Wanings (lupa dicantumin di chapter sebelumnya): AU. Kemungkinan sedikit keluar dari karakter, Punk!UK, bahasa yang aneh, dkk


Kau tahu teman?

Tidak ada yang suka menunggu, tidak terkecuali Elizaveta.

Emang ada yang suka nunggu?

Biar menunggu itu bisa dapat pahala, melatih kesabaran, serta menuai pujian, Elizaveta tidak suka.

Ya, pendek kata ia sedang menunggu. Menunggu Gilbert yang tidak tampak batang hidungnya sejak terakhir kali ia bertemu pemuda albino itu tiga belas jam yang lalu.

Matanya melirik sekilas jam dinding berbentuk bintang yang tergantung di atas TV. Jam delapan lewat tiga. Keringat dingin menuruni wajahnya. Ia mendesis, "Oke, ini keterlaluan." Gilbert tidak pernah pulang lebih dari jam malam yang mereka bertiga sepakati yaitu jam delapan malam. Dan menurut peraturan tersebut, orang yang berkemungkinan pulang melewati jam tersebut setidaknya menghubungi salah satu dari anggota yang sekiranya berada di apartemen.

Gilbert tidak menghubungi dia, ataupun Alfred.

Fakta yang membuat perutnya seperti diisi ratusan kupu-kupu yang berterbangan meminta bebas.

Segera dikeluarkannya handphone miiknya dan menghubungi nomor yang telah ia hafal di luar kepala: Gilbert. Gilbert, Gilbert, Gilbert, berdengung di kepala seperti denting bel gereja saat Natal.

'Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.'

"Fuck!" maki Elizaveta, hampir saja ia melempar benda malang itu ke kantong sampah jika saja Alfred tidak berteriak kegirangan bagai hooligan Inggris yang terkenal ganas—nah, bukan iklan gak jelas yang suka nongol di TV Indonesia ya—itu. Alis coklatnya mengernyit hingga hampir bertemu. Bisa-bisanya lelaki Amerika itu berteriak girang disaat salah seorang anggota geng mereka mempunyai kemungkinan tujuh puluh tiga persen diculik oom-oom maho!

Ia menekan tombol yang sama berulang kali dan jawaban yang sama pula yang ia dapat. Belasan atau mungkin puluhan pesan singkat telah ia kirim tapi hasilnya nihil. Tidak ada balasan, yang bisa berarti apa saja. Dan hal ini membuat keringat dingin semakin bebas meluncur di wajah serta membasahi tangannya. "Ayolah Gilbert, balas, balas..." gumamnya lirih. "Atau setidaknya angkat telponku..."

Elizaveta menggigit bibir bagian atasnya untuk mengatasi rasa khawatir yang terlanjur menerjang saraf-saraf tubuhnya tanpa ampun. Bukannya berkurang, rasa khawatirnya malah semakin menumpuk dan bibirnya berdarah. Ck, bahkan darahnya terasa sangat menusuk saat menyentuh lidahnya. Pertanda buruk, sial.

"Ayo, angkat Gil..." ia bergumam seperti itu sampai berulangkali, ia sendiri tidak tahu berapa kali ia mengucapkannya tapi siapa yang peduli? Ia terus dalam posisi begitu hingga rasa kantuk menghinggapi matanya yang lelah.


Saat Elizaveta terbangun di sofa dengan posisi aneh, semuanya masih sama. Bajunya, ruangannya, sofanya serta rasa pahit di rongga mulutnya pun masih tetap sama (gue nggak gosok gigi!). Kecuali posisi tidurnya. Kedua tangannya memeluk kedua kakinya yang merapat ke tubuhnya. Seperti mekanisme pertahanan bayi dalam rahim ibunya. Pipinya terasa lembab dan matanya perih. Mungkin ia menangis saat tidur atau sesuatu mengenai matanya.

Giginya berderit. Hal pertama yang muncul di otaknya adalah Gilbert. Beildschmidt kurang ajar itu harus sudah ada di rumah sekarang dan demi semua koleksi doujinshi serta manga yaoi-nya ia bersumpah akan menjadikan si albino wurst jika ia bertemu dengannya di suatu tempat.

Sebelum hal sadis itu terjadi, perutnya berteriak kelaparan. 'Bagus,'pikir Elizaveta sedikit kesal karena imajinasinya terinterupsi secara tidak elit. Memutuskan untuk lebih memprioritaskan urusan perut—balas dendam bisa nanti, yang penting perut diisi dulu—ia pergi ke dapur. Membuka pintu lemari es menggunakan gerakan beruk buas.

