Annyeong!Saya kembali dengan chapter 2 \^^/
Maaf ya kalau updatenya telat
Ayo langsung saja dibaca~ Jangan lupa review yah!
The Chaser
Jiyoon PoV
Aku dan beberapa teman sekelasku terhanyut dalam film horor yang kami saksikan di apartemenku. Sekali-sekali kami tersentak kaget, mengernyit, dan otot-otot kami menegang -gengsi untuk teriak-teriak-, apalagi Hyomin yang sedari tadi meremas dan memeluk bantal sofa erat-erat.
Klek
"Gyaaaaaah!" pekik semua temanku ketika kami mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Aku yang terkejut akan pekikan mereka jadi ikut memekik juga. Fiuh! Aku menoleh ke belakang dan mendapati Gayoon di depan pintu kamar mandi. Ia kelihatan terkejut dengan pekikan kami tadi.
"Aish Gayoon-ah! Kau mengagetkan kami saja!" keluh Hyomin. Penakut sekali anak ini.
"Aku bukan hantu," celetuk Gayoon datar lalu duduk di sebelah kiriku.
"Kapan kau ke sana?" tanyaku. Saking seriusnya aku menonton, Gayoon yang duduk di sebelahku beranjak pun tak kusadari.
"Baru saja," jawabnya cuek tanpa menatapku melainkan televisi. Kami menonton dalam diam. Terlihat si hantu sedang menjahili seorang namja sekitar 18 tahun dengan menggelitiknya dengan bulu kemoceng. Namja itu merinding dan melebarkan matanya ketika melihat bulu kemoceng yang melayang di udara.
"Jiyoon-ssi, kenapa kau menggaruk punggungmu terus? Jamuran?" tanya Hyomin. Aku tahu ia sengaja bertanya untuk mengalihkan pandangannya dari adegan si hantu jelek sedang menusuk namja itu berkali-kali dengan tombak di seluruh bagian tubuhnya. Aku bingung. Dia takut. Tapi kenapa masih mau ikut menonton? Teman-temanku yang lain tidak peduli akan ucapannya. Mata mereka memandang lurus ke televisi tanpa berkedip, namun mengerutkan kening mereka –jijik- dengan darah yang muncrat ke dinding.
Ngomong-ngomong, punggungku memang gatal. Gatal sekali. Juga sakit seperti puluhan jarum infuse yang baru saja dicabut dari situ. Aku berhenti menggaruk dan mengangguk ke arah Hyomin sebagai jawaban pertanyaannya. Gayoon mengelus-elus punggungku dengan telapak tangannya yang kecil tanpa mengalihkan pendangannya dari layar kaca. Dia orangnya dingin dan cuek. Namun, sebagai teman baiknya, selain Gyu-Hyunseung-Hyuna, aku tahu dia punya sisi yang lembut, tegas, dan berani.
Ponselku bergetar di samping kakiku lalu kuambil dan kugeser layarnya. Ada pesan masuk.
From: Gyu
Hei, Jiyoon-ah. Ayo kita k rmh HS nanti malam. dia mengadakan pesta BBQ bersama ibunya. Aku disuruh untuk mengundangmu dan Hyuna.
-Tolong bilang k HS aku minta maaf. Aku tdk bs, mau buat peer, balasku.
Buat di rumah HS bs kan? C'mon!
-Shireo.
Kalau begitu selesaikan itu skrg d apartemenmu.
-Aku dan teman2ku lg nonton.
Dasar pemalas! Eoh! Tadi buku jurnalmu jatuh di koridor. Ada buku harianmu juga. Rencananya sih mau kukembalikan nanti malam sblm kubaca isinya. *smirk*
Aku membelalakkan mataku. Celaka! Asetku yang berharga! Kupikir aku meninggalkan buku harianku di loker. Kenapa harus Gyu yang mengambilnya? Aish, dasar tukang ancam! Cepat-cepat kuketik balasan untuknya.
-Baiklah, aku dtg! Jgn berani2nya kau baca isinya. Aku punya skill mengancam yg lbh hebat darimu!
Hahaha. Bagus, bagus. Kami tunggu :D
Aku mendecak kesal membaca balasannya. Sepertinya hobinya itu tertawa di atas penderitaan orang lain.
Teman-temanku menghela napas lega. Filmnya sudah selesai. Hyomin meletakkan bantal sofaku yang sudah agak kusut dengan perlahan di atas sofa. Kami semua duduk di lantai. Film aneh. Adegan terakhirnya: si hantu jelek berubah jadi wanita cantik dan pergi ke bulan. Namja tadi tamat riwayatnya. Jadi, film horor ini bercerita tentang dewi Bulan yang dikutuk malaikat Mars menjadi jelek. Jika ingin kembali jadi cantik, ia harus membunuh orang-orang yang pernah menyakitinya ketika ia hidup sebagai manusia sebelum ia bereinkarnasi menjadi dewi Bulan. Aku tertawa sendiri ketika menangkap maksud arti ceritanya. Kreatif juga yang buat cerita seperti ini. Horor bercampur fantasi seperti di buku dongeng anak-anak.
Ponselku bergetar lagi. Kutekan gambar amplop putih di layarnya dan aku diperlihatkan pesan yang seperti Hyuna tunjukkan kemarin.
From: Unknown
Being chased all the time or just kill them directly.
Lagi-lagi! Segera kuhapus semua pesan dari orang tak diketahui itu. Menyebalkan sekali. Dari kemarin ia mengirim pesan yang sama beberapa kali setelah mengirimi pesan pertama yang isinya: "After You kill all The Chasers,You will be The Chaser". Aku penasaran siapa yang –dengan tidak tahu diri- telah mengirimkan kalimat-kalimat seperti itu. Ingin sekali kukejar-kejar orangnya –seperti arti kalimat tersebut setelah kucari di kamus- dan kusuruh Gyu mengancamnya untuk tidak mengulangi perbuatannya yang membuatku tidak konsentrasi belajar sejak tadi malam.
Tapi ada yang lebih membuatku penasaran daripada mencari tahu siapa pengirimnya. Aku teringat bahwa aku, Hyuna, dan Hyunseung merasa gatal dan sakit di tempat yang berbeda. Apa ini hanya kebetulan? Apakah Hyuna juga mendapat pesan seperti yang pertama kali kudapat? Apakah Hyunseung mendapat pesan-pesan seperti ini juga? Hey, Jiyoon! Kau berpikir terlalu jauh, rutukku dalam hati. Walaupun begitu, aku belum bisa mengatakan hal ini kepada Hyunseung dan Hyuna. Aku merasa ini hanya keisengan seseorang yang mengganggu ativitas kami sebagai pelajar.
