Jun berjalan berderai air mata, Soonyoung sama sekali tidak memedulikan hati kecilnya yang halus dan kisah cintanya yang melebihi Romi dan Juli bersama PC kesayangan. Bahkan sejak dihempaskan Soonyoung dua jam lalu, Jun masih memeluk erat PCnya sambil menangis, berjalan modar-mandir dan mengadu pada semua yang ada bahwa hatinya kecewa.

Sampai pada akhirnya ada yang mencolek bahunya ketika Jun berjalan tak tentu arah menuju ke kapitorium timur. Jun menoleh ke belakang masih dengan wajah sembab dan melihat ada sosok kurus dengan mata berbinar-binar dibalik dinding.

"Hei, hei, PCmu baru saja disakiti ya?"

Jun baru menyadari siapa orang itu, "J-Jeon Wonwoo?!"

Wonwoo muncul dengan senyum secerah mentari pagi, "Sini-sini, coba kulihat sebentar, siapa tahu aku bisa merawatnya sampai sembuh~"

Jun menatap dengan curiga. Soonyoung selalu melarang anggota Komite Disiplin untuk bergaul dengan rakyat jelata, terutama dengan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu (bahkan Soonyoung menyebutkan namanya). Jun tahu kalau Wonwoo dan Mingyu punya bakat programming yang lumayan. Ya iyalah, pekerjaan mereka tiap hari hanya programming dan customize.

Wonwoo masih mempertahankan senyum secerah mentari pagi dan Jun makin bimbang.

Tapi, ini demi pasangan hidupku, my love, my notebook, my money.

Jun menatap Wonwoo kemudian melepaskan kepergian cintanya dengan memberikan notebook itu pada Wonwoo. Wonwoo sumringah, lalu menentengnya dengan hati-hati.

"Besok sore ketemu lagi disini ya? Akan kuberikan banyak cinta untuk Tuan Putrimu." Wonwoo memberikan kissbye yang sontak membuat Jun merinding. Setelah Wonwoo cukup jauh, baru Jun berani bicara.

"Sepertinya Soonyoung memang benar, aku harus menjauhi mereka. Ta-tapi ini demi my love—"

Jun nangis lagi.

.

(Freedom)

Warningnya masih sama kaya kemarin kok (bilang aja lo males nulis warning)

Plot cerita diambil dari Cyber Believers karya Shioko Mizuki

.

"Jun minta perbaiki PCnya?!" Jihoon heboh ketika Wonwoo menceritakan kalau kemarin ia begadang untuk memperbaiki notebook milik Jun. Wonwoo mengangguk dengan donat memenuhi mulut, disebelahnya Mingyu cuek menyedot susu kotak. Jam istirahat entah kena angin apa duo aneh itu menyeret Jihoon untuk ikut makan siang dengan mereka. Tiga kakak kelas sama sekali tidak mencegah.

"Sudah aku periksa, PCnya Jun tidak ada isinya, jelek, video gulat saja tidak punya. Dia itu beneran cowok bukan ya?" Wonwoo bicara setelah meneguk kunyahan donat.

Jihoon mendesis, "Harusnya kamu hancurkan saja."

"Aduduh, Jihoonku~ jangan ngambek begitu~" Wonwoo menusuk pipi Jihoon dan dibalas tatapan yang semakin membunuh, "Nanti coba kuajak ngomong deh PCnya, siapa tahu dapat informasi tentang pacarmu~"

Jihoon melotot, "Siapa pacarku?!"

Mingyu nyeletuk, "Siapa lagi kalau bukan Soonyoung?"

Jihoon cemberut hebat, "Kalian keterlaluan, aku mau kembali ke ruang klub saja!" tapi pinggangnya keburu dipeluk Wonwoo. Jihoon menjitaknya keras-keras di ubun-ubun—sudah lupa sepenuhnya kalau Wonwoo adalah seniornya.

"Padahal, Soonyoung itu dulu tidak seperti itu—" Mingyu menatap langit, "Aku berteman dengannya sejak taman kanak-kanak, dia dulu imut sekali, matanya sipit, pipinya gembul dan aku senang membuatnya menangis soalnya lucu sekali. Aku sering memanggilnya Soonchil."

Soo—soonchil? Jihoon facepalm mendengar penuturan Mingyu yang tiba-tiba, "Bicara apa sih?"

Mingyu mendengus keras setelahnya, "Tapi sekarang sudah berubah, dia sudah tidak ada lucu-lucunya lagi."

Jihoon tertegun sendiri, "Jangan-jangan dia jadi beringas begitu karena sudah kau sakiti?"

Mingyu meliriknya sengit, "Memangnya mukaku ada tampang heartbreaker-nya? Ganteng begini juga. Lagipula, mana mungkin aku suka Soonyoung, lebih baik suka padamu saja."

Mingyu nyengir dan Jihoon tidak tahu harus memilih tendangan, pukulan atau jitakan demi menghentikan muka mesum dekil menyebalkan yang dibuat Mingyu.

"Hoh, jadi Mingyu tidak suka lagi padaku?"

Jihoon tidak tahu kenapa tiba-tiba suara Wonwoo (yang sebenarnya juga sudah berat mengerikan) itu bisa terdengar lebih mengerikan. Mingyu meneguk ludah.

