"Haruno,"
"I-iya?" Seketika aku menghentikan langkahku.
"Kau bilang akan ke perpustakaan, kan?"
"Iya." Jawabku lagi tanpa membalikkan badan.
"Seharusnya kau belok ke kanan." Ucapnya disertai nada yang menahan tawa.
Aku masih diam di tempat.
Suara sepatu yang lain terdengar menjauh. Ia telah berlalu.
Mengapa menahan tawa? Belok ke kanan? Aku menolehkan kepalaku ke persimpangan lorong yang telah kulewati beberapa langkah. Di sebuah ruangan tertulis 'Perpustakaan'. Dan aku kembali menolehkan kepalaku ke depan.
Itu kan ... tempat parkir? Sebelah tanganku menepuk jidatku. Lagi-lagi ...
...私たちの間の愛
Chapter 2
Warning(s) : #ISLAMICFIC, AU, OOC –maybe-, typho(s), banyak pengulangan kata, etc.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Aruzakira
Inspirated : Novel Akatsuki Miyazaki Ichigo
.
.
.
.
.
.
.
.
Kali ini angkasa tampak bahagia. Terbukti dengan banyaknya bintang-bintang di kanvas yang berperan sebagai latar belakangnya.
Aku pernah dengar, apabila salah satu bintang di langit berkedip-kedip cepat dan disusul dengan teman-temannya yang lain, itu tandanya salah satu peri bintang sedang berulang tahun. Terdengar aneh dan kekanakan, ya.
Setiap aku melihat langit, seperti ada daya magnet tersendiri yang membuatku tertarik. Aku merasa seperti ada sesuatu yang lain di sana.
Kakiku menekuk dan aku memeluk kedua lututku, semilir angin malam terasa menyentuh pori-pori kulitku. Ya, aku sedang berada di atap rumahku sekarang. Perlahan kedua kelopak mataku tertutup. Kurasakan hawa malam yang dingin mulai menyergapku.
Hm.
Dingin.
Identik dengan seseorang yang akhir-akhir ini membuatku sering salah tingkah bila berhadapan dengannya. Berbicara tentang dia, aku kembali teringat tentang penjelasannya saat di depan gedung olahraga beberapa minggu yang lalu.
'Aku orang Islam. Di sini tidak ada mushola atau masjid untuk beribadah.'
Islam ...
Aku tak menyangka seorang misterius seperti dia juga bisa memiliki sebuah keyakinan penuh akan suatu agama.
Berbeda sekali denganku.
Aku kembali terjaga. Menatap atap rumahku yang sedang kududuki kini dengan diam. Memikirkan kira-kira seperti apa perjalanan hidupku ke depannya di dalam pikiran kritisku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAK!
Dalam tundukan kepalaku aku tersentak. Tou-san menggebrak meja. Aku mengangkat kepalaku. Benar saja, Tou-san berdiri dengan wajah memerah karena marah.
"Tak akan pernah ada yang namanya Tuhan, Sakura! Jangan pernah tanyakan hal itu lagi pada Tou-san!"
Aku menunduk menatap makanan di depanku yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. Sarapan kali ini terasa lebih tegang. Sepertinya Tou-san kesal padaku. Walaupun sebenarnya aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja padanya.
"Tapi, Tou-san, Sakura hanya ingin kita memiliki sebuah konsistensi akan sesuatu. Saat hari-hari besar, Tou-san mengajak Sakura untuk mengunjungi Kuil dan berdo'a di sana, bahkan membuat kertas permohonan pada pohon Sakura di Kuil. Namun saat ada perayaan yang lain, Tou-san juga mengajak Sakura ke Klenteng. Sakura tidak ingin kita menjadi dua orang yang tak mempunyai perindian akan suatu agama, Tou-san. Rasanya membuat Sakura merasa-"
"-Cukup, Sakura Haruno." Desis Tou-san, "jangan pernah mengajari Tou-san! Tou-san mengajakmu ke Kuil ataupun Klenteng hanya untuk menghormati arwah leluhur kita dan tak ada hubungannya dengan kepemelukan agama! Kita TIDAK PERLU ber-a-ga-ma, Sakura!"
Setelah berbicara dengan penekanan dan menyentakku seperti itu, Tou-san segera berlalu dari ruang makan. Meninggalkanku dengan seribu pernyataan.