"Jiyoon-ah," panggilan Jihyun membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan mendapati Jihyun, Gayoon, dan Hyomin telah berdiri dan menyandang tas mereka, bersiap-siap untuk pulang. Aku ikut berdiri dan merapikan sedikit bajuku yang terlipat. Jonghyun sedang mengeluarkan piringan DVD, sedangkan Minseok menekan semua tombol power yang ada untuk mematikannya. Sungguh teman-teman yang bertanggung jawab, bukan? "Terima kasih telah mengijinkan kami menonton dengan home teathre milikmu," lanjut Jihyun dan tersenyum manis.
Hyomin meneguk secangkir teh di atas meja dan berkata, "Terima kasih juga tehnya. Teh buatanmu sangat enak."
Aku tersenyum. "Sama-sama. Kalian langsung pulang?" tanyaku basa-basi dan menatap mereka berlima satu per satu. Mereka mengangguk.
"Sekali-sekali karaoke di sini boleh tidak?" tanya Jonghyun sumingrah sekaligus memohon. Minseok menyenggol lengannya dan menatapnya seperti berkata –kau-pikir-ini-rumahmu?-.
Aku tertawa pelan. "Tentu saja. Asalkan kalian membereskan segala kekacauan yang mungkin terjadi nanti." Mereka berlima ikut tertawa dan berjalan ke pintu keluar apartemenku. Aku mengikuti.
"Annyeong, Jiyoon-ah," pamit mereka semua.
"Annyeong," balasku, "Hati-hati, ya. Antar anak perempuan pulang duluan, Jonghyun-ah, Minseok-ah."
"Ne," balas mereka berdua meyakinkan. Aku memandang punggung mereka sampai mereka berbelok, lalu kututup pintu mahoni berukir rumit ini.
Jiyoon PoV Ends
Author PoV
Hyuna, Dongwoon, dan Myungsoo berbincang seru dan sekali-sekali tertawa lepas di dapur milik kediaman keluarga Son. Di hadapan mereka terletak tiga buah cangkir dan sebuah teko berisi teh hijau yang masih hangat.
"Myungsoo-ssi," kata Hyuna.
Myungsoo memotong, "Ah, jangan pakai embel-embel –ssi. Panggil saja Myungsoo atau L."
"Ah, ne. Berarti kau panggil aku Hyuna saja," saran Hyuna.
"Memang dari tadi, kok. Kau tidak sadar, ya?" Mereka tertawa lagi. Hyuna tidak sadar bahwa Myungsoo memanggilnya Hyuna sejak sampai di rumah Dongwoon.
"By the way," kata Dongwoon, "Setahuku nama panggilanmu bukan L."
"Eoh? Kau tidak tahu, ya, kalau aku ini penggemar manga Death Note? Aku, kan, ingin jadi detektif hebat seperti L itu. Kau ini bagaimana? Kau sahabatku atau bukan?" tanya Myungsoo bertubi-tubi ke Dongwoon. Kedua orang di depannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil memijit kening mereka dengan sebelah tangan, heran. Mereka tidak menyangka bahwa Myungsoo masih cerewet seperti dulu. Padahal...
Flashback: starts
Dongwoon yang berumur 9 tahun berlari-lari sambil mengiring bola di taman utama kompleks perumahannya. Karena terus melihat bola tanpa memerhatikan sekelilingnya, tanpa sengaja ia menabrak Myungsoo yang sedang memegang sebungkus hamburger ukuran jumbo. Hamburger yang baru dilahap segigit itu jatuh ke tanah. Myungsoo menatap Dongwoon marah.
"Aa, maafkan aku. Jeongmal mianhae," sesal Dongwoon "Eh? Kau anak baru itu kan?"
Myungsoo tidak menjawab. Ia melayangkan tatapan dendam ke bola di samping kakinya dan nanar ke hamburgernya.
"Hei!" seru Dongwoon "Maaf."
Myungsoo melangkah dan memastikan bahwa bahu kirinya menabrak bahu kiri Dongwoon dengan keras. "Minggir," katanya dingin dan melewati Dongwoon yang menghela napas pelan.
Dongwoon mengambil bolanya dan berbalik menyusul Myungsoo serta mensejajarkan langkah mereka. "Ya! Kau Kim Myungsoo kan? Kau tinggal di sekitar sini juga?" Yang ditanya diam dan terus menyusuri jalan setapak di tepi taman. "YA! Maafkan aku, ya? Aku akan mengganti burgermu," lanjut Dongwoon.
"Tidak perlu."
"Jadi kau memaafkanku?"
Lagi-lagi pertanyaan Dongwoon tidak digubris. Ia terus mengikuti Myungsoo sambil mendengus kesal. "Kau mau main bola?" tanyanya berusaha mencairkan perasaan tengang di hatinya. Myungsoo tetap mengarahkan pandangannya ke depan dan menuju ke sebuah mobil berwarna hijau muda.
"Dongwoon-ie!" panggil Hyuna yang berlari dari arah utara taman. "Hah.. aku lelah mencarimu kemana-mana." Hyuna bernapas tersengal-sengal ketika sampai di hadapan Myungsoo dan Dongwoon. "Eoh? Siapa dia?" tanyanya.
"Ini, Myungsoo. Anak baru di kelasku," jawab Dongwoon.
"Oh. Annyeong haseyo. Kim Hyuna ibnida," sapa Hyuna ramah sambil membungkuk. Myungsoo mendesis tak peduli. Ia membuka pintu mobil hijau muda miliknya itu dan masuk sambil menutup pintunya dengan sangat keras sampai Hyuna dan Dongwoon tersentak kaget.
"Kenapa, sih anak itu? Sombong sekali!" kata Hyuna sebal.
Dongwoon berbalik. "Ayo, kita pulang.
"Ayo! Aku mau makan cheesecake!" jawab Hyuna tidak sabar sembari tersenyum lebar.
"Dasar tukang makan!"
"Biarin! Wek!"
Keesokan harinya, Dongwoon sedang berkutat dengan PSP di tangannya. Sekali-sekali ia berdecak kesal.
