Tahun lalu mereka diserang dan dihajar habis-habisan oleh shinobi Konoha dan Kazekage Suna tepat di hari Halloween. Memangnya hanya mereka saja yang bisa merayakan hari itu? Akatsuki juga! Sekalian balas dendam, nih, ceritanya. Tapi berhasil tidak, yah?
Naruto © Masashi Kishimoto
Warnings for this chapter; mengandung konten-konten yang melenceng ke yaoi dan bahasa yang vulgar. Again I said, DLDR! Tolong dibaca, DLDR! Don't like don't read! Tidak berkenan dengan fic ini? Just back off, click 'back' button. If you can't see it, there is something wrong in your eyes :)
Fic ini hanyalah untuk fun semata, enjoy!
Trick or Treat, Mas Bro?
.
.
Tanggal 31 Oktober, malam Halloween. Malam dimana Sinterklas menebar benih kemudian tumbuhlah pohon kacang raksasa yang menjulang sampai ke atas awan di atas. Di atas awan, akan ada dewa-dewi yang sedang menyambut kehadiran nyawa baru bernama Hercules. Keren, 'kan?
"Gundulmu (un)! Salah cerita, Gembel (un)!"
Sembilan makhluk jejadian berbaris layaknya anak pramuka sedang menunggu giliran untuk disembelih, lengkap dengan kostum Halloween-nya masing-masing. Cuit-cuit! Pada keren-keren, nih. Wow!
"Iya, dong. Gua emang keren. Haha!" ujar Pein menyombongkan diri sembari berkacak pinggang. For your information saja, nih. Dia berpakaian serba hijau. Bukan spandex hijau duo go green-nya Konoha, loh. Pein berkostum Peterpan! "Panggil gua Peterpein."
"Halah! Keren Mbahmu! Gua, dong, yang paling keren!" bantah Hidan yang sedang dalam keadaan hitam putih (?).
Deidara mendecih kesal. "Elu pan cuma berubah doang, ga kayak kita-kita pake kostum, un! Liat kostum gua, nih, un." Dia berkacak pinggang, memamerkan celana dalam merah yang dipakainya di luar celana birunya. Tak lupa merapikan poninya.
"Segala kolor dipake, Dei! Ga elit, lu!" bentak Itachi. "Ngapain pula jadi superman? Mending kayak gua, jadi orang ganteng!"
Kisame yang mendengar pernyataan Itachi langsung tertawa. "Mana ada kostum 'ganteng', Chi? Katarak lu, ye!" hinanya. "Payah lu semua. Liat kostum gua, kostum ikan teri!"
Berganti Sasori yang tertawa terpingkal-pingkal. Sampai-sampai hidung kayunya yang sepanjang 6 meter (?) langsung patah. Zetsu hanya terkikik sok imut dalam balutan pot melihat Sasori yang menangis tersedu-sedu.
"Segala bonsai dibawa-bawa, Tsu. Payah."
Akatsuki minus seorang rangers oranye—dan bendahara tercinta—langsung menoleh dan mengerutkan kening melihat kostum makhluk serba oranye itu dari perut turun ke kaki, dari perut naik ke tangan, dari perut ke kepala, dari perut ke semuanya! La la la la la la la la!
"Eh, mak-maksud Tobi... masa Zetsu-senpai jadi bonsai! Ga kreatif, ah! Liat Tobi, nih! Heah!"
Ternyata makhluk tadi adalah Tobi. Heran, perasaan tadi seperti bukan Tobi saja. Suaranya itu, loh. Rada nge-bass begitu. Hmm, mencurigakan.
"BHAHAHAHA! Dei-senpai pake kolor!" Tobi langsung jungkir balik melihat kostum superman Deidara yang celana dalamnya ternyata sangat ketat sehingga... err...
"Bawel, un! Gua lepas juga ini celana, pake kolor doang, un!" tantangnya pada dirinya sendiri. Loh?
Sontak semua makhluk berjenis kelamin lelaki, boneka, ikan, dan bonsai berhamburan, berlomba-lomba untuk melepaskan celananya Deidara. Buset, deh. Kejadian ini hampir mirip seperti perkosaan massal, mungkin?
Kriet...
Semuanya menoleh pada sebuah pintu yang entah muncul dari mana, termasuk Konan yang tadi sempat tertidur akibat bosan melihat aksi brutal teman-temannya itu. Yang terlihat pertama kali adalah sepatu boots hitam ber-hak hampir 10 inchi. Kemudian kaus kaki belang-belang hitam putih setinggi paha. Naik ke atas, tampak rok hitam berenda putih dengan aksen pita-pita kecil yang imut. Semakin ke atas terlihat apron berwarna pink bergambarkan love tercetak rapi di tubuh si pemakai. Dan ke atas lagi tampaklah sebuah cadar. Cadar?
"NAJIS!" Kesembilan Akatsuki itu langsung muntah di tempat. Ada juga yang kejang-kejang. Ada lagi yang mulutnya berbusa-busa, antara OD dan mabuk.
Siapa lagi kalau bukan seseorang yang paling sensasional di Akatsuki, Kakuzu binti Sulaeman (?) dalam kostum... sexy maid. "Gua... ga pernah dipermalukan kayak begini seumur idup gua. Kalo bukan karena duit... udah gua goreng jantung lu," tukasnya sekalian curhat.