"Wo—Won-"

Wonwoo membuat Mingyu menghadapnya dan membenturkan dahi mereka keras-keras. Hebatnya, dahi Mingyu langsung berdarah sementara Wonwoo tidak terluka sedikitpun.

"BAJINGAN! JADI KAU YANG SELAMA INI BERULAH HAH? DASAR SUKA MEMBUAT ORANG PATAH HATI! MATI SAJA SANA!"

Jihoon yang tidak tahu apa-apa jadi panik, "Wo-Wonwoo-sunbae?"

Mingyu menggeplak Wonwoo keras-keras hingga pemuda yang lebih kurus nyari oleng, "Pasti lupa minum obat kan?!" teriaknya balik ke Wonwoo.

Seketika Wonwoo melepaskan Mingyu dan memainkan jari di dagunya sendiri (Jihoon yang melihat tidak mau berkomentar, tapi dalam hati ia mengakui bahwa kadang Wonwoo bisa kiyowo juga).

"Oh benar, aku lupa." Wonwoo merogoh sesuatu dalam sakunya dan mengeluarkan sebentuk obat kaplet dari dalamnya. Dengan enteng menelannya tanpa air dan setelahnya pemuda itu memang terlihat jauh lebih tenang.

"Hah, habis semalaman begadang tambah dijitak keras di ubun-ubun, jadi capek dan kesulut emosi." Wonwoo tersenyum pada Jihoon, "Tadi takut padaku ya?"

Jihoon tidak bilang apa-apa bahkan ketika Wonwoo seenaknya mengelus rambutnya. Sejujurnya ia khawatir dengan Mingyu yang dahinya masih berdarah. Ketika pandangannya bertemu, Jihoon buru-buru mengalihkan dan kembali menatap Wonwoo.

"Tadi itu kenapa?"

Wonwoo menyengir, "Jihoon-ku polos sekaliiii~" lalu menepuk-nepuk pelan kepala Jihoon, "Pernah dengar ketika seseorang sedang lelah maka kondisi tubuh dan emosinya tidak akan stabil? Mungkin kurang lebih begitu."

Mingyu mengusap darahnya dengan tisu basah (darimana juga dia bisa dapat tisu basah itu?) dan masuk ke dalam percakapan Jihoon dan Wonwoo, "Manusia bukan robot ataupun mesin, tapi juga bisa mengalami error."

Jihoon menatap mereka berdua bergantian, masih terlihat bingung, "Robot apanya?"

Wonwoo tertawa, "Tidak usah dipikirkan deh, kembali ke klub yuk?"

Intinya, sekalipun hanya terdiri dari mesin, robot juga perlu istirahat.

Apalagi manusia.

Tiga kakak kelas di ruangan klub sudah menunggu dengan ocha dan beberapa kue kering, "Kerja sambilan sudah selesai, jadi kami iseng-iseng bikin kue deh."

"Darimana bisa dapat ocha?" Mingyu bertanya heran.

"Cuma kiriman dari Ayahku kok, Gyu." Mihyun menyahut, "Sojung dan Hyojung yang bikin kue."

Jihoon makan setengah sedih, kapan dia bisa bikin kue seenak ini?

"Oh iya, omong-omong tadi ada email dari Komite Disiplin." Hyojung bicara kalem, " Besok siang mereka bakal resmi membubarkan kita, jadi kita harus pindah dalam kurun waktu 24 jam dari sekarang."

"Heh?!" Jihoon langsung berdiri, "Dibubarkan besok?!"

"Eh, ada email tambahan masuk, langsung dari Wen Junhui si wakil ketua—" Hyojung bicara lagi, "—seperti ancaman yang biasa, kalau kita belum pindah maka ruangan beserta anggota klub akan dibakar."

Jihoon melotot, "APA?!"

Mingyu masih berwajah santai dan Wonwoo asyik sendiri memainkan lengan robot yang dia buat seminggu lalu, "Tunangan macam apa tuh? Masa calon istrinya mau dibakar?"

"Iya, sudah… berhenti membahas itu dong, Gyu." Wonwoo berusaha mencegah Mingyu bicara terlalu jauh, "Lagipula, jangan kemana-mana sehabis ini."

Mingyu lagi-lagi terkejut dengan nada bicara Wonwoo—ya dia tahu sih nada bicara Wonwoo notnya tidak pernah naik, mungkin tetap stuck di Do—Cuma dia tahu kalau Wonwoo sedang punya rencana dan dia seratus persen tahu kalau rencana Wonwoo tidak akan baik untuknya.

"Jihoon, tidak keberatan nih kubuat repot sedikit?" tanya Wonwoo.

Jihoon menggeleng, "Memangnya mau repot dibuat apa?"

"Nah." Wonwoo tersenyum, "Coba ketik permohonan untuk klub, kita harus membuat klub baru kalau tidak ingin dibubarkan Komite Disiplin."

Wonwoo yang kalem memang keren, Jihoon nyaris terpana untuk kedua kali sebelum Wonwoo dengan autisnya tersenyum lebar dan menaruh empat robot kecil buatannya diatas meja. "Nah! cepat ketik permohonannya Jihoon. Nanti aku yang print-out deh."

Sojung menyela saat Jihoon—entah kena angin apa—menurut pada Wonwoo dan mengetikkan surat dan berkas permohonan untuk peresmian klub, "Tapi, syarat untuk satu klub baru kan minimal ada sepuluh orang, Won."

"Sojung-nuna lihat dong! Kita sudah ada sepuluh kok!"

