===============Dream,chap 2==========
Discailmer : Naruto bukan punya saya, dia itu punyanya Om Masashi Kishimoto.
Warnings : Gaje, AC,OOC,typo, abal-abal,alur cepat.
Pairing : ShikaTema
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Temari'S POV
"SHIKAMARU ! SHIKAMARU!" tanpa sadar aku berteriak memanggil nama Shikamaru, dalam tidurku. Air matapun membasahi pipiku. Mimpi itu. Mimpi yang begitu nyata. Sontak aku langsung terduduk.
"Hey,hey Temari, kau kenapa?" ujar Shikamaru sambil menguncang bahuku. Raut wajahnya terlihat heran melihat aku bangun dan kemudian menangis. Sementara, aku hanya duduk mematung. Mencoba mencerna keadaan. Sambil menatap matanya tanpa berkedip. Takut apabila aku berkedip sedetik saja,dia akan pergi meninggalkan aku, seperti dalam mimpi.
"Shika,jangan tinggalkan aku," ucapku lirih. Mimpi itu masih merasuki pikiran ku. Mimpi yang begitu nyata.
"Tentu saja,bodoh," jawabnya sambil mengelus kepalaku. Raut wajahnya sama seperti tadi, heran melihatku menangis. Tanpa banyak kata, aku langsung memeluknya, menangis dipelukannya, dan menceritakan semua memori tentang mimpiku, dipelukannya.
"Shika,aku mimpi buruk. Aku mimpi, kau meninggalkan aku untuk selamanya Shika, kau terlempar memecahkan kaca mobilmu dan terkapar dijalan," ujarku sambil menangis
"Sudah, sudah sayang," dia mengelus kepalaku,mencoba menenangkan aku yang menangis dipelukannya. Kemudian, dia melepaskan pelukanku menatap iris jadeku. "Dengarkan aku, mimpi itu hanya bunga tidur, dan tidak mungkin mimpi bisa menjadi kenyataan," Dia berkata kepadaku seperti memberitahu seorang anak kecil kalau tidak mungkin ayam bisa terbang, tanpa melepaskan pandangan matanya ke mataku. Tangannya yang kekar, menghapus air mataku yang mengalir dipipiku, dengan sangat lembut.
Aku memutar otakku, mencoba mengingat kejadian saat ibuku meninggalkan aku,ayah dan kedua adikku, entah mengapa, ingin sekali aku membantah semua argumen yang dikeluarkannya.
"Tapi Shika, aku pernah mimpi buruk, tentang ibu. Dimimpiku, ibu terlihat kesakitan , dia mengeluarkan dua janin dari perutnya, dan di kenyataan ibu meninggal saat melahirkan Gaara kan?" Aku menjelaskan kepadanya apa yang ada dikepalaku saat itu. Memang, mimpi buruk sebelum meninggalnya ibuku sangat membekas diingatanku.
"Iya Tema, tapi apakah kenyataannya sama seperti dimimpimu, tidak sama kan? Kan sudah aku katakan kepadamu, ibumu pergi karena Tuhan sangat menyayanginya," kemudian dia mencium keningku lembut dan berkata "Sudah, lupakan mimpi itu, aku tidak akan meninggalkanmu."
"Kau berjanji ?" Aku takut dia akan berbohong kepadaku. Aku takut sekali apa yang terjadi didalam mimpiku akan menjadi nyata.
"Tentu saja, cepat mandi, kau bau sekali. Kita kan mau fitting baju pengantin."
"Maaf, aku lupa. Hehehe," ujarku sambil melangkahkan kakiku kekamar mandi, dan membersihkan diri,mencoba melupakan mimpiku malam tadi. Tapi, ingatan akan mimpi itu, terus saja terngiang dibenak ku. Setiap bagian cerita dimimpi itu seakan terekam kuat diotakku.
Setelah selesai mandi, aku pun memilih baju yang akan aku kenakan. Akhirnya, aku memutuskan menggunakan dress berwarna hijau tosca, dengan pita dibagian dadanya dan dengan high heels senada. Rambut blonde sebahu yang kumiliki, aku biarkan terurai sempurna, tak lupa aku menggunakan make-up tipis, untuk menambah kesan manis diwajahku. Mengambil tas coklatku, kemudian keluar menemui Shikamaru yang sedang menonton tv diruang keluarga bersama Gaara dan Kankuro.
"Kami pergi dulu ya . Jaga rumah baik-baik," teriakku pada kedua saudaraku, kemudian pergi bersama Shikamaru.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kami menuju ke Deidara's Bridal, tempat kami memesan baju pengantin. Bridal itu besar,megah,dan elegan. Deidara adalah teman baikku ketika SMA, bakatnya sebagai perancang busana memang kelihatan dari SMA. Lelaki yang sering dikatakan sebagai saudara kembar Ino itu memang sudah terkenal di Konoha, tak jarang para calon pengantin berbondong-bondong,ingin menggunakan baju rancangannya. Akupun juga mempercayakan gaun pengantinku kepadanya.