Myungsoo berjalan memasuki kelas mereka dengan ekspresi datar di wajahnya. Saat myungsoo melewati Dongwoon, tanpa sengaja ia melihat permainan yang sedang dimainkan Dongwoon dan membelalakkan matanya. Ia menaruh tasnya asal di atas mejanya yang berada tepat di belakang Dongwoon lalu mendekati orang yang kemarin tidak dipedulikannya.
"Kau main itu juga? Sudah sampai level berapa?" tanyanya.
"Level 25," jawab Dongwoon tanpa menolehkan kepalanya apalagi tahu siapa yang bertanya.
Myungsoo heran. "Payah! Di bagian yang itu saja tidak bisa?"
Dongwoon menoleh dan terkejut melihat Myungsoo. "Myungsoo-ssi?" Ia tak menyangka bahwa Myungsoo, anak yang sangat pendiam dan dingin terhadap semua orang, berbicara padanya. Tapi, baguslah kalau Myungsoo mulai membuka hatinya. "Memang kau sudah level berapa?" tanyanya.
"46. Sini, kumainkan!" pinta Myungsoo sambil mengadahkan sebelah tangannya agar Dongwoon mengijinkan ia mengambil alih.
Dongwoon mengerjap-kerjapkan matanya, namun segera ia menyerahkan PSPnya ke Myungsoo. Myungsoo mengambilnya dan berjongkok di samping kursi Dongwoon. Ia memencet tombol-tombol di PSP dengan cepat dan lincah. Matanya fokus dan ekspresinya tetap datar. Dongwoon harus memiringkan dan membungkukkan badannya untuk melihat layar PSPnya.
"Wah! Hebat sekali!" seru Dongwoon kagum. "Bagaimana cara kau mengeluarkan jurus itu?"
"Tekan ini, lalu ini secara bersamaan." Myungsoo menberi intruksi. "Lalu tekan ini untuk memberi kekuatan penuh."
"Oh," tangkap Dongwoon dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Omong-omong," kata Myungsoo tanpa mengalihkan matanya dari layar PSP, "Kenapa kau bisa tidak tahu bahwa kau sudah mendapatkan jurus ini? Setiap naik 4 atau 6 level, kau akan mendapatkan jurus baru. Dan kau pasti tahu cara mengganti jurus lama dengan yang baru. Begitu juga sebaliknya," jelasnya panjang lebar.
"Ne, aku tahu. Tapi bukan hanya aku yang main game ini. Kadang-kadang Hyuna memainkannya."
"Hyuna yang kemarin itu?" Dongwoon mengangguk. "Pantas saja kau kulihat kurang menguasai game ini. Jangan biarkan orang lain bermain dengan karaktermu ini."
"Kau sendiri—"
Myungsoo memotong, "Aku tahu pasti Hyuna memainkannya tanpa minta izin dulu?"
"Memang iya, sih."
"Nah! Kau sudah naik level, nih!"
"Wah! Padahal baru tadi malam naik level 25! Kau hebat, Myungsoo-ssi! Aku butuh 2 hari untuk naik satu level saja."
Myungsoo tertawa dan menyerahkan kembali PSP Dongwoon. "Nih. Ingat perkataanku tadi. Biarkan dirimu sendiri yang main agar kau mengerti jalan cerita dan apa yang harus kau lakukan. Masa depan game ini ada di tanganmu karena kau yang memulai gamenya. Seperti halnya hidupmu."
"Wah! Iya, iya. Aku mengerti. Gomawo, Myungsoo-ssi," jawab Dongwoon senang.
"Panggil saja Myungsoo. Kau Dongwoon 'kan?" ujar Myungsoo sambil tersenyum.
"Ne! Aku mau lanjut main. Kau bantu aku ya?"
Myungsoo baru mau menjawab, namun bel masuk malah berbunyi. "Nanti saja kalau sudah jam istirahat," usulnya.
Dongwoon menggumam sambil tersenyum walau pun ia kecewa karena tidak bisa melanjutkan gamenya. "Hm."
Dongwoon bermain PSPnya dengan sangat serius. Myungsoo membantu sesekali di sampingnya sambil menyantap bekalnya.
"Yaaah! Yaah!" seru Dongwoon kecewa.
"Wae?" tanya Myungsoo.
"Habis baterai. Aku lupa cas PSPnya semalam. Yaah...," keluh Dongwoon.
"Salah sendiri," ujar Myungsoo lalu menyuap sesendok bibimbap ke mulutnya.
"Aish.. Oh, ya. Soal burgermu kemarin," kata Dongwoon, "Aku benar-benar minta maaf. Aku akan menggantinya."
"Tidak apa-apa. Kapan-kapan saja."
"Oke," kata Dongwoon dan mengeluarkan bekalnya dari dalam tas merah-hitamnya.
*Flashback ends*
Sejak saat itulah Dongwoon dan Myungsoo memulai pertemanan yang baik hingga sekarang, hanya karena sebuah game di PSP. Tidak heran tadi siang Hyuna sempat lupa siapa Myungsoo. Pasalnya waktu itu Dongwoon dan Hyuna tidak satu sekolah seperti sekarang dan Hyuna hanya pernah bertemu Myungsoo di hari libur. Dongwoon dan Myungsoo sudah seperti saudara yang tak terpisahkan. Maklum, Dongwoon adalah anak tunggal.
Upacara kelulusan SMP adalah hal yang berat bagi Dongwoon. Myungsoo melanjutkan sekolahnya di SMA swasta sedangkan Dongwoon ke akademi seni karena ia bercita-cita menjadi seorang entertainer. Sebaliknya, Myungsoo tertarik dengan dunia kepolisian dan grafis, jurusan yang tak terdepat di Holy Art Academy.
"Ngomong-ngomong," kata Dongwoon, "ayo kita makan burger jumbo." Ia melirik Myungsoo penuh arti.
Myungsoo merasa tahu apa maksud dari tatapan sobatnya itu. Ia tersenyum mengejek. "Aku pesan 2," senyumnya– atau lebih tepat disebut sebagai seringai– semakin lebar, membuatnya terlihat mengintimidasi sehingga Dongwoon dan Hyuna sempat merinding.
"Apa-apaan tatapanmu itu? Omo. Seperti Light Yagami yang mendapat ingatannya kembali saat di helikopter!" sahut Dongwoon sambil menggosok-gosok lehernya dengan tanangan kirinya—untuk melemaskan otot-ototnya yang menegaang. Hyuna pun melakukan hal yang sama.
