Asuma menghebuskan asap rokok dimulutnya secara perlahan. "Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi dalam. Bila mereka tidak kunjung keluar selama dalam waktu dua jam. Kita akan menyusul mereka."
.
Disclaimer : Naruto_Masashi Kishimoto
Disclaimer : THE MUMMY_ Dhiya Chan
Genre : Romance, Humor, Conflik, FriendShip
Pair : Naruto Uzumaki & Sasuke Uchiha
Warning : Gaje, parah, ga nyambung, jelek, abal, de el el
.
.
.
Naruto menyusuri sebuah lorong panjang berukuran 3x2 meter dengan akar-akar pohon bergelantungan disepanjang langit-langit lorong tersebut. Tak hanya di langit-langit, dinding lorong tersebut banyak dipenuhi akar pohon dan sarang laba-laba melintang dari dinding sebelah kiri sampai ke sebelah kanan hingga membuat Naruto harus mengotori kedua tangannya untuk membersihkan jalan yang akan dilaluinya.
"Ughh! Coba saja tadi aku bawa pisau kalau seperti ini nantinya" gerutu Naruto mengibas-ngibas kan tanganya dari sarang laba-laba yang menempel.
Naruto kembali mengfokuskan perjalanannya. Tangan kanannya yang masih memegang erat ponsel berfitur flip kembali disorotkannya untuk memperjelas pengelihatannya pada tempat yang ada disekelilingnya. Retakan-retakan kecil hingga bongkahan-bongkahan batu terdapat disepanjang jalan yang ia lalui tak menyurutkan semangat pemuda bermata biru seterang langit itu untuk melangkahkan kakinya lebih jauh lagi. "Benar-benar mengagumkan!" decak Naruto kagum akan keindahan dinding yang dilewatinya walaupun sudah cacat dan terkubur selama ribuan tahun. Bangunan tersebut masih menampakkan kekokohannya seperti tidak akan pernah roboh walau diterjang tsunami sekali pun. Di permukaan dinding tersebut terdapat banyak simbol-simbol aneh berbentuk seperti gambar anak-anak TK yang baru tau belajar menggambar. Selama beberapa saat Naruto berjalan menyusuri koridor panjang tersebut, akhirnya Naruto sampai pada sebuah tempat yang sedikit besar dari lorong yang sebelumnya pernah dilaluinya. Ukurannya sekitar 5x4 meter dengan panjang sekitar 10 meter dengan ujung lorong tersebut terdapat sebuah pintu berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 7 meter. 'Sepertinya itu tempat mahkamnya berada' batin Naruto dengan santainya melangkahkan kaki kanannya.
'KREKK~!'
"Eh?!" merasa ada bunyi aneh, Naruto menolehkan kepalanya secepat kilat pada lantai yang sedang ia pijaki. Betapa terkejutnya Naruto saat melihat telapak kakinya seperti menyentuh kubin berbentuk persegi tampak tertekan dalam karena berat telapak kakinya. Kubin tersebut jika dilihat-lihat seperti tombol rahasia yang berisi…
'JLEB!'
.
.
Diluar perkemahan tampak seorang gadis berambut pink mondar-mandir dari arah bibir lubang yang telah menelan beberapa orang pria yang ada didalamnya beberapa saat lalu. Gadis berambut pink tersebut tanpa gusar, berkali-kali ia mengumpat kesal pada pemuda berambut pirang yang sudah seenak jidatnya masuk kedalam lubang tersebut tanpa tahu menahu bahaya yang akan menimpanya. Tak beberapa lama kemudian, gadis itu pun terus komat-kamit tidak jelas pada pria-pria yang masuk kedalam lubang tersebut tak juga menapakkan batang hidungnya setelah beberapa menit tenggelam dalam lubang gelap yang ada dibawah kakinya. Orang-orang yang berada disekitar situs penggalian hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat ketidak sabaran pada gadis itu.
"Tenanglah Sakura, mereka baru pergi 35 menit yang lalu. Sisa waktu mereka kurang dari 1 jam 25 menit lagi. Santai saja, waktu masih panjang dan aku jamin, tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka." Asuma menghisap penuh rokok yang masih tersisa ¼ dimulutnya hingga menyisakan putungnya saja. " Aku yakin itu" ia pun membuang dan mengijak putung rokok tersebut dengan kaki kirinya.
"Bagaimana sensei bisa seyakin itu. Dibawah sana terdapat banyak jebakan mematikan yang bahkan tidak mereka ketahui dimana letaknya berada. Bagaimana selama 35 menit itu, telah terjadi sesuatu dengan mereka hingga mereka belum muncul juga sampai sekarang. Bagaimana kalau mereka tersesat disana hingga tidak tahu jalan pulang menuju kemari? Bagaimana kalau mereka semua terjebak dalam sebuah tempat yang bahkan tidak mereka ketahui bagaimana caranya mereka bisa keluar dari tempat itu?! Oh 'Tuhan'~ aku benar-benar bisa gila kalau seperti ini terus!" Sakura mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Tenanglah. Kakashi dan Obito ada bersama mereka, mereka telah berpengalaman dalam hal seperti ini. Percayakan semua ini pada kemampuan mereka, mereka semua pasti akan selamat"
"Kakashi sensei memang berpengalaman dari mereka semua, tapi itu juga tidak bisa menutup kemungkinan nyawa mereka bisa selamat. Tempat ini baru mereka ketahui, dan tentu saja hal yang baru akan sangat sulit terdeteksi karena mereka tidak mengetahui bagaimana seluk beluk tempat itu!"
