Dua
If only you saw what I can see
Suasana begitu lenggang saat Sehun memasuki Idea-Spot, advertising agency milik Luhan. Ia memutuskan untuk tidak langsung pulang, meskipun itu memang bukan keputusan yang bagus mengingat beberapa hari ini ia kurang tidur karena membantu temannya mengikuti food festival. Tapi, menghabiskan waktu seharian dalam apartementnya akan memperburuk moodnya.
Seorang resepsionist memberikan senyumnya saat melihat Sehun datang. Ia hanya membalas dengan senyum tipis tanpa menghentikan langkahnya menyusuri lorong mennuju ruangan Luhan yang berada di ujung. Hatinya masih diliputi kegusaran, tapi tidak menemukan alasan.
Dengan gerak cepat, Sehun mendorong pintu ruangan Luhan hingga terbuka, merasakan hawa dingin ruangan. Tanpa menyapa Luhan yang duduk dibalik meja kerja, ia merebahkan diri di sebuah sofa hitam panjang. Diletakkannya bantal kecil di belakang kepalanya dan memejamkan matanya.
"Baru pulang dari wawancaramu, Oh?" Luhan melirik adiknya dari balik laptop.
"Hmm" sahut Sehun tanpa membuka mata. Ia selalu senang berbicara dengan Luhan. Dan, memang hanya kakaknya itu satu-satunya orang yang bisa diajaknya berbagi.
"Terus kapan kau dapat keputusannya?" tanya Luhan.
"Senin depan, aku mulai kerja hyung." Sehun menjawab tanpa meembuka matanya.
"Ommooo, cepet jugaa. Padahal, kalau kau ditolak hyung mu ini dengan senang hati akan memasukkan mu ke sini. Dan menjabat sebagai ketua OB." Luhan tertawa terpingkal-pingkal.
"Hyung!" sehun kesal.
"Itu artinya, kau menolak tawaran Appa, ya Hun?"
Sehun mendecak sebal mendengar ayahnya mulai disebut-sebut. "Jelas lah Hyung! Aku mau kerja Hyung, dan itu dengan usahaku. Bukan uncang-uncang kaki sambil kipas uang di hotel keluarga besarnya Appa."
Luhan mengerti dan mengalihkan ke hal yang lain. "Betewe, bagaimana bos baru mu?"
Mendengar pertanyaan itu, baangan Jongin kembali terlintas. "Lumayan." Jawabnya datar.
"Maksudmu 'lumayan'?" Luhan mengerutkan dahi.
"Lumayan buat nge-refresh pikiran pas lagi suntukdi dapur!"
"Wow, juga kau Hun!" Luha tertawa. "Kau suka sama Jongin noona?"
Kening Sehun berkerut. "Jongin noona?"
"she's 38, kalo gak salah. Tapi itu sih yang hyung denger dari Baekhyun."
"Jinjja!? Aku pikir dia seumuran sama hyung atau Baekhyun—sekitar 33 atau 34." Sehun tahu Luhan juga mengenal Jongin. Perempuan itu sering bekerja sama dengan hyungnya yang juga seorang fotografer untuk foto-foto bahan promosi.
"Dia seonbae nya Baekhyun waktu kuliah."
Sehun terdiam sejenak, kemudian kembali menatap Hyungnya. "She's married?"
"Dia janda—ani janda terlalu kasar untuk seseorang yang manis seperti Jongin, mungkin lebih disebut single parent. Jongin punya dua anak dan suaminya meninggal kara kecelakaan. Tapi lebih detil nya hyung kurang paham sih, hyung gak terlalu deket sih. Cuma gitu-gitu aja." Luhan menatap wajah adiknya yang tampak sedang berpikir. "Emangnya kenapa sih Hun? Kau suka sama Jongin?"
Sehun tak menjawab. Ia kembali memejamkan mata, namun tidak benar – benar tidur.
Dering telfon di meja Luhan, membatalkan kata-kata di ujung lidahnya untuk berbicara pada adiknya itu.
