Disclaimer : SMEnt & CJESEnt
Main cast : Kim Jaejoong Jung Yunho. Kim Kibum, Choi Siwon
Gendre : Drama, Romance.
Theme : Summer
Warning : Penuh typo. Alur berantakan. Bikin sarap kepala jadi tegang. Dan, DON'T LIKE DON'T READ. NO BASH my character in my fic.
Flame jangan tapi kalu konkrit sangat boleh. ^^
Shin SeounRa| Choco Momo
[Sweet Apple]
Presented
An Alternative Universe Fanfiction
Baby GoodNight
Story presented by © Sora Yagami
Inspired by © Are you Good Girl?_DBSK
Cast and anything in this story © They self and they parent
Chapter 1 : My little princess
Jeejoong merebahkan tubuhnya yang masih terasa letih luar biasa diatas tempat tidur kingsize milik Kibum adiknya setelah mengeluarkan energy berlebih bersama Yunho yang mendadak minta jatah malamnya.
"Selama ini yang kau lakukan hanya duduk diam membaca buku-buku menyedihkan itu, apa kau tidak bosan?" tanya Jaejoong skpetis pada Kibum yang duduk bersandar pada night stand dengan buku tebal dipangkuan.
Kibum nampak berpikir sebelum menjawab dan kemudian menggeleng. "Tidak."
Jaejoong menghela napas gusar. "Aku tidak mengerti, bagaimana kau bisa tahan dengan buku itu dan Choi Siwon. Mereka sama membosankannya."
Kibum mengalihkan perhatiannya pada sang kakak. "Memangnya Siwon hyung kenapa?"
"Siwon itu sangat mengerikan." seru Jaejoong lantang.
Sama sekali bukan karena penampilan namja berlesung pipit dengan wajah cassanova itu bertato atau berjenggot dengan rambut gondrong seperti preman. Justru sebaliknya, harus dia akui, kalau Choi Siwon adalah satu dari sedikit orang yang mampu membuatnya terkesima, wajah tampan ditunjang dengan tubuh proposional membuat namja itu digilai banyak wanita. Yang membuatnya ngeri bukan hanya fakta bahwa namja yang menyandang nama besar Choi itu menguasai dunia hitam tetapi juga sifat overprotektif dan possesif milik namja itu terhadap adiknya.
Siapa yang tidak mengenal keluarga Choi. Yang menguasai binis black market dan industri penjualan senjata api terbesar berkedok jaringan perhotelan skala internasional yang merambah hampir kesemua industri yang menguasai perekonomian bukan hanya pasar asia tetapi juga amerika dan eropa , mulai dari rumah sakit, mall, bandara, sekolah, perusahaan minyak dan properti. Dengan kekayaan seperti itu, tidak mengherankan kalau kuasa yang Siwon miliki bahkan mungkin jauh lebih besar dari yang dia perkirakan, dan sejauh ini hanya keluarga Jung yang mempunyai status seimbang dengan keluarga Choi yang ternyata masih memiliki kaitan erat dengan kerajaan, bahkan keluarganya yang masih termasuk bangsawanpun tidak akan bisa berkutik menghadapinya.
Bisa dibilang Siwon sangat terobsesi pada adiknya yang masih sangat polos itu. Kibum memang cantik, dengan mata hitam yang bening, bibir merah menggoda, kulit yang putih sempurna tidak bercela juga rambut sehitam jelaga. Pria mana yang tidak akan terpikat? Tidak heran kala dirinya mendapati Siwon selalu paranoid kala Kibum berada terlalu jauh darinya. Namja itu akan muda emosi, dan kalau Choi Siwon sudah uring-uringan maka keselamatan semua orang akan terancam.
"Memangnya Siwon hyung kenapa? Dia baik."
"Tentu saja dia baik," hanya dengamu. Sambung Jaejoong didalam hati.
Siwon memang sangat baik pada keluarga besarnya, namja itu tipe yang menjunjung tinggi tata krama dengan kesopanan dan intelektualitas yang tidak diperlukan lagi. Pada dasarnya dia alalah namja yang ramah, tetapi namja itu juga tidak akan segan-segan memecahkan kepala orang yang berani menyentuh Kibum meski hanya seujung rambut.