Sip! Karena semuanya telah lengkap, saatnya berangkat menuju tujuan masing-masing. Ini adalah misi tingkat 'triple S', misi tersulit sepanjang karir mereka sebagai missing-nin. Semoga misi ini dapat menjadi ajang pembuktian diri sekaligus ajang mejeng (?). Konan! Angkut mereka yang tewas!
"Siap, Bos!" Konan segera menggulung kedelapan korban tadi dengan tisu wc, uh, maksudnya kertas origami miliknya yang khusus hari ini berwarna ungu tua. Tanya kenapa? Dia memakai kostum terong, sayur trademark hari Halloween, loh.
Krik... krik...
"Let's go-lah," ajak Kakuzu.
Setelah semuanya pergi, ruang tamu ini menjadi sangat sepi. Hanya tinggal si gembel yang tak tahu malu ini seorang. Khawatir juga kalau-kalau misinya Akatsuki pada gagal. Mau tak mau harus mengutus seseorang untuk mengawasi dan mengabadikan misi ini. Hmm, utus siapa, yah?
Byur~ Byur~
Suara langkah kaki becek mendekat, dari kejauhan sana tampaklah sosok perempuan tinggi hampir setinggi pohon kelapa (?) dan berambut agak gondrong serta menenteng sebuah kamera jadul a.k.a. Jaja Mihardul (?). Perempuan itu tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah mata. Entah untuk apa dia berkedip, padahal Itachi dan kawan-kawan telah berangkat dari tadi.
"Wad! Lu ga bilang Ita-kun udah pergi, Kupret!"
Tsk, tsk. Sudah numpang jadi OC (other character), berbicara pula. Ingat peraturan!
Si gondrong hanya menganggukkan kepala dengan cepat kemudian berpose ala hormat bendera ke arah si gembel dan melesat pergi bagai ninja. Memangnya dia ninja? Entahlah.
###
"Mehehehe! Ups, ngapa ketawa gua jadi kayak Leader, sih. Bego, dah." Sasori menghina dirinya sendiri. Hidung kayunya yang tadi patah telah kembali seperti sedia kala—dengan bantuan selotip. Dan dia pun siap untuk memulai misinya. Sampai...
Jepret... pret...
"Hadeh! Oi, lu yang di atas pohon! Sialan! Turun ga, lu? Ane pites ntar!" makinya pada si gondrong yang memotretinya dengan pose ala kelelawar di pohon. "Dari kemaren orangnya aneh mulu. Lu pasti temennya Gembel yang author amnesia itu, pan?"
'Kok tau?' si gondrong menuliskan kata itu di atas daun dan melemparkannya ke Sasori.
"Karena lu udah ngebuat gua inget trus ama cinta lu. Eaaa~" Sasori jingkrak-jingkrak di tempat. Hidung kayunya naik turun searah goyangan tubuhnya. Inilah akibat terlalu seringnya menonton acara lawak berjudul "APJ" a.k.a. Akatsuki Pembunuh Janda (?), alhasil beginilah jadinya Sasori yang biasanya unyu, imut, caem, dan sebangsanya menjadi Sasori si gombal-ers(?).
"Ah, malah ngaco. Misi, nih, misi." Sasori meluruskan hidungnya terlebih dahulu sebelum mengetok pintu apartemen milik Sakura. "SAKURA!"
Kriet.
"Trick or treat, Mas Br—" ucapan Sasori terputus manakala dirinya tak mendapati Sakura, malahan sosok nenek-nenek berkeriput yang sangat dikenalnya berdiri dengan gagahnya di hadapannya. "Chiyo-baachan?"
"Sakura-chan~ Ada Sasori—eh, Sasori?" tanya Chiyo tak percaya. Sasori hanya mengangguk pelan. "Sasori yang dulu hobi nyuri celana dalamnya Karura, 'kan?" tanya Chiyo, lagi, membuka aib sang cucu tercinta.
Sasori sweatdrop demi mendengar aib masa lalunya dibongkar oleh neneknya. Aib masa kecilnya dulu, hobi buruknya saat masih ABG alias Anak Buangan Gerandong (?). Salah satu korban favorit-nya adalah Karura, ibunya Gaara. Alasannya? Pertama, karena dia jatuh hati pada Karura. Kedua, celana dalam itu (mungkin) dipakainya kembali. Ckck, kelakuan!
"Sakura ada, ga, Baa-chan?" tanya Sasori.
"Lagi mandi kayaknya," jawab Chiyo.
"Oh," timpal Sasori.
Siinnggg...
"Sasori," panggil Chiyo.
"Hah?"
"Makin ganteng aja, deh." Chiyo mengedipkan mata dengan nakal dan lidah menjulur-julur yang diketahui ajaran sesat dari Orochimaru.
Sasori mendadak mual. Dia sudah pernah mendengar dari Ebizou, kakeknya, bahwa Chiyo ini termasuk penyuka daun muda. Tapi kenapa harus dirinya yang menjadi korban? Dia kan cucunya Chiyo! Sedarah sedaging! Wah, bisa hilang, tuh, keperawanan milik Sasori. Kabur! batinnya.
"Sas! Baa-chan kangen, tauk!" Chiyo mengejar Sasori sembari mengangkat tinggi-tinggi rok mininya. "Tunggu!"