Jihoon diam-diam menghitung, ada tiga kakak kelas, dia, Wonwoo dan Mingyu. Berarti ada enam, empatnya kemana?

"Jihoon, jangan lupakan Han, Hun, Heo, dan Hee ya?" Wonwoo menepuk-nepuk robotnya, "Mereka juga anggota kita."

Bazeng. Serius lo? Jihoon facepalm. Wonwoo mana pernah sekeren itu.

"Terus apa rincian kegiatan kita? Masa kerja sambilan sih?"

"Tidak apa-apa, masukkan saja Jihoon!" Wonwoo menyuruh lagi

Jihoon sebenarnya mau protes, "Anu, tapi kan itu tidak sesuai dengan kegiatan kita yang—"

"Berisik, Jihoon. Kalau disuruh ya lakukan saja, dasar pendek."

Pendek?

Pendek?

"Pendek?"

Jihoon batal melanjutkan mengetik, lebih tertarik untuk bergulat dengan Mingyu dan melihat muka songong manusia dekil itu babak belur. Tolong jangan salah artikan kata bergulat itu. Dan Mingyu sebenarnya lemah dengan wanita dan juga Wonwoo, jadi ia rela-rela saja dihajar Jihoon, padahal bekas jedotan jidat Wonwoo masih terasa nyeri-nyeri.

Tanpa sepengetahuan Jihoon, Wonwoo melanjutkan mengetik dan tersenyum lebar, "Nah! tinggal print-out dan bawa ke OSIS!"

"HE?!" Jihoon dan Mingyu berteriak bersamaan.

"Mana bisa pakai yang asal-asalan begitu! Sudah pasti berkasnya akan ditolak, tahu!" Jihoon protes ke Wonwoo (pada akhirnya), sementara Mingyu langsung mojok ke sudut ruangan. Tapi, mata Wonwoo menangkap pergerakan cowok itu dan menggandeng lengan Mingyu dengan mesra.

"Serahkan saja semuanya pada sihir kami, benar kan, Mingyu?" ucap Wonwoo lembut. Teramat lembut sampai Mingyu yang dibisiki tepat di telinga merinding.

"Ugh— aku benci OS—"

"Nah aku dengan Mingyu berangkat dulu ya!" Wonwoo dengan riang gembira menggandeng Mingyu keluar dari ruangan klub menuju ruang OSIS. Jihoon masih melongo sementara tiga kakak kelas santai dan kembali minum teh.

"Kok kalian tidak panik sama sekali sih?! Ini kan demi klub kita?" Jihoon mengguncang-guncang bahu Sojung, "Eonni—"

"Kalau masalah seperti ini sih, serahkan saja pada mereka berdua, Ji." Hyojung yang menyahut, "Ah, sepertinya kamu belum tahu ya mengenai ketua OSIS dan kedudukan OSIS di sekolah kita?"

Jihoon berhenti heboh, dan memilih untuk duduk manis sementara Sojung yang tadi sudah diobrak-abrik badannya berdiri untuk menjelaskan.

"Jadi, dari Iuppiter kita memiliki beberapa kepala sekolah dan persatuan guru pengawas sebagai yang paling tinggi. Dibawah mereka kita memiliki Komite Disiplin dan OSIS yang sebenarnya kedudukannya sama di sekolah. Tapi, ketua OSIS jarang muncul di depan umum, makanya Komite Disiplin jadi seenaknya."

Jihoon bingung, "Bahkan untuk mengikuti kegiatan belajar?"

"Ketua OSIS namanya Jeonghan, kami dengar sih, dia menerima pelajaran langsung dari internet dan dia juga termasuk siswi berprestasi. Dia berhasil terpilih menjadi ketua OSIS dengan mengambil alih 64% suara dari seluruh siswa di sekolah ini. Sembilan kandidat lain kalah telak." Mihyun yang melanjutkan, "Omong-omong ini lho foto ketua OSIS saat pelantikannya beberapa bulan lalu."

Cewek yang paling kecil merapat pada Mihyun, Jihoon menangkap foto seorang cewek berambut panjang melebihi bahu, rambutnya diikat asal dan ujung poninya yang panjang kelihatan kusut, cewek itu pakai kacamata bulat dan senyumnya sungguh lugu (atau kelihatan bodoh menurut Jihoon). Tipe amat sangat kuper banget sekali.

Jihoon facepalm bagian kedua. Sebenarnya pikiran anak-anak sekolah ini kemana? Bisa-bisanya memilih orang kuper begitu?

"Lalu dengar-dengar nih, Jeonghan itu fans beratnya Mingyu. Kami sering memergoki PC yang dipakai Mingyu masih menyala saat dia ketiduran, aku pernah membaca surat cintanya ketua OSIS." Sojung menambahi, dan sepertinya hal yang dia katakan memang inti dari alasan kenapa Mingyu sempat meronta tidak mau dibawa ke ruang OSIS untuk menemui si ketua.

Ya, kalau yang naksir begitu sih, wajar saja Mingyu-sunbae menghindar seperti orang gila. Batin Jihoon dengan kurang ajarnya berbisik demikian.

Meninggalkan klub, Wonwoo diam di depan ruang OSIS. Ia menunjukkan wajah sebal pada Mingyu yang memeluk erat batang pohon pinus di depan kantor OSIS.

"Gyu, buruan."

