"Ya..." senyumku pudar, bahkan suaraku juga terdengar memudar. Entahlah, aku menjadi sangat takut saat Naruto benar-benar memasang wajah polosnya...
Jangan katakan...
Jangan katakan, Naruto...
Apa kau tidak mengingatku?
Jangan katakan bahwa kau tidak mengingatku!
"Maaf, Hinata-san. Sepertinya aku tidak mengenalmu." buruk, dia bahkan tidak memanggilku dengan suffix 'chan', padahal...padahal dia yang bilang jika aku lebih imut jika menggunakan suffix itu.
TWO
START
Aksiku tergolong nekat dan bodoh. Bagaimana bisa, untuk apa aku harus ijin keluar ke kamar mandi saat pelajaran Hibiki-sensei? Nekat sekali, bukan? Tapi bodohnya aku... bodohnya diriku yang tidak kembali lagi ke kelas dan memilih menangis sesenggukan di sini. Pastinya Hibiki-sensei akan marah besar dan mungkin akan memberiku hukuman yang berat, tapi aku benar-benar tidak mampu kembali ke kelas untuk saat ini, apalagi bertemu dengannya lagi. Mengingatnya saja sudah membuatku sakit.
Rasanya sakit, sangat sakit. Apa yang dia ucapkan terdengar jujur dan meluncur bebas tanpa beban. Bibirnya bergerak lancar saat mengucap kata 'sakral' itu, seperti tanpa beban sedikitpun ia mengeluarkan suara seraknya. Sakit, seperti terasa hatiku telah ditikam oleh ratusan jarum tak kasat mata dan mengoyaknya perlahan, perlahan dan menyakitkan.
Apa tadi hanya sebuah kebohongan?
Untuk apa kau berbohong?
Sungguh bodoh sekali jika memang kau berbohong kepadaku, kepada diriku yang selalu mengingatmu sepanjang waktu. Bodohnya kau yang melupakan janji kita saat itu, saat kita akan berpisah dan kau berkata, "Jangan melupakanku, aku juga tidak akan melupakanmu sampai kita bertemu lagi. Janji?" aku selalu memegang teguh janji itu, Naruto. Apa kau terlalu bodoh untuk mengingat sepenggal kalimat SINGKAT janji kita?
Naruto, pernahkah kau tahu jika aku selalu menyimpan sejuta khayalan indah saat kita bertemu lagi?
Aku tak pernah mengira kau akan meminta maaf saat kita bertemu lagi. Alasan bodoh! Seharusnya kau mengenalku dengan baik! Maaf saja tidak akan cukup. Jika memang kau tidak bisa mengingatku, seharusnya kau harus menghapus semua khayalan bodoh ku yang terlalu indah saat bertemu denganmu lagi.
Bodoh bodoh bodoh bodoh!
Sudah berapa kali aku memaki diriku sendiri, sudah tak terhitung banyaknya. Aku tak tahu siapa yang harus disalahkan. Aku yang bodoh ini atau Naruto memang yang lebih bodoh? Pikiranku kacau. Aku menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan diri, suaranya terdengar aneh karena dibarengi dengan suara sesenggukan yang tak bisa kuhentikan.
Berapa kalipun aku menghirupnya, udara masih tak sesegar biasanya. Rasanya seperti ditambahi dengan extrak jarum kecil yang membuat paru-paruku sakit. Dadaku terasa sesak.
"Kenapa... hiks... hiks... kenapa bisa?" kuseka aliran deras air mata ku yang menggenang di kedua pipiku. Berhenti, bodoh! Kenapa air mata ku tak bisa berhenti?
Aku tak tahu apa aku terlalu berlebihan tentang ini.
Kuseka lagi pipiku yang basah, dengan kasar. Rasanya mataku sudah perih karena terlalu lama(mungkin) menangis. Kulihat jam tanganku, 15 menit, pasti cukup lama untuk bisa membuat mataku bengkak. Waktu istirahat akan segera datang. Inginnya sih segera pergi dari sini karena toilet akan ramai saat jam istirahat datang, tapi rasanya aku masih perlu sedikit waktu untuk sendiri.
Waktu sendiri untuk bisa meniadakan harapanku yang telah menjadi palsu.
