AN: Chapter satu sudah diperbaiki, silahkan check. Update lama dikarenakan banyak kegiatan meskipun musim libur. Awal cerita sampai pertengahan pertarungan ditulis pakai hp karena lagi di luar kota dan tidak bawa laptop, jadi harap maklum kalau banyak kesalahan.


Chapter 2: Naruto vs Issei

Hyoudou Issei terdiam mendengar ucapan dingin yang baginya merupakan penghinaan besar keluar dari mulut manusia rendahan di depannya. Urat di keningnya muncul, kedua matanya memerah, lantas menyambar kerah seragam Naruto yang duduk dengan tenang di kursi. Issei mendekatkan wajahnya -mengintimidasi.

"BANGSAT! KAU PIKIR BISA MEMBUNUHKU HAH?" Maki Issei membuat seisi kelas terdiam.

Naruto memutar bola matanya bosan. "Perlu kubuktikan?" Tanyanya datar, tidak ada emosi yang terpancar lagi di kedua matanya.

Oke, sikap Naruto benar-benar membuat Issei habis kesabaran. Dia yang keturunan bangsawan tentu saja tidak pernah menerima penghinaan seperti ini. Remaja berambut coklat jabrik itu tidak terima direndahkan oleh manusia rendahan macam Naruto yang mudah saja baginya menghancurkan keluarga busuk Naruto.

Issei melayangkan tangan kanan yang sudah terkepal erat. Urat-urat muncul di sekitar pergelangan tangannya. Detik berikutnya tangan itu melesat menuju Naruto.

Apa yang terjadi selanjutnya membuat kedua bola mata Issei membulat sempurna -yang juga membuat perasaannya tidak enak. Tinju Issei dapat ditahan dengan mudah oleh telapak tangan Naruto. Ini sangat berbeda dengan 8 tahun yang lalu.

Naruto menatap tajam mata Issei, yang ditatap merasa seperti sedang diawasi oleh spesies kucing besar macam harimau atau singa. Benar-benar tatapan predator.

Remaja pirang itu meremas pergelangan tangan Issei yang mencengkram kerahnya. Issei berusaha untuk tidak mengeluarkan ringisannya. Remasan tangan Naruto benar-benar kuat sampai Issei bisa merasakan tulang tangannya seperti retak. Remaja pirang itu tidak menahan kekuatannya, tidak pula merasa kasihan pada Issei yang sudah berbanjir keringat. Tangan Issei perlahan-lahan melepaskan cengkramannya, dapat dilihat jari-jemari Issei bergetar.

Naruto memincingkan mata, "Apa hanya segini saja kemampuan seorang bangsawan? Menyedihkan." Remeh Naruto.

Issei dengan cepat melepaskan kedua tangannya, ia mengelus sebentar pergelangan tangan yang memutih itu, rasa kesemutan muncul seketika setelah peredaran darahnya lancar. Ia lalu menatap sombong Naruto.

"Jangan merasa hebat dulu, manusia rendahan! Aku akan mempermalukanmu di pertarungan nanti. Dan setelah kau menjadi budakku, neraka yang sebenarnya akan kau rasakan." Issei menyeringai sadis.

"Seharusnya aku yang bilang begitu." Balas Naruto kalem.

Issei mendecih sesaat lalu berjalan keluar kelas menuju arena pertandingan. Naruto membenarkan seragamnya sebentar lalu menyusul Issei.

Ini adalah pertandingan antar ketua kelas untuk memperebutkan kelas masing-masing. Yang menang akan mendapatkan kelas lawan dan yang kalah menjadi bawahan, seperti itulah sistem di sekolah ini.

Lugunica Academy memiliki tiga kawasan luas yang masing-masing menjadi daerah ketiga divisi. Divisi Wizard yang berada di pusat atau tengah, Knight di wilayah timur dan Fighter di wilayah barat. Masing-masing daerah divisi dibatasi oleh dua kanal besar. Ketiganya pun memiliki fasilitas sama. Biasanya ketiga divisi jarang berpapasan karena mereka memiliki daerah masing-masing.

Naruto terlihat berjalan di lorong menuju lapang pertandingan. Sorak-sorak dari penonton sedikit mengganggu telinganya. Namun suara ribut itu perlahan meredup dan digantikan oleh suara deru langkah pelan Naruto yang entah kenapa terdengar jelas sampai menggetarkan hatinya. Emosinya saat ini benar-benar rendah –dalam artian ia akan melakukan apapun demi tercapainya tujuan. Sekelibat ingatan tentang penderitaan dan latihan kerasnya menyatu menyebabkan muncul rasa aneh dalam dirinya -rasa ini seperti kau ingin meluapkan segalanya sampai tak tersisa.

"Sini kau lemah!"

"Kau tidak akan bisa menjadi kuat sepertiku."

"Hahaha dasar pecundang, membuat lingkaran sihir pun kau tidak bisa."

"Kau hanyalah alat pemuas kami."

Kata-kata Issei yang selama ini diingatnya tergiang di dalam kepalanya, bahkan Yasaka pun merasakan perasaan sedih Naruto.

