DISCLAMIRE
Nor Even Wish
Hajime Isyama-Sama
Fic by LONGLIVE AUTHOR
For the Glory of Humanity
*
Sinar matahari menerobos kaca-kaca jendela di markas Recon Corps. Sinar-sinar yang lolos menandakan bahwa matahari sudah meninggi dan aktifitas masyarakat dalam dinding Stohess sudah mulai. Pagi itu bukanlah pagi yang biasa bagi Mayor Hanji Zoe. Suasana pagi itu jauh lebih suram daripada yang diingatnya. Matanya terbuka merutukki sinar yang lolos dari celah-celah jendela. Badannya terasa remuk karena ia tidur di ruang kerjanya semalaman.
Deg!
Deg!
Deg!
Rasa lapar dan hausnnya terasa tidak penting kali ini, padahal ia tidak ingat kapan terakhir kali memasukan sesuatu ke mulutnya. Napasnya terengah-engah dan kedua tangannya gemetar. Sisa-sisa ingatan itu masih teringat jelas dalam benaknya hingga berefek pada kerja fisiknya.
'Apa yang akan terjadi nanti?'
'Bimbing kami...'
'...tenangkan pikiranmu!'
'Masa ini akan tetap berjalan, bergegaslah.'
'Tubuhmu akan merasakan seuatu'
'Levi!'
'Kau siap?'
'Semoga beruntung!'
'Selamat tinggal.'
Itu semua bukan mimpi! Sama sekali bukan! Ia sepenuhnya sadar, dan ia tahu apa yang ia ketahui. Alam sadarnya benar-benar kembali ke masa ini. Ia tidak tahu sekarang sedang berada dimana atau hari apa. Situasi saat ia dikirim sangat rusuh dan tidak memungkinkan untuk memberinya penjelasan lebih detail mengenai dimana ia akan bangun. Ia hanya mendapatkan keterangan tahun dan tak lebih dari itu.
Tangannya bergerak-gerak diatas meja dan menemukan lembaran-lembaran kertas penelitian dan tulisannya yang berantakan. Goggle-nya tergeletak tak berdaya di ujung meja. Sepertinya ia telah menghabiskan waktu semalaman untuk mengkaji laporan survey. Ia mengarahkan matanya untuk membaca tulisan-tulisan itu.
Laporan Desa Selatan Dinding Trost
H1 : Seluruh warga desa telah kabur sebelum raksasa mencapai desa karena tidak ditemukan bercak darah atau mayat sama sekali.
H2 : Seluruh warga desa dimakan habis oleh raksasa tanpa jejak sama selaki. Kemungkinan titan abnormal.
H3 : Ditemukan titan abnormal yang memiliki kelainan fisik dan tak bisa menyerang, dengan respon fisik dan pengelihatan yang menunjukan kemiripan dengan manusia. Kemungkinan terburuk, titan abnormal itu adalah Nyonya Springer, ibu dari Connie Springer (=menurut keterangan Connie dan tim survey).
Ia membuang napasnya ketika kenangan itu muncul di benaknya. Ia ingat sekarang, Hari ini adalah hari dimana dia menemukan hipotesis baru bahwa ada kemungkinan seluruh titan yang berada di luar dinding sebelumnya adalah manusia biasa. Beberapa belas jam yang lalu terlibat pertempuran besar-besaran untuk merebut Eren Jeager dari Reiner dan Bertholdt yang merupakan titan Armour dan titan Kolosal. Lebih dari setengah pasukan pengintai mati dalam misi penyelamatan itu, dan Komandan Erwin harus kehilangan lengannya.
"Erwin--" Nama itu meluncur begitu saja ketika ia mengingatnya.
"Ia masih hidup..."
Jika ia berada di saat ini, berarti masih banyak orang yang masih hidup. Ia harus bergegas, ia akan melakukan apapun untuk menjalankan misi istimewa nya.