"Tidak, tidak, kau masuk sendiri, Won. Sumpah, aku tidak akan pernah mau masuk kesana." Mingyu bicara sambil menggigit bibir, "Sampai mati aku tidak mau masuk kesana."

Wonwoo sewot, "Katanya demi kebaikan klub? Tadi saja kau menegur Jihoon yang mau protes lalu sekarang kau yang protes? Aku tidak mau tahu, pokoknya cepat beralih dari sana!"

"Won—" keringat dingin Mingyu keluar, "Kau tahu kan seperti apa Jeonghan itu?"

"Dia ketua OSIS kita dan dia anak yang pintar. Oke, sekarang beralih dari sana dan cepat kemari karena kita harus menyerahkan ini sebelum jam lima!"

Mingyu masih belum mau beranjak, "Won, plijeu."

"Mingyu—"

"Kalau kau yang bersikeras begitu kenapa bukan kau saja yang masuk?"

Wonwoo akhirnya menghampiri Mingyu lalu menangkup pipi cowok yang masih nempel di batang pohon. Wonwoo mendekatkan wajah Mingyu padanya, "Dia kan sukanya kamu, bodoh—lagipula, kamu suka kan ada Jihoon di klub kita?"

Mingyu terkejut sebentar kemudian ia menundukkan kepalanya. Wonwoo mengelus rambutnya dan menarik tangannya untuk kembali ke depan pintu kantor OSIS—sebenarnya Wonwoo tidak suka panas-panasan. Ia kembali menangkup wajah Mingyu dan membuat Mingyu menatap matanya.

"Kalau kamu tidak bisa melakukan ini demi klub, maka lakukan demi Jihoon."

Mingyu mendengus, memalingkan muka.

"Ya, terserah aja, ngomong aja terus."

Wonwoo nyengir lebar, langsung menarik tangan Mingyu masuk ke kantor OSIS tanpa permisi, "Misiii, kami mau bertemu ketua OSIS nih!"

Sontak saja seluruh anggota OSIS (yang semuanya cewek) kaget melihat tiba-tiba ada dua cowok aneh datang mengacau di sore hari yang damai, salah satu anggota OSIS langsung menghalangi Wonwoo yang mau nyelonong masuk ke ruangan ketua, "Ke-ketua bilang dia tidak mau diganggu dan tidak ingin ada yang masuk ke ruangannya!"

Wonwoo tersenyum pada cewek itu dan mencolek dagunya, "Ketua pasti bakal memaklumi kok, jadi biarkan kami lewat ya?"

"Hei, tung—"

Wonwoo sudah mengetuk kencang ruangan ketua, "Ketua! Tolong buka, Kim Mingyu yang asli datang ingin menemui ketua nih!"

Sesaat hening. Tidak ada suara apapun.

Sepuluh detik kemudian pintu ruang ketua OSIS terbuka dan ada sosok berambut panjang terikat yang sedikit melewati bahu, berkacamata bulat, dengan poni yang kusut sedang tersenyum lugu (atau mungkin bagi Wonwoo terlihat bodoh dan bagi Mingyu terlihat mengerikan).

"Be-benar? Benar Ki-Kim Mingyu asli?" Jeonghan bicara lemah sambil memperbaiki letak kacamatanya.

Wonwoo dan Mingyu menelan ludah. Dan karena Mingyu sudah pucat sekali, akhirnya Wonwoo yang bicara, "Boleh kami masuk ketua?"

"A-ah, ma-maaf aku lupa menyuruh masuk." Jeonghan membuka ruangannya dengan suara terkikik dan sumpah Mingyu bisa melihat aura sadako menguar seperti bau sampah busuk. Yoon Jeonghan mengerikan, dia tidak seharusnya disini, nanti Mingyu bisa kesurupan!

.

"Aku datang!"

Wonwoo datang dengan lolipop nyempil di mulut dan wajah berbinar. Ia duduk disamping Jihoon yang sebenarnya kaget dengan kehadirannya.

"Lho? Mingyu dimana, Won?" Mihyun bertanya.

"Dia masih rapat dengan ketua OSIS, supaya tidak mengganggu dan urusan lebih lancar, aku tinggalkan mereka berdua deh di ruangan ketua." Wonwoo menjawab santai lalu merangkul bahu Jihoon, "Ji, tidak apa-apa kan kalau Mingyu dekat dengan cewek lain sebentar?"

Jihoon merengut, "Maksudnya apaan sih?"

"Kamu rela-rela saja kan kalau Mingyu anu dengan ketua OSIS kemudian anu sampai mereka anu—"

Jihoon reflek memukulkan sekuel pertama buku novel Diari Vampir yang terdiri dari enam ratus lebih halaman ke muka Wonwoo.

"Permisi."

Pintu ruangan klub Believers dibuka dari luar, Jihoon dan tiga kakak kelas melongok ke pintu, disana ada cewek tinggi berkacamata dengan rambut sepunggung. Wajahnya kalem, cantik abis. Badannya bagus dan kulitnya agak berwarna. Cewek ini hot, tapi polos di saat yang bersamaan.

Afrodit-nya Acropolis.

"Gila, cantik banget—" Wonwoo bisik-bisik dan Jihoon yakin pikiran cowok itu sudah penuh dengan hal macam-macam.

"Aku wakil ketua OSIS, Juwi. Aku mengantarkan pesan dari ketua untuk kalian mengenai peresmian klub Believers."