Tapi yang diinginkan tidak ada.

Kosong. Melompong. Tidak beda dengan perutnya—tapi perutnya lebih kosong!

Banting pintu kulkas, Elizaveta memutuskan untuk menyeret salah seorang manusia homo di apartemennya untuk belanja di minimarket. Kalau nggak ada, tukang susu juga tukang koran boleh. Ia malas sedang perut minta diisi. Sayang tidak ada makanan. Dilema. Pusing.

Elizaveta menyeret paksa kakinya keliling apartemen milik mereka bertiga. Kamar Alfred terkunci, artinya penghuninya sedang mimpi jorok dan berharap tidak diganggu sambil menistai dakiramura(*) menggunakan air liur. Idih. Lanjut ke dapur, kosong. Toilet sama nasibnya dengan dapur. Ruang tamu (yang gabung dengan ruang ngumpul atau apapun itu namanya) juga kosong. Hanya ada cap putih tanda cinta miliknya. Lanjut ke gudang, tidak ada manusia disana. Inspeksi berlanjut ke kamarnya, hasil masih nihil.

Kemana orang-orang disaat dia membutuhkan, HAH?

Menghiraukan teriakan si perut serta keluhan si otak, kedua kakinya memaksanya pergi kesebuah ruangan yang belum—dan ia takut—ia jamah.

Kamar Gilbert.

Saat kayu oak pembatas ruang itu terbuka, bukan sesosok makhluk albino bermata merah yang ia lihat, tapi seseorang yang lain…

Berambut pirang highlight hijau, pakaian provokatif, eyeliner di kedua belah kelopak mata atas bawah memudar dan tindik yang hampir menutupi pinggiran telinganya.

Apakah Gilbert muak dengan cap albino dan memutuskan untuk menambah kesan imej /punk/ dengan berpakaian seperti mereka, seperti punk Inggris dan merubah aksen Jerman kebanggaannya ke aksen Inggris yang—pada kenyataannya—terdengar lebih seksi di telinga?

—Kalimatnya susah dimengerti. Serta ngaco.

Elizaveta terpana, bohong kalau tidak. Pria punk yang tidur di tempat tidur Gilbert…

…Ganteng.

Tuh 'kan ngaco lagi!

Disaat Elizaveta melotot melihat perut sang pemuda punk yang terbalut perban sedikit tersampir, sebuah suara familier mengucapkan "Ia Arthur Kirkland." tepat di telinganya. Membuat tubuhnya bergidik, inikah rasanya saat si seme menjilat telinga si uke?

Elizaveta berbalik menghadap pemilik suara yang hanya menggunakan boxer, mendelik ke mata merah itu seolah ia akan menelannya bulat-bulat. Tapi bukan Gilbert Beildschmidt namanya jika mudah terintimidasi (walaupun ia /memang/ merasa terintimidasi dengan tatapan maut Elizaveta). Ia melanjutkan kalimatnya, "Aku yang membawanya kesini. Ada masalah?" alisnya naik, menantang. Si gadis Hungaria menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah Gil, hanya saja… Kau tahu," matanya melihat ke lantai. Gugup. "Kau seharusnya…" Mati. Kata-katanya macet ditengah jalan.

"Tidak membawa orang asing masuk?" lanjut Gilbert, matanya beralih ke pemuda punk—Arthur—yang masih tertidur lelap. Tidak terlihat tanda-tanda ia akan bangun segera. Ia mengingatkan Elizaveta pada Putri Tidur. "Dia temanku, Eli." Elizaveta mendelik, ia tahu jelas Gilbert sedang berbohong. "Alfred sudah tahu?" tanyanya.

Gilbert membersihkan tenggorokannya sebelum berbicara, terlihat tidak yakin. "…Belum, tapi tampaknya ia tidak keberatan."

Elizaveta menghempaskan beban tubuhnya ke sofa berbentuk basket di ujung ruangan. "Oke, dia mungkin tidak keberatan. Tapi ada kemungkinan ia keberatan." Matanya menatap mata Gilbert, masih setajam tadi.

"Tepat." sahut Gilbert. "Jadi?"

"Ceritakan aku semua. Yang sebenarnya."


A/N: Yep pendek. Saya nggak tau lagi mau nulis apa. Makasih yang udah review, baca dan fave. Maaf sekali update ini mengecewakan QwQ dan ya, seperti biasa saya lupa (baca: males) balas review. Maaf ya *bungkuk dalem-dalem