"Hey," sapaku kepadanya ketika kami memasuki butiknya. Deidara yang sedang menggambar desainnya diselembar kertas terlihat kaget. Kemudian,dia menghampiri aku dan Shikamaru.
"Hey Temari, gaun mu sudah jadi, ayo kita keruang fitting." ucapnya sambil menarik tanganku, "Shikamaru, aku pinjam Temari sebentar ya. Setelah itu giliranmu mencoba Tuxedo mu," lanjutnya sambil melirik kearah Shikamaru
"Ya, ya merepotkan. Bolehkan aku melihat gaun pengantin yang akan dipakai calon istriku?" tanyanya sambil menguap.
"Tentu saja tidak boleh, ini suprisse . Kau hanya boleh melihatnya dihari pernikahan," Deidara menjelaskan kepada Shikamaru sambil tersenyum licik.
"Hoam merepotkan," desah Shikamaru.
Kemudian,Deidara mengantarkan aku kesebuah ruangan lengkap dengan kaca yang besar, dan mempersilahkan aku untuk mencoba gaun pengantin ku. Gaun pernikahan yang akan aku kenakan nanti terdiri dari tiga gaun, yang pertama pada saat upacara pernikahan ,ketika bersanding dengan Shikamaru di altar gereja dan berjanji sehidup semati. Aku memilih gaun berwarna putih dengan konsep potongan ball gown yang klasik yang membuatku tampil anggun bak "Cinderella" . Gaun pengantin bersahaja tersebut dipadukan dengan model A-line atau gaun yang memiliki dekorasi permata atau kilauan di garis lehernya. Gaunnya menjuntai hingga menyapu lantai dan sangat penuh. Aksesoris yang aku pilih adalah kalung dan anting mutiara. Sedangkan untuk hair-do aku memilih up do bergaya klasik, berupa chignon yang dipadukan dengan head piece bertahtakan berlian. Pada bagian tanganku, aku menggunakan sarung tangan panjang untuk meningkatkan kualitas keanggunan. Selanjutnya, untuk sepatu, aku memilih sepatu berbahan satin, yang bergaya sederhana dengan tali yang mengikat bagian pergelangan kaki.
"Huah,kau cantik sekali Temari," ujar Deidara sambil menatap puas gaun hasil desainnya yang sedang menempel ditubuhku. "Saat cocok sekali untukmu," lanjutnya sambil memutar-mutar tubuhku untuk mengecek tidak ada yang cacat pada gaunku.
"Terimakasih, Deidara," ujarku sambil tersenyum. Jujur, aku sangat puas dengan gaun rancangan Deidara, sungguh sangat anggun, aku tidak sabar untuk menggunakannya di hari pernikahanku.
Selanjutnya,untuk resepsi pernikahan, aku mengenakan mermaid dress warna ivory,dengan detail Chantilly lace pada bagian korset dan ekor gaun. Sedangkan untuk acara after party, aku akan mengganti bajunya dengan v- neck satin dress berwarna ivory juga.
"Sempurna," ujar Deidara saat melihat aku menggunakan baju untuk acara after party.
Setelah selesai fitting gaun pengantin, aku menghampiri Shikamaru yang sedang sibuk memainkan games di handphone touchsreen nya. Mungkin dia terlalu bosan,pikirku. Jarang sekali pria itu bermain games di hpnya.
"Bosan?" tanyaku sambil menatapnya.
"Menurutmu?" Dia menjawab sambil tetap memainkan hp nya.
"Sekarang giliran mu, Shikamaru!" ujar Deidara sambil mengeluarkan tuxedo yang akan dikenakan Shikamaru.
Shikamaru memberikan handphone miliknya kepadaku. Aku menatap walpaper hpnya, yaitu fotoku bersama dia yang sedang tersenyum manis kearah kamera. Kemudian, aku membuntutinya.
Shikamaru tampil sangat elegan, dia akan mengenakan setelan tuxedo hitam putih dengan kemeja dan bowtie yang juga berwarna putih. Dia terlihat tampan dimataku.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Setelah fitting baju pengantin, Shikamaru memintaku menemaninya latihan musik distudio band. Aku kembali teringat akan mimpiku semalam. Dimimpi itu, setelah aku dan Shikamaru fitting baju pengantin,dia juga memintaku untuk menemaninya latihan musik. Tapi aku mencoba positive thinking. Itu hanya kebetulan saja.
"Bagaimana? Kau mau menemani ku?" tanya Shikamaru membuyarkan lamunan ku.
"Tentu saja," jawabku singkat. Terlihat senyuman dari wajah malasnya dan kemudian dia fokus kembali mengendarai mobilnya.
Aku kaget setengah mati melihat keempat teman satu band Shikamaru membawa istri-istri mereka, percis seperti mimpiku. Kami-sama kebetulan macam apa ini !