Adegan kekeluargaan itu diabadikan oleh makhluk gondrong yang juga ikut mengejar Sasori. Ibaratnya hampir mirip dengan perlombaan marathon. Bedanya, kalau marathon mengejar posisi pertama. Yang ini, mengejar daun muda stok lama (?).
Sakura yang baru selesai mandi melongokkan kepalanya dari balik pintu apartemennya. "Katanya ada Sasori. Mana?"
###
Tanpa perlu susah payah memakai kostum apa pun, Hidan berpetualang mendaki bukit Nara tanpa sehelai benang pun dalam mode hitam putihnya. Sesekali dia menyeka keringat sebesar biji durian di dahinya. "Hah~ Ribet amat, seh, ini bukit. Mau ketemu Shikamaru aja begene susah. Capenya."
Jepret! Pret!
"Kyaaa! Ih~ Jangan potoin eke! Eke pan lagi bugil, cyin!" protes Hidan dengan bahasa yang dipelajarinya dari Kakuzu sembari menutupi dada dan bagian terlarangnya dengan kedua tangannya. Posenya, beuh! Mantap!
Si gondrong hanya dapat cekikikan layaknya seorang maniak melihat tubuh telanjangnya Hidan. Bukannya mimisan, dia malah tambah bernapsu memotret tubuh mulus lelaki itu dengan ekspresi cengengesan.
"Mati lu!" Hidan melayangkan tendangan mautnya dan terbanglah si gondrong ke langit.
TRING!
"Ter. La. Lu!" omel Hidan. Dia pun melanjutkan pendakiannya. Tak lama kemudian, sampailah dia di atas bukit hijau yang asri itu. Setelah mengatur napasnya, dia menyusuri setiap jengkal bukit untuk menemukan sosok Shikamaru yang menjadi target misinya itu. "Nah, ketemu!" Hidan menunjuk tubuh Shikamaru yang tergeletak tidur dengan pulasnya menghadap langit. Tak mampu membendung rasa penasarannya, dia mendekati target-nya itu dengan perlahan, tak ingin membangunkan si target.
Hidan merasakan perasaan aneh melanda relung hatinya yang terdalam saat melihat ekspresi innocent-nya Shikamaru. Bukannya menunaikan haji, eh, misinya, dia malah menyelonjorkan tubuhnya di samping tubuh Shikamaru. Angin malam yang menerpa kulitnya yang telanjang bahkan tak dihiraukannya. Tenang. Dia merasakan perasaan yang tenang dari wajah Shikamaru, dan tanpa sadar dirinya tersenyum. Hidan celingukan ke sana ke mari, melihat apakah ada orang lain selain dirinya dan Shikamaru di sini. Sepi! Dia pun mengecup bibir Shikamaru.
Abang Hidan terlalu merasa aman, sampai-sampai tidak menyadari seseorang di balik semak-semak mengabadikan hal maksiatnya. Makanya, jadi manusia itu jangan nafsuan. Eh, situ bukan manusia, sih ya.
Jepret!
###
"Trick or treat, un!"
Sepi. Tak ada yang membukakan pintu untuknya. Padahal sudah setengah jam dia lebih bertengger tidak jelas dengan hanya berbekal jubah, baju ketat berlogo "S" dan celana dalam merah. Angin malam berembus kencang menyibakkan poninya. "Sialan, un! Ada orang kaga, seh, un!" Deidara mendobrak pintu apartemen di hadapannya itu. Lagi-lagi sepi, ditambah gelapnya ruangan membuatnya bergidik ngeri.
Jangan-jangan emang ga ada orang, nih, un, batinnya ngeri. Meskipun Deidara sedikit ketakutan, dia memberanikan diri untuk memasuki apartemen itu. "T-t-trick o-or tr-treat, u-un?" Deidara menyusuri ruangan yang gelap dengan perlahan sambil menempel di dinding. Tak terasa dia menaiki tangga dan sampai di sebuah ruang tidur yang sama gelapnya dengan ruangan di lantai bawah. Lelah—dan juga gemetar—dia bersantai sejenak, duduk di atas ranjang yang penuh dengan buku-buku seukuran telapak tangan.
Kriet.
Jantung Deidara rasanya hendak copot mendengar suara pintu dari arah samping kanannya terbuka dan hampir mengompol. Takut-takut dia menoleh dan mendapati... sosok macho seorang pria bermasker yang hanya berbalut sehelai handuk di pinggang sedang bersender di pintu. "Trick or... treat, Kakashi, un?" ucapnya spontan.
"Halloween, huh?" Kakashi melangkah maju ke arah Deidara dan merobohkan dirinya di atas tubuh pemuda berambut pirang panjang yang terperangah itu. "I'll show you what Halloween is. Tsk."
Deidara yakin benar bahwa dirinya salah besar memakai celana dalam ini. "MAMI, UN!"
Jepret!
###
"Go, go Power Rangers! Yiha! Tobi is a good ranger~" Tobi jumpalitan tidak jelas sepanjang jalannya menuju kediaman Aburame sembari sesekali berpose bak rangers oranye yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah per-Power Rangers-an. "Gak, gak, gak kuat, aww~"
Beberapa orang yang melihat tingkah autisnya ada yang memberinya recehan, serta beberapa permen. Ada juga yang memberinya wejangan agar secepatnya bertobat sebelum mendapatkan siksa neraka. Dikata Tobi orang gila, kali ya?