Jihoon maju paling pertama dan mempersilahkan Juwi (yang sumpah beda tingginya kentara sekali dan Jihoon bisa mendengar Wonwoo terkikik entah di sudut ruangan yang mana) untuk duduk. Juwi duduk tanpa bicara dan tiga kakak kelas memberinya hidangan andalan berupa teh dan biskuit yang tadi dibuat.

"Ini surat peresmiannya, intinya kalian sudah bisa pindah ke ruangan baru yang lebih baik daripada yang kalian tempati sekarang."

Jihoon yang menerima suratnya, "Wah, terima kasih banyak—sejujurnya kami tidak tahu kalau akan ditanggapi dan disetujui secepat ini."

Juwi mengambil cangkir teh dan minum dengan sangat anggun, setelah meneguk satu kali, dia kembali bicara dengan tenang, "Sebenarnya surat permintaan jelek yang kalian kirimkan itu tidak bisa diterima, tapi kakakku tidak mau dengar."

Jihoon melirik tiga kakak kelas yang juga saling berpandangan bingung. Wonwoo yang dari tadi menjauh akhirnya ikut nimbrung ke dalam percakapan mereka.

"Kakak?"

"Iya, Jeonghan adalah kakak kembarku."

Semuanya kaget, "Tapi, kok kalian beda?"

Juwi mengembalikan cangkir ke meja, "Bicara apa kalian? Yang mana Jeonghan dan Juwi itu susah dibedakan, kami sama-sama cantik." Juwi melirik Jihoon, "Hanya saja dada kakakku lebih besar dan kulitnya lebih putih."

Ba-bangke— dadanya besar?

"Ah sialan si Mingyu, tahu begitu tadi aku saja yang membahas masalah klub berdua saja dengan ketua." Wonwoo mengatakannya sambil melirik pada Juwi yang kembali menyeruput teh dan kemudian berkomentar, tehnya enak, boleh aku minta yang masih kering?

Jadi, sekarang Mingyu lagi berduaan di ruangan tertutup dengan cewek yang sebenarnya cantik dan dadanya besar dan cewek itu ngefans berat sama Mingyu?

Jihoon mendadak khawatir.

"Kalau seandainya aku menyusul Mingyu-sunbae bagaimana?"

"Lho, tidak usah Jihoon! Kita kan sudah mau pindah!" tiga kakak kelas berseru bersamaan padanya sementara Wonwoo mengantarkan Juwi yang berpamitan untuk segera kembali ke ruang OSIS.

"Ta-tapi—"

"Kita. Harus. Pindah. Sekarang."

Wajah ketiga kakak kelas terlalu dekat dengannya sampai Jihoon meneguk ludah. Kenapa tiga kakak kelas yang biasanya woles tiba-tiba jadi seagresif ini?

"Ba-baiklah, aku mengerti!"

.

"Mingyu-ssi! Kenapa kau sealu menghindar dariku?!"

Mingyu menggeliat dibawah Jeonghan—tidak, dia sedang tidak jadi Uke, lagipula Jeonghan itu cewek. Mingyu memalingkan mukanya ketika anak rambut Jeonghan menyentuh pipinya.

"Pe—pergi dari atasku. Menyingkirlah Jeonghan!"

"Tidak, sebelum kau jawab bagian mana dariku yang kurang sampai kau selalu menghindariku?" Jeonghan melepaskan kacamatanya, "Padahal kau tahu kan kalau aku suka padamu—"

"Hah?" Mingyu linglung, mau menjawab, mau tidak.

Jeonghan menarik ikatan rambutnya dan itu membuat rambutnya tergerai bebas. Mingyu menatap Jeonghan dan jujur saja dia terkejut.

"Apa yang kurang dariku?"

Sumpah demi apa.

Setelah melepas kacamata dan ikatan rambut, Jeonghan mendadak jadi cantik. Mingyu jadi bingung bagaimana caranya menolak Jeonghan sekarang. Tadinya dia bilang kalau kekurangan Jeonghan adalah wajahnya, tapi setelah melihat wajah Jeonghan, Mingyu nyaris khilaf.

Jadi apa?

Badannya?

Jeonghan menyandarkan mukanya ke bahu Mingyu dan Mingyu mendadak diam.

Apa yang empuk ini? Kok kenyal? Kok boing?

"Ngh— Mingyu-ssi.."

BAZENG! Mingyu langsung kabur dan lari ke pojok ruangan. Ia melihati telapak tangannya seakan-akan baru saja melakukan pembunuhan, Mingyu tidak tahu dia harus senang atau sedih. Masalahnya—gila bro, gede amat. Seandainya bukan Yoon Jeonghan, seandainya Ji—coret, kalau yang itu bisa-bisa dia mati duluan sebelum menggerus lebih jauh.

Ibuk, aku kudu piye? Mingyu tiba-tiba ingat Ibunya di kampung halaman.

Jeonghan diam-diam mendekat, "Kau belum menjawab."

Mingyu merinding, entah kemana temannya yang seratus tujuh, apa mereka juga takut pada Jeonghan? Mingyu memutar otak, memikirkan jawaban yang mungkin bisa menyakiti hati Jeonghan dan membuatnya bisa kabur dari ruang ketua OSIS terkutuk ini. Mendingan dia adu bacot bersama Soonyoung atau dihajar Wonwoo saja.