Dan akhirnya Naruto muncul, berdiri di depan Issei sejauh 10 meter. Kedua matanya tak terlihat karena terhalang oleh poni. Kedua tangan itu dimasukkan ke saku celana. Naruto hanya berdiri dalam diam, tidak sedikit pun ingin melontarkan sepatah dua patah kata.

Issei melemaskan otot-ototnya sambil tersenyum sombong mendengar sorakan penonton yang sebagian besar mendukungnya dan menjelekkan Naruto. Suara penuh semangat keluar dari toa mengumumkan pertandingan resmi dimulai.

Namikaze Naruto [Komandan Kelas 1-C] melawan Hyoudou Issei [Komandan Kelas 1-B].

Issei menatap Naruto yang sedari tadi diam. "Hoy, apa kau sebegitu takutnya sampai diam seperti itu? Kau tahu, suara jeritan minta ampunmu lebih baik dari pada diam seperti mayat."

Tak ada balasan dari Naruto.

Issei mulai kesal lagi karena diabaikan, tapi kali ini ia tidak ambil pusing. Menghancurkan Naruto di sini sudah cukup untuk menghiburnya. Remaja coklat itu merentangkan tangan kirinya ke depan, detik berikutnya muncul cahaya kehijauan yang menyelimuti tangan itu.

[Boosted Gear]

Tangan kiri Issei diselimuti oleh gauntlet berwarna merah yang di tengahnya terdapat permata berwarna hijau. Bisa dibilang, ini adalah senjata sihir yang diamanahkan sang Raja ke keluarga bangsawan Hyoudou sejak zaman dahulu. Senjata yang mampu menggandakan kekuatan penggunanya berkali-kali lipat dalam kurun waktu 10 detik sekali.

Issei melesat dan meninju wajah Naruto yang masih terlihat tidak bergerak setelah menaikkan kekuatan sebanyak 2 kali.

Duakh!

Telak! Naruto terkena serangan telak tanpa ada niat menghindar membuat Issei menyeringai senang. Tapi tidak lama kemudian ia merasa aneh. Issei menarik tinjunya dan melihat wajah Naruto yang masih seperti semula, tidak ada luka, tidak ada darah, bahkan tidak ada goresan. Itu membuat Issei terkejut.

"Cih."

Kembali Issei melayangkan tinju namun tidak ada yang berubah. Ia bagaikan sedang meninju besi yang kerasnya melebihi batas standar. Keras ... sampai-sampai tangannya merasa kedutan kecil.

"Sial, ada apa dengan tubuhnya?" Umpat kesal Issei yang telah mengambil langkah mundur.

Ia ingin mencoba sekali lagi dengan kekuatan yang sudah meningkat. Kali ini pasti berdampak, tidak ada yang bisa bertahan dari tinju yang kekuatannya sudah dinaikkan 5 kali lipat. Issei kembali melesat dan ... dibuat melongo karena tinju beratnya ditahan dengan mudah oleh tangan Naruto yang bergerak tiba-tiba.

Asap kecil muncul dari gesekkan kedua tangan itu menandakan bahwa mereka benar-benar melakukan dengan tenaga besar. Bibir Naruto mulai terangkat, mungkin hendak menyampaikan kata-kata.

"Hoamz, aku ketiduran." Gumam Naruto sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Apa katamu?" Issei mendengus kesal karena Naruto seakan sedang mempermainkannya.

Naruto menatap Issei datar. "Oh rupanya sudah dimulai. Baru sampai mana? Aku tidak ketinggalan apapun, bukan?" Tanya Naruto, memasang senyum remeh.

"Berhentilah mengoceh hal yang tidak berguna!" Teriak Issei.

"Dan berhentilah melakukan sesuatu yang tidak berguna!" Sambung Naruto sambil menggenggam tangan Issei dan menghempaskan tubuh itu ke lantai dengan kasarnya.

Issei meringis singkat setelah merasakan nyeri di punggungnya. Lantai itu terlihat sedikit retak karena hantaman tubuh Issei. Merasa belum puas, Naruto mengangkat kaki kanan tinggi-tinggi lalu dihempaskan menuju perut lawannya.

Buakh!

Mulut Issei mengeluarkan cairan bening –entah apa itu sesaat setelah perutnya digilas habis oleh kaki Naruto membuat retakan di lantai merambat dan semakin membesar. Issei seperti dihantam oleh batangan besi.

"Ada apa? Sakit?" Tanya Naruto dengan wajah yang dibuat bingung. "Aku yakin kau tidak pernah merasakan sakitnya ditendang, bukan? Oh wahai kaum bangsawan terhormat." Ejek Naruto.

"Diam!" Hanya satu kalimat yang terdiri dari satu kata yang bisa keluar dari mulut keturunan bangsawan itu. Issei lalu mengarahkan kakinya hendak mengincar kaki Naruto.

Remaja pirang itu melompat mundur setelah melepaskan cengkraman tangan. Kedua kakinya mendarat mulus di permukaan lantai. Naruto kembali memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Issei bangkit berdiri sambil menyeka cairan bening yang keluar dari mulut. Tangannya mengusap sebentar perut yang masih terasa nyeri.

"Aku tidak terima diperlakukan seperti ini."