Aku memejamkan mata untuk sesaat, sebelum suara gaduh langkah kaki membuyarkannya. Suara alas kaki dengan lantai yang beradu terdengar ribut, orang itu berlari dari ujung lain bilik didekat pintu.
"Hinata ... Hinata ... Hinata, kau disini? Oi Hinata-chan, jawab aku!" dari suaranya aku sudah tahu siapa dia. Dia memang sahabatku, dan dia sedang mencariku daripada memilih diam damai di kelas tanpa ada ancaman jika keluar dari Hibiki-sensei.
"Hinata." dia memanggilku lagi, kali ini suaranya terdengir lebih dekat. Aku menghirup nafas sekali hirup dan menyeka air mataku untuk sekali lagi. Untuk saat ini terasa lebih ringan.
Memang semua masalah akan terasa lebih ringan jika ada seseorang yang ada dan peduli kepadamu. Biarpun Naruto tidak mengingatku (walau rasanya sakit), tetapi mungkin Sakura —gadis yang mencariku saat ini begitu peduli kepadaku. Dialah sahabatku sejak SMP, dan dialah teman yang selalu ada untukku (di sekolah) sejak SMP.
Aku terharu.
"Hinata, kau disana?" suaranya masih setia mencariku.
"Ya Sakura-chan, aku disini?" tak peduli dengan mata sembab atau mungkin sudah bengkak karena menangis, aku keluar dari 'persembunyian' dan segera menghampiri Sakura yang tampak ling-lung dan bingung. Aku datang dengan senyum agar dia tidak cemas padaku, dia pun menampakan senyum lega dan sumringah ... namun sedetik kemudian ekspresinya berubah.
Aku menyesal telah terharu.
.
.
.
Aitakata
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Romance
T Fiction
Always NaruHina
Da Discabil Worm N.A
.
.
.
"Kau tahu, si guru killer itu juga akan menghukumku jika tidak menemukanmu sebelum waktu istirahat datang." Sakura mengatakan maksud yang sebenarnya sambil memelukku. Aku jadi malas mendengarnya. Lagipula, kenapa dia memelukku?
Teng teng teng teng ... Suara lonceng istirahat terdengar.
"Terima kasih sudah menyeretku kedalam pestamu, Hinata-CHAN." suara Sakura yang seperti akan menangis membuatku tertawa. I know that feel.
"Arggghh demi kapal flyng dutsman yang berwarna hijau, bodohnya aku tidak mencarimu ke sini sejak awal. Kenapa pula aku harus berkeliaran kesana-kemari sampai ke rock buttom untuk mencarimu jika ujung-ujungnya ada disini? Oh Hinata, biarkan aku memelukmu sekali lagi." melakuan abstrak Sakura kumat, kata-kata absurb pun keluar dengan kecepatan cahaya. Kalau dia sudah seperti ini aku hanya bisa tertawa menanggapinya, walau ini juga karena salahku.
"Kau bisa menceritakan apa masalahmu?" Sakura melepas pelukannya dariku dan membersihkan sisa-sisa air mata yang menempel di pipiku. Aku tersenyum, sekarang dia tengah memegang bahuku dan menatapku dengan tatapan yang menuntut. Saat aku melihat emerald bening miliknya, aku tak bisa berkutit. Memang dia tempat curhatku selama ini, aku pun mengangguk setuju.
"Jadi ...?" tanya Sakura. Aku meraih tangannya yang bertengger di bahuku. Ku cengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya keluar dari toilet. Sebentar lagi tempat ini akan jadi sangat ramai, mengingat ini adalah toilet perempuan. If you know.
"Kemana?" tanya Sakura.
"Ke kantin." jawabku singkat. "Tak ada alasan spesial, aku hanya lapar, itu saja." aku memotong pertanyaan Sakura bahkan sebelum ia bersuara.
Perutku rasanya sudah keroncongan. Energi dari sarapan dua lembar roti tadi pagi sepertinya sudah habis. Menurut buku yang kubaca, tekanan emosi seseorang seperti stres, sedih, marah, dan lain-lain dapat meningkatkan rangsangan rasa lapar ke otak. Memang benar adanya, menangis 15 menit tadi mampu membuatku lemas kelaparan, apalagi ditambah acara lari pagi untuk mengejar keterlambatan ke kelas Hibiki-sensei. Terlambat sih tidak, karena memang secara tekhnis aku datang lebih awal daripada si mantan pembunuh bayaran(katanya) itu, tapi tetap saja aku akan dihukum olehnya.