Myungsoo tertawa keras—keras sekali—sambil memegang perut dengan kedua tangannya. "Aduh. Hahaha..."
"Waeyo?" seru Dongwoon keras, mensejajarkan volume suaranya dengan suara tawa Myungsoo.
Hyuna hanya bisa terheran-heran dan menyesap teh hijaunya yang sudah hampir habis. Lalu ia menggaruk telapak kaki kirinya.
Myungsoo mengatur napasnya dan berdehem sekaligus menahan tawa. "Ternyata kau masih takut dengan ekspresiku itu. Hah... Aigoo."
"Te.. Tentu saja! Aku masih trauma tahu!" kata Dongwoon terbata-bata. Kejadian waktu itu kembali menghantuinya.
Hyuna terus menggaruk telapak kaki kirinya sambil mendesis.
Dongwoon bertanya kepada Hyuna sekaligus mengalihkan pembicaraan, "Kau kenapa?"
"Gatal."
"Ya, iyalah gatal! Kau kan belum mandi sejak kita pulang tadi. Mandi sana!" ledek Dongwoon dan terkesan mengusir.
Hyuna—merasa tersinggung dan malu karena ada Myungsoo— menginjak kaki Dongwoon dengan keras dan beranjak dari kursinya ke halaman belakang rumah Dongwoon. Dongwoon mengelus-elus kakinya sambil mengumpat. Myungsoo menatap simpati Hyuna yang menjauh dan berbelok.
"Kau ini kenapa kasar sekali pada sepupumu sendiri?" tanya Myungsoo datar.
"Mollayo. Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku." jawab Dongswoon menyesal. "Aduh, kaki mulusku!"
"Oh, ya. Kenapa kau mengajak kami ke sini?" Myungsoo bertanya. Dongwoon melihat jam dinding di sebelah kulkas yang menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit.
"Akan kuberitahu jika orangtua Hyuna sudah datang."
"Sepupu tak tahu sopan santun! Aku malu setengah mati. Sial!" Hyuna memaki-maki Dongwoon dengan suara yang ditahan-tahan. Ia melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai hingga menghasilkan suara yang menyebabkan anjing peliharaan Dongwoon yang sedang tertidur pulas di teras depan terbangun.
Hyuna menghempaskan tubuhnya di atas ayunan jaring yang tergantung di antara 2 pohon apel di halaman belakang rumah sepupunya. Ia meniup poninya kesal. Kembali ia merasa gatal dan menusuk di telapak kaki kiriya. Ia menciptakan gesekan antara telapak kakinya yang gatal dengan permukaan jaring yang teranyam itu untuk mengurangi rasa gatalnya. Setelah beberapa detik, rasa gatal itu tak kunjung reda. Hyuna bangun dan melipat kaki kirinya dan memerhatikannya. Matanya melebar. Bagaimana tidak? Terdapat garis beebentuk lingkaran dengan diameter 6 centimeter berwarna hijau kehitaman di sana.
"Eh? Kenapa ini?" gumam Hyuna bingung, berusaha membersihkan garis itu dengan jempol tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam pergelangan kaki kirinya. Percuma. Garis itu tidak memudar sedikitpun apalagi hilang. Ia mencoba lagi dengan kuku jarinya yang panjang, namun hasilnya nihil. Bahkan warnanya semakin gelap.
Lalu Myungsoo datang menghampiri dan memanggil Hyuna yang membelakanginya. Hyuna terkejut. Dengan buru-buru ia menanjakkan kedua kakinya di tanah dan berdiri. Ia berbalik. "Ne? Ah, Myungsoo. Ada apa?"
"Ayo ke dalam sekarang. Semua sudah berkumpul," jawab Myungsoo sambil melirik kaki Hyuna penuh selidik. Sedikit terlihat tadi sesuatu yang berwarna hitam saat Hyuna menapakkan kakinya di atas tanah.
"Apa appa dan eommaku sudah datang?" Myungsoo mengangguk dan mereka berdua pun meninggalkan halaman yang asri itu.
Myungsoo dan Hyuna bangun dari sofa dan memekik, "MWEO? AMERIKA?", membuat empat orang paruh baya di sisi kiri dan kanan mereka mengernyit untuk menahan lengkingan yang memekakkan telinga itu. Sedangkan Dongwoon hanya bisa memegang dada kirinya. Anjing peliharaannya menggonggong di luar.
"Tega sekali kau meninggalkan sepupumu satu-satunya!" lanjut Hyuna sedih, melupakan bahwa ia tadi marah dengan sepupunya yang berambut blonde itu.
"Tega sekali kau meninggalkan sahabatmu satu-satunya!" Myungsoo mengikuti ucapan Hyuna, mengganti kata "sepupu" menjadi "sahabat".
"Aduh, kalian!" seru Dongwoon frustasi. "Aku hanya 2 tahun di sana, kok."
Hati Myungsoo dan Hyuna makin kalang kabut setelah mendengar kata "2 tahun". Keluarga Son akan meninggalkan negeri ginseng menuju negara adidaya tersebut selama masa tugas sang kepala keluarga.
"Kalian berdua, ikut aku," perintah Dongwoon kepada Hyuna dan Myungsoo. Mereka bertiga pun meninggalkan ruang keluarga menuju teras rumah Dongwoon, meninggalkan orangtua Hyuna dan Dongwoon untuk melanjutkan pembicaraan. "Kalian ini kenapa, sih?" seru Dongwoon ketika mereka sampai di teras dan memastikan bahwa keempat orang di dalam rumah tidak bisa melihat mereka. Kedua orang di hadapannya terdiam dan pura-pura sibuk dengan kuku mereka. Hwaito –anjing Dongwoon—datang menghampiri dan mengendus-endus kaki Myungsoo sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Hyuna memindahkan rambutnya ke belakang. "Yaah, aku cuma pura-pura saja tadi." Myungsoo mengangguk dan mengatakan hal yang sama.
"Maksud kalian?" tanya Dongwoon.
"Kami pura-pura sedih, kok tadi. Aslinya malah senang," jawab Myungsoo dengan melipat kedua lengannya di depan dada. Ia melirik Hyuna yang memberi tatapan: Bagus, Myungsoo. Teruskan!. Mereka berdua merencanakan sesuatu sejak Dongwoon membawa mereka ke teras. "Yaah, agar hatimu tersentuh melihat ekspresi kami tadi."
Mianhae Dongwoon-ah. Padahal kami betul-betul sedih.
