, wajar saja, saat itu sudah jam 11 malam. Sepanjang perjalanan dihabiskan Hinata menatap keluar jendela mobil, kelebatan gedung hanyalah latar belakang suram pikirannya. Perutnya mual, terpilin, dengan segala pikiran yang menghantamnya.
"Tenang saja Hinata, aku sudah memutuskan" ucap Deidara berusaha menenangkan hati istrinya.
Hinata menoleh untuk memandangnya yang menatap lurus ke lalu lintas di depannya, dia tidak berkata apa-apa.
"Aku akan memilihmu" nadanya meyakinkan tetapi Hinata tahu kalau ada keraguan yang bergelayut di ucapannya, sangat banyak keraguan. Bagi Hinata itu terdengar seperti, aku memilih untuk tetap bekerja sama dengan perusahaan yang dimiliki oleh ayahmu.
"Hm.." Hinata mencoba tersenyum tetapi tidak bisa, wajahnya seakan kaku seperti lilin.
Dia memalingkan wajah, tidak ingin menatap kepalsuan lagi. Dia sudah sangat muak, dia tidak bodoh dan dia tidak mau dibodohi. Sudah lama dia menutup mata dan telinga, walau dia sendiri sudah menangkap gelagat aneh dari Deidara tapi dia tidak ingin percaya begitu saja selama tidak ada bukti di tangannya karena sudah seharusnya bagi seorang istri untuk lebih mempercayai suaminya daripada segelintir orang luar kan? Hinata tertawa getir, menertawakan kenaifan yang dimilikinya dulu.
"Ada apa Hinata?" nada Deidara penasaran "Apa kau meragukan ucapanku?"
"Hm, tidak. Aku hanya teringat hal yang lucu" jawabnya, Deidara menatapnya sesaat sebelum kembali mengalihkan perhatiannya lagi kepada jalan lurus di depannya. Hinata tidak berbohong, kenaifannya dulu memang suatu yang lucu bila dipikirkan saat ini.
Menjadi remaja yang baru pertama kali mengenal rasa cinta kepada lawan jenis membuat hanya segala hal manislah yang dilihatnya. Keluarganya sudah memperingatkannya saat memilih Deidara, tapi apa daya Hinata hanyalah salah satu remaja yang tergila-gila kepada sosok laki-laki tampan yang saat itu sangat sempurna untuknya. Setelah menikah, sosok laki-laki itu menjadi seseorang yang acuh dan dingin.
Walau begitu Hinata tetap menjalani hidup dengan bahagia sebelum kepercayaan yang menjadi tiang pondasi keluarga kecil miliknya hancur. Entah sudah berapa lama suaminya menjalin hubungan dengan wanita itu, dia tidak mau memikirkan itu, dia tidak mau menduga-duga tapi yang pasti dia harus menyelesaikannya. Walau hatinya telah hancur, dia harus melakukan ini, tidak ada jalan lain. Dia harus menahan diri dari segala emosi, Hinata akan menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita tangguh, dia akan menemui perempuan itu.
Setelah mereka telah memasuki area mall, Hinata pamit pada Deidara sebentar untuk pergi ke kamar kecil. Hinata sedang mencuci tangan di ruangan yang penerangannya dibuat remang itu, saat seorang wanita yang tidak dikenal menyapanya.
"Hai, Hinata" Hinata berbalik memandangnya sambil mengeringkan tangan dengan tisu dengan pandangan bertanya.
"Karin" katanya dengan ceria sambil mengulurkan tangan, Hinata menyambut uluran tangan wanita itu.
Senyum wanita itu tidak lepas dari wajahnya, "Ayo" ajaknya.
Tidak butuh waktu lama untuk Hinata menyadari bahwa dialah wanita itu! Rambut merahnya panjang melewati bahu, dia melirik sekilas memandang Hinata dari kacamatanya yang berbingkai hitam. Tubuhnya sedang, dia mengenakan celana pendek dan kaos. Sekilas memandang tidak ada yang menarik perhatian dari dirinya, tidak wajahnya, tidak juga tubuhnya, kecuali warna merah rambutnya yang mencolok mata. Hinata diam dan mengikutinya, di lorong depan toliet Deidara melayangkan senyum canggung saat mereka berdua muncul.