"Hei, Hinata." si kepala kapas itu berisik sekali. Tidak tau apa kalau sekarang pikiranku semakin kacau karena lapar.
"Apa lagi, Sakura?" jawabku ketus.
"Kita salah arah ... Seharusnya arah ke kantin itu sebaliknya."
Hehe, apa aku mulai stres sampai tidak ingat arah ke kantin, ya? Aku menggaruk pipiku yang sama sekali tidak gatal. Kutarik lengan Sakura lagi dan berbalik arah haluan ke kantin yang sebenarnya. Namun diperjalananku ke kantin, aku melihat sosoknya berdiri tenang melihatku. Melihatku dengan tatapan datar.
Hatiku berdenyut perih. Oh ayolah, biarkan aku melupakanmu sejenak dan biarkan juga aku pergi ke kantin mengisi perut sebelum menerima hukuman Hibiki-sensei.
"Hei ... Kau ..."
Tak kugubris ucapannya, aku melewatinya yang berdiri dengan bodohnya tanpa melakukan apapun. Ini impas. Aku hanya terus maju kedepan sambil menyeret lengan Sakura, menolehpun tak kulakukan, walaupun sebenarnya sangat ingin.
"Hei Hinata, ada apa?" Sakura bertanya dengan wajah polosnya.
"Sudah kubilang kan, aku lapar. Kita harus cepat ke kantin sebelum kantin jadi semakin ramai." Sakura mengangguk tanda mengerti. Dia menoleh kebelakang, menoleh ke arah orang yang baru saja melupakanku. Aku memutar bola mata dengan malas. Kutarik lengan Sakura lebih keras hingga dia tersentak dan baru menolehku.
"Apa karena dia?" malas rasanya menjawab pertanyaan Sakura. Aku lebih memilih melangkahkan kaki lebih cepat untuk segera ke kantin. Perut ini perlu asupan sebelum bisa berbagi ceritaku pada Sakura.
.
.
.
"Um ... Jjadi ... si Nalutuo ito toman kecilmu?" mulut penuh makanan itu hanya bergerak mengeluarkan bahasa alien planet namek yang susah dimengerti. Sakura memang orang paling KEPO yang pernah kukenal. Sekali dia mengetahui satu fakta, sampai habis ia akan mengupas luar-dalam fakta itu. Walaupun begitu, dia satu-satunya tempat curhat yang kumiliki. Demi kerang ajaib.
"Telan dulu makananmu!" Sakura mengikuti perintahku dengan menelan dulu makanan yang ada di mulutnya. Selanjutnya ia kembali bertanya, "jadi itu benar?" Aku mengangguk.
"Tapi bagaimana bisa dia tidak mengenalimu, ya?" aku menggeleng. "Apa mungkin dia berbohong?" Aku menggeleng lagi. "Kupikir, kemungkinan dia memang tidak mengenalmu jika melihat raut wajahnya." aku mengangguk.
Satu tusuk dango kuhabiskan sekali gigit, rasanya hambar tak semanis sebelumnya. Sakura menatapku dengan tatapan kasihan. Apa aku memang layak dikasihani seperti itu? Aku semakin malas bahkan hanya untuk mengangkat kepala, kusembunyikan wajahku yang pastinya lusut ini karena berlama-lama menangis di toilet.
"Oh jadi seperti itu ..." Sakura berujar dengan semangat. Dia berjingkrak sampai mengagetkanku. Bukan aku saja, mungkin seluruh penghuni kantin ini juga terkejut mendengar suara gadus pink itu. Aku mendengus kesal.
"Oh~ aku tak bisa membayangkan jika berada di posisimu, Hinata." sepertinya gadis itu mulai ngelantur. Dia berpindah posisi duduk di sampingku dan merangkulku sembari menunjukan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"Ya-ya-ya ..."
"Cinta dan persahabatan. bagaimana dirimu yang menunggunya kembali, tapi ... tapi dia datang dengan ingatan baru tanpa mengenali dirimu. Ini seperti sebuah roman picisan." sifat absurb Sakura kambuh lagi.
"Ini seperti kisah yang pernah kubaca."
"Apa judulnya?"