Jaejoong memiringkan tubuhnya sambil menatap Kibum. "Apa kau ingat pertemuan pertamamu dengan Siwon?"
Kibum menggeleng, membuat Jaejoong terkekeh. Wajar kalau Kibum lupa, saat itu adiknya masih berusia sepuluh tahun. "Ketika melihatmu pertama kali, dia bilang kau adalah miliknya dan akan menikahimu suatu saat nanti. Yah, bisa dibilang dia telah melamarmu didepan orang tua kita,"
Jaejoong mengembalikan posisinya menatap langit-langit kamar, tidak akan pernah dia lupakan ekspresi Siwon kecil yang berwajah rupawan itu ketika mencetuskan keinginannya dengan lantang didepan kedua orang tuanya tanpa keraguan bahwa dia menginginkan adiknya. Mata yang dipenuhi kesungguhan, itu yang appa katakan sehingga memutuskan untuk menunangkan Kibum dengan Siwon saat itu juga.
"Kibummie, ayo temani hyung belanja."
Kibum diam sebelum menjawab. "Tapi kata Siwon hyung, tidak boleh pergi keluar."
"Aish, kau ini." Jaejoong berdecak kesal. "Hanya sebentar saja dan si kuda itu tidak akan tahu."
Jaejoong menarik tubuh Kibum hingga berdiri setelah memasangkan atribut berupa jaket dan topi rajut wool berwarna baby blue untuk adiknya sebelum kemudian menyeretnya keluar kamar.
"Hyung pelan-pelan." ucap Kibum. Dia kesulitan mengikuti langkah kakaknya yang terkesan buru-buru.
"Mau hyung bawa kemana Kibummie,"
Sebuah suara yang terdengar sangat familiar, sontak membuat Jaejoong menghentikan langkahnya dan kemudian membalikan tubuhnya yang mendadak terasa kaku.
"Siwonie, sejak kapan kau disana?" tanyanya gugup.
Bagaimana dia tidak gugup karena telah mencoba membawa kabur tunangan seorang Choi Siwon tanpa ijin meskipun itu adalah adiknya sendiri.
"Sejak hyung menyeret Kibummie keluar kamar." ucapnya sakartis.
Jaejoong menelan ludah gugup. "Ssiapa bi-lang aku menyeretnya. Kibummie sendiri yang ingin pergi. Iyakan Kibummie?" katanya sambil menatap kearah adiknya yang sedang menunduk.
"N-ne?"
Siwon mengalihkan perhatiannya pada sang kekasih. "Apa benar itu Kibummie? Dan kau tahu kalau hyung tidak suka dibohongi."
Kepala Kibum menunduk semakin dalam. Dia sangat takut kalau Siwon sampai marah. "Mian,"
Siwon mendekat kearah Kibum dan kemudian membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Sama sekali tidak memeperdulikan cadlon kakak iparnya yang kesal.
Jaejoong hanya bisa mendengus kesal, kenapa Siwon selalu datang disaat yang tidak tepat. Mengganggu saja, padahal sedikit lagi dia bisa mengajak Kibummie jalan.
Namja bermata indah itu memutar kedua bola matanya bosan. Selalu saja seperti ini. Siwon selalu bertidngkah seakan dia tidak bertemu dengan adiknya selama setahun, padahal dia baru pergi selama bebera hari. Pikir jaejoong jengah.
Jaejoong segera memutuskan untuk undur diri sambil menghentakkan kedua kakinya pertanda kesal, tidak ingin menonton drama picisan keddua anak manusi itu lebih lama lagi. Tidak ingin mengganggu kedua anak manusia yang sedang melepas rindu itu.
"Bogoshipo kibbumie,"
"Nado bogoshipo hyung. Mianhae," bisiknya.
Siwon hanya mengelus lembut puncak kelapa Kibum dan sebelum kemudian mengecup bibir bibir Kibum singkat. "Gwenchana,"
Kening Siwon mengernyit heran. Dia baru menyadari wajah Kibum yang agak pucat dan tubuhnya juga panas.
"Kibummie, kau sakit? Tubuhmu panas."