Tapi ini demi klub. Tapi ini demi Jihoon.

Mingyu berkeringat dingin. Dia masih ingin menjaga keperjakaan demi istrinya di masa depan nanti.

"A-aku benci sifatmu."

Jeonghan berhenti mendekati Mingyu, matanya berkaca-kaca dan cewek itu reflek menutupi mulutnya dengan tangan. Tersedu-sedu.

Mingyu masih menunggu, apa caranya berhasil?

"Tidak kusangka—" Jeonghan bicara sambil terisak, "—ternyata kau selalu memperhatikanku sampai kau menaruh perhatian pada sifatku. Aku benar-benar terharu, Mingyu-ssi."

Mingyu tidak tahan tekanan. Selanjutnya Jeonghan menerjangnya dan mengerling nakal, "Maaf, tapi sudah sangat lama aku mau menyentuhmu seperti ini."

Sekali lagi, Mingyu tidak tahan tekanan. Ketika Jeonghan tiba-tiba melepas kancing teratas kemejanya, Mingyu mendadak pingsan.

"Eh, Mingyu-ssi?!"

.

Myungho sedang membaca manga Tokyo Gaul—dan menunggu Jihoon pulang—saat ponselnya berbunyi. Ada telepon dari Jihoon. Myungho mengangkat panggilan dengan segera.

"Iya, Ji?"

"Oh, syukurlah, kukira kau sudah tidur, Myung." Suara Jihoon terdengar. Myungho menutup buku komik dan mengubah posisinya menjadi terlentang.

"Aku menunggumu pulang nih, aku takut kalau kau tidak bisa masuk karena pintu kamar kita kukunci. Tahu isu penyusup kan akhir-akhir ini, dan perkosaan dibawah umur? Banyak bocah SD dan SMP jadi korban."

Jihoon tahu maksud Myungho, tapi entah kenapa ia agak tersinggung saat Myungho membicarakan masalah perkosaan terlalu detail, "Myung, aku bakal baik-baik saja."

Myungho mendengung kecil, "Aku khawatir lho padamu."

"Tidak apa-apa, lagipula malam ini aku tidak pulang ke asrama, aku akan tidur di ruang klub. Kami baru dapat ruangan baru dan sekarang baru selesai memindahkan barang."

"EH? TIDAK JADI DIBUBARKAN?!" Myungho lagi-lagi kehilangan kekaleman, "Selamat deh! Hebat juga kalian bisa selamat dari Komite Disiplin."

Jihoon meringis, membatin pilu, kami pakai tumbal sih sebenarnya.

"Ya sudah, kalau begitu besok aku bakal bangun lebih pagi deh, biar kau sempat juga mengikuti kelas. Aku ikut bantu siapkan seragammu saja ya?"

Jihoon tersenyum lebar, teman sekamar mana lagi yang bisa sepengertian Myungho, "Thanks banget, Myung! Cepat tidur sana, ini sudah tengah malam."

Myungho mengiyakan dan mengucapkan pesan yang kurang lebih sama pada Jihoon. Mengucapkan bye singkat, Jihoon memutus sambungan teleponnya.

Jam menunjukkan lewat tengah malam. Jihoon bersandar di sofa lalu melirik pada tiga kakak kelas yang juga sudah tepar di titik masing-masing. Sepertinya mereka ketiduran dan tidurnya super nyenyak (Jihoon bisa dengar ada yang mendengkur). Wonwoo? Entahlah, setelah selesai memindahkan barang, manusia aneh satu itu langsung lenyap. Jujur saja, mata Jihoon juga ngantuk sekali tapi dia tidak bisa tidur.

Bagaimana nasibnya Mingyu-sunbae? Jam segini belum pulang.

Baru saja Jihoon berpikir begitu, pintu ruangan mereka menjeblak lebar. Mingyu datang dengan keadaan seperti habis mabuk miras oplosan.

"Yo—" sapanya.

Bajunya compang-camping, kancing celananya sepertinya copot, kemeja putihnya terbuka dan Jihoon bergidik melihat bekas ciuman nyaris ditempel rata seperti stiker di badan Mingyu, "Y-yo—"

Jihoon menggeser sedikit badannya dan Mingyu langsung ambruk di sofa.

"Brengsek si Wonwoo. Seenaknya saja dia, dan aku yang menderita. Aku benci manusia."

Jihoon menoleh pada Mingyu, "Maksudnya?"

"Aku lebih suka robot."

Jihoon mendengus, "Bagaimana bisa membandingkan manusia dengan robot? Manusia dan robot kan beda."

"Benar juga sih—" Mingyu melemparkan bantal sofa pada Jihoon dan Jihoon menangkapnya tepat di muka, ketika ia menurunkan bantal itu, tiba-tiba saja wajah Mingyu sudah begitu dekat dengan wajahnya.

"—karena manusia bisa ditiduri."

Jihoon menunjukkan muka bingung, "Huh?"

Mingyu ambruk lagi. Kali ini menjadikan pangkuan Jihoon sebagai bantalnya.

"Jihoon, jantungmu berdetak." Gumamya setengah sadar.

Muka Jihoon memerah, "Te-tentulah, aku ini manusia."

"Oh—" Mingyu menutup matanya, "Selamat tidur, Jihoon."

