Save Our Souls
Fanfiksi Shikamaru-Temari oleh Green Mkys
Naruto © Masashi Kishimoto
This fic is inspired by Karen Rose's & Lisa Jackson's books
WARNING: OOC, totally alternate universe, M rated for MATURE readers, DLDR
Chapter 2
Shikamaru memasuki ruang rapat timnya. Di sana sudah ada atasannya, Asuma Sarutobi. Shino Aburame juga sudah duduk di kursinya.
"Maaf terlambat. Ada lagi yang kita tunggu?"
"Tidak ada. Ayo kita mulai saja. Pertama aku ingin mendengar catatan medisnya." Asuma Sarutobi membuka rapat pagi itu.
Dr. Shizune, kepala pemeriksa medis, memaparkan hasil temuannya, "Hampir sama dengan yang pertama. Ada tikaman di jantung dan perut, sayatan di perutnya sangat rapi. Tetapi tusukan-tusukan ini dilakukan ketika korban masih hidup. Tembakan di kepala untuk memastikan kematiannya. Bedanya, ada LSD di lambungnya, jadi sudah pasti dimasukkan melalui mulut. Tiga puluh miligram, cukup untuk membuatnya berhalusinasi. Sepertinya si pelaku tidak hanya ingin korbannya merasakan sakit fisik, tetapi juga bermimpi buruk. Mimpi buruk yang sebenarnya." LSD, lysergic acid diethylamide adalah zat halusinogen yang juga ditemukan di paru-paru korban pertama.
"Bisa dipastikan ini pelaku yang sama?"
"Mungkin. Kecuali kau menyebarkan berita ditemukannya LSD pada korban pertama, atau ini hanya pelaku peniru yang kebetulan menggunakan LSD."
"Apa lagi? Kau bisa temukan sisa makanan yang terakhir dikonsumsi mayat pria ini?"
"Pria ini sempat minum wine. Cuvee Louis, wine yang hanya ada di beberapa bar tertentu. Saat ini baru itu yang kudapat." Shizune mengakhiri laporannya.
"Shino, apa yang kau dapat?" Shikamaru beralih ke Shino.
"Tidak ada yang khusus. Kecerobohannya hanya ia ditemukan oleh Sabaku-san ini, selebihnya ia tidak meninggalkan apa-apa. Tidak ada sidik jari, tidak ada rambut atau pun bagian tubuh yang tercecer. Ada bekas seretan dari pingir jalan sampai tempat diletakkannya mayat. Mayat pria ini cukup besar, mungkin pelaku tidak kuat mengangkatnya seperti pada mayat pertama."
"Dan mungkin ini juga yang menyebabkan LSD ditemukan di lambungnya, bukan di paru-parunya. Si pelaku membekap korban pertama untuk menghirup LSD ini karena ada serat-serat katun di paru-parunya, tetapi ia mungkin tidak kuat jika harus membekap korban kedua, jadi ia memasukkan zat halusinogen ke makanan atau minumannya." Shikamaru menyimpulkan.
"Terlalu banyak mungkin. Kita harus mencari tahu ke bar-bar di Konoha. Izumo, Kotetsu?"
"Kami sudah dari Konoha's Landing kemarin. Menanyakan orang-orang sekitar dan memeriksa daerah sekitar TKP. Tidak ada yang bisa kami temukan." Ujar Izumo.
"Tapi kami menemukan jejak ban mobil van yang hilang di jalan raya menuju kota." Tambah Kotetsu.
"Aku sudah mencari di daftar orang hilang, tapi tidak ada pria mayat pertama di sana."
"Baiklah anak-anak, lanjutkan penyelidikan kalian." Rapat berakhir dengan perintah Asuma itu. Tapi hari baru dimulai bagi Shikamaru. Dua mayat menunggu untuk diidentifikasi, keluarga dan kerabat yang harus diberi tahu, dan pelaku yang harus dihentikan aksinya secepatnya. Kalau beruntung, mungkin ia bisa bertemu kembali dengan wanita itu, wanita berambut pirang dan bermata hijau.
.
"Aku pergi dulu, kak." Pamit Gaara pada Temari.
