Pekerjaan Tetap?
SuLay
BxB
-000-
"Capek, ya? Sini, sini. Tidurlah di pangkuanku." Yixing menepuk-nepuk pahanya yang terlindung boxer ungu cerah bermotif Bugs Bunny sedang menggigit wortel. Sorot matanya yang lembut turut memanggil-manggil Joonmyeon, mengisyaratkan agar kekasihnya yang baru saja mengenakan kaus rumahan segera mendekat.
"Xing, sepertinya itu mirip dialog dalam fanfiction lain," kata Joonmyeon. "Barangkali kau lupa, sekarang kita ada di dalam fanfiction Si Tukang Ketik Amatir Dyakonenko."
"Oh, iya ya?" Yixing mengerjap-ngerjapkan matanya dengan imut seperti biasa. "Ya sudah aku ganti dialognya. Mau tidur di sini, Cupcake?" Tangan lentiknya kembali menepuk-nepuk pahanya sendiri.
"Aku mau tidur di pelukanmu saja, Sugarpie," balas Joonmyeon, otomatis menyebutkan panggilan sayangnya untuk Yixing.
Yixing tampak berpikir-pikir sejenak. "Hmm, boleh sih, tapi paket hemat, ya? Bukannya aku tak mau breastfeeding, tapi sekarang masih siang, Cupcake. Bisa gawat kalau aku membiarkanmu turn on, padahal sore nanti aku harus ke studio un--"
"Xing," Joonmyeon memotong kalimat Yixing, tampak sedikit sebal menatap paras 'paket komplet' alias 'ayu, manis, menggemaskan' milik Yixing. "Please, aku ini memang mesum, tapi setidaknya masih lihat-lihat situasi dan kondisi. Apalagi sekarang aku masih capek, oke?"
"Dulu 'kan kau juga bilang begitu, Joon, tapi nyatanya kau keterusan juga," Yixing membela diri. Bibirnya yang ranum mencebik imut, memperkuat kesan menggemaskan di wajah ayunya.
"Ya itu 'kan salahmu juga. Siapa suruh mendesah? Jangan salahkan aku kalau terpancing, padahal niatku semula hanya menyusu saja, tidak lebih," kilah Joonmyeon tak mau kalah.
"Hanya menyusu saja bagaimana? Tanganmu itu kemana-mana, Vlad Dracul," Yixing bersungut-sungut, tapi anehnya tetap kelihatan imut. "Dasar nakal. Mesum."
"Mana kutahu kalau iseng membelai saja bakal membuatmu mendesah, Mirena," balas Joonmyeon tangkas. Mengikuti Yixing, Joonmyeon lagi-lagi otomatis menggunakan panggilan sayangnya yang lain lagi untuk Yixing.
"Jadi tidur siang atau tidak, nih, Smurf?" Sekarang Yixing mengangkat satu alisnya, memberikan semacam peringatan pada Joonmyeon.
"Kok panggilanku jadi tidak enak?" protes Joonmyeon. "Xing, calon suamimu ini baru pulang mencari nafkah. Capek. Kau jangan ngajak berantem, dong."
"Calon suami apanya? Kau ini baru pacar, Joon," koreksi Yixing lancar.
"Aku sudah melamarmu, Xing. Lengkap dengan cincin," Joonmyeon mulai gemas. "Jangan mendadak pikun, dong."
"Joonie Bunny Sweety, yang pikun itu kau. Soal lamaran, itu ada di fanfiction lain karya Dyakonenko, bukan fanfiction yang ini," Yixing kembali mengoreksi. "Barangkali kau lupa, di situ aku jadi cewek."
"Hee?" Joonmyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. "Yang benar?"
"Sudah, sudah." Yixing mendadak memasang tampang lelah. "Kalau diteruskan, lama-lama kita bisa ribut. Cepat sini, Bugs Bunny. Berbaring di sebelahku. Katanya mau kupeluk? Ayo, sebelum aku berubah pikiran." Tangan lentiknya beralih menepuk-nepuk ranjang.
"Nah, begitu dong, Lola." Raut wajah Joonmyeon berubah lega. "Bugs Bunny kelewat kangen pada pelukanmu, tahu?"
Tanpa disuruh dua kali, Joonmyeon bergegas membaringkan diri di sebelah Yixing. Senyuman manis tersungging di bibirnya begitu Yixing meraihnya ke dalam pelukan. Merasakan hangat tubuh kekasihnya, juga menghirup aroma manis buttercake dari tubuh Sang Kekasih, Joonmyeon merasa tubuhnya jadi ringan, rileks luar biasa.
"Aku merindukanmu, Cinta," Joonmyeon menggumam, agak tak jelas lantaran wajahnya menempel di dada empuk Yixing. "Sangat merindukanmu."
Mendengar ini, Yixing pun mengulas senyum yang tak kalah manis. Lesung pipitnya yang menggemaskan segera muncul di permukaan. Kentara benar dia bahagia bukan main atas pengakuan Joonmyeon yang tulus meski kurang jelas.
"Aku juga, Jantung Hati," balas Yixing lembut sembari menggerakkan jari-jemari lentiknya untuk membelai-belai rambut Joonmyeon yang terasa halus seperti beledu.
"Sangat merindukanmu," tambahnya tak kalah tulus.
"Tidurlah, Vlad Dracul. Tidur, agar nanti malam kau merasa segar dan bisa menggigit, mengisapku sampai puas. Tebus rasa rindumu dengan tubuhku."
Suaranya yang empuk berubah menjadi bisikan penuh arti, memandu Joonmyeon untuk kembali mengulas senyum.