Jihoon masih belum menjawab. Mingyu sepertinya benar-benar lelah. Ketika baru datang tadi nafasnya terengah-engah, dan sekarang mendengar nafasnya teratur membuat Jihoon tenang. Tangan Jihoon bergerak mengelus kepalanya dan gadis yang biasanya judes itu tersenyum lembut.

"Selamat tidur, sunbae. Kau sudah bekerja keras hari ini."

.

Pagi yang cerah. Hari yang indah. Jun yang bahagia karena PCnya sudah sembuh. Soonyoung yang super semangat hari ini. Hal-hal tersebut menjadi kesenangan tak terhingga bagi para anggota Komite Disiplin yang sangat mengagungkan pemimpin mereka. Mereka tidak peduli kalau mereka jomblo, karena yang terpenting adalah sang Kaisar—ketua mereka—akan menjemput Tuan Putri Judes—coret—maksudnya Tuan Putri saja, tidak pakai Judes—untuk dipinang. Bukan dipinang juga sih, tapi mereka sangat mendukung keinginan sang ketua yang berambisi membawa pergi tunangannya dari klub madesu (alias MAsa DEpan SUram) seperti Believers.

Jadi mereka berduyun-duyun seperti pengawal mengikuti kepergian Soonyoung sambil membawa satu botol minyak tanah dan puluhan korek api menuju ruangan klub PR. Jalan sepi dilewati, sana-sini masih kumuh seperti sebelumnya, dan plang Klub PR Believers terlihat di depan mata.

Soonyoung senang, menjilat cambuk ditangan—bukan.

Soonyoung senang, memutar kunci cadangan klub milik Believers. Tidak sabar ingin melihat wajah kaget dan terluka anggota klub dan Jihoon yang akan memohon-mohon padanya. Ya ampun, membayangkannya saja Soonyoung sudah kesenangan.

Suara klik dari kunci terdengar. Soonyoung mendorong pintu terbuka dengan semangat.

"Sekarang ajal kalian! Believers, hari ini kalian akan bu—"

Soonyoung tidak jadi melanjutkan. Matanya tajam menyusuri seluruh ruangan.

Kosong.

Kosong.

"Soonyoung," Jun mencolek bahu Soonyoung, "Coba lihat ini." Jun menunjuk sebuah pengumuman kecil yang ditempel di sudut dinding ruangan.

Soonyoung membacanya dengan tidak sabar.

KLUB PR SUDAH RESMI. SUDAH PINDAH KE SALAH SATU GEDUNG BAGIAN BARAT. TERIMA KASIH OSIS. PAK YU KOMITE DISIPLIN.

Kwon Soonyoung geram level maksimal.

"Sialan, sejak kapan mereka masuk dalam lindungan OSIS?"

Meskipun kalah perang, tapi Soonyoung bukanlah orang yang gampang kecewa dan gampang malu. Dia akan berusaha mencari cara lain untuk memenuhi keinginannya dengan cara menggali dulu banyak informasi, menganalisis dan mencari kelemahan sebelum menghancurkannya. Kwon Soonyoung bukan orang yang bisa kalah semudah itu. Kalah tidak ada dalam kamus hidupnya.

"Jun, selidiki ini nanti. Ketua OSIS kecoa itu tidak bisa seenaknya."

"Siapa yang kau bilang kecoa, binatang melata?"

Yoon Jeonghan rupanya sudah berdiri di depan Soonyoung, beserta adik kembarnya Juwi dan beberapa orang anggota OSIS di belakang mereka berdua.

Soonyoung kaget, "Yoon Jeonghan?"

Seluruh anggota Komite Disiplin terkesima dengan kemunculan ketua OSIS. Lebih terkesima lagi karena ketua OSIS yang mereka kenal cupu, kuper dan buluk ternyata punya rambut hitam lembut sepunggung, mata jernih dan wajah yang sumpah demi apa secantik adik kembarnya yang sudah populer lebih dulu dengan kecantikannya. Jun langsung mengangkat kamera yang selalu ia bawa kemana-mana. Ketua OSIS mau menampakkan diri di muka umum adalah peristiwa yang sangat langka, harus difoto dulu.

"Kwon Soonyoung, jangan coba-coba menguasai sekolah ini sendirian. Kau tidak pantas jadi kaisar disini selama masih ada aku!"

Diam beberapa saat sebelum Jeonghan berbalik dan berkata, "Juwi, ayo kita kembali. Aku sudah kehilangan selera untuk memeriksa ruangan Believers."

Juwi menurut, "Baik, kak."

Rombongan cewek OSIS aduhai berjalan menjauh.

Soonyoung merobek kertas pengumuman yang tadi ditempelkan di ruangan klub yang sudah ditinggalkan, "Sombong amat perempuan satu itu!"

"Jadi bagaimana, Soonyoung? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Jun.

Soonyoung menghela nafasnya keras-keras. Diam sejenak untuk menjernihkan pikirannya, namun tidak berhasil. Pikirannya masih dipenuhi kemarahan, dan kekesalan, dan Jihoon.

Kenapa sulit sekali untuk mendapatkan cewek satu itu? Padahal mereka sudah bertunangan tapi bahkan cara Jihoon melihatnya itu sama seperti ketika cewek itu melihat sampah (Soonyoung saja yang tidak tahu kalau dia punya 49 saingan resmi untuk mendapatkan Jihoon—dan ia tidak sadar kalau saingannya bertambah setelah Jihoon masuk ke klub PR Believers). Soonyoung menggigit kuku—kebiasaannya jika ia sedang berpikir.