"Ya, hati-hati."
"Apa rencanamu hari ini, Temari?" tanya Kankurou yang masih duduk di hadapan Temari sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Aku tidak tahu. Mungkin aku akan berkeliling sebentar, melanjutkan pekerjaanku.."
"Apa? Kau bawa pekerjaanmu ke sini ya? Tidak, tidak. Kau tidak boleh bekerja di sini. Kau di sini untuk berlibur, oke? Aku akan panggil Ayame untuk menemanimu."
"Jangan berlebihan, Kankurou. Kalau aku tidak menyibukkan diriku aku akan terus.." –mengingatnya, Temari tidak melanjutkan kalimatnya.
Ia tahu Kankurou mengkhawatirkan keadaannya. Hampir tidak ada yang bisa masuk ke mulutnya pagi ini.
"Tidak, aku akan panggil Ayame ke sini. Kau bisa ikut dengannya, katanya dia mau ke butik lagi. Entah apa yang kurang, wanita selalu sibuk dengan urusan seperti ini."
"Begitulah wanita. Kau harus bisa mengerti kami," Temari menjawab gerutuan adiknya dengan geli.
"Ya, ya, itu juga kata Ayame." Kankurou masih menggerutu setelah menelan suapan terakhirnya. Kemudian ia bangkit dan beranjak ke dalam rumah.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku agar tidak menumpuk nanti." Ujar Kankurou sambil membawa tas kerjanya.
"Ya, ya, calon pengantin memang selalu sibuk." Temari mengikuti Kankurou sampai depan pintu. Melambaikan tangan begitu Kankurou masuk ke mobilnya dan meninggalkan halaman parkir.
Temari menutup pintu dan kembali lagi ke meja makan, membereskan dan hendak mencucinya. Sendirian di rumah membuatnya ingat kembali kejadian semalam. Pria berbadan besar yang tubuhnya hancur, penuh sayatan dengan isi perut yang hampir keluar semua. Ia kembali menahan makanan yang tadi sedikit ditelannya untuk tidak dikeluarkan.
Tidak jarang ia menangani kasus pembunuhan di pengadilan, pernah beberapa kali melihat mayat, tapi ini yang paling buruk. Buruk pun sepertinya masih kurang tepat. Ia melihat daging yang rusak, wajah lebam, bau busuk dari tubuh mayat, aroma pinus laki-laki itu.
Shikamaru Nara, agen khusus KBI, Temari masih bisa dengan jelas mengingat aroma tubuhnya, suaranya, mata gelap yang dengan intens menatapnya. Temari bergidik kembali mengingat tatapan mata Shikamaru. Temari dengar dari Kankurou Shikamaru adalah salah satu orang tercerdas di KBI, selalu tampak malas tetapi entah bagaimana selalu dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan baik.
Menyebalkan ia masih bisa memikirkan seorang pria padahal ia baru saja melihat mayat. Temari harus mengenyahkan pikiran bodohnya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terbawa lagi oleh pesona laki-laki.
Temari mendengar bel yang berbunyi. Ayame sudah berdiri di depan pintu ketika Temari membukanya. Mereka berpelukan dan Temari membawanya masuk.
"Kau tidak perlu ke sini, Ayame."
"Tidak apa, aku ingin ditemani ke butik. Aku juga ingin mengajakmu berkeliling Konoha. Aku akan menunjukkan tempat-tempat yang bagus padamu yang aku yakin tidak akan kau temukan di Suna." Ayame membantu Temari mengeringkan piring yang telah selesai dicuci, "Biar aku lanjutkan ini, kau sebaiknya bersiap."
"Oke, tunggulah, mungkin agak lama." Kemudian Temari masuk dan membersihkan dirinya. Mengenakan pakaian dan sedikit berdandan. Ia harus menutupi lingkaran hitam di sekitar matanya. Setelah yakin penampilannya layak, Temari keluar kamarnya dan mendapati Ayame sedang duduk di sofa sembari membuka-buka sebuah album foto berukuran besar.