Tak pakai lama Tobi pun telah sampai di depan gerbang kayu kediaman Aburame. Niatnya ingin mengetuk tapi karena bawaan di kantongnya berat, dia pun ber-inisiatif untuk menghabiskan permen-permen miliknya. Satu permen, dua permen, tiga permen, sampai lima puluh permen habis tanpa terasa. Sekalipun telah menghabiskan begitu banyak permen, tetap saja masih banyak permen yang tersisa. Tiba-tiba Tobi merasakan sesuatu yang geli di kakinya, seperti ada yang merayapi. Dia pun melongok ke bawah. "MAK! SEMUT! TOBI DISERANG SEMUT!"
Tobi kembali jumpalitan, ditambah dengan kayang dan juga menggelinjang, tetap saja semut-semut itu tidak mau melepaskan dirinya. Malahan bertambah banyak menggerayangi tubuhnya. "TOLONG!" Dia berlari ke sembarang arah untuk menyelamatkan diri.
Jepret!
###
Zetsu memicingkan sebelah matanya, mengawasi sekitarnya dengan seksama. Aman. Tak ada siapa pun yang dapat menggagalkan misinya. Awalnya dia sempat keki harus menghadapi dua target sekaligus, tapi mau bagaimana lagi, dua target yang pernah menghajarnya tahun lalu. Dan tahun ini dia harus membalas semuanya. Pertama dia akan memakan habis semua stok makanan anjing di kediaman Inuzuka. Kedua, dia akan menelan semua gulungan senjata milik kunoichi bercepol dua itu. "Khukhu," Zetsu terkekeh pelan menyadari kepintaran otaknya dalam menyusun rencana pembalasan itu.
Oke! Karena kediaman Inuzuka sangat-sangat sepi bagaikan ditinggalkan oleh penghuninya untuk selama-lamanya, Zetsu menyelam ke dalam tanah dan keluar dari lantai dapur kediaman Inuzuka. "Di mana~ Di mana~ Di mana~ Makanan anjingnya di mana~" senandungnya sumbang. Dia mengubrak-abrik semua isi lemari dengan semangatnya tanpa menyadari geraman mengerikan dari arah pintu masuk dapur. "Huh?"
Seekor anjing hitam raksasa bertelinga satu memamerkan taring runcingnya pada Zetsu yang baru menyadari keapesannya. "Mak... jang."
"Woof!"
Terjadi kekacauan yang lumayan berisik di dapur, perkakas dapur berjatuhan, gonjang-ganjing bagai diguncang oleh gempa. Jangan tanya bagaimana nasib Zetsu sekarang. Fauna hasil kloningan itu bergelantungan di atas lampu gantung sementara si anjing hitam terjaga di bawah, menunggunya turun untuk digigit.
"Hiks, ga bisa turun!" keluh Zetsu.
Jepret!
"Jangan poto gua, Brengsek!"
###
"Heah! Kapten bajak laut tidak akan berani menghadapiku, Peterpein! Mehehehe!" Pein mengayun-ayunkan Samehada hasil pinjaman dari Kisame—berhubung dirinya tak punya pedang, ini pun pinjaman secara paksa. "Naruto, tunggu aja kedatangan gua. Mehehehe!"
"OI! BERISIK!" Pein ditimpuk oleh nenek-nenek dengan gigi palsu dari jendela lantai dua sebuah rumah.
Alhasil Pein pun segera kabur dari situ menuju ke kediaman Namikaze yang jaraknya tak jauh lagi dari posisinya tadi. Sesampainya di depan pintu, dia menggedor-gedor pintu itu dengan kasar. "Oi! Trick or treat, neh!"
Sejurus kemudian pintu dibuka oleh seorang wanita berambut merah amat panjang berwajah garang. "Berisik!"
"Eh, Kushina-bachan. Naruto-nya ada?"
"KAGA ADA, SOMPLAK!"
Dimarahi seperti itu membuat nyalinya ciut seketika. Pein pun gemetar, takut. "A-ano..."
"LU TAU, KAGA, LU TUH, YE, BERISIK BANGET! GA SIANG GA MALEM, TIAP ADA LU PASTI BERISIK! NYADAR GA, SEH, LU?"
Yang paling berisik sekarang siapa, sih? Aneh.
Wajah Pein membiru, takut. Dia benar-benar takut kalau sudah berhadapan dengan wanita yang masih satu klan dengannya itu. Galak! Dia yang biasanya galak jika sedang marah pun masih kalah dengan marahnya Kushina. "Ba-chan...," panggilnya lirih dengan wajah (sok) imut.
"JANGAN PANGGIL GUA BA-CHAN, KOPLOK!"
Kabur! batin Pein seketika.
"JANGAN KABUR, BODAT!"
Lagi, untuk yang kedua kalinya dalam chapter ini adegan kejar-mengejar terjadi. Sepertinya ini adalah sebuah trend yang tidak akan pernah sirna dalam kehidupan Akatsuki ini. Dan entah mengapa mereka selalu dikejar oleh wanita. Ckckck. Kalau dikejar karena ketampanan seperti Sasori, sih, wajar. Tapi jangan tiru Pein, yah, ceman-ceman.