"Entahlah, aku lupa."
Aku menghembuskan nafas panjang, sangat panjang. Mungkinkah ini bisa dibilang hiburan atas kegalauan hati yang sedang melandaku? Entahlah, perkataan Sakura hanya membuatku bingung. Bagaimana jika benar kisahku seperti roman picisan yang mempunyai alur yang rumit, atau ceritanya malahan akan lebih panjang sepanjang episode sinetron negri uttara(n) yang tidak bakal habis selama 4 tahun? Roman picisan ... Heh ... Wait!?
"Apa yang kau bilang tadi? Roman picisan?" kusingkirkan tangan Sakura yang melingkar di leherku. Dia bergerak kebelakang dengan ekspresi wajah yang bertanya-tanya.
"Ya. Memangnya kenapa?" ekspresi Sakura membuatku ingin menimpuknya dengan bata
"Bagaimana bisa kau bilang kisahku ini seperti kisah percintaan?"
"Itu gampang saja, Hinata-chan~ itu bisa dilihat dari sikapmu." aku terkesiap. Memangnya sikapku bisa mencerminkan kisah cinta romanyis para remaja? Kurasa tidak. Dia semakin menbuatku tidak mengerti, ditambah lagi matanya berkedip-kedip tidak tidak jelas.
"Maksudnya?"
"Hubungan antara laki-laki dan perempuan itu tidaklah rumit. Saat kalian dekat, kalian tidak usah bilang bersahabat. Perasaan lebih dari sekedar teman yang sulit dilupakan pastinya akan datang cepat atau lambat, tentunya jika kalian normal."ucapnya panjang-lebar sambil mengangkat telunjung dan matanya mengarah ke awang-awang. Belum sampai segitu, bibirnya masih bergerak lagi, "Maksudku, aku sudah melihat semuanya darimu. Bagaimana kau yang menangis di toilet tadi, bagaimana kau bercerita tentang dia, kau yang selalu mengingatnya, bahkan selalu berharap dan menungguinya kembali. Oh Hinata-chan, akhirnya sahabatku ini jatuh cinta juga."
"Kau berbicara sok bijak saja ... nyatanya hubunganmu dengan Sasuke tidak ada kemajuan, tuh."
"Hinata, kau jahat! Jangan bahas itu lagi."
"Pakai 'chan', lhooo ..."
Kami tertawa bersama-sama. Menyenangkan juga punya teman seperti Sakura. Setidaknya dia bisa menghiburku dikala aku bersedih dengan kelakuan absurbnya.
"Ngaku aja deh, Hinata-CHAN." Sakura masih menuduhku dengan pendapatnya. Aku tak tahu harus menjawab apa, karena nyatanya Naruto yang dulu sudah kuanggap kakak sendiri. Itu dulu, entah untuk yang sekarang ... memiliki hubungan sebagai teman saja aku masih ragu.
"Kau jaga rahasia ini, ya. Semua yang kukatakan adalah rahasia." Sakura mengangguk mengerti. Walau dia mengangguk tersenyum tak jelas kepadaku, tenang saja. Selain dia adalah orang ter-absurb yang pernah kukenal, dia juga salah satu orang yang paling bisa dipercaya. Itulah salah satu keuntungan berteman dengannya. Aku bisa curhat dengan tenang tanpa khawatir bocornya informasi apapun.
"Jadi bagaimana dengan hukumannya? Ayo kita temui Hibiki-sensei." ucap Sakura. Aku hampir melupakannya jika saja ia tidak berucap.
"Semoga saja tidak terlalu buruk—"
"Sakura, Hinata-chan, aku ikut duduk bersama kalian, dong." salah seorang teman kami datang ikut duduk bersama, merusak acara delusi kami tentang hukuman Hibiki-sensei. Dia cuma tamu yang tidak diundang. Ino Yamanaka, teman absurb Sakura sejak kecil. Dia juga temanku, otomatis saja. Teman dari temanku adalah teman.
"Hei, kalian ingat 'kan tentang hukuma—"
"Jangan ingatkan kami!" untuk kali ini aku dan Sakura jadi sangat kompak. Berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Ino. Dia marah-marah tak jelas karena kami tinggalkan, tapi Biarlah, hukuman Hibiki-sensei jauh lebih menakutkan.
.
.
.