"Kau semakin nakal, Mirena. Baiklah. Bersiaplah untuk nanti malam. Kutebus rinduku dengan cara yang barbar di tubuhmu."
Joonmyeon mendongak, mempertemukan tatapannya yang mesum dengan tatapan lembut milik kekasihnya.
"Kutandai kau habis-habisan malam nanti. Gigit, hisap, bahkan yang lebih dari itu."
Seringai mesum mengakhiri kalimat Joonmyeon. Sebagai bonus, sepasang alis tebal Joonmyeon bergerak naik-turun. Nakal, seduktif.
Yixing terkekeh. "Kim 'Mesum' Joonmyeon," dia menyebutkan nama lengkap kekasihnya dengan embel-embel 'mesum'. "Kau harus bertanggung jawab. Tak terhitung berapa kali aku jadi korban kemesumanmu, Mr Grey."
Nada suaranya kedengaran manja, mengiringi gerakan jemari lentiknya yang kini mengelusi pipi mulus lagi montok milik Joonmyeon.
"Jangan khawatir, Ms Steele."
Tak mau kalah, Joonmyeon balas menyentuhkan jemarinya di wajah Yixing. Alih-alih pipi, Joonmyeon lebih memilih untuk mengusap-usap bibir bawah Yixing yang tebal dan ranum dengan ibu jarinya.
"Aku pasti bertanggung jawab. Bagaimanapun aku atasanmu, semacam supervisor. Sudah pasti aku harus bertanggung jawab terhadap karyawanku ini," kata Joonmyeon.
"Atasan? Karyawan?" Yixing mengerutkan kening, bingung. "Maksudmu apa, Joon? Kenapa tiba-tiba jadi atasan dan karyawan?"
Joonmyeon terkekeh. "Kelak aku ini jadi atasanmu, Sugarpie. Saat kau resmi mendapatkan pekerjaan tetap," jelasnya penuh arti.
"Pekerjaan tetap? Maksudmu? Kau mau bikin perusahaan, Joon?" Yixing masih tak paham.
"Bukan, bukan." Joonmyeon lagi-lagi terkekeh. Dicubitnya bibir bawah Yixing main-main.
"Pekerjaan tetap yang kumaksud itu," Joonmyeon mengecup bibir Yixing kilat, "mengurus segala jenis kebutuhanku. Mengasuh dan membesarkan anak-anakku. Menemaniku sampai akhir hayat."
Suara Joonmyeon berubah selembut kapas, begitu pun tatapan matanya. Jemarinya yang semula berada di bibir Yixing bergerak naik, bermain-main di pipi mulus milik Si Cantik.
"Menjadi istriku. Otomatis aku jadi suami. Kepala keluarga. Bagaimana, Sugarpie?"
Yixing megap-megap.
"Joon, kau... Melamarku?" Suara Yixing nyaris menyerupai bisikan.
"Kalau boleh disebut demikian. Aku belum menyiapkan cincin dan belum menemui orang tuamu, jadi masih belum resmi. Setidaknya, aku bertanya padamu dulu," Joonmyeon menjawab, tampak sedikit salah tingkah.
"Joon..." Sepasang mata indah Yixing mendadak berkaca-kaca.
"Belikan aku cincin berlian 24 karat dari Tiffany's dan lamar aku secara resmi, elegan, romantis, Shrek. Melamarku di tempat tidur seperti ini, bermodalkan istilah pekerjaan tetap, apa yang bisa diceritakan pada anak cucu kita nanti? Mereka pasti berpikir kalau kita ini pasangan mesum. Tapi memang benar, sih. Aissh, memalukan, tapi aku menyukainya. Sangat menyukainya. Bagaimana, dong?"
Air mata Yixing mulai menetes. Dia menangis, tetapi juga terkekeh. Sorot matanya kentara benar terharu sekaligus bahagia. Yixing yang seperti ini terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan!
Melihat kekasihnya menangis dan terkekeh sekaligus saking terharu lagi gembira, Joonmyeon pun tak kuasa menahan senyum. Parasnya yang tampan terlihat bukan main cerah karena Yixing secara tidak langsung mengatakan 'ya', memberikan jawaban yang paling diinginkan Joonmyeon saat ini.
"Untuk Princess Fiona, jangankan cincin berlian 24 karat dari Tiffany's. Kau minta permata Firaun sekalipun, niscaya akan kudapatkan untukmu langsung dari dalam perut piramida," canda Joonmyeon.
"Aku tahu itu gombal, tapi kenapa aku bahagia? Kim Joonmyeon, kau ini benar-benar..."
Yixing tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Pemuda berparas 'paket komplet' itu memilih untuk gantian membenamkan wajahnya di dada Joonmyeon, kemudian terisak-isak haru sekaligus bahagia di sana.
"Cincin berlian 24 karat, hiks, Tiffany's, dan... Lamaran resmi, hiks... Cupcake..."
Joonmyeon masih setia mempertahankan senyumnya yang paten, memikat.
"Apapun, Sugarpie," balas Joonmyeon, riang namun sungguh-sungguh. "Apapun itu. Saranghae, Yixing-ah."
Diiringi perasaan bahagia yang tak sanggup ditutup-tutupi, Joonmyeon mendaratkan bibirnya di puncak kepala Yixing. Menghadiahinya dengan kecupan lembut, tulus, sarat kasih sayang. Mengekspresikan perasaan cintanya lewat bahasa nonverbal, hanya untuk Zhang Yixing seorang.
FIN