"Maaf, aku terlambat kami tadi fitting baju pengantin dulu," Shikamaru menjelaskan alasan keterlambatannya kepada teman-temannya.
"Santai saja bro, jangan terlalu resmi begitu," ujar Naruto dengan gaya santai khasnya.
"Ternyata para lelaki ini janjian ya untuk membawa wanitanya,padahal aku sedang enak-enaknya disalon, malah diajak Sasuke kesini," ujar wanita berambut merah muda sambil berkacak pinggang menatap wajah suaminya. Sementara sang suami hanya ber'hn' ria.
"Aku sedang mengeriting rambutku,lihat nih,sampai keriting sebelah," Tenten menunjukan rambutnya yang setengah keriting itu. Diiringi tawa yang besar dari suaminya,Neji.
'Apa? Keriting sebelah? aku ingat kata-kata itu, kata-kata itu percis seperti dimimpiku' batinku, aku tertegun, otakku berfikir dengan berbagai macam spekulasi tentang mimpi itu. Kenapa begitu nyata.
Saat ini, aku bersama Ino, Tenten, Sakura, dan Hinata sedang berada disebuah bangku tak jauh dari pasangan kami yang sedang memulai latihan mereka.
"You fucking bleed now...Underneath the veil was a killing power. Only a cursed love could retain. I lent it a vision and a voice. And pleaded in the greatest moment of need. Carved into time every reflection will be the bleeding of your life..."
"Sepertinya aku akan ke THT setelah ini, karena telingaku infeksi mendengar suara teriakan tunanganmu, Temari," ujar Sakura sambil menutup kedua telinganya.
Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Sakura.
"Kapan pernikahanmu,Temari? aku lupa hehe," tanya Ino kepadaku sambil cengengesan tidak jelas.
"6 hari setelah festival musik." jawabku singkat.
"Ku dengar kau diundang di acara itu ya?"
"Iya,Sakura. Aku tidak sabar membawakan lagu ciptaanku."
"Wah, aku juga tidak sabar untuk menonton penampilanmu," Sakura tersenyum sambil merangkulku.
"Temari, selamat menjadi istri ya," Hinata memberi selamat kepadaku, sambil memelukku.
"Terimakasih, Hinata," jawabku sambil membalas pelukannya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Mau makan?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Memang,perutku lapar sekali. Cacing cacing diperutku sudah konser minta makan.
"Tentu saja," jawabku sambil melemparkan senyuman kearahnya.
"Baiklah, kita kekafe biasa ya," jawabnya singkat .
Kafe biasa? Lagi lagi kata-kata itu percis sama dengan mimpiku. Kami-sama tidak bisakah kau membuang memori mimpi itu diingatanku. Kenapa semua kejadian hari ini sama dengan mimpiku?.
"Shika, kejadian hari ini kenapa bisa percis seperti mimpiku? Setelah kau latihan musik,kau mengajakku makan,kemudian nanti ada pelayan yang jatuh dan minumannya menumpahimu," aku terus saja nyerocos tanpa tahu seseorang disebelahku mendengarku atau tidak.
"Mimpi itu bunga tidur sayang," dia tetap saja mempertahankan argumennya,membuatku ingin menjambak kepala nanasnya itu.
"Baiklah,kita buktikan nanti," ucapku dengan penuh keyakinan bahwa kejadian-kejadian yang aku jelaskan pada Shikamaru tadi benar-benar terjadi.
Setelah sampai di kafe, kami pun memesan makanan. Aku melihat keadaan disekitarku. Mana meja pembuat masalah itu? Kok tidak ada disamping Shikamaru, pikirku dalam hati. Hingga akhirnya pelayan yang didalam mimpiku, dia menjatuhkan minumannya, datang mengantarkan dengan sukses jus pesanan kami.
"Selamat menikmati," ujarnya sambil tersenyum,kemudian pergi.
"Masih memikirkan mimpi itu,eh?" tanya Shikamaru seakan dia itu bisa membaca pikiranku.
"Ya," ucapku singkat, aku masih mencoba mencerna keadaan. Suasana ini, sama seperti didalam mimpi. Tapi kenapa, tidak ada pelayan yang jatuh, dan tidak ada jus yang menumpahi baju Shikamaru.
"Kau lihat? Aku baik-baik saja kan? Tidak ada pelayan yang menumpahi pakaianku," ujarnya sambil mengaduk-ngaduk jus apel pesanannya, tanpa melihat wajahku. "Mimpimu itu hanya bunga tidur, Temari. Tidak akan menjadi nyata. Buktinya kejadian disini, meleset dari mimpi kan? Lupakan mimpimu," lanjut Shikamaru sambil memegang tanganku lembut.
"Iya."