"Tolong gua!"
"JANGAN KABUR!"
Jepret!
###
Konan merasa gerah dengan kostum yang terbilang raksasa ini. Kalau bukan karena kostum terong merupakan tradisi Halloween, mana mau dia memakainya. Dan jika dia tahu kalau dia sedang dikibuli, mungkin si gembel sudah diarak telanjang keliling Konoha, kali ya?
"Oi, bantuin, dong. Susah jalan, neh!" pinta Konan pada si gondrong yang mengikutinya memasuki kediaman Hyuuga dengan tampang bosan.
Si gondrong bosan, karena dia ingin sekali bertemu dengan Itachi sekarang juga tapi masih harus berurusan dengan tiga anggota Akatsuki lainnya lagi termasuk Konan yang sekarang diekorinya. Dia menghela napas bosan.
"Di mana kamarnya Neji ama Hinata, hah?"
Si gondrong menaikkan kedua bahunya pertanda tidak tahu. Sebenarnya dia tahu, hanya ingin menyusahkan Konan saja, tuh. Beuh, jahat!
"Liat! Ada orang di sana! Kalo ga Neji pasti Hinata!" Konan menunjuk seseorang yang duduk sambil meminum teh membelakanginya di suatu ruangan yang temaram. Perlahan dia mendekati sosok itu. "Heah!" Konan hendak mengeluarkan jutsu-nya tatkala sosok itu berbalik, dan orang itu bukanlah Neji apalagi Hinata! "Eh, maap, Om! Di mari kirain situ itu Neji, ato Hinata. Maap, ye, Om!"
Om—Hiashi—mendelik heran. "Siapa... kau?"
"Konan, Om," jawab Konan, perasaannya mendadak tidak enak.
"Konan?" tanya Hiashi yang dijawab oleh anggukan Konan. "Mau jadi... istriku?"
What the fuck! Jashin paasti sedang bercanda malam ini.
"Om sudah lama menjanda(?), jadi istri Om, yah, yah? Konan akan Om kasih mobil mewah ama jadi nyonya besar. Yah, yah, yah?" bujuk Hiashi.
Mobil mewah? Nyonya besar? Gulp! Konan tak tahan untuk tidak tergiur oleh tawaran itu. Tapi...
"Kalo Konan mau, malam ini juga kita merit, oke? Om udah lama ga dapet kepuasan, nih."
Pret!
"Mami!" Konan langsung kabur dari sana. Apa-apaan! Masa dirinya harus langsung diperawani sekarang juga! Memangnya dia itu waria (?)?
"Konan~ Om pengen~" rengek Hiashi.
Pengen mati, om?
Jepret!
###
Itachi menghela napas pasrah. Jengkel karena diikuti melulu oleh si gondrong yang terus-menerus meminta pertanggung jawaban (?) padanya. Bukan dirinya tak mau menanggapi hal itu, tapi dia kan sedang menjalani misi untuk menggagahi Sasuke, err, maksudnya membalas dendam.
Ngomong-ngomong, mau pertanggung jawaban apa, sih?
"Mau tau aja urusan orang! Mandi dulu, sono, Gembel!"
JLEB!
Hinaan Itachi sukses membuat si gembel pundung di pojokan kebun jengkol milik engkong Sarutobi yang berjarak dua meter dari situ. Kejam! Itachi kejam!
"Lagian udah malem belum mandi, blegug sia," terang Itachi yang disetujui oleh si gondrong. "Pokoknya lu dua diem, jangan bising." Setelah mengatakan hal itu, dia langsung melompat ke genteng di lantai dua, dan memanjat memasuki sebuah jendela yang terbuka. Itachi mengedarkan pandangannya. Gotcha! Targetnya sedang tidur dengan posisi nungging di atas meja belajar (?). Kalau seperti ini, proses pemerko—ah, maksudnya pembalasan dendam akan berjalan lancar. "Here I come, Otouto-chan~"
Si gondrong hendak menggagalkan tindakan Itachi, tapi dirinya ditendang oleh pria pujaannya itu dan diikat oleh si gembel di kusen jendela.
Itachi memeluk tubuh Sasuke dari belakang, menciumi tengkuk adiknya dan menjelajahi kulit di balik baju hitam itu.
"Uh, jangan, Onii-chan~"
Itachi tersentak dan menghentikan aktivitas-nya sejenak. Ternyata Sasuke hanya mengigau, karena Itachi dapat mendengar dengkuran kecil dari bibir manis adiknya. Senyum licik pun tersungging di wajah Itachi.
Sementara itu, si gondrong meronta-ronta ingin terlepas dari ikatan. Sedangkan si gembel semakin bernafsu melihat adegan hampir yaoi, incest pula. Hot-lah!
"Lu kata kita lagi bikin pelem bokep? Goblog!" maki Itachi menyadari hawa-hawa fujoshi dari si gembel. Dia kembali memusatkan perhatiannya pada tubuh Sasuke.
Dengan cepat, tubuh Sasuke sudah tak berbalut sehelai benang pun. Ketok magic, kali ye, jurusnya? Yang lebih mengherankan lagi, Uchiha bungsu itu tak menunjukkan tanda-tanda terbangun. Bahkan tidurnya semakin nyenyak.