"Kau tenang saja Sakura"
"Eh?!" Sakura menolehkan kepalanya kearah Neji yang duduk tak jauh dari tempatnya berpijak dengan kedua tangan terlipat didadanya. "Jika kau ingin mereka selamat. Kau harus percaya pada mereka yang ingin selamat dan keluar membawa mahkam itu. Bukannya terus gelisah dan menyebut mereka tidak akan pernah selamat seperti ini. Setiap kata adalah doa, jika kalau kau terus berpikiran mereka tidak akan selamat. Besar kemungkinan mereka juga tidak akan selamat, dan jika kau optimis mereka selamat. Mereka pasti akan selamat. Kau mengerti?!"
Sakura tertunduk mendengar ucapan Neji, ada benarnya juga. Harusnya Sakura optimis dan yakin kalau mereka semua akan selamat, bukannya malah seperti mendoakan mereka tidak akan muncul lagi didepan kedua matanya. Sepertinya kata-kata Neji berhasil membangunkan kepercayaannya pada teman-temannya yang sedang berjuang untuk mendapatkan impian mereka dibawah sana dengan taruhan nyawa yang mereka miliki. Sakura menghirup nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. "Iya… Aku mengerti…"
.
.
.
'JLEB!'
"Kyaa~~~!" Naruto teriak histeris dengan tubuh yang ditarik paksa kebelakang saat melihat tombak besar dari arah sebelah kanannya meluncur dengan cepatnya. Naruto tampak ketakutan melihat tombak tersebut menancap dengan kuat di batok kepala tenggorak yang tergeletak sembarangan disebelah kirinya. Merasa ada yang mengalir dari pipinya, membuat Naruto mengusap pipi kanannya dengan punggung tangannya saat menyadari yang mengalir tersebut adalah darahnya sendiri karena tergores tombak besar tersebut. Naruto menghela nafas lega, untung saja hanya pipinya yang tergores, bukan kepalanya yang hancur terkena tombak sadis nan mematikan itu.
"Uh~, syukurlah. Kita datang tepat waktu" sosok laki-laki beralis tebal tampak sedang mengusap peluh didahinya melihat adegan menegangkan itu.
"Kakashi sensei! Guy sensei!" mata Naruto berbinar-binar melihat dua orang sosok didepannya tampak terengah-engah seperti habis lari marathon yang menguras tenaga.
"Sudah ku bilang padamu sebelumnya Naruto. Jangan beranjak kemanapun! Kau lihat sendirikan apa yang akan terjadi padamu bila kami tidak segera menyusulmu." Kakashi menggerakkan dagunya kearah tulang belulang yang sudah tertancap tombak besar di kepalanya. Naruto hanya bergidik ngeri mengelus-ngelus kepalanya membayangkan posisinya akan bernasip sama dengan batok kepala tenggkorak itu.
"Hehehe, a-aku hanya terlalu bersemangat saja mencari mahkam itu. J-jadi tanpa sadar tubuhku bergerak dengan sendirinya masuk kedalam tempat ini" Naruto tertawa canggung saat mendapat sorot mata mematikan dari kedua orang yang ada dihadapannya.
"Ya sudah. Mumpung kita bertiga sudah masuk kedalam tempat ini. Kita langsung cari saja mahkam sang kaisar. Aku yang akan memimpin perjalanan kita, apa kalian setuju?"
"Yosh! Kami setuju!" Naruto dan Guy mengacungkan tangan kanannya dengan semangat.
"Baiklah pertama-tama kita cari tempat lain yang bisa menghubungkan kita dengan jalan yang ada dihadapan kita itu" Kakashi menunjuk jari telunjuknya pada pintu yang terletak diujung lorong itu.
"Kenapa kita tidak lewat sini saja?" Kakashi menolehkan kepalanya secepat kilat pada Naruto dengan tatapan dinginnya seolah-olah berkata, 'Kau ingin bernasip seperti dia?' tunjukknya pada tulang yang tertancap tombak besar itu. "B-Baik-baik. Aku lebih memilih lewat lain saja sama seperti kalian" Naruto mengangkat kedua tanganya keatas seperti seorang penjahat yang menyerahkan diri pada pak polisi. Kakashi hanya menggeleng kepalanya pelan. Didalam otaknya berkelana memikirkan situasi buruk yang dibuat oleh dua orang super tidak beres akal dan pikirannya (Disantet Guy n Naruto) akan menimpa dirinya, dari pada memikirkan jebakan maut menantinya mencari mahkam sang Kaisar, justru kedua orang ini lebih membahayakan dari sekedar jebakan mematikan. Kakashi mulai meraba-raba dinding lorong yang ada disebelah kanannya seperti sedang mencari sesuatu. Didekatkannya kedua telinganya kearah dinding tersebut, diketuknya pelan, dan kemudian meraba kembali. Naruto dan Guy hanya mengerutkan alisnya melihat kelakukan aneh sensei berambut perak itu. Mereka hanya diam saja melihat apa apa yang dilakukan Kakashi, tidak berani menginterupsi aksi sang sensei bila mereka masih sayang pada nyawa mereka agar tidak lempar Kakashi kedalam jebakan yang bisa merontokkan batok kepala mereka yang telah tersusun rapi dari sang maha pencipta. Mulut sih boleh diam, tapi didalam hatinya mereka 'What the hell? Ngapain tuh cowo mata satu kayak orang gila ngetok-ngetok dinding? Mau jadi tukang bangunan jangan disini dong mas!', ckckckck.
"Ahh~, panasnya" Naruto mengibas-ngibaskan baju kaus warna hitamnya, berusaha menghilangkan hawa panas yang ada di dada bidangnya yang telah dialiri keringat layaknya air terjun. Dengan tangan yang terus mengibas-ngibas bajunya, Naruto pun menyenderkan lengan kirinya pada patung naga di sebelah kiri koridor tersebut untuk menyamankan posisi aksi mengipas-ngipaskan tubuhnya.
'GREKKK~!'
"Eh?!" kaget ketiganya saat mendengar suara benda bergeser dari patung yang sedang disandari Naruto. Kakashi melihat kearah Guy, Guy melihat kearah Naruto, sedangkan Naruto melihat kearah keduanya dengan tatapan binggung.