Lima puluh persen ini memang kesalahanku membuat suasana sarapan pagi ini terasa kurang menyenangkan. Aku menanyakan pada Tou-san akan tujuan Tou-san mengajakku berpindah-pindah tempat ibadah saat hari-hari besar, kupikir Tou-san akan mempertimbangkan akan memilih masuk agama apa, dan tanpa kusadari disaat itu pula aku menyinggung Tou-san.
Tou-san menatapku tajam dan berkata bahwa itu bukan urusanku.
Kesalahanku yang ke dua, aku kembali bertanya pada Tou-san mengapa Tou-san selalu berpindah-pindah tempat ibadah, apakah Tuhan tidak marah apabila begitu cara pengikutnya beribadah?
Dan ... ya. Selalu jawaban seperti tadilah yang Tou-san lontarkan,
"Tak akan pernah ada yang namanya Tuhan, Sakura! Jangan pernah tanyakan hal itu lagi pada Tou-san!"
Sebenarnya kepemelukan suatu agama di keluargaku selalu menjadi 'anti' pembicaraan sejak nenek moyang. Keluarga dari Tou-san maupun Kaa-san selalu menegaskan bahwa menjadi atheis lebih baik dari mereka yang memeluk suatu agama.
Bahkan semenjak Kaa-san meninggal akibat pendarahan di otak, yang menurut mereka itu sebuah kutukan dari sosok yang mereka yakini tak ada itu keluargaku semakin menjadi keluarga atheis. Tentu saja aku tak percaya dan tak menganggap pemikiran mereka.
Aku sendiri yang berbeda.
Aku tidak tahu darimana pikiran-pikiran itu, namun pernyataan-pernyataan tentang keagamaan, tempat ibadah, bahkan para pengikutnya yang bisa yakin atas agama yang mereka peluk selalu berputar-putar bagai puzzle. Terkesan ... indah. Dan selalu menjadi teka-teki yang tak bisa ku jawab.
Selalu membuahkan hasil nol.
Sejujurnya pikiran-pikiran itu sering muncul hanya semasa aku kecil. Semasa aku duduk di bangku awal SD, saat aku mulai menyadari bahwa keluargaku atheis. Saat aku duduk di kelas lima sampai sebelum aku tahu bahwa Sasuke memeluk sebuah agama yang sangat jarang di sini dengan teguh, aku tak pernah memikirkannya lagi. Cenderung lupa, malah.
Pemikiran seperti ini lagi membuatku merasa de ja vu.
Aku menatap sisa sarapan Tou-san, sepertinya tadi mimik muka Tou-san terlihat sedikit aneh saat mencicipinya.
Tapi, ya sudahlah. Lagipula sudah tak di makan.
Sisa-sisa atmosfer dingin karena kemarahan Tou-san ini membuatku tak betah berdiam diri di rumah. Ditemani keheningan ruang makan yang menyelimutiku, makanan yang sedari tadi kudiamkan pelan-pelan kumakan.
Kedua sumpitku memasukkan sepotong daging dari sumpit ke dalam mulut. Kemudian kukunyah dengan penuh perasaan. Karena pada kenyataannya daging yang kumasak masih belum bisa terkunyah secara normal. Kemudian kurasakan.
1 menit ...
2 menit ...
Kukeluarkan lagi kunyahanku ke dalam mangkuk kosong di sebelahku.
Pantas saja.
Ehm, kesalahan ketiga.
Akibat Tou-san menjadi gampang tersinggung bisa saja karena kare buatanku hari ini.
Benar-benar memiliki rasa yang ... BOOM! Fantastis.
Tatapanku menjadi nanar menatap kare di hadapanku. Sayang, kau tak bisa ku makan.
Setelah ini lebih baik aku sedikit me-refresh sel-sel otakku di luar rumah sekaligus mencari makanan yang patut untuk ku makan. Masalah kare ini tak ada salahnya, kan, kuberikan saja pada Shasha. Kucing yang tak memiliki hak milik di sekitar rumahku.
Poor Tou-san no Gomennasai, Tou-san, hihi.