"Apapun akan kulakukan. Yang penting Jihoon jadi milikku." Lalu ia menatap Jun dan anggotanya, "Kita kembali untuk hari ini."

Jun mengangguk. Memerintahkan anak buah lain untuk mundur hari ini.

"Soonyoung, kau tidak apa-apa?"

Soonyoung melirik Jun, "Memangnya aku kenapa?"

Jun cepat-cepat mengibaskan tangannya, "Tidak, aku hanya bertanya."

Soonyoung berjalan melewati Jun tanpa bicara apa-apa. Jun hanya mengendikkan bahu, menyusul di belakang Soonyoung.

.

"Eh, eh, coba lihat!" Jihoon berseru semangat. Ruangan baru yang lebih baik dan besar membuat semangatnya juga ikut lebih baik sekarang, "Aku baru saja mengecek website OSIS. Ketua OSIS sudah memasukkan link Believers di homepage mereka."

Mingyu yang kelihatan paling takjub, "Tuhanku, perjuanganku tidak sia-sia!"

Wonwoo di pojokan nyeletuk, "Berduaan dengan cewek cantik berdada besar, diciumi, dibelai-belai, itu kau sebut perjuangan? Itu namanya pernyamananan, Mingyu."

Tiga kakak kelas mengamini, "Mingyu beruntung sekali punya penggemar fanatik sekeren ketua OSIS."

"Iya, sudah cantik, bodinya bagus, pintar lagi."

Mingyu menggerutu, "Kalian sama sekali tidak tahu rasanya nyaris diperkosa."

"Ya jelas Mingyu tidak tertarik, dia kan sukanya dengan tipe-tipe loli atau pettan yang punyanya lemon, bukan melon." Wonwoo berucap enteng dan Mingyu langsung menerjangnya untuk membekap mulut.

Dua-duanya melirik Jihoon.

"Yang sudah ya sudah, lagipula kita sudah punya ruangan baru dan kita tidak lagi dibatasi oleh Komite Disiplin." Jihoon tersenyum senang, "Sekarang ayo kita buat jadwal untuk klub!"

Semuanya diam.

"Eh, ayo dong, supaya klub kita maju!"

Masih krik-krik-krik.

"EH AYO DONG RESPON AKU, AKU NANGIS NIH!" Jihoon mencak-mencak meremat kertas kokoru yang tersisa dari hasil kerja sambilan tiga kakak kelas.

"Gini deh, Jihoon." Wonwoo mendekat, "Bagaimana kalau kau saja yang jadi ketua klub kita?"

Jihoon cemberut, "Kok seenaknya menentukan begitu?"

"Yah, soalnya keahlian kita cuma di komputer dan mesin, kalau masalah manajerial kami lemah, jadi kami serahkan padamu saja." Mingyu menimpali sambil menunjuk-nunjuk Jihoon. "Sanggup kan sanggup kan?"

Jihoon melirik tiga kakak kelas yang masih sibuk kerja sambilan.

Menyebalkan, apa setelah banyak langkah yang mereka tempuh akhirnya juga tidak akan ada bedanya dengan yang sebelumnya?

"Jihoon?" Wonwoo mengibaskan tangan di depan muka Jihoon, "Ji-Hoon-ah-manis-ku~"

Jihoon kembali mendapatkan fokusnya dan melirik tajam pada Wonwoo.

Ya, apa boleh buat.

"Baiklah, tapi aku juga sangat memerlukan bantuan kalian ya."

Papa selalu mengajarkan Jihoon untuk menghormati orangtua, guru dan seniornya nanti. Jadi, satu-satunya anggota kelas satu itu membungkukkan badannya dalam-dalam di depan kakak-kakak seniornya di klub.

"Mohon dengan sangat bantuannya."

Kepala Jihoon ditepuk oleh Mingyu dan Wonwoo. Tiga kakak kelas menghampirinya dan menggenggam tangannya.

Kami mengandalkanmu, lho.

.

(see you next chapter)

.

Ps: jadi, intinya saya lupa password akun ini dan pc saya yang bobrok sudah ga bisa dipake buat internetan. saya gabisa ngasih horizontal line. yHa.
pss; mingyu punya 107 teman. Mari simpulkan siapakah teman-temannya itu?
psss; kemarin ada yang nanya ini kaya mirip suatu komik yang judulnya cyber cyber, iya kan emang saya ambil plot dari situ lho, yuk dibaca lagi catatan saya yang diatas/?
pssss: ini kisahnya ngeremake atau apa sih ini ceritanya ya? Masalahnya kalau ngeremake itu persis sama dan Cuma diubah bagian yang perlu saja; misalnya ciri-ciri fisik karakter yang kita pakai. Tapi ngeremake manga itu susah sisbro/? Soalnya teks manga itu sebagian besar balon dialog doang, susah deskripsinya/? Ya makanya saya ambil plot dari situ tapi saya Cuma nulis scene per scene yang saya inget dan saya bikin lagi scene yang mungkin ga ada di manganya sebagai penyesuai. Aduh apalah gangerti saya masalah remake-remake gituan, masih nyubi juga. Tolong kasih tau sebenernya ini termasuk remake apa ga biar enak saya nulisnya.
psssss; ada yang bisa nebak ga, siapakah idol yang saya jadikan karakter tiga kakak kelas itu?