Akupun tersenyum, dan mencoba menuruti keinginan tunanganku itu. Tapi, setiap aku ingin melupakannya, kejadian itu seolah membekas dikepalaku. Otakku selalu memutar memori tentang kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa tunanganku yang ada didalam mimpiku. Oh, Kami-sama aku harus bagaimana.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Shika,besok aku meeting sampai malam, tidak bisa latihan musik deh," ucapku dengan nada kecewa. Tentu saja aku kecewa, aku baru latihan 3kali, sedangkan pentas musik itu sudah didepan mata. Poor you, Temari. Batinku mengutuki diriku sendiri.
"Kita kan masih punya waktu, kayak dunia akan kiamat saja. Oh ya, aku akan menyanyikan satu lagu khusus untukmu dengan piano."
"Memangnya kau bisa?" tanyaku sedikit meremehkan kemampuannya. Tentu saja, aku tidak pernah melihat dia bermain piano, dan aku juga tidak pernah mendengar dia les piano. Bagaimana bisa lelaki pemalas di seluruh dunia ini bermain piano?
Raut wajah Shikamaru terlihat kesal, kemudian dia mendengus "Tentu saja bisa, lihat saat nanti. Sudah sampai, selamat beristirahat."
"Ya, hati-hati dijalan ya, jangan mengantuk," kemudian aku keluar dari mobilnya, tak lupa mencium pipi tunanganku terlebih dahulu. Setelah mobilnya pergi dari hadapanku, aku pun melangkahkan kakiku memasuki rumah, yang ada dipikiranku hanya satu, TIDUR.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kami-sama, mimpi buruk itu datang lagi, mimpi yang sama seperti sebelumnya. Kaca jendela pecah, dan tubuh Shikamaru terpental keluar dan terkapar dijalanan bersimbah darah. Kami-sama apakah kau memberikan aku petunjuk lewat mimpi ini? Setauku, aku tidak punya "Sixth Sense", atau yang biasa orang sebut sebagai Indera Keenam. Aku hanya manusia biasa. Aku masih termenung memikirkan mimpiku diatas tempat tidurku. Akhirnya akupun tersadar, bahwa aku ada meeting jam 7 pagi ini . Kulihat jam dinding yang setia menempel didindingku, sudah menunjukan pukul 6.30 pagi. Akupun langsung bergegas kekamar mandi, mandi tanpa gerakan lelet, dan langsung memakai pakaian kerja yang ada dilemariku. Kudengar klakson mobil Shikamaru, dari jendela kamarku, pertanda kalau dia sudah datang menjemputku. Setelah memakai pakaian, aku pun berdandan, memoleskan wajah putihku dengan sentuhan make-up tipis. Kemudian, aku melihat Shikamaru masuk kedalam kamarku, dan mengagetkanku.
"Ayo, cepatlah! Kau ada meeting jam 7 kan?"
Aku berpacu dengan waktu, saking terburu-burunya aku sampai lupa menyisir rambut blonde ku. Ah sisiran dimobil saja lah, pikirku dalam hati.
Kemudian, aku menguncangkan tubuh Shikamaru yang sedang memegang kemudi disebelahku.
"Aduh Shika, kau menyetirnya lelet sekali,"
yang dijawab hanya dengan kuapan. Ingin sekali aku menjambak rambut nanasnya, ketika ia merespon setiap perkataanku dengan kuapan menyebalkan itu.
Aku teringat bahwa aku belum menyisir rambutku , aku pun langsung membuka tasku, mengeluarkan semua isinya untuk mencari sisir kecil dan kaca kecilku, dan segera menyisir rambutku.
Ketika sampai dikantorku, akupun langsung keluar dan cepat-cepat memasuki kantorku. Aku bekerja disebuah perusahaan yang bergerak dibidang fashion sementara Shikamaru bergerak dibidang interior.
Ketika aku akan membuka pintu mobil, Shikamaru mencegahku.
"Kau pergi tanpa sempat mencium tunanganmu?" katanya, sambil melemparkan senyuman mesum,membuatku ingin menendang mukanya.
"NANAS MESUM! Aku ini sudah terlambat," Aku berteriak kemudian menghantam kepalanya dengan tasku, kemudian menjulurkan lidahku. Tega memang, tapi aku sudah tidak punya banyak waktu untuk bermesra-mesraan dengannya.
END TEMARI'S POV
SHIKAMARU'S POV
Aku bermaksud menggodanya, tapi ternyata dia menghentakan tasnya dikepalaku. Aw, tenaganya besar sekali. Aku pun mengusap kepalaku. Aku memperhatikan dia berlari-lari kecil memasuki kantornya. Kemudian perhatianku tertuju kepada sebuah dokumen. Aku membukanya dan membacanya. Ternyata ini adalah laporan untuk meeting Temari hari ini. Kelihatan sangat penting. Kemudian aku memarkirkan mobilku, dan segera memasuki kantornya.
"Mbak, apa saya bisa bertemu dengan Temari?" tanya ku ke resepsionis.