Butuh waktu dua puluh menit untuknya mempersiapkan laporannya dan mencari Connie Springer untuk menghadap Erwin. Hanji dan Connie berjalam di koridor bangsal rumah sakit dimana Erwin di rawat. Prajurit berkepala plontos itu menggenggam erat foto kedua orang tuanya. Bukannya Hanji tidak merasa kasihan, tapi kenyataan yang ditemukan kali ini ternyata jauh lebih mengejutkan. Connie anak yang sedikit ceroboh, juga polos, saat ini dia belum tahu akan jadi apa dia kelak.
"Hei, Connie. Apa kau yakin dengan keputusan ini? Kau tidak perlu ikut jika kau memang tidak mau." Wanita nyentrik itu berhenti beberapa langkah sebelum memasuki ruang perwatan Erwin.
Pandangan Connie begitu sedih dan terpukul, tapi ia terlihat mantap. "Aku yakin."
"Baiklah." Dalam hati pun ia merasa tak karuan juga dengan perasaannya. Sekarang ia merasa sangat aneh, entah ia siap atau tidak bertemu Erwin. Sudah puluhan tahun ia tak melihat wajahnya.
Hanji mengetuk pintu dan masuk bersama Connie. Ia sedikit kaget karena mendapati tak hanya Levi yang berada di ruangan itu, tapi juga ada komandan Pixys tengah duduk di bangku pengunjung.
"Mayor Hanji, akan melaporkan hasil penyelidikan dari desa bagian selatan dinding Trost. Kebetulan ada Komandan Pixys disini."
"Hmm." Ia membalas. Hanji maju dua langkah diikuti Connie disisinya. Erwin mendengarkan dengan seksama. Sekilas Hanji melirik lengan kanan Erwin yang sudah tinggal sebagian. Demi apapun--dia sangat merindukan Erwin. Tenggorokannya hampir saja tercekat.
"Menurut hipotesis yang kami dapatkan dari pasukan penyelidik, kami mendapatkan data bahwa tak ada bekas darah atau mayat di desa itu, namun kejanggalan yang terjadi adalah tak ada satupun kuda yang dibawa pergi dan ditemukaannya seorang titan abnormal yang diduga--" ia berhenti sebentar, memberikan pada Connie agar siap mendengar kenyataan pahit ini, "adalah Nyonya Sprienger." Ketiga prajurit itu menunjukan ekspresi tak percaya bahkan untuk seorang Rivaille.
"Data lengkapnya akan kuberikan setelah tersusun." Sambung Hanji.
"Jadi maksudmu, selama ini akau menghabiskan seluruh tenagaku dan membuang semua waktuku untuk membunuh sesama manusia?" Komentar Levi.
Tak ada yang menjawab satupun, bahkan Komandan Pixys dan Komandan Erwin bungkam. Ditengah keheningan itu Hanji tersadar dengan misinya. Dulu ia mungkin sama kagetnya dengan mereka, tapi tidak kali ini. Ia memiliki misi yang jauh lebih penting. Belum terpikirkan bagaimana ia akan memberitahu Erwin dan Levi, yang pastinya tidak bisa melakukannya sekarang. Komandan Dot Pixys berada disini dan ia tidak akan bisa leluasa memberitahu kedua rekannya. Ia mempertimbangkan Erwin, kondisinya tidak memungkinkan untuk hal ini. Terlebih lagi situasi saat ini cukup genting, mengingat sudah banyak yang terjadi. Pengadilan belum memutuskan untuk bertindak apa, dan hal yang paling riskan adalah apapun bisa terjadi saat ini. Ia mengenal orang-orang ini di masa depan bukan berarti mereka akan melakukan keputusan yang sama. Hukum butterfly effet tidak sesederhana itu. Jika ia melakukan hal yang persis sama maka masa depan akan sama, namun jika sedikit saja berbeda maka pengaruh yang akan dihasilkan berbeda.
Lekat manatap wajah Erwin yang sudah sedikit kotor karena cukup lama tidak bercukur. Mata itu masih sama tajamnya seperti dulu. Ia masih bisa ingat bagaimana Erwin mati dalam pertempuran. Dengan susah payah mereka bersikeras untuk membawa jasad komandan mereka yang hampir hancur karena terjangan batu.
"Aku mohon diri, ayo Connie." Mereka berdua melakukan hormat dan keluar dari pintu. Langkahnya agak terseok dan pandangannya tidak fokus.