1 detik kemudian…
"GYAAA~~!" teriak ketiganya saat lantai yang mereka pijaki terbuka dengan bebasnya hingga mereka bertiga masuk kedalam lubang tersebut.
.
.
.
"Apa kalian dengar sesuatu?" tanya Obito pada keempat orang yang ada dibelakangnya. Mereka hanya menggelang kepalanya pelan menjawab pertanyaan Obito. "Umm~, mungkin hanya perasaan ku saja" Obito mengendikkan bahunya singkat dan kembali berjalan terlebih dahulu dengan tangan kanan menyinari sekeliling ruangan yang sedang mereka jelajahi. Seperti sama halnya dengan Naruto, Obito dan yang lainnya juga melewati lorong panjang yang berisi semak belukar, akar-akar pohon, dan juga sarang laba-laba disepanjang lorong yang mereka lewati. Dengan pisau yang tergenggam erat di tangan kirinya, Obito memangkas habis akar-akar itu. Tak sampai 10 menit menelusuri lorong panjang dan merepotkan itu, Obito cs sampai pada pada sebuah tempat yang luas dengan dinding berbentuk cekung dari bawah hingga sampai keatas langit ruangan tersebut menunjukkan kesan ruangan itu seperti didalam sebuah bola rasaksa besar. Ukuran ruangan itu sangat besar dengan luas seperti pancuran bundaran HI di Jakarta pusat. Tidak seperti lantai koridor yang mereka lewati sebelumnya terdapat batu-batuan seperti kubin-kubin berbentuk persegi, lantai ruangan yang mereka temui ini hanya beralaskan pasir-pasir halus berwarna coklat kekuningan layaknya pasir yang ada di desa Sunagaruke. Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar bagi Obito, yang sejak awal memperhatikan tekstur-tekstur ruangan yang telah mereka lewati tadi. Ruangan ini sangat berbeda dari yang lainnya, pasti menyimpan sesuatu yang sangat penting berhubungan dengan mahkam sang kaisar berada.
Obito kembali menyoroti senter yang masih setia ada ditangan kanannya di seluruh penjuru ruangan yang ada dihadapan mereka. 'Ini jalan buntu…' batinnya meneliti setiap sudut ruangan yang baru 5 menit lalu disinggahinya.
"Apa sebaiknya kita kembali? Sepertinya tidak ada apa-apanya ditempat ini" Kabuto ikut menyoroti senter yang ada ditangan kanannya. "Hanya jalan buntu…"
Obito tidak mengubris perkataan Kabuto, malah dengan intens mata onyxnya menyapu bersih setiap celah yang ia yakini menjadi petunjuk untuk ruangan ini. Mustahil baginya ruangan ini tidak ada apa-apanya seperti yang dikatakan orang awam di belakangnya itu, mengingat ruangan ini tampak berbeda dari ruangan lainnya. Oh ayolah! Obito itu arkeolog! Ia telah melanglang buana kesegala situs sejarah yang ada didunia ini. Mana mungkin ia melewatkan tempat apapun yang ia anggap sebagai point penting untuk mengungkap teka-teki tempat yang menjadi mistery pada dirinya sendiri saat ia mendengar cerita sang kaisar dari kakek tercintanya.
Kembali mata onyx Obito menyapu bersih tempat yang ada disekelilingnya, kini tak hanya mata yang ikut berkerja. Pisau yang ada ditangan kirinya ia lepaskan dengan begitu saja, diganti dengan senter yang semula ada ditangan kanannya. Tangan kanannya yang bebas mulai menyampu bersih dinding-dinding yang berdebu itu. Kedua kakinya pun ikut bergerak menghentak-hentakan tempatnya berpijak, mencoba mencari apa saja sesuatu yang terasa janggal dari ruangan itu. "Kalian jangan diam saja! Cepat bantu aku menyusuri ruangan ini. Temukan apa saja hal yang terasa aneh di mata kalian. Cepat!" hardiknya pada keempat orang yang dari tadi menonton saja apa yang sedang dilakukannya. Bukannya bergerak untuk membantu, malah bengong. Ga berguna tuh orang! (Author dikubur hidup-hidup).
Setelah mencari selama beberapa menit, Obito yang merasa tangannya menyentuh benda yang cukup keras. Segera menggali pasir yang menimbun benda aneh tersebut. Kedua tangannya pun ikut bergerak aktif menyingkirkan pasir-pasir itu. "Fuh~!" satu tiupan berhasil menampakkan benda yang sendiri tadi dirogohnya dengan susah payah hinggga membuat kuku pada jari-jarinya menghitam. Sebuah patung naga kecil berukuran 15cm berteger di depan kedua matanya. "Ini…."
'Krakk~!'
Obito menekan patung naga itu kearah belakang, hingga patung tersebut miring beberapa derajat dari posisinya semula. Obito pun bangkit, dan berdiri melihat keadaan disekitarnya. 'Tidak terjadi apa-ap…'
'GREEEK~!'
Seketika pasir-pasir yang ada di tengah-tengah ruangan tersebut berputar seperti pusaran air. Seiring dengan berputarnya pasir-pasir tersebut, bunyi seperti pergesekan dinding pun turut bergema memekakkan telinga orang-orang yang ada disekitarnya. Selama beberapa detik pasir yang ada diruangan tersebut berputar, lantai pasir yang ada diruangan tersebut tampak naik sedikit-demi-sedikit. "Semuanya, cepat menyingkir!" teriak Obito pada orang-orang yang ada di pinggir pusaran pasir yang akan naik tersebut. Kontan 2 orang perkerja yang berada didekat tempat itu lari pontang-panting meninggalkan tempat itu.
'BUMM!'