"Pasti tadi kau sedih juga 'kan melihat kami terpukul? Atau mungkin kau mau buat kami iri karena kami tidak bisa ke Amerika seperti yang kami inginkan sejak dulu," sahut Hyuna menyambung perkataan Myungsoo. "Padahal kami sama sekali tidak iri, kok."
Kami iri. Hiks.
"Benar. Kami bakal bebas dari Dongwoon yang suka telepon di tengah malam."
"Bohong! Dan mweo? Kalian senang aku pindah ke Amerika? Sahabat dan sepupu macam apa kalian? Lihat saja nanti kalau aku pulang, tidak ada cenderamata untuk kalian," ancam Dongwoon dengan raut wajah kecewa. Ia sebenarnya tidak mau mengatakan hal itu. Ia sangat sedih jika harus berpisah dengan dua orang yang paling banyak membantunya.
ANDWAAAEEEE!
Hyuna dan Myungsoo segera saling memberi kode untuk menghentikan aksi mereka. Lalu mereka tertawa terpingkal-pingkal dan berhigh-five. Mereka tidak mau jadi terlalu serius seperti tadi daripada Dongwoon semakin marah. Jika Dongwoon sudah mengeluarkan apinya *?*, mereka berdua tidak akan bisa berkutik lagi.
"Aku serius, babo!" bentak Dongwoon. Kali ini ia yang berakting. Myungsoo dan Hyuna masih berusaha menghentikan tawa mereka. Lihat ini!, batin Dongwoon. Ia menendang batang pohon mangga yang ada di sebelahnya hingga beberapa burung merpati yang sedang bertengger beterbangan ke segala arah. Hyuna dan Myungsoo tersentak kaget dan memekik tertahan. "Aku tidak mau peduli dengan kalian lagi!" bentak Dongwoon. HA! Bagaimana?, batin Dongwoon.
"Mianhae," ujar Myungsoo dan Hyuna bersamaan, menyesal. Mereka terjebak dalam permainan Dongwoon. Kualat.
Dongwoon tertawa dalam hati. Ia pun tersenyum jahil dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merangkul leher Myungsoo dengan lengan kiri dan Hyuna dengan lengan kanannya. "Nah, sahabat dan sepupuku tersayang, selamat, ya karena kalian masuk perangkapku," katanya dan tertawa iblis. Myungsoo dan Hyuna tertegun dan menatap garang Dongwoon. "Ayo kita makan burger jumbo! Aku yang traktir!"
"Yeah!" pekik Myungsoo dan Hyuna semangat. Dongwoon hanya bisa memandang aneh mereka berdua yang moodnya berubah drastis.
"Minho! Angkat lututmu lebih tinggi lagi!"seru seorang pelatih di sebuah gymnasium. Ia sedang memerhatikan para muridnya pemanasan.
Minho mengangkat lututnya lebih tinggi lagi sesuai perint ah, berdiri dengan sebelah kaki dengan kedua tangan yang direntangkan. Baru beberapa menit melakukan pemanasan keringat sudah mengalir deras dari pori-pori kulitnya. Sebagai atlit lari muda yang berbakat, Minho harus selalu melakukan latihan keras demi melatih otot-ototnya dan kecepatan larinya.
"Bagus. Hari ini sampai di sini saja," ucap sang pelatih setelah 2 jam melatih beberapa atlit di hadapannya.
Minho menghela napas lega dan mengelap peluh di keningnya dengan kedua punggung tangannya secara bergantian. Ia melangkah menuju ruang ganti yang berada di sebelah selatan gymnasium. Ia menarik ujung bajunya ke atas, namun diturunkannya lagi dengan cepat. "Hampir saja," gumamnya.
"Ternyata kau," ucap seseorang. Minho berbalik dan mandapati Kwanghaeng, atlit lompat jauh dengan tatapan sayu di kedua matanya, sudah selesai mengganti pakaiannya.
"Apa maksudmu?" tanya Minho datar sambil memakai celana jins hitam yang ia keluarkan dari loker miliknya.
Kwanghaeng menunjuk pinggang Minho. "Itu."
Minho mengangkat kepalanya, mulutnya terbuka. "Celaka," gumamnya tanpa suara. Dengan sikap santai yang dibuat-buat, ia menarik resleting jaket putihnya dan menyandang tas punggungnya.
"Kau tidak bisa lari lagi," lanjut Kwanghaeng.
Minho melangkah melewati Kwanghaeng dan berujar, "Aku tak mengerti. Cepatlah pulang cuaca sedang buruk hari ini."
"Sebentar lagi kau akan tidur di atas tempat tidur reot, Minho-ssi."
Dengan setengah berlari Minho meninggalkan gymnasium. Ia harus berhati-hati dengan Kwanghaeng yang mengetahui tanda di pinggang kiri belakangnya. "Apa dia The Chaser? Atau The Wanted One?" tanyanya pada diri sendiri. Suara derap langkah kaki terdengar olehnya. Ia mempercepat langkahnya di trotoar. Kwanghaeng mengejarnya. Benar.
"Kau harus ikut, aku, Cho Minho! Bukan aku yang mengikutimu seperti ini!" gertak Kwanghaeng. Bersyukurlah mereka berdua karena jalanan sedang sepi.
"Pergi!" gertak Minho balik tanpamemperlambat langkahnya.
"Aku The Chaser! Kau tahu itu, kan?" desak Kwanghaeng dan menarik kerah belakang jaket Minho hingga ia terpaksa berbalik dan mereka berhadapan. Mereka saling melayangkan tatapan mengancam. Kwanghaeng mencengkeram kerah depan jaket Minho dengan kuar dan menyunggingkan senyum sinis.
Minho tertegun. "Dia ini bodoh atau apa? Bisa-bisanya dia memberitahuku identitasnya yang berbahaya ini. Tapi bagus juga. Aku masih bisa lari atau..."pikirnya. ia menepis tangan Kwanghaeng kasar dan mulai berlari kencang melawan arah angin. Kwanghaeng ikut berlari kencang.
"Ha! Kau pikir aku tidak bisa berlari sekencang dirimu? Aku mantan atlit lati marathon, tahu!" ledek Kwanghaeng. Minho berdecak dan berbelok di ujung jalan, hampir menabrak seorang tua yang berjalan dari arah berlawanan. Ia meminta maaf dan menambah kecepatan larinya. Suara derap lari Kwanhaeng di belakangnya semain keras di gendang telinganya.