Mendengar sayup suara Luhan, tak membuat ketenangan Sehun terusik. Ia menatap langit-langit, kembali membayangkan perempuan yang belum lama ditemuinya.
Pertemuan tadi bukan kali pertama Sehun bertemu dengan Jongin. Ia melihatnya dua tahun lau di pesta pernikahan Luhan. Namun, perempuan itu tidak menyadarinya.
Saat itu, diantara music intrumentalyang memenuhi hall, Baekhyun memanggil Jongin. begitu perempuan itu menoleh, bertepatan dengan Sehun yang sedang mengedarkan pandangan. Dan, ia hampir tidak bisa mengalihkan matanya dari Jongin. Dalam balutan dress berwarna maroon yang menjuntai hingga ujung kaki jenjangnya, melekat pas pada tubuhnya dan rambut yang disanggul acak tak lupa anak-anak rambut yang menjuntai di samping kanan kiri telinganya. Jongin menjadi sorotan paling sempurna diantara para tamu.
Yang paling diingat Sehun, dari pancaraan lampu ruangan yang mengkilat keemasan saat itu adalah matanya yang sayu dan juga bibirnya yang agak berisi, merekah khas saat bersentuhan dengan bibir gelas.
Tapi, itu hanya menjadi momen kekaguman sepintas lalu bagi Sehun. Ia—saat itu—sedang malas menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Lima tahun lalu, ia ditinggal oleh mantan kekasihnya, dan menikah dengan laki-laki lain. Namun itu tak menjadikannya trauma atau menjadi alasan untuck tidak mencari seorang baru. Ia hanya sedang mencari dan menunggu menemukan seseorang yang terbaik dari sekian banyak perempuan yang dikenalnya.
Ketika Baekhyun menawarkan pekerjaan di Sweet Sugar dan menyebut nama Jongin, ingatannya langsung tertuju pada momen dua tahun lau.
Setelah melepas posisi pastry chef Hotel Luxe, ia berniat membuka usaha, tapi masih belum tau apa. Di Sweet Sugar, ia memikirkan pengalaman baru dan merasa tidak salah mengambil kesempatan ini. Ia menginginkan suasana yang berbeda dan penyegaran setelah lama bekerja di hotel.
Sama seperti kali pertama melihatnya dua tahun lalu, di matanya Jongin menarik. Hanya saja, kini ia seperti melihat ketakutan yang membuat Jongin seperti beruang kecil yang mencoba berdiri untuk pertama kalinya dan supaya beruang itu terlihat besar. Sikapnya begitu berani dan menantang. Bukan untuk menakut-nakuti melainkan melindungi diri.
Unik, menarik, juga penuh teka-teki, itu yang bisa diungkapkan Sehun tentang Jongin. Tentu saja, Sehun tidak benar benar mengenal Jongin. Baekhyun pun tidak bercerita banyak tentang sahabatnya itu. Ia bisa menduga-duga bahwa Jongin seorang yang sangat kompetitif dan tidak mau dikalahkan. Tapi, itu semua yang ada dipermukaan. Ia tidak tahu apa yang dibalik penampilannya, atau perempuan itu memang seoraang yang benar-benar tangguh.
Mungkin benar, begitu tipis batas antara cinta dan mengejar keinginan meiliki semata.
Kris Wu, sosok yang dulu Jongin kira bisa menjadi kepala di prahara rumah tangganya, yang akan membahagiakannya seumur hidupnya, justru menjadi orang yang paling tega melihatnya enderita.
Jika mengingat bagaimana suka cita pesta pernikahaan belasaan tahun lalu, Jongin tidak akan pernah percaya hari-harinya begitu suram. Ia lelah menagis, lelah bertengkar, lelah berada dikantor sepanjang hari demi menghidupi TaeOh, TaeRin dan suaminya. Ia iri melihat keluarga lain begitu hangat dan harmonis, sementara ia menanggung semuanya sendirian. Ia tak punya kekuatan untuk melawan keadaan.