Pergerakan pasir yang naik beberapa senti tersebut tergantikan menjadi semacam lempengan batu bulat berdiameter 3 meter dengan ukiran-ukiran, serta simbol-simbol aneh terlukis di permukan batu tersebut. Ditengah-tengah lempengan batu itu muncul patung sesosok perempuan berkepala tiga dengan masing-masing kepala memiliki kedua tangan merapat , terjulur sepanjang 100cm menyerupai tuas. "Ini pasti pintu masuk menuju mahkam sang kaisar! Ayo kalian berdua bantu aku mengerakkan tuas ini" Kabuto menunjuk dua orang dari tiga perkerja yang ikut mereka dan masing-masing di antara mereka memegang satu tuas untuk memutar tuas tersebut. "Eh?! Hey tunggu dul-…" Obito yang tak jauh berada dari mereka langsung berlari untuk menghentikan aksi ketiga orang itu, ia pun menarik lengan Kabuto dan baju salah seorang pekerja yang sedang asyik memutar tuas tersebut.
'Pussh~!'
Asap tipis berwarna kehijauan tampak mengepul dari ketiga mulut kepala patung wanita tersebut. "UWAAKHH!" jerit kesakitan salah satu perkerja yang tidak ditarik oleh Obito saat asap itu menyembur mengenai wajahnya. Kabuto yang semula ngotot ingin memutar tuas ikut terkena juga dibagian rahang kirinya, sehingga tubuhnya langsung ambruk menahan kesakitan terkena uap asap aneh itu.
"JANGAN MENDEKAT!" teriak Obito pada salah seorang perkerja yang tidak ikut kedua temannya memutar tuas, mencoba mendekati perkerja yang terkena racun mematikan itu. "Kalau kau menyentuhnya, kau bisa terkena juga!" perkerja itu memandang ngeri sekaligus iba pada temannya yang telah merobek paksa baju yang dikenakannya. Dada bidang pemuda itu tampak meletup-meletup seperti kawah gunung berapi dengan asap mengepul keluar dari tubuhnya, disusul dengan tulang-belulang menonjol jelas dari daging tubuhnya yang melebur, berjatuhan seperti daging giling. "AKHH!" sosok itu langsung ambruk dengan daging meleleh seperti batu es yang mencair dan bola mata yang telah terlepas dari matanya yang menonjolkan tulang tenggkoraknya.
"Kau bawa semacam obat penawar atau obat yang bisa menghentikan reaksi racun ini?" Obito menatap khawatir Kabuto yang masih meringgis kesakitan menahan racun yang berwarna kehijauan di rahang kirinya. "UGH! Di-di sa-ku ku, arggh! Hosh-hosh, a-ada se-rum ber-warn-a ku-ning yan-g bisah~. Ughh! Me-nghen-tikan ra-cun-nya!" Obito pun langsung merogoh tas kecil yang terselip di pinggang Kabuto, mengobrak-abriknya, dan meneteskannya langsung ke atas luka Kabuto yang sudah meletup-meletup seperti pria tadi.
"UGGGHH! ARGGGH!" teriak Kabuto saat cairan berwarna kekuningan itu diteteskan di rahang kirinya.
Obito mendesah lega saat teriakan kesakitan Kabuto berganti menjadi ringgisan kecil. Sepertinya serum itu telah bereaksi menghentikan racun itu menjalar lebih parah lagi keseluruh tubuhnya. Obito melangkahkan kakinya menuju patung wanita berkepala tiga itu. 'Kalau ini beracun, bagaimana bisa kami memutar tuas ini?' batin Obito memperhatikan seksama patung berkepala tiga itu. Mata onyx Kabuto terhenti melihat celah 3 lubang kecil di perut patung itu, kemudian ditatapnya lagi wajah patung berkepala 3 itu secara seksama secara bergantian. 'Ck! Ternyata begini ya!' decaknya sebal sembari tangannya menekan ujung kepala patung itu hingga tenggelam kedalam tiga buah lubang kecil di perut patung, dan menampakkan mata patung itu dari arah celah lubang. Semula mata patung itu berwarna hitam seperti warna matanya, kini berubah berwarna merah dengan tiga buah titik bergambar yin dan yang mengelilingi titik kecil hitam bola mata itu.
'GREEEK~!'
Lantai batu berbentuk lingkaran itu secara perlahan langsung tampak tenggelam menuju kebawah tanah dengan bola mata pada patung tersebut berputar-putar seiring bunyi pergesekan lempengan batu menuju kebawah. "Hey! Kalian ayo meloncat!" perintahnya pada Kabuto dan dua orang terbengong melihat batu itu semakin tenggelam menuju dasar. "Tidak perlu takut, anggap ini seperti lift!"
.
"Ughh~~. Dimana ini?" sesosok rambut pirang menggelus kepalanya yang terasa berat dengan posisi tubuhnya tengkurap seperti bayi. "Eh?! Kakashi sensei! Guy sensei!" teriak Naruto saat ingat ia dan kedua gurunya baru saja terjun bebas dari sebuah lubang yang secara tidak sengaja Naruto buka.
"Yo~ Naruto! Kau sudah sadar rupanya! Hehehe, kau tidak boleh pingsan lama-lama Naruto! Sebagai seorang laki-laki berjiwa liar seperti kita, kita tak boleh memejamkan mata kita lebih dari 30 detik di tengah marah bahaya yang siap mengancam masa muda kita!" Guy teriak gaje semangat 45 dengan background gunung api baru meletus. Ampun dah Guy!
'Orang ini bicara apa sih? Wajar saja kan aku pingsan sangat lama karena terjatuh di ketinggian 212 meter seperti tadi' batin Naruto sweatdrop.
"Ayo kita pergi Naruto, kita harus menemukan mahkam sang kaisar. Sudah lebih dari 95 menit kita berada disini. Sakura dan yang lainnya pasti sangat khawatir pada kita" Kakashi memukul-mukul senter yang ada ditangannya hingga cahaya yang semula berkelap-kelip , kini terpancar dengan terang benderang. "Come on, boys" Kakashi menggerakan dagunya mengisyaratkan mereka berdua untuk mengikutinya.