Melelahkan sekali hari ini. Tubuh dan jiwaku rasanya sudah diambang batas pemakaian. Jika energiku disamakan dengan daya alat elektronik, maka daya yang tersisa adalah 14 persen, kurang-lebih. Ini tak mengada-ngada. Hukuman Hibiki-sensei memang tidak terlalu merepotkan, namun cukup menguras tenaga. Dia hanya menyuruh kami –aku dan Sakura– membersihkan gudang olahraga yang sudah lama tak terpakai, tapi buruknya kita juga harus mengecat dinding yang sudah mengelupas. Sungguh seperti kerja rodi.
Tubuhku sudah cukup lelah untuk hukuman itu, tapi bukan masalah itu saja. Ada masalah lain yang mengusik jiwaku. Tentu saja karena Naruto. Dia benar-benar seperti tidak mengenalku. Sepanjang hari di sekolah dia hanya menghabiskan waktu dengan teman laki-laki satu kelas kami, bahkan sampai waktu pulang sekolah pun ia hanya berbicara dua patah kata padaku tadi pagi.
Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya. Untuk itulah saat ini aku tengah mengekorinya di perjalanan pulang. Sudah sejak tadi, entah dia menyadariku atau tidak, sifat cueknya sudah kelewatan berbanding terbalik dengan yang kukenal dulu.
"Hey!" aku berteriak pada Naruto yang tengah berjalan beberapa meter didepanku. Dia tidak menoleh, bergeming pun tidak sama sekali. Dia hanya terus berjalan seakan tak ada suara apapun di sekitarnya.
Ini menyebalkan.
Aku berlari mengejarnya, tapi tanpa kuduga dia juga ikut berlari seakan menyadari diriku. Larinya cepat, aku tak dapat menandinginya. Laki-laki melawan perempuan, sudah jelas siapa yang menang. Walau begitu, aku masih tetap mengejarnya sampai tiba-tiba dia menepi ke tembok pagar perumahan sambil memegangi kepalanya. Ia terlihat kesakitan.
"Naruto!?" aku mendekatinya dan mencoba menyentuhnya. Dia mengibaskan tangan tak membiarkan aku menyentuh tubuhnya sekalipun.
"Ada apa?" tanyaku tak mengerti.
"Sudah cukup! Aku sudah mencobanya seharian ... Aku tidak bisa mengingatmu. Hentikanlah!" dia meracau tidak jelas.
Aku tak mengerti. Naruto terus memegangi kepalanya, sesekali menjambak rambut pirangnya dan menunduk seperti tak berani menoleh kearahku. Dia berlari, dengan terus memegangi kepala dia berusaha menjauh dariku sebisa mungkin. Aku tak bisa menerimanya. Tubuhku bergetar kaku, hanya bisa meratapi kepergiannya yang menghilang di balik belokan jalan.
Air mataku merembes keluar tanpa perintah.
"NARUTOOO." tanpa persetujuan dari otak, mulutku berteriak memanggil namanya. Namanya yang selalu kuingat seperti apa yang dia inginkan, namanya yang selalu spesial di hatiku, nama itu yang selalu kuinginkan. NARUTO, APA YANG TERJADI PADAMU?
Siapa yang bisa memberitahu ku? Tolong beritahu aku ... aku perlu jawaban. Siapapun itu. Bibi Kushina? Paman Minato? Ayah? Ibu? Kami-sama? Kenapa dengan Naruto? Tolong beritahu aku ... Kumohon.
"Tolong beritahu aku ..." kakiku terasa lemas dan tubuhku terasa berat untuk berdiri. Aku tertunduk lesu di jalanan umum di bawah panas mentari senja, tak peduli dengan beberapa orang yang berlalu lalang di jalan ini.
Aku hanya menerawang memandangi jejak kaki Naruto. Membisu ditempat, menulikan telinga dari suara sekitar. Pandanganku mulai mengabur. Sebelum indra pendengaranku terenggut kesadaran, aku mendengar suara yang sangat kukenal memanggilku.
"Hinata-chan." suaranya terdengar cemas. Kemudian suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Orang yang memanggilku itu menggoyangkan tubuhku, itu membuat penglihatanku kembali membaik, sehingga dapat kulihat dengan jelas wanita cantik yang tengah menopang tubuhku yang hampir lemas.