Semua janji manis seperti gulali yang lumer diatas lidah. Jongin merasa ada yang salah dengan rumah tangganya. Kris menyalahkannya. Menyudutkannya. Membuat batinnya tersiksa. Ia dianggap tidak mengerti kesulitannya dalam pekerjaan. Hidup berjalan semakin tidak menentu. Kris tak memedulikan Jongin dan kedua anaknya. Setiap hari ada saja pertengkaran karna hal-hal kecil. Ia bingung bagaimana memperbaiki keadaan dan membuat Kris mengerti alau ia lelah berjuang sendirian.
Bercerai, itulah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan semuanya. Jongin tidak tahan lagi dengan sikap Kris yang semakin menjadi-jadi. Hatinya terlalu sakit. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Tiga hari setelah Jongin memutuskan untuk berpisah, Kris meninggal karna kecelakaan. Jongin tidak menyesal, tidak kehilangan hnaya merasakan antara sedih dan lega karena semua nya telah berakhir.
Tujuh tahun lalu. Jongin menghela nafas berat, berusaha mengeyahkan bayangan masa lalu. Pahit perjalanan pernikahannnya membuat rasa marah, benci, dan kecewa berkumpul dalam dadanya. Saat menikah dengan Kris, ia mengatakan kalau Kris adalah yang terindah dalam hidupnya. Tapi, salah, ia justru merasakan sebaliknya.
Tidak ada yang tahu tentang kisahnya selain Baekhyun. bahkan, ia yak bisa bercerita pada Seojung. Karena itu, Seojung selalu menganggap kehidupannya dengan Kris sangat bahagia. Ia tak ingin menambah beban Seojung yang saat itu hubungannya dengan Dongjoo bermasalah.
Semua sudah berlalu. Ia sudah mengubur dalam-dalam. Saat ini ia hanya ingin menjalani hidupnya bersama Taerin dan Taeoh. Ereka tetap bagian dari Kris dan ia ingin keduanya mengenal sosok almarhum suaminya itu sebagai seorang ayah yang baik.
Tak ada laki-laki yang berhasil masuk kedalam kehidupannya setelah Kris. Jongin sendiri tak ingin terlalu dekat karna takut dengan rasa kehilangan dan keharusan mencapkan selamat tinggal pada akhirnya. Ia tak mau bersama-sama seseorang yang akhirnya membuatnya sendiri—lagi.
Desir angin malam yang mengendus di ruang terbuka Ilsan Lake Side, membawa serta wangi jeruk limun yang dibubuhkan di dalam saus kacang salad Jongin.
Ia menikmati aura bahagia di seluruh sudut tempat pesta pernikahan Seojung dan Dongjoo. Music melayang disela-sela percakapan. Ruang luas itu memadukan warna putih, hijau, dan coklat dengan sentuhan cahaya lilin dan rangkaianbunga mawar putih. Para petugas catering berlalu lalang diantara tamu-tamu, membawa piring-piring kotor dan makanan tambahan.
Dari beranda, Jongin mengamati kebahagiaan Seojung dan Dongjoo di pelaminan. Ia tersenyum. Tak salah jika mengatakan, mungkin orang yang menyakiti paling dalam, justru yang paling menyembuhkan luka. Seojung sudah memilih menikmati kebahagiaan sendiri. Ia tak ingin jatuh cinta lagi dan kembali terluka. Begitu, kan cinta? Membuat rona, lalu meninggalkan rasa sakit yang sama?
"Holaa, babe!" sapa Baekhyun yang baru tiba. Ia memeluk singkat Jongin. "Tadi aku lihat Taeoh pakai tuxedo di meja penerima tamu, dia ganteng banget!"
"Itu juga dipaksa-paksa Baek!" Jongin meletakkan piring kotor di meja yang dikhususkan untuk piring-piring kotor, lalu mengambil cola.
Baekhyun ikut mengambil cola seraya melihat ke sekelilingnya. "Taerin mana?"