Jangan tanya nasib si gondrong. Dia sudah tepar duluan karena tak sanggup melihat adegan incest paling mutakhir abad ini. Padahal asal dia tahu saja, Itachi kan hanya ingin mencoreti sekujur tubuh Sasuke dengan spidol permanen.
"Khukhukhu," kekeh Itachi layaknya om-om mesum sambil menyapukan spidolnya di area-area yang sedikit terlarang.
Sasuke mengerang... keenakan? Si gembel langsung mimisan, dan iman Itachi langsung rubuh seketika.
Tak pernah terbersit di otaknya bahwa hari ini akan datang. Hari dimana dirinya, Uchiha Itachi, meniduri adik kandungnya, Uchiha Sasuke, di depan dua makhluk tak jelas di pojokan sana. Sabodolah, pikir Itachi. Eke ga tahan, bok! Belum sempat Itachi melakukan perbuatan jahanamnya, pintu kamar terbuka. Dia yang baru saja hendak menurunkan celananya tersentak kaget. Kaget sekaget-kagetnya, karena yang membuka pintu kamar tadi tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Fugaku, ayahnya.
Glek!
"Itachi! Apa yang kau—" Wajah Fugaku mengeras melihat posisi tak senonoh Itachi dan Sasuke di depannya. "Kau..."
Itachi buru-buru mengancing celananya. "Tou-san, ini tak seperti yang Tou-san bayangkan, oke?" Klise! Alasan yang sering diutarakan manusia yang tertangkap basah melakukan hal maksiat, yah, seperti ini.
"Kau mengecewakanku, Itachi. Tak kusangka kau itu kelainan, sama seperti kakekmu, Uchiha Madara!"
Bah! Segala aib dibuka-buka.
"Tou-san akan menghukummu! Ikut Tou-san sekarang juga!" Itachi ditarik paksa oleh Fugaku keluar dari kamar itu, meninggalkan Sasuke yang masih tidur telanjang, si gondrong yang masih pingsan, dan si gembel yang berdecak tak puas. Tak puas karena tidak jadi melihat adegan rate M, yaoi.
Kali ini, tak ada yang bisa dipotret.
###
Susah, nih, kalau tidak ada si gondrong. Terpaksa si gembel turun tangan sendiri mengawasi. Untung saja tinggal dua lagi. Ngomong-ngomong Kakuzu dan Kisame mana, sih?
"Give me Y! Give me O! Give me U! Give me T! Give me H! Its Maito Guy!"
"Ga gitu juga, kali, Sensei!"
Tak jauh dari sini tampak dua sosok berbaju hijau ketat memegang pom-pom merah muda sedang ber-argumentasi. Mereka kan Maito Guy dan Rock Lee, 'kan ya? Tahun ini jadi cheerleader lagi? Tak kreatif.
"Daripada si biru itu jadi ikan teri, kreatif emangnya?" balas Guy.
Wah, segala ikan teri dibawa-bawa. Memangnya siapa, sih?
"Tuh." Lee menunjuk onggokan yang lebih mirip sambal ikan teri. Kalau dimakan bersama nasi uduk enak, nih.
"To-tolong..."
"Yok, pergi! Give me U! Give me N!"
"Give me Y! Give me U! Rock Lee UNYU!" tandas Lee sembari mengekori Maito Guy yang telah berlalu.
"Tolong..." Lagi-lagi ikan teri itu meminta pertolongan. Ditilik dari penampilannya, dia pasti habis dikeroyok oleh dua cheerleader tadi. Terlambat datang, nih. Kalau tidak kan dapat melihat adegan yang mengharukan itu (?).
"Mengharukan gundulmu soak, Gembel! Nyesel gua pernah naksir elu!" curhatnya. "Pokoknya mulai sekarang KCKSF aja, Kisame Cinta Kakashi Seorang Forever, titik!" lanjut Kisame.
...
###
"Jangan tarik rok gua!"
Kakuzu meronta-ronta dari tarikan maut si gembel pada roknya. Dia takut saja kalau celana dalamnya ikut tertarik. Bisa gawat kalau dia tampil telanjang di muka umum, bisa-bisa dia diciduk oleh Anbu Konoha. "Lepasin, Goblog!"
BRET!
Kakuzu menatap nanar pada roknya yang sobek tepat di bagian bokong. "Eek!" Dia berlari ke sembarang arah sambil menutupi bokongnya. Celana dalam ungu muda bergambar Sailor Uranus terpampang dengan bebas.
Di sudut sebelah sana terdapat restoran yakiniku yang biasanya masih buka sampai tengah malam. Empat siluet manusia terlihat bersenda gurau dan menikmati kegiatan makan. Dua siluet pertama terlihat lebih langsing daripada dua siluet lainnya yang lebih berisi.
"Chouji! Sisakan dagingnya buat bokap gua!"
"Gua laper, Ino."
"Coba makan yang ini, Inoichi!"
"Hmm. Enak, loh! Kau yang traktir hari ini, 'kan, Chouja sahabatku? Haha!"
BRAK! BRUK! BREET! CEPROOT! HIIEE(?)!
Empat orang tadi terperangah melihat tubuh Kakuzu yang jatuh terpental ke dalam restoran dengan kostum wanita yang sobek-sobek dan menampakkan celana dalam.