"Cih. Rupanya dia tidak main-main soal lari marathon itu," rutuk Minho.
"Choi Minho! Kau targetku yang pertama dan terakhir! Maka aku akan bebas dari teror terkutuk itu," seru Kwanghaeng.
"Kenapa kau begitu percaya diri bahwa aku akan menggantikanmu sebagai tersangka, huh? Kejahatan apa yang telah kau lakukan?" tanya Minho setengah berteriak. Untuk pertanyaan Minho yang satu itu, Kwanghaeng tidak mungkin asal ceplos. Kwanghaeng hanya bisa diam dan tak berhenti melesat.
Hyuna, Dongwoon, dan Myungsoo yang baru keluar dari dalamnya hampir menjatuhkan burger mereka karena Minho dan Kwanghaeng berlari melewati depan toko burger dengan kecepatan tinggi. Dongwoon menyumpah.
"Sabar, Dongwoon," tegas Myungsoo.
"Orang gila!" seru Dongwoon. Ia menggigit burgernya kasar dan mengunyahnya tak kalah kasarnya. Saus mayounaise di burger itu sedikit menodai sudut bibirnya.
Ponsel Hyuna bergetar di tangan kirinya. Ia menggeser layarnya dan mendapat pean dari Sunggyu.
Hyuna~ Ada pesta BBQ di rumah HS nanti malam jam 7. Datang, ya. HS yg menyuruhku utk mengundangmu.
-Aku harus tanya eomma dulu.
"Ayo kita pulang," ajak Dongwoon dengan nada kesal dan melangkah ke arah Minho dan Kwanghaeng melesat. Hyuna dan Myungsoo pun ikut di belakangnya.
Ponsel Hyuna bergetar lagi.
Aku sudah bilang pada ibumu. Hahaha.. sedia payung sebelum hujan.
-Baiklah kalau begitu.
"Gawat!" kata Dongwoon tiba-tiba "Aku ada janji. Kalian berdua pergilah duluan. Daaah." Dongwoon pun pergi ke arah yang berlawanan tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Myungsoo mengangkat kedua bahunya tak peduli. Ia dan Hyuna pun berjalan dalam diam sambil menikmati burger jumbo masing-masing.
"Kenapa kau bawa aku ke tempat bau pesing seperti ini?" tanya Kwanghaeng kepada Minho seraya menutup mulut dan hidungnya dengan sebelah tangan. Kini mereka berada di sebuah lorong yang gelap dan banyak tong sampah di sana.
Minho tidak menjawab. Kedua tangannya mencengkeram kedua lututnya, sibuk mengatur. Kwanghaeng pun tak bisa tidak melakukan hal yang sama.
"Jalan pikiranmu lamban, ya," cemooh Minho. "Aku adalah targetnya yang pertama dan terakhir. Berarti dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam mengejar targetnya, apalagi dalam berusaha untuk tidak terbunuh. Ini kesempatan emas buatku," pikirnya.
"Justru jalan pikiranmu lah yan lamba. Betapa bodohnya kau membwsku ke tempat yang seperti ini. Lihatlah belakangmu! Jalan buntu! Aku akan segeram menyanderamu. Ha!" jawab Kwanghaeng percaya diri.
"Semakin lama cara bicaramu semakin membuatmu tak berdaya, Kwanghaeng."
Kwanghaeng berdiri tegak dan mendekati Minho. "Mari. Ulurksn kedua tangamu. Biarkan aku membawamu ke kantor polisi. Lantai yang dingin menusuk kulit menunggumu dengan gelisah."
Minho tak bergeming. Ia menarik rambutnya ke belakang seraya mengelap peluh di sana. Ia merenggangkan otot-ototnya hingga menghasilkan suara 'krek' pelan.
Kwanghaeng semakin mendekat sambil menyeringai lebar. Tangan kanannya terjulur, mengajak Minho untuk menggenggam tangannya.
Minho memutar otak, memikirkan cara bagaimana agar Kwanghaeng... mati. Ia pun menyambut tangan Kwanghaeng pelan. Kwanghaeng tersenyum tipis. Dan lalu,
Trak
"Akh! Sialan kau, Minho!" Kwanghaeng mengerang kesakitan keras sekali. Tulang pengumpilnya dibuat patah oleh kedua tangan Minho. Ia lengah. Sangat bodoh, batin Minho tanpa belas kasihan.
Minho menendang perut Kwanghaeng, membuat Kwanghaeng terhempas ke dinding. Minho melangkah mendekati Kwanghaeng dan kembali menendang perutnya dengan lututnya, mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa di badannya. Kwanghaeng hanya bisa mengerang pelan. Ia tidak bisa melawan walaupun fisiknya kuat. ia tidak semudah itu mati dengan tendangan seperti itu. Minho pun meninju dada kiri namja jangkung di depannya, tepat di mana jantung terletak. Pukulan di titik itu sangat fatal, mereka tahu itu.
"Aku lebih baik membunuhmu daripada menggantikanmu tinggal di ruangan sempit itu," kata Minho datar dan membuat tulang lengan Kwanghaeng yang tak terluka bergeser dari engselnya.
"Akh!" erang Kwanghaeng "Minggir! Aku tak lemah seperti yang kau ini!" Ia menendang tulang kering Minho keras sekali. Ia tidak bisa diremehkan. Walaupun bentuk kedua tangannya sudah tidak wajar dan badannya sakit, kedua kakinya masih bisa diajak untuk berkompromi oleh otaknya.
Minho terhuyung ke belakang sambil menyumpah dan menggosok kakinya dengan kedua tangannya untuk mengurangi rasa sakit di sana. Ia mengambil tutup tong sampah di sampingnya dan melemparnya ke arah berusaha menahan tong sampah dengan salah satu kakinya, namun tak berhasil. Tubuhnya mulai melemah. Benda ringan itu pun membentur kepalanya dan membuat goresan panjang di sisi kiri kepalanya. Darah pun mengalir melewati tulang pelipis dan lehernya. Minho mencengkeram leher Kwanghaeng. Kedua kakinya menginjak kedua kaki Kwanghaeng agar ia tak bisa melawan. Tangannya? Kemungkinan kecil bisa bermanfaat dalam keadaan seperti ini.
Kwanghaeng terbatuk."Le... lepaskan aku!"
Minho menggelengkan kepalanya dan tersenyum puas. Ia memperkuat cengkraman antara jadi jempol, telunjuk, dan tengahnya di leher Kwanghaeng.