"Maaf Pak, tapi Nona Temari sedang meeting, dan tidak bisa diganggu," jawabnya dengan nada sopan.
"Saya cuma mau memberikan ini, setelah itu pergi,"
"Maaf Pak tetap tidak bisa."
Kesal sekali, aku mendengar jawaban resepsionis itu, merepotkan! Nekat, langsung saja aku mencari ruang meeting diperusahaan yang besar itu. Setelah menemukannya, aku pun mengetuk ruangan itu dan langsung masuk.
Aku kaget, semua mata melihat kearah ku dengan pandangan yang sangat aneh, termasuk Temari, dia sedang berdiri bersiap-siap memberikan laporannya.
"Maaf, selamat pagi. Saya hanya ingin memberikan ini kepada istriku, Temari, hehehe,tadi ketinggalan," ujarku sambil cengengesan tidak jelas, dan memberikan dokumen itu kepada Temari . Aku juga membisikan kata-kata,"Dasar ceroboh" ditelinganya. Kemudian,berterimakasih dan langsung ngeloyor pergi kekantorku. Ah, tinggal 10menit lagi waktuku untuk kekantor .Sayup-sayup kudengar suara resepsionis memasuki ruangan itu dan meminta maaf kepada para peserta meeting.
END SHIKAMARU'S POV.
TEMARI POV
Aku berlari memasuki kantorku, dan aku sedikit beruntung karena meeting belum dimulai, dan aku terbebas dari amukan Tsunade. Meeting pun dimulai. Ketika tiba giliranku untuk menyampaikan ide untuk majalah fashion kami dan hasil voting yang telah kulakukan kemarin terhadap para remaja mengenai gaya berbusana. Ketika aku mencari dokumen mengenai hasil voting tiba-tiba dokumennya hilang, bagaimana bisa ? Apa terjatuh? Kenapa aku bodoh sekali.
Saat aku hendak mengeluarkan suara, tiba-tiba ku dengar ketukan pintu dan pemuda yang tiba-tiba masuk keruangan itu. Pemuda itu adalah tunangan ku, Shikamaru. Dia menyampaikan niatnya untuk memberikan dokumen hasil votingku. Setelah dia memberikan dokumenku, dia pun pergi, disusul resepsionis yang meminta maaf, karena membiarkan tamu lain masuk keruangan. Aku sempat tercengang sejenak, dan kemudian bayangan mimpi burukku pun kembali berputar. Dimimpi itu, Shikamaru juga datang memberikan dokumen, sama seperti sekarang. Aku kembali tersadar saat Tsunade, memanggilku dan langsung menjelaskan ideku.
"Maaf, ideku untuk majalah kita adalah bagaimana kita dengan baju berwarna warna ini bisa menjadi alternatif bagi pembaca kita yang tidak suka dengan terang atau cerah, maka rangkaian warna sorbet bisa menjadi pilihan. Warna ini memberikan tampilan lady-like secara instan, yang dapat kita padukan dengan sepatu boot rendah berwarna kulit kayu . Bagaimana? Kemudian untuk voting, di posisi pertama para remaja menyenangi dress dengan motif yang simpel, dan dengan hiasan yang simpel pula,seperti ikat pinggang bunga dibagian pinggang, atau pita dibagian dada, dengan warna-warna yang terkesan tidak mencolok," aku menjelaskan dengan lantang dan jelas, dengan bahasa yang komunikatif tentunya.
Tsunade terlihat sangat puas dengan laporanku, kemudian dia memberiku tugas untuk mendesain ideku, dan hasil votingku, alhasil aku lembur malam ini.
:::::.::::::::::::::::::::.::::::::::::::::::::.:::::::::::::::
Akibat lembur , aku pulang kerumah jam 12 malam,dengan mobil yang Gaara antar kekantorku. Huaaah what a tired day.
Kemudian pikiranku kembali kemimpi itu, aku pun menelepon Shikamaru, untuk mengucapkan terimakasih, karena dia adalah penyelamat untukku pagi ini, dan menceritakan tentang kejadian ini, kemudian membandingkannya dengan mimpiku. Tapi aku ragu untuk menceritakan mimpiku. Dia pasti akan menjawab "Mimpi itu bunga tidur, dan tidak akan bisa menjadi kenyataan". Aku sampai hapal dengan kata-katanya. Aku pun merebahkan badanku yang sudah hampir remuk dikarenakan lembur ditempat mengambil handphone milikku dan menelepon Shikamaru.
"Halo Shika," ucapku ketika mendengar tanda telepon telah diangkat.
"Hoam, apa sayang? Ini sudah jam 12malam,tidurlah," terdengar nada mengantuk dari suaranya, sepertinya aku sukses menganggu tidurnya.
"Aku baru pulang," jawabku singkat.
"Apa? Gila sekali. Cepat beristirahat, nanti kau sakit, pasti akan merepotkan," Nada bicara Shikamaru terlihat kaget bercampur khawatir.