"Kalau begitu menyerah saja!" Saran Naruto.

Kening Issei berkedut kencang. "AKU MALAH TIDAK BISA TERIMA JIKA AKU KALAH DARIMU, ORANG RENDAHAN! SEBAIKNYA KAU YANG MENYERAH ATAU HIDUPMU SELAMANYA AKAN MENYESAL!" Teriak Issei sambil menunjuk remaja di depannya.

Naruto menghela nafas lalu menutup mata sesaat. 'Justru aku akan menyesal jika aku menyerah.'

Melihat kesempatan emas berada di depan mata, Issei secepat larinya mendekati Naruto yang memejamkan mata sambil mengeluarkan sebilah pedang dari gauntlet merah itu.

[Ascalon]

Issei mencabut pedang itu dan mengarahkannya pada kepala Naruto. Remaja yang sedari tadi diam itu terlihat membuka mata, melihat laju pedang yang hendak membelah kepalanya dari atas, satu komentar yang ada di dalam kepala Naruto.

'Amatir.'

[Tekkai]

Trank!

Untuk yang kesekian kalinya, mata beriris coklat itu membulat tanda ia kaget. Issei berpikir jika tinju tidak mempan maka menggunakan senjata tajam mungkin akan berpengaruh. Tapi tidak sama sekali, kondisi Naruto masih seperti semula -tidak ada yang tergores. Malahan bilah pedang Ascalonlah yang sedikit retak.

Kondisi seperti ini jauh dari perkiraan Issei.

"Kau tidak pernah belajar teknik pedang ya? Kalau begitu akan kuajarkan."

[Rankyaku]

Naruto menendang udara bebas, dari situ muncul gelombang udara berwarna merah yang langsung melesat menuju dada Issei.

"Cough!"

Untuk orang yang jaraknya kurang dari 2 meter di depan Naruto, tentu saja tidak bisa menghindar. Issei terseret cukup jauh akibat dorongan teknik Naruto yang sangat kuat. Remaja coklat itu berhenti setelah terseret sejauh 10 meter dengan dada mengeluarkan darah.

Di sisi penonton, mereka terdiam kagum melihat sihir Naruto yang tidak pernah digunakan oleh orang lain alias original teknik. Ya, seperti itulah pemikiran mereka yang tidak tahu seluk beluk Naruto.

Issei menatap penuh emosi Naruto yang menatapnya datar. Keseriusan adalah hal yang harus Issei lakukan sekarang. Ia sudah mengerti bahwa Naruto di depannya berbeda dengan Naruto yang dulu.

Issei menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berkonsentrasi. Perlahan tapi pasti muncul aura kemerahan dari tubuh Issei yang semakin lama semakin banyak dan pekat. Dari seberang sana Naruto merasakan tekanan energi Issei semakin meningkat tiap detiknya. Beberapa orang di bangku penonton sudah berkeringat dingin.

Issei mulai merapal mantra.

"Aku adalah Naga Merah Agung."

"Aku adalah perwujudan dari segala kekuatan dan kegelapan."

"Bangkitlah wahai kekuatanku."

"Welsh Dragon: Overboost!"

[Balance Breaker Scale Mail]

Seluruh tubuh Issei terselimuti oleh armor dengan warna dominan merah serta tercipta sepasang sayap di punggungnya dan ekor, bentuknya kini menyerupai naga mini. Sekarang aura yang dikeluarkan Issei benar-benar besar.

Naruto menyipitkan mata, "Seperti yang diharapkan dari keluarga bangsawan pemilik Sacred Gear tipe Longinus. Kau membuat pertarungan ini semakin menarik. Aku jadi ingin lebih menghajarmu lagi." Kata Naruto menyeringai tipis.

"Kehehe, menghajarku? Jangan buat aku tertawa! Kau tidak akan bisa melukaiku dalam mode ini menggunakan sihir anehmu." Teriak Issei dengan bangganya.

Tangan kiri Issei direntangkan ke depan menciptakan lingkaran sihir berwarna merah terang, detik berikutnya muncul bola energi besar berwarna merah yang semakin ke sini semakin mengecil. Itu adalah gumpalan energi dengan konsentrasi tinggi.

"Lenyaplah bersamaan dengan sihir ini!" Teriak Issei sambil meninju bola energi itu.

[Dragon Shot]

Seketika tercipta sebuah laser besar yang melesat menuju Naruto. Jika tidak dihindari maka dapat dipastikan Naruto akan mati. Namun remaja cerdas itu tidak bodoh, ia pandai melihat situasi dan memanfaatkannya.

[Soru]

Naruto hilang di tempatnya berdiri, membiarkan laser itu terus melaju sampai menghantam dinding pembatas. Beberapa detik kemudian Issei kaget karena lawannya muncul secara tiba-tiba di depan sambil melayangkan jari telunjuk menuju lehernya.

[Shigan]

Naruto mendecih dalam hati ketika melihat teknik pistol jarinya tidak mampu menembus armor Issei. Ia dengan cepat menyilangkan kedua tangan di dada setelah menyadari lesatan tinju Issei.

