Sacrifice
By: Azumaya Miyuki
A Hunter x Hunter Fan Fiction.
Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.
Chapter 2: Blood
Untaian mimpi memberikan seberkas cahaya pada lorong kegelapan, memenuhi sudut demi sudut dari alam bawah sadar dengan fantasi berkepanjangan. Mungkin begitulah gambaran keadaan jiwa tatkala dirasuk khayalan ketika terlelap.
"Kau mencariku?"
Sebuah suara mengagetkan Kuroro dalam mimpinya, menghentikan langkahnya ketika hendak memasuki labirin ilusi. Ia menoleh ke arah sumber suara, meskipun ia takkan bisa melihat bagaimana sosok yang tengah bercakap-cakap dengannya itu secara gamblang.
"Ya," ucap Kuroro, wajahnya tampak sumringah. "Terima kasih banyak atas segala yang telah kau lakukan terhadap Kurapika. Terima kasih. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya aku sekarang. Aku berhutang budi padamu."
Pemilik suara itu terkekeh. "Kau tak perlu berterima kasih padaku, karena setiap harapan yang kuberikan pada manusia-manusia sepertimu pasti ada harganya. Dan aku sudah mematok harga yang pantas."
"Ambillah apa saja yang kau inginkan dariku. Aku tak peduli," Kuroro tersenyum simpul.
"Begitukah? Sebegitu berartinyakah orang yang bernama Kurapika itu?" terdengar tawa lepas. "Aku jadi penasaran sosok seperti apa sebetulnya dia."
"Ah, ada satu hal yang ingin kutanyakan," Kuroro berkata, tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Apa… orang-orang yang mengenal Kurapika sebelumnya, akan terkejut ketika melihat dia hidup kembali? Aku khawatir mereka akan berspekulasi macam-macam nantinya."
"Tidak, orang-orang tidak akan terkejut. Mereka tidak akan tahu kalau Kurapika PERNAH mati. Kematian Kurapika seolah-olah tidak pernah ada dalam sejarah. Kematian itu seakan-akan tidak pernah terjadi. Yang mengetahuinya hanya aku dan kau sendiri. Kau mengerti maksudku, 'kan?"
Kuroro mengangguk. "Baiklah, aku jauh lebih lega sekarang. Tapi… apa sebetulnya 'harga' yang kau ambil dariku?"
Suara itu tertawa renyah sekali lagi. "Kenapa? Kau penasaran?"
Kuroro mengiyakan, walau tampak tak yakin.
"Yang kuambil adalah… 'ini."
Setetes cairan merah jatuh ke tangan kanan Kuroro. Ia menengadah.
"Darah?"
Detik berikutnya, Kuroro merasa bagaikan berada dalam lautan mawar semerah darah. Setiap durinya menusuk dan melukai tubuh Kuroro. Di antara kesakitan yang luar biasa itu, perlahan senyuman tersungging di bibir Kuroro. Samar-samar sesosok makhluk 'cantik' bagai bidadari tertawa padanya. Kurapika. Rambut emasnya tergerai ditiup semilir angin. Anting-anting di telinga kirinya bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Kurapika!" Kuroro memanggil sosok itu dengan suara yang tertahan.
Kurapika hanya menoleh ke arah Kuroro sekilas. Air mukanya berubah drastis. Tawanya lenyap, lalu ia menangis.
"Kurapika?" Kuroro berusaha berdiri dengan kaki-kakinya yang limbung. Ditahankannya rasa nyeri yang amat sangat disekujur badannya. "Kenapa… kau menangis?"
Tak ada reaksi yang ditunjukkan Kurapika tatkala Kuroro mengusap lembut air matanya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Mata merah milik lelaki 'cantik' itu begitu berkilau dalam gelap. Indah…
Tiba-tiba seluruhnya kelam. Kurapika menghilang dari hadapannya. Kuroro merasa ada tangan dingin yang merengkuh tubuhnya. Ia tak bisa berontak.
"Lepaskan aku!" teriak Kuroro berang. "Jangan sentuh aku!"
Lalu Kuroro merasa dihempaskan ke suatu kamar yang redup. Hanya cahaya remang-remang entah dari mana yang menyinarinya. Kuroro melangkah maju, berusaha meneliti setiap sisi dari kamar tersebut.