Di luar gedung utama mall itu terdapat sebuah taman besar yang dikelilingi oleh kafe-kafe, mereka bertiga jalan beriringan menuju sebuah kafe yang riuh dengan suara musik, namun bunyi di dalam dada Hinata melebihi ramai dentuman dari musik yang sedang berputar. Jantungnya berdentum, Hinata bisa dan akan menahan diri, dia tidak akan merendahkan dirinya sendiri dengan memukul wajah wanita itu walau dia ingin sekali. Memikirkan menyarangkan tinju di wajah wanita itu lalu wajah Deidara membuatnya tersenyum kecil, itu akan sangat membuatnya puas tapi itu akan berhasil menurunkan harga dirinya dan menjadi bahan tontonan gratis khalayak ramai. Dia tidak akan mempermalukan dirinya seperti itu, dia mempunyai caranya sendiri untuk membalas mereka.
Kafe itu bergaya factory, cahaya kekuningan menerangi dinding batu bata yang dihiasi berbagai macam tulisan berbingkai yang menginspirasi. Setelah mereka bertiga duduk di sudut dan mengusir pelayan dengan segera memesan minuman, Karin memulai pembicaraan.
"Hinata bagaimana keadaan bayimu?" tanya Karin dengan nada riang yang dibuat-buat.
Hinata mengerutkan kening sesaat, perempuan yang menghancurkan rumah tangganya bisa dengan mudah menanyakan kehamilannya. Ingin sekali Hinata mengatakan, itu bukan urusanmu bodoh, tapi dia menahan diri.
"Baik" jawabnya dingin, wajahnya datar.
Karin tidak lagi berani berbasa-basi dengan tanggapan seperti yang diberikan oleh Hinata.
Deidara memecahkan kecanggungan yang aneh itu dengan berbicara "Jadi.." Deidara berdeham, bukan untuk membersihkan kerongkongan tapi lebih untuk mencairkan suasana yang lebih beku dari gunung es. Deidara berada di samping Hinata, tatapannya tertuju kepada Karin yang duduk di seberang meja.
Belum sempat Deidara berbicara lebih jauh "Aku mundur" ucap Hinata sambil tersenyum manis kepada kedua orang itu yang kini menatapnya dengan wajah tak percaya.
"Hinata, biarkan aku berbicara dulu" potong Deidara "Aku kan sudah bilang kalau aku.." Hinata menoleh, menanti kata-kata yang akan diucapkan Deidara selanjutnya tetapi tidak ada kata lanjutan yang keluar dari mulutnya. Keraguan Hinata akan kebulatan tekad Deidara telah terbukti.
"Kau akan apa Dei?" Hinata memasang wajah polos tapi kata-katanya menantang.
Deidara mengalihkan pandangannya ke Karin sesaat sebelum kembali menatap Hinata.
"Tidak apa, aku sudah menduganya" Hinata tersenyum ganjil "Kau tidak perlu cemas, biar aku yang melanjutkan" pandangan Hinata teralih kepada Karin. "Aku lelah dengan segala kebohongan yang Deidara katakan kepadaku, entah kau mengetahuinya atau tidak aku tidak perduli" Deidara memandang ke luar kafe di sebelah kanan meja mereka.
"Aku telah memberi kesempatan kepadanya untuk memutuskan hubungan yang kalian miliki, tapi kenyataannya dia hanya mengiyakan dan tidak merealisasikan perkataannya" Hinata menepuk pundak Deidara "Jadilah laki-laki dan lihat aku Dei!" perintah Hinata.
Hinata menunggu Deidara menoleh memandangnya sebelum melanjutkan "Kau berbohong padaku, kau menghianatiku, kau mengacuhkan aku dan anakmu, yang lebih parahnya lagi kau tidak meminta maaf atas kesalahanmu. Tipe manusia macam apa kau yang malah menyalahkanku atas semua kesalahan yang kau lakukan!?" ekspresi di wajah Hinata berubah-ubah, marah, sakit, sedih, kemudian heran.
"Karena itu aku meminta pertemuan ini, aku tidak ingin tetap di dalam sandiwara yang kalian mainkan" Hinata berhenti sejenak sebelum melanjutkan, dia menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya. Dia mencoba untuk menurunkan emosinya yang bergejolak, emosi yang tidak baik untuk dirasakan bayi di dalam kandungannya.
"Aku tidak akan meminta kau memilih" Hinata memandang Deidara yang kini tengah menatapnya, tidak perlu rasanya dia mengungkapkan panjang lebar cinta bukanlah suatu pilihan karena hati tidak memilih.