[Tekkai]

Tinju itu mengenai pertahanan Naruto yang membuat dirinya terseret beberapa meter ke belakang. 'Bahkan teknik tubuh besiku bisa digoyahkan. Ini semakin menarik.' Batin Naruto yang melihat kepulan asap kecil keluar dari tangan bekas tinju Issei.

"Bagaimana ini Goshujin-sama? Teknik Rokushikimu yang sekarang belum bisa menandingi Balance Breaker." Tanya Yasaka yang tidak ada nada khawatir sedikit pun karena Naruto masih punya kekuatan lain.

'Tidak ada pilihan lagi selain menggunakan salah satu kemampuan buah suciku.' Jawab Naruto.

"Jangan-jangan Goshujin-sama akan menggunakan itu!" Yasaka terbelalak.

'Benar. Tenang saja, mereka tidak akan tahu tentang ini, paling mereka akan mengira aku bersatu dengan Magical Beast.'

Naruto maju satu langkah sambil melonggarkan dasinya. Kedua tinjunya terkepal erat. Ia terlihat berkonsentrasi membangunkan kekuatan yang ada dalam dirinya. Kulit Naruto mengalami perubahan warna dari tan menjadi kuning yang dipenuhi bulu-bulu halus bertotol. Tinggi dan lebar badannya bertambah beberapa kali lipat. Kuku-kuku Naruto berubah menjadi runcing dan tajam. Pupil matanya berubah menjadi runcing. Juga surai pirangnya memanjang.

Kini terlihatlah Naruto dengan tubuh seperti macan tutul yang memiliki tinggi mencapai 5 meter serta ekor melambai-lambai dengan bebasnya.

Neko Neko no Mi tipe Leopard.

Semua terperangah melihat wujud Naruto itu.

"Apakah itu Magical Beast?"

"Jika ia berarti dia berhasil bergabung."

"Tapi aku tidak pernah melihat Magical Beast seperti itu."

Gumam-gumam dari bangku penonton.

"Aku tidak menyangka kau bergabung dengan Magical Beast." Dan Issei pun berpikiran sama.

"Kenapa? Terkejut? Kau belum pernah melihat manusia yang bergabung dengan Magical Beast ya."

Issei menggeram marah melihat Naruto yang sepertinya lebih kuat darinya. Tidak, itu tidak akan terjadi! Bagaimana mungkin manusia rendahan seperti Naruto bisa melampauinya yang seorang bangsawan? Issei tidak bisa menerima ini. Darah bangsawannya mengatakan Naruto harus lebih lemah dan kalah darinya.

"Apa yang akan Goshujin-sama rencanakan?" Tanya Yasaka.

'Hmm … akan lebih baik mengakhiri pertarungan ini dengan cepat. Aku tidak akan memberikan kesempatan pada si Hyoudou itu menyerang barang sekali pun.' Jawab Naruto disertai sebuah seringai tipis.

Naruto menjentikkan jarinya.

[Shigan Bachi]

Serangan jarak jauh dari [Shigan] di mana Naruto membuat peluru udara dari jentikan jarinya yang melesat cepat menuju Issei. Si pemegang [Boosted Gear] itu bisa menghindari serangan lawannya. Tidak cukup sampai di sana, Naruto menghilang menggunakan teknik [Soru] dan muncul beberapa detik kemudian di hadapan Issei. Gerakannya sangat cepat sampai Issei tidak cukup waktu untuk membuat lingkaran sihir pertahanan.

[Shigan Madara]

Dengan kedua jari telunjuknya, Naruto melancarkan serangan [Shigan] berturut-turut pada tubuh Issei, membuat armor yang dipakainya sedikit demi sedikit mengalami keretakan. Meskipun terlindungi oleh armor, dampak yang ditimbulkan tetap memengaruhi Issei. Remaja itu mengaduh kesakitan karena diberi tekanan dari luar. Dadanya serasa sesak.

Naruto menghempaskan Issei ke belakang dengan tinju kuatnya. Belum cukup sampai di situ, Naruto kembali menghilang, muncul di belakang Issei dengan kaki teracung.

[Rankyaku Gaichou]

Teknik [Rankyaku] yang memiliki bentuk seperti burung besar itu sukses menghantam punggung Issei, membuat armor yang melapisinya retak parah.

"Argh!"

Issei tertunduk kesakitan. Serangan dari dua arah dengan durasi waktu yang singkat. Naruto tidak memberi waktu baginya untuk melawan. Lihat saja, belum lima detik Issei menghidup udara, Naruto telah melesat cepat ke arahnya dengan sebuah cakaran. Tidak mau terkena serangan lagi, Issei menghindar dengan cara melompat dan terbang ke udara. Naruto berhenti, menengadah ke atas.

"Hahaha kucing sepertimu tidak bisa terbang! Sekarang kau tidak bisa menyerangku lagi." Sombong Issei.

Naruto menyipitkan kedua mata. "Begitukah?"

Naruto melompat. Lompatannya tidak bisa menggapai Issei yang jauh berada di atas. Namun, remaja pirang itu melakukan posisi seperti hendak melompat lagi.

[Geppou]

Tap tap!