Naruto dan Guy pun melangkahkan kakinya menyusul Kakashi yang telah terlebih dahulu berjalan didepan mereka. Lagi-lagi untuk yang kedua kalinya Kakashi cs melewati sebuah lorong panjang dengan akar-akar pohon sebesar lengan tangan Naruto melilit, menjalar dijalan yang akan mereka lalui. Kakashi menarik belati yang terselip dipaha kanannya, dan ditebaskannya belati tersebut pada akar-akar pohon hingga terputus. "Disini pengap sekali, sensei" Naruto mengendus-ngenduskan hidungnya disepanjang lorong yang mereka lewati. "Wajar saja, sekarang kita ada dikedalaman 300 meter dari permukaan laut. Udara disini sangat tipis sekali. Tapi bertahan lah Naruto, kita pasti akan segera sampai" Kakashi menyoroti lampu senternya pada dinding-dinding koridor. Dari arah permukaan koridor, Kakashi bisa melihat berbagai gambar-gambar manusia bertulang lidi tergambar jelas di dinding tersebut seperti menggambarkan aktivitas para penduduk pada jaman itu. Berdagang, berburu, berternak, dan sederet aktivitas lainnya dilakukan oleh para penduduk tersebut. 'Mereka telah lebih maju dari perkiraanku' gumam Kakashi terus memperhatikan gambar-gambar itu dengan tangan kanan terus menebas akar-akar yang menggangu perjalanan mereka.
"Guy, perhatikan tempat disekeliling kita dengan seksama. Jika ada yang terasa aneh dimatamu, cepat beritahukan kami. Mungkin itu jebakan sama seperti sebelumnya" Guy yang berada dibelakang Kakashi hanya mengangguk pelan dan kembali mengfokuskan pengheliatannya pada dinding-dinding koridor, langit-langit dan jalan yang mereka lalui.
'Whuuss~!'
Tiba-tiba dari arah depan Kakashi cs angin kencang berhembus kuat menerpa wajah ketiganya. Lampu senter yang semula menyala tiba-tiba padam dengan sendirinya. "Brengsek!" maki Kakashi memukul-mukul senter yang ada di genggamannya, agar menyala seperti tadi. "Fuck!" Kakashi mendesis kesal sembari membanting senter yang di genggamannya, "Guy bagaimana dengan sentermu?"
"Nihil" jawabnya dengan gelengan kepala. Kakashi mengumpat kasar mendengarnya. Ck! Bagaimana ini sekarang cara mereka untuk mencari mahkam sang kaisar kalau penerangan yang satu-satunya menjadi jalan terputus begitu saja. Kalau harus kembali keatas? Heh! Jangan konyol. Mereka telah sampai pada lantai dasar di tempat yang bahkan cara mereka sampai kesini saja, mereka tidak tahu. Mengambil jalan nekat untuk terus melaju ditengah keadaan yang tidak memungkinkan seperti ini? Yang benar saja! Itu sama saja mengantarkan nyawa pada tempat brengsek penuh jebakan mematikan yang siap mencabut nyawa mereka hanya dalam satu langkah saja. Uhh~, situasi benar-benar ini tidak menguntungkan untuk Kakashi cs.
'DUMM!'
"Eh?!" gumam ketiganya kaget saat mendengar suara dari arah depan mereka. "Naruto, apa kau melakukan sesuatu?" vonis Kakashi pada Naruto yang ada dibelakangnya.
"Eh? Aku? Tentu saja tidak Kakashi sensei! Dari tadi aku hanya diam kok" gerutu Naruto tak terima pernyataan yang dilayangkan Kakashi padanya seolah-olah jika Naruto bergerak sedikit, nyawa mereka jadi taruhannya seperti kejadian beberapa menit lalu.
Glek! Guy menelan ludahnya dengan susah payah. "Saran ku Kakashi, sebaiknya kita maju saja kedepan. K-Kau tahu kan, bila kita terus diam seperti ini, kita tidak akan bisa keluar dari tempat terkutuk ini"
Kakashi yang mendengar saran dari temannya hanya bisa terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Guy, jika ia tetap diam di tempat ini tanpa bisa berbuat apa-apa, mereka mungkin akan terkurung selamanya disini, tapi kalau mereka tetap nekat melaju kedepan. Yang ada, nyawa mereka bisa melayang terkena jebakan-jebakan maut dari tempat terkutuk ini. Kakashi yang semula sangat tertantang dengan segala jebakan-jebakan mematikan yang pernah ia lewati dari situs-situs sejarah yang ada didunia, kini ia harus menjilat kembali ludahnya. Betapa jebakan yang ia alami sekarang ini begitu sangat menyebalkan dan memuakkan baginya. Kenapa sih orang-orang tua seperti mereka harus memasang jebakan konyol menyebalkan ini? Mereka hanya berniat baik untuk mengabadikan sosok yang sedang tertidur di tempat ini, bukannya mencoba berbuat aneh-aneh seperti yang mereka pikirkan! Benar-benar!
"Ayo kita maju!" Kakashi melaju dengan lantangnya kearah depan. "O-Oi Kakashi!" Guy pun menyusul langkah kaki Kakashi yang terkesan cepat dan terburu-buru seperti itu. "Kalau kita terkena jebakan bagaimana?!"
"Jika aku menginjak salah satu jebakan yang ada disini, cepat tarik tubuhku dan hindari tempat yang ku injak sebelumnya. Gampangkan?" jawab Kakashi enteng seolah-olah tubuhnya memang siap untuk di jadikan umpan menemukan jebakan-jebakan yang tersembunyi di tempat yang mereka pijaki sekarang. "Sensei jangan gila dong!" Naruto yang ada dibelakang ikut mensejajarkan langkah kakinya dengan dua orang dihadapannya.