"Seperti yang aku bilang tadi, aku mundur. Dei, kau tidak perlu khawatir dengan pekerjaanmu karena aku bisa meminta ayahku untuk bekerja sama dengan perusahaan milik ayahmu" Hinata tersenyum kecil "Aku harap kalian dapat berbahagia, tapi satu yang aku pinta" sepanjang apa yang Hinata ungkapkan Karin hanya terdiam.
"Jangan ganggu aku dan anakku!" kalimat terakhirnya sangat tegas tidak memberikan kesempatan untuk dibantah.
"Hinata" suara Deidara seperti memohon, dia mulai panik.
"Aku mohon jangan ganggu aku lagi, terserah apa yang akan kalian lakukan, aku sudah tidak perduli" kedua sudut bibirnya terangkat "Aku sudah memaafkan kalian" Hinata berkata dengan penuh kebanggaan kepada dirinya sendiri.
Deidara mencengkram lengannya dengan kuat "Aku tidak akan melepaskanmu Hinata" suaranya terdengar kasar.
Senyum di wajahnya menghilang, Hinata meringis menahan sakit "Lepaskan! Kau menyakitiku Dei" rintihnya.
Cengkaraman Deidara sedikit mengendur "Aku tidak akan melepaskanmu, aku mencintaimu, kau harus mengerti itu" rahang Deidara mengeras.
"Aku tidak ingin kita menjadi pusat perhatian" tatapan Hinata memandang ke sekelilingnya, semua orang yang ada di kafe itu masih sibuk dengan urusannya masing-masing.
Sejak awal Karinlah yang memutuskan untuk bertemu di kafe yang ramai, dia takut kalau Hinata akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Tentu saja itu pikiran bodoh, karena seorang Hinata Hyuga tidak akan menjatuhkan harga dirinya sendiri untuk seorang perempuan sepertinya.
"Deidara!" panggil Karin lemah meminta perhatian.
Hinata menghentakkan lengannya agat terlepas dari cengkraman suaminya "Lalu apa yang kau mau? Kau ingin aku diam saja melihat kau terus membodohiku Dei? Apakah kau pikir aku bodoh hah?" alisnya bertautan.
"Aku tidak pernah mengatakan kau bodoh Hinata" wajah Deidara mengeras.
Hinata memejamkan mata, dia menarik nafas panjang. Hinata lalu berusaha mengingat malaikat kecil di perutnya, dengan mengingatnya dia bisa menurunkan ketegangan di dirinya.
"Apa yang kau inginkan? Aku akan memberikan semuanya asal kau melepaskanku dan anakku Dei" Hinata menatapnya dengan mantap, tidak ada keraguan sama sekali di dirinya untuk berpisah dari sumber kesengsaraannya.
"Aku menginginkanmu dan aku juga menginginkan Karin, aku mencintai kalian berdua" ucap Deidara penuh penekanan disetiap kata yang terucap.
Suara nafas Karin yang tercekat terdengar jelas, dia kecewa. Selama ini Deidara berjanji akan berpisah dari Hinata hanya untuk bisa bersamanya.
Hampir saja Hinata meneriakan kata-kata yang keluar dari mulutnya, tapi dia bisa menahan diri disaat-saat terakhir "Yang benar saja Dei, itu bukan cinta!" ujarnya lembut "Kau tidak akan bisa merengkuh malam dan siang secara bersamaan" Hinata tertawa kecil mengejek.
"Persetan dengan itu semua, kau membawa penerus darahku bersamamu, dia milikku Hinata" Deidara berbicara dengan rahang terkatup, dia menghempaskan lengan Hinata.
Hinata mengelus lengannya yang masih terasa sakit "Jadi sekarang kau memutuskan untuk peduli kepada anak ini, apakah kau sudah tidak ingin membunuhnya?" tanyanya dingin.
Karin tertunduk memandangi krim yang mengambang di minumannya, bukan inilah yang diharapkannya. Melihat kekasihnya tidak ingin melepaskan Hinata menusuk perasaannya, bukankah seharusnya dia yang tidak ingin dilepaskan oleh Deidara? Bukankah pertemuan ini untuk menegaskan kepada Hinata kalau dialah yang menguasai hati Deidara?
"Hentikan drama bodoh ini, lepaskan dia Deidara kau sudah berjanji kepadaku" sentaknya dengan suara melengking.
"Diam kau!" seru Deidara yang semakin memerah karena marah.