Issei membulatkan mata melihat Naruto yang bisa melompat di udara dan kini sedang menuju ke arahnya.

'Dia … menapaki udara?' Batin Issei terperangah.

Akibat Issei yang tidak cepat memulihkan diri dari terkejutnya, pandangan matanya menunjukkan bahwa Naruto sudah berada di atasnya dengan kaki kanan bersiap untuk menendang.

Buakh!

Kaki besar itu berhasil menghantam helm yang dipakai oleh Issei membuatnya terhempas ke bawah dengan cepat sampai berhenti dengan lantai yang sudah berkawah. Issei meringis kesakitan di balik armornya, tulang-tulangnya seakan remuk. Dengan tubuh bergetar, ia berusaha bangkit dari posisi tengkurapnya.

Namun apakah Naruto membiarkan itu?

[Soru]

Teknik yang memungkinkan tubuh bergerak sangat cepat. Teknik ini mirip dengan sihir [Accel]. Naruto sudah berada di hadapan Issei, salah satu kakinya terangkat, dan menghantam kepala Issei sampai menyentuh tanah, terperosok lebih dalam. Di sana Issei meronta-ronta minta dilepaskan.

"Kau tidak berhak menengadahkan kepalamu di hadapanku." Kata Naruto datar. Masih menekan kakinya.

"LEPASKAN AKU!" Issei meronta sambil mencengkram kuat kaki besar Naruto.

Naruto tak menanggapinya. Ia malah semakin menekan kaki itu membuat kepala Issei semakin terkubur dalam.

Para siswa di bangku penonton menatap ngeri sekaligus kagum pada Naruto yang berani melakukan hal seperti itu pada keluarga bangsawan. Memang ini pertandingan resmi dan siapapun yang kalah harus merelakannya. Tapi bagi keluarga bangsawan yang memiliki harga diri tinggi kalah adalah hal memalukan. Mereka bertaruh Issei akan balas dendam pada Naruto.

"SUDAH KUBLILANG LEPASKAN!"

Setelah teriakan menggema dari Issei, di sekitarnya muncul aura merah penuh akan kekuatan. Naruto tersentak sesaat lalu memilih untuk mundur beberapa langkah, membiarkan mangsanya untuk lolos. Issei berdiri tegak berhadapan dengan Naruto. Remaja pirang itu tahu lawannya pasti menunjukkan ekspresi marah dan benci.

"Tidak akan kumaafkan … tidak akan kumaafkan … tidak akan kumaafkan …," gumam Issei berkali-kali, aura merah di sekitarnya kian pekat.

"Ini bahaya Goshujin-sama, lawanmu telah kehilangan kesadarannya dan berpotensi akan memasuki mode terlarang." Kata Yasaka memperingati.

'Maksudmu [Juggernaut Drive]?'

"Benar."

Naruto terkekeh kecil. 'Itu tak bisa dibiarkan. Aku masih harus menyimpan kekuatanku yang sebenarnya.'

Naruto melesat ke tempat Issei, perasaan tidak enak menyelimutinya setelah memasuki daerah yang dipenuhi aura merah itu. Ia berhenti di hadapan Issei dengan kedua tinju terlentang ke depan. Issei secara otomatis mundur untuk menjaga jarak namun pergerakkannya terhenti karena ekor Naruto melilit tubuhnya.

Ini adalah serangan penutup.

[Sai Dai Rin: Rokuougan]

Boush!

Krak!

"Cough!"

Sebuah meriam udara besar keluar dari kedua tinju Naruto, menyerang dada Issei hingga tembus ke belakang sampai menghancurkan dinding pembatas. Issei mengeluarkan darah segar di dalam armornya. Mode [Balance Breaker] tidak kuat menahan serangan kuat Naruto membuat armor itu retak dan bolong. Sedikit demi sedikit aura merah yang menyelimuti sekitar memudar, Naruto melepaskan tubuh Issei yang lemah dan tidak kuat berdiri. Issei tergeletak dan armornya hancur. Naruto bisa melihat kondisi memprihatinkan lawannya. Namun bukannya bersedih atau iba, ia malah merasa lega dan puas.

"Hah," Naruto sedikit ngos-ngosan karena terus menggunakan tekniknya tanpa melakukan jeda. Ini sangat menguras energinya. Ia lalu kembali ke mode manusianya karena yakin Issei tidak bisa bangkit lagi.

Untuk pertama kalinya Naruto merasakan beban yang selama ini memberatkan bahunya lepas setelah diumumkan bahwa pemenang pertandingan ini adalah dirinya. Selama hidupnya, ia tidak pernah merasasakan sebebas ini. Perasaan yang telah lama terpendam akhirnya keluar dan lepas juga.

Naruto berjalan keluar arena dengan keadaan hening, tanpa satu pun penonton yang bersorak padanya. Mereka masih mencerna apa yang telah terjadi.

Seorang pecundang mengalahkan jenius bangsawan.

-o0o-

Hembusan angin sore melambaikan surai pirangnya perlahan, meliuk-liuk mengikuti gerakan angin sebelum berhenti di posisi semula. Tubuhnya terlentang bebas di rerumputan empuk pinggir kanal. Sorot matanya sesekali terbuka hanya untuk melihat kilatan petir setelah mendengar suara guntur. Lalu dipejamkan kembali. Merasakan angin sejuk yang menerpanya adalah keseharian Namikaze Naruto setelah sekolah selesai.