Note : Jangan anggap aku sinting karena setelah tersambar 'konser mulut' Tou-san malah cekikikan. Ini bawaan lahir. Aku serius.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah insiden 'bentakan' Tou-san pada Hari Minggu kemarin, hubunganku dengan beliau menjadi lebih canggung. Hari ini saja aku sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi, atau mungkin terlalu pagi, hanya untuk menghindari sarapan semeja dengannya. Ah, anak durhaka.
Sifatku yang susah kuubah ini memang bawaan genetika dari Kaa-san. Kaa-san adalah wanita yang sensitive sekaligus wanita yang sangat lembut hatinya. Sangat persis denganku.
Ee ... apa? Oke, oke. Aku tak selembut beliau. Bisakah berhenti menatapku jealous?
Ngomong-ngomong, jam berapa sih, ini? Sepi sekali di sekolah. Kulihat jam tangan hitam yang menempel manis di tangan kiriku.
Jarum panjang menunjukkan angka lima di temani jarum pendek yang tak jauh keberadaannya dengan si jarum panjang. Berbelit-belit, ya. Baiklah kuberi tahu, saat ini waktu masih menunjukkan pukul 05.30. Apabila kalian tidak bisa membacanya, akan kujelaskan. Saat ini masih jam setengah enam pagi.
Pantas saja masih –sangat- jarang siswa-siswi berkeluyuran bak makhluk akstral bergentayangan. Aku menikmati hembusan embun yang menerpa wajahku.
Segar.
Nah, kelasku terlihat semakin dekat sekarang.
Sedikit lagi.
Langkahku semakin kupercepat.
Dan ... yak. Sampai.
Pintu geser kelas masih tertutup. Tak ada seseorang kah di dalam?
Belum sampai tanganku menyentuh handel pintu geser di depanku, pintu geser tersebut bergerak sendiri ke arah samping. Sedikit membuat lompatan kecil pada jantungku.
Pintu geser yang telah tergeser itu menampilkan seorang ... Uchiha Sasuke?
"Uchiha?" Nama yang terlintas di pikiranku saat itu juga ikut terlontar dari bibirku.
"Hn?" Jawabnya sedikit tertahan. Oh, sepertinya ia juga sedikit kaget dengan kehadiranku yang secara tiba-tiba ada di hadapannya.
"Tidak, tidak jadi." Jawabku cepat. Aku menengok ke dalam kelas, memberikan maksud bahwa 'aku- ingin-masuk- jadi-tolong-permisi.'
Mengerti tanda-tandaku, ia memberi jarak agar aku dapat melaluinya. Melalui ekor matanya aku tahu bahwa ia sedikit melirikku saat aku seperti biasa, tak sampai sedetik lirikan tak kasat mata itu kembali tertuju pada pemandangan di hadapannya. Seolah ia sama sekali tak pernah melirikku.
Saat aku telah meletakkan tasku di bangku dan duduk, ia masih saja berdiri tegap di pintu kelas. Tak ambil pusing aku membiarkannya saja. Tak ingin merusak ritual aneh di pagi harinya.
Baru saja tanganku hendak memasang headset di kedua telingaku, Sasuke berbalik badan dengan cepat menghadapku. Mata kelamnya tetap saja tak mau melihatku. Hanya menatap bangku di depanku.
"Haruno," ucapnya datar.
"Ya?" Aku menaikkan sebelah alisku bingung, menatapnya intens. Ntah mengapa ia semakin menjauhkan pandangannya dariku, seolah mengatakan ia tak ingin kutatap begitu.
Mengapa aku bisa mengerti maksud tanpa ucapan darinya? Haha, aku juga tidak tahu. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, ya.
"Beberapa minggu yang lalu, atas dasar apa kau mengikutiku?"
Pikiran konyolku seketika menghilang saat ia menanyakan hal yang sebenarnya ingin kuhindari. Aku maluuuu.
"Aku ... saat itu kan, sudah ku bilang, aku hanya penasaran apa yang kau lakukan di dalam gedung olahraga." Jawabku dengan nada yang menyeret panjang di akhir kalimat. Biarlah ia menganggapku seperti anak balita yang tak ingin disalahkan saat ini.
"Hanya itu?" tanyanya lagi. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kedua saku celananya.
"Uhum." Kepalaku mengangguk, memberikan jawaban bahwa aku benar-benar tak bermaksud menguntitnya.
"Aa," Setelah bergumam tak jelas, ia kembali membalikkan badan dan berlalu dari kelas tanpa mengucapkan sepatah kata apapun untukku.