Kakuzu mendongak. "Trick or... treat. Gua minta duit aja, ga mau permen."
Ino mendelik. "Udah bikin keributan, nawar lagi. Chouji!"
"Siap!"
Kakuzu melotot. Mati gua, batinnya.
"Serang!"
Kakuzu buru-buru bangkit dan berlari menerjang apa pun yang ada di hadapannya. Dengan busana amburadul seperti itu, dia lebih mirip dengan waria—pekerjaannya tiap siang di pinggiran Konoha. "Sial!" Dia memang sial. Tak butuh waktu lama baginya untuk dikejar oleh berbondong-bondong warga yang mengacung-acungkan senjata-senjata tajam.
"Maling!"
"Rampok!"
"Rajam dia!"
"Pedopil!"
Wew, sepertinya ada yang salah dengan pengejaran ini. Tapi... semua fitnah itu memang pantas untuk Kakuzu.
"Pitnah lebih kejam daripada pitnes, woi!"
###
Bintang kecil di langit yang biru~ Amat ba—oke, sepertinya ada yang salah.
"Yang benar kayak gini! Ambilkan bulan, Senpai~ Ambilkan bulan, Senpai~ Yang selalu bersinar di hatimu~"
"Goblog!"
Pein menabok kepala Tobi yang tadi salah mendendangkan lagu. Sasori hanya mendengus kesal melihat hal itu. Sedangkan Kakuzu tetap diam. Keempat insan jejadian itu berjalan beriringan dengan pelan mengikuti arah bulan yang menuntun perjalanan mereka.
Empat? Kemana Akatsuki lainnya?
Itachi sedang dihukum oleh Fugaku, bertelanjang ria di depan kediaman Uchiha di tengah dinginnya malam. Konan disekap oleh Hiashi (kasihan). Zetsu tidak bisa melarikan diri dari penjagaan anjing klan Inuzuka (Zetsu: Tolongin gua!). Deidara... jangan tanya, oke? Kalau Hidan sedang berasyik-asyik ria bersama Shikamaru di bukit Nara. Kisame? Haleluya, yah. Sudah almarhum. (Kisame: Bangsat!)
"Berapa lama lagi nyampe Suna?" tanya Kakuzu memecah keheningan. Tumben hening, lelahkah?
"Cape, neh. Ga tau gua kapan nyampe. Sas! Berapa lama lagi?" Pein menyambung rantai pertanyaan kepada Sasori.
Sasori yang pada dasarnya adalah warga Suna tahu dengan benar bahwa Pein sudah tak perjaka lagi, err, maksudnya jarak tempuh mereka tak jauh lagi. "Bentar lagi. Dan Tobi, berhenti garuk-garuk kaki! Jorok, tau!"
"Tapi kaki Tobi gatel, Senpai! Hueee!" Tobi masih tetap menggaruki sekujur kakinya yang berbintik-bintik merah.
Pein yang sedang ingin berperan menjadi pria dingin alias cool cast (baca: kulkas) hanya mendengus jengkel melihat tingkah bawahannya itu. Sedangkan Kakuzu tak menghiraukan keributan itu.
Tanpa terasa argumen-argumen bodoh antara Sasori dan Tobi membuat perjalanan mereka terasa singkat. Tibalah mereka di celah sebuah lembah di antara dua tebing yang merupakan jalan masuk satu-satunya menuju Sunagakure.
"Sampe juga, ya Jashin!" Pein sontak sembah sujud di tengah jalan utama.
"Tinggalin, yuk," ajak Sasori pada Kakuzu dan Tobi.
"Woi!" Pein bangun dan buru-buru mengejar ketertinggalannya itu.
Mereka berempat kembali berjalan beriringan dengan posisi dua-dua. Tobi dengan Sasori dan Pein serta Kakuzu di bagian belakang. Bayangkan sepasang pengantin beserta pendamping pengantin berjalan menuju altar. Oh, so sweet~
"Bawel amat, sih! Besok-besok gua ga mau maen di fanfic bikinan dia lagi!" protes Sasori. "Sekali nampang langsung dinistakan begene! Kapok!"
"Idem," timpal Kakuzu dan Pein bersamaan.
"Liat, Senpai! Banyak labu! Cihui!" Tobi menunjuk labu-labu raksasa bercahaya yang tergantung di depan pintu rumah warga Suna. "Sugoi!" Dia tentu saja senang karena bertemu dengan kembaran-kembarannya yang tak terhitung jumlahnya itu, hitung-hitung silahturami.
"Ngapain, lu?" tanya Sasori pada Kakuzu yang entah sejak kapan tengah memunguti labu-labu itu dan menyimpannya ke dalam sebuah karung.
"Buat stok makanan di markas. Lumayan, hemat!" jawab Kakuzu sumringrah tingkat dewa membayangkan berapa banyak keuntungan yang dapat disimpannya dari penghematan ini. Matanya pun berubah menjadi hijau seketika.
"Tinggalin. Kita langsung ke tempat Gaara aja, Sas." Pein menggenggam tangan Sasori dan menarik boneka itu menjauh dari Kakuzu dan Tobi yang sibuk bercinta dengan labu (?).