Kakashi tak menggubris malah semakin melangkahkan kakinya semakin cepat melewati lorong yang gelap dan penggap itu. "Siapa disana?!" Kakashi reflek menghentikan langkah kakinya mendengar bunyi suara gaduh dari arah kiri ruangan berbentuk bulat yang ada dihadapan mereka tadi. Memang tempat yang mereka pijaki sekarang cukup gelap dan bahkan hampir tak terlihat apa pun. Namun adanya sinar matahari menerobos masuk dari arah kirinya seperti sebuah lubang besar dari bawah hingga atas langit-langit ruangan itu, kakashi bisa tau ada orang lain ditempat ini selain ia, Guy dan juga Naruto.
"Kakashi…"
"Mendengar suara tak asing ditelinganya, Kakashi pun segera mendekat kearah lubang besar tersebut. "Obito… Kau kah itu" tanyanya pada sosok remang-remang dari arah lubang bulat disisi kiri mereka.
"Kakashi! Hey, kau benar Kakashi! Oh syukurlah, kau masih hidup rupanya!" teriak sosok itu berlarian menuju kearah Kakashi cs. "O-Obito, ba-bagiamana kau bisa sampai ditempat ini, ha?"
"Ck! Begitukah sikapmu pada ku yang datang bersusah payah untuk menyelamatkan kalian. Aku sampai ditempat ini berkat kejeniusan ku, tahu! Dimana bocah nakal itu! Aku ingin memberinya pelajarannya" Obito sudah mengancang-ancang menggulung lengan bajunya hingga batas pundak. "Kyaaa~, paman Obito!" teriak Naruto gaje memeluk Obito.
"U-Ugh N-Naruto. Se-ses-ak" Obito memukul-mukul keras lengan Naruto yang telah menjerat lehernya erat. Mendengar keluhan senseinya itu, Naruto pun segera melepas lengannya sembari nyengir tidak karuan. "Bagus! Mumpung kau juga ada disini, bagaimana kalau aku pinjam senter kalian sebagai penerangan untuk mencari mahkam sang kaisar?" Kakashi melihat satu persatu pasukan kecil yang dibawa Obito.
"Maaf, Kakashi. Senter kami pun tiba-tiba saja mati dengan sendirinya. Aku juga tidak mengerti kenapa senter kami semuanya bisa mati mendadak seperti ini"
"Gawat! Jika kita tidak mendapat penerangan, sebaiknya kita kembali saja keatas. Besok baru kita kembali lagi kesini membawa peralatan yang lebih lengkap" Kakashi mengacak rambutnya asal. Naruto yang sedang bersender disalah satu benda yang ada didekatnya, ikut terlonjak kaget mendengar saran Kakashi yang terkesan menyerah sebelum mereka mencapai akhir.
'GREEKK~!'
Mendengar suara tersebut, kontan semua penghuni tempat tersebut reflek menoleh kearah Naruto. "Apa yang kau laku-…"
'Whush! Whush! Whush!'
Dari arah patung naga yang ada dipunggung Naruto tersulut percikan api kecil dan menjalar dengan derasnya pada sumbu-sumbu dan obor-obor yang terpasang diruangan berbentuk bundar itu hingga menuju pada satu titik di depan mereka semua. "I-Itu…" ucap semuanya dengan tenggorokan tercekat saat melihat api-api yang tersulut obor-obor kecil di jalan lurus dengan panjang 7 meter, menampakkan jeruji besi setinggi tiga meter dengan bangunan megah didalam jeruji itu.
"Khukhukhu. Makham sang kaisar, berhasil ditemukan… Tuan.." ucap sosok yang bersembunyi di gelapnya ruangan yang tak terterangi cahaya obor itu.
.
.
.
"Ughh! Aku tidak tahan lagi! Aku akan menyusul mereka, ini sudah lewat 2 jam 11 menit kita menunggu!" Sakura bergegas merapikan segala perlengkapan di tas pinggangnya.
'BOMM!'
"Eh?!"
Asap mengepul kembali menyeruak dengan tebalnya dari arah pukul 11 diluar situs penggalian. "Uhuk-Uhuk! Sudah kubilang padamu, jangan pakai bom!" ucap sosok yang tersamarkan tubuhnya pada asap hitam pekat dari arah tempat terdengar bunyi ledakan tersebut.
Sakura yang mendengar suara tak asing dari balik kabut tebal itu hanya mampu membelalakkan matanya yang berkaca-kaca. "K-Kalian!..."
.
.
.
Lembah Akhir (Gedung pusat penyimpanan Artefak kuno), 19.06.
Seorang gadis berambut pink tampak sedang sendirian mengamati peti yang terbuat dari bebatuan alam, berukuran 2x4 meter berdiri megah ditengah-tengah sebuah ruangan besar dalam gedung pusat penyimpanan artefak kuno. Sesekali tangan kanan sigadis yang halus seputih salju dielusnya dengan lembut mahkam kuno yang ada dihadapannya. "Aku suka sekali melihat wajah kagummu itu dari pada wajah cemberutmu mengkhawatirkan kami didalam lubang penggalian tadi siang" ucap sosok yang baru masuk dari pintu ruangan itu. Gadis itu menolehkan kepalanya kearah suara itu.
"Aku tidak kagum, hanya heran saja" gadis itu menghadapkan lagi tubuhnya pada peti besar yang ada dihadapannya. "Melihat mummy yang baru kita temukan ini. Padahal sudah tertidur selama ribuan tahun sebelum masehi, tapi kenapa kondisi mayat ini masih tampak bagus." Sosok itu tersenyum misterius melihat punggung mulus nan menggoda si gadis terekspos jelas di mata Onyx hitamnya. Gadis itu tampak tampak cantik dari biasanya, rambut sebahunya yang biasanya tergerai berantakan menyerupai nenek-nenek lampir, digulung dengan rapinya. Jepit-jepitan kecil berbandul kupu-kupu berwarna ungu tampak sangat kontras dengan gaun hitam bertali spageti terikat sempurna di leher jenjangnya. Belahan rok dipahanya kirinya dari arah pinggul hingga mata kaki tampak sangat… wow! Sexy di mata pemuda berambut perak itu. "Tidak perlu dipikirkan. Kau kemana saja, hnn? Aku membutuhkan perawatan mataku darimu" bisiknya menggoda ditelingga gadis itu. Anting-anting berbentuk mawar putih ditelinga kiri si gadis di jilatnya perlahan lalu dikulumnya.