BUGH!
Minho membenturkan kepala namja berambut cokelat itu ke dinding dengan sebelah tangannya yang bebas. Tubuh di depannya pun terbujur kaku di lantai, membiru. Kwanghaeng mati dengan begitu mudahnya di tangan Minho.
Srak.
Minho menoleh. Hyuna dan Myungsoo berada di sana dengan tatapan horor. Burger milik keduanya jatuh ke trotoar.
Minho tersenyum miris. "Jangan teriak," katanya. Ia mendekati Hyuna dan Myungsoo lalu mengecek keadaan di sekitar mereka. Hyuna yang panik meremas ujung bajunya dan melangkah mundur. "Pantas saja jalanan sepi sekali."
"Apa-apaan kau ini?" tanya Myungsoo, berusaha agar terlihat berani "Kau? Kau Choi Minho, kan? Atlit lari nasional itu? Dan yang barusan kau—"
"Bunuh?" potong Minho "Benar. Dia Kwanghaeng, atlit lompat jauh. Dan kalian—" Ia melihat Hyuna yang memainkan ponselnya "Mau menghubungi polisi, Nona kecil? Percuma."
Hyuna menatap Minho takut. Ia melangkah ke belakang Myungsoo.
"Biarkan aku menjelaskan. Di mana, ya?" tanya Minho santai sambil merapikan lagi jaketnya.
"Tidak perlu," kata Myungsoo "Ayo, Hyuna." Mereka berdua mulai melangkah meninggalkan atlit yang sudah membawa nama Korea Selatan ini.
"Aku merasakan suatu persamaan di antara kita bertiga," kata Minho dan sukses membuat Myungsoo dan Hyuna berhenti.
"Diam atau—"
"Gatal dan tertusuk-tusuk. Awalnya merah muda, lalu jihau kehitaman. Bukankah kita sama?" tanya Minho memotong ucapan Myungsoo.
Hyuna dan Myungsoo membeku di tempat. Mereka menyadari apa yang dimaksud Minho. Hyuna melihat kaki kirinya. Myungsoo meraba punggung kirinya. Lalu mereka saling berpandangan karena menyadari apa yang orang di sebelah mereka lakukan.
Minho tertawa. "Ternyata kalian berdua masih baru. Tidak tahu apa-apa seperti pria bodoh yang telah kuhabisi tadi."
Hyuna menyela, "Maksudmu lingkaran hitam di kakiku ini?"
"Seperti lingkaran di punggungku?" tanya Myungsoo bersamaan dengan pertanyaan Hyuna yang ditujukan ke Minho.
"Kau punya juga?" tanya mereka berdua lagi bersamaan, bertanya satu sama lain. Pikiran mereka sama: Minho pasti memiliki lingkaran hitam itu juga.
Minho terbahak. "Ternyata benar. Ayo ikut aku." Minho memberi isyarat dengan gerakan kepalanya. Myungsoo dan Hyuna ragu. Antara mengikuti Minho atau tidak. "Jika kalian ingin tahu arti lingkaran itu, aku tunggu kalian di kedai kopi di ujung jalan," lanjut Minho dan melangkah pergi menuju tempat yang ia katakan.
Hyuna bertanya pelan, "Bagaimana sekarang?"
"Kita ikuti saja pembunuh yang satu itu," jawab Myungsoo dan mengikuti Minho.
"Jangan, Myungsoo-ah. Kau bisa mati dibunuhnya!" larang Hyuna. Myungsoo tidak peduli. Hyuna yang masih diselimuti rasa takut pun mensejajarkan langkahnya dengan Myungsoo.
Minho yang mengetahui kedua orang di belakangnya mulai menyusulnya tersenyum. Ia berhenti dan menoleh ke belakang. "Ayo, berjalanlah di dekatku. Daripada kalian dikejar oleh orang seperti Kwanghaeng dan tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian yang masih lugu ini." Myungsoo dan Hyuna menurut. Mereka bertiga pun melangkah bersama-sama.
"Nah," Minho membuka suara "Minumlah dulu." Kini mereka sudah berada di kedai kopi. Pelanggan-pelanggan lain mulai berdatangan. Jalan pun tidak sesepi tadi lagi.
"Kami tidak haus. Silahkan mulai menjelaskan, Minho-ssi," kata Myungsoo dingin. Hyuna menyeruput teh hangat di depannya dan menyisakan setengahnya. "Baiklah, aku saja yang tidak haus," lanjut Myungsoo tak sabar yang melihat Hyuna di kiri depannya.
Minho menahan tawa sebelum mulai menjelaskan, "Apakah benar kalian punya lingkaran hitam itu?"
"Ne. Di telapak kaki kiriku," jawab Hyuna namun kakinya ditendang pelan oleh Myungsoo di bawah meja kayu berkaki satu itu.
"Jangan langsung memercayainya, Hyuna," bisik Myungsoo.
"Tadi kau sendiri yang mengusulkan untuk mengikutinya," balas Hyuna sambil berbisik pula. Myungsoo bungkam.
"Kau?" tanya Minho ke Myungsoo.
"Bagaimana denganmu?" Myungsoo balik bertanya.
Minho tertawa. "Di pinggang kiriku." Ia mengangkat jaketnya dan memperlihatkan sebuah tato berbentuk lingkaran di tempat yang ia tunjuk. Myungsoo tidak bisa memperhatikannya lebih jelas karena Minho sudah keburu menutupnya kembali.
"Milikku ada di punggung. Kau punya berbeda denganku. Mungkin dengan milik Hyuna juga."
"Kalian baru dipilih. Sebentar lagi tato itu akan terbentuk dengan sempurna," jelas Minho santai "Syukurlah kalian berdua sama."
"Maksudnya?" tanya Hyuna.
"Sama-sama berwarna hitam. Kelompok lain berwarna merah."
"Kelompok apa? Kenapa tato itu bisa muncul di tubuh kami dengan tiba-tiba? Dan kalimat teror yang masuk ke ponsel kami itu? Dan maksudmu baru dipilih?" tanya Myungsoo bertubi-tubi. Sifat cerewetnya keluar lagi.
"Hei, sabar, e siapa namamu? Tidak enak 'kan kalau cuma tahu namaku saja?"
"Myungsoo. Kim Myungsoo. Dia Kim Hyuna."