Kibum hanya menggeleng lemah. "Gwenchana hyung."
Siwon mulai panik, dia segera menggendong Kibum kembali kekamarnya dan kemudian menyelimuti namja itu hingga sebatas leher setelah membaringkannya diatas tempat tidur dan segera menghubungi dokter keluarga yang dipercayai untuk menangani keadaan Kibum.
"Katakan pada hyung, apa ada yang sakit?" Siwon mengusap perlahan kening Kibum yang basah karena keringat dingin.
Meskipun Kibum terlihat sempurna diluar, namun namja itu tetaplah memiliki kekurangan. Dia terlahir dengan keadaan prematur dan menyebabkan kondisi fisik Kibum agak lemah karena sistem kekebalan tubuhnya tidak yang sempurna, juga mengalami radang lambung yang cukup serius. Siwon mengupayakan segala cara untuk menjaga Kibum, namja cantik itu bahkan tidak diperbolehkan pergi keluar tanpa Siwon samasekali. Ditambah lagi dengan sifat polos Kibum membaut anak itu sangat mudah untuk dimanfaatkan. Karenanya dia dijaga dengan sangat ketat selama dua puluh empat jam penuh.
.
.
.
"Aku tahu Kibum mungkin agak tertekan, tapi aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi." lirihnya sambil sesekali membelai kening Kibum yang telah jatuh tertidur.
"Aku mengerti kau cemas, itu wajar." sahut Yunho yang sedari tadi bersama Jaejoong melihat keadaan adik mereka.
Jaejoong sangat panik saat mengetahui kalau lagi-lagi adiknya itu jatuh sakit, padahal setahunya selama dua hari ini adiknya beristirahat total dikamar. Dia sendiri yang memastikan hal itu.
Lagipula, saat dia meneumui kibum tadi siang, adiknya itu masih dalam keadaan baikbaik saja.
Dia masih mengingat dengan jelas wajah panik Siwon yang langsung membatalkan acara meeting pentingnya dengan salah satu klien besar di Maldive saat Kibum dikabarkan terserempet peluru yang untungnya hanya mengenai bagian luar lengannya dan mengalami anval karena kehilangan banyak darah, ditambah dengan kondisi adiknya yang belum pulih sepenuhnya paska sakit saat penembakan itu terjadi.
Siwon bahkan nyaris mememecahkan kepala dokter yang mengatakan kalau kondisi Kibum sangat memprihatinkan dan harus segera mendapatkan donor darah yang sialnya beresus A negatif yang sangat langka di asia.
Singkatnya, bisa dikatakan kalau kelemahan terbesar seorang Choi Siwon yang tanpa cela adalah kim Kibum.
.
.
.
"Apa ini? Lagi-lagi kau mendapatkan nilai F untuk ujian tengah semester." bentak Yunho sambil memukul kepala Jaejoong dengan menggunakan gulungan kertas.
Jaejoong hanya bisa cemberut mendengarnya, dia akui dia memang tidak sepintar Kibum yang dilahirkan dengan otak jenius yang mungkin hampir menyamai Einsten tetapi bukan berarti dia tidak berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus. "Itu kan sama sekali bukan kesalahanku."
"Tentu bukan, yang salah hanya kapasitas otakmu yang pas-pasan itu."
"Ya, aku tidak sebodoh itu." teriak Jaejoong tidak terima.
"Kau mendapatkan nilai merah nyaris disemua pelajaran, apa itu yang kau sebut bukan bodoh namanya." Ini adalah salah satu bagian tersulit menjadi seorang Kim Jaejoong, bukan hanya karena perilaku tidak beradabnya yang bisa disebut hampir menyamai preman pasar tetapi juga harus menjadi tutor ekstra sabar untuk mengajari Jaejoong yang terkenal dengan rapot kebakaran jenggot. Kalau bukan nama besar kim yang istrinya itu sandang, namja itu pasti sudah dikeluarkan dari sekolah dengan nilai anjlok seperti itu.
"Kalau nilaimu terus seperti itu, kau tidak akan lulus."