"S-Sen-sei… J-Jangan seka-rang.." jeda gadis itu menahan sensei geli dari lidah pria yang menjalar bebas di punggungnya. Kedua tangan pria itu melingkar erat pinggul si gadis agar lebih merapat kearah tubuhnya. Mendengar suara lirihan menggoda ditelinganya, membuat pria itu mengigit kecil leher jenjang gadis itu. 'Ukh~!' gumam gadis itu berusaha menahan desahan agar tidak keluar dari bibir pinknya. Pria itu semakin ingin 'Memakan' gadis yang ada dihadapannya saat mendengar lirihan tertahan dari gadis itu. "Aku.. Butuh pengobatan darimu sekarang.." lirih pria itu serak dengan tangan kiri meraba-raba paha mulus yang tersaji didepannya dengan perlahan dan lemah gemulai, bermaksud agar sang gadis bisa cepat terangsang dengan sentuhannya. Yup-Yup-Yup!Ronde pertama dimulai!
'Prok-Prok-Prok-Prok!'
"Eh?!"
.
.
"Guy sensei! Dimana Kakashi sensei? Dari tadi aku tidak melihatnya disini?" pemuda pirang dengan stelan jas lengkap menghampiri laki-laki beralis tebal sedang bercengkrama dengan beberapa temannya di dekat tenda penggalian. "Eh? Kakashi?" Guy menggaruk dagunya perlahan.
"Oh. Kakashi?" Asuma yang berada tidak jauh dari Guy memantik rokok yang terselip dibibirnya. "Fuh~, dia ada didalam. Mungkin ingin mengecek sebentar mahkam sang kaisar sebelum kita berangkat menuju Konoha." Naruto menganggukkan kepalanya sejenak kemudian berjalan menuju bangunan yang tidak terlalu jauh dari tenda mereka berdiri.
"Asuma… Kau tidak menelfon shikmaru, kenapa dia belum juga sampai kesini dari Sunagakure? Bukankah kau bilang mereka akan sampai sore tadi? Sekarang sudah malam, dan pesawat dari konoha akan datang sebentar lagi kemari" Kurenai melirik arlogi di tangan kirinya. Asuma juga melirik arlogi yang ada ditangannya seperti halnya Kurenai. "Ohh, ya. Sebentar, aku akan menghubungi mereka" Asuma membiarkan rokoknya berteger dimulut dengan kedua tangan sibuk merogoh sakunya mencari-cari sesuatu.
'Tutt…'
"Hallo, hey Shika. Dari mana saja kau? Kenapa kalian belum sampai juga kemari, hah? Pesawat dari konoha akan datang sebentar lagi" Asuma melepaskan rokok yang terselip di mulutnya. "AP-…Uhuk-uhuk! Uhuk-Ohok!" Asuma memukul-mukul dada bidangnya lebih kuat mencoba meredakan asap rokok yang tersedak di kerongkongannya. "Ti-Tidak a-apa-apa. Aku baik-baik saja. Baik akan kutangani disini, sepertinya tadi aku juga melihat-nya datang kemari. Kalian dalam perjalanan kesini juga?" jeda sejenak. "Oke! Sampai ketemu disini."
"Ada apa?" tanya Kurenai binggung melihat gelagat panik dari wajah Asuma. "Kau tunggu disini, ajak yang lain masuk kedalam tenda. Guy! Ayo ikut aku menemui Kakashi, ada masalah gawat menimpa kita yang harus ku bicarakan dengannya" Guy hanya mengganguk pasti melihat raut aneh dari temannya itu. Kemudian mereka berdua melesat memasuki gedung penyimpanan artefak kuno.
"Obito! Apa kau melihat orang itu masuk kemari?" tanya Asuma pada sosok yang sedang memegang sebotol wishky ditangan kanannya dekat pekarangan halaman gedung penyimpaan. "Em… S-Siapa? Oh, dia (Obito melebarkan sisi mulutnya dengan kedua tangannya) itu ya. Tadi baru saja masuk kedalam. Memangnya kenapa? Hei-Hei, kenapa wajah kalian kusut seperti itu. Apa aku terlalu mabuk sampai-sampai melihat wajah kalian tambah jelek dari biasanya" Obito mengusap-ngusap kedua matanya.
"Ck! Tidak usah banyak tanya. Cepat ikut aku, ada masalah gawat yang kita hadapi sekarang."
Disisi lain.
Naruto yang semula berniat masuk kedalam gedung penyimpanan, diurungkannya saat melihat sosok mencurigakan berjalan menuju kebelakang gedung penyimpanan. Sosok itu menolehkan kepalanya kebelakang, kekiri dan kekanan seperti ingin memastikan aksi kucing-kucingan-nya tidak terlihat oleh orang-orang yang ada disekitarnya. "Mau apa dia…" gumam Naruto melihat sosok itu tampak berusaha membongkar gembok kunci yang melekat di pintu besar dihadapannya tersebut agar ia bisa membuka pintu besar yang ada dibelakang gedung penyimpanan. Sosok itu tampak menyeringai licik setelah berhasil membuka pintu besar pertama, dan sekarang kini ia berjalan perlahan dengan mengendap-ngendap untuk membuka pintu besar kedua di gedung penyimpanan tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" Naruto menodongkan pistol laras ganda dari arah saku bajunya ke kepala sosok itu.