"Bibi Kushina ..."
"Ya, ada apa, Hinata-chan?"
Wajah dan suaranya tak pernah berubah, bahkan sifatnya yang baik seperti ini membuatku masih menganggapnya sebagai ibu kedua ku. Bibi Kushina tidak berubah, lalu kenapa dengan putranya?
"Naruto ... Bagaimana bisa?" aku kembali menangis saat mengucapkan nama itu.
"Maafkan bibi, Hinata-chan. Bibi seharusnya memberitahukanmu pagi tadi." wanita itu berucap sambil menolongku untuk berdiri. Lalu bibi Kushina memelukku erat, mengelus punggungku dengan lembut tanpa mempedulikan tatapan orang sekitar yang menganggap adegan ini sebagai drama musikal.
Aku membalas pelukan itu dan menangis sejadi-jadinya di pundaknya. Aku merasa harus mengeluarkan rasa sakit di dada ini, membaginya dengan ibu kedua ku.
"Maafkan bibi." wanita itu masih mengusap punggungku, lalu menaikan tangannya meraih rambutku dan mengusapnya juga. Itu membuatku jauh lebih baik. Membuatku bisa lanjut mengadu rasa sakitku padanya.
"Naruto ... bagaimana bisa? Hiks ... Dia tidak mengingatku, bibi." dia belum menjawab apapun. Bibi Kushina masih memelukku dan mencoba menenangkanku terlebih dahulu.
"Hinata," bibi Kushina berucap memberi jeda sampai diriku tenang terlebih dahulu. Aku mencoba tenang, menghentikan isakan dan menunggu lanjutan kata darinya.
"Maafkan dia, sebenarnya dia ..." bibi Kushina memberi jeda lagi. Dia bergerak melepas pelukannya padaku dan menatapku dengan tatapan yang lembut. Itu membuatku jauh lebih baik. Aku berhenti terisak, kemudian memperhatikan wajahnya dan menantikan lanjutan dari perkataannya. Bibirnya bergerak perlahan, suaranya terdengar halus saat menyampaikan fakta yang tak dapat kuterima. Bagaiman bisa? Seharusnya ini tidak terjadi.
.
.
.
"Dia mengalami amnesia."
.
To be continued~
.
Author Note : yo~ jumpa lagi. Alhamdulillah bisa up cepet. Berterimakasihlah pada tuhan yang maha esa dan warna merah di kalender nasional. Ya sudah ... Berikut bonus :
Re-review area :
alfa naruhina : yak, ini sudah dilanjut. Dan pairingnya of course naruhina, bisa dilihat di awal ada tulisannya "always naruhina" :v so, semoga bisa pantengin terus cerita ini :v
Vicagalli : ini udah lanjut dan selamat, anda tidak perlu menunggu lama :v
Naruhina 3 : ini udah lanjut... Dan mungkin chapter ini jadi melow :3 masih belum ada romance-nya juga :3
alfa naruhina (lagi :v) : yak, anda salah dan saya memaklumi anda :v
Coconovisch MC : makasih loh udah follow cerita ini, senior :3
Huddexxx69.h6 : :v
MILO AY : udah lanjut nih, mbak/mas.
Milonaru : yak, alasannya sudah diberitahu di chap ini.
Orochimaru-chan : makasih loh udah nunggu :3
Anggredta wulan : yak, selamat tebakan anda jitu, dia amnesia.
ana : ini udah disambung.
Furasawa99 : yak, makasih udah mampir dan review, kakak. Saya dah gak make kata "coeg" lagi. Sebenernya kalo aku pribadi sih ngartiin kata itu sebagai nama panggila kayak "bro" "bray" atau semacamnya. Tapi sebenernya arti kata itu lebih banyak dari yang kutau, jadi selengkapnya cari aja lewat google. (Jangan salahkan ayah anda memarahi anda jika bertanya padanya :v)
Cuka-san : yeeee, ada yg ketipu kalo ini ff multichap :v say bakal semangat dah :v ini kelanjutan ceritanya, semoga suka :)
Yak segitu aja, daripada emot pacman semakin bertebaran tak terkendali :v :v :v :v :v :v :v (tebar pesona pacman)
Terima kasihan :v
Salam, see ya ... Jangan lupa review, lho...
#HENSHIN! abaikan, hanya hastag favorit.
