AUTHOR NOTE: Soooooo... Im back. Karena kesibukan di dunia nyata sudah kelar, saatnya kembali ke dunia cyber dan bermaen2 bersama OTP selera rakyat, WangYaoXKikuHonda. Di chapter 2 ini, ada kemunculan si Korea dengan ahoge bodohnya dan ke OOC'an karakter-karakter Asia di fic ini bakal makin absurd. Komedinya juga mungkin berkurang, karena ke-PWP'an yang tak tahu arah. Semoga kalian tetap bisa menikmati ya. Buat yang mau fangirling, curhat ato menyumpah2, boleh disalurkan di kolom review *Kabur* XD
===============00000======================00000===================0000======
ANIKI, HETALIA AXIS POWERS FANFICTION
Disclaimer: APH ©HIDEKAZ. I don't own Axis Power Hetalia and the characters.
All of the properties belong to the respective author.
CHAPTER II: HYUNG!
Wang Yao hilir mudik didalam rumah dengan perasaan tidak tenang. Tangannya menenteng sebuah tas plastik berisi minuman. Dia hilir mudik bukan karena sandalnya hilang atau merasa gerah karena udara musim panas. Dia sudah memakai baju tipis tanpa lengan dan celana kain yang longgar. Hanya saja, pikirannya berkecamuk, dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak seharusnya muncul. Penyebabnya adalah obrolannya dengan Kiku Honda, sebelum adiknya itu masuk ke kamar tidur tadi...
.
.
"hei, aniki..." Kiku memanggil dengan angkuh, "te... terimakasih..." ucapnya pelan, diikuti dengan gaya memalingkan muka yang khas.
"Hm? Untuk apa?" Wang Yao yang sedang memotongi bonsai, menoleh kearah si laki-laki bermata bulat.
"Untuk pelajaran yang tempo hari kau beri. Taiwan memujiku... dia bilang aku hebat..."
Gunting di tangan Wang Yao terjatuh, mulutnya menganga dan menatap Kiku lekat-lekat, "Kau... melakukannya? Melakukan hal itu? Dengan Mei-chan?"
"TE.. TENTU SAJA! Kalau tidak aku lakukan, buat apa aku memintamu mengajariku,bodoh!" Kiku menutupi mukanya yang memerah dan berbalik badan, berjalan cepat kearah kamarnya tanpa menoleh. Meninggalkan Wang Yao yang termangu hingga beberapa detik, sebelum tiupan angin musim panas membuat kesadarannya kembali.
.
.
"Haaaah!" Wang Yao meneguk bir dinginnya dengan perasaan kesal. Entah darimana perasaan kesal itu muncul. Dia merasa sangat berat hati mendengar adiknya itu sudah menyentuh seorang wanita. Mei-chan memang manis, dan Kiku yang sopan cocok bersanding dengannya. Tapi... tapi... arrgh! Kenapa pikirannya jadi seperti ini sih? Kenapa dia tiba-tiba merasa kecewa karena ada orang lain yang menyentuh Kiku? Atau mungkin lebih cocok kalau disebut... Kiku mengijinkan orang lain menyentuhnya dan mereka saling menikmati? Terdengar indah khan? Seharusnya dia ikut bahagia karena adiknya berhasil mempraktekkan apa yang dia ajarkan. Tapi yang muncul justru perasaan tidak rela. Tidak boleh, Kiku tidak boleh tumbuh dewasa. Laki-laki berambut aneh itu harus tetap jadi adiknya yang naif dan penurut. Dia tidak mau membagi Kiku dengan siapapun!
Wang Yao menendang kaleng birnya kearah halaman belakang, mengusap bibirnya yang dingin dan melangkah masuk kedalam kamar. Pandangannya langsung tertuju ke salah satu sudut ruangan. Diatas ranjang, Kiku sedang tertidur pulas. Cuaca yang panas membuat laki-laki itu hanya memakai kaos putih yang tipis dan celana pendek berwarna hitam. Napasnya bergerak naik turun dengan tenang. Matanya terpejam, kedua tangannya menumpu di sisi kiri bantal, menumpu kepalanya yang sedang tertidur dengan posisi miring. Rambut yang lebat menutupi sebagian wajahnya, menyisakan sedikit bentuk hidung dan bibir mungil berwarna merah mudanya yang terlihat manis. Wang Yao menelan ludah, berusaha mengabaikannya dan berjalan ke ranjangnya sendiri. Laki-laki itu menatap ke langit-langit ruangan dan berusaha memejamkan matanya.
"... apakah bibir itu, masih selembut marshmallow walau sekarang dia sudah tidak perjaka?"
