BALASAN REVIEW

Midorin4: Maklum, Akashi lagi kena virus merah jambu :3 /toelAkashi/ditoelgunting/ Makasih untuk reviewnya ^^

Guest: Makasih udah bersedia baca fic ini. Semoga chap ini cukup memuaskan :D /nyengir/ Makasih untuk reviewnya ^^

Rive Eve Akashi: Ini chapter dua udah meluncur. Semoga cukup memuaskan :D /bow/ Makasih untuk reviewnya ^^

DeidaraChan: Akashi baru kena panahnya Arjuna,, ehh panah cupid maksudnya :D /diketjupgunting/ Makasih untuk reviewnya

Special Thanks to

Ariska/ Candy Chan-Cc/ Hatsune 01 Story/ Kim Kimmy Exostand 31/ Kuroshiro Ringo/ The Devil From Underworld/ Vanilla Tetsuya Blue/ XL-SasuHinaGaa/ chennie21/ fishy1992/ hikarusherizawa/ hunhanhardshipper/ / kureha sei/ / momonpoi/ / Akari Kareina/ Freyja Lawliet/ JodohnyaOhSehun/ KakaknyaKurokoTetsuya/ Kim Victoria/ Lisette Lykouleon/ hakyuu

Yang sudah mem-fav maupun follow cerita ini (maafkan jika ada yang salah nama atau ketinggalan, itu berarti mata Daana lagi khilaf)

Dan untuk semua yang sudah membaca

Arigatou Gozaimasu ^_^

Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki Sensei.

This Fiction belongs to Daanasa

Genre : Romance,, i hope so !

Rated : T

Pairing : Akakuro, always !

Warning : Typos. OOC. Gaje. Older!Kuroko

This is Yaoi Story, it means boy x boy. If you hate Yaoi, just leave it and click back. Don't Like, Don't Read. It's Simple !

Summary: Bahkan Akashi Seijuuro, kapten bertitel raja iblis pun bisa bertingkah seperti halnya remaja biasa saat sedang jatuh cinta !

Happy Reading minna~


Chapter 2: Who is he ?

Kuroko Tetsuya baru saja selesai menyusun buku-buku yang baru tiba di toko tempatnya bekerja paruh waktu. Kemudian pemuda bersurai baby blue itu segera mendudukan diri senyaman mungkin di bangku di belakang kasir. Tangan mungilnya meraih segelas vanilla milkshake di atas meja dan menyeruputnya hingga habis.

'Kurasa, aku harus membeli vanilla milkshake lagi.' Pikirnya seraya melempar gelas kosong itu ke dalam tong sampah yang berada tidak jauh darinya-mencoba meniru gerakan dari pemain basket yang dilihatnya di televisi . Kuroko menghela napas pelan saat melihat gelas plastik itu hanya membentur pinggiran tong sampah sebelum tergeletak begitu saja di atas lantai. Kuroko segera bangkit dari duduknya dan memungut kembali gelas plastik itu, sebelum memasukannya kembali dengan cara normal.

"Kuroko, kau masih disini ?" Kuroko segera memalingkan wajahnya ke arah suara. Seorang pemuda berambut hitam belah tengah dengan cengiran lebar sedang berdiri tidak jauh darinya. Takao Kazunari, pemuda yang juga berkerja part time sama sepertinya itu telah bersiap untuk pulang, berhubung waktu kerja telah selesai.

"Takao-kun," Kuroko menatap datar ke arah Takao. "Kau juga masih disini ?" Pertanyaan yang terlontar dari Kuroko lebih terdengar seperti pernyataan, entah karena pemuda itu yang tidak tahu cara menggunakan intonasi, atau memang bagian dari ciri-khasnya.

"Aku baru saja akan pulang," Takao melirik sekilas ke arah jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Uwaaa,, aku harus pergi sekarang, Kuroko. Aku sudah sangat terlambat !" Takao berseru panik sebelum berlari keluar toko buku dengan kecepatan kilat. Meninggalkan Kuroko yang bahkan belum mengucapkan salam perpisahan.

Kuroko hanya menatap datar kepergian temannya itu. Sudah biasa karena hampir setiap hari Takao melakukan hal yang serupa. Kuroko kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jam besar yang terletak di dinding toko dan mendapati jarumnya telah menunjuk ke arah jam lima lewat dua puluh tiga menit empat detik. Sudah waktunya untuk menutup toko.