"Kau yang diam, hentikan omong kosongmu itu dan biarkan dia pergi!" tubuh Karin condong ke meja.
Hebat, wanita bodoh ini ingin menampilkan drama murahan di depan orang banyak pikir Hinata "Maaf aku tidak ingin terlibat di dalam kekacauan ini lebih jauh" suara Hinata tegas "Deidara kau tidak perlu khawatir, anakmu akan selalu kujaga sepenuh hati, aku tidak akan menanamkan kebencian di dirinya kepadamu"
Dengan cepat Hinata bangkit dari duduknya "Aku permisi" dia bungkuk sesaat lalu pergi.
Deidara bangkit dari kursinya untuk mengejar Hinata, tetapi Karin menahannya dan mendorongnya agar kembali jatuh terduduk di kursinya dan tetap di tempat hingga Hinata menghilang dari pandangan. Hinata berjalan setengah berlari, dia menaiki taksi yang berderet di lobi mall, tidak ada air mata yang mengalir di wajahnya, tidak setetespun. Air matanya tidak pantas diteteskan untuk mereka dan memang tidak ada kesedihan yang menaunginya saat ini.
Hanya kelegaanlah yang membumbung di dadanya, dia tersenyum, sangat bangga kepada dirinya sendiri. Bukan cacian dan makianlah yang akan mereka dapatkan darinya untuk membalas semua perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya, ia tahu dengan sangat pasti bahwa cara terbaik membalas mereka adalah dengan hidup lebih baik dan berbahagia. Iya, hidupnya akan bahagia tanpa drama lain lagi bersama Deidara.
-.
14 bulan kemudian...
"Tahukah kalau kau itu begitu menggemaskan" suara Hinata seperti anak kecil bila berbicara kepada bayinya yang kini berusia tepat sebelas bulan, bayi itu memandang Hinata balik dengan matanya yang besar dan sebuah senyuman sumringah terukir di wajah gembulnya.
"Mama pergi dulu ya, kau harus jadi bayi kecil yang manis selama mama pergi bekerja oke" Hinata mencium seluruh wajah bayi yang berada di pelukannya, bayi itu terkikik senang sambil mengeluarkan suara 'gugogu' yang menggemaskan.
Wajah Hinata sedih, dia tidak akan pernah terbiasa dengan perasaan sedih setiap kali harus berpisah dengan Hikari setiap harus berangkat kerja. "Mama usahakan segera pulang untuk menemuimu" Hinata memberikan ciuman lagi dan lagi di wajah Hikari.
"Kau bisa mempercayakannya kepadaku" ucap Natsu sambil tersenyum manis.
"Terima kasih" Hinata tersenyum dengan penuh rasa terima kasih kepada orang yang juga telah merawat dirinya dan Hanabi sedari kecil, dengan itu Hinata meninggalkan anaknya lalu berangkat kerja.
Sudah 8 bulan Hinata bekerja di sebuah perusahaan sebagai asisten manager, dia menjalani hidup barunya sebagai orang tua tunggal dengan bahagia. Pada awalnya ayahnya sangat marah, namun tetap menyambutnya dengan kedua tangan. Walaupun hingga saat ini Hinata tetap bisa melihat kekecewaan yang tergurat jelas di wajah ayahnya setiap melihat wajahnya, tapi setidaknya gurat kekecewaan itu langsung terhapus setiap ayahnya melihat Hikari, cucu perempuannya. Siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada Hikari, dengan melihatnya saja semua orang pasti akan ingin memeluknya.
Hikari bagaikan replika kecil yang sangat menakjubkan dari Hinata, kedua mata violet yang indah, rambut hitam kebiruan. Perbedaan mereka hanyalah lesung pipi yang akan timbul di pipi sebelah kanan Hikari setiap dia tertawa, Hikari adalah bayi yang murah senyum, itu membuat semua orang gemas kepadanya karena bibir mungil merah mudah itu akan dengan cepat tersenyum setiap siapapun mengajaknya 'berbicara'. Satu-satunya hal yang dikhawatirkan Hinata tidak terjadi, dari semua stres yang dialaminya saat mengandung, Hinata sangat takut Hikari akan terlahir dengan kurang sempurna.