Wang Yao terhenyak saat sebuah pertanyaan bodoh muncul dari pikirannya. Apa-apaan ini? Kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkan soal Kiku? Apakah orientasi seksualnya sudah berubah? Hanya karena mereka iseng-iseng 'bermain'? Ah... tidak mungkin. Sekalipun itu terjadi, dia tidak mungkin mengatakannya terang-terangan. Adiknya yang naif itu pasti akan menertawakannya karena menganggap apa yang mereka lakukan tempo hari adalah sebuah hal yang serius. Tidak. Wang Yao tidak mau membuat Nihon yang angkuh itu semakin besar kepala karena berhasil membuatnya kacau sampai seperti ini. Dia harus mempertahankan wibawa sebagai seorang kakak!
"... lihatlah dia, tertidur dengan manis. Kalau kau ingin menciumnya tanpa ketahuan... inilah saat yang paling tepat..."
Suara dalam pikirannya itu muncul lagi. Wang Yao menampar mukanya sendiri, menimbulkan suara 'plak' yang keras dan membuatnya meringis. "Aduh... sakit sekali aru~" dia mendesis sendirian. Kepalanya mulai pusing. Sepertinya dia meminum terlalu banyak bir dingin. Tanpa disadari, kakinya melangkah ke sisi ranjang Kiku, berjongkok di lantai dan menatap lekat-lekat wajah polos yang tertidur itu. Suara napasnya yang beraturan, menandakan tidurnya sudah sangat lelap. Wang Yao menepis sehelai rambut yang menutupi wajah Kiku, membuat pemandangan di depannya semakin cantik dan menyenangkan.
"Hei! Ini salah! Amat sangat salah!"
Wang Yao mengutuki indera geraknya yang beraksi sendiri, tidak mau mengikuti teriakan panik di pikirannya. Tangannya mengusap wajah Kiku Honda, berhenti di lekukan rahang yang menyambung dengan leher jenjang si adik yang terekspos sempurna. Tubuh itu, terlalu manis untuk seorang lelaki. Lembut, hangat, kulitnya putih dan bercahaya seperti batu pualam. Satu-satunya hal yang membuatnya terasa maskulin adalah aroma tubuh yang bercampur parfum yang khas. Adiknya itu baru saja pulang dari bermain futsal bersama teman-temannya. Sebuah bekas kemerahan terlihat dari sela-sela kerah kaosnya yang terbuka. Wang Yao mengernyitkan dahinya.
Kiss mark?
"Nggh..." terdengar erangan pelan dari bibir Kiku, "Mei chan..."
Nama itu membuat telinga Wang Yao seolah berdenging saat mendengarnya.
"Sialan! Aku bukan Mei-chan, tahu!" dengan marah Wang Yao menerjang bibir merah Kiku. Lembut, manis dan empuk. Seperti marsmallow yang biasa mereka nikmati bersama. Ngg... maksudnya, marshmallow yang sering dia curi dari lemari es meskipun disana tertulis:
"Milik Kiku Honda. BUKAN MILIKMU, ANIKI!"
Lalu ditambahi tulisan kecil...
"aku serius. JANGAN KAU MAKAN ATAU KAU AKAN DIARE SEMINGGU!"
Ah. Wang Yao sudah tidak peduli lagi. Mencuri marshmallow sudah sering dia lakukan. Sekarang saatnya melumat bibir pemiliknya!
Laki-laki itu mengecup bibir adiknya dengan penuh perasaan, menjelajahi setiap denyutannya, menikmati sensasi menyenangkan- sekaligus menakutkan kalau adiknya itu bangun- yang menjalari tubuhnya, menyalurkan gairahnya dengan hati-hati, menjilati bagian dalam mulut Kiku yang tak ayal terbuka karena desakan bibir Wang Yao yang memaksa. Jemari Wang Yao mengusap kiss mark di bagian belakang leher Kiku dengan perasaan aneh yang tidak karuan. Berani-beraninya Mei-chan menandai adiknya. Meskipun tanda itu mati-matian disembunyikan, namun terlihat sekali bahwa itu adalah sebuah simbol yang ingin dipamerkan oleh kedua sejoli itu. Bibir Wang Yao mendadak mengerucut dan wajahnya berubah masam. Dia cemburu? HAAH! BODOH! Tidak. Dia hanya tidak rela saja adiknya itu ditandai...
Wang Yao membenamkan kepalanya ke leher Kiku, menghisap tanda merah itu, menjilatinya lembut. Kiku menggeram, namun dia tidak terbangun. Wang Yao menciumi leher si lelaki angkuh dan pemalu itu. Ciumannya bergerak, tujuannya adalah kembali ke bibir merekah yang sedikit basah karena saliva itu. Batang kejantanannya sudah mulai terangkat karena stimulasi yang dia lakukan sendiri. Tanpa sadar, si pria China mulai mendesah dan mencium makin ganas.
Ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sorakan ceria terdengar dari sana.
"PERMISI! Hyuuuuung! Aku sudah datang!"