"Itu, lagi sama Nana!" Jongin menunjuk ke barisan bangku yang tak jauh dari tepat mereka berdiri. Terlihat dua gadis kecil mengenakan gaun dengan rambut yang tergerai apik, sedang menunduk bermain iPad dengan mimik serius.
Baekhyun bersandar di beranda. Sekilas ia melirik sahabatnya. "Gimana Sehun?"
Mendengar nama laki-laki itu membuat Jongin hampir tersedak. Ia segera mengumpulkan nafas dan menoleh pada Baekhyun. "Maksud mu?"
"YA, bagaimana nasibnya? Kpan dia mulai kerja?" Baekhyun meneguk colanya, berusaha menyembunyikan senyum menggodanya.
"Senin depan," sahut Jongin santai.
"Ooo…" mata Baekhyun berbinar saat mengucapkannya. Wajahnya berubah cerah.
Jongin melirik Baekhyun. "Apa maksudnya 'ooo'?"
"Nggak apa-apa." Baekhyun mengangkat bahu pelan. "Dia ganteng, kan?"
"Ganteng banget! Saking gantengnya, tanganku gatel pingin nyakar wajahnya." Ujar Jongin dengan mimic gemas. Ia masih ingat bagaimana wawancaranya dengan laki-laki itu dan masih merasakan kesal.
Baekhyun terkekeh dengan pemandangan mengarah ke pelaminan yang masih ramai oleh tamu antre untuk memberikan doa restu.
Kening Jongin mengernyit melihat tingkah sahabatnya itu. "Kenapa sih ketawa nggak jelas gitu?"
"Mmm.." Baekhyun memiringkan badannya memnghadap Jongin. Matanya menatap lekat. "Kalo ngakuin dia ganteng, berarti kau memperhatikannya, kan Jong?"
"Oh! Please" Jongin memutar bola matanya malas. "Aku tau maksudmu. Baek, aku nggak naksir Sehun okay?"
"Tapi tadi kau mengauinya kalo Sehun ganteng Jong?" desak Baekhyun dengan nada menggoda.
"Aku punya mata Baek! Dan, aku masih normal!" tukas Jongin cepat.
Baekhyun hampir tertawa lagi mendengar ucapan perempuan di sampingnya yang terlihat berusaha menyembunyikan keresahannya. "Ya, karna kamu punya mata dan masih normal, berarti ada kemungkinan besar kamu naksir Sehun, Jong!"
Jongin malas untuk menjawab. Ia meminum colanya sambil berusaha keras mengenyahkan bayangan pastry chef itu dari pikirannya. Soda masuk ke mulutnya terasa menggelitik hingga pangkal lidah dan larut tertelan, menyisakan manis yang hilang perlahan-lahan.
"Jong, kamu bener nggak mau buka hati buat laki-laki lain?" wajah Baekhyun berubah menjadi serius.
"Terus ngebiarin laki-laki itu nyakitin lagi? No, thanks." Sudut bibir Jongin tersenyum masam.
"Tapi, nggak semua laki-laki kayak Kris, Jong!" ujar Baekhyun.
Jongin menatap sahabatnya tegas. "Baek, I'd like to stay away from past! I can't go trough that again. I never want to be hurt that way again."
"Kamu nggak bisa gini terus Jong, kamu harus move on!" suara Baekhyun terdengar sedih. "Ada yang bilang, focus on where you want to go, not on what you fear."
Jongin menghembuskan nafas panjang untuk mengeluarkan kegelisahannya. Dadanya berdegup kencang memikirkan sebuah pernikahan. Untuk kesekian kalinya ia membasahi bibir. Jongin bisa move on, tapi tidak bisa memulai hubungan baru, karena untuk mencintai perlu menghilangkan rasa sakitnya terlebih dahulu.
.
.
.
.
TBC
HOLAA GAES, I'M BACK! SORRY, IF THERE ANY TYPOS IN THIS CHAPTER
DON'T FORGET TO REVIEW THIS CHAPTER..
SEE YOU ON MY NEXT CHAPTER!
LOVE YAA
Auliae~
*sorry for my bad English*