Di depannya, di sebrang kanal itu adalah wilayah Wizard. Dan beberapa murid sedang mengadakan pertandingan dilihat dari kilatan petir dan semburan api yang muncul tiba-tiba menuju langit.

Naruto membuka kedua matanya setelah menyadari sinar matahari tidak lagi menerpa wajahnya. Ia melihat seorang gadis sedang berdiri di belakangnya, Naruto tak bisa melihat wajah gadis itu karena silau oleh sinar matahari.

"B-boleh aku duduk di sampingmu?"

Naruto hanya mengangguk tanda menyetujui.

Gadis itu duduk agak jauh di samping Naruto yang masih berbaring, remaja pirang itu bisa melihat wajah gadis yang menghampirinya. Ia memiliki rambut hitam sepunggung dan iris matanya berwarna biru, namun tidak secerah yang dimiliki Naruto.

"Namaku Xuelan, kau pasti mengenal nama itu, bukan?"

'Xuelan? Aku tidak pernah mengenal nama itu.' Jawab Naruto dalam hati mengingat-ingat nama-nama yang tersimpan di otaknya.

Xuelan yang mengetahui Naruto tidak mengenalnya karena diam saja kembali membuka suara. "Aku teman sekelasmu, meskipun bangku kita berjauhan." Kata Xuelan dengan sedikit rona merah di pipinya.

"Oh begitu. Maaf aku tidak tahu." Kata Naruto datar tanpa ekspresi.

Hening melanda suasana antar mereka berdua. Naruto yang memejamkan mata tak sedikit pun ada niat untuk berbicara lebih jauh dengan gadis yang ternyata satu kelas dengannya. Di lain pihak, Xuelan masih mencari topik yang bagus untuk pembicaraan.

"Selamat untuk kemenanganmu."

"Terima kasih."

"Ano … teknikmu sangat hebat dan beda dari yang lain."

"Hn."

"Bolehkah aku mempelajarinya?"

Pertanyaan Xuelan membuat Naruto diam dengan kedua mata terbuka, menatap gadis yang entah kenapa semakin dekat dengannya. Mana mungkin ia mengajari orang yang tidak memiliki Douriki dalam tubuhnya, percuma saja. Sampai kapan pun Xuelan tidak akan bisa menguasai teknik [Rokushiki]. Naruto memikirkan alasan yang terbaik untuk menolak permintaan Xuelan tanpa menyinggung perasaannya.

"Maaf Xuelan, aku tidak bisa mengajarkan teknik itu padamu karena teknik yang aku kuasai adalah peninggalan dari keluargaku. Aku tidak bisa mengajarkan pada sembarang orang tanpa ada persetujuan dari keluargaku." Bohong Naruto yang beralasan bahwa [Rokushiki] adalah teknik khas keluarganya, padahal teknik itu ia pelajari dari seorang Dewi.

Yasakah menghela nafas dan tersenyum tipis. Andai saja tuannya ini mengetahui bahwa Amaterasu adalah ibu kandungnya.

"Begitu, maaf karena sudah meminta hal yang aneh, Naruto." Kata Xuelan tidak enak.

"Hn." Gumam Naruto setengah tidak peduli. Ia kembali memejamkan mata.

"Bagaimana menurutmu tentang Issei-"

"Jangan sekalipun berbicara tentangnya di depanku!" Kata Naruto cepat sambil menatap tajam Xuelan.

Xuelan berdigik ngeri dan kembali meminta maaf. Perasaannya tidak enak karena membuat Naruto marah. Maksud hati ingin mendekatkan diri dengan Naruto, Xuelan malah membuat remaja itu seperti membencinya.

"Maaf."

"Sudahlah, kau telah meminta maaf lebih dari lima kali."

"T-tapi,"

"Aku tidak membencimu. Hanya saja jangan sekalipun menyinggung tentang bocah bangsawan itu di depanku."

Xuelan menghela nafas lega karena Naruto tidak membencinya. "Baiklah."

Lagi. Keheningan melanda mereka. Hanya suara angin melaju yang mereka dengar. Di sebrang sana sudah tidak ada lagi suara-suara pertarungan. Inilah waktu yang ditunggu Naruto. Sebenarnya sejak tadi ia berusaha untuk tidur. Hanya saja pengganggu selalu ada, baik dari benda mati, maupun yang hidup.

Naruto memejamkan kedua matanya lagi. Xuelan bisa melihat wajah tampan yang damai itu. Dia baru sadar sedari tadi Naruto berusaha untuk tidur, Xuelan merasa dirinya merupakan pengganggu. Mengganggu seseorang yang hendak tidur itu adalah masalah besar. Biasanya orang akan marah-marah kalau tidurnya diganggu. Tapi Naruto … ia tidak seperti itu. Xuelan bisa merasakan bahwa Naruto adalah pria baik yang bisa menahan emosinya.