"Terimakasih sayang untuk yang tadi. Mukamu aneh, tapi, aku itu belum menjadi istrimu ya."
Aku membayangkan kembali mukanya yang sangat aneh ketika masuk keruang meetingku, dan cengengesan tidak jelas.
"Iya, anggap saja kau sudah menjadi istriku. Ahhaha," tawanya terdengar.
"Enak saja, belum kaleee. Sudah lanjutkan tidurmu."
"Baiklah cerewet, ehm Temari," dia memanggil namaku dengan sangat lembut.
"Apa?." jawabku singkat sambil menguap, aku memang sudah ngantuk berat.
"Aku mencintaimu," ucapannya membuatku melek, kadang-kadang dia memang bisa menjadi pria romantis.
"Aku juga mencintaimu," jawabku singkat, kemudian mematikan teleponku dan terbuai masuk kealam mimpi.
:::::.::::::::::::::::::::.::::::::::::::::::::.::::::::::::::::::::.:::
Mimpi itu datang lagi. Kami-sama kenapa kau selalu memberikanku mimpi yang sama. Mimpi itu seakan-akan terus menghantuiku.
"Dengarin ya,lagu ini spesial untuk tunanganku tersayang," ujar pemuda yang ada disampingku. Kemudian, jemari-jemarinya menekan tuts-tuts piano dan kemudian memainkan lagu yang sangat familiar untukku.
"I've built my world around you and I want you to know,I need you like i've never needed anyone before. I live my life for you I wanna be by your side in everything that you do and if there's only one thing you can believe is true I live my life for you...," dia menyanyikan lagu itu dengan mata terpejam sambil sesekali menatap kearahku.
"Kyaaaaaa, Shikaaaaaa, bagus sekali," ujarku sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dia hanya tertawa melihat tingkahku.
"Lagu ini menyampaikan apa yang aku rasakan sekarang. Aku mencintaimu,Temari," lanjutnya sambil mengenggam tanganku, dan mencium bibirku lembut.
Aku menutup mataku, mencoba menikmati ciuman kami. "Aku juga mencintaimu. Jangan tinggalkan aku ya," ucapku ketika ciuman kami berakhir, dan sekarang aku sedang memeluk pria yang sangat aku cintai.
"Tentu saja," jawabnya sambil membalas pelukanku.
"Eh, kau mau menyanyikan laguku?" pintaku kepadanya.
"Baiklah, aku akan menyanyikan lagu sendumu itu," jawabnya dengan nada meremehkan.
"Ayo kita berduet!"
Kami sungguh menikmati momen romantis kami berdua. Menyanyikan lagu-lagu romantis sampai kami merasa bosan.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
-skiptime-
"Shika, pentas musik tinggal 2 hari. Huah aku sudah tidak sabar menyanyikan lagu ciptaanku," aku berteriak kepadanya tanpa memperhatikan wajah pemuda disampingku. Tapi aku tahu, pemuda itu sudah menguap beberapa kali dalam 5 menit terakhir. Saat ini, kami sedang dalam perjalanan menuju kantor kami.
"Lagu sendu itu akan membuatku mengantuk," jawabnya singkat. Aku memberikan tatapan deathglare kearahnya, dan dibalas hanya dengan tertawa garing. Aku melihat Shikamaru menggaruk-garuk kepalanya, terlihat memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" jawabku sambil memasang wajah heran.
"Handphoneku ketinggalan diruang tv rumahmu, aku takut ada rekan bisnis akan meneleponku,kita balik sebentar ya, kau masih belum terlambatkan?"
Handphone Shikamaru ketinggalan? Kami-sama inikan sama dengan mimpiku ! Berarti hari ini kecelakaan itu terjadi?
"Shikamaru, kita lurus saja, jangan memutar arah. Nanti kau kecelakaan seperti dimimpiku," Aku melarang Shikamaru untuk memutar arah kembali tidak mau kejadian buruk itu terjadi.
"Mimpi itu lagi, aku sudah bosan mendengarnya, Temari." jawabnya setengah kesal, sambil memutar arah mobilnya.
"Tapi Shika, kejadian selama ini sangat mirip seperti dimimpiku."
"Mirip bukan berarti akan terjadi Temari, berhentilah bersikap konyol," Baru kali ini, dia berkata dingin seperti itu kepadaku.
Tit..Tit
Mobil Shikamaru mengklakson truk yang berada didepannya, dia hendak menyalip truk itu, dan aku kembali melihat pengemudi truk yang merokok memberikan seringaiannya dan terlihat mabuk, sama seperti dimimpiku, dan kulihat Shikamaru melepaskan sabuk pengamannya.
"Shikamaru, apa yang kau lakukan bodoh! pakailah sabuk pengamanmu," jawabku sambil membentaknya
"Ini sudah dekat, Temari, untuk apa memakai sabuk pengaman? Itu hanya akan membuat repot," dia balik membentakku dan menglemparkan tatapan kesal kearahku.