Ayame mendongakkan kepalanya, "Sudah? Ayo kita berangkat." Ia meletakkan album di meja dan beranjak ke luar rumah diikuti Temari. Temari mengunci pintu.
"Sekarang ke mana dulu?"
"Kita akan ke butik milik temanku dulu, Benten." jawab Ayame yang mulai melajukan mobilnya. "Aku tidak mau kalau lebih siang butiknya akan ramai, setelah itu kita makan di restoranku."
Ayame membawa Temari ke kawasan ramai di tengah kota. Ia menghentikan mobilnya di depan area pertokoan, tepatnya sebuah toko yang di atasnya terdapat tulisan Red Peacock, nama yang aneh.
"Selamat pagi, Ayame," seorang pria berambut merah dan cokelat di bagian atasnya menyambut Ayame. "Dan, umm.."
"Temari, kakaknya Kankurou." Ayame memperkenalkan.
"Benarkah? Wow, Kankurou punya kakak secantik ini tidak pernah diperlihatkan." Memangnya Temari barang yang harus dipamerkan.
Temari mengulas senyum, "Hai, aku Temari. Kau Benten?"
"Seratus poin untukmu. Aku pemilik tempat ini. Diminta untuk membuat gaun pengantin Ayame." Temari mengangguk dan membiarkan Ayame dan Benten mendiskusikan sesuatu yang Temari tidak ingin tahu.
Temari berkeliling ruangan yang lumayan luas itu sementara Ayame dan Benten masuk ke ruangan di dalam. Banyak pakaian-pakaian indah, lebih banyak gaun, jenis pakaian yang jarang digunakan Temari, karena ia lebih sering memakai pakaian formal atau semi formal untuk menunjang penampilan profesionalnya. Ada juga blus-blus cantik, yang mungkin akan dibeli Temari.
.
Cukup siang Temari dan Ayame meninggalkan Red Peacock. Saat ini Temari sudah berada di dalam restoran milik keluarga Ayame.
"Ayo, Temari. Ayahku ada di dalam." Ayame membawa Temari ke salah satu meja, "Aku ke dalam dulu sebentar, ya."
Sepeninggalan Ayame, Temari melihat televisi yang dipasang di sudut atas restoran. Televisi menampilkan siaran berita siang. Berita koruptor yang melarikan diri.
"Permisi, nona, apa Anda akan memesan?" seorang pria berambut abu-abu menghampiri meja Temari.
"Aku sudah pesankan tadi, Mizuki." Tiba-tiba Ayame menjawab dari belakang pria bersetelan rapi itu.
"Oh, jadi ini temanmu, Nona Ayame?"
"Hm, perkenalkan. Mizuki, ini Temari. Temari, ini Mizuki, manajer restoran ini, orang kepercayaan ayahku. Dan Mizuki, jangan panggil aku nona." Ayame berucap dalam satu tarikan napas.
"Hahaha, as your wish, princess. Aku ke dalam dulu." Wajah Ayame cemberut karena candaan Mizuki.
"Tidak pernah berubah orang itu." Ayame menggerutu.
"Kau mengenalnya sudah lama?"
"Begitulah, aku dan Kankurou pernah sekelas dengannya beberapa kali waktu kuliah dulu. Dia selalu senang menggodaku." Temari menyunggingkan senyum, sepertinya sudah lama sekali tidak ada yang monggodanya seperti Ayame.
Temari kembali menonton berita di televisi yang saat ini menayangkan berita kriminal.
"Pemirsa, malam tadi polisi menemukan mayat kedua dalam empat hari ini. Diduga dilakukan oleh orang yang sama karena menurut informasi kondisi kedua mayat ini mirip." Temari membelalakkan matanya, suara-suara tidak terdengar lagi, adrenalinnya meningkat mengingat ia kemungkinan telah melihat seorang pembunuh berantai.
Suara pecah mengagetkan Temari. Seorang pria menjatuhkan gelas berisi air yang menciprati kaki Temari.
"Maaf, maaf nona." Pria berambut cokelat itu mengeluarkan sapu tangannya.
"Tidak apa, tidak ada yang basah." Temari mengihindarkan kakinya dari hadapan pria tersebut yang hendak mengelapnya.