Tapi semuanya sempurna, hari-harinya yang tenang dijalaninya di rumah orang tuanya. Tidak ada tangisan menyesali masa lalu, dia hidup, membuat kesalahan, memperbaikinya, lalu melanjutkan hidup. Dia tidak akan membiarkan kesengsaraan berlama-lama bergelayut di hidupnya yang sesaat, kabar Deidara dan wanita itu tidak lagi di dengarnya, tidak pula ada kehadirannya di saat kelahiran anak mereka. Namun itu tidak membuat Hinata bersedih, terlalu banyak hal yang menyakitkan yang dilaluinya dengan Deidara. Dia menolak rasa cinta itu tersisa di hatinya, Hinata lebih bahagia saat ini tanpa adanya sosok yang melambangkan penghianatan.
Hinata baru saja menghempaskan diri di kursi kerjanya, sekat menghalangi pandangannya saat dua kepala memasuki ruangan yang diisi oleh lima pegawai termasuk dirinya, di meja kerja Hinata yang rapi terpajang foto Hikari yang sedang tersenyum lebar. Hinata kini bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang elektronik, dia menolak untuk bekerja di perusahaan yang dimiliki ayahnya dengan alasan ingin berdiri di atas kaki sendiri.
"Selamat pagi semuanya" sapa suara laki-laki yang bergetar karena usia. Hinata belum sempat berdiri, ia baru saja merapikan bajunya yang tidak kusut saat mendengar atasannya kembali berbicara.
"Seperti yang saya katakan kemarin, hari kita kedatangan seorang pegawai pindahan dari kantor pusat" suara laki-laki tua itu terdengar sangat semangat.
Bersamaan Hinata berdiri, bersamaan pula dengan suara pria itu melanjutkan "Uchiha Sasuke akan menjadi manajer baru kalian, dia akan menggantikan Kurenai yang sedang cuti melahirkan"
Mulut Hinata terbuka lebar tidak percaya siapa yang di lihatnya, Uchiha Sasuke! Sasuke berdiri disana dengan tegap mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan mata hitam legamnya yang dingin, dia memakai kemeja biru muda dan setelan hitam dengan dasi abu-abu. Rambutnya masih panjang menutupi telinganya, hanya sedikit lebih pendek dari yang diingat oleh Hinata. Percikan semangat seperti kembang api menyala di dalam tubuhnya, sahabat yang entah berapa lama tidak pernah di dengar kabarnya kini berada di hadapannya!
"Uchiha Sasuke telah berhasil meningkatkan perkembangan perusahaan kita, jadi kita sangat beruntung mempunyai dia disini" kini suara itu hanyalah suara samar yang terdengar di telinga Hinata, pikiran dan pandangannya tertuju kepada laki-laki yang sangat dirindukannya itu.
Sasuke! Tidak salah lagi, ingin sekali Hinata langsung berlari mendekatinya lalu memeluknya.. Kehangatan mengalir di hatinya, dia senang dan lega melihat sahabatnya baik-baik saja. Mata Sasuke menangkap sosok Hinata yang berdiri dengan senyum mengembang dan mata yang bersinar-sinar, Hinata bisa melihat kalau Sasuke terkejut melihatnya. Sasuke membungkuk saat pegawai yang lain membungkuk untuk menghormatinya.
Tatapan mata Sasuke kembali kepada Hinata setelah dia menegakkan tubuhnya lagi, untuk sesaat Hinata dapat melihat dia mengangkat kedua sudut bibirnya keatas sebelum kembali digiring oleh atasannya ke ruangan lain yang dituju. Dia akan memberikan tinju terbaiknya di lengan Sasuke nanti, beraninya dia meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan satu kontak pun yang bisa dihubungi. Oh, Sasuke pasti akan mendapatkan hukuman darinya, itu pasti. Hinata tersenyum, tak sabar menunggu waktu makan siang nanti untuk menemui Sasuke.
E/N : Jadi... ini dia sequel yang dijanjikan. Gimana menurut kalian? Moga kalian suka, walau di chapter ini minim Sasuke tapi chapter ini penting untuk ditulis walau gak penting utk dibaca :D. Chapter 1 itu pendek bgt krn itu memang ide mendadak (tau kan rasanya liat adegan muter terus di otak yang gak bakal ilang kalo belum ditulis) dan awalnya emang gak ada niat untuk bikin MC. Gw berusaha sebisanya untuk update seminggu sekali, tp kayaknya fanfic ini gak bakalan lebih dari 8 chapter deh.
The last but not least, thx bgt buat semua yg udah review, fav, follow. Special thx for Keno :*
Gw siap menampung kritik yang membangun, thx ^.~