"Nanti kau terlempar keluar Shika !" aku juga membentaknya, saat ini aku sudah setengah menangis.
"Terlempar seperti dimimpi,eh? Mimpi terus yang ada diotakmu. Ingin sekali aku mencuci otakmu itu, untuk membuang mimpi keparat itu," jawabnya dengan senyuman kecut membuatku tambah ingin menangis.
Tiba-tiba mesin mobil Shikamaru mati ditengah jalan, untung saja jalanannya sepi. Dia terlihat panik, sambil terus mencoba menghidupkan mobilnya. Kami-sama, mobilnya mati percis seperti dimimpiku. Apa yang harus aku lakukan, badanku serasa kaku untuk bergerak keluar dari mobil, lidahku juga terasa kelu untuk berteriak ke arah Shikamaru, bahwa mimpiku benar, membantah semua argumen keras kepalanya.
"AWAS!" teriak para pejalan kaki. Kami-sama, suara itu... Dengan cepat aku melepaskan sabuk pengamanku, karena aku pikir sabuk pengaman akan memperlambat gerakku, kemudian memakaikan sabuk pengaman Shikamaru, dia terlihat kaget dengan perlakuan ku. Kemudian, aku memeluknya dan mencium bibirnya, "Shikamaru, aku mencintaimu. Biarkan seperti ini."
BRAK!
END TEMARI'S POV
PANGGIL AMBULANCE!
Sebuah truk menabrak mobil yang sedang mengalami kerusakan ditengah jalan seakan menjadi Trending topic para pengguna jalan pagi tadi. Sang sopir truk telah ditahan oleh pihak berwajib. Terlihat dari tempat kejadian perkara , sesosok tubuh wanita terkapar ditengah jalan. Tubuh wanita itu tak bergerak sedikitpun. Disekujur tubuhnya penuh dengan darah. Bagaimana tidak? Tubuhnya terlempar dari dalam mobil, memecahkan kaca depan mobil, kemudian terlempar kejalanan. Sementara, seorang pria yang bersama wanita itu,hanya mengalami luka ringan dikepalanya, terlihat sangat shock. Setelah kejadian itu, dia mencekik supir truk, untung dia dilerai oleh warga sekitar, sampai akhirnya ambulance datang.
SHIKAMARU'S POV
Aku kesal sekali dengan Temari, didalam mobil, dia selalu berbicara tentang mimpi-mimpi dan mimpi ! Aku berkali kali membentaknya hingga dia menangis. Dia memang terlihat diam, tidak seperti biasa. Biasanya, dia akan memukul kepalaku, ketika aku membuatnya kesal, tapi ini berbeda? Dia malah terdiam, terlihat seperti memikirkan sesuatu.
Kesalku ditambah dengan matinya mobilku karena radiatornya bocor. Aku tetap terus menghidupkan mobilnya berharap keajaiban terjadi.
Aku kaget saat dia melepas sabuk pengamannya, kemudian memasang sabuk pengamanku. Tangannya terlihat bergetar, dan dia menangis. Kemudian, dia memelukku sambil mencium bibirku, dan berkata bahwa dia mencintaiku dan memintaku untuk terus berada diposisi itu. Ingin sekali aku menghapus air matanya, tapi tangan ku tak kuasa untuk bergerak.
Tiba-tiba mobilku ditabrak dari belakang dengan keras. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, badan tunangan ku memecahkan kaca, dan terlempar keluar dijalanan, kemudian tak bergerak. Aku hanya mengalami benturan kecil dikepalaku, dan luka kecil, akibat serpihan kaca mengenai kepalaku. Aku diselamatkan oleh sabuk pengamanku. Kami-sama, mimpi yang diceritakan Temari itu benar-benar terjadi. Seharusnya aku mempercayai tunanganku, bukan malah membentaknya. Aku menjambak rambutku, hingga kuncirku terlepas, aku keluar dari mobilku dan menghampiri supir truk, dan mencekik lehernya. Kalau saja, tidak dicegah oleh warga, aku yakin 100% , supir truk itu sudah mati. Aku menghampiri tunanganku yang masih terbaring dijalanan.
"Temari, sabar yah sayang, ambulancenya sebentar lagi akan datang, kau pasti akan selamat," ucapku disela-sela tangisku, tanganku mengusap-ngusap kepalanya yang telah penuh dengan darah. Sampai akhirnya ambulance datang.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Maafkan kami, Tuan, kami telah berusaha semampu kami. Benturannya sangat kuat dan menyerang organ-organ penting ditubuhnya," seru dokter memberikan aku penjelasan tentang keadaan Temari.
"Jadi maksud anda?" jawabku dengan nada tidak percaya.
"Temari telah tiada." jawab dokter itu singkat, kemudian pergi meninggalkanku.