Ada yang tahu maksudnya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seusai membeli limun segar bersama teman-teman perempuan sekelas setelah pelajaran penjaskes, kami pun berpisah. Sebagian dari kami memilih langsung berganti pakaian sedangkan sisanya menghilang, menekuni kesibukan masing-masing mereka. Termasuk aku.
Aku akan lebih memilih mendiamkan diri di kelas dengan pendingin ruangan daripada harus berlalu lalang tak jelas di lorong-lorong kelas yang telah ricuh dengan obrolan siswa-siswi yang menjadi satu. Membuat telingaku panas, jujur saja.
Saat menuju kelas aku melewati gedung olahraga, aku kembali teringat Sasuke. Langkahku kuperlambat.
Rasa itu kembali muncul. Rasa penasaran.
Apakah kali ini Sasuke berada di dalam sana? Seperti apa ibadah orang Islam? Bagaimana bisa menjalani ibadah dimana saja?
Aku melangkah mundur, menjajari pintu gedung olahraga. Pintunya sedikit terbuka, memberikan celah untukku agar dapat melihat apa yang terjadi di dalam.
Itu Sasuke!
Ia menggunakan aku tidak tahu itu topi atau apa berwarna hitam, dan kain yang membalut pinggang sampai mata kakinya yang beraksen kotak-kotak.
Ia berdiri di atas sebuah kain. Seperti permadani namun sepengelihatanku ukurannya lebih kecil. Aku tak tahu apa yang dilakukannya, karena dia membelakangiku. Yang jelas kepalanya menunduk dan tangannya seperti bersedekap.
"Sakura-chan? Apa yang kau lakukan di sini?" Aku terlonjak mendengar suara feminim di belakangku. Hinata rupanya. Aku memegangi dadaku yang nyaris tak bisa kukontrol kecepatan denyutannya tadi.
"Oh, Hinata, hai. A-aku ... kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Semoga saja Hinata tak menyadarinya.
"Sebentar lagi kelasku ada jam penjaskes, Guy-sensei menyuruhku mengecek gedung olahraga apa masih digunakan atau–"
"-Masih digunakan!" Potongku cepat. Aku tersenyum masam kepadanya.
"Hountou?" Hinata menjijit untuk melihat keadaan dalam gedung olahraga melalu celah yang terus terang saja sedang kututup-tutupi.
Semoga tak terlihat ... semoga tak terlihat ...
"Iya, masih digunakan." Aku kembali melontarkan kalimat yang sama pada Hinata dengan raut meyakinkan.
'Cepatlah Uchiha ...'
"Baiklah, aku akan menyampaikannya pada Guy-sensei. Jaa, Sakura-chan," Hinata berlalu dariku dengan lambaian tangan lentiknya.
"Jaa," Aku balas melambaikan tangan padanya dengan raut yang yaaah begitulah.
'Hampir saja,' batinku lega. Seandainya Hinata masuk dan melihat Sasuke beribadah, apa yang akan terjadi? Aku tidak tahu Hinata itu atheis atau tidak, kalau ia beragama mungkin ia masih bisa menghargai, tapi kalau ia atheis bisa gawat, kan.
"Ha-ru-no."
Siiiiiiinngg.
Kedua pupil emeraldku melebar. Aku tahu suara bariton ini. Seketika pikiranku melayang pada perjanjian yang kubuat sendiri.
Tidak. Menguntitnya. Lagi.
Aho! Aho!
Jika sudah seperti ini, hanya ada satu cara.
Satu ...
Dua ...
Tiga!
Run, run, run!
"Gomennasai, Uchiha!" Teriakku tanpa membalikkan badan dan semakin mempercepat lariku menuju kelas tersayang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah dua hari ini setiap aku dan Sasuke berpapasan pasti ia mengeluarkan aura suram yang membuatku bergidik seketika. Dan hebatnya ia tak menatap ataupun melirikku sama sekali.
Kaulah satu-satunya, Uchiha Sasuke!
Satu-satunya yang dapat membuatku merasa bodoh sendiri. Ck, Uchiha no aho. Haruno no aho. Biarkan saja aku meledek diriku sendiri dan dirinya. Agar impas.