"Maaf sekali lagi mengganggu tidurmu Naruto, bolehkah aku berbaring di sampingmu?" Pinta Xuelan dengan muka yang benar-benar sudah merah padam.

Tanpa pikir panjang –juga akibat rasa kantuk Naruto mengangguk saja. Xuelan merebahkan tubuh rampingnya di samping Naruto, memejamkan mata. Benar, ini sangat nikmat. Hembusan angin dan kelembutan rumput membuatnya terserang rasa kantuk. Jadi perasaan ini yang dari tadi Naruto rasakan dan tahan untuk sekedar menjawab ucapannya. Ah dia kembali merasa bersalah.

Xuelan menatap wajah Naruto yang sudah tertidur pulas, ia bisa mendengar dengkuran halus. Apakah pria di sampingnya tidak takut sedikit pun akan bahaya yang mungkin saja datang? Tidur di tempat umum cukup berbahaya karena bisa saja orang yang sedang lewat berpikiran jahat. Meskipun ini di lingkungan sekolah, tetap saja ada satu atau dua murid yang berpikiran bejat. Misalkan ingin memperkosa?

'Xuelan bodoh! Apa yang kau pikirkan?! Tidak mungkin ada yang mau memperkosa pria yang sedang tidur!' Batinnya.

Namun saat menatap wajah Naruto lagi, entah kenapa tangannya ingin mengelus pipi tan milik Naruto yang menggoda itu. Ia menggerakkan tangannya, lalu mengelus pipi itu. Xuelan buru-buru menarik tangannya lagi ketika tubuh Naruto menggeliat. Mungkin merasa geli akibat sentuhan lembut kulit Xuelan.

Pipi gadis itu memerah. Keinginan untuk lebih muncul begitu saja. Ini adalah kesempatannya! Ia mulai mendekatkan wajahnya. Xuelan memang menyukai Naruto sejak pertama kali berpapasan dengannya di lorong. Rasa suka itu kian bertambah semenjak Naruto mengajukan menjadi Komandan Kelas. Naruto yang saat itu terlihat keren dengan raut muka seriusnya.

Dan sejak pertarungan tadi, rasa tertarik dan suka itu berubah menjadi cinta. Mungkin itu terdengar konyol tapi … begitulah hati Xuelan berbicara.

Tanpa dirinya sadari, jarak kedua bibir itu hanya 1 centi sebelum benar-benar bersatu.

Cup.

Xuelan memejamkan mata. Kedua bibir itu bersatu, Xuelan bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibir Naruto yang agak tipis. Ini enak sekali, Xuelan tidak bisa melepaskan bibirnya. Biarlah ia mengambil resiko Naruto bangun dan memergokinya sedang mencium bibir Naruto tanpa izin. Untuk saat ini yang ia inginkan hanya kenikmatan.

Xuelan semakin memperdalam ciumannya. Ia ingin yang lebih seperti … kalian tahu sendiri namun niat itu diurungkan. Segini saja sudah cukup. Gadis itu membuka mata, bingung karena Naruto tidak kunjung bangun. Ia masih merasakan tempo pernafasan Naruto yang teratur layaknya orang sedang tidur. Sepertinya remaja itu memang tidur pulas sampai-sampai tidak menyadari ciuman gadis cantik seperti Xuelan.

'Biarlah, aku bisa mempertahankan ciuman ini lebih lama.' Batin Xuelan. Detik berikutnya ia tersadar dan melepaskan ciumannya. 'Kyaaa apa yang aku lakukan?! Ini sama saja memerkosa Naruto!'

Gadis itu membenamkan kepalanya di antara kedua siku, menyembunyikan rona merah hebat meskipun tidak akan ada seorang pun yang melihat. Sorot mata birunya kembali memandang Naruto yang mendengkur halus. Sebuah senyum tipis terbentuk di wajah imutnya. Xuelan lalu merebahkan diri di samping Naruto.

'Selamat tidur, Naruto.'

Gadis itu memejamkan mata, tidak lama kemudian ia terjun ke alam mimpi yang mana merupakan surga bagi laki-laki. Kau tahulah yang kumaksud … mimpi basah.

-o0o-

Naruto membuka mata perlahan, mengerjapkannya beberapa kali agar dapat melihat dengan jelas. Ia sedikit terkejut karena warna langit sudah berubah menjadi orange, apakah ia tidur terlalu lama? Biasanya ketika bangun tidur langit masih berwarna biru. Naruto hendak bangkit, namun ia merasakan sesuatu membebani dadanya. Remaja tampan itu juga bisa mencium bau shampoo.

Naruto melirik ke bawah, melihat sebuah kepala berada di atas dadanya. Ia tahu siapa itu, Xuelan. Naruto menepuk tubuh gadis itu dengan halus.

"Oi bangun, ini sudah sore." Kata Naruto.

Xuelan terlihat menggeliat hendak bangun. Gadis itu membuka mata dan melihat Naruto setengah sadar. Apakah kejadian yang tadi itu benar adanya? Ia dengan Naruto …,

Xuelan membulatkan mata, seratus persen sadar.

"KYAAA!"

Buru-buru gadis itu memalingkan wajahnya, menyembunyikan mahkotanya di balik kedua tangan mungil itu. Kenapa di daerah itu basah?