Di lantai tergeletak seonggok tubuh, entah masih hidup atau tidak. Kuroro mendekati tubuh itu, lalu nyaris melompat ketika melihat tubuh siapa itu.
Itu… tubuh Kurapika. Penuh darah. Di sisi lehernya terdapat bekas gigitan yang cukup dalam. Kuroro betul-betul murka.
"Tidak! TIDAK! Siapa yang melakukannya?" ia berseru. "Kenapa Kurapika jadi seperti ini?"
"Itulah 'harga' yang tadi telah kita bicarakan," sesosok makhluk asing bersayap hitam muncul di hadapan Kuroro. Wajahnya tidak terlalu tampak jelas dikarenakan keadaan ruangan yang kurang cahaya itu. "Alasan aku mau membuat Kurapika hidup kembali tentu karena aku mengharapkan sesuatu darimu, orang yang memohon kepadaku. Asal kau tahu saja, mana mungkin aku mau membantu orang-orang sepertimu kalau tidak ada imbalannya, atau keuntungan untukku. Setiap budi pasti ada balas, betul 'kan?"
Kuroro diam, namun tangannya spontan terkepal karena menahan amarah.
"APA sebetulnya yang 'harga' yang kau minta dariku?" Kuroro berkata geram.
"Aku ingin 'itu'," sosok itu menunjuk ke arah tubuh Kurapika yang berlumur darah. "'Itu' makananku."
"Maksudmu?" alis Kuroro bertaut.
"Darah," sosok bersayap hitam itu menjawab santai. "Aku memakan darah. Tapi aku tidak bisa mencicipinya langsung dari tubuh manusia. Aku harus mencari tubuh lain untuk ditempati."
"Jadi… dengan kata lain, kau merasuki tubuhku agar bisa dengan mudah mencari darah yang menjadi makananmu?"
"Ya! Tepat sekali!" ia bertepuk tangan. "Ternyata manusia yang kurasuki bukan orang bodoh."
"Itukah 'harga' yang kau minta dariku?" tanya Kuroro.
"Benar. Kau tidak perlu makan hal lain karena dengan darah saja kau sudah akan merasa bertenaga. Sungguh sederhana, bukan?"
"Tapi aku tidak mungkin memakan darah!"
"Oh, kau akan melakukannya," makhluk itu mendekati Kuroro. "Dimulai dengan lelaki bernama Kurapika itu. Kau PASTI akan berkeinginan untuk memakan darahnya."
Kuroro menatap tubuh Kurapika yang berada dalam pelukannya. "Tidak mungkin. Aku tidak mungkin sanggup melukai Kurapika, apalagi memakan darahnya. Aku tidak akan melakukannya!"
Sosok itu terkekeh. "Kita lihat saja nanti. Tapi memang setiap kita ingin mendapatkan sesuatu, harus ada yang dikorbankan, 'kan? Harus ada yang menjadi tumbal, 'kan?"
"Tapi aku tidak mau mendapatkan semua kebahagiaan ini dengan mengorbankan Kurapika!" teriak Kuroro.
Sekilas muncul seringai di wajah makhluk bersayap hitam itu, lalu ia menghilang tanpa bekas…
Kuroro bangun pagi itu dengan napas terengah-engah. Mimpi buruk menderanya tadi malam, membuat tidurnya tak lagi nyaman. Ia bangun dengan langkah tertatih, menuju dapur. Kuroro hendak minum segelas air.
"Ah, selamat pagi!" suara itu menghentikan langkah Kuroro, membuatnya tersenyum simpul. "Kau lapar? Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Mudah-mudahan enak, ya."
"Selamat pagi, Kurapika," Kuroro menyahut. Ditariknya kursi dengan tenang. Di meja makan sudah terhidang beberapa jenis makanan yang menggugah selera. Kuroro mulai memakannya, tapi makanan itu terasa bagai duri di mulutnya. Dia tidak tahu kenapa.
"Aduh…"
"Ada apa?" Kuroro mendekati Kurapika.
"Jariku teriris pisau. Tapi tidak apa-apa, kok! Ini hanya luka ringan," Kurapika tertawa kecil.
Melihat darah yang menetes dari jari Kurapika, spontan Kuroro langsung meraihnya dan menjilatnya. Darah itu terasa manis bagi Kuroro. Kurapika terperangah.
"Kuroro…?" ucap Kurapika. "Kenapa… kau memakan darahku?"