Saat ini hanya ada aku dan Sasuke yang masih berada di kelas. Kami bukan tak melakukan apa-apa, kami sibuk membereskan buku yang penuh menghiasi bangku masing-masing, mengingat jam pelajaran telah berakhir.
Sasuke selesai lebih dulu. Ia melewatiku begitu saja. Aku meliriknya dengan wajah tertekuk.
Aura suram dari tubuh Sasuke kali ini benar-benar membuatku tak betah. Sudah kuputuskan aku akan menyelesaikan kasus tak jelas ini!
Berikan palu padaku untuk mengetok bangku ku tiga kali akan keputusanku tadi.
Iya, lebay. Aku tahu.
"Matte yo, Uchiha." Panggilku kesal. Aku memakai tas ranselku seraya mendekatinya yang telah berada di pintu kelas.
"Hn?" Balasnya tanpa berbalik. Moodku semakin buruk. Aku melewatinya dan berdiri tepat di hadapannya. Menatapnya intens.
Ia sempat memandangku. Namun cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, seperti biasa.
Dengan menghembuskan nafas perlahan, aku berkata, "Gomen atas masalah di gedung olahraga kemarin. Aku tahu kau marah padaku karena aku mengingkari janjiku untuk tak mengusikmu. Demo, kali ini kau tak bisa sepenuhnya menyalahkanku atas perbuatanku kemarin. Dan kupikir seharusnya kau harus berterima kasih padaku karena telah menyelamatkanmu."
"Untuk apa?" Maji de ka?! Hanya itu yang diucapkannya setelah aku menjelaskan panjang lebar tentang ehm, kesalahanku?! Urat-urat di pelipis kepala pink milikku pun bermunculan.
"Untuk apa?! Tentu saja untuk menghargai usahaku karena aku telah menyelamatkanmu dengan menghalangi Hinata masuk. Ia diperintahkan Guy-sensei mengecek gedung olahraga apakah masih digunakan atau tidak. Dengan begitu aku telah menyelamatkanmu yang saat itu sedang bertemu dengan Tuhanmu, kan?!" Jelasku lagi dengan nada naik satu oktaf.
"Lain kali, urusi saja urusanmu." Ucapnya sarkastik, hiks.
Aku menunduk, menyembunyikan wajahku karena terskak-mat oleh ucapannya yang tak sebanding dengan celotehku barusan ditemani bibir yang mengerucut. Sungguh tak adil.
Lalu tanpa tanda-tanda apapun ia berjalan melewatiku yang masih menyimpan rasa mengganjal di ulu hati karena mengingkari janji yang kubuat sendiri. Aku ingin mencegahnya, tapi rasanya sulit sekali.
"Haruno," panggilnya tanda kudunga.
Kepalaku spontan kembali terangkat dan menatap punggung tegapnya yang tak jauh dariku.
"Tenang saja, aku tak marah padamu."
Na- nani?! Mataku membulat sempurna.
"Matte! Lalu mengapa aku merasakan aura suram saat aku berpapasan denganmu?!" Ucapku tanpa sadar.
"Kau terlalu memikirkan tanggapanku saja sampai berimajinasi seperti itu." Jawabnya seraya mengambil langkah menjauh. Suaranya tak begitu jelas, namun aku cukup tahu apa yang dikatakannya.
Aku yang berdiam diri di tempat memikirkan kalimat terakhirnya.
Seperkian detik aku tetap memikirkan kalimat terakhirnya.
Benarkah?
Benarkah?
Benarkah?
Dan aku sadar bahwa pipiku memanas hanya karena setengah diriku menerjemahkan arti lain dari kalimat ambigu Uchiha Sasuke.
'Mungkin kau terlalu memikirkanku sampai seperti itu ...'
T- tidak!
Tapi ... benarkah?
Run, run, run, Sakura!
TBC
A/N :
Sebelumnya arigatoubuat semua reviewers di chapt satu kemarin. Domo arigatou! *ojigi*
Chapt dua ini kualitas diksi, dialog, sama plotnya rendah banget, ya? Huhu. Aru sendiri juga ngerasa gitu, kok. Absurd isinya :3 Tapi berhubung ide juga udah diujung (buat chapt 2) yaudah akhirnya nekat publish.
Sempat terpikir nge-discontinue ini, cuma apa kata nanti deh :l
So, Mind to RnC? Arigatou :3