"Aku tidak menyangka akan tidur selama ini." Kata Naruto yang sudah mengambil posisi duduk.

"T-tidur?" Kata Xuelan gugup.

"Ya. Aku tidur pulas tadi. Kau juga."

"A-aku?"

"Hah, apa kau tidak menyadari diri sendiri sedang tidur?"

"Maaf."

"Jangan meminta maaf, aku bosan mendengarnya."

Naruto merasakan bibirnya ada yang aneh. "Bibirku sedikit lembab." Gumam Naruto membuat wajah Xuelan semakin memerah. "Kenapa kau diam saja?"

"T-tidak. Aku tidak apa-apa."

"Begitu." Naruto bangkit berdiri. "Aku akan pergi ke asrama, mau jalan bersama?" Tawar Naruto.

Sebenarnya Xuelan sangat ingin menerima tawaran remaja itu, tapi dengan kondisinya yang basah apakah bisa? Yang ada hanya malu!

"Tidak terima kasih. A-aku masih ingin di sini."

"Ya sudah. Aku duluan."

-o0o-

Naruto meregangkan tubuhnya sambil berjalan di koridor menuju kamarnya. Mandi dengan air hangat adalah pilihan pas untuk saat ini, merilekskan diri sekaligus mengisi stamina yang tadi terkuras. Apalagi dibantu oleh Yasaka yang setia menggosokkan punggungnya sampai bersih. Benar-benar menyenangkan.

'Yasaka.' Panggil Naruto.

Tidak ada jawaban yang diterima, Naruto sedikit bingung karena ini pertama kali Yasaka tidak menjawab panggilannya.

'Yasaka, apa kau sedang tidur?'

"Tidak." Jawab Yasaka tapi dengan nada berat.

'Ada apa denganmu? Kau tidak seperti biasanya.' Tanya Naruto yang kebingungan akan perubahan sifat Yasaka.

"Tidak."

'Baiklah. Hari ini seperti biasa, kau menggosok punggungku lagi.'

"Hn." Gumam Yasaka acuh.

Naruto yang bingung akhirnya menyerah, wanita memang sulit dimengerti. Marah, cemberut tiba-tiba seakan Naruto berada di pihak yang salah dan harus meminta maaf. Seperti itulah aura di sekitar Yasaka berkata.

Naruto sudah sampai di depan pintu kamarnya, ia merogoh saku celana untuk mengambil kunci. Kunci dengan gantungan simbol keluarga Namikaze itu dimasukkan ke dalam lubang.

'Aneh, perasaan aku menguncinya tadi. Kenapa sekarang tidak terkunci? Mungkin saja cleaning service datang untuk membersihkan ruanganku.' Pikir Naruto yang menyadari pintu kamarnya tidak terkunci.

Ia membuka pintu itu lalu masuk, melihat ke dalam ruangan. Detik berikutnya, Naruto terpaku di tempat, pandangannya terfokus pada sesuatu, lebih tepatnya pada seorang gadis yang diam mematung sambil balik menatap Naruto tanpa sehelai pun benang, Naruto bisa melihat bulir-bulir air masih membasahi tubuh gadis itu.

Tunggu dulu! Dia tidak salah masuk kamar 'kan? Coba periksa lagi … kamar 102, benar itu adalah kamarnya. Dan ini adalah asrama laki-laki. Kenapa perempuan bisa ada di sini? Dan parahnya lagi kenapa dia ada di kamarnya?

Masalah merepotkan telah muncul.

Bersambung


Thanks for reviewers: Kazeryuu, KuroYannn, Patih Alam, Mikhail401, triantodian212, Permana-ryu, Kurogane Hizashi, irfai1891, 666-Kuro XIvIX, The Gembel Man, namekaze fauzan, Uchiha D. Itachi, Guest (1), Guest (2), fandinamikaze, petruk, BlackLoserJr, Guest (3), 666, Guest (4), yudhanasoka26, Kids Jaman Now11, yuliosx, Taufel855, Naruto no Ramen, Rikudou Pein 007, caufield, nami, christian, UzuNami Tara 217, Shoger, Guest (5), Guest (6), KidsNo TERROR13, iqbal, no mei, BlackCode, Civas, Dimas'a660, Namikaze Kur, Riki Ryugasaki, Your Haters, Mateng di kompor, Namikaze Yohan396, mrheza26, Otsuki6, Blackfyre910, .980, Fahzi Luchifer, Luciano Olexandr Labrentsis, Cecep Heriawan, Aoki D. Hagane, Zeidgeist, Sakazaki Yuri, Annur Azure Fang, Reza namikaze, Muhammad Kamil, Ardian D, Apocalypse201, kshsguuu, firdaus minato, Nathan D. Rezza, pendukung, rinkuzan, Nesia Dirgantara.

Feel romancenya kerasa? Maaf kalau nggak karena baru pertama bikin.

Untuk chapter depan akan saya usahakan updatenya lebih cepat. Jika ada typo tolong kasih tahu saya.

Seorang Author membutuhkan review sebagai bahan bakar melanjutkan fanficnya.

© Hanakire