Maka setelah selesai merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja-karena toko buku ini juga menyediakan tempat bagi para pengunjung untuk membaca buku-, Kuroko segera beranjak ke ruangan pegawai. Melepaskan apron berwarna biru yang sedari tadi melekat di tubuh mungilnya, dan segera memasang jaket tebal berwarna coklat dan juga sebuah syal berwarna senada. Hujan yang mengguyur kota Tokyo semalam menyisakan udara dingin yang nyaris membekukan tulang.

Setelah memastikan bahwa semua sudah beres, Kuroko segera beranjak menuju pintu. Udara dingin langsung menyambut pemuda manis itu begitu pintu terbuka. Tangannya segera merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan berbentuk bola basket. Memasukkannya ke dalam lubang pintu, dan memutarnya hingga pintu itu terkunci rapat.

"Hai, Tetsuya."

Kuroko segera membalikkan badannya begitu mendengar seseorang memanggil namanya. Irisnya menemukan seorang pemuda bersurai merah yang tengah berdiri di samping mobil Audi berwarna merah, dengan senyuman manis yang ditujukan ke arahnya. Penampilan pemuda itu terlihat memukau-baju kaos tanpa lengan berwarna hitam yang dibalut dengan jaket berwarna merah dan dipadu dengan celana jeans berwarna hitam. Membuat pemuda bersurai merah itu terlihat seperti seorang pangeran yang sering digambarkan dalam cerita dongeng. Tapi bukankah pakaian itu tidak cocok dipakai di cuaca dingin seperti ini ?

"Akashi-kun." Kuroko segera menghampiri pemuda itu. Tatapan datar dilayangkan ke arah pemuda bernama lengkap Akashi Seijuuro itu. "Kau menungguku ?"

"Tentu saja, Tetsuya." Akashi menjawab dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.

"Sudah berapa lama ?" Kuroko bertanya dengan nada yang tetap datar. Irisnya memperhatikan pemuda yang masih bertahan di posisinya itu, dengan tangan yang berlipat di depan dada.

"Tidak terlalu lama." Akashi mengangkat bahu acuh. Baginya, tidak penting seberapa lama ia menunggu Kuroko. Asalkan pemuda berwajah manis itu muncul dihadapannya, itu sudah cukup.

Kuroko membawa kedua tangan mungilnya ke wajah Akashi. Menempelkan telapak tangannya ke pipi pemuda bersurai biru itu. Tindakan yang berhasil membuat Akashi sontak membulatkan kedua matanya.

"Kau bohong, Akashi-kun." Kuroko bisa merasakan betapa dinginnya kulit pemuda yang lebih tinggi-beberapa senti- darinya itu. Sudah bisa dipastikan jika pemuda bersurai merah itu cukup lama berada di luar ruangan. Apalagi dengan pakaian setipis itu. Jika tidak mau dibilang nekat, berarti Akashi cukup bodoh untuk memilih pakaian yang tepat.

Senyuman lembut terukir di wajah Akashi. Tangannya terangkat, menangkupkan telapak tangannya di atas punggung tangan Kuroko yang masih berada di sisi wajahnya. Memberikan kehangatan pada tangan yang jauh lebih mungil darinya itu.

"Aku tidak berbohong, Tetsuya." Iris scarlet itu menatap lembut ke sepasang iris yang selalu mengingatkannya pada langit biru di musim panas. "Aku tidak keberatan menunggumu selama apapun itu, Tetsuya." Akashi mengecup lembut punggung tangan Kuroko, membuat wajah manis itu dihiasi rona merah. Mengapa suhu tiba-tiba terasa panas ?

"Le-lepaskan tanganmu, Akashi-kun. Orang-orang melihat kita." Kuroko segera mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Rasanya aneh saat melihat bagaimana cara pemuda itu menatapnya. Membuat Kuroko merasa seperti ribuan kupu-kupu berterbangan bebas di dalam perutnya.

'Perasaan apa ini ?'