"Baiklah Myungsoo-ssi, Hyuna-ssi. Ada dua kelompok yang dimaksud teror tersebut. Kelompok The Chaser dan The Wanted One. Dan kita bertiga adalah kelompok The Wanted One alias Yang Dicari. Tato kita berwarna hitam, sedangkan The Chaser alias Pengejar, berwarna merah."
"Kenapa kita yang terpilih? Siapa yang mengirim teror itu?" tanya Myungsoo.
"Tidak ada yang tahu siapa yang ada di balik semua ini. Dan soal kenapa kita yang dipilih? Aku juga tidak tahu."
"Apa tato ini bisa hilang?"
"Belum pernah kudengar ada yang hilang. Kalian lihat berita di tivi atau koran akhir-akhir ini?" Myungsoo dan Hyuna mengangguk.
Hyuna teringat Dongwoon yang mengatakan sesuatu tentang tato. "Korban yang memiliki tato yang sama dengan korban lainnya?" tanyanya.
Minho mengangguk. "Benar. Yang meninggal itu semuanya adalah The Chaser."
"Kenapa mereka dibunuh?" tanya Hyuna lagi.
"Agar masalah kriminalitas cepat selesai, menurutku. Dan agar Yang Dicari tidak dikejar terus menerus oleh si Pengejar. Kita, The Wanted One, harus memilih: Dikejar terus-menerus atau langsung membunuh mereka. Itu adalah arti kalimat teror kedua yang masuk ke ponsel kita. Ingat kalimat teror pertama? 'After you kill all the chasers, you will be the chaser.' Artinya adalah 'setelah kau membunuh semua Pengejar, kau akan menjadi Pengejar'. Da—"
"Dan The Wanted One yang baru akan bermunculan?" tebak Myungsoo
Minho menggeleng pasrah. "Belum tentu. Tapi bisa juga. Asal kalian tahu, aku baru dua bulan menadi Yang Dicari. Aku belum tahu detailnya."
"Minho-ssi," panggil Hyuna "Kalau kita membunuh mereka, apa kita tidak masuk penjara?"
"Ani. Semua jejak kita langsung hilang. Jangan tanya aku kenapa. Semuanya seperti..."
"Sihir?" sahut Myungsoo.
"Bukan, bukan. Terlalu kekanakan kalau kita bilang itu sihir."
"Kekuatan gaib?" sahut Hyuna.
"Terlalu berlebihan."
"Aku sulit percaya ini. Semuanya tampak tak masuk akal," ujar Myungsoo kesal.
"Pada awalnya aku juga begitu, Myungsoo-ssi. Lama-kelamaan kalian juga akan terbiasa."
"Kau bilang membunuh orang itu biasa?" tanya Myungsoo geram.
"Dengar dulu penjelasanku. Tentang jalanan sepi yang kubilang tadi. Jalanan akan segera sepi jika akan ada terjadi pengejaran, pembunuhan, atau 'penggiringan' The Wanted One ke kantor polisi. Tapi belum pernah kudengar ada The Wanted One yang berhasil dibawa ke kantor polisi. Intinya adalah, semua The Chaser adalah kriminal yang tengah dikejar-kejar polisi. Mereka mengejar kita untuk menggantikan mereka dan polisi akan beranggapan bahwa kita adalah tersangka yang sedang dicari-cari. Entah bagaimana sang peneror memanipulasi keadaan," jelas Minho panjang lebar.
"Dari cara kau menjelaskan," kata Hyuna "Kau seperti seorang profesional. Tidak seperti orang yang baru dua bulan menjalankan tugas terkutuk ini."
"Ah, kau benar. Aku tahu semua ini dari—"
"Aku," kata seseorang di belakang Hyuna. Mereka bertiga melihat ke arah suara. Myungsoo tidak mengenal orang ini, tapi Hyuna dan Minho mengenalnya.
Anak baru di sekolah sekaligus namja yang menyeramkan itu, pikir Hyuna panik.
"Kanata hyung," panggil Minho sumingrah.
"Siapa dia?" bisik Myungsoo ke Hyuna. Hyuna tidak bergeming. Tubuhnya mendadak dingin.
"Annyeonghaseyo. Aku Kanata Hongo. The Wanted One, sama seperti kalian," jawab Kanata sambil tersenyum tipis.
"Maaf, ya aku belum sempat mampir ke rumahmu," kata Minho "Silahkan duduk."Ia menujuk kursi di kanan depannya.
"Tidak apa-apa," jawab Kanata dan menarik kurdi lalu mendudukinya. Kanata mendadak gugup dan merasa bersalah ketika menyadari Hyuna lah yang duduk di kanan depannya.
Minho langsung memperkenalkan Hyuna dan Myungsoo kepada teman lamanya yang baru datang itu. "Kalian sekolah di mana?" tanyanya kepada kedua orang yang baru saja dikenalnya.
I'm so dead, batin Hyuna.
"Millcast," jawab Myungsoo.
"Holly Art Academy."
Minho dan Myungsoo terbelalak kaget. Tentu saja! Kanata dan Hyuna menjawab secara bersamaan, menunjukkan bahwa mereka bersekolah di tempat yang sama.
"Kalian saling ke—"
Hyuna memotong perkataan Minho cepat, "Tidak!"
Myungsoo menyadari ada sesuatu yang Hyuna sembunyikan. Maka ia segera berdiri dari kursinya dan berkata, "Maaf, ini sudah hampir malam. Kami harus pulang sekarang. Kami permisi. Ayo, Hyuna." Hyuna pun berdiri dengan kaku dan mengikuti Myungsoo yang melangkah ke arah kasir untuk membayar minuman yang telah mereka pesan. Tidak lupa mereka membungkukkan badan mereka sebagai tanda pamit.
Seseorang dengan jubah panjang abu-abunya sedang mengamati keempat orang yang berada di layar komputernya. Ia menyunggingkan senyum licik di balik maskernya yang bergambar mulut panda."Sebentar lagi targetmu akan datang, Hyuna-ssi," katanya.
TBC
Hayoooo siapa itu? Kekeke~
Gimana ceritanya readers? Makin membosankan ga? Ada saran?
Review kalian akan menambah semangat saya untuk melanjutkan FF ini ^^
Gomapseumnida udah bersedia mampir~
Makasih buat yang udah review di chapt 1 ^^ *kasih bias masing-masing*
Dina (Guest): Makasih kawan~ perpanjang lagi ya reviewmu.. wkwkwk