Aku melihat sesosok tubuh terbaring diatas ranjang rumah sakit, dan kain putih terlihat menutupi seluruh tubuhnya. Dengan tangan bergegar, aku membuka kain itu, dan mendapati tunanganku tidur untuk selamanya. Mukanya pucat, tapi tetap sangat cantik.
"Temari, bangunlah! jangan bercanda. Ini sama sekali tidak lucu," jawab ku sambil membelai kepalanya,berharap dia bangun dari tidurnya.
"Maafkan aku Temari, seharusnya aku mempercayaimu, bukan malah membentakmu. Seharusnya aku kan yang mati? Iyakan Temari?" aku menangis, terlihat air mataku membasahi wajahnya yang pucat.
"Kau bilang padaku, kalau kau mencintaiku, tapi apa nyatanya? Kau malah meninggalkanku dengan cara tidak elit seperti ini. Kita akan menikah sebentar lagi kan, Temari? Aku ingin melihatmu dengan gaun yang kau rahasiakan dariku. Kau juga ingin menyanyikan lagu ciptaanmu di pentas musik kan? Ayolah sayang bangun! Jawab aku !" aku menangis histeris sambil menguncang-guncangkan badannya. Hati aku hancur sekarang, wanita yang aku cintai mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan aku.
"Kalau saja aku mendengar ucapanmu, pasti sekarang kita masih bersama, Temari. Maafkan aku. Aku memang bodoh, aku mencintaimu,"
"Cukup Shika! ikhlaskan Temari," ibuku tiba-tiba datang dan langsung memelukku.
"Bu, Temari sudah mengingatkanku tentang kecelakaan ini tapi aku tidak mempercayainya. Aku malah membentaknya dengan kasar. Aku mencintainya Bu, aku hanya ingin menikah dengan Temari," aku menangis seperti anak kecil, dipelukan ibuku. Aku memejamkan mataku berharap ini semua mimpi. Tapi, ketika aku membuka mata. Ini semua memang kenyataan yang harus kuhadapi walau berat.
"Nee-chan !" pintu kamar terbuka dengan kasar, terlihat Gaara dan Kankuro masuk dan langsung menangis . Ayah Temari juga terlihat terpukul atas kepergian putrinya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Temari, aku pernah bilang kepadamu kan. Kalau, ibumu pergi karena Tuhan sayang dia, dan sekarang, kau pergi karena Tuhan lebih menyayangimu dibandingkan aku menyayangimu. Aku juga pernah bilang, kalau ibumu pasti melihatmu, diatas sana. Disurga. Sekarang, kau pasti sedang melihatku kan? Kau sekarang disurga kan? Bagaimana keadaanmu disana? Apakah kau bahagia? Kau bisa tidak,singgah ke bumi sebentar, aku mau bilang kalau aku juga mencintaimu. Aku kan belum menjawab kata-katamu yang terakhir. Itulah, jawabannya Temari. Aku mencintaimu lebih dari kau mencintaiku. Aku merindukanmu. Aku merindukan suara cerewetmu, aku merindukan pukulanmu yang dahsyat dikepalaku, aku merindukan ciuman pipimu disaat aku mengantarmu, aku merindukan sifatmu yang ceroboh. Kalau aku mendengarmu kemarin kau pasti disini bersamaku, dan 6 hari lagi kita menikah kan? Aduh kok aku jadi galau gini ya. Hehe . Oh ya, sekarang sedang pentas musik loh. Aku menyanyikan lagumu yang selalu ku ejek terlalu sendu. Kau senang? Hehehe , aneh ya, seorang vokalis band hardcore menyanyikan lagu sendu. Merepotkan !
"Lagu ini adalah ciptaan seseorang yang sangat berarti dihidup saya, dan dia selalu tinggal di hati saya dan tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hati saya," ucapku pelan memulai menekan tuts-tuts piano dan mulai bernyanyi
"And if you have to leave, I wish that you would just leave, Cause your presence still lingers here. And it won't leave me alone. These wounds won't seem to heal. This pain is just too real, There's just too much that time cannot erase. When you cried, I'd wipe away all of your tears. When you'd scream,I'd fight away all of your fears. And I held your hand through all of these years. But you still have...All of me. You used to captivate me. By your resonating light. Now I'm bound by the life you left behind. Your face it haunts. My once pleasant dreams. Your voice it chased away. All the sanity in me. I've tried so hard to tell myself that you're gone. But though you're still with me . I've been alone all along..."
Kau lihatkan Temari, aku membawakan lagumu. Bagaimana? Bagus tidak? Aku yakin lagu itu akan lebih bagus kalau kau yang menyanyikannya. Aku selalu mencintaimu, and you still have all of me.
END
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Huaaahhh review yaaaa.
Lagunya masih sama kayak yang dichapter 1 kok. Hehe . Liriknya lagu my immortal mirip banget ya sama kisah Shikamaru :/ .