"Aku tidak peduli pada mereka." Akashi menjawab dengan nada tak acuh. Tapi tetap melepaskan genggamannya dari tangan mungil Kuroko. Kemudian memasukkan tangannya ke kantung celana. Membuat pose yang keren seperti seorang model professional-bukan Kise yang Akashi maksud di sini. Sekaligus menghangatkan tangannya yang mulai terasa membeku. Padahal Akashi sengaja mengenakan pakaian seperti ini agar terlihat lebih dewasa di mata Kuroko. Tapi sialnya, cuaca tidak mendukungnya saat ini.

"Lalu kenapa kau menungguku, Akashi-kun ?" Kuroko bertanya disela usahanya menghilangkan rona merah yang masih tampak samar di pipi mulusnya.

"Kau ingat percakapan kita minggu lalu, bukan ?"

Ucapan Akashi sukses mengingatkan Kuroko pada kejadian seminggu yang lalu.


Flashback On

Hari ini langit terlihat cukup cerah. Lebih cerah ketimbang beberapa hari belakangan ini. Badan Meteorologi dan Geofisika mungkin memang telah meramalkan bahwa kota Tokyo akan diguyur hujan dalam beberapa minggu ini, tapi bukan berarti matahari tidak bisa hadir menyinari.

Namun sepertinya hal itu berbanding terbalik dengan suasana hati dari seorang pemuda bersurai baby blue. Iris yang sewarna dengan surainya itu menampakkan kekesalan yang teramat sangat terhadap objek berambut merah dengan cengiran lebar yang sedang duduk manis di hadapannya. Saat ini, Kuroko tengah berada di salah satu meja yang berada di toko buku tempatnya bekerja-waktu kerjanya telah selesai sejak lima menit yang lalu-. Jarak keduanya hanya dibatasi sebuah meja persegi panjang dengan beberapa buku yang berserakan di atasnya.

"Akashi-kun," nada suara Kuroko terdengar begitu datar. Buku yang sejak tadi menjadi atensinya ditutup setelah diberi pembatas. Padahal niat hati ingin segera mengerjakan tugas yang diterimanya dari dosen. Tapi mengingat kehadiran pemuda Akashi itu-yang selalu membuat tugas Kuroko berakhir di tong sampah akibat diremas sang empunya guna menyalurkan rasa kesalnya pada remaja 17 tahun itu- Kuroko segera mengurungkan niatnya.

"Kenapa kau masih berada di sini ? Bukankah seharusnya kau sudah pulang ke rumahmu, Akashi-kun." Jika Akashi cukup peka, maka seharusnya Akashi tahu bahwa Kuroko mencoba sarkastik.

"Tentu saja karena aku menunggu jawabanmu, Tetsuya." Siapapun yang melihat senyuman seorang Akashi tentu merasa sangat beruntung. Apalagi jika mengingat betapa susahnya bibir sexy Akashi melengkungkan senyuman manis. Tapi sepertinya hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada Kuroko-yang menjadi objek senyuman Akashi. Yang ada pemuda berstatus mahasiswa jurusan Sastra Jepang di Universitas ternama di kota Tokyo itu jadi ingin menonjok wajah tampan Akashi. Senyumnya terlihat sangat menyebalkan.

"Aku tetap menjawab tidak, Akashi-kun." Kuroko menghela napas melihat betapa keras kepalanya pemuda itu. Kuroko tidak habis pikir dengan pemuda yang masih betah memasang senyum sumringah itu. Bukan kali pertama Kuroko menolak ajakan pemuda itu untuk menjalin kasih-nyatanya Kuroko bahkan membutuhkan tambahan tangan untuk menghitung berapa banyak kata 'tidak' yang dilontarkannya. "Kau tidak lelah bertanya hal yang sama setiap hari, Akashi-kun ?".

"Kau sendiri tidak bosan menjawab hal yang sama setiap hari, Tetsuya ?"

Skak mat ! Sepertinya pemuda itu cukup lihai dalam memainkan lidahnya-yang Kuroko maksud itu makna denotasi, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak.

"Kenapa kau keras kepala sekali, Akashi-kun ?!" Ekspresi Kuroko mengeras. Untuk kali ini saja, Kuroko akan menghilangkan sifat baik dan lemah lembutnya. "Aku tidak mungkin menerimamu sebagai kekasihku."