Mata Jaejoong melotot sempurna mendengar kata-kata Yunho yang lebih terkesan seperti kalimat kutukan baginya. "Memangnya kau senang kalau aku benar-benar tidak lulus sekolah." gerutu Jaejoong kesal.
Yunho menghela napas, dia sudah kehabisan akal untuk menangani kebodohan istrinya pada pelajaran selama setengah tahun belakangan ini, mulai dari mengancam, mengawasi tingkah laku Jaejoong dengan sangat ketat dan memaksa namja itu belajar dengan sangat keras sebelum ujian dimulai ternyata sama sekali tidak membuahkan hasil. Sebenarnya apa yang salah dengan cara mengajarnya selama ini?
"Tentu saja aku tidak senang, suami mana yang bangga istrinya dicap sebagai siswa bodoh." ucap Yunho.
Jaejoong semakin memberengut, sedikit banyak kata-kata Yunho melukai harga dirinya. "Jadi apa sekarang kau menyesal menikah dengan orang bodoh sepertiku."
Yunho tersadar kalau sepertinya dia sudah salah bicara kali ini, Jaejoong memang cenderung sensitif kalau ada orang yang menyinggung menganai kegagalannya tentang yang satu itu. "Sama sekali bukan itu maksudku Boo,"
Bahkan bisa dibilang hal yang paling mendasari penikahan mereka adalah karena kim Youngwon sudah angkat tangan sepenuhnya untuk menangani kebodohan Jaejoong hingga memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka, tapi bukan berarti dia tidak menyukai ide gila yang diusulkan kedua orang tua mereka. Semua tutor yang pernah bertugas untuk mengajari Jaejoong bahkan sampai meminta diberhentikan.
Bagaimana para tutor itu sanggup bertahan lebih dari seminggu kalau mereka dikerjai dengan berbagai cara hingga nyaris gila. Yang paling aneh adalah Jaejoong yang bahkan menyamar menjadi orang gila membawa pisau dan membuat sang calon tutor namja itu menjerit histeris dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi. Bagaiman calon tutor Jaejoong itu tidak menjadi begitu ketakutan kalau lehernya terancam akan digorok sampai putus.
Jaejoong tiba-tiba beranjak dari duduknya. "Katakan saja kalau kau malu menjadi suamiku." dan kemudian berajak pergi sambil menghentakkan kedua kakinya.
Selepas kepergian Jaejoong, Yunho hanya bisa terduduk diam sambil menghela napas berat dan sesekali memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Tidak orang yang senang diingatkan akan kesalahannya, dan itulah hal yang sedang Jaejoong lakukan sekarang. Merajuk. Karena Yunho menegurnya, meskipu namja itu telah menggunakan metode yang paling halus agar tidak menyinggung perasaan istrinya dan seperti sama sekali tidak berhasil.
Kalau namja cantik itu tidak menyadari di mana letak kesalahannya, bagaimana dia bisa mendidik Jaejoong agar menjadi pribadi yang lebih baik sesuai dengan amanah yang telah diberikan oleh appa mertuanya kalau terus seperti ini.
Jaejoong masih memendam kekesalan atas penghinaan secara tidak langsung yang dilekukan oleh suaminya sendiri, berjalan menyusuri koridor mewah manshion keluarga kim sambil sesekali menggerutu dan memberikan sumpah serapah berupa kutukan untuk beruang mesum itu.
Sebenarnya bisa saja dia pindah ke masnhion yang telah disediakan untuknya dan Yunho yang dikatakan sebagai hadiah 'pernikahan' mereka, tetapi Jaejoong menolak, bukan hanya karena dia ngeri membayangkan bagaimana perilaku mesum tidak tertahankan Yunho, tetapi juga karena dia ingin bisa mengawasi ketiga dongsaeng kesayangannya. Junsu, Key dan Kibum. Terutama Kibum yang memang membutuhkan perhatian lebih meskipun sebenarnya sudah ada Siwon yang sudah seperti suami siap siaga dalam menjaga adik polosnya yang satu itu.
Sedang ada keluarganya saja, selama dua minggu pernikahan mereka Yunho selalu menyerangnya disetiap kesempatan. Apa lagi kalau mereka hanya berdua. Jaejoong bergidik ria membayangkan segala kemungkinan terburuk yang menimpa bagian pribadinya.
