(HunHan) Someone Call the Doctor

Warning: T, violence, romance YAOI, psycho!au

"Hari ini aku bertemu dia lagi. Kau tahu Xiao Lu kan, PinkuPinku?"

"..."

"Dia, namja dengan mata seindah mata rusa yang selalu kuceritakan padamu."

"..."

"Aku selalu memperhatikannya dari jauh. Sayangnya, dia tak pernah melihat ke arahku..." wajah putih stoic itu diliputi hawa gelap. Ia meremas kasar telinga 'pinkupinku', sahabat setianya.

"Tapi kau tahu kan, aku tak suka diacuhkan. Dan dianggap tidak ada." masih dengan meremas telinga pinkupinku, ia berjalan ke arah kasur dimana berbaring sosok bertubuh kurus dengan kedua tangan terborgol di salah satu tiang di kepala ranjang. Sosok kurus itu meronta-ronta dan berusaha menjauh disaat namja berkulit pucat itu duduk di kasur di dekatnya. Matanya yang basah memandang dengan penuh ketakutan dan kesedihan.

Sehun -namja pucat itu- menatap intens ke dalam mata rusa itu, mengangkat tinggi-tinggi 'sahabatnya' untuk menyejajarkannya dengan mata rusa itu.

"Lihat, sekarang dia juga memperhatikanku, eoh? Mulai sekarang, aku bisa melihatnya setiap hari, dan dia juga membalas perhatianku. Kau mau dengar suaranya, pinkupinku?"

"..."

"Baiklah, chakkaman, ne?"

Sehun menempatkan sahabatnya di atas kasur dan beralih menatap kain yang menutupi mulut namja yang dipanggilnya Xiao Lu itu. Setelah kain itu terbuka, namja di depannya meludah hingga salivanya mengenai pipi pucat itu. Sehun masih dengan wajah stoicnya, mengelap saliva di pipinya dengan kain yang ia gunakan untuk menutup mulut namja kurus itu, lalu membuangnya ke lantai.

PLAK!

Bunyi suara tamparan bergema di ruangan. Namja kurus itu meringis merasakan cairan kental yang terasa seperti besi berkarat di sudut bibirnya. Air matanya kembali mengalir, membasahi pipi chubbynya.

"Appo?" dengan suara yang dingin dan tanpa nada, namja pucat itu bertanya. Luhan hanya dapat menganggukkan kepalanya. Ia sangat bingung saat ini. Ia takut jika ia tidak merespon, maka kejadiannya akan sama seperti kemarin.

"Disini?" ujarnya menyentuh sudut bibir Luhan yang berdarah, yang dijawab namja kurus itu dengan ringisan. Sehun menarik ujung kemeja putihnya, membuat perut ber-abs tipisnya terpampang dimata Luhan. Namja bertubuh lebih kecil itu memalingkan wajahnya. Ia merasa hangat.

"Aaa" lirihnya saat akhirnya Sehun berhasil membersihkan darah itu. Ia menoleh dan menemukan Sehun yang menatapinya intens. Luhan bisa melihat wajah Sehun yang semakin lama, semakin mendekat ke wajahnya. Ia tak tahu apa yang merasukinya, namun Luhan juga memajukan tubuhnya dengan mata tertutup. Hingga ia merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.

Semua terasa berputar, dan dunia terasa begitu salah. Namun, ia tidak peduli. Saat ini, ia tak tahu dimana ia berada dan siapa namja yang menyekapnya ini. Saat ini, ia hanya mencoba berpikir positif agar kewarasannya tetap terjaga. Setidaknya namja ini peduli padanya, walaupun ia mengasari Luhan. Mungkin jika ia menuruti maunya, maka Luhan akan terbebas sebentar lagi.

"Ahhhh~"

enD
athazagoraphobia. merupakan rasa takut dilupakan atau diabaikan.