Entah kenapa, Kuroro begitu ingin mencicipi darah Kurapika. Mungkin karena dia telah dipengaruhi oleh iblis bersayap hitam yang telah merasuki tubuhnya. Ia tak dapat melawan kehendak dari sang iblis yang hendak memangsa Kurapika. Kuroro telah terperangkap atas permohonan yang sudah dibuatnya dahulu.
"Kau kenapa, Kuroro? Wajahmu pucat," Kurapika menatap Kuroro cemas. "Kau sakit? Lebih kau istirahat saja dulu…"
Suara Kurapika langsung mengecil tatkala Kuroro menatapnya dengan pandangan yang lain. Ia mundur beberapa langkah ketika Kuroro maju mendekatinya, hingga tak ada lagi ruang gerak baginya untuk menghindar. Kurapika terjebak.
"Ini masih kurang. Aku ingin lebih. Aku tak butuh yang lain…" ucap Kuroro sambil mendekat dan memegang dagu Kurapika. "Aku cuma mau darahmu. Aku cuma mau KAU!"
Kurapika hampir menjerit tatkala Kuroro mengarahkan bibirnya ke leher Kurapika. Kedua pergelangan tangan Kurapika digenggam sedemikian keras. Kurapika tak dapat berontak ketika Kuroro menggigit lehernya, tepat di nadi, sehingga darah langsung membanjir. Beberapa tetes darah mengotori wajah Kuroro.
"Sakit…" samar-samar terdengar suara Kurapika. "Kuroro, sakit…"
Bagai tersengat aliran listrik, Kuroro langsung tersentak dan tersadar. Cepat-cepat diambilnya selimut untuk menghentikan darah yang mengalir dari leher Kurapika.
Melihat Kurapika yang kesakitan seperti itu, air mata Kuroro spontan menetes. Semua itu terjadi diluar keinginannya, diluar kuasanya. Kuroro tidak bisa mengerti kenapa dia begitu tega melukai dan seolah-olah menikmati seluruh penderitaan Kurapika. Pemuda berambut hitam itu jadi begitu benci terhadap dirinya sendiri. Sangat benci.
"Kuroro…" Kurapika berkata dengan suaranya yang lemah karena menahan sakit. "Jangan menangis. Tolong jangan menangis untukku…"
"Aku jahat, Kurapika! Aku jahat!" jerit Kuroro. Aku telah gagal melindungimu. Aku ini orang yang tidak berguna! Berkali-kali aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihatmu menderita, sungguh pengecut!"
Kurapika mengulas sebuah senyum di bibirnya. "Aku tidak apa-apa, Kuroro. Darahnya juga sudah berhenti. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu cemas. Yah… walau sebenarnya aku agak kaget kenapa kau tiba-tiba menggigitku, tapi kau pasti tidak akan mau cerita apa alasan kau melakukannya 'kan?"
Kuroro diam. Dia memang tak mungkin membeberkan semua rahasia tentang kematian Kurapika yang dipendamnya. Lagipula, Kurapika pasti takkan percaya dengan cerita yang akan dikatakannya.
"Ya sudah. Aku mau beres-beres dulu. Anggap saja apa yang kau lakukan terhadapku tadi tidak pernah terjadi," ujar Kurapika seraya bangkit dan memungut sehelai selimut di kakinya yang telah dipenuhi oleh darah, lalu berjalan menjauh.
"Tunggu," Kuroro meraih tangan Kurapika. Langkah Kurapika terhenti.
"Ada apa?"
"Maafkan aku, Kurapika," ucap Kuroro sembari menunduk. "Tadi itu bukan aku. Aku berani bersumpah kalau itu sama sekali bukan diriku. Percayalah, hal ini takkan terjadi dua kali."
Kurapika tersenyum kecil. "Ya, aku akan berusaha untuk percaya. Walau sekarang itu menjadi sangat sulit bagiku…"
Darah. Aku memakan darah. Tapi harus ada tubuh manusia untuk kutempati agar aku bisa menikmatinya…
Kaulah manusia itu, Kuroro Lucifer.
~Note:
Konbanwa, minna-san!
Azumaya Miyuki datang menghantarkan chapter kedua ini. Bagaimana menurut minna-san mengenai perkembangan ceritanya? Apakah semakin menarik? Ataukah malah cenderung membosankan?
Silakan di review, ya! Arigatou gozaimasu~
-Azumaya Miyuki-