Wang Yao tersentak dan mundur ke belakang. Wajahnya pucat pasi melihat seorang anak remaja berbaju pantai berambut coklat muncul sambil menenteng ransel dan tas-tas belanjaan. Bocah itu melepas kacamata hitamnya, meringis dan memasang wajah super duper mega menyebalkan sambil mengangguk-angguk, "A...ahh~~ mianhae. Sepertinya kau sedang sibuk. Silakan lanjutkan, aku tidak akan mengganggu..." tukasnya.
'Kau sudah mengganggu, bodoh!' Wang Yao bersungut dalam hati dan berusaha membenahi penampilannya. Antara perasaan lega –karena dia tidak tahu apakah dia bisa menahan diri- dan kecewa –karena dia sudah 'panas' tadi- , Wang Yao terhuyung dan mendekati bocah didepannya. Bagaimanapun juga, dia adalah kakak tertua. Dia harus tetap terlihat berwibawa apapun yang terjadi.
"Im Yong Soo..." Wang Yao menunjuk kening si bocah dan menghela napas, "Kenapa kau tidak memberi kabar dulu kalau mau datang, hah?!"
"Aaa~ hyung, mulutmu bau bir..." Yong Soo berceloteh, "Aku sudah kirim email. Aku akan tinggal disini selama liburan musim panas. Kau tidak membacanya... karena sedang asik bermesraan dengan Honda-hyung?"
"DIAM!" Wang Yao menyeret si bocah Korea yang bermuka tebal itu ke dapur, mendudukkannya di meja makan dan menatap serius, "Yong Soo! Berjanjilah kau tidak akan menceritakan apa yang aku lakukan kepada siapapun, terutama Kiku! Atau kau bakal menerima sesuatu yang buruk. Kau mengerti?!" laki-laki itu berkata galak. Didalam hati, Wang Yao sendiri terkejut dengan ucapan-ucapannya yang kasar. Mungkin ini pengaruh bir yang dia minum tadi. Kepalanya mulai pening.
Yong Soo meringis, sepertinya ancaman itu sama sekali tidak menakutkan untuknya. Sebaliknya, dia justru berdiri dan mendekatkan tubuhnya ke Wang Yao, "Boleh... asal ada imbalan yang setimpal..." tandasnya tenang. Wang Yao bergidik mendengar suara adik keduanya, itu bukan suara seorang bocah kekanakan yang biasa dia dengar. Itu suara seorang laki-laki dewasa yang sedang berdiplomasi.
"Imbalan? Apa?" Wang Yao tiba-tiba merasakan sebuah perasaan takut, entah kenapa dan buat apa.
Yong Soo tidak menjawab dengan kata2, dia justru menarik kedua tangan Wang Yao, memutarnya sampai ke belakang pinggang, menguncinya dan mengikatnya dengan saputangan yang entah sejak kapan ada di genggamannya. Wang Yao tersentak, dia tidak mampu melawan karena gerakan Yong Soo yang terlalu cepat. Ditambah lagi, sekarang tangannya tidak bisa bergerak, dengan panik dia menendang-nendang tak beraturan dan merasakan kepalanya makin berputar.
"HEI! LEPASKAN! Apa-apaan ini, hah?!"
"Hyung..." Yong Soo memojokkan Wang Yao ke dinding, tangan kanannya menahan leher Wang Yao, sedangkan tangan kirinya menahan kaki si kakak yang bergerak liar seperti kuda. "Aku bukan anak kecil lagi..." suara yang dewasa dan serius itu terdengar lagi. Wang Yao tersengal-sengal, perasaannya tidak enak. Sepertinya hal-hal yang akan terjadi setelah ini akan lebih buruk. Lebih gila dan liar, lebih dari yang dia pikirkan.
"Aa.. apa maksud... ugh!"
Protes Wang Yao terputus saat Yong Soo menyerang bibirnya tanpa ampun, mengecupnya dengan kekuatan seolah dia ingin menghisap roh si kakak, tanpa memberi kesempatan sedikitpun untuk bernapas ataupun melawan. Dorong! Dia terus mendorong lidahnya masuk kedalam mulut lelaki didepannya, menjelajahinya sepuas mungkin dan menimbulkan suara decapan-decapan sensual. Wang Yao gemetar dan lemas, Yong Soo melepas ciumannya, menjilat bibir korbannya yang menegang dan tertawa, "Sekian lama aku menahan perasaan ini. Rasa penasaranku terbayar sudah. Hyung... bibirmu sangat nikmat..."
"Kau gila, Yong Soo!"