Sasori memandangi tangannya yang digandeng oleh Pein. Semburat merah muda menguar di pipinya. Panas, pipinya panas sekali. Tak sanggup menatap punggung tegap pria yang berada di depannya, dia menunduk sambil mengumpat pelan. Inikah namanya cinta? Oh inikah cinta? Cinta pada pegangan pertama~
Tok. Tok. Tok.
Sasori terbengong mengetahui jika dirinya dan Pein telah sampai di depan kediaman Kazekage. Dengan gugup dia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Pein tepat ketika pintu di hadapannya terbuka.
"Huh?" Gaara muncul dengan wajah setengah mengantuk, memakai piyama merah, topi tidur merah, dan memeluk beruang mungil.
"TRICK OR TREAT!" teriak Pein.
"Trick or treat, Gaara. Gua minta boneka barbie," ucap Sasori spontan.
Gaara mengedarkan pandangannya bergantian pada Pein dan Sasori, memandangi busana kedua sejoli (?) itu. "Kalian tau ini jam berapa?" Pein dan Sasori menggeleng kompak.
"Jam 12."
"Oh," tukas Pein dan Sasori bersamaan. Sumpah, deh, ya. Mereka memang pantas disebut sejoli!
"Hanya 'Oh'?" tanya Gaara, lagi.
"Iye. Pokoknya gua mau dipidi baru, ye. Punya gua udah rusak. Trus gua juga mau tipi baru. Trus..." Pein menyerocos tanpa henti, lupa kalau ini adalah hari Halloween bukan hari Natal. Dan lupa kalau dia sedang berhadapan dengan Kazekage, bukan dengan Sinterklas.
"PENJAGA!"
Dalam sekejab mata saja kedua sejoli itu telah dikerubungi oleh pasukan elit Suna.
"Uh, Leader...," panggil Sasori.
"Iya, Sas?" respon Pein.
"Gua tau kalo lu udah ga perjaka. Tapi ama siapa lu ngelakuinnya? Boleh tau?" tanya Sasori tidak nyambung. Pein cengo.
"Tangkap mereka!"
Mata Pein melebar, melotot, hampir keluar. Jadi begini rasanya diciduk? Astaga! Mulai hari ini dia bersumpah tidak akan lagi melakukan hal maksiat!
"Jawab gua, Leader!" paksa Sasori. Padahal dia sendiri sudah diseret paksa pasukan Suna.
"Keadaan udah kayak gene nanyanya begituan!" balas Pein kesal. Bokongnya yang mulus sempat digrepe oleh salah satu penjaga. Geli-geli asyik, kalau katanya Kisame. Loh?
"Shut up! Kurung mereka di penjara bawah tanah!" perintah Gaara kemudian kembali masuk ke rumahnya untuk melanjutkan tidur.
"Nje, Kanjeng Mas Gusti Kazekage-sama!"
Ini Sunagakure apa Keraton Yogyakarta, sih?
Apa pun itu, Pein dan Sasori tetaplah dipenjara. Sementara Kakuzu dan Tobi bernasib tidak lebih baik karena mereka berdua juga ditangkap dengan tuduhan pencurian.
"Huaaa! Tobi ga salah!"
Tobi, kau dapat mengatakan itu di pengadilan nanti.
Halloween tahun ini meriah, yah. Ada labu, ada terong, ada ikan teri, ditambah bonsai sudah bisa dibuat sepiring salad (?). Ada seorang maid yang akan melayani, ada juga pertunjukan tari telanjang dan boneka untuk dinikmati. Juga bisa melihat drama panggung tiga pahlawan pembela kebenaran; Superman, Power Rangers, dan Peterpan. Tak ketinggalan seorang pemuda ganteng yang akan menemani.
Ini pesta Halloween apa sirkus?
Apalah! Yang penting, happy Halloween day 2011!
.
.
~The End~
Casts:
.
.
Pein as Peterpein
Konan as Terong
Itachi as Engkong Ganteng
Kisame as Ikan Teri
Sasori as Pinokio
Deidara as Superman
Kakuzu as Sexy Maid
Hidan as Penari Telanjang (?)
Zetsu as Bonsai Ramah Lingkungan
Tobi as Ranger Orange
Team 7 (Sasuke, Naruto, and Sakura) as Themselves
Team 8 (Kiba, Shino, and Hinata) as Themselves
Team 9 (Neji, Lee, and Tenten) as Themselves
Team 10 (Shikamaru, Ino, and Chouji) as Themselves
Kakashi, Guy, Chiyo, and Gaara as Themselves
Me as Gembel
Sukie 'Suu' Foxie as Gondrong
.
.
Pojok penggemar:
Done! Jangan protes! Jangan! *dikepruk*
Yang heran mengapa Suu saya titahkan menjadi "Gondrong", akan saya jelaskan. Selama ini saya pan ga pernah ngeliat tampang aslinya dia. Saya bikinlah karakter dia gondrong, hitung-hitung buat nutupin tampang jomblo ngenesnya dia, 'gitu. *ditempeleng*
Fic ini just for fun, jika dirasa terlalu nge-bashing, gomen sajalah. :) Satu lagi, selera humor tiap orang itu memang beda-beda, kalau dirasa tidak cocok, jangan dipaksakan dibaca sampai habis, apalagi membaca sampai bagian yang ini XD
Arigatou for reading, mind to review, minna-san? ^^V