"Joongie-ah." Jaejoong memutar tubuhnya saat mendengar seseorang menyerukan namanya.
Sedetik kemudian namja cantik itu berlari menghambur kearah Heechul yang sedang berdiri beberapa meter darinya. "Chulie hyung,"
kedua saudara itu berpelukan untuk sekedar melepas rindu setelah dua minggu lamanya tidak bertemu. "Apa yang hyung lakukan disini?"
Heechul menguraikan pelukan mereka. "Kenapa? Kau tidak suka hyung disini?"
Jaejoong menggeleng. "Ani, tentu saja senang. Lalu di mana Kris dan Han gege?"
"Mereka ada di kamar. Sepertinya dia lebih suka bersama ayahnya sekarang." ucap Heechul girang.
Bukan berarti dia senang akan hal itu, hanya saja kadang-kadang dia merasa itu menjadi seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Melihat Kris yang baru berusia dua tahun sibuk menggangu ayahnya karena kegemaran barunya akan game dan berhenti merengek padanya. Alih-alih membuat Hankyung merasa nyaris depresi karena putranya keranjingan parah dan membuatnya selalu diteror oleh tangisan sang putra.
Kedua namja cantik itu hanya tersenyum geli. Mereka tahu betapa bocah kecil keturunan Han itu bisa menjadi sangat menyebalkan kalau dia ingin.
"Bagaimana kau dan Yunho? Apa kalian sudah" Heechul sengaja memotong kata-katanya.
Jaejoong mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya, berusaha menutupi semburat merah yang mewarnai wajahnya.
Seketika wajah Heechul menjadi cerah. "Jadi kalian sudah melakukannya. Ternyata cepat juga. Kukira aku ingat kau bilang tidak menyukainya."
Jaejoong memberengut kesal sambil memajukan bibirnya lucu-yang kalau Yunho melihatnya maka sudah bisa dipastikan dia tidak akan bisa berjalan untuk beberapa hari kedepan.
"Sebenarnya bukan begitu." Jaejoong mendekatkan telinga pada Heechul.
Mata Heechul seketika membulat sempurna. "Mwo,"
Jaejoong mengangguk membenarkan. "Tidakkah hyung berpikir itu seperti kejahatan dalam rumah tangga? Seharusnya aku melaporkannya ke komisi perlindungan HAM."
Heechul terkekeh. "Yang benar saja, dia suamimu. Dan itu sah-sah saja."
"Apanya yang sah. Dia memperkosaku hyung. Karena dia aku sudah tidak perawan sekarang." Jaejoong melipat kedua tangannya di depan dada. Kalau mengingat malam pertama penuh bencana yang menimpa bokongnya, rasanya ingin sekali dia tendang masa depan Tuan Jung itu sampai hancur atau mengkebirinya berulang kali hingga tidak bersisa sama sekali.
Namja cantik bermata doe itu tersenyum senang mendapati pemikirannya sendiri.
"Kalau begitu, balas saja dia." usul Heechul gampang.
Kedua kening Jaejoong berkerut. "Apa maksud hyung?"
Heechul tersenyum dengan cara yang tidak pernah Jaejoong lihat sebelumnya. "Bukankah kita belum sempat merayakan pesta bujang untukmu. Dan aku dengar besok malam mereka akan keluar." Hyungnya yang satu ini memang selalu menjadi partner in crimenya yang terbaik.
To Be Continued!
A.N : Jeongmal mianhae karena tidak bisa membalas review dari kalian satu persatu.
Aku sungguh sangat berterimaksih atas semua yang telah bersedia meluangkan waktu,
untuk sekedar memberikan review, memfavoritkan dan juga membaca fic ini.
Dan aku akan lebih senang kalau kalian bukan hanya sekedar memberikan review dengan mengatakan kata lanjut tetapi juga memabantuku mengkoreksi kesalahan dalam fic ini.
entah kenapa, aku merasa agak kurang puas dengan chapter ini...
concrit diterima dengan senang hati.
Jadi, bagian mana yang paling kalian sukai?
R
E
V
I
E
W
If you don't mind?