"Kenapa tidak, Tetsuya ?" Sepasang mata beriris scarlet itu menatap tajam tepat ke iris biru pemuda mungil dihadapannya. Yang ditatap masih betah memasang ekspresi datar.

"Karena kita berdua laki-laki, Akashi-kun." Ijinkan Kuroko untuk membenturkan kepala merah itu ke dinding terdekat. Memangnya Akashi tidak tahu kalau hubungan sejenis itu merupakan hal yang tabu di dunia ini-pengecualian untuk beberapa Negara yang mana telah melegalkan pernikahan sejenis.

"Lalu kenapa, Tetsuya ?" Akashi berkata dengan nada yang kelewat santai. "Selama kita saling mencintai, itu tidak menjadi masalah bukan ?"

Dahi Kuroko berkerut samar mendengar jawaban narsis pemuda bersurai merah itu. Kuroko itu normal dan masih menyukai perempuan-sekalipun Kuroko belum pernah menjalin hubungan asmara dengan seseorang. Mana mau dia menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, apalagi pemuda yang masih mengenakan seragam SMA itu. Kuroko itu pria dewasa yang telah menginjak usia 22 tahun. Jikapun Kuroko menyimpang, dia tentu tidak akan memilih remaja tanggung yang lebih muda 5 tahun darinya itu.

"Aku tidak mencintaimu, Akashi-kun." Kuroko mengalihkan perhatiannya ke arah sekitar. Beruntung suasana cukup sepi hingga tidak akan ada yang mencuri dengar pembicaraan menyimpang mereka-wajar saja karena sebagian pengunjung telah pulang mengingat matahari akan segera terbenam. "Aku masih normal." Lanjutnya sembari membereskan peralatannya yang berserakan di atas meja. Dia akan mengerjakan tugasnya di rumah saja.

"Kau memang masih normal, Tetsuya." Akashi menganggukan kepala setuju. "Hanya untuk saat ini." Lanjutnya dengan seringai yang terkembang dibibirnya.

Kuroko yang mendengar ucapan dari pemuda yang lebih muda darinya itu hanya bisa memutar mata kesal. Apakah menganiaya pemuda berusia tujuh belas tahun termasuk tindakan kekerasan terhadap anak ? Andai tidak mengingat jika Kuroko masih harus menyelesaikan skripsinya demi gelar sarjana yang akan segera disandangnya, pemuda bersurai baby blue itu tidak akan segan melakukan tindakan penganiayaan-sekalipun hukumannya mendekam di balik jeruji besi. Apapun itu, asalkan pemuda tampan yang tengah menyerigai lebar ke arahnya itu bisa segera enyah dari dunia ini.

"Maafkan aku, Akashi-kun." Kuroko mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah Akashi, "Aku tidak akan tertarik padamu. Lagipula kau bisa mengencani gadis atau pemuda manapun yang kau sukai. Kenapa harus aku ?"

"Kau mungkin benar, Tetsuya. Aku bisa mengencani siapapun yang aku inginkan," Akashi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan yang bersilang di depan dada. "Tapi aku tidak bisa menentukan siapa yang akan aku cintai, bukan ?" Tatapan Akashi melembut saat irisnya bertemu dengan milik Kuroko yang sejernih lautan.

Kuroko bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Kenapa ucapan pemuda itu bisa membuat perasaannya kacau begini ? Belum lagi tatapan lembut yang dilayangkan sepasang iris merah itu. Kuroko merasa kenormalannya patut dipertanyakan.

"Baiklah, Akashi-kun." Kuroko berkata dengan nada teramat pelan, yang untungnya masih bisa di dengar Akashi. "Aku akan memberikanmu kesempatan. Aku akan menerimamu jika kau berhasil membuktikan bahwa kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Bagaimana, Akashi-kun ?"

Akashi yang mendengar ucapan Kuroko sontak membulatkan matanya. Tidak menyangka bahwa pemuda manis itu akan bersedia memberinya kesempatan. Bolehkah Akashi membuang imagenya sementara dan berteriak 'berhasil berhasil hore' seperti gadis kecil berambut pendek yang sering membuat tekanan itu ?