"Tidak, hyung! Aku hanya menyukaimu, sampai di batas yang tidak mampu aku kendalikan!" Yong Soo menekan tubuh Wang Yao, merobek kaos tanpa lengan yang dipakai kakaknya, demi menemukan tubuh bidang dengan dada yang datar dan abdonmen perut yang atletis dan sempurna. Bocah itu tertawa lagi, tangan kanannya menyentuh dada kiri Wang Yao, memainkan gundukan kecil yang terlihat menegang malu-malu, sedangkan tangan kirinya mengunci leher si objek, sementara bibirnya sibuk mengecup puting kanan Wang Yao yang mengeras...
"Hentihhkanh... argghh..."
"Jangan bohongi tubuhmu sendiri, hyung..." Yong Soo berbisik pelan di telinga Wang Yao, berlanjut dengan menjilati lehernya dan menghisapnya sampai muncul tanda kemerahan disana, "Tubuhmu meminta untuk aku sentuh lebih intim..."
"AARGH! Apa yang kau lakukan?! Kau memberiku kiss mark? Hentikaan! Geliii!"
PLAKK!
"Kau ini berisik sekali, hyung!" Yong Soo, diluar dugaan, menampar pipi Wang Yao dengan keras, membuat laki-laki yang dari awal kesadarannya sudah tidak penuh itu, kehilangan keseimbangannya. Dia terduduk dan memberi celah Yong Soo untuk menguasainya. Yong Soo menaruh tubuh kakaknya itu di lantai, dia menimpa kedua paha Wang Yao dengan pahanya sendiri. Wajahnya tersenyum puas, "Pintar... diamlah... maka ini akan terasa menyenangkan..."
Wang Yao tidak mampu melawan, hanya mampu tersengal-sengal saat Yong Soo melepas kunciran rambutnya, membuat wajahnya terlihat seperti seorang gadis muda. "Cantik, hyung... Aku tahu dari lama bahwa kau memiliki kecantikan yang luar biasa..." bocah yang kini telah dewasa itu menindih tubuh kakaknya, mengecupi kening, bibir, leher, puting dada, turun ke perut... dan dibawahnya, dia menemukan benda itu. Batang kejantanan Wang Yao sudah mengeras karena serangan yang intens.
"Hentikan!" Wang Yao menggeliat liar dan bergulung kesamping. Laki-laki itu terhuyung dan merangkak kearah meja dapur, Yong Soo menangkap tubuh Wang Yao dengan sigap, semakin memberikan posisi sempurna untuk sebuah serangan dari belakang. Mati-matian, menahan rasa sakit di wajah dan tubuhnya, Wang Yao mencoba berdiri...
.
.
.
.
Pintu dapur terbuka, seorang laki-laki berambut hitam dan tebal muncul dari sana. Kiku Honda menatap pemandangan didepannya dengan wajah datar. Wang Yao tercekat, rambutnya terurai dengan acak-acakan. Begitu juga Yong Soo yang sedang memeluk perut kakaknya dari belakang. Posisi mereka tidak terelakkan. Terjadi keheningan beberapa saat, sebelum akhirnya Kiku melangkah kearah kulkas dan meneguk segelas minuman isotonik.
"H... Hyung..." Yong Soo terengah-engah.
"Yong Soo... selamat datang..." Kiku tersenyum dingin dan meraih jaket di gantungan, "Semoga kau betah disini... Silakan lanjutkan apapun yang kalian lakukan. Aku akan pergi berbelanja dulu..."
"Kiku..." Wang Yao terhuyung dan melepaskan diri dari Yong Soo. Suaranya terdengar putus asa, "Aku..."
"Aku tidak akan menceritakan soal ini ke siapapun. Ini bukan urusanku. Jya!Ittekimasu..."
Kiku Honda berjalan dengan tergesa-gesa menuju swalayan. Dadanya terasa sesak dan tertusuk. Perasaan apa ini? Pikirannya tidak bisa lepas dari pemandangan yang baru saja dia lihat. Tidak seharusnya dia merasa kesal melihat Wang Yao berpelukan dengan Yong Soo. ITU BUKAN URUSANNYA! Dia sendiri sudah mengucapkan kalau itu sama sekali bukan urusannya...
Tapi semakin ingin dilupakan, perasaan kesal ini semakin muncul...
Dia juga ingin menyentuh Wang Yao...
Dan merasakan hangatnya bibir itu sekali lagi...
-To be continued-
A/N
Author: Huweeee... Kiku Chaaaan... sabar ya... hiks hiks hiks #pelukpeluk KikuChan
Kiku: A... aku tidak apa2! Jangan menganggap seolah-olah aku teraniaya begini donk!
Author: gomen ne Kiku Chan. Kamu nggak perlu menutupi perasaanmu seperti ini koq... Di next chapter... kau memilih Mei-chan, Wang Yao nii-san, atau mungkin... magnae Yong Soo?
Kiku: a.. author san... berhenti membully ku! #kaburtanpamemilih
Wang Yao+Yong Soo: #evilsmirk
Jadi... reader... Last chapter pilih threesome atau one on one? #ditimpuk