.
.
.
To-be continue…
Hola, Loha, halo semuanya~~. Jumpa lagi dengan Dhiya-chan disini (^_^)V
Bagaimana cerita diatas? Makin ancurkah? (Check list), Jelekkah?(Check list juga), Abal kah? (Pasti di Check list), Ga nyambungkah? (Ya di Check list lah!), Typo? (Check list abieees!). *Nangis guling-guling*
Hehehe, Dhiya tidak menyangka Fic pertama Dhiya pair SasuNaru mendapat respon positif dari teman-teman (Masih gemeteran ga nyangka banyak review di Fic ini). Pokoknya buat semua teman-teman, LOVE you ALL 3. Terima kasih yang sudah Follow, Fav dan mereview Fic. Terima kasih sebesar-besarnya buat teman-teman *Sujud-sujud Sembah*. Yosh! Dhiya mo bales Review dolo dari teman-teman. Pertama!
Ada mystery (Guest) : Haloo salam kenal. Iya terima kasih mystery atas Reviewnya. Ini sudah saya apdet ch2 nya. Moga senang dan tambah penasaran lagi. Hehehe *BLETAK!*
Ero-Luchie Chan YAOI: Kaboor! Ada kembaran Ki djoko Bodo~! *Bagh-bugh-Bagh-bugh!*
Penasaran ya Luchie-chan? Huahahahaa *Disumpel Luchie pake kemenyan*, ini sudah apdet. Arigato ya atas Reviewnya Luchie-chan..m(-_-)m ^_^
Kkhukhukhukhudattebayo: Sasuke muncul? Hehehe, tenang plend~. Sasu pasti muncul kok, di Ch 3 kali kali ya, kalau Dhiya lagi sreg muncul'in si Sasu. Fufufu *Hujan jitakan*, si Naru dibunuh Sasuke? West, cari mati tuh ama si Dhiya klo si Suke berani-beraninya ngebunuh naru-chan (Gulung baju, langsung pingsan di Chidori Sasu). Pokoknya baca terus dah, gimana nasip dua orang ini ^_^. Yosh, ini udah apdet. Selamat membaca. ^_^
MoodMaker: Hehehe, yosh! Ini sudah lanjut. Selamat membaca, moga senang. Sudah hilangkah rasa penasaran MoodMaker? Dhiya harap rasa penasarannya tetap dipertahankan ya. Heheheh, *PLAK!*
Lanjott! yunaacs (Guest): Hehehe, iya ini sudah lanjut. Arigato ya atas waktunya mau membaca Fic ancur ini. ^_^ hehehe
Beakren (Guest): Iya! Iya! Iya! Ini~ udah apdet~! (Tepuk tangan gaje). Hehehe, Arigato atas reviewnya dan mau mampir di Fic abal ini. Hehehehe
Gunchan CacuNalu Polepel: Haloo salam kenal, terima kasih sudah bilang Fic gaje ini seru, wkwkwk. Ga sejarah kok, soalnya Dhiya juga bikin Fic ini nilai sejarahnya ga ada sama sekali. H-Hantu? *Sweatdrop*, bukan hantu lagi Gun-chan,hantu mah kebagusan. Paling mantep tuh namanya mummy jadi-jadian berpantat ayam! *Ditendang Sasu*. Yosh, ini sudah apdet , selamat membaca.
Rin Miharu-Uzu: Ye'o~ Rin-chan, ini sudah Lanjot, hehehe.
cho devi : Huaaahhh~! *Pundung di pojokan* Secara garis besar sih rencananya gitu. Tapi utk si Sasu -enak bgt bangun tidur langsung gitu-gituan ama si Naru. Ne-ne-ne (Geleng-geleng) Si Sasu mau Dhiya bikin sengsara dulu ngejar si Naru sebagai pembalasan kematian my lovely ita-cuan-cuan-cuan. *PLAK!*. Hehehehem kalo masalah Chapter ga tau tuh mo sampe berapa, ditunggu aja dah gimana nasip Fic ini. Khukhukhu.
enjiHatake (Guest): Yosh! Ini sudah apdet. Hehehe, arigato atas reviewnya.
Scythe no Shinigami: Panggil Dhiya-chan imut-imut manis aja (Ditembak mati). Iya ini sudah apdet.:)
kyubii no yokou (Guest): Ye'o. Ini sudah apdet. Arigato reviewnya :)
narunaru (Guest): Naru ketemu Sasu? Ditunggu aja dah ya gimana pertemuan :)
Clein cassie: Hehehe, permaisuri di Raja kejam? Kenalin *nyodor tangan ke clein* Dhiya-chan permai-… 'BLETAK!'. Mudah-mudahan, Dhiya kuat iman untuk tidak mentelantarkan Fic ini, hohoho *Dihajar masa*. Arigato reviewnya
(Guest): Fufufu, iya-iya prenk. UDah apdet nih ^_^
HaikuReSanovA: Makkk! Tolong~! Dhiya mo dikutuk~! #Abaikan.
Iya sudah apdet nih. Ga jadi kan kutuk Dhiya nya? *Liat takut-takut dibalik dinding*
Ukkychan : Penggemar The mummy? Wah sama! (Ngajak Tos). Iya silahkan di Fav, di Folow, di banting pun komputernya tidak apa-apa, *Di bacok Ukky*
Ichigo bukan Strawberry: Iya ini sudah lanjot! XD
Sheren: Hehehe, arigatou pujiannya. Ini sudah apdet
Berlian Cahyadi: Penasaran? Hehehe *Devil face*. Good job! Pertahan kan terus rasa penasarannya ya XD. *ditabok Berlian*
Terima kasih atas Reviewnya teman-teman. Mohon bimbingannya ya di Fic ini. Kritik dan saran sangat Dhiya tunggu dari teman-teman :). Terim kasih m(-_-)m