"Kau yakin, Tetsuya ? Maksudku, tentu saja ya." Akashi semakin mengembangkan senyumnya. Pemuda bersurai merah itu lantas berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah Kuroko. Sedikit menundukkan tubuhnya dan kemudian melingkarkan lengannya ke leher Kuroko. "Terima kasih untuk memberi kesempatan padaku, Tetsuya." Bisiknya lembut tepat di telinga Kuroko.

'Apa keputusanku salah ?' Dan Kuroko kembali menghela napas.

Flashback Off


"Jadi intinya ?" Kuroko kembali menatap datar ke arah Akashi. Bingung menentukan hubungan antara kehadiran Akashi saat ini dengan percakapan mereka minggu lalu.

"Aku sedang memanfaatkan kesempatanku, Tetsuya." Akashi menjawab dengan seringai yang sukses membuat bulu kuduk Kuroko meremang seketika. Tangannya segera meraih tangan Kuroko sebelum menarik pemuda itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Mencegah Kuroko yang baru saja akan melayangkan protes. Setelah memasuki mobilnya, Akashi segera menyalakan mesin mobilnya.

"Kita akan kemana, Akashi-kun ?" Kuroko mengalihkan perhatiannya ke arah Akashi yang sedang memasang seatbeltnya.

"Ke suatu tempat yang jauh, Tetsuya." Seringai Akashi semakin lebar. Cukup membuat Kuroko yakin bahwa dirinya tidak akan selamat dari terkaman singa berwujud remaja tampan itu.

Dan mobil berwarna merah itupun segera melaju di jalanan yang cukup sepi dengan latar matahari yang hampir terbenam.

'Selamatkan aku, Tuhan.'

TBC


DN: Akhirnya bisa lanjutin ini fic. Daana harap chap ini cukup memuaskan dan nggak terlalu aneh. Daana tahu kalau Akashi kelihatan OOC di chap ini /bow/ tapi Daana harap ini nggak akan terlalu bermasalah :)

Daana nggak tahu mau ngetik apalagi. Jadi segini aja dulu /note apa ini/abaikan

Saran dan kritik selalu di terima di kotak review.

Long Life AkaKuro ! \^o^/


OMAKE

"Ini semua salahmu, Midorima-cchi !"

Midorima nyaris melemparkan spatula yang menjadi lucky itemnya itu ke arah si kuning berisik-Kise Ryota. Apa-apaan pemuda itu menyalahkan Midorima ? Padahal disini Midorima yang lebih banyak bekerja guna mensukseskan misi mereka.

"Brengsek kau, Kise." Umpatan Midorima sukses membuat Aomine-yang sejak tadi duduk tenang di bawah pohon dekat tempat prakir-nyaris menepuk tangan seraya mengucap 'bravo bravo'. Tidak menyangka bahwa Midorima, si anak baik bisa mengumpat seperti dirinya-well, Aomine patut bangga karena berhasil mempengaruhi si megane tsundere itu.

"Kau tidak tau betapa susahnya aku mengikhlaskan kendaraanku untuk dipakai dalam misi ini,-" Woww, betapa hebatnya Midorima mengucapkan kalimat sepanjang itu dalam satu tarikan napas. Murasakibara perlu belajar mengatur pernapasan dari Midorima-agar dia juga bisa menghabiskan makanannya hanya dalam satu tarikan napas. "-nanodayo ?" Trademarknya tidak ketinggalan rupanya.

"Ini kau sebut kendaraan, Midorima-cchi ?" Kise menunjuk kea rah sebuah sepeda yang dibelakangnya terdapat sebuah gerobak. "Bagaimana kita akan mengikuti Akashi-cchi jika menggunakan kendaraan seperti ini ?" Rupanya Kise belum sadar bahwa dia telah mengaktifkan sisi yandere Midorima.

"Kau bilang apa ?!" Midorima dengan aura membunuhnya segera menghampiri Kise yang segera menjaga jarak darinya. Rupanya Midorima begitu mencintai kendaraan anti polusi itu.

"Kemari kau Kise !"

Dan misi mereka untuk mengikuti Akashi setelah pulang sekolah-karena latihan basket dibatalkan hari itu- terpaksa gagal akibat kendaraan yang akan mereka gunakan tidak memenuhi standar untuk melakukan kegiatan memata-matai.

Atau dalam kasus ini, kau bisa menyebutnya 'menguntit'.