"Mayor Hanji, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Connie. Sang Mayor memperhatikan tangan Connie yang masih dengan erat mengenggam foto kedua orang tuanya. Hanji tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa. Kau tidak usah khawatir, kita akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Kau kembalilah bersama teman-temanmu."
Hentakan suara langkah Connie yang menjauh membuat perasaannya semakin tak karuan. Kilasan masa lalu yang menyedihkan berputar di kepalanya seperti rekaman sejarah mengerikan.
"Oi Hanji."
Ia menoleh dan mendapati Levi keluar dari ruangan Erwin. Ia hanya sendiri. Teringat dahulu ketika mereka masih lengkap pasti mereka akan saling menjenguk ketika ada yang terluka pasca pertempuran.
'Mike, Petra, Aururo, Erd...'
Levi hanya berjalan sendiri tanpa ada seorangpun disisinya. Begitupun dengannya. Tiba-tiba perasaan marah menghampirinya. Ia kesal kenapa ia tidak kembali lebih jauh lagi? Kenapa harus masa ini? Kenapa tidak ke waktu dimana semua rekan-rekannya masih hidup?
"Oi Hanji, ada apa denganmu?"
Lamunannya buyar.
"Oi Levi, tidak aku baik-baik saja." Ia nyengir lebar. Kata-katanya keluar begitu saja secara refleks.
"Hidungmu berdarah." Ujar Levi singkat.
"Eh?" Hanji baru sadar ketika darah sudah melewati sela-sela bibirnya. Buru-buru ia menyekanya dengan tangan. Tapi darah yang keluar terlalu banyak, sekarang malah mengotori lengan kemejanya. Apa mungkin ini reaksi yang terjadi bila pikirannya tidak stabil.
"Sial!" Umpat Hanji. Ia tidak bisa mengontrol darah yang keluar dari hidungnya maupun pikirannya.
"Pakai ini! Dan ikut aku." Levi melemparkan sapu tangan yang biasa dia bawa kemudia menarik lengannya dengan kasar.
Levi membawa Hanji ke aula besar. Ia meninggalkannya di meja makan untuk mengambil semangkuk es.
"Kompres hidungmu!" Hanji memperhatikan cara berjalan Levi yang agak terseok.
"Kakimu?!" Pekik Hanji tertahan kompresan es.
"Apa?"
"Kakimu kenapa?" Tanyanya. Levi telihat jengkel.
"Jangan bodoh! Kau tahu apa yang terjadi pada kakiku." Ujarnya.
"Eh?" Pikiran Hanji kembali melayang ke puluhan tahun yang lalu. Ia sedikit lupa dengan detail-detail kecil. Sementara itu Levi menyilangkan tangannya sembari memperhatikan wanita gila penyuka titan itu. Jelas ada sesuatu yang aneh dari Hanji. Ia menyadarinya sejak masuk ke ruangan Erwin. Cara ia melihatnya, atau gerak-geriknya. Meski Levi sering dibuat jengkel oleh Hanji, tetap saja mereka sudah kenal lama. Mereka tahu sifat dan sikap masing-masing.
Hanji merutuki dirinya sendiri karena kepikunannya. Levi pasti sudah curiga padanya terlihat dari cara dia memandangnya. Tatapan Levi seperti pertama kali melihat prajurit baru yang masuk Tim Pengintai.
"Ah, kakimu terkilir gara-gara titan wanita itu. Ya!" Pekik Hanji begitu mengingatnya. Ia menurunkan kompres es nya dan menghapus jejak-jejak darah di hidungnya. Kepalanya terasa sakit maka ia lepaskan juga kacamatanya. Tampak jelas lingkaran hitam itu.
"Sebaiknya kau juga mengkompres kakimu, itu akan membantu penyembuhannya." Kata Hanji basa-basi. Ia menyandarkan diri di sandaran kursi menegadah sambil memejamkan mata.
"Merepotkan sekali tahu jika dalam pertempuran kau tidak--"
"Ada apa denganmu?"
"Eh?" Hanji membuka matanya dan menatap Levi.