"Ada apa?" Mizuki datang dari dalam dengan membawa nampan di tangannya.
"Tuan ini menjatuhkan gelasnya," Temari tidak dapat lagi mendengar penjelasan Ayame pada Mizuki, pikirannya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Dua mayat, modus mirip, pembunuhan berantai.
"Temari. Temari!" Suara Ayame yang keras mengagetkannya, "Kau tak apa?"
"Ya. Tentu." Temari tersenyum, seperti yang diinginkan Ayame.
.
Hari yang melelahkan bagi Shikamaru. Tadi ia ikut melihat otopsi mayat kedua yang dilakukan oleh Shizune, suasana kamar mayat tidak pernah bersahabat baginya meskipun sudah berkali-kali memasukinya, apalagi untuk urusan otopsi. Tapi ada yang lebih menyebalkan baginya, yaitu ketika identifikasi. Menyaksikan orang yang menangis atau hanya meratap ketika mengetahui salah seorang kerabatnya telah pergi tidak pernah mudah baginya, menyakitkan.
Ia kembali lagi ke tempat ditemukannya mayat kedua ini, menyaksikan tim Shino menyisir seluruh TKP dan menanyai orang-orang di sekitar TKP, berharap ada saksi. Tetapi yang ia dapat hanya kesaksian bahwa ada yang melihat van berwarna gelap malam itu, sama seperti kesaksian Temari Sabaku.
Temari Sabaku, yang rambut pirangnya membuat Shikamaru ingin membenamkan tangannya. Bibirnya yang bergetar ketika menceritakan penemuan mayat semalam membuat Shikamaru ingin menempelkan bibirnya sendiri. Mata hijaunya memancarkan banyak hal malam itu, ketakutan dan kelelahan yang ditutupi ketegaran, kelembutan dan rindu ketika bertemu adik-adiknya, dan.. kesepian. Shikamaru merasa pilu mengingat tatapan wanita itu. Sekaligus bergairah. Perasaan yang tidak seharusnya ada, mengingat mereka baru pertama kali bertemu. Tetapi ini adalah hal yang sudah lama tidak dirasakannya, atau memang tidak pernah.
Tim CSU menemukan sebuah kalung di dekat tempat taksi yang semalam dinaiki Temari berhenti. Kalung dengan bandul berupa cincin yang bagian dalamnya berukir huruf S. Malam ini sudah terlalu larut untuk bertandang ke kediaman Sabaku untuk menanyai perihal kalung itu. Ia tahu ia bisa menanyakannya melalui Kankurou atau Gaara, tapi tidak, ia akan menanyakannya langsung pada Temari. Mungkin ini hanya alasan bagi Shikamaru untuk bisa bertemu dengannya, tapi ia harus.
Malam ini mungkin ia akan bermimpi dapat menarik Temari Sabaku ke dalam pelukannya dan membenamkan wajah di bahu wanita itu. Tanpa mengingat bayang-bayang wanita berambut panjang dengan kaca matanya.
.
TBC
Haaai, saya kembali :D
Menurut readers gimana fic ini? Enak ga dibacanya?
Terlalu sadiskah? Saya pengennya baca ff ShikaTema dengan Shikamaru seorang polisi atau agen, jadinya malah bikin sendiri. Saya maunya mengedepankan romance-nya, tapi masa' tokohnya polisi/ agen ga ada kasusnya, ya beginilah jadinya. Mohon maaf kalau mengecewakan crime scene dan misterinya. Ada yang mau bantu saya buat crime scene/ misterinya ga? Kayaknya otak saya tidak cukup cerdas buat bikin fic seperti ini.
Ms. Nara, hompimpa, GhienaShikaTema, & Sabaku Yuri: yo, saya update nih, terimakasih udah read & review yaaaa :D
Terima kasih yang sudah review: ocha chan, Karasu Uchiha, Ms. Nara, hompimpa, GhienaShikaTema, Melanie Joseph, nara yuki, Sabaku Yuri
Komplain, masukkan, saran, kritik, & kripiknya sangat diterima, REVIEW yaaaa ;D