"Ah, kurasa kau--"
"Sikapmu aneh." Skak matt. Levi sudah melemparkan pandangan menyebalkan itu seakan dia adalah jelmaan titan. Hanji memang payah dalam hal berbohong. Tidak seperti Erwin yang bahkan Mike manusia paling peka pun tidak mengerti pola pikirnya.
"Baiklah aku menyerah. Aku akan memberitahumu sesuatu tapi berjanjilah untuk tidak menceritakan hal ini pada yang lain dulu. Kita tidak tahu apakah ada penghianat diantara kita." Levi mendengarnya dengan serius.
"Aku baru saja datang dari masa depan."
"Tch, brengsek! Apa kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu?" Levi berdiri tegak dan terlihat sangat jengkel. Mungkin dia merasa kalau Hanji sedang bermain-main dengannya disaat situasi seperti ini.
"Aku serius Hanji!" Bentak Levi. Pria pendek itu menarik kerah baju Hanji hingga satu kancing kemejanya lepas. Levi jelas tahu ada yang salah dengan Hanji, tapi manusia ini tidak mau memberitahunya.
"Aku serius! Dan--hei! Bersikap lembutlah padaku, semua temanmu sudah mati, aku adalah salah satu yang masih hidup." Balasnya dengan nada tinggi pula. Mendengar itu Levi menatapnya tajam untuk beberapa saat kemudian melepaskan genggamannya.
"Aku tidak sedang bermain-main, kau tahu keadaannya--"
"Aku tahu!" Potong Hanji, "Kau menyadari sikapku yang aneh, bukan tanpa alasan aku tiba-tiba lupa dengan apa yang terjadi pada kakimu! Itu sudah lama terjadi, beberapa puluh tahun yang lalu. Setidaknya bagiku!"
Meski sulit diterima Levi mulai mendengarkannya. "Jika benar kau dari masa depan, dimana dirimu yang masa sekarang?" Ia bermaksud untuk menguji.
"Apa?" Pertanyaan itu terdengar aneh di otak jenius Hanji. Ia tidak mengerti. Ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai bagaimana hukum perjalanan waktu bekerja. Ia tidak tahu 'Hanji' yang masa sekarang berada dimana.
"Dengar, aku tidak mengerti apa yang kau maksud dan aku pun tidak tahu bagaimana cara kerjanya, aku dikirim kesini untuk melakukan sesuatu."
Levi terlihat muak, ia memutar kedua bola matanya dan sedetik kemudian berbalik. Ia tidak punya waktu untuk omong kosong ini.
"Tunggu! Bagaimana agar aku bisa membuatmu percaya?!" Levi masih tidak mau berhenti. Hanji harus mencari cara.
"Nama ibumu adalah Kuchel, ia seorang--," Hanji tidak mau melanjutkan kalimat itu baginya kata 'pelacur' kata yang kasar untuk rekannya. "...dia meninggal karena sakit parah." Kata Hanji sontak langsung menghentikan langkah pria itu. "Kau tidak pernah tahu siapa ayahmu. Kau hanya tahu kau dibesarkan oleh Kenny the Ripper."
"Aku tidak pernah memberitahu itu pada siapapun." Katanya.
"Belum. Tapi kau akan."
Ia mendapat perhatian Levi sekarang. Pria itu yakin bahwa ia telah menutup rapat masa lalunya dan berani bertaruh tak ada yang mengetahui soal itu. Bahkan Erwin sendiri. Ia berbalik.
"Siapa yang mengirim mu kemari?" Tanya Levi.
"Kau." Ia berjalan mendekati Levi dan berdiri tepat dihadapannya.
"Dengar, di masa ini kita telah melakukan kesalahan dan hal itu menyebabkan sesuatu yang sangat fatal dimasa depan. Percayalah padaku Rivaille, manusia pernah mencapai kemenangannya. Tidak ada lagi titan dan tak ada lagi dinding dengan gerbang tertutup. Tapi karena kesalahan kita dimasa ini, mereka kembali, dengan kekuatan yang lebih dari sebelumnya. Aku tidak pernah melihat hal yang lebih brutal dari itu. Kita berada diambang kepunahan dan tidak ada cara untuk selamat. Demi apapun bantu aku